1M JOURNEY BACK TO CHINA: JALAN JALAN DI KOTA MUSIM SEMI, KUNMING! (YouTube Video)
Halo semuanya, jumpa lagi di One Million Journey edisi Back to China. Pada episode sebelumnya, kami sudah mulai eksplorasi di kota pertama saat kami tiba di Cina yaitu Puer dan melanjutkan perjalanan sampai di kota Kunming. Pada episode kali ini kami akan mencoba untuk explore di kota ini. Tonton terus videonya. Selamat pagi dari Kunming ya. Hari ini kita kelupaan ada stiker belum kita pasang. Di mana, Pal? Mana ya? 38 ada Om Dito nih. Tumpuk aja [tertawa] Pah. Parah. Entar cari. Nah, situ sini kali ya mungkin biar biar biar cocok ya. Ini kan aneh ya. Kiri kanan ada bendera, tiba-tiba di sini bendera sendiri terpisah. Hm. Satu lagi. One Piece dong. Serius? Nah. Nah, Pak. [tertawa] Kok one piece, Pak? Sebelahnya biar samaan. Oh, kita kan. Oh, iya. Pendelajah, Pak. Heeh. menuju grand line ini buat sebelahnya entar ketempel. Oke sama kemarin kita ada bensin masih ada enggak bensinnya? Tinggal dikit udah habis inya semua di dua box. Oh udah yuk kita sekalian isiin ini sambil nungguin Alex. Udah ditelepon belum? Udah. Enggak tahu dia lagi apa dulu, tapi kita mendingan ngisi dulu. Sebelum kami berangkat untuk explore di kota ini dan melanjutkan ke kota selanjutnya, kami akan menghabiskan bensin yang ada di dirigen dan melakukan sedikit cek duot. untuk memastikan perjalanan kami akan aman. Oke, aman semua. Jadi, kita habis offroad apa segala macam, kalau bisa semuanya harus dicek lagi ya. Makanya kita bawa Impact Range ini ke mana-mana. Nah, ini dari mesin HL Premier ya. Jadi bisa kelihatan kualitasnya bagus dan yang pasti namanya juga alat beginian dipakai terus pasti ada kausannya kan. Nah, mesin Ail tuh menyediakan spare part yang lengkap. Dan dia service centernya ada di mana-mana. Jadi kalau misalkan kalian rusak atau apa, tinggal di bawa aja nanti langsung diganti e part-nya udah langsung bisa jalan lagi. Termasuk baterai segala macam lengkap. Karena kita tahu kan lat-alat bagian tuh baterainya ada umurnya ya. Nah, kalau pakai mesin AL beli sekali bisa untuk seterusnya. Nah, ini juga kunci-kunci juga kita bawa lengkap ya. Termasuk juga ini buat depannya si Impact Range ini ya. Jadi ke mana-mana itu lengkap ya. Termasuk nih kita bawa racetnya. ya. Cuma belum kepakai. Alhamdulillah. Jadi alat-alat ginian tuh kita berharap tidak terpakai. Tapi kalau misalkan tiba-tiba darurat kita membutuhkan peralatan-peralatan kayak gini, nah kita udah bawa lengkap. Jadi itu kenapa kita nginp di sini? Karena kita cari dekat bandara. Harusnya sesuai jadwal si Farhan itu nyampe. Ternyata tadi subuh ternyata pesawatnya delay sehari cuma dia dapat hotel transit. Lama enggak. Tapi dia dia bukan dua penerbangan berbeda kan. Dia satu tiket kan. Hah? Iya. Jadi aman dong kan enggak hangus. Iya sih cuma kita rugi aja jadi nungguin dia sehari. Ya iya apa? Nah kita hari ini mau makan di halal restoran, habis itu ke apa namanya? Forest Stone Forest. Ini salah satu tempat wisata di Kunming yang populer hutan batu. Jadi Kunming ini sebenarnya tempat wisata ya. Oh iya iya. Di sana tuh tadi banyak banget makanan minuman sama hotel tuh sepanjang jalan. Gua jalan ke sana. Hujan-hujan. Hujan-hujan. Enggak ada restoran halal, makanan halal. Jadi, gua beli sate ayam aja. Sate ayam yang benar-benar abangnya cuma jualan ayam. Harganya masuk, Ak. Harganya gua beli dua ayam, dua sate kulit ayam. Ya, pakai bahasa Indonesia bisa dia. Wii, jago. Bisa mengerti saja maksudnya. Jago. Berapa? 20 yuan. Sekitar Rp4.000. Okelah ya. Rp50.000 R lah R8.000. Iya iya iya ya. Ya. Untuk segede gitu sih oke banget. Okelah. [musik] Sebelum kami menuju tempat wisata yang ada di Kunming, kami akan sarapan dulu di salah satu restoran halal rekomendasi dari Alex. [musik] Biar nanti kami enggak perlu repot lagi cari makan. Nah, ini apa nih? Ah, apa? Halal. Halal. Halal. Halal. Pakai P semua. Asalamualaikum. Asalamualaikum Pak Haji yang dagang apa aja, Pak? Sini, Pak. Pakai ikut-ikutan. [tertawa] Nah, aku sudah malas setengah mati aku belajar bahasa Cina kan bantai pakai bahasa Indonesia. Udahlah, percuma aku lebih ngerti kan. Heeh. Enggak ada sate ya? Enggak ada sate, Pak. Sate. Sate. Ada neuropin. Sate. Sate namanya. Ini ngomong apa sih di sini? bisa marinak Sunda ini orangnya ayah s ngomong somai dumpling dumpling itu kopia karena kebanyakan dampling kiri itu biasanya bab ini sap benar ini sapiah benar muslim coba ya buta buta buta si siapa tuh pala ya banget kentang itu enggak kayaknya panas banget dah iya kayaknya pasti meletop mulut kalian sus dulu dah kalau cewek kuat berarti harus gua harusnya kuat beda lidahnya dia tuh lebih tanpan coba dulu hah tapi aku udah biasa karena lidahnya memang tajam Nyaman agak hambar. Hambar. Enak enak si sama kulitnya ketebalan. Iya. Aku mau bilang kulitnya