Jungkat

1M JOURNEY BACK TO CHINA: MENUJU LUANG PRABANG! (YouTube Video)

  • 01/01/1970

Halo semuanya, jumpa lagi di One Million Journey edisi Back to China. Pada episode sebelumnya, kami sudah memulai perjalanan kami untuk menuju Cina. Walaupun sayang sekali tidak bisa explore di kota Vientten karena harus mengejar waktu untuk sampai di border. Dan sekarang kami akan melanjutkan perjalanan lagi bersama Duo Tigo menuju Luang Prabang. Destinasi pertama kami. Jadi view-nya sangat indah. Ini vibes-nya itu kayak campuran antara ramang-ramang dengan KBI island kalau di daerah Thailand. Tapi lumayan kita memasuki daerah Fangfieng ya sekitar 10 km dan memang itu adalah salah satu spot tourism kalau di Laos. Jadi kalau bule-bole ya main ke Laos mereka ke Vientien buat transit langsung mainnya ke Peng. Kita mau nengok secantik apa, Fangfeng. Seperti yang sudah disebutkan di episode sebelumnya, perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 7 jam dengan jarak tempuh 310 km. Mungkin kami akan mampir di beberapa tempat untuk makan dan beristirahat. Oke, tolnya sudah selesai ya. Tamat. Iya, Bu. Bayar to Riana yang bayar nih sebelah kiri. Ingat tolong sebelah kiri. Nah, duitnya di atas atas sana tuh yang ada kartu biru sama duitnya. Oke. Kau ngomong sama dia pakai bahasa Mandarin. Jadi biar dia sama-sama merasa tak bisa nti tak bisa juga tak kalah. Jadi funi ya? Funfieng. Oh. Berarti padya kalau ada tol enak banget tuh. Terus tempak tuh boten itu. Tadi aku lihat boten. Hah? Sampai boten tolnya. Iya itu lagi dibuat ya. Tapi kan gak bisa dipakai. Belum berarti kalau tahun depan ke sini bisa tuh. Oh bisa bisa kembali lagi. Heeh. Lewat kampoja lagi. I ya ya tempat favorit Bapak Ridwan 500 belok yang paling kanan kiri. Paling kanan ya. Paling kanan. Ih bagus banget gerbangnya. Fang fiens. Fang fien cek kecekceek. Nah. Soso ni soso. Bingung dia apa plat aneh. Sabar ini harusnya kan dari kartunya kan. Iya. Dia berapa ngomong apa? Berapa tuh? 139 duit tak cukup. 139. Woi, duit g cukup. Jangan jangan jangan. Eh, duit enggak cukup. Rp139.000. 139 berapa tuh? Ya, sekitar 100 kurang ribu. I need to know. Rp20.000 lah rupiah. Ch takut. Ya udah. Se. Oke, kita lewat ini sabaidi bukan apanya? Sabaidi Laos bukan nih Laosjo itu sesuka hati kau yang ngomong ni Sabaidi itu bukan kip kita masuki Feng. Nah kita mau ke mana sekarang? Oh ke kanan. Wes cari makan. Cari makan. Cari makan cari makan. Rest area dong. Tapi ini di Google M suruh ke kanan loh. Belok kanan. Wi lurus Vienges area. Waduh. Weh, kok seram kali mobilnya. Kurang gede ya kayaknya. Heeh. Oh, ada kawinan euy. Oh, mereka juga kawin pai tendai. Makan gratis kita. Nyaman. Bilang ya kita keluarga dari pihak mempellyai mana gitu. E mempellyai. Heeh. Bisa, bisa, bisa. pria nanti pura-pura aja ngomong bahasa Sabaidi. Nah, Sabaidi. Betul. Apa yang mereka makan? Apakah mereka berjoget kayak di Thailand kemarin? Oh, gak ini lebih tahunya udah bilang, "Oh, nikahan nih. Selamat, selamat, selamat." Meninggal rupanya. J rata orang meninggal. Tuh, ini rumahnya nih. Rame nih. Sini. Ramai nih di sini. Oh, Fang itu enggak cuma tempat wisata ya. Rupa juga pemukiman yang ramai ya. Ini ya. Mana tadi katanya di S terus sejauh 1,5 km depan ada itu 500 m ada savel perbaikan jalan dan ini bagus sih lagi dibikin apa namanya pelebaran ya bukan opo tempat jalan kaki. Oh trotoar mana sevelnya? Oke, kondisi Fangfi yang cukup menarik kayak desa-desa kap kampung di Indonesia lah. Sedikit fangeng ya. Sedikit fangfeng. Betul. Funf. Mana savelku? Oh, depan BXI juga ada tuh. Mau apa? Big atau savel? Safel aja. Kan ada yang halal di shel ya? Iya. Eh, ini dia punya tempel besar we. Ah, ini bilangnya bukan tempel tapi kuat. Heeh. Iya iya. Oh ini tempelnya ini wat kobra. Jadi bigy kita skip ya nanti. Kalau bignya juga kecil tuh ATM tuh. Hah? Gua buat tidur gak nunggu si kepala atau ATM tuh. Tuh bentar hilang turun kau. Ada ATM di depan. Bal boy. Ini rumah makan teman kita. Udah coba dulu ya. Lah ini mobil di depan ngapain? Lewatin dulu deh biar si pala bisa lewat. Yang mana sih? Enak ini yang mana, Bang? Tapi sandwich. Nah, ini dia cheese toks sandwich 40.000. Mahal ini, tapi halal. Kita makan nasi dulu aja. Di sini enggak bisa pakai kartu ches pakai jant. Nah, setelah sampai Van Vieng, kami langsung membeli makan siang dan beberapa cemilan untuk perjalanan nanti. Dan juga tidak lupa membeli kopi biar saat perjalanan tidak perlu repot lagi mencari rest area. Aduh, enak sudah adem. Nyaman nyaman, nyaman. Karena jalannya sudah kembali ke jalur yang cukup ramai dan padat, saya kembalikan pada spopiet yang layak dan sebenarnya. Jadi kita itu beli kopi satu tujuannya adalah biar bikin segar sama he bisa dapat WC yang bagus. 7-Eleven itu sini enggak ada WC. Yang mana? 7-Eleven sini enggak ada WC. Ada WC. Enggak ada WC dari kemarin. Cuma yang belanja gua lu yang menikmati paling dahsyat. Oh iya wajib. Mumpung ada bidet. Kau tak pernah tahu ya biduh Jokus mewah sekarang. Tapi lucunya nih si Noaf ini banyak di mana-mana. E kalau di sini kayaknya lebih banyak dari ini ya Amazon ya. Betul. Oh dia panas. Cuman meleleh yang dipajang. Yang dipajang itu wah arabika. Arabika apa? Blend. Wah. Ini pas dicobain full robusta. Allahuakbar. Ini salah satu kota dengan bule terbanyak PKU lihat. Iya bule terbanyak diungan dulu. Bahkan lebih banyak bule dibanding orang lokal yang lewat. Berarti harusnya warga lokasi jago bahasa Inggris harusnya ya. Iya. Dan makin ke sini warga lokalnya wajahnya itu semakin mirip ke Cina. Cina berarti. Eh, kita mau cek toler berapa total ya? Rp130.000. Oh, enggak kilonya. Oh, 241. Sekarang 100 kilo lebih. Iya. Iya, betul. 30 mahal ya. Tadi kan 30 kan. Betul. 