1M JOURNEY BORNEO 360: MASUK SABAH KE KOTA KINABALU! (YouTube Video)
[Musik] [Tepuk tangan] Hold you let me down Halo teman-teman semua, jumpa lagi di episode 1 million Journey kali ini Pada episode sebelumnya, kami puas sekali dengan berwisata keliling Bandar Seri Begawan di Brunei Darussalam. Kami senang karena tempat wisata yang kami kunjungi saling berdekatan satu sama lain. Dan pada episode kali ini, sayangnya kami harus keluar meninggalkan Brunei untuk melanjutkan perjalanan. Jadi tonton terus videonya. Oke, jadi sekarang jam .00 pagi. Jam .00 Pagi. Kita akan keluar dari Brunei ya. Kenapa gua minta pagi sebenarnya ke KK ya, Kota Kinabalu itu enggak sejauh itu. Enggak, enggak. Tapi kita harus melewati dua border. Satu kali dua. Karena ke Sabah itu lewat border lagi. Kan Malaysia, Pak. tetap ada border. Wah, even katanya orang sini ya, dia mau ke orang Malaysia mau kerja dari Sabah ke Sarawak itu bisa pakai visa katanya. Katanya gue juga enggak tahu kebenarannya. Ini patut kita coba nih. Kita patut kita buktikan, Pak. Makanya yuk kita dirangkat dulu yuk. Gas, gas, gas, gas. Let's go. Wah, ini dia. Patuhi papan tanda jalan. Berhati-hati di jalan raya. Betul. Nah, ini adalah jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Asia Tenggara. Mantap loh. Apa namanya? Jembatan jembatan Sultan Haji Omar Ali Saifuddin. Jembatan Sultan Haji Omar Ali Saifuddin adalah jembatan kabel pancang di Brunei. Jembatan ini terpanjang di Asia Tenggara sepanjang 30 km yang menghubungkan mengkuba dan sungai besar di daerah Brunei Muara dengan labu estet di daerah Temburong. Konstruksi jembatan dimulai pada tahun 2014 dan diharapkan selesai dan dibuka pada akhir 2019, tetapi akhirnya dibuka pada Maret 2020. Jembatan ini dibangun oleh Dain, perusahaan asal Korea Selatan dan China State Construction Engineering CSCEC, Badan Usaha Milik Negara asal Republik Rakyat Tiongkok. Proyek ini dilaporkan menelan biaya sebesar 1,6 miliar dolar brune atau sekitar 1,2 miliar US DO atau 17 triliun pada tahun 2018. Karena ini jembatan menghubungkan Brunei sama distrik Temburong, Pak. Namanya, Pak. Iya. Dulu itu mesti lawat Malaysia dulu. Hah? Seriusan? Iya. Jadi keluar dulu nih ke Malaysia dulu border baru masuk lagi ke Brunei. Karena ada satu bagian kecil itu itu ee jajan Inggris. Oh. Dihubungkan dengan jembatan ini. Heeh. Oke. Oke. Nanti kita nyampai jembatannya nih. Ini jembatan panjangnya 30 km. Mantap sekali. Dan di atas laut. Di atas laut. Di atas laut. Laut. Oh, ada tulisannya. Sebelah kanan sini itu Malaysia. Malaysia. Lucu ya. Praktis aja, Pak, ya? Iya, praktis aja yang penting warganya bisa lewat gitu. Keren sih. Alhamdulillah. Suramadu tuh berapa kilo ya? Suramadu cuma limaan, Pak. Ini 30 loh. 30 kilo panjang banget sampai ke sana tuh. Tu kelihatan lagi nih. Ada kaki-kaki jembatannya lagi nih. Dan ini menelan biaya berapa miliar, Pal? Tadi kalau dirupiahkan Rp triliun apa ya? Eh, 19 triliun. Gila enggak tuh? 19 triliun. Gua cek lagi nih. Ada perumahan di situ ya? Di pinggir sungai. Iya. Tuh, ini muara loh. Muah apa no? Itu bandar seringan, Pak. Oh, iya iya. Apa kilang minyak jangan-jangan mirip saranjana. Uh, saranjana lagi dibahas [Tertawa] saranjana. Nah, sama Mbzanjang mana, Pak? Tapi yang bas bukan jembatan sih ya. Bukan jembatan dong. Itu kan memang jalan layang. Jalan. Iya. I ini kan jembatan. Jembatan melewati bawahnya tuh. Wuh. Tuh lihat tuh. Keren banget ya. Muaranya segede gini. Muara pulau Kalimantan ini. Dan katanya di Brunei itu banyak buaya. Hah? Seriusan? Banyak. Jadi buaya itu enggak cuma di sungai. Heeh. Tapi di gorong-gorong yang nyambung ke sungai itu ada buaya juga. Benar, Pak. Lah kemarin kan gua ngobrol sama orang Indonesia di Brunei tuh ada ada enam orang. Heeh. Cerita begitu semua ramai. Iya. Cerita tentang valid berarti Paldi tuh Valdi banget buung-gurung begitu. Jembatannya juga jalannya halus ya. Halus, Pak. Aspalnya. Aspalnya bagus ini. Heeh. Aspalnya tuh agak putih gitu loh. Terang temburung kota batu. Jembatan, Boy. Ini Boy terpanjang Asia Tenggara. Ini cakep ya. Keren banget. Pas banget kita jam segini sunr masih kelihatan banget ini jam .00 di sini jam .00 jam .00 Jakarta. Tapi di sini lebih layak untuk Wita sebenarnya. Sebenarnya iya dibanding daerah kucing kemarin. Iya. Bingung tuh. Tiba-tiba berubah aja jadi Wita. Iya. Oh, ini ada exit Kota Batu Malang ya? Malang. Tapi nanti kita lihat Gunung Kinabalu. Betul. Itu katanya Gunung Batu, Pal. Batu, Pak. Betul. Beda sama gunung-gunung yang ada di Iya. Indonesia lah Indonesia gunungnya benar-benar batu dan itu satu-satunya gunung api yang aktif di pulau Borneo. Betul. Di sini ngomongnya Borneo. Bukan Borneo. Bukan Kalimantan. Borneo. Mau mencoba mendaki, Pak? Banyak loh, Pak. Orang-orang mendaki mendaki Kinabalu itu membutuhkan reservasi. Oh, gitu. Karena mendaki di sini itu jalurnya sudah disediakan. Betul. Semuanya sudah disediakan. Aman. Dan minimal 3 bulan karena iya. E antriannya panjang. Emang terkenal sih Kinabalu, Pak. Memang terkenal. Jadi benar-benar rock climbing. Iya, betul. Tapi semua alat-alatnya sudah standar safety. Iya. Masuk ee harness-nya untuk rapling-rapling. Jadi amat itu bagus banget katanya. Dia tertarik ya sebenarnya ya. Man cuma 3 bulan ya. Baru tahu gua kalau reservasinya selama itu. Iya. Hm. Reser dan biayanya RM1.000. R1.000 itu sekitar Rp3 juta. He Rp3 jutaan di6. Hm. Jadi enggak sembarang datang sret bisa langsung naik. Enggak bisa. Enggak boleh. Oh dilarang. Tapi main di kaki gunungnya boleh, Pak. Di kaki gunungnya tempat wisata biasa. Iya. Kayak kayak itu pos-pos si Maaksinya gitu paling. Heeh. Si Maxi. Heeh. Tuh ya. Wuh panjang banget ya. 30 kil. Baru kelihatan panjangnya pas di sini nih. Tu ada toilet portable di jalan itu mah. Tempat itu, Pak. Orang lagi ini dulu beresan. Nah, ini kita juga katanya beruntung. Jadi, menjelang hari kemerdekaan ya ee PNS itu enggak ada yang boleh keluar dari sini. Jadi bisa dipastikan yang keluarnya adalah swasta semua atau pegawai negeri swasta. Oke. Pusat, pusat perayanya di sana kemarin yang kita lewat itu berarti. Iya, benar. Yang dekat masjid istana itu. Mantap, Pak. Ini, Pak, pemenangannya, Pak. Ini keren banget ya. Masyaallah. Wah, aduh aduh