kay tebal Panas mulu lah. [tertawa] Takut aku. Kita terlalu jujur kali ya. Dia tak ngerti. Tapi kayak ini kan sesuai selera lidahnya yang dibuat di Indonesia. Y coba coba coba sem coba coba coba. Nah, kita butuh pendapat yang lebih objektif. Dua suara sudah sama ada masalah hati-hati panas pol ini hakau bukan sih? Udang hakau tu udang. Sunda ini mah Sunda panas. Eh, cabek cabek cabek dulu pakai sausnya. Lelin dulu Rahmat tuh. Rahmat bukan Rahmat punyamu ya ini ya. Masal yuk. Nyomnyom. Hmm. Enak. Hah? Oh, suka dia ya. Engak habar. Berarti mungkin bumbunya kita kurang banyak kayaknya. Tergantung siapa ya? Aduk lagi, Bang. Ke situ, Bang. Hmm. Nah, enak kok. Gua suka enggak yang kalau menurut lu hambar nih? Enggak tuh. Kalau buat gua gimana Jon? Harus banyak ininya tapi banyak banget kurang pedas. Banyak doang. Ini minyak doang masalahnya aku tak cocok. Iya gua juga ini minyak to berarti cocok dengan orang Subang. Monggok orang subang. Nah gas. Tidak Sunda cocoknya. Aku mau makan makanan mereka loh. Tapi ini kemakan bukan yang demen ya. Gas bawah Pal. [tertawa] Ngapa jadi gua yang bawa ini semua ini pesan apaan enggak tahu ya tapi kayak takobel gitu panas sih mata bah enak he enak enak enak enak enak enak kok kayak kurang kurangual iya bentuknya ya. Hmm. Itu punya roti kayaknya agak keras. Dia kayak dagingnya dikit ya, banyakan sayurnya. Tapi rasanya digigit daging Ah, kenyang juga. Ternyata makanan di sini selain porsinya yang banyak, rasanya juga bikin kami pengin balik lagi ke sini. Tapi kami harus melanjutkan perjalanan lagi ke salah satu wisata yang ada di Kunming, yaitu Stone Forest. Jadi jelas ya kalau kita di sini mau belanja-belanja makan Alipei. Oh bisa ya? Bisa dong karena kau pernah datang dari dulu kali udah dibuat dari awal. Kenapa dia kayak kurang mau men-support orang-orang luar yang mau pakai Alipe ya? Kayak kita tidak dipermudah untuk isi-isi saldo gitu loh. I gua yang WPay, WeChat, WPay itu enggak bisa gua sekarang. Enggak bisa berarti yang baru-baru sekarang mau instal. Iya, dari dulu enggak bisa. Tapi kalau WeChat e pakai Alipay bisa karena dari dulu pakai Ali Pay dan kalau misalkan mau bayar cash rata-rata mereka enggak punya kembalian. Berarti mereka sudah mulai shifting semua ke itu ya. Kayak kita lah QR semua tahu di mana-mana toh. Iya. Tapi di mereka terima cash. Aku kemarin dengar-dengar katanya Cina udah musuk curies ya. Tapi kan kena B admin besar kata 4%. Iya. Eh jadi kita ke mana jalannya? Kita ke mana? Hah? Kan mau ke Xiaomi dulu. Oh Xiaomi mana? Enggak tahu. Kau gunakan peta kau. Si itu siapa? Tadi K gua sudah bilang di jalan. Oke. Kau mau ngikut mereka? Mereka bisa sama kita kan? Bisa dong. Sama. Mau searah dengan si itu tak si Forest Forest itu engak? Iya dong. Jadi kita harus berpisah sama mobil depan karena mobil depan itu mau balik ke hotel Alex ada barang yang ketinggalan. Nah gua sama John mau ke Xiaomi. Betul. Sama ke apa namanya tadi depan kau pas langsung depan. Ini lebih dekat soalnya. Apaan tuh? Xiaomi Store. Oh berarti Xiaomi Store dulu. Kita duluan sampai tu. Oke kita mau ke Xiaomi. Kalian mau beli kacamata ya? Bingo J pengen lihat kacamata yang bisa merekam. Tadi tadi si Alex kaget kanan ya. Sejak kapan kacamata ada Xiaomi di bilang. Oh lurus dulu baru kanan yang sana. Bisa suruhnya begini ya Pak ya. Bukannya kanan sini ya? Karena Alex harus balik ke hotel, Ridwan akan berpisah duluan untuk mampir ke salah satu outlet Xiaomi yang ada di Kunming. Katanya sih penasaran sama kacamatanya ya. Bukan parkirnya itu loh, J. Enggak nih. Ini kenapa sih orang berhenti? Kita di tengah-tengah gitu. Mungkin bagian dari budaya lokal, Pak. Bolehkah ini? Kakak kena marah kita ya. Apa dia lagi? Ohah. Lagi turunin orang kayaknya ya. Kenapa? Iya, tapi jangan di situ dong. Enggak apa-apalah kan ini negara dia kita tamu mungkin beda aturan kali. Ini lagi mobil karena dia Rollroyce kali. Rollroyce parkir sembarangan. Wi kita baretin apa yah? Tutup kok kita yang salah. Jangan kaki berarti itu. Tu ya jangan kaki. Tapi tadi dia bisa masuk kok. Kok dia bisa? Bisalah. Kenapa enggak bisa? Mana mampu gila kau bunyinya tadi dia lewat. Bolehkah pakai di sini? Kalau enggak ada yang melarang nanti yang bikin repot tuh pas kita parkir di Shanghai. Di sana kenapa ramai ya? Parkirnya mahal. Kalau di tempat ini kan komplek apartemen ya kayak banyak main anak gitu enggak sih? [musik] Iya. Iya. Katanya di sini masih preorder ya, belum dijual umum. Jadi kalau misalkan pengen beli harus lewat online. Event Cina loh ya. Ya. Ya enggak apa-apa. Biasa kan emang barang-barang yang baru itu emang begitu. Aku sih iya daripada kita pakai K ini kan sama handle itu gini nih. kuat mix flip bagus ya. Oh. Oh. Xiaomi punya. Ada Kak Flip juga ya? Ada ininya hampir enggak kelihatan loh apa namanya grisnya itu cuma tebal. Ini ada speaker-speaker. Speakernya panas hot. Ini apa sih? Hardisk atau wifi ya? Router router ini berarti ini hardisk kali ya. Nas gitu kali ya. Banyak banget barangnya di sini ya. Ini apa? Ini apa sih? What is this? Meja kali, Bang. Hah? Bukan. Masa meja? Standing ada ininya nyala. Oh, lampu kali. Lampu ini. Oh, itu dia keren. Lampu baca. Seberapa terang? Seberapa redup? Warnanya mau lebih putih, mau lebih orangen. Eh, cakep. L gua pengen. Ada enggak dijual di Indo? Eh, timbangan ini gua punya. Ada mouse semua lengkap ya. Ini banta leher ada pijetnya di dalam. Ah lucu Jon nih kau pasti suka nih. Apa ini bantal leher dengan fitur pijat? Serius? Berapa? 