130 sekarang jadi 241 ya. Anggap betul 100 kilo lah. Mahal cukup cukup presi ya. Dan sevel di sini juga mahal. Iya lumayan. Jangan-jangan nih semuanya karena tempat wisata mahal di sini bisa jadi karena banyak bule. Banyak bule. Sama seperti saat kami di VNTN. Sayang sekali kami tidak bisa explore di kota ini lebih lama. Padahal Vaneng, kota kecil di Laos yang dulu pernah menjadi pos persinggahan pada jalur perdagangan abad ke-14, tetapi sekarang berubah menjadi destinasi wisata yang memadukan sejarah dan keindahan alam. Banyak wisata yang bisa dikunjungi di kota ini seperti Blue Lagun, Tam Changkev, Pangen Viewpint, Ka Nyue Waterfall, dan masih banyak lagi. Sayangnya lagi-lagi kami harus merelakan itu semua untuk mengejar waktu sampai ke border Cina. Ulala debunya dan jalan-jalan berlubang menguning. Ini benar-benar kayak gambaran. Ini ada awal-awal kita bilang image Laos dan kamponya tuh kuning-kuning I. Padahal kalau kita lihat ya ini pemandangannya bagus sekali. Cakep cakep. Cuman Bang Rop pun teori memang jalannya sengaja enggak diperbaiki. Agar orang-orang kayak kami tidak ngebut. I tu lihat kiri kanan tuh dekat sama pemukiman pemukiman. Kebayang kalau ngebut banyak anak-anak lewat. Betul. Oh. Nah, kalau begini kan mereka tuh jalannya pelan dan punya waktu untuk pengereman dadah. Betul. Jadi, satu adalah biar tidak ngebut untuk menghindari nabrak para pobiman. Dua adalah agar kalian slow down dan menikmati pemandangan. Nah, jadi ini tuh adalah lubang-lubang yang sudah disusun struktur dan sangat sistematis. Heeh. Wow. Ini bagian dari anggaran ini. Nih, ada busnya nih. Ini bus yang peluang perabang itu sliper katanya. Sliper tok? Enggak kan ada yang sliper deh. Enggak. Oh, iya kah? Bas tuh enggak di mana-mana dia ngebut ya. Tapi iya ngejar target Pak. Iya gua mau ngebut tuh takut gua takutnya tiba-tiba ada lubang jalan rusak atau apapun itu. Dan kau dihadang dengan kerbau di depan. Waduh. Warga lokal menyabut Anda dan mengatakan saabaidi. Katanya sabaid to love. Memang luar biasa. Ini kerbau kawan. Buka sapi lagi kawan. Yah, diblok dong. Aku udah bilang diblok dong. Kita dong buka kaca Bang Ritwan kasih dia itu dulu uang kecil. Enggak lah. Ini gangster nih. Wih pala premannya. Oh ini kebonya kebo setengah bule tuh lihat tuh. Iya iya iya mahal ini di Toraja tuh lihat kan. Wih pala itu. Oh itu albino. Lumpur bule beneran bu kebau bule itu albino bukan sih? Heeh iya betul Pak. Albino. Oh, kerbau Arab. Enggak dong. Mau Arab. Alabino. Betul. Kan Arab. Tapi ya udah jalan kayak begini lebar loh. Luas jalannya dua mobil besar pun tak masalah kecuali ini karena jembatannya kecil dia. Aduh. Jembatannya boleh kecil tapi dia mampu dilewatin mobil besar bertonton-ton. Doang. Eh, jangan ngomong mampu. Terlalu cepat itu keibatannya. Lihat dong, udah begini-begini. Tapi kan masih kuat sampai kita lewat. The Engineer of Law. Lebarnya tuh kayak jalan di Aceh kayak gini nih. Dia lebar tapi enggak jelek. View-nya bagus. Lebar bagus. Mark jalannya bagus. Kiri kanannya tuh kayak gini persis. Nah, sepertinya ujian baru saja dimulai di sini. Karena dari kota ini menuju Luang Prabang sudah tidak ada akses jalan tol dan jalanannya di sini pun masih banyak yang berlubang. Di bawah jembatan ini ada tempat wisata. Mereka semua rekam ke bawah. Apa di bawah ini ya? Engak sungai sih besar. Iya. Dah. Apa ini salah satu percabangan yang sungai Mekong sangat coklat kayak biasa ya. Memang Mekong kan coklat. Ih bagus banget sungai Mekong. Jangan-jangan nih tuh ada ada wat di situ. Oke. Penemu mesin uap. Siapa yo? Uap. James W adalah insinyur Skotlandia yang dikenal menciptakan mesin uap. Wow. Wuhu. Strify of the day. Selamat dapat ilmu baru yang belum tentu berguna buat hidup Anda. Ya, berguna lah. Nanti kalau ngelihat mesin uap, oh aku tahu siapa penemunya. Iya, minimal bisa pamer tahu banyak hal. Jam ya. Mau gimana lagi ya, di antara beberapa jalur menuju luang perabang, banyak warga setempat bilang jalur yang kami lalui ini yang paling cepat dan layak. Tapi kami tidak menyangka jalanannya masih banyak yang rusak. Wow, ini baru namanya jalanku banget. Dalam banget ini. Kiri kiri belakang truk belakang truk. Biarin truknya lewat dulu aja. Ini oke wuduh sirtu ya. Hm. Uhuh. Uhuh. Uh. Ini tuh kubangan gini ada air ya? Gua enggak tahu seberapa dalam. Ini masih kering, Pak. Belum hujan. E uh lubangnya di sedua sisi jalan, Boy. Ini P iki guysas tak bisa mundur kita yang sudah maju. Iya enggak mungkinlah. Oh aku tahu depanku ini apa sekarang. Apaan sih? Pembuka limbah. Rimba apa? Pasti ini mining. Oh, dapat sinyal. Ini mining gede ada kawa mendada tuh. Kawa apa tuh? Danau raksasa. Aku kira itu danau apa? Mana danau? Ada di dalam tadi. Oh iya lubang tiba-tiba jalannya. Sebenarnya ini bukan jalan pertama yang kita lewatin kayak gitu sih. Kita pernah kena pas di beberapa kali tadi ada cuma ini kayaknya yang ngasih basah becek. Mantap. Dan di luar tadi bukan jendela langsung panas banget ya. BT fun fact yang dikasih tahu jalan bagus itu adalah jalan menuju ke luang perabang itu bagus. Ini jalan bagus yang rusak luang perabang ke botel. Macam mana itu jalan? Macam mana itu? Tuh kan ini bagus loh. Berarti benar Malaysia ya. Maksudnya kalau Malaysia itu jalan utama seperti ini yang dilihatin banyak orang yang banyak mobil itu enggak ada rumah kanan kiri. Kita harus masuk ke dalam mana dulu baru masuk ke perkampungan. Betul. Betul. Dia tuh di dalam ini. Heeh. Jadi di pinggir kiri kanan tuh sama sekali enggak ada rumah. Betul. Betul. Enggak ada toko juga. Enggak ada warung. Enggak ada. Betul. Jalan tok. Jalan to. Ini rasanya mirip Indonesia sih. Laos nih emang paling menantang sih dibanding ASEAN-asean yang lainnya ya. Lumayan jalannya ya secara jalan ya. Untuk secara jalan. Iya. Kalau Kamboja secara ini. Nah, ini ada lagi pemberhentian mental. Stop, stop. Nah, diberhentikan kita. Iya, Guys. Ini polisi, ya. Oh, ya polisi dong. Polis Sabadi. Sabaidi. Oh. E Pinay. Boteng. Boteng. Oh boteng. He boteng. Inform Indonesia. Oh oke. Tukar. Thank you. Thank you. Komcai. Kopcai. Tuh kan. Kan memang di sini polisi pasti memberi tiket kita. Pasti pasti. Enggak pernah ada polisi yang tiba-tiba kita disuruh lewat kecuali yang kita sudah lewat. Heeh. Kita sudah lewat lewat lagi. Dia udah tahu tapi ma sana ramah. Baik semuanya mau ke mana? Indonesia. Indonesia. Oh Indonesia. Udah jalan