aduh aduh. Untung kita pagi loh. Iye. Wah, gila tuh lihat dari depan keren banget tuh, Pal. Aduh, ada pulau-pulau kecil gitu ya, Teh. Pulaunya lebat. Iya, benar. Kayak cuman ya udah pulau aja gitu, enggak ada penghuninya. Iya. Airnya juga bersih, enggak ada tongkang batu bara ya. Wah, keren banget ya. Lihat dong itu. Itu gunung. Heeh. Bawahnya ada awan. Awan. Bawahnya langsung hijau, bawahnya lagi laut, Pak. Jadi tiga layer pemandangan kita nih. Langsung nih. Empat layer dong. Empat layer sama langit. Keren banget ya. Ah gila Indonesia kapan punya beginian ya? Ada. Jangan sembarangan gitu. Mentang-mentang baru pertama kali ke luar negeri. W keren gitu kan. Enggak. Tapi, tapi ini ya keren, Pak. Cuma gua enggak nyangka ya Brunei ya. Ee Brunei itu negara yang jarang kedengaran. Betul ya kan? Apalagi ngomongin pariwisata apalagi itu bingung kita sampai kita cari informasi ya udah googling sendiri di tempat. Iya. Dan ternyata Heeh. wisatawan di sini kebanyakan adalah orang-orang Korea Jepang. Korea banyak Cina ya. Kemarin di masjid banyak Korea. Orang ini ya. Orang Jepang. Heeh. Nah kemarin tuh waktu gua di Twitter ada bilang katanya ada orang yang wisatawan bule di masjid diusir. Oh. Terus kemarin perasaan banyak-banyak aja kagak ada yang diusir. Iya, biasa-biasa aja. Iya, dianya kali bermasalah kali ya. Apa kurang menghormati Babinang? Enggak. Biasa aja, Pak, ya. Kemarin ya. Biasa aja. Banyak banyak banget. Justru yang wisatawan yang muka-mukanya kita ini enggak ada orang Indonesia sama orang. Dan kebanyakan orang Indonesia jadi pekerja di sini. Betul. Betul. Heeh. Pekerja migran. Bahkan kemarin, Pak, saya lihat dua pasangan bule entah Eropa, entah Amerika, Pak, ya, lagi ngelukis ngelukis masjidnya. Saya lihatin dari jauh tuh. Wah, keren juga. Terus pas yang ke Masjid Sultan yang pas lagi ada acara itu, Iya. Itu juga datang juga beliau ngelukis lagi, Pak. Ah, keren banget ini. Duua tuh suami istri. Semalam semalam ke itu enggak ke pasar? Enggak, enggak gua enggak ke pasar. Gua aduh sayang banget itu ke pasar tuh. Pasarnya biasa sederhana tapi bersih. Jual apa aja? Enggak ada lalat sama sekali. Yang lu makan kemarin bruto itu loh. Oh, itu. Iya. Enak. Enak lagi, Pak. Brutu tapi brutu ayam. Iya. Menyenangkan loh Brunei loh. Gua kepikiran pengen ke sini lagi ya kapan-kapan. Ah, seru-seruan aja. Iya iya iya. Heeh. Kayak bangsa liburan 4 hari 5 hari. He. Cuma ya gitu. Kalau kalian tipikal yang masih ngerokok, masih minum, Bu. Nyari klub malam, enggak ada di sini. Enggak ada. Enggak ada. Bukan tempat yang tepat untuk dikunjungi. Kalau kalau masih nyari-nyari begitu. Iya. Tapi kalau nyari ketenangan, nyari adem ayam, Pak. Keindahan keindahan bahkan keindahan-keindahan alam suatu yang baru. Dapat. Penyeberangan melalui jembatan ini akan memakan waktu kurang lebih 30 menit. Tapi bagi kami yang pertama kali melewati jembatan terpanjang Asia Tenggara ini, rasanya kami bangga sekali. Nah, sekarang ini jembatan yang di bawahnya laut sudah selesai. Betul. Muara. Nah, ini adalah jembatan yang di bawahnya lahan gambut ya. Di daratan sebenarnya. Iya, kayak tempat di Indonesia kemarin. Oh, yang kita lewatin kemarin ya, yang arah Pangkalan Bun ya. Betul. Nah, ini persis nih kanan kirinya gambut ya. Gambut hutan. Ee tapi ini gambutnya lebat sekali ya. Iya, hutannya. Heeh. Heeh. Benar-benar bawahnya juga ya ini gambut nih hitungannya. Benar lebat banget, Pak. Mereka enggak kepikiran mau dijadikan sawit atau apa gitu? Ah, banyak, Pak, sawit banyak sawit. Enggak usah di sini bisa. Enggak usah di sini bisa. Iya, tanpa sawit juga udah kaya soalnya. Iya. Udahlah itu lahan gambutnya benar-benar padat banget loh. Rapat banget. Rapat. Rapet banget tuh sampai ke atas atas tuh. Lihat tuh kayak lama banget enggak diapa-apain gitu, Pak. padahal ini udah ada jembatan nih, tapi lama banget enggak diapa-apain gitu. Kayak mau lewat aja kita susah kali kalau jalan. Betul. Benar-benar susah. Rapat gua tanamannya tanaman yang lebat banget gitu. Ini benar-benar hutan Kalimantan ya. Tuh lihat tuh pohon-pohonnya segede gitu tuh. Iya. Tinggi-tinggi. Ini hutan dibelah untuk jalan. Tapi kanan kirinya enggak diapa-apain, Pak. Iya. Udah gitu aja. Udah gitu dibiarkan begitu saja. Nice. Keren. Keren. Masih del 6,7 kilo lagi ke Temburong. Jalan biasanya 6,7 kilo. Iya. Dan ini jalan baru loh tahun 2020 baru dibuka, baru diresmikan oleh Sultan. Heeh. Pembangunan dari tahun 2014 ya. I berarti membutuhkan waktu sekitar 6 tahun. 6 tahun. Enggak ada yang instan. Benar. Benar. Enggak ada yang instan, Pak. Tapi memang hasilnya bagus. Setelah 5 tahun jalannya masih bagus ya. Lihat sambungannya nih. Rasa enggak? Betul. Enggak. Pak tuh doang cuma suaranya doang kotok gitu. Udah enggak ada enggak ada gubrak gitunya enggak ada. Kalau dilihat dari kepala kita tuh enggak goyang-goyang tuh. Enggak goyang-goyang semuanya. Enggak begini-begini. Enggak begini-begini nih. Enggak kayak tol MBZ. Iya. Nah, sekarang kita udah sampai Jalan Labu. Labu? Labu Labu-Labu. Labu tuh ada tugunya ya di situ ya? Iya. Tugu apa itu? Oh sini tempat pemberhentian. Istirahat. Heeh. Aduh, rest area, Pak. Benar. Tapi tapi enggak ada yang jualan kok ada makam. Tapi di rest area itu. Ini mungkin lagi ziarah kali tuh. Nih nih pembukaan hutan ya. Normal-normal aja pembukan hutan segitu mah. Iya. Nah, inilah dia akhirnya udah nyampai jalan yang ada hutan-hutannya ya. Dan syahu banget sih. Kanan kirinya tinggi sekali ya. I jalannya juga bagus. Betul. Mau ada lagi Taman Rekreasi Hutan Bukit Patay. Patoy. Patoi. H Tutup masih Tahura tutup masih. Nah. Nah, ini jalannya. Oke, dia sebenarnya cuma dua jalur ya, tapi satu jalurnya itu ini lebar sama jarak dari pinggiran luar jalannya ke hutannya itu agak sedikit jauh dia. Jadi kalau nanti mau dibikin jadi dua jalur kayaknya gampang. Iya, benar, benar, benar. Tinggal nguruk lagi aja, Pak. Dan ini adalah satu kayak di Aceh nih. Oh, iya. Jalannya kan sama nih, dua jaur tapi lebar-lebar. Heeh. Sama kalau kita perhatiin ya, kanan kirinya itu ada parit besar. Iya. Jadi enggak tercipta genangan di jalan, tengah jalan. Akhirnya aspalnya jadi awet. Oh iya benar. Karena aliran airnya bagus. Oh, mulai kelihatan ada motor, Pak. Wah, ada