299 sekitar Rp700.000. Oke loh. Benar bisa pijatun ada. Caranya gimana? Ah, ini nih tombol nih. Mati. Oh, enggak enggak hidup nih. Ini untuk pijat mata. apaan sih? Untuk tidurak untuk rileks ya. Masih bisa lihat kok. Ini apa? Oh, hoping. Apa tuh? Itu apa namanya sih? Lompat tali. Lompat tali apa? Aku pengen ini deh. Ini lucu sih. Ini lucu ini. Cuma aku enggak tahu ya kok kalau lu enggak pakai buat pijat ini ganggu enggak di lehermu gitu loh. Coba aja coba. Coba pakai. Aku enggak suka sih karena dia ada ini keras banget ada NFC. Nah ini aku punya ini cukuran enggak Jon? Enggak karena kau belum itu belum dipakai. Coba coba dulu. Oh ya enggak nih keras. Oke. Oke kan. Eh enggak ini lumayan keras cok. Enggak sakit ngelihat aku. Enggak. Eh, bisa bisa nih pakai pakai kau pakai sakit. Nah, nyala nyala nyala nyala nyala nyala. Tuh tuh tuh mulai tuh. Nah, nah pijet lagi abangnya kok enak euy. Aduh enak [tertawa] kayak mau ngapain gerak kerasa ya? Kerasa deh. Mana tuh membantu kah? J coba Jon enak. Karena aku bawaannya memang bukan tipe sok dipijat. Jadi buat aku ini aneh. Coba lu coba deh. Ah kalau suara coba ni coba coba bisa hanget ya. Wih tambah banyak mau. Enak sih. Enak kan? M kayaknya buat kita tidur. Iya. 299 24 ramai ya. Di bawah apartemen-apartemen ini ada kayak komplek pertokoan. Lumayan loh, rame loh. Ini salon ya? Salon enggak sih? Jadi yang tinggal di sini nih anak-anaknya bisa diajak main terus mau belanja segala macamnya tuh ada di sini. Cuma kita nyari di Kunming ini tuh orang enggak ada enggak suka ngopi gua rasa. Makanya nyari kopi itu susah. Stone Forest 50 menit dari sekarang. Itu kayak luar kota enggak sih? Iya. Namanya juga wisata. Tapi kita tuh perginya langsung nanti ke arah kota dah. Eh, kenapa punyamu itu enggak ada itunya loh. Enggak ada speed limit. Lucu kan? Speed limit. Welcome to the Vivo Club. Aku butuh ya. Masa sama-sama Oppo Vivo bisa beda itu 120 tuh, Bang. Ada tuh mobil Xiaomi tuh. Oh, iya ada nih sekarang. Iya dong. Mobil Xiaomi. Ih, bagus. Ih, gantengnya kayak ini. Porsche. Ih, ganteng. Hei, memang tidak pernah bosan kalau menyetir di jalanan tol di Cina. Semua pemandangan yang disajikan selalu indah dan bikin kami betah di jalan. Apalagi dengan bantuan aplikasi Maps Cina yang super detail, kami enggak perlu lagi khawatir pas di jalan. Rekam deh. Ini keren banget rekam. Kau ngomong siapa itu? Ke belakang. Emang ada orang? Itu mobil belakang. Standby. Oh, dia kekejar itu belakang. Cepamet. Weh, keren bawahnya danau ternyata ini danau ya. Iya. Dan kalau kalian perhatiin ya, itu dia ngelihatin elevasinya seberapa tinggi tuh. Oh iya ya. Ada tiang-tiangnya di bawah. Keren banget nih AMP ya. Benar-benar realistis itu. Sangat 3D tapi enggak bikin kau bingung. Heeh. Tuh even ada kayak rest area gitu ya. Dilihatin sama dia bagi manebar. Tuh, tuh ada ginian tuh. Berhenti sampai sini jadi tembok dilihatin tuh berubah. Keren ya. Bagus-bagus. Amap ini gua belum pernah pakai sebelumnya pas ngelihat ini keren langsung jatuh cinta. Iya. Sudah gitu kalau ada lampu merah dia ngasih tahu berapa detik lagi. Habis aku pakai Maps aku enggak ngerasa aku di Sya Jul banget ya. Google Maps. Iya Google Maps kayak ketinggalan 10 tahun selama ini kita salah pakai peta ya. Iya. I saatnya kita endorse AM ini sih Google ketar-ketir sih. Wajar wajar banget. Akhirnya kami sampai di tempat wisata Ini rasanya tempat wisata nih. Sudah mulai berubah vibes-nya. Auranya sangat-sangat cheerful, family friendly. Ini ini hari apa sih? Kok ramai banget? Rabu. Rabu jam kerja loh. Ramainya gila. Sekarang mungkin turisnya dari luar sini kali. Luar daerah ini ya? Tap mukanya kan Cina semua nih, Pak. Aku jarang ketemu bule loh kemarin. Aku belum pernah ketemu bule dari tadi. Tuh ada bawa bendera segala kan. Oh ya tur. Nah nih Alex harusnya ikut nih. Dia bisa jelasin nih ada apa di sini. Ah itu dia. Katanya dia sudah bosan ke sini. Terus dia baru dua kali loh ke sini. Heeh. Tapi kalau dua kali jadi ketiga kan malas juga. Iya. Tapi bukannya dia itu tour ya? Tour guide kita ya. Kok mau mau ikut? Malah ikut. [tertawa] Aneh. Ada-ada aja. Mobil Beijing. Akhirnya ngelihat Beijing juga nih. Biasa