gitu. Mantap. Bahagia di sini itu ya. Kita tidak lagi tekut dengan polisi. Tapi kita lihat border ya. Heeh. Senyum gitu kan. Enggak kita lihat border nih. Kan kita kan menjauh dari kota kan. Aku mau lihat nanti di border orang gimana. Orang la tetap lama kayak ini enggak. Harusnya sih iya dong. Karena kan kejadian kita kena di kamboja. Kamboja awalnya rama sekali. Kamboja ini la. Eh mau lihat kalau beneran baik sampai ujung ke ujung berarti memang fix Laos tuh. Baik gitu. Iya. Jadi saya sangat menyarankan kalau itu skip Kamboja langsung dari Udon Tani, Bangkok Udontani langsung ke Laos. Dan kita juga beberapa kali ketemu orang Indonesia di Laos lagi ini jalan-jalan itu yang Angger itu. Oh iya iya. Dia dari Bangkok main juga ke Laos. Laos dan dia happy Heeh. Senang gitu ya. Mungkin karena jalur ini adalah jalur yang paling cepat, makanya banyak juga truk dan bus yang lewat sini. Jadi, tidak heran jalan sini pun banyak yang rusak. Ini kenapa di atas sini ada laba-laba ya? Full. Aku ketemunya dua kali dia enggak kesetrum. Ee gak tahu, Pak. Mungkin dia makan listrik. Oh, mungkin tuh laba-labanya pada mati kesetrum makanya. Nah, itu dia pandang. Iya, tahu gua berkawan dia. Dan kok pelan-pelan, pelan-pelan sini. He. Anda lihat sebelah kanan Anda, Anda akan ketemu rombongan laba-laba super besar dan banyak. Dan kalau enggak salah laba-labanya tipe ini gigit. Lihat aja pelan-pelan. Kau akan nikmat, kau pelan-pelan banget. Kadang-kadang jalan kaki aku lihat-lihat mana sih? Karena kalau di atasnya di kabel listrik itu ada laba-laba besar dia tuh biasanya jatuh ke bawah beberapa ekor. Lu bikin salang di bawah juga. Cuma ini lucu ya. Ini pemandangannya New Zealand nih. I tapi jalannya tapi jalannya old Zealand. Bagus. Bagus loh ini. Ada potensi wisatanya tuh besar di sini. Yoi, coy. Hidupeng. Asalkan jalannya bagus ya. Ini potensi loh. Tuh bagus sekali. Bagus banget. Ini kita foto-foto mobil di sini juga oke loh. Dan orang percaya ini di jalan kayaknya kalau di kita ngomong ya. Karena enggak semua orang pernah k lihat juga sih. Aku ya tak tahu. Kita foto sini yuk. Enggak bolehkah? Boleh foto sini yuk. Foto sini yuk. Tapi walaupun kami dibuat kaget dengan jalanan yang tidak begitu bagus, ternyata pemandangan yang disajikan selama perjalanan bisa dibilang sangat indah. Ini apa? Enggak enggak enggak sor, Bang. Tidak mungkin tadi tak bisahat sini, Bang. Ini ini rendah banget ini atapnya. Terus tadi lewat mana ke truk itu? Heeh. Dari mana tak lewat? Ini rendah banget loh. Kita yakin enggak salah jalur? Bener enggak? Ini sama satu jalur doang. Sama. Sama. Enggak kok bisa lewat terak sebesar itu. Mungkin dibuka dulu sama warlock. Tapi ini ya kenapa jalan ini bisa shancur ini? Karena ada truk-truk besar memang. Jadi ya itulah gua tuh beberapa kali ketemu konflik antara warga dengan industri karena jalannya itu dilewati truk-truk besar. Indonesia sudah mulai k yang odol-odol itu loh. Iya ya. Wajar sih kalau menurut gua ya warga marah gitu, jalan dilewutin truk tuh enggak enak. Udah berdebu rusak pasti. Dan bahaya kan mau naik motor jadi menakutkan. Anak-anak jadi enggak bisa mandi jalan. memang enggak boleh mandi jalan juga. Cuma at least kan lebih aman lah ya. Tapi yang Malaysia paling benar sih kita kalau udah masuk border Sarawa udah kelihatan tuh pas dari kita Pontira ke daerah kucing tuh. Kenapa? Kan jal utama ya memang buat jalan pemukiman masuk ke dalam bawa pemukiman. Heeh. Terus itu yang paling benar menurut aku. Iya betul sih. Aduh ini kok jalannya makan makin dekat luang perambang makin tapi enggak ada jalan lain ya? Jalan ini doang ya? Di maps cuma satu jalan, Pak. Iya. Kalau dia adalah tempat wisata, tapi mereka ada kereta cepat dan ada bandara di sana. Jadi kalau dari Vienn mendingan pakai pesawat dah, pakai cepat juga ok lah. Iya iya jangan lewat jalan utama ini makanya sepi. Iya dan nanti ada kertas cepat dari Vienn Udi. Oh sampai ke Eh Singapura katanya. Iya pakai Bangkok. Iya iya iya nembus terus. Masih lama. Tunggu di warmillion Journey ketika umur kami sudah mungkin 45 atau 50 lah. Kita akan coba ulang. By the way, kok tiba-tiba jadi hilang gak ada mobil jalan? Aku mah mau nanya. E longsor coy. Besar longsornya guys. Ngeri oy ngeri oy. Wuduh untung mobil kita ringan. yang pakai truk sih ada gedegdekser sih. Tadi kan kita komplet aspal bolong sekarang susu untuk amu, Pak. Aspalnya hilang. Literally enggak ada aspal lagi ini kalau hujan. Astagfirullah. Kita tadi di jalan sirtu aja basah tuh. Agak selip loh. Ini nih tipe tanah yang licin yang lihat itu ada mobil. I kembali ada aspal dikit lah. Tiba-tiba ada sinyal. Jadi menunjukkan ada sinyal atau enggak dari kulet muncul dan lagu muncul. Jadi ee saya tarik kembali kata-kata saya tentang aspal yang bolong. Mending aspal bolong di tidak ada aspal. Alamak. Alamak Jang. Hati-hati. Hati-hati. Ini ini dalam banget. Lumayan. Makanya ini pelan-pelan. Tenang ada traction control. Traction controlnya berguna ketika di jalan tanah lihat dan licin. Jadi ketika dia kehilangan traksi dia akan ngerem. Heeh. Tahu dia. Bentar. Pilih jalan yang mana ini kita? Nah, ini namanya adalah memilih terbaik dari yang terburuk. Widih, ini dalam banget nih. Aku sih ambil vult aku sih di kiri boleh dan kanan banget boleh, tapi amanlah. Aduh. Hai cincai lah inilah kawan. Ngeri yo. Hm. Uh. Traction control Anda sangat berfungsi Pak ya. Iya. Ee punten nanya mobil kita ada yang bawa winch enggak? Tapi kan belakang AWD. Ah, enggak dia AWD terserah kitanya apa. Ak tidak ikut kita ke Kalimantan sih. Jadi gimana cara nariknya? P tarvia diikat-ikat. Enggak. Kita pakai namanya sander. Sand leather. Oh iya di mobil ini ada. Tapi tali towing ada bawa toh? Enggak. kan bisa dorong. Ah ngapain bawa tali kau bisa dorong? Aduh depan kita ini tiba-tiba jalannya kayak ular. Jalan Sulawesi ya. Inilah jalan ular. Bayangin jalan jelek tiba-tiba muter-muter. Hmm. Oh iya kan ingat kita kan luang perabang bakal perbukitan. Heeh. Ini perbukitannya. Iya. Dengan jalan seperti ini ya. Anda dapat combo e kiri