pohon pisang nih, Pak. Mana? Bukan ya? Tadi tuh ada pisang tuh. Oh, iya benar pisang itu. Pisang. Heeh. Berarti di sini harusnya ada orang hutan. Mm. Enggak juga, Pak. Lah, kan ada pisang orang hutan enggak? Kagak makan pisang doang, Pak. Lengkap dia mah makannya banyak lah. Iya kan salah satunya pisang. Iya sih. Heeh. Nah itu pisang beneran. Pisang. Nah ada rumah-rumah ternyata di sini. Pemukiman. Pemukiman masih ya. Dan untuk kampungnya tuh atau bangunan tuh enggak di pinggir jalan persis. Dia masuk sedikit baru itu kampung. Ada sepadan jalannya dulu, Pak. Heeh. Jauh bahkan. Tidak jauh kami melewati jembatan Omar Ali Saifuddin, akhirnya kami memasuki border untuk keluar dari Brunei. Nah, lucunya untuk keluar dari Brunei tidak terlalu sulit seperti kita saat masuk ke wilayah negara ini. Tidak banyak proses yang harus kita ikuti untuk keluar dari negara ini. Tapi kami juga sedih sekali rasanya tidak bisa terlalu lama di negara ini. Karena walaupun negara ini tidak terlalu besar, tapi banyak hal menarik yang bisa kami explore di sini. Alhamdulillah kita sudah keluar dari bordernya Brunei. Betul. Ternyata dari jembatan enggak jauh ya. Enggak jauh. Cuman ya sekitar berapa kilo doang ya? Iya. Kayaknya panjangan jembatan ya malah. Enggak enggak enggak masih panjangan ini sih. Masih. Heeh. Sekarang kita masuk Malaysia. Malaysia lagi. Sabah berarti Pak ya? Iya. Oke, langsung berubah apa gitu ya? Malaysia. Malaysia lagi. Ini rasa-rasa Indonesia ini. Rasa-rasa Indonesia. Tapi memang kalau di border itu masuk ee lebih sulit dibanding keluar ya. Keluar langsung keluar. Heeh. Udah cek apa scan kalau di Brunei scan pakai aplikasi lagi sama menunjukin passpor udah selesai. Udah udah gitu doang pas keluar. Sekarang baru kita masuk Malaysia lagi. Iya. Wah, bagus. Tapi ini bagus, Pak. Adem, Mas. Ini dia tuh bangunannya bukan yang megah besar begitu ya. Bukan, bukan, Pak. Heeh. Bangunan sederhana-sederhana tapi bekerja dengan baik. Betul sekali. Nah, ini nih. Nah, kita ke mana nih? Bingung juga, Pak, saya. Kami harus melalui dua post border untuk memasuki negara Malaysia. Semua memang berjalan lancar. Tapi ada satu musibah yang menimpa kami. Alhamdulillah sudah lewat ya. Tapi kecewa karena ada insiden insiden. Jadi ya namanya juga di luar negeri ya. Tapi untungnya ya enggak banyak sih. Iya. Jadi tadi kan kita harusnya ngisi MDAC, Malaysia Departure of Rival Card ya kan. Nah, itu isinya online. Nah, gua kira udah ngisi sekali enggak perlu ngisi lagi. Betul ya kan? Tapi ternyata benar yang gua enggak masalah. Lu berdua yang masalah. Yap, sempat masalah. Iya. Pala sama ee Farhan itu dia mesti ngisi MDAC ulang. Gua enggak perlu. Hm. Nah, pas ngisi googling kan. Betul sekali, Pak. Karena dia enggak nyediain QR. Enggak nyediain. Heeh. Kita googling muncullah satu website keluar website sponsor di atasnya. Siap. MDAC, Malaysian Government. Tapi kita yang kita enggak ini di sebelah kanan bawahnya itu ada Verel app. H verel.appap. Nah, ngisi itu semua rival card seperti biasa kan. Siap. Terus dimainkan kartu kredit. Emang bayar ya? Tapi enggak ada harganya berapa? Enggak ada harganya juga. Heeh. Rata-rata masukin tuh dua kena transaksi. Harusnya gratis website-nya website resmi dari dgov.my harusnya. Iya. Jadi ini pelajaran buat kita eh semua ya. Double cek, double check ya. Eh rifel card itu gratis. Nah, itu ada oknum-oknum memanfaatkan ini buat orang googling dia pakai Google Ads. Iya. Apalagi kita ee bisa jadi dalam kondisi diburu-buru. Iya. Itu sangat memungkinkan kita untuk lengah. Dan kita sadarnya itu waktu kok yang dicas mahal banget dan pas kita cek di mutasi enggak di ini di internet ya. Heh. MDAC is free. Ternyata free. Dan emang itu ramai di travel Malaysia di Facebook. Aduh. Bahkan itu kenanya lebih gede dari kita. Bahkan banyak. Waduh. Dolar dua orang. Bayangin kan kita kena 2,1 ya. Heeh. 2,1. Sialan. Sialan. Itu itu entah masih bisa dikomplain apa enggak tuh ke Mandirinya. Iya. Semoga kartu kredit Mandiri lihat ya. Heeh. He ya. Jadi ee mau enggak mau enggak mau ke luar negeri harus ada gitu-gituan sih ya. I kartu-kartuan gitu. Tapi ya udahlah sudah bisa diblokir. Tadi udah pakai aplikasi udah diblokir blokir permanen langsung. Jadi harusnya enggak bisa dipakai lagi tuh scammer. Sialan. Hah kurang ajar. Kurang ajar. Aduh aduh aduh. Enggak enggak sudi gitu loh. Marah sih Pak ya. Cuman bingung. Iya ah. marahnya ke siapa? Kalau ada orangnya mungkin Heeh. Bingung nih. Kurang ajar juga yang bikin website gitu. Kenapa enggak enggak ini bukan bukan salah pemerintah Malaysia bukan ya? Tapi ada yang manfaatkan oknum-oknum dan itu bisa kejadian di setiap negara. Betul. Betul. Untungnya kita sudah tahu di sini buat pelajar nanti kita ke depan kalau keluar kanaran gede lagi ya. Mendingan tanya langsung petugasnya atau kita cari-cari tahu lebih cepat daripada googling. Iya. Karena petugasnya baik-baik kok. Baik-baik Pak. Heh. Kagak ada yang bermasalah. Heeh. Terus juga ngecap si karne juga gampang. Iya tadi ya kan ini juga gampang ya celnya malah di sini. Ya sudahlah ya sudahlah belum ikhlas sih sebenarnya ya karena kan walaupun bukan gua tetap aja pasti dirembers ke kantor kan. Iya ya masih bisa diusahakan lagah kita cari informasi-informasi lagi Pak mungkin masih bisa kena kali itu balik duitnya balik sih susah ya. Ini ini buat judul kena tipu di imigrasi Malaysia. Aduh, Pak. Aduh, sangat clickbait itu. Benar kan? Iya. Iya. Kan tempatnya menunjukkan kata tempat. Iya. Benar. Bukan, bukan ee bukan petugasnya. Iya, benar benar. Di di Iya, benar. Di imigrasi. Di imigrasi bukan oleh. Kalau oleh imigrasi itu baru baru itu mendelekan. Eh, 2,1 juta, Pak. Belin cilok banyak banget itu. Dua gerobak, Pak. 2,1, Pak. Aduh, emang kalau gini tuh banyak ceritanya ya. Aduh, kejadian aja ya. Ya udahlah, Pak. Udah. Yuk, yang penting kita sekarang sudah masuk. Heh, GK. Ini sekitar berapa lama lagi? 3 jam 43 menit lagi. 200 kil. 4 jam. Tapi nanti ada imigrasi lagi belum selesai. Hm. Let's go. Dalam menuju Kota Kinabalu, kami harus melewati satu pos imigrasi lagi, yaitu pos imigrasi Sabah. Untungnya di pos ini kami tidak dipersulit dan pemeriksaan berlangsung dengan cepat. Oke, kita baru melewati imigrasi lagi di