jadi taksi di Beijing. Oh iya. Heeh. Bayangin bikin mobil namanya Beijing. Dia sangat proud dengan kotanya ya. Mobil lu merek apa? Jogja. Iya [tertawa] keren tuh. Udah kau beli Jogja apa? V9. Jogja V9 katanya. Jogjanya apa, Sleman. Ah. Oh dia variannya Siman varian perkabupaten lah. Udah stop sampai sini. sampai sini doang? Apanya? Jalan kaki habis itu? Iyalah kau harapan kau nih mau road trip pakai mobil keliling-keliling tuh wisata dia. Berarti kita harus parkir di sini. Iya dari tadi aku kira apa kau tak cari parkir tadi. Kayaknya harus cari parkir ini. Siua tuh. Siua sio apa itu? Mobil kecil pro. Baru sampai saja areanya sudah seluas ini. Jadi penasaran nanti di dalam kayak gimana ya. Jadi kita dari tempat parkiran muter-muter karena enggak tahu ke mana. Pintu masuknya tiketingnya di mana. Gua bingung kita punya guide ya. Tapi enggak mau ikut. Dia nunggu di masjid aja katanya nanti. Mau jadi mualaf kah dia? Bisa jadi Pak. Agak ng apa sih jadi mualaf juga. Gua bingung ini kita ke mana. Orang ditanya juga enggak ada yang bisa bahasa Inggris. WC-nya juga sangat wow. Nah, biasa di sini kan gitu. Oke. Yang nyiram adalah orang yang memakai. Oke. Luar biasa. Saya belum ke WC lagi. Iya. Ee WC-nya bagus. Heeh. Cuman ada sisa-sisanya. Ranjau-ranjaunya banyak. Wow. Ya, tapi ya itu makin ke Beijing makin sedikit yang kayak gitu. makin ke pinggiran ni kan tempat wisata dari mana-mana datang orang ngumpul semua di sini budaya itunya masih ada sampai sini kebiasaan Pak bukan budaya Pak Nah kebiasaan budaya kebiasaan sama aja enggak sih enggak bed kalau budaya itu pasti yang bagus-bagus gua mau cari kopi eh itu kebiasaan mungkin karena luas ini kami jadi bingung masuknya dari mana. Walaupun ada peta petunjuk kami juga bingung bacanya. Mobil kalau platnya hijau itu berarti listrik. Biru berarti mobil bensin biasa. Dan ini Nissan ini katanya mobilis di sini. Nissan jalan-jalan aku harus ke mana dari mana? Mulai dari mana? Aku tak tahu kita dikasih peta cuma gua enggak ngerti di mana. Tapi walaupun kami bingung harus ke mana, untungnya tempat ini ada beberapa kedai makanan dan minuman yang bisa kami beli sebelum masuk. Jalan di sini enggak bakalan bosan deh. Ini ada Yunan coffee. Cuma pas masuk kok kopinya begitu semua ya? Bukan kopi. Bukan kopi beneran enggak ada Americano. Coba nanya aja kali ya. Enggak ada. Biasanya kalau enggak lakin Costa ada. Aduh. Tuh dari mana ini? Oh ya udah boleh. Ini Americano Ice. Eh, juga ada raw coconut late nih. Boleh deh. R coconut late. Jadi kamu mau yang mana? R coconut late aja. Oh, ini Tapi ini tulisannya side seeing car station. Jadi kita pakai gokard gitu. Hah. Y. Akhirnya ketemu juga tempat masuknya. Kalau jalan kaki dari parkiran sih emang lumayan jauh ya. Cuma biar enggak lama-lama, langsung aja kita beli tiketnya. Jadi kita udah dapat tiketnya. Harga tiketnya itu 130 yen per orang. Dan kalau mau tambah habisnya itu tambah lagi 25 unen. Nah, ini tiketnya nih. Tiketnya ini enggak boleh sampai hilang karena kita pergi pulang wajib pakai dia punya mobil. Jadi tiketnya jangan sampai hilang. Untuk masuk ke tempat wisata Stone Forest ini, satu tiketnya seharga Rp130 yuan atau kurang lebih Rp312.000. Yeay, akhirnya bisa beli tiket setelah sekian lama. Jadi kalau kalian ke Cina sebaiknya ada satu orang yang benar-benar bisa baca dan bisa bahasa Cina ya. Ya, karena sulit sekali ternyata buat orang yang enggak bisa bahasa Cina. Ini untung ada Ariana loh. Kalau enggak ada ya seng sing song sing sing aku t bayangkan kekunci tanpa pani. Benar kumpulin lagi jadi satu k. Oh iya aku pantai dia Inggris ini pant i ya. Selesai. Nah itu kayak gitu tuh. Nah, tiket yang sudah kami beli tidak boleh hilang karena ini juga tiket untuk naik shuttle yang ada di area wisata ini. Wah, enak banget ya ke mana-mana enggak perlu jalan kaki lagi. [musik] Ye ye. Kasihan Riana enggak ikut. Iya. Ditinggalkan mana [tertawa] dia? Kenceng amat ini光車. Si pala tuh enggak mau ikut. Kenapa? Dia lebih pilih dia tuh pasti mikir tahu enggak apa? Capek jalan kaki. Capek jalan kaki pasti dari yang udah-udah tuh kepala tuh kalau ada jalan kakinya dia enggak mau ikut. Ternyata ini naik bus. Menyesal dia. Belum belum, Pak. Kita belum nengok nih. Oh, iya bagus. Wah, benar-benar luas tempat wisata Stone Forest. Di setiap sudut selama kami naik shuttle ini ada beberapa tempat menarik. Rasanya pengen coba datang satu-satu tapi kami ragu waktunya enggak akan cukup. [musik] Kita jalan kaki nanti dijemput lagi di sini. Oke, jadi kita berhenti di sini, nanti kita dijemput lagi. Oke, let's go. Nah, ini dia main CS-nya. Dari sinilah tempat masuk untuk lihat Stone Forest. Jadi, kami harus berjalan ke dalam biar bisa menikmati indahnya pemandangan di wisata kali ini. [musik] Ei, cakep, euy. Keren. Ini gua ingat batu cave sih di Malaysia, tapi