kanan atas bawah tuh. Itu tuh sekelas mobil begituan aja. Tuh nyar jalan. Mobil jalannya begitu. Tak pandai dia berarti. Dan agak mulai terasa mobil jadi berat kayaknya. Filter udaranya kotor. Iya. Kena debu. atau mungkin tinggi dan oksigennya pun kurang. Enggak, enggak. Kalau itu enggak. Kenapa sedikit meragukan untuk saya lewat dia? Gua juga mau ngomong gitu sih, cuma ya gimana lagi ya. Ya, jalan cuma satu. Katanya jalan bagus loh, Pak. Keuang Prabang. Ya, ini bagusnya mungkin bagi orang lokal ini. Bagus. Ada direkam gak kalimat Bapak kemarin? Jalannya udah bagus. K Prabu lu buka Google Maps deh. Bukan udah bagus, udah bisa jalan. Coba lu lihat deh, benar enggak ada jalan lain atau jalan cuma ini doang. Oh, Anda mulai meragukan maps Anda. Tapi itu kalau truk begitu lewat ya gini loh. Maksudnya kalau jalan ketutup pasti dari sana tuh enggak ada jalan truk-truk besar seperti ini. Ini kayaknya truk dari Cina. Iya. Cuma ada satu jalan. Berarti benar ini jalannya. I congratulation. Mataku salah atau jalannya memang bergelombang, Pak, di depan? Oh my God. Beautiful. Amazing Papa Suka. Woi we pelan pelanpelan dia. Kirinya lumayan dalam makanya habis mau gimana? Enggak ada jalan lagi Saatnya menggunakan kamera 360. Pak aku agak miring L Pak. Enggak bisa mau cari bajalannya gimana lagi ini. Sor agak gua agak sedikit ya nyari momentum ya. Sor ya sor ya. Sor ya. aku kalau bawa telur telurku udah jadi telur dada nanti pasti goreng mulai seru ya cat jantung pak alamak waduh e nak kasih tahu Bang Ritwan nanya nya ini belum hujan loh ya. ini kayaknya satu-satu nih ada truk woi yuk ini licin. Mohon maaf pegangan semuanya pegangan hati-hati gede gede itu. Weh profesional kali kawan kita nih bos. Ah. E mencari traksi. There is no better way. W lama. Woi. Woi, woi woi woi woi woi woi mereka tak sayang mobil kah? Terbang terbang pegangan tu Jon gua pegang atas aja dah terbang gua lu kalau mabuk bilang ya mau istirahat dulu ini mau nesot di mana? Iya Tuhan nesokot di mana, Bang? Enggak tahu kok dari area senyaman kita gak mau ngomong gitu. Tapi ya ngomong-ngomong tadi kan kita enggak bawa satelit ya. Untungnya mobil ini sudah dilengkapi dengan GPS tracker dari gps.id Super Spring. Jadi kalian bisa memantau kami. Jadi kalau misalkan misalkan kok enggak ada update dari kita gitu kan yang dari Jakarta memantau. Oh titik terakhir di sini. Wah helikopter datang. Hmm. Siapa Kim helikopternya? KBRI. Ah, oke. Jalan lebih mending kayaknya sudah mulai serius ini. Oh, dari tadi kita main-main ya? Tadi kan main santai. Oh, gitu. Ini dikejar waktu juga kan? Oh, iya. Tuh, lihat sudah mulai seru awannya. Enggak. Minimal kalau jalannya sudah mulai turunan enak walaupun rusak ya. Oh, iya. Ada belu ke bawah toh. Tuh yang naik ini jalan tanah ini. Ah aha. Uh. Oh gak tetang mobil depan mulus. Bersih mobilnya. Depannya doang bersih banget. Depannya doang belakangnya lihat. Iya tapi minah enggak basah. Atas aku tahu depan enggak hujan. Oh jangan-jangan bersih karena hujan. Lah gitu teori lagi. Jangan ini RWD atau FWD? Ini FWD. Oh, depan. Iya. Wow, ini aspal baru. ini aspal beton baru. Yes. Oh, ada bocah bocah. Dia lagi nunggu apa dan enggak ada pemukiman. Dia dari mana? Kok kok kayak mereka lihat sesuatu? Oh no. Mereka mau dijemput sesuatu. Ah, jalannya amazing banget. Ei, ei. Wow. Wow. Wow, wow, wow, wow, wow, wow. Astagfirullahalazim. Bentar bentar Anda lihat ada pemandangan di depan. Mereka belum lihatnya, Pak. Aman. Kita kayaknya enggak etis deh kalau kita langsung maju duluan. Enggak kita nunggu di sini. Iya, tapi jangan terlalu dekat, Pak. Karena takutnya diakar kita mundur kita space. Kasih space. Mundur. Aduh, itu mobil diesel RWD. Mundur. Enggak bisa maju. Muatan enggak berapa-berapa muatannya. Waduh, belum masuk Cina kami harus melewati tanjakan ekstrem seperti ini. Sangat menakutkan sekali karena benar-benar di tepi jurang. Sonya kalau dia masih bisa mundur dan tembak. Aku pilih mundur tembak daripada kau dorong. seru dingin ah. Enggak masalahnya nih. Masih ada lagi enggak yang kayak gini? Hah? Oh, kok nunggu ya? Ini enggak takutnya ada lagi. Kenapa dia itu mau turun? Artinya si mobil pickup tadi udah nyerah warna diesel. Oh, aku tahu kenapa dia kenapa dia tahu ringan. Bisa jadi dia tahu ringan makanya dia enggak traksi buat nembak. Kami masih kaget harus melewati tanjakan tadi. Semoga di perjalanan ini cukup sekali saja kami melewati hal seperti itu ya. Walaupun kami belum tahu ya ke depannya nanti jalurnya akan seperti apa. Slow jer ah turunan berarti aman kita sudah turunan pindah ke manual kita mau turunan. Aduh. Untung kita sudah pasang under protector. Huh. Eh, bagus loh yang tebing kiri ini kayak dinding. Dinding raksasa gitu. Iya, bagus. Tegak banget. Gua mau mengagumi perjalan ee pemandangan tuh lagi. Enggak ini. Ah, itu bagus banget desanya. Hati-hati loh, Bang. Kita itu dia masalahnya. Eh, eh, jalan ini apa ya? Oh, enggak. Aliran sungai. Aliran air. Uh, itu. Oh, iya betul. Kenapa pala mobil depan terbuka? Apa ya? Itu pasti ada masalah dengan engine. Ih, bagus banget. Kau rekam, kau rekam. Ah, bagus banget itu desa ya? Iya, bagus banget ya. Ini potensial sekali loh. Laos ini potensial sekali. Aku tak nyangka ketemu jalan untuk road trip yang bagus di sini rupanya. Iya. Ini jalan road trip dengan pemandangan paling bagus. Ah, cakep banget. Tapi harus dibayar dengan jalannya. I bayarannya lumayan mahal sih. Setelah melewati beberapa jalan yang ekstrem, kami tidak menyangka dengan apa yang kami lihat. Pemandangan dalam perjalanan ini sangat indah. Di balik jalan yang bagus dan indah. Uh, dingin luar ya. Longsor loh. Iya, ini longsor ini AC nih. AC ini. Kalau AC-nya daikin nih lagi di 22 derajat celcius. 