Sarawak eh Sabah. Sabah ya. Tapi gua pengen lihat deh ini benar stempel stelnya bagimana stempelnya? Mana nih stempelnya? Malaysia Imigration Sindumin Sabah. W bener dong? Iya bener loh. Kita berhenti sini dulu nungguin beda ternyata ada ininya dia pakai ini lagi ya. Stempel lagi Pak. Stempel lagi. Terus tadi diperiksa sebentar habis itu jalan lagi. Enggak ya? Cuma ditanya melancong. Iya. Lewat. Iya. Ditanya pakai agen apa enggak? Enggak. Enggak. Kenapa ya? Kok dia sampai dua gate gitu, Pak? Enggak ngerti gua. Tapi tadi gimana jalannya? Ya udah cuman lurus-lurus aja. Belok. Oh, enggak enggak belok-belok ya? Enggak cuman ya masuk kayak border biasa terus pasport enggak? Sepanjang tadi kan gua tidur tuh. Heeh. Biasa jalanan. Iya. Tadi kita makan di Lawas ya. Di daerah Lawas. Heeh. Alhamdulillah udah kembali normal harga-harganya ya. Betul, Pak. Harga Malaysia. Malaysia tuh sama Indonesia enggak jauh beda sih. Dan beberapa ada yang lebih murah, ada beberapa lebih mahal. Betul. Tapi kalau Brunei itu emang kayak Singapura segitu harganya, Pak. Kecuali nasi kato. Nasi kato malam. Murah, Bapak tuh. Iya. Kok bisa murah itu ya? Cuman 1 dolar, Pak, ya. Iya. Kok untung dia, ya? Dari mana ngambil untungnya? Ya mungkin dari bensin kali. Sebenarnya semua mahal-mahal kecuali bensin aja. Iya. Ternyata Heeh. masih pembangunan jalannya kayaknya. Ee nanti mau dibikin dua kiri kanan ya. Dua dua jalan jalan. Yang kiri tuh baru tanah dikerasin. Iya betul. Yang kanan nih jalan biasa nih. Udah udah aspal. Heeh. Kayaknya nanti kalau misalkan udah jadi ini jalannya kiri kanan bisa jalan cepek nih. Oh iya Pak. Iya, kayak yang di kucing kemarin, Pak. Iya, itu keren banget tuh. Kucing sampai miring tuh. Wah, cakep tuh. Nah, ini masih nih. Masih pembangunan ini. Enggak apa-apa. Cuma gua penasaran nih, kenapa masuk Sabah itu mesti pakai imigrasi lagi. Even orang Malaysianya pun itu pasih paspor. Iya, itu agak-agagak bingung sih gua sih. Apakah ee perluasan otonomi daerah jadi negara serikat lagi apa bagaimana kita engak paham. Heeh. Tuh ininya jalan. Oh, yang sebelah kiri malah. Oh, ini Pal. Kenapa jalannya bagus tuh? Nah, tuh. Oh, i ini sungai sama lihat tuh pas masuk ke jalan lagi itu dalamnya tuh betonnya tebal. Segitu banget dalam gede banget, Pak. Tuh, setebal ini dia tuh betonnya tuh. Iya iya iya iya. Di perataannya itu. Oh, iya benar. Baru dia masuk ke aspal. Heeh. Heeh. Jadi bukan cuma sekedar drainasenya doang, tapi emang tebal dia ininya. Beton dasarnya dulu. Beton dasarnya tebal tuh. Dan batunya ini keras ya. Enggak bukan tanah ya. Heeh. Aspalnya juga aspal yang begini lagi nih Pak nih. Heeh. Yang rada putih lagi nih. Pasnya aspalnya entar awal-awal putih. Ah keren. Slow kan. Ah ini tiba-tiba dimasukin jalan offroad nih. Eh enggak deh. Itu kenapa dia? ambil jalan offroad. Enggak tahu ya, Pak. Oh, ada jalan ini. Oh, ke sebelah situ. Jalan apa namanya? Jalan kampung. Iya, iya iya. Tuh, makanya mereka offroad semua. Seharusnya kita jalur yang benar ya, karena kita ikut warlock depan. Iya. Ya, i ya. Enggak juga enggak enggak disuruh kiri kan. Iya sih. Nah, mereka kalau mau ke sana harus lewat jalan ini. Oh, ini mesti dibangun Pak, jalan sebelah kiri, Pak. Tapi kalau di sini mau bangun jalan besar tuh enak, Pal. Kenapa tuh? Karena kiri kanannya belum ada warung, belum ada apa-apa. Jadi enggak perlu busur. Iya kan? Iya benar. Jadi kayaknya enggak akak enggak gampang. Oh mau sertifikat ah gitu. Enggak bisa. Iya benar ya. Kalau gitu kan bebas karena tinggal digarap disertifikatin bisa. Iya benar. Tapi enggak ada jaminan sertifikat itu adalah menjadi milik lu. Iya iya iya. Bisa jadi tiba-tiba sertifikatnya dua gitu kan. Ah, itu dia permainan mafia tanah. Ada ketawa lag itu real. Itu itu bukti nyata, Pak. Heeh, itu real loh. Iya, benar. Eh, ini kita bawah ya? Bawah. Iya. Benar, benar, benar. Ini ini jalan baru ini kita jalan lama. Oh, iya. Nah, ini baru nih. Kalimantan style. Kalimantan style. Tapi juga enggak enggak dalam, Pal. Kagak, Pak. Normal ini mah. Biasa kita tungin ini juga tuh enggak bikin kaki-kaki encok ini. Heeh. Betah bentuk enggak? Enggak begitu enggak. Cuma debu aja paling ya. Untung kita pakai mobil, Pak. Oh iya kalau pakai motor udah hitam hidung. Untung kita naik kereta, Pak. Nah kereta. Enggak boleh mobil kereta. A iya. Perjalanan dari Sabah menuju Kota Kinabalu akan memakan waktu kurang lebih 3 jam dengan jarak tempuh 150 km. Namun ada hal menarik perhatian kami dalam perjalanan. Di perjalanan ini, kami banyak melihat proses pembangunan jalan yang sangat rapi dan uniknya tidak mengganggu perjalanan kami. Wah, ini jalan yang masih dibangun. Jadi sebenarnya sebelum ada jalan ini enggak lewat sini dong harusnya ya. Tapi Google Map udah ngarahin lewat sini nih, Pak nih. Hmm. Karena di jalan lamanya enggak ada loh. Jalan lamanya enggak ada kayaknya. benar-benar baru dibuka beberapa tahun terakhir ini. Iya. Dan masih banyak ee alat berat ya dari tadi ya gua lihat dan alat geraknya alat beratnya itu benar-benar jalan. Iya. Berfungsi artinya ini proyek masih berjalan bukan bukan proyek mati gitu loh. Masih masih. Iya ini kayak baru habis proses pengerasan nih yang ini nih. Iya kita salib aja lah. Enggak apa-apa belum ada markahnya ini. Yang penting jaga aja rekaman aja. Pala brutal Seno. Wah. Karena brutal di depan. Di depan baru jalan lagi tuh, Pak. Aman tuh. Yang lain sedan loh, Pak, di sini ya. Iya. Tapi meskipun jalannya lagi on progress ya, dia rata. Rata, Pak. Batu tapi rata gitu loh. Jadi kayak geledak gleduk geledak enggak? Heeh. Dan kanan kiri itu juga masih hutan ya. Betul. Hutan. K benar baru dibuka kali ya jalannya. Heeh. perkampungan itu enggak padat gitu maksudnya enggak enggak kalau di Kalimantan ya di Borneo masih Kalimantan di Indonesia tuh yang bagian Kalimantan berapa berapa kilo ada kampung lagi berapa kilo ada kampung lagi. Ini jauh jauh jauh banget jauh antar kampungnya itu jauh jadi emang hutan-hutannya masih banyak. Betul sekali. Ahah. Ini jalannya bagus lagi tuh. Lihat tuh ada Kobelco tuh. Ada lagi ngecor ya? Ya, tapi gua rasa beneran nih bakalan kayak kucing kemarin W. Kucing kemiri kemarin nyalanya begini. H tuh lihat bakalan panjang rapi gitu. Nah, lagi kan