ini lebih keren, lebih besar. Aku deng kalau ini macam ramang-ramang di Sulawesi Selatan. Oh iya ya. Ah merusak saja kau. Itu benar. Enggak cuma disuguin danau kecil yang indah, tapi di tempat wisata yang family friendly ini kalian bisa coba sewa kayak buat nikmatin area danaunya. Tapi emang bagus banget sih ya. Eh, bersih, rapi. Terus enggak ada vandalisme siapa love siapa gitu. Enggak ada. Atau enggak ada love besar-besar warna pink. Tapi yang lu perhatiin deh, enggak ada orang asing ya semuanya domestik. Semuanya domestik. Cang kayaknya kalau udah punya 1,4 miliar penduduk ya enggak perlulah kita ee cari wisatawan asing. Keren loh. Itu kalau kita lihat Waning Zung Zung sik area ke sana itu 1,6 kilo. Minor Stone Forest Sic area 240 sama 895. Berarti kita ke sana aja ya. 16 kilo. Lumayan. Karena itu yang gede kayaknya. Itu yang gede. Dan tidak sengaja kita sudah jalan 590 m Wow lumayan itu exit 590. Wah, sebelum kami masuk lebih dalam, dari bawah sini pun juga pemandangannya bagus sekali. Tidak heran orang-orang betah berjalan kaki di sini menikmati batu-batu yang ada di sini. Jadi, yang gua perhatiin ya, itu batu kenapa ada garis-garisnya ya? Kayak habis latihan pedang set ces bal batunya kepotong sedikit gitu loh. Kau mikir jauh benar, Bang. Aku malah mikir kalau batu kena kena erosi gitu itu kayak ini dulu laut gitu loh kena geser-geser sungai gitu tapi bisa lurus gitu loh kayak lagi latihan pedang set ada kisahnya jes bisa jadi kan kalau kita nonton game sama film-film begitu kan ya dia latihan pedang dengan potong kita nancep ke sini what oh itu film sx si si si tupai ocipal yang pecahin batu ini persis loh iya iya kayak ada lagi ngebasin set cus Boy. Eh, itu ada itu rakit bambu yang kayak dirimu pakai di itu Lado tuh. Oh, iya benar. Keren sih ya. Tapi panas kawan. Menurut gua ke sini tuh worth banget ya. Cuman ada cuman ya siapin fisik aja. benar pala enggak mau ikut. Pintar kau P. Mantap Bang Pala. Kalau kita lihat dari jenis batuannya ini, ini kayaknya dulu pernah kerendem di laut kayaknya nih. Ya enggak sih? kayaknya, Bang. Kayak itunya tuh laut tuh. Coba cek. Mungkin zaman dulu jutaan tahun yang lalu ada terumbu karang. Asin as kayaknya batunya tuh dulu terendam air di laut atau mungkin dulu ada patahan dia naik dari bawah ke atas. Mantap. Avatar of engendali tanah bisa. Makanya bentuknya begitu dari bawah. J. Oh, ini tempat dia tuh lawan Ozai, raja terakhirnya raja api. I Oh, iya benar. Eng kuning katanya. Oh, gitu. Orang kuning. Gak tahu. [tertawa] Gaklah. Ini batunya kebelah. Tengahnya ada pohon ya. Hah? Ada pohon? Iya, ada pohon tuh tengah. Oh, iya. Gua tuh yang ngelihat ini tuh sebenarnya gue inget tau raja. Iya enggak sih tau raja? Iya. Dia banyak bukit-bukit batu dalam dalamnya ada gua taruh kuburan sama dia tuh ininya loh ngebangunnya itu kayaknya benar-benar dipikirin gitu loh buat orang lewat ya. Jadi kita bisa nyusuri batu-batunya toh. Dia bagus enggak ada vandalisme ya. Yes. I love vandalism. No vandalism. Enggak ada yang dicoret-coret gitu. Kalau tengok kita tuh bisa jalan-jalan di batu-batu ini gitu. dia tuh dibikin muter-muter jalan gitu ya. Bagus ya. panjang gitu loh. Jadi kita bayar segini tuh jadinya berasa murah ya. karena emang gede banget seharian nih kayaknya kita di sini. Dan yang kau bayar tuh memang untuk sebagus ini tuh worth it banget. Iya, langsung berasanya. Oh, murah 130 ya. 30* 20.000 lah. Batunya dipegang dingin ini. Coba dipegang deh. Eh, ini teksturnya beda loh. Dingin kan? Ini beda loh. Ini ini halus banget itu kayak ada lapisan kerami gitu ya. Kayak ini ada airnya lagi turunes kayak stalak stalid. Iya gitu. I gila ini ini batas segede gini bawahnya cuma segede gitu dan mulai retak-retak lagi. Uh benar-benar bikin kagum. Batu-batu tinggi menjulang di sekeliling. Bentuknya sangat unik dan [musik] gak ada yang benar-benar sama. Jalan setapaknya berliku bikin penasaran setiap melangkah. Di depan selalu ada pemandangan baru yang muncul. Kadang terasa luas, kadang terasa sepi. Tapi justru itu yang bikin kami senang. Huh, lihat tuh kita sampai ke atas. Tapi ternyata masih ada atasnya lagi. Dari sini memandang udah keren banget ya. Wah, benar-benar enggak nyangka ada pemandangan seperti ini. Pengalaman baru buat kami melihat secara langsung betapa indahnya jika berada di atas ini. Ini hari Rabu tuh seramai ini ya, gimana hari libur ya? Nanya. Tapi mereka bilang sekarang Cina lagi piksi. Aku lupa anak-anak sekolah kayak libur. Oke. Eh, gua baru sadar kenapa namanya forest. Stone forest. Ini sini stone forestnya yang tadi tuh baru baru stone. Stone doang stone garden yang tadi. Yang ini beneran stone forest. Banyak banget batunya ya. Banyak banget. Stone forest atau Shilin dalam bahasa Tionghoa adalah kumpulan formasi batuan kapur yang terkenal dengan luas sekitar 500 km² yang