23,5. Benar kan? Dekat kan? Eh, A ini seru banget sih. Bagus banget. Cuma karena banyak itu jadi debu ya. Walaupun dingin tuh berdebu dia. Oh, pegang bedu mobil juga dingin sekarang. Enak. Kalau lagi panas banget tuh ya beberapa mobil ini sih kayaknya enggak nih kalau lihat dari ininya ya. Bodinya kan suka ada keluar dikit gitu. Di luar panas pas kita mau bayar tol tangan kita kena ke body menyala. Iya langsung ingat neraka ya. Udah bagus loh nih jalannya. Udah bagus tapi gua enggak mau over expectation dulu. Takut wis kita harus prepare for the worst. Bagus loh. Tapi ya ini ya ini kalau dari ujung ke ujung jalannya begini. Wah ini tempat wisata yang sangat ideal. Menikmati New Zealand di Asia Tenggara. We itu cakep banget tuh. Lihat jalannya woi. Tapi benar kalau orang nanya kan New Zealand-nya di ASEAN tuh aku rasa ini kaos. Betul kaos. Malaysia ada yang kayak gini-gini juga cuma enggak sebanyak ini. Cuma-cuma sret beberapa etape doang. Ini dari ujung enggak dari ujung ya. Udah jalan berapa kilo? Setengah jam kali begini terus pemandangannya. Uh, keren. Tapi nih kalau kita cek nih ya, ini kan 83 kilo lagi nyampe. Lebih baik ya kita tuh berangkat dari ruang perabang ke Vientian dibanding ke Vientian. Dari Vientian ke ruang Pra. Kenapa? Ee lihat jalannya begini. Jeleknya pas turunan. Betul, betul, betul, betul, benar. Tapi ini baru permulaan. Tenang enggak? Baru setengah. Udah Anda bisa ngulang kembali nanti. Enggak jauh kok. Dua pertiga lah. Kita udah sampai di suatu tempat sekitar kurang lebih 2 jam ya. 2 jam dari menuju ke Luang Pra. Iya. I ini pemandangannya bagus sekali. Panas ya? Matahari panas tapi udara dingin. Iya. Depan kanan. Huh. Luar biasa. Jadi meskipun kita tadi melewati jalan-jalan yang ekstrem tapi terbayar. Ah sampai sini. Ah. Eh, bentar. Kita belum tentu udah bayar lunas loh ya. IUD kan bayarnya belum lunas. Kita belum tahu masih ada 2 itulah dia. Tapi ini keren banget. Minimal kita B Dp dari seluruh ASEAN yang pemandangannya paling bagus dan paling panjang bagusnya di sini. Yang kedua di Malaysia. Tapi enggak sepanjang ini yang bagus-bagusnya. Ada kita ketemu ya. Cuma kalau buat driving Malaysia emang jalannya way much better ya. Agak kayak ini kemarin tuh di daerah tha tuh yang pas kita masuk ke arah KAB. Yes. Itu juga bagus ya. Iya. Cuma enggak sepanjang ini dan seindah ini. Wah, ini luar biasa. Luar biasa. Gua happy banget. Punya potensi besar. Laos jalannya bagus. Kalau nanti misalkan diperbaikin dari ujung ke ujung ya. Gua pengin ke sini lagi naik motor. C motor jadinya ya. Motor enak. Yuk, jalan lagi yuk. Uh, kami benar-benar dibuat kagum dengan pemandangan yang kami lihat. Rasanya ingin duduk bersantai di sini lebih lama lagi ya. Walaupun kami tetap harus melanjutkan perjalanan lagi ya. Kayaknya sekarang udah bisa di masuk mode normal. Aduh udah enggak terlalu curam kah? Semoga enggak. Kalau curam sih enggak ada masalah. Yang jadi masalah tuh jalan jelek. Tapi ya kalau dilihat ya tuh apa ini kalau misalkan di Indonesia ini kanan kiri ada warung semua. Y iya dong. Jiwa entrepreneur kita kan sangat tinggi. Minimal tuh biasanya di spotter bagus yang ada tanjakan parah dan view-nya bagus itu semua orang berhenti. Tadi ada tanjakan parah aja enggak ada yang nge-YouTube di situ ya. Oh ya ya. Trip ready ya. Itu itu sarang income tuh. Sarang ads itu. Yoi. Tanjakan AdSense versi Laos ya kan. itu semua berhenti loh di sana loh. Keren banget loh laos potensinya besar. Iya betul. Cuma ya kalau dilihat ya itu kan 2 jam 6 menit lagi 78 kilo. Kayaknya sih jalannya masih ada ekstremnya. karena kalau 76 kilo harusnya dia enggak 2 jam. Terlalu pelan soalnya ini. Nah tutu ini aku bilang ada warung. Hmm. Buah ya? Ya. Buah pepaya tuh. Iya. Tapi pemukimannya enggak ada loh. Kenapa di tengah-tengah sini ada warung? Biasa kan mereka dari hutan-hutan itu yang ada pungges kecil dari dese keluar desa dalam hutan biasanya begitu kayak di daerah Tayan Kalimantan Barat gitu dan ada pemukiman muncul ada warung rupanya mereka tu dari dari orang-orang yang tinggal di dalam dikit itu padahal sudah 1 jam perjalanan kami sejak dari Van Vieng tapi karena kondisi jalanan yang seperti ini, kami malah merasa sudah lama sekali di perjalanan kali ini. Offroad lagi Jon. Kanena kau bilang belum lunas bayarnya. Kau kan bilang perjalanan kita terbayar lunas dengan pemanas ini kan baru DP. Ini mau cicilan kedua kayaknya. Aduh. Dan dari tadi gua nyala-nyalain terus ya. Wiper udah mau habis aja tuh. Air wipernya ada ada tanda ini katopnya. Iya dari tadi debu debu debu debu debu. Habiskan, habiskan, habiskan lagi. Bersihkan, bersihkan, bersihkan. Ah, diam. Ah, enggak ring gelombang doang. Apa yang kita lihat ini? Mau mau nyusul gimana caranya ini, woi? Enggak kelihatan woi. Oke, hidupkan dix percuma. Oh, percuma. itu kombinasi. Nah, ini bukan buat debul ini dari dia punya asap gitu combo dengan debu tanah. Kayak main pilihan-pilihan Fasfurius L kita lubang. Uh, enggak bisa kita mesti lewatin. Awas awas awas itu lubangnya gede banget. Benar kata kata temanmu tadi yang bilang jalannya banyak kubangan. Kubangannya segede-gede apa? Kolam. Kolam bisa ini. Per satu lubang dalam kita isi air udah bisa kita ternak lele beberapa ekor. Nih. Tuh. Nah, ini nih yang kayak gini nih. Yang enggak kelihatan nih. Tuh, tiba-tiba dalam kayak ada kadang-kadang suka ada patahan yang memanjang begitu loh. Tiba-tiba masuknya itu duar ke dalam. Bet itu kalau gua enggak ngerem tadi itu darar sampai rusak. Kalau kena H rusak duluan. Banyak. Banyak. Ah, baru kemarin gua bilang kan 30.000 km e ini sudah menempuh kaki-kaki masih bagus semua ya. Belum ada ini. Ah, 30 km begini. Lu lihat medannya. Huh, sedih ya. Ini mirip kayak Kalimantan sebenarnya ya, tapi jalannya lebih lebar aja. Betul. Dan tidak ada sawit. Dan tidak ada sawit. Oh. Dia bisa lewat enggak? Bisa dong. Terasa aja lewat. Kak Ana yang bilang bukan itu. Udah boleh enggak? Aman. Dia melihat kita menunggu kita Oh maksudnya dia bawa bendera kan tapi enggak ngapa-ngapain. Paling dia panggil kita. Hello. Kita ngomong hai Sabidi. Jadi kawan baik lagi. Oh iya mari kita buka kaca dan katakan sabidi. Senyum pun tak ada. Iya dia bingung kali ya. Ih, kok setirnya di kanan? Macam mana nyetir begitu katanya? Nah, langsung langsung langsung. Jangan gitu dong. Enggak, udah pasti, udah pas. Tinggal ngomong aja kayak