ya. Rata enggak yang gemelondangan? Enggak. Harusnya tol kalau masih dikerjain juga dikasih gini ya biar jalan. Iya ya. Fungsional. Fungsional ya. Bukanya juga cuma pas lebaran doang nih. Buka. Enak nih. Ini kalau beberapa tahun lagi kita datang kayaknya enak nih. Iya, udah rapi ya. Bisa kencang lagi di jalan. Karena ini grade-nya grade tol sih kalau dari lebarnya ya. Benar. Tadi panas kita keluar ee ini ya ke WC. Iya. Panas pol pol. Panasnya pol pol panas pol. Ini kita ke atas ya berarti. Oh ya. Ke atas. Mau lurus juga bisa kayaknya tuh. Aduhnya rusak hidup banget tuh. Apa ini? Jalan lamanya, Pak. Mungkin jalan kampung, Pak. Bisa jadi. Iya, ya. Tapi di map udah ada. Iya, udah ada 112 kilo. 2 jam 7 menit tuh, Pal. Iya. Sorry, Boy. Kita S boy ya. E gas. Sorry boy. Sorry boy. Gas. Pa. Brutalo. Ayo, kepala brut. Wah. Aduh, palut palutal. Ampun di mulus nih. Udah nih. Nah, cocok. Gas, gas. Ah, jangan gas-gas bang. 80 aja. Bentar. Ini ada apaan ya? Marcos Avenger kali, Pak. Wah, iya bulat doang. Iya. Enggak, Marcas Avenger dong. Oh, kereta api. Iya, ada jalur kereta. Heeh. Nah, ini kayaknya jembatan buat terowongan buat nanti kalau jalan gedenya jadi, dia akan ngolongin si kereta ini. Oke. Nah, dibikin dulu tunnelnya nih. I kan persiapannya langsung barengan gitu, Pak, ya. Tuh, langsung jalan tuh ke situ. Ini kebetulan jam 12. Jadi, lagi pada istirahatinya pada gerak tuh. Heeh. Benar, benar, benar, benar, benar. Wah, Langsung sepaket. Naik kan dia kan? Iya, naik. Betul. Nah, ini jalan lamanya nih kita yang naikin nih. Ini lagi Iya. Nih nih nih jalan lama nih. Kayaknya nanti masih ke sini lagi sih, Pal. Nyobain jalannya ya. Boleh Pak Ya mobil aja palah ya. Cocok cok. Hah? NWA mobil aja di sini Pak. Bawa aja enggak apa-apa. Waduh dekat dekat dekat dekat. Kirimnya pakai DL lu ke Pontianak. Oh iya bisa kan? Bisa. Nah nyobain jalan baru baru tuh. Oh udah mau jadi yang sebelah sana tuh malah. Iya. Jalan baru menuju Kota Kinabalu. Heeh. Dari Sarawa. Nah, di kiri-kira udah banyak sawit nih. Oke. Itu kayak teluh, Pak. Ya. Ya, tapi di sini gratis. Iya, iya. Iya. Enggak bayar kok enggak rugi ya mereka bikin sesuatu yang gratis buat rakyat gitu. Mau ya? Kenapa enggak diduitin aja sih? Heeh. Kan bisa nanti dijual. Aw. Akhirnya kami sampai di Kota Kinabalu. Karena perjalanan dari tadi lumayan menguras tenaga kami, kami memutuskan untuk makan siang di salah satu restoran yang cukup terkenal di sini. Nah, sekarang di Kota Kinabalu kita mau makan siang. Ini katanya pesaingnya KFC McDal. Pesaing langsung nih. Iya. Cuma ada di Kota Kinabalu. Iya. Oke. Namanya Borenos. Kalau begitu loh, Borneo dan Sabah. Jadi Borenos lah. Ke mana Anda itu? Tengah-tengah tengah-tengah. Parkir. Di sini enggak ada tukang parkir. Tapi nyari parkir agak PR. Wah, B cool B premium kok kayaknya menarik ini, Pal. Ini menarik, Pal. Apa ini, Pak? G premium ini dish. Wah, bahaya Pal. Burgernya hitam ya, tapi bukan gosong. Iya benarwa sih. Iya benar gua gak ngelawak loh. Lucu pokoknya lucunya di mana nih? Udah nih paling suara tapi ayam ya di gua burger juga double cheese Gua pikir ayam itu kayak ayam-ayam lile biasa tahu enggak? Ayamnya itu ayam goreng biasa p e ayam goreng kulit gitu. Jadi ada kulit kulitnya aneh pertama kali nyoba kayak gini rasanya belum pernah gua coba nih kayak gini. Nah, beda kan ayam gitu kan. Ini ayamnya ini ayam utuh ya, ayam goreng. Setelah makan siang, kami siap melanjutkan perjalanan. Tapi berhubung waktu sudah menunjukkan waktu 15.30, kami singgah di Masjid Bandaraya Kota Kinabalu untuk salat asar. Masjid Kota Kinabalu adalah sebuah masjid yang berada di Kota Kinabalu, Provinsi Sabah, Malaysia. Masjid ini awalnya direncanakan akan dibangun pada tahun 1989 dan pemasangan tiang pondasi dimulai pada tahun 1992. Namun, konstruksi pembangunan masjid ini tertunda sampai tahun 1993. Tetapi kemudian masjid ini secara resmi dibuka pada tanggal 2 Februari 2000 disusul pendirian Kota Kinabalu. Desain arsitektur dan kubah berwarna biru keemasan masjid ini didasarkan pada arsitektur Arab Masjid Nabawi. Tuh kan gua bilang apa? Apanya? Udah tahu kita kan pasti lewatin masjid pakai dalam panjang. Ini nih sarung udah kalem aja Pak. Tapi ya ini masjid ya. Apa tuh nuansa dalamnya tuh kayak masjid nabawi. Emang Pak saya belum pernah itunya banyak apa kubah di dalamnya tuh gitu-gitunya tuh mirip tuh. Sama karpetnya karpet raudo itu empuk banget Pak. Enggak motifnya. Oh motifnya. Motifnya motif Raudo. Oh motif Raudo begitu. Heeh. Persis. Empuk sih emang ya? Empuk Pak. Sama kipasnya gede-gede banget tadi. Oh iya kipasnya segede gaban. Nah sekarang kita mau ke Waterfront. Heeh. tempat sunset viewing orang-orang ini Kinabalu. Iya, tapi sini sunsetnya jam . Sejam lebih cepat. 2 jam lagi, Pak. Samset. Iya, katanya mending samsat aja, Pak. Itu di arahnya gas. Sungguh arsitektur yang sangat indah. Senang rasanya kami bisa singgah untuk salat di masjid ini. Namun karena kami sudah merencanakan untuk melanjutkan perjalanan, kami akan pergi menuju KK Waterfront untuk bersantai di sana. Nah, sekarang kita lagi ada di tempat buat ngelihat sunset. Sunsetnya ke mana, Pak? Ini waterfront, Pak. Nama tempatnya, Pak. Nama resminya Waterfront? Iya. Di sini ada spot I Love KK ya. Itu ada patung ikan marlin. Ah, ikan marlin. Apalagi? Dan ini tempat yang paling banyak ini ya, turisnya ya. Turis banyak, Pak. Dari kebanyakan turisnya Korea, Jepang, Cina. Itu ramai pada ke sini. Nanti banyak banget yang bisa kita kerjakan. Cuma besok kita akan ke tip of Borneo. Jadi ke ujungnya pulau Borneo, Kalimantan. Kalimantan. Iya. Seru enggak tuh? Orang Kalimantannya belum tentu pernah ke sana. Kita ke sana duluan, Pak. Kita ke sana. Tapi ya lu ke udah ke Jawa kan? Udah. Udah tinggal di Jawa kan? Tinggal di Jawa. Pernah enggak ke tip of Java? Nah, di mana tuh? Jadi, gua barusan riset kalau menurut ee lokasi lokasi lokasi yang kita cari tip of Java itu adanya di Bekasi. Hah? Ada pantai ujung apa gitu. Banget nih. Iya. Jadi di Bekasi. Nah, ini nih ujung utara Pulau Jawa itu adanya di sini di Bekasi ya. Heeh. E Muara Gembong Bekasi. Oh, bisa tuh. Nah, tapi kalau kita lihat peta sebenar yang paling ujung itu bukan di sini. Di sini dari Jepara naik dikit