terletak di Kabupaten Otonom Silin Yi, Provinsi Yunan, Tiongkok. Hutan ini berjarak sekitar 90 km atau 56 mil di sebelah timur ibu kota provinsi Kunmeng. Para ahli sejarah berkata bahwa area Stone Forest ini dulunya merupakan laut dangkal sekitar 270 juta tahun yang lalu. Tuh ya dipegang terus lama-lama jadi giok tuh. Jadi licin. Jadi giok ya. Seperti yang udah-udah pasti habis itu kita keluar ada snack-snack tester dan kawan-kawan buat beli oleh-oleh. Tapi overall kalau kalian kunming wajib ke sini. Ada es potong. Sangat recommended. Pusan dapat UNESCO top. Akhirnya selesai juga kami berwisata di sini. Sungguh pemandangan yang benar-benar baru. Namun, saatnya kami kembali ke hotel dan juga beristirahat karena besok kami akan melanjutkan perjalanan menuju kota selanjutnya. Jadi kita mau bayar parkir coba ya. Penasaran kenapa tiba-tiba Alipe gua Raiso. Oh, Raisao. Tiba-tiba minta paspor terus pas kasih paspor gagal terus. Mode parkir telah aktif. Mode parkir belum aktif. Nah, cannot apa artinya cannot nih enggak bisa ya karena tadi kita masuk enggak ada itu. Gimana gimana gimana? Pakai cash bisa. Oh berapa tahu masih dibayar Bang? Bilang cash gua habis Bang. Cash kita habis ya. Aman aman. Di sini ada butuh berapa? Em sekitar 5.000 Yuan. Enggak gitu juga. W buat beli kacamata kanan doang. Berapa? Berapa? 10 yuan. Oh. Oh, 10 yuan ada loh. Kok murah ini? Ada nih. Udah ni aja sama nih. Aneh pas, Bang. Yey. Thank you. Sinin aja ya. Yuk, let's go. Tinggal tunggu dibuka. Oh, dipencet manual. Yo. Wih, terbuka otomatis. Otomatis. Yuk, let's go. [musik] Sebelum kembali ke Kunming, kami mampir dulu di rest area untuk isi bensin dan juga membeli snack untuk perjalanan. Tapi ada hal yang bikin kami bingung di sini. Karena jadi kita enggak bisa bayar karena Alipay ditolak. Bukan Ali ditolak, dia gak bisa terima Alipay. Dia enggak bisa terima cash. Cuma bisa pakai WIN atau WPayat. Nah, ini mau coba pakai kartu ini. Masyarakat WC. Kami cukup bingung bagaimana cara bayar apalagi tangki sudah terlanjur terisi. Untungnya karena ada Rihan dia membantu kami untuk berkomunikasi dengan pegawai SPBU di sana. Jadi semua payment enggak bisa, cuma bisa pakai WIN. Tapi karena tadi kagak sebawa kebingungan, mereka mau nerima cash dari kita. Untungnya masih mau terima cash. Selamat datang di Kota Kunming. Sunset menyambut kita, Saudara-saudara. Cakep. Ternyata ini modern loh. Ini mirip-mirip kayak di Shanghai. Hah? Iya kah? Aku malah kompetin sama kayak Kuala Lumpur. Kalau ini kayak kayak Shanghai kayak gini. Oh, Shanghai kayak gini. Iya. Dia lebih mewah lagi kotanya. Lebih bersinar banyak lampu-lampu begini emang. Jadi kunming ini ya mirip kayak Beijing kayak Shanghai, kayak Guang Chou, kayak ya Tongking. Gua penasaran sih. Bisa tak jauh kok. Cong jadi kan travel kita kan udah ngaturin tuh kita ke mana aja. Nah gua pengen coba lewat congking Cong C con cing con cing con cing. Banyak cing con diing con. [tertawa] Cong cing cing cing con cing cing con. Bagus kali ya. Bagus kan? Tapi so far kotanya saya suka 41 40. Tuh. Jadi kita ngambil yang tiga jalur nih. Kanan kiri muter balik. Ini harus dilihatin nih. Banyak kali jalurnya. Keren ya petanya ya. I detail banget loh. Tapi dia dia mendeteksi kita di depan itu loh. Di depan zebra cross. Zebra cross padahal enggak. Ya tak pandai k itu dia ngapain maju aku mau nanya ini masih 42 detik 16 15 14 13 12 11 boleh oh boleh mobil apa nih Hyundai Elantra ganteng kali jarang loh Hyundai di sini tumb wi ganteng loh oh ini masih bensin ya bensin biru enggak kelihatannya punya itu apa knalpot kayak hijau ini sini udah hijau dia belum loh oh iya ini udah udah Ada hijau, ada hijau dia baru telat dia ada delay. Oh, Mr. World Wide ini baru terasa kayak nyetir di Cina, Pak. Kemarin kemarin Yunan tuh kayak gak berasa Cinanya ya. Tuh lihat tuh gedung-gedung tinggi di mana-mana. Uh, keren. begitulah. cakep loh. Cakep cakep. Sabar di Cina. Bersih ini. Bersih loh. Bersih, rapi ya. Meskipun padat meskipun mereka caranya nti juga lumayan agak berantakan ya iya aku udah dua kali selip dah sama orang aku ibu kota ya wajar sih semuanya hijau masih boleh tapi kebayang enggak ini kalau Cina bukan negara komunis mengurus 1,41 miliar orang macam mana Cak Muhu iya ada seni museum ada apa seni museum oh ini museum kita dah dua kali ke museum tak masuk-masuk dah masalnya kita juga agak-agak ngerti Nah, itu masalahnya. Oh, bagus kan? Cuman untuk aku yang sangat tak bisa mendalin menurut aku sih Cina sangat susah sih buat aku sih. Iya betul. Apalagi buat gua. Eh, Bang Ridwan yang Mr. World Wide setengah mati dia ngomong sama orang [tertawa] bensin tuh ya enggak apa-apa tapi dia mengertikan akhirnya. Ya ya ya akhirnya so baik akhirnya kita sama-sama saling pengertian kan. Iya. I karena sama-sama kalah apaapa gitulah. Walaupun kami