gitu dong. Tiba-tiba ada perkampungan. Iya. Dan rame pula. H. Alah, lubang kan ya. Ini nih lubang-lubang enggak kelihatan nih. Warnanya abu-abu. Itu yang bahaya sekali tuh. K tiba-tiba duar. Ah, berapa kali kita kena kayak gitu ya. Apa itu ya? Uh, dalam. Itu apa ya? Kayak terminal gak jelas di antarata berantal gitu. Bukan. Bukan terminal. Bukan terminal. Itu apa? Bangunan apa itu? Itu rest area kau ini. Iya. Apalagi coba? Kosong. Ada itunya ya? Atap-atap ya? I ya kan rest area tuh lihat tuh seperti itu debunya. Siap ini gua 1 jam 17 menit 45 kilo. Nambah terus ya kilometer kita dari tadi. Waktu kita nambah terus loh. Oh iya benar. Kok jadi jam. Ya iya tadi kita jam 5an. Padahal kita jalannya juga enggak ini ya. Berhenti bentar doang. Tapi siang luang perabang itu di atas gunung ya apa di bawah? Luang perabang. gitu biasanya kalau kalau ibu kota zaman dulu ya, kerajaan zaman dulu itu di pinggir sungai enggak di atas gunung. benar. Rata-rata kota Tal di pinggir sungai kok. Iya, karena sungai adalah sumber kehidupan logistik, distribusi. Bentar. Heeh. Udah gitu juga makanan, minuman di situ juga ya. Buang air juga gampang di sana ya. Enggak gitu juga dong. Ramai. Bentar. Ini 335 kilo, Jon. Tapi setap 1 jam. 1 jam 2 menit. Ada apa sih itu di depan? Eh, iya. BTW tadi kita omong kan jamnya bertambah kan. Ini bertambah lagi jamnya 18.03. Padahal kita enggak berhenti loh. Enggak jangan terus kita dan jalan kita makin kencang. Ada apa itu? Kenapa 35 kilo? Kok saya jadi takut? 1 jam 2 menit kok saya jadi takut. Dan btw dia punya angka tuh warna oren loh. Ada ayam masjid katanya. C aman dong. Kapan jalan bagus nyaman? Kalau kita jalan sejam berapa kilo? Kalau kecepatannya kan kecepatan 60 berarti ini kecepatan cuma 34 kilo perjam. Iya. Mungkin ada satu stak yang Kayo ganti-gantian dan tiba-tiba tidak ada mobil lagi selain kita, truk juga dikit ya. Betul. Sudah mulai berkurang teng. Karena sudah mulai sore. Tapi kan di sini by the way ini sudah jam 5.00 sore. Semoga kita tiba benar-benar on time ya sebelum matai terbenam. Bukan di sini tuh jam masih terang ya. Baguslah. Semoga sampai sebelum gelap kita terang saja kena hantam lumbang apa kau gelap? Ya sudahlah. Ah ni mulai nih ada tanda-tanda Kita sudah meninggalkan area perbukitan dan masih area sawah. Papara papira. Ini banyak sawah ya? mereka makan nasi juga. E itu padi, Pak. Kayaknya gak mungkin kalau mereka tanam yang lain, Pak. Nih bentar bentar bentar. Ah. Aduh. Mana yang kita lewatin nih? T mana yang kita lewati nih? Mana yang lewatnya? akhirnya kami menemukan pemukiman di tepi Sungai Namkan. Melihat akses jalanan rumah penduduk di sini juga tidak bagus, sangat disayangkan sekali Gimana? Gimana enggak rusak ini jalan? Di tengahnya dibikin sungai. Oh, sungainya ngalir ke jalan ini ya? Rusaklah. Aspal kena air aja rusak. Ini dialirin air tiap hari. Iya. Dia enggak dibikin gorong-gorong. Goronggorong gorong gorong. Nah, itu lagi ada sungainya di depan itu. Sungainya udah cukup dalam itu, Pak. Ngalir dong. Iya, kan gua bilang apa? Enggak mau turun aja. Cuci ban sekalian. Enggak, gua takutnya dalam aja itu. Ah, ini tinggi loh. Iya, takutnya dalam saja. Ha, seru ya. Hm. Terus bawah gitu ya. Hei, langkah bisa engak gini ya? Mau pasang tinggal tambahin aja. Ada kamera yang gini ya? Nah. Ada. Hah. Petrolw. Sebenarnya ini tinggal 29 kil lagi, tapi 58 menit. H. Bensin masih ada setengah. Apa kita isi dulu? Mau cari aman boleh. Bensin lu berapa ya? Hampir 1/at. R-nya 164. Oh, kita setengah. Kurang dikit. Isi dikit kali ya. Isi berapa? Full tank kali. Oh, bukan dikit, full tank. Dan akhirnya kami menemukan pom bensin di sekitar sini. Jadi, kami memutuskan untuk isi bensin dan ke toilet agar di perjalanan selanjutnya kami enggak perlu mencari toilet lagi. Enggak nyampai 30 kilo lagi kita akan sampai sebenarnya, cuma enggak tahu kenapa ya, kok masih sejam. By the way, WC-nya si John itu enggak berani karena kotor sekali dan banyak yang ggak disiram. Cuman sebenarnya kalau menurut gua sama aja sih kayak kita ke WC-WC yang di pinggiran ee di Indonesia ya. Itu juga beberapa pom bensin juga WC-nya ya seperti itu. Bukan hal baru sebenarnya. Gimana ketawa dia? Ada surprise-nya mantap begitulah. Sena, Sena belum, Sena belum cek. Kamu harus ke WC-nya. Penuh kejutan. Wow. Ya, walau toiletnya tidak begitu bersih, mau enggak mau kami akan memakainya. Dan setelah ini kami harus melanjutkan perjalanan agar sampai di ruang perabang belum terlalu gelap. Gua udah paham kenapa lama. Kenapa lama sekali? Kenapa 19 kilo itu di tebuh dalam 39 km? Iya, karena depan kita ada kalkun. Btw itu Kalkun itu ayam mutiara namanya. Oh iya, ayam mutiara gua tahu yang bintik-bintik. Ada banyak di kebun binatang dan aku ketemu dia di tengah jalan laos. Eh, enggak ada kan dia? Eh, enggak. Oh, ya udah ya kalau kena lumayan aja manjata kita itu ayam mutiara lumayan. Heeh. Bukan buat dimakan tuh, buat hiasan biasanya. He. Dan terjawab sudah, Pak ya. Kenapa jaraknya sangat dekat tapi waktu lama ya, Pak ya? Iya. Nih nih. Ini nih jalan tiba-tiba bagus tapi biasanya tidak lama. Nah, terus kan lubangnya enggak kelihatan tuh. Tiba-tiba dalam tuh. Kalau kita tadi tidak melambat duar kayak polisi tidur tapi ke dalam bukan keluar melengkung ya. Oke, ini kayaknya yang banjir deh nih. Iya. Enggak sih kalau jalannya kayak gini apa kalau bukan banjir? Pokoknya dapat info dari warga lokal kalau arah menuju ke bordernya si Boten itu adalah daerah yang sering banjir, rutin malah ya. Cukup sering dan cukup ekstrem banjirnya. Uh. Oh iya. Sebelahnya sungai. Sungai Mekong. Kalau meluap selesai. Tuh. sampai rumah sampai berdebu begitu Iya, rumahnya penuh debu dan lumpur. Aku cuma kasih anak-anak sini main-mainnya. Ini kayak gua lewat Parung waktu zaman gua masih SMP. Parung. Oh, tahu Parung yang Bogor ya? Iya. Ini jalannya begini nih. Zaman tahun 2003 kali ya. Ini rumah yang khas Laos enggak sih? Iya betul. Cuma bawahnya tiba-tiba dikasih tembok. Harusnya enggak tembokan. Iya iya iya. Nah, itu tuh hotel yang kita nginp itu