ke atas ya. Nah, ini ada suatu tempat namanya tes. Kreatif sekali orang full service. Nah, wow. bawahnya ada mancing. Nah, aduh mantap sekali yang fay atar lagi nih. I didn't get fish, instead I got trash katanya. Jadi kalau ke ujungnya Indonesia kan kita pernah nih ya kan Pulau Sabang ujungnya ini juga Sumatera juga pernah ini ya ada pantai Ujong Bate namanya kita sudah pernah. Nah, sekarang kita mau ke tip of Borneo dan kemarin kita ke tip of Sulawesi juga. Oh, iya. Tip of Sulawesi sudah pernah di Bitung Kimol. Betul. Betul. Jadi, masyaallah luar biasa, Pak. Anugerah malah Jawa yang belum kita pernah. Kita harus coba samperin, Pak. Iya. Ke titik tes itu, Pak. Iya. Jangan dong. Kita ke yang di Bekasi dulu. Aja. Di manakah ujung utara Pulau Jawa? Ah, boleh. Mari kita datangi. Boleh. Pas Bapak di Jakarta kita ke sana. Muara Gembong Bekasi dekat tuh gas. Sama yang menarik nih ya, Pal ya. Apa tuh? Biasanya di Waterfront gini itu kan gedung-gedungnya cantik-cantik tuh, modern ya kan emang public space. Heh. Nah, biasanya yang kapal-kapal tuh enggak boleh mampir. Nah, di sini kapal tradisionalnya masih boleh bersandar. Tuh, lihat. Iya. Nah, seru ya. Iya. Jadi pembangunan itu tidak menyisihkan orang-orang yang sebelumnya ada di sini. Betul sekali. Jadi nelayan dan kangka itu masih bisa cari makan dan sebenarnya bisa jadi daya tarik wisata juga. Iya kan? Bisa jadi kapal wisata juga nih Pak kalau mau mah sambil mancing kan mancing yuk. Ada yang nungging tuh Eko. Sayang sekali kami tidak bisa berlama-lama untuk melihat sunset di waterfront Kota Kinabalu. Karena setelah perjalanan seharian kami cukup lelah dan ingin beristirahat di hotel. Semalam hujannya deras, jadi mobil bersih sendiri ya. Wah, tapi masih ada nih sisanya nih karena enggak kena. Deras banget. Kacau parah, Pak. Hujan kayaknya hujan paling deras selama kita di sini ya. Ya. Heeh. Dan kita hari ini mau ke tip of Borneo, ujungnya Borneo. Sambil di jalan sebelah kiri banyak pantai yang seru-seru. Bisa kali makan-makan sarapan. Ayo ayo ayo aes. Hari berikutnya setelah kami sudah cukup beristirahat di Kota Kinabalu, kami melanjutkan perjalanan dan akan mengunjungi salah satu pantai yang bisa disebut juga sebagai Heidenjem di Provinsi Sabah. Ini pertama kalinya kita ketemu macet yang panjang sekali di Malaysia ya. Iya, betul. Iya. Iya, betul. Macet mulu, Pak. Macet dari tadi ya. Pantesan jaraknya enggak cuma 150 kilo, tapi 3 jam. Iya, betul. Karena dari tadi macet terus jalannya. Ketemu macet. Ketemu macet. Sebenarnya macetnya reasonable ya. Bukan karena enggak tertib ya. Betul, Pak. Bukan karena angkot ngetem. Bukan Pak. Bukan. Karena lagi pembangunan. Iya. Jalannya. Jalannya di tadi tuh kita lihat ada lagi pelebaran jalan. Pelebaran dulu. Pelebaran sana. Terus ada yang bikin tapal kuda. Tapal kuda, Pak. Heeh. Niru Jakarta gua rasa. Perbaikan ya. Itu ada perbaikan jalan juga pelebaran. Heeh. Jadi ya wajarlah. Tapi ya semacet-macetnya sini ya. Heeh. Enggak ada yang nyodok-nyodok, nyelap-nyelip. Engak ada. Enggak ada ya kan. Terus waktu jalan dua jalur tuh macet ya. Heeh. Ini kalau di tempat kita mah udah jadi empat jalur nih daripada selap-selip semua. S mana lebar lagi, Pak, jalanannya tadi. Iya. Dan sedikit banget yang namanya motor. Iya, motor. Iya, ini motor nih satu nih. Ya kan bisa dihitung dan tetap taat, Pak. Speed-nya juga itu aja. Ini ni motor nih. Udah. Ah. Ini mobil mobil lewat gitu ya. I. Heeh. Nih kayak ini nih. Ini lagi perbaikan jalan nih. Pasti nih. Tuh belum ada motor lewat lagi nih. Berapa mobil lewat tuh? Mobil 10 mobil sudah lebih kali. Iya belum ada motor lewat lagi nih. Tuh. Nah macetnya tuh karena lagi ada di perbaikan dan enggak ada yang nyodok-nyodok. Pak apa by way? Ah ni. Oh nambel-nambelin Pak. Nambal jalan bolong ya? Heeh. Nambal jalan bolong. Iyaudah itu doang langsung jalan lagi gitu dari tadi tuh begitu semua. Tapi pada taat. Pada taat enggak ada yang wah brutal kagak ada enggak ada loh. Enggak ada udah jalan aja. Jalan macet ya udah macet gitu. Kalau mau lancar ya ikutin trafficnya aja. Udah impor kali suir akot ke sini. Wah liar pak. Wah langsung pada nyontoh. Seru kali. Awas tuh perlahan kendaraan. Kawasan kerbau. Kerbau melintas boy. Mana ini? Apaan nih? Rame banget. Iya ramai banget. Ada pemakaman. Oh iya kali Pak ada pemakaman, ada yang meninggal. Saya kira tadi bakalan ada tukang gemblong gue jujur lewat yahcak adem. Enggak ada yang jualan gitu ya. Lewat kacang. Kacang kacang. Tahu sumedang. Tahu sumedang. Heeh. Le mineral le mineral orang Jawa. Iya benar benar loh. Orang Padang da mineral d. Nah beda merek lagi jadinya tuh. Aduh kocak kocak. Tapi kerbau melintas, Pak. Iya, banyak kerbau. Oh, sama kayak waktu kita di Aceh. Iya. Itu tulisannya hati-hati sapi melintas, perlintasan sapi gitu ya. Heeh. Kambing. Kambing. Iya kan? Kambing nyebrang-nyebrang aja enggak ini. Tapi kalau anjing ya di Brunei anjingnya gede-gede, sehat-sehat loh. Gemuk-gemuk, Pak. Iya. Enggak tahu makannya dikasih makan apa itu. Iya. Gemuk terus santui gitu. Enggak ada yang gimana-gimana enggak. Banyak anjingnya liar ternyata. Banyak di Brnya. Banyak anjing yang liar. Anjingnya jinak. Jadi, iya, gua enggak, dia tuh enggak ngintilin orang. Enggak, enggak ngintilin. Heeh. Ya udah ketemu, ya. Udah gitu doang. Udah, bodo amat. Iya, udah kenyang gua begitu. Paling mikirnya siapa ya? Gua masa tiba-tiba anjing nged dekat. Waduh, waduh, waduh, waduh, waduh. Kalau di Brunei itu ada anjing enggak? Ya udah, enggak takut sama sekali. Wih, padahal gede gitu ya lagi. Eh, kondangan kali. Apa nih yang ini. Nah, ini enggak tahu apaan ini. Kampung. Kampung Tapi begini, Pak. Keren. Apa sih? Keren juga kampung gua. Iya, benar juga sih. Ada gua soalnya. Ya elah, masuk masuk. Iya dah. Perjalanan ke pantai Hiiden Jem ini akan memakan waktu kurang lebih 3 jam dengan jarak tempuh kurang lebih 150 km. Jadi sebelum kami berlama-lama di perjalanan, kami singgah ke salah satu mall di Kota Kinabalu untuk makan siang. Jadi kita mampir dulu ke kota apa namanya? Marudu. Marudu. Ya, di sini ada mall, tapi mallnya tuh kayak seni outdoor gitu loh. Ruk-rokonnya di luar gitu. Kayak kalau di Klaten apa ya? Kota kayak kota baru. Hmm. Kalau di