sampai di Kunming sudah dari kemarin, tapi kami tidak sadar ternyata pusat kota ini sangat ramai dan juga bagus. Kota Kunming dikenal sebagai kota musim semi dan begitu berkeliling julukan itu langsung terasa. Di sini modernitas dan alam hidup berdampingan dari jalanan kota yang ramai. Kota ini bukan sekedar persinggahan tapi tempat untuk menikmati perjalanan. memperlambat langkah dan merasakan sisi lain Tiongkok yang hangat dan bersahabat. Wih, ramai, Beb. Ini kayak Bukit Bintang ya, Beb? Iya, nih bukit bintangnya nih kayaknya Oh, keren. Nanti kita ke sini dah. Jangan kaki nyaman nih. Apa spot ini, Beb? Ini bagus banget ini. Namanya apa? Gak tahu jang tak tahu ini kayaknya daerah old town-nya nih yo. Oh, yang Diana bilang tuh yang cangcing lang cangcang tuh ceng all town girl tuh lihat tuh ada gerbang-gerbang keren io. The first people hospital of Yunan province first peopleatang aja. Uh pantat kau mulai normal kembali FPH First people hospital. Ini ini masjidnya. Yes. Mana macam kelenteng dalam luas sekali kau nih arahkan ke masjid ke kelenteng. Ini mau coba tutup kali apa buka masjid kan terbuka 24 jam. Memang harusnya begitu cuma ini lihat dong. Coba gua turun dulu ya. Oke. Say your password. Yeah, baby. Sebelum kami kembali ke hotel, kami mampir ke salah satu masjid di Kunming untuk salat dan juga menjemput Alex. Ini masjid keren banget ya. Jadi arsitekturnya Cina. Kalau [musik] kita datang enggak ngelihat lingkungannya ini Islam. Mungkin kita enggak kira ini masjid, tapi ini keren banget. Gua suka. [musik] Masjid Sunceng adalah salah satu masjid paling terkenal dan terbesar di Kunming, Provinsi Yunan, Tiongkok. Terletak di Jalan Sunceng, masjid ini memiliki sejarah yang kaya dan hubungan yang mendalam dengan komunitas muslim Hui setempat. didirikan pada tahun 1425 pada masa pemerintahan Hongsi dari dinasing. Awalnya masjid ini dibangun di sepanjang tembok kota Tua Kunming. Masjid ini mengalami kerusakan yang cukup besar selama Dinasti Cing akhir khususnya pada akhir abad ke-19. Namun pada era modern setelah tahun 1981, Pemerintah Provinsi Yunan memberikan hibah untuk restorasi dan pelestarian berkelanjutan. Ya, akhirnya kita udah sampai di hotel dan kita berpisah dengan Alex. Iya, betul karena Alex cuma sampai sini aja. Heeh. Nanti kita akan dilanjutkan lagi dengan Who's Replacing you? Edward. Edward replacing you. Ya, it's Shanghai. Shanghah. Meet you in Shanghai. Oke, thank you very much, Alex. Ya, safe flight tomorrow ya. Yeah, have a safe journey. Bye. Bye. Bye. Bye. Bye bye. Hah, sedih rasanya berpisah dengan Alex karena kami sangat terbantu selama perjalanan ini mulai dari masuk border sampai di kota ini. Terima kasih, Alex. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya. Jadi, kita ada di Nanang Night Market Karena yang lainnya pada capek dan ada pengen nglaundry. Jadi kita jalan bertiga saja sama Farhan yang baru datang dari Jakarta. Mantap. By the way, kan tadi ALP gua bermasalah ya, tiba-tiba mesti ngriset. Betul. Dia minta registrasi. Registrasi ulang passport katanya 24 jam. Tapi ternyata udah bisa. Udah di ini dibalikin. Sudah tes bayar belum? Cuma gua masih tes bayar dulu. Kalau enggak ada kita balik lagi langsung karena kita akan tes beli HP Huawei 3. Enggak dong. Enggak. Dari mana duitnya? Oh, begitu. Oh, ya. Prot kalian mau ke Nanciang Market jangan bawa mobil pakai. Enggak, enggak, enggak. Itu semuanya bukan cuman Nanci yang night market. Pokoknya kalau di pepotan besar Beijing lah, Shanghai lah, pakai TT saja didid atau pakai sepeda taksi lokal. Capek banget nyari parkir. Benar-benar deh. Ampun. bahasa kita dah? Egroll. Egroll. Egrol. Bukan bahasa kampung. Monde. Monde. Serpong. Serpong ya? Semprong. Serpong. Tapi dikasih dikasih cairan lagi itu lelehan lagi keju. Kayaknya sih enak ya. Iya. Wah ini bagus banget viewnya sih. Di kota sebesar ini ternyata banyak spot pasar malamnya juga. Jadi, Ridwan dan John akan mencoba explore pasar malam pertama mereka di Cina. Dia tuh bersih ya, pakai keramik bawahnya. Bukan keramik kayak batu. Di atapnya juga ada lampu-lampunya. Keren sih, rapi banget. Outdoor rasa indoor. Ada Kirinakoti juga. Durian [musik] cheese musang king. Aku trauma makan pizza durian kita dulu di kampak. Bukan. Stetir fried cheese Musang King. Stetir fried duren cheese musang king. Piro mas. Siap kau. Oh mahal. Yeah. Welcome. Wah ternyata banyak sekali jajanan lokal yang sangat menarik untuk dicoba. Sayang sekali saya tidak ikut ke sana. Nyesel Ali-nya bisa. Yeay. Bisa bayar. Syukurlah kau. Dan di sini ya, lu mau jualan enggak wis sembarangan. Ada sertifikasi segala macamnya jelas. Jadi kalau kita lihat semua stol-stol di sini meskipun dia cuma pinggir jalan gitu ya, pasti ada giniannya nih datanya. Memastikan yang kalian makan tuh aman. Mungkin bagi sebagian orang