kalau rumah tradisionalnya kayak gini. Tapi ini versi yang belum dicat. Semprot kami, Kakak. Ayo, ayo, ayo. Nanti tebunya nih. Oh, enggak ya? Dia malah ke sanain. Iya, dia menghargai kau lah. Disemprot kelayi tadi. Ini apa di atas kita ya? Itu kereta cepat. Heeh. Oh, iya di kereta dong. Namanya KCLC. Apa tuh sih? Kata tuh kereta cepat laos Cina. Eh, seral. Dan tidak perlu waktu lama, sekitar 45 menit lagi kami akan sampai di Kota Luang, Prabang. Ya wajar 17 kil 35 menit ya. Lama bertambah lagi sekarang. Iya. Gua enggak tega sama mobil. Kasihan ya Allah sayangilah kaki dan pinggangmu. Ini mobil kalau bisa ngomong, "Bang, udah, Bang. Bang, gak usahlah kau jauh-jauh, Bang. Aku bukan mobil tambang, Bang. Aku rasa kan cerry yang ini yang kau beli ini dia akan terkaget-kaget. Kenapa yang beli itu Anda bilang? coba yang beli itu orang normal. Pergi bolak balik Jakarta Klaten. Okelah dia bilang ini dibawa sampai sini. Dia bilang tapi enggak. Nanti kalau dia balik ketemu tongkrongannya dia akan paling pamer. gua udah pernah ke Laos belum nih lu? Dan nanti kalau dia visit kampung halaman dia nanti di pabrik Cherry itu dia bakal jadi tongkrongan paling paling ganteng. Yoi. Weh. Lu pernah lihat aset we? Senggol dong Bang. Lu pernah ini belum? Ke Kundasang. Wei Tebedu. Tebedu tahu enggak? Tebedu. Tebedu. Kampung Jada Baik. G tahu belum? Kalau Janda Baik aku gak ikut. Lu pergi sendiri pergi kampung Jad Baik. Luang Prabang. Watertown Road Map. Watertown. Iya. Enggak tahu. Berarti sini banyak sungai kah? Enggak tahu. Ini kita lewat kiri disuruh Allahu akbar. Astagfirullahazim. Enggak di enggak kelihatan Enggak kelihatan loh. Ini yang kerekam kamera kawan-kawan. Yang gak kerekam lebih banyak dari Tuh ini kan. Ah masih lumayan nih. Soalnya dia tuh ketutup debu, enggak ada basah atau air. Jadi kelihatannya kayak lurus-lurus aja. Kayak jalan. Makanya aduh kasihan banget nih mobil. Semangat ya Celi ya. Kuat-kuat ya. 23. Wah nih anjingnya ngebully nih. Anjingnya kecil dibully. Mau turun ke depan tuh. kok kecil. Ah lihat depan kita keren sekali. Wow cahaya ilahi. Ini pemandangan gini tiba-tiba ada tebing gede. Tahu enggak kayak apa? Kayak kita habis dari perbatasan entong lurus jalan depan ada tebing. Wah. Oh iya ada ya karena memang perbatasan antara kalbar sama kucing itu dibentengi sama bukit yang besar itu. ini sama kayak Timol Leste sama NTT itu ada satu buah bukit panjang yang jadi pembatas. Oh gitu. Makanya mereka sebut kalau kau mau mencoba cicipi Darwin tapi di Indonesia mainlah ke Timol Leste. Darwin Darwin Australia. Konturnya mirip banget. Kontur tanahnya apa mirip banget. Padahal kita baru jalan 275,4 km. Iya. Pendek secara angka. Iya. Tapi kok lama sekali enggak nyampai-nyampai. Berat cara mental ini. Oke nih jalannya nih. Wait wait wait. Ingat banyak warga lokal ngebut, Pak. Hati-hati. Iya. Berarti kalau dia berani ngebut tempat jalan bagus. Iya kan? Ini kata warga lokal yang sangat menarik. Iya kan? Make sense loh. Banyak ngebut berarti aman. G sering-sering ngebut lah anak muda laos. Akhirnya kami sampai di luang perabang. Kami tidak sabar untuk sampai di hotel dan beristirahat. Kami juga akan mencari makan malam di sekitar hotel. Alhamdulillah sampai juga di Luang Praba. Sekarang gua mengerti apa? Mengapa lama sekali? Iya jalannya cuman ya ini kan jalannya emang enggak aspal ya batu ya. Cuma karena kita karena di batu enggak bisa ngebut juga jalan cuma 10 15 gitu ya. Ada lubang tuh enggak berasa lubang. Beda sama yang waktu kita tadi yang sampai harus turun buat nanjak itu tuh itu itu ngeri sekali. Iya. Itu levelnya berbeda. Itu pegunungan. Tiba-tiba hancur, tiba-tiba hancur. Uh, cantik. Tapi kota ini cukup hidup. Emang masa kotanya mati? Eh, kan ada beberapa kota yang kayak te kayak tewas situ saking jalan Ancelebo ini jalan lumayan bagus lah dan kurang berdebu. Walaupun aku selalu tadi di jalan berdebu ya, trak lalu-lalang debunya tebal-terbangan ada orang jual sate taruh tepi jalan. Iya. Makan debu. Makan debu. Tapi ini untuk sebuah kota jalannya gede banget loh ini. I jalannya bu durian 70.000 kip. Iya. Cuma gua kalau durinnya kita lewat enggak terlalu smelly gua ngerasa kayak ah ini pasti durennya kayak Thailand nih. Iya iya wanginya tidak nendang. Btw kita di Vin aku jarang ketemu orang jual lotre kan. Di sini banyak banget. Kenapa ya? Kiri kanan semua jual lotre. Ini kiri apa nih? Lotre lagi itu. Itu lotre enggak? Ini bulat apa nih? Mana yang benteng ini nih? Dipeta nih bulat nih. Oh ada ayam tuh. Enggak tahu apaan itu. Lihat deh dipeta nih bulat. Oh kayak park gitu ya taman. Oh state the luang prabang. Stade. Stade itu stadiun ya mungkin. Bahasa apa tuh? Eh ini kota. Ih, banyak nih. Semua pai gede. Iya. Ini kota kayak kota-kota di Kalimantan loh. Apagi. Iya. Jalannya tengah gede, kanan kirinya banyak toko. Iya. Ya, i ya. Kalimantan Barat banyak gini-gini. Singkawang begini, pinyo begini, pemakan begini. Betul. Betul. Mirip loh. Palangkaraya juga begini. Mirip ye. Cuma tidak bisa berdebu. Uh, sate. Uh, nonhalal kayaknya itu. Iya. Tenang, kan ada shvel. Iya, aku mulai lapar. Kita mendingan ke itu dulu, hotel dulu deh. Memastikan itu aman. 5 menit kan. Yoi. Ah, kehidupan. Aku senang. Aku tenang ada kehidupan. Orangnya banyak loh. Iya. Iya. Untuk negara dengan 7 juta penduduk ini banyak yang lalang nih. Iya. Setelah vienup ramai menurut aku. Tadi yang Fangeng masih Fangfeng sepi banyakan bule. Betul. Ini udah banyak penduduk lokal tapi banyak banget high. Berarti banyak. Even sampai high versi Cinanya juga ada. Satu karena murah, dua karena masih banyak turet travel kali. Itu tuh yang mereknya itu tuh tak kebaca macam Toyota. Tiga garis itu tiga garis. HS merek Cina tapi apa lupa gua namanya bisa lihat tuh dia punya trotoar gede. Tapi selalu diparkirin sama mobil. Yoi. Sudah biasa. Ini mana? Totoar bagus loh ini. Kayak ada nuansa Bandungnya, nuansa Malangnya. Orang-orangnya tuh lebih mirip Chinese, coy. Agak mirip Aura Manado. Semakin ke utara kan semakin Chinese. Iya. Ya, putih-putih gitu