Klaten. Tapi ini bedanya tuh sebelah ada supermarket. Supermarket gede banget nih. Heeh. Sini ada tempat makan. Sampai ke depan tuh ada tempat makan. Dari kemarin kita ngelihat ada namanya Uncle Bob. Hmm. Kata pasti pesan dia itu kayak semacam sihlin. Iya. Tapi enggak pakai bumbu. Betul. Enak. Oh, Bapak enggak pakai bumbu ya. Saya saya ada bumbunya apa? Kayak pedas-pedas gitu, Pak. Oh, beda beda beda. Mau ya? Enggak tahu gua kayak gini tuh. Tapi enggak tapi enggak pakai bumbu original gini. Enak juga ternyata. Enak, Pak. Cuma panas banget. Biasa begitu mah. Nih kayak gini nih bentuknya beda sama siin tapi pas dimakan enak ternyata. Ayamnya juga tebal. Heeh. Ini bisa pakai saus nih. Rijal minta saus ada-ada aja. Hm. Recommended. Tapi buat makan siang tambah nasi tuh. Hmm. Cuma ini kayaknya stot kecil gitu, Pak. Heeh. Jadi yang pakai nasi itu lagi enggak ada tadi habis. Oh gitu. H Uncle Bob ada di mana-mana sih? Oh banyak, Pak. Di Malay sama kayak Borenos. Ah, Uncle Bob ada di Indonesia? Di Indonesia enggak? Di sini Malaysia. Oh, iya Indonesia ada enggak? Enggak tahu dah. Belum pernah lihat, Pak. Di tahun 2002 nih. Yang enggak ketemu tuh Rocke Chicken. Iya, Chicken. Rocket Chicken terakhir ketemu di Singkawang sama kemarin. Habade Bonti anak tuh samau lagi tuh yang rame apa? Rocke Chicken. Satu lagi. Waduh. Sonic. Sonic. Sonic Chicken. Sonic Chicken banyak di mana-mana tuh. Cukup menarik untuk menikmati makanan-makanan hits yang ada di Malaysia karena kami tidak akan menemukannya di Indonesia saat nanti kami pulang. Setelah makan siang ini, kami melanjutkan perjalanan dan sampailah di pantai Tindaondazang, sebuah pantai Hadenjem yang ada di Provinsi Sabah, Malaysia. Masuk nih. Masuk begini. Tindakan beach. Bener sih. Benar sih, Pak. Jelas. Tapi jalannya ini mah jalan sawit bukan. Yaah. Udah ada pelangnya mah resmi berarti Pak bukan Pak. Enggak ada retribusi ya? Kok enggak ada ya? Aneh ya? Kenapa? Aneh sekali. Masa Rp10.000 tuh Pak biasanya. Wah mahal banget RM10.000. Wajah itu bisa beli ini mobil enggak? Pasti Rp10.000, Pak. Berarti berapa tuh? RM3 harusnya bisa tuh. Kayaknya emang bukan tempat wisata ini lah. Terus ya cuma pantai aja. Pantai harus tempat wisata kan? Enggak. Ya tapi kan orang berkunjung Pak, ada orang ke sana. Iya. Kalau berkunjung, kalau enggak. Tapi enggak ada perangnya. Wih. Wah. Eh, sawit semua ya? Iya. Ini pada jatuh ini buahnya. Oh iya, buahnya pada jatuh enggak ada yang ngambil. Bawa pulang kali bisa dimakan enggak sih sawit? Ah enggak, Pak. Kayaknya no dari mana? Enggak. Enggak. Enggak mau. Saya cobalah. Yah. Cobalah. Saya suruh nyoba. Ada rumah di dalam. Nah, ini masuk ke apa nih? Oh, bukan ya. Kita ke kanan ya. Kan biasnya ngajukan. Iya. Ke kanan ini. Kanan kanan digonggong lu anjingnya. Galak-galak di sini. Enggak ada ini ya rumah walet dari tadi ya? Enggak ada, Pak. Berisik kali, Pak. Berisik. Tuh lihat tuh ada sawah. Oh iya padi dong. Padi di sini. Kenapa ada itu ya? Apa? Oh biar enggak dimakan burung. Iya biar takut. Jadi kalau digerakin itunya Pak. Iya banyak sawah. Iya loh. Ini waktunya panen nih. Udah kuning banget ya? Udah kuning sama apa? Berunduk. Udah. Tapi sawahnya kecil-kecil banget ya. Paling saw buat hidup sendiri kali. Tuh kagak buat dijual kan gitu ya. Heeh. Di sini sawitnya, tapi kanan kirinya lebat ya. Iya. Tetap ada tanaman, Pak. Iya. Oh, ada pelangnya tuh. Tidak kondangan. Memang yang namanya pantai yang indah itu pasti membutuhkan effort yang cukup tinggi untuk menikmatinya. Begitu pula pantai ini. Akses yang kami lewati harus melalui perkebunan sawit yang cukup lebat. Wah, keren banget, Pak. Ini dia. Hidden beats gitu namanya kalau di Indonesia. Hidden jem. Hidden jem. Hidden jam. Wah, ada orang juga, Pak. Iya. Wah, kacau nih. Mah. Enak banget ini. Keren. Oh, airnya bening juga. Bagus. Ada batu-batuan. Nih apa nih? Penginapan apa warung nih? Enggak tahu. Sepi, bersih, dan sejuk adalah hal yang menggambarkan pantai ini. Jarang sekali kami menemukan pantai dalam perjalanan kami. Rasanya ingin berlama-lama bermain di sini. Sungguh indah sekali. Katanya di sini ada buaya ya dan ada yang mancing juga. Kita ingin mencari buaya. Ada buaya di Hah? Kelihatan kak. Mana? Mana buaynya? Nah, ini nih buayanya nih. Mancing gas mancing. Berarti di sini harus memberikan satu kesempatan buat Farhan dong. Apa? Mancing katanya dia itu dari tadi gak ada yang enggak ada yang dapat mancing-mancing buaya. Heeh. Nah, nih dia pantainya nih. Yuk. Bagus kok ada pantai sepi ya? Padahal cuma dari kota itu cuma 3 jam. Huh. Lihat tuh pasirnya kita injak dia tenggelam. Cus. Lembut banget. bening. Anginnya kencang ya? Iya. Enggak ada angin tapi ombaknya kencang. Aduh, segar banget. Ya Allah. Tapi tenang aja, ini bukan pantai yang pertama. Nanti akan ada pantai lagi. Yuk, let's go. Gua penasaran sih buaya dari kemarin enggak ketemu. Sudah berpuas kami melihat pemenanggan di sini. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Tip of Borneo. Kami sangat tidak sabar untuk melihat secara langsung ujung dari pulau Borneo. Nah, ini tadi kan karena gua kempesin ya. Ya, dia punya namanya TPMS pressure monitoring system. Heeh. Kelihatan nih yang depan tuh 196 sama 198. Siap. Kalau diconvert sekitar 38 lah ya. 28 eh 28 sor 28 sama 29 lah. 29 sebenarnya enggak enggak rendah-rendah banget enggak. Iya, tapi kalau buat jalan-jalan begini itu bagus. Amannya dikempesin, Pak. Ya, dikempesin bahkan bisa sampai 15. Oh, kalau yang offroad-offroad gitu kan. Nah, tapi kalau misalkan kita bawa jalan agak kencang ya sebaiknya dinormalin lagi, diisi lagi anginnya. Heeh. Kenapa? Kalau enggak diisi nanti ee tire wall-nya kena. Oh. Dinding-dinding bannya itu kena. I karena ban itu kan sebenarnya yang bikin kuat itu campuran ininya loh besi. I ee kawatnya. Iya betul sama si benang. Betul sekali. Jadi kalau misalkan kawat itu dia kita pakai kencang dalam keadaan kempes yang tadinya harusnya begini dia jadi bengkok. Oh iya benar. Nah bayangin kalau dia bengkok-bengkok begini terus kan pas lagi jalan ya lama-lama putus tuh rusak Pak ya. Rusaklah. Sudah. Nah kalau ban benjol Pak ban benjol itu biasanya putus. Udah putus. Itu putus di dalam. Oh, gitu. Kena puncer biasanya di hajar lubang