ini sangat terlihat mewah jika dikatakan ini sebuah pasar malam. Tapi menurut informasi yang beredar di internet, banyak kota-kota besar di Cina memiliki pasar malam seperti ini. [musik] Sebenarnya gua yakin dia tuh udah ngasih tahu berapa lama. Cuma karena kita enggak ngerti. Soalnya yang pada pesan tuh pada ditinggal semua. Kita doang yang nungguin. Jadi apa lagi Jon? Banyak barang manis-manis. Iya kayak ini kayak pancake mochi. Mochinya Minuman ini sih emang street food yang kayak mall sih. Ini sih enggak street food banget menurut gua ya. Lebih ke mall ya. Mall kecil lah. Heeh. Apa tuh? Apa itu? Gak tahu susu Oh iya rand. Ini ini telur gulung verinya pakai itu pakai apa? Susu. Coba yuk. Ini sebenarnya cuma cuma duren pakai telur doang nih. Duren tuh iu. lawa kja? Gimana? Panas Lebih terasa butter dibandingkan duren kayak aboja. Enggak ada rasa durennya. Cagi sekarang sudah ada di Indonesia tu masih dari sini. Ini jajanan yang mantap banget. Beli gak? Enggak ah. Gak mau gua ada blueberry. Huh, enak sekali. ternyata itu belum finalnya. Ini nih lebih keren lagi. Udah tutup. Sekarang jam 22219. Kalau di Indonesia masih jam 2119. Beda sejam. Memang malam hari tidak untuk minum kopi enggak? Enggak berasa karena di sini gelapnya itu jam 08.00. E magribnya jam 19.5. Jadi emang beda makanya pas dari magrib kita ke sini kok cepat banget ya. Langsung jam 10. Aja gimana kita mau cabut [musik] sambil arah barah. Oke mungkin kita lewat jalan sebelah sini kali ya. Coba. Woi. Tutup lampunya woi. Halal halal. Waalaikumsalam. Indonesia. Mau makan apa? Nuro. Heeh. Sapi atau ayam atau kambing? Ayam mana? Ayam chicken. Yomah. Chicken. Chickeno. New sapi dan kambing ya. Nur iya sapi mo nyurau. Newu itu sapi kambing B. mbe itu caranya. Mbe universal language [tertawa] ketemu juga anda kayak gini ya. Ah dong. Akhirnya Ridwan dan John menemukan makanan halal di pasar malam ini. Dan menariknya penjualnya pun seorang muslim. Jadi tidak perlu khawatir cara pengolahannya dan terlihat makanannya sangat menggoda sekali untuk dicoba. Gua tanya apakah mudah menjadi muslim Cina ya atau enggak? Katanya mudah oke. Yang penting jangan banyak ngomong, jangan nyap nyap nyap nyap gitu. Oh, betul ternyata. Oh, tanya dulu. Mbek mo tu. Iya, iya. Mo m mbek mo. Ya udah. [tertawa] Ini kambing. Ini sapi. Ini apa? Ini kambing. Oh, kambing. Oh, bukan me-me ya. Yuk, coba yuk. Bismillahirrahmanirrahim. Y Jon cobain Jon biar Jon juga duduk mo ini mo ini mbek coba kalau dia punya kayu kayu di kayu ah bumbu mala favorit Bang Ruan sangat wang Mantap jiwa. Ini rusuk kambing the best. Pin tadi dia ngomong embek. Aku apa rusuk rusuk. Ah. Asalamualaikum. Ahi. Bodoh. One more. One more. Her. Enaki. Mantap. Jadi karena kita bikin video ya langsung rameai yang beli. Oh ya iya tadi orang pada ngelihatin tuh lihat tuh dimasak jadi banyak [tertawa] kan. jadi pada antri dia. Ketika influencer lain harus posting dulu baru ramai Bang Rwan kebalikan dia baru rekamnya ada ramai baru rekam langsung dia ngelihat oh apaan direkam-rekam gitu kan bahasanya aneh lagi berarti enak banget orang lewat beli. Nah ini namanya apa? Lotus se biji tratai. Enak kan? Coba dulu [tertawa] enggak? Enak kan? Ini dibenci orang yang fobia. Ngapain beli gituan? Gua udah pernah makan. Kan aku penasaran. Pantesan enggak ada yang beli punya dia. Siap mau makan itu lotusat bagus buat jadi minyak buat rabut kalau enggak salah. Minyak rabut Gimana makannya sih? Langsung aja. Enggak enak. Pahit. Emang kalau dibuka jadi jadi enak? Enggak tahu ya. Semoga saja ya. Sepat berasa. Apa ini? Ngapain Jon? Jangan beli begituan Jon. Wah, ternyata lebih dari ekspektasi kami tentang pasar malam yang ada di Cina. Dan mencari makanan halal di pasar malamnya pun tidak terlalu sulit. Kami berharap di kota-kota selanjutnya pasar malamnya akan seperti ini. He, Bang TV Bang tahun jadul tahun berapa nih? Ah, Sang Wukong. Sun Wukong. Sang Wukong. Seru sekali rasanya jalan-jalan hari ini. Mulai dari menikmati pemandangan alam yang begitu indah sampai merasakan makanan di pasar malam yang begitu ramai dan bersih. Namun, kami harus kembali ke hotel karena besok kami akan melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya. Dan untuk teman-teman yang ingin membeli kaos Official Merchandise One Million Journey bisa cek link yang ada di deskripsi atau pin [musik] yang ada di kolom komentar. Terima kasih telah menonton sampai jumpa di episode berikutnya. Keren banget. Habis itu gunungnya tuh kayak ada tebing-tebing gitu. Ini rasanya tuh kayak ini tahu enggak? Danau dekat bumi perkemanci bubur. Lihat sebelah kanan. Lihat sebelah kanan kita sampai di Sidrap Sulawesi Selatan. Oh, ayo melangkah jauh. [musik] Oh, temukan dunia baru. Cina penuh warna dan cahaya. Langkah kecil buat cerita besar. Langkah kecil [musik] buah cerita besar.