tuh. Oh, bagus luang perabangnya. Ya, I love luang perabang now. Eh, lu ruang perabang lebih oke loh dibanding Viantian ya. Kayaknya sih banyak hal bisa diekplore lah kalau punya waktu lebih ya. Iya. Kenapa sih kita enggak dikasih waktu buat explore ruang prabang? Tapi mungkin wajar yang bikinkan rute ini pun berpikir luang perabang tuh enggak ada apa-apa sebenarnya bagi dia toh. Oh iya betul. Enggak pernah muncul dalam kita punya list di otak kita tuh. Iya. Eh liburan ke mana, Bang? Perabang yuk. Wajar sih. Wajar wajar. Anak-anak di ke mana Fang Vieng? Kayaknya tidak ada dl kita itu ini menyenangkan loh. vibes-nya tuh vibes-nya Malang. Tahu enggak Malang? Sebelum kena macet. Sebelum kena macet. Tapi sudah sampai mana? Legend hotel. Kiri kiri. Bang Pala hotelmu kok cukup seram? Mana? Kiri ini bukan. Ini benar kali bos. Kanan apa kiri ini? Ini lagi kok agak Oh, tapi ini sih sesuai apa yang kita butuhkan. Parkir. Parkir. Oh iya. Kota wisata legenda. Dan inilah hotel tempat kami menginap di ruang perabang. Sudah tidak sabar untuk mandi dan beristirahat. Dan tentunya pada malam nanti kami akan keliling lagi untuk melihat ada apa saja di sekitar hotel. Hah, udah di hotel ya. By the way, ini hotelnya R00.000 semalam. Namanya apa sih, Pal, tadi, Pal? Legendang Legend. Luang Perabang Hotel. Nah, ini katanya dari pusat kota 5 menit ya. Sekarang kita mau jalan-jalan cari makan. Tapi so far hotelnya lucu. Desainnya nih. Karmalinya mau lihat nih. Bah tuh luas ya. Ada WC sama ada bidetnya. Oh mantap. Nah ini buat kita cuci muka ini. Kalau pagi sore bagus ya. Ini tanaman-tanamannya ada bunga pohon kamboja tuh ya. Ada restorannya juga. Cuma kita mau jalan-jalan. Jalan-jalanah. Let's go. Ye. Jalan lagi kan? Y. Toh Gas. Jadi di lubang perabang ini kita mau ke netket. Jalannya gelap-gelap. Dari informasi yang ada di internet, tidak jauh dari tempat kami menginap, hanya berjalan kaki 2 menit saja, ada berbagai macam makanan yang dijual di tempat tersebut. Jadi kami akan coba ke sana untuk mencari makan malam. Oh, keren keren. Dan di sebelahnya ini ada wat ada tempel. Eh, ini lebih bagus dibanding pasar malam yang kemarin kita ke sana. Iya, yang di Vienn. Viennien ini lebih hidup, lebih gede, lebih rapi. Dan warnanya tuh karena oren nyala jadi syahdu. Tuh nanas dan babi duren Rp300.000 enggak nyambung nanas, mangga, duren, ada seafood, ada babi. Kenapa bisa bercampur seperti itu? Aneh, kawan. Ihh, ramei loh. Sini aku suka loh. Muka orangnya beda ya. Beda kayak bukan di Laos kayak udah aku berasa udah di Cina pedalaman. Iya. Heeh. Lebih putih-putih. Iya, putih. Aku merasa punya banyak kawan sekarang. Mukanya tidak Asia. Eh, enggak, tidak Asia Tenggara. Iya. I ya. Kayak berbeda aja gitu. Macam Kek. Makan apa? Kita sedang mau miri, Pak. Gua mau cari yang aneh enggak? Di sini cari yang halal tuh susah banget, ya. Tapi at least minimal kita cari makan yang enggak ada, enggak bercampur. Jadi ayam-ayam to apa apa to sapi-sapi doang. Yang paling amat tuh buah dan rujak apa ada lau organik. Uh gede rumahnya. Ih wow sampai sana. Wih, bagus ya. Bagus. Aku suka. Yang bikin bagus tuh warna lampunya sih. Jadi bawahnya tuh syahdu gitu loh, kuning. Nah, itulah buat teman-teman yang mau bikin food court jangan pakai warna putih karena kelihatannya jadi kurang mahal. Harganya oke loh. Ah, berapaan harganya? Lumayan oke. Yang mana yang oke? ubinya Rp2.000 kit aja. ubi kayaknya kalau ke sana itu udah bukan makanan lagi sih. Baju-baju doang. Baju-baju doang. Nah, ini entar. Ayo, Pak. Nih barbecue Oh, ini barbecue-an ya. Oh, beda ya sama Vietnam ya? Vietnam tuh juga kursi kayak gitu tuh. Tapi di bawahnya ada ember ceper isinya sebatu sama bir. Oh, mereka tinggal ngambil dari bawah. Finally kita menemukan yang halal ya. 100% halal. Tadinya gua pikir gua mau cari yang penting ayam-ayam doang, sapi-sapi doang enggak nyampur ada apa segala macamnya. Ternyata ada yang halal. Oke, tuna with egg tuh sama omelet chicken. Egg roti aja. Egg roti ya. Eg banana roti surprisingly ternyata enak yaakal Jadi meskipun makanannya agak beda dengan yang lain ya ternyata enak. Mau ke mana? Soalnya John beli apa ini namanya? Coconut pancake. Ini kayak surabi betul. R.000 kit. Coba deh, Pal. Tadi gua udah nyoba ini. Surabi banget ini mah. Surabi kan? Surabi banget. Coconut pancake. Jadi kalau kita mau bikin surabi tapi ditaruh di hotel-hotel bilangnya coconut pancake bisa dijual Rp100.000. Benar lagi ya. Tapi ini kurang bumbunya tahu enggak? Saus surabinya enggak ada. Oh, sudaholo. Pakai gula. Enak sih, cuma ya itu kalau ditambahin bumbu. Waduh, mantap. Ini surabiinoto sumar. I kalau di Klaten ada saingannya. Surabi not DW. Beneran ini? Beneran. Kembali lagi ke hotel dan besok kita akan pagi sekali karena kita akan menempuh berapa kilometer? 290, Pak. 290 km berapa jam? 8 jam sampai 9 jam padahal cuma 290 km itu gimana jalannya? curiga kayak tadi sih jalannya sih. Tadi aja lebih jauh sebenarnya. Tadi engak nyampai 300 k 318, Pak. Udah kebantu tol malah. 3 kil. Udah kebantu tol. 7 jam. 7 jam. Tapi ada kabar bilang tadi kami nanya abang di depan aku bilang kondisi jalan dari sini ke boten c mana. Kalian tadi dari ventin kan? Iya. Nah kayak gitu. Oh aman. Kalau sama aman bilang. Udah mau tidur dulu ah. Ah, senang sekali bisa beristirahat hari ini. Besok kami harus melanjutkan perjalanan menuju Border Boten. Dari informasi yang kami dapat, jalan menuju ke sana juga hampir sama seperti ke Luang Prabang. Wah, harus siap-siap jalanan rusak lagi ya. Dan untuk teman-teman yang ingin membeli kaos official merchandise 1 million Journey bisa cek link yang ada di deskripsi atau pin yang ada di kolom komentar. Terima kasih telah menonton sampai jumpa di episode berikutnya. Perjalanan masih 8 jam kalau kita maul Google Map ya. Kita mulai bergerak di jam 09.30 pas dan kita makan with a few. Lihat tuh, keren Lihat bekas longsornya banyak banget. Rata-rata yang jalan rusak di sini itu bekas longsor. Kok ngapain? Beli takut kalau buling. Woi, kau tinggalin aku sendiri.

Lihat di YouTube