deng. Oh, putus dia putus putus mendadak gitu. Benjol dia. Nah, itu tinggal nunggu meledaknya aja. Karena kalau karet doang enggak ada besinya itu enggak ada kekuatan i-enduluan doang. Dalam perjalanan menuju tip of Borneo, untuk menjaga tekanan angin ban dengan aman, kami berhenti sebentar untuk mengisi angin ban yang ada di Duo Tigo. Untungnya kami membawa pompa angin dari mesin HL dalam setiap perjalanan dibuang makan 35 aja, Pak, ya. Enggak perlu pakai cairannya, pakai itunya aja. Nah, ternyata bisa dilihat dari sini juga ya. Jadi setelah 235 KPA kita stop dari sebelah sana sekarang nih. 235 kpa kita stop kilal. Jadi gitu Pak kepakai kan alatnya kan kepakai. Iya. Jadi buat naikin tekanan ban juga. Betul. Dan kalau ada kebocoran tinggal dipasang aja tabungnya. Iya benar. Di kompresornya juga bisa berfungsi dengan baik walau tanpa tabung, Pak. Ya. Iya, itu dia. Jadi enggak perlu pakai tabung pun juga bisa gitu loh. Mungkin orang pikiran, "Ah, gua enggak perlu lah udah pada ban serep." Harus siapsiaga apapun itu kondisinya, Pak. Iya, betul. Soalnya ban serap juga enggak ada kompresornya kan. Itu dia. Nah, jadi daripada beli kompresor doang, mendingan langsung yang sekaligus gitu. He. Jadi bisa berfungsi kapanpun kita butuhkan. Dan kemarin gua juga gitu sih. Yang mana tuh waktu ada mobil kan. Heeh. Kantor. Kantor kempes. Gua kasih gituan aja ya. Langsung ini, Pak, ya? Langsung bisa jalan lagi, Pak. Ya, malas pasang ban serp. Bukan pasang ban sererepnya lumayan ya. Langsung aja diisi aja begitu. Iya. Iya. Udah gitu kan ban serap zaman sekarang tuh space saver ya. Ya, jadi bayangnya kita lagi bawa banyak barang begini ya turuninnya. Udah kita tukar nih sama ban space saver. Heeh. Masukinnya lagi gimana? Orang barang kita banyak. Oh iya. Taruh taruh tempat space juga enggak bisa. Benar ya kan? Jadi 2 PR tuh. Iya benar. Belum dongkrak-dongkrak capek Pak. Iya belum dongkrak-dongkrak ya. He berasa tuh. K mendingan pakai itu mesin AL. Mesin AL yang tadi. Efisien banget. Efisien. Gampang. Gampang banget makainya juga. Aduh, enggak bikin stres, enggak bikin marah-marah. Bentar lagi kan cuma gitu doang naik lagi langsung kebaca di TPMS juga ya. Iya. Gua baru tahu sih gua pikir tapi ini ternyata dia tuh enggak real time. Jadi dia naik setiap berapa menit? Semenit tek naik tek naik. Jadi jumping dia enggak 1 2 3 4 nambah gitu enggak? Wajar kalau enggak gitu nanti itu baterainya cepat habis baterai TPMS ya. Iya kan dia TPMS itu pakai baterai di dalam si bannya itu. Oh. Dan tiap berapa tahun dia mesti ganti. Oh gitu. Iya. Kebaca di head unit ya. Eh speedometer. Nah terus kalau mobilnya berhenti, he dia mati sensor TPMS-nya. Hm. Makanya sensor TPMS itu harus dibawa jalan dulu posisinya lah dibikin goyang dulu baru dia hidup. Oh baru baru kebaca juga ya. Baru kebaca gitu ceritanya, Pak. Terus ada lagi sensor TPMS yang enggak bisa ngecek berapa tuh. Hah? Angkanya. Eh, gimana itu? Karena dia enggak punya sensor di bannya. Oh, dia sensornya ada di speed sensor. Jadi sensor ABS kalau orang-orang bilang ya. Heeh. He. Jadi sensor putaran ban. Jadi kalau satu ban ada yang kempes. Heeh. Enggak kebaca. Nah, itu kan dia putarannya lebih banyak. Oh, iya benar. Oh, kebacanya di situ. Iya. Jadi kok ini satu ban lebih ee satu ban lebih kencang ya kata komputernya ya. He. Kenapa nih muternya lebih banyak gitu? Yang lain yang lainnya jalan 100, dia jalan 102 pasti dikempes karena diameternya jadi lebih kecil. Iya. I ya i. Oh begitu. Ada yang begitu modelnya? Ada yang begitu baru tahu gua. Nah tapi itu kelemari dia enggak bisa ngecek berapa itu tekanan bannya. Oh ya. Cuma tahu kempes apa enggak. Ada anomali buat ngecek. sama dia enggak perlu ganti baterai. Oh, karena karena memang berdasarkan putaran sama gesekan aja, Pak, itu. Iya. Dan itu jauh lebih murah. Oke. Karena dia cuma memanfaatkan ee yang ada nih mobil kalau udah ada electronic stability control, heh. Ada ABS itu biasanya setiap roda itu ada sensor speed. Oke. Nah, itulah juga yang kadang-kadang itu mobil kalau udah tua ya, sensor speed-nya rusak, logo ABS-nya nyala. Oh, iya benar. Padahal bukan modul ABS-nya, tapi sensor speed-nya biasanya kena. Mod. Oke, gitu. Terus juga sensor ABS itu sebenarnya murah. Heeh. Tapi ada beberapa mobil Heeh. yang jadi mahal karena harus ganti ganti sama Wheel hub-nya. Woh, satu set sama sama segelondong gitu loh. Sama ada baut-baut buat rodanya. Karena dia ada nempel di situ. Kalau sensornya doang mah enggak mahal ya. Sensornya doang enggak mahal. Gua ganti dulu buat Santafe itu enggak nyampai Rp200.000 sensornya doang tuh di bengkel resmi dan itu zaman dulu banget. Heeh. Tapi buat Hyundai Gats Rp2.500 salah satu bonggol. Satu bonggol satu set gitu ya bisa ya. Aneh kan masa Santafe sama Hyundai GS mahalan Hyundai Gates. Nah karena Hyundai Gates satu bonggol. Oke. Tapi lebih efektif TPMS yang begini Pak ya? Ee lebih akurat. Lebih akurat karena ada angkanya. Oke. Uh. Ya. Ini juga enggak mahal kok. sekarang. Dulu kalau enggak salah di atas sejuta, sekarang under sejuta juga udah dapat. Itu bisa buat mobil apa aja, Pak? Bisa asalkan mau pasang aja. Dan saran gua beli TPMS itu yang di dalam, bukan di luar. Kan ada TPMS yang di pentil tuh. Pentilnya jadi gede. Iya. Nah, itu bisa diambil orang. Oh, iya benar. Heeh. Mending kan yang pakai sensor taruh sini juga ya? Enggak, maksudnya sensornya itu di dalam pentil. Oh, di dalam pentil. Heeh. Cuma kalau Oh, di dalam ban mendingan namanya ya? Iya. Cuma kalau kita ganti ini ganti peleg. Heeh. Ya, itu mesti ganti pentilnya aja sih yang ada TPMS-nya. Dipasang lagi di pelek baru. Iya. Enggak mahal kok. Paling satunya Rp100.000-an ya. Tapi tergantung juga jenisnya apa. Iya. I ya. Ya. Ya. Tidak jauh dari pantai Tinda Kondazang, kami hanya membutuhkan waktu kurang lebih sekitar 50 menit dengan jarak kurang lebih 35 km. untuk sampai di tip of Borneo. Wah, kami sangat tidak sabar untuk sampai ke sana. Bagus banget ya. Aduh. Dan perhatiin Pal, dari ujung keujung nih pantai semua. Iya. Enggak ada orang. Bener Pak. Enggak ada orang. Tiketingk enggak ada nih. Bikin retribusi juga rugi. Enggak ada yang lewat. Ini hari Minggu loh. Oh iya ya. Hari Minggu apa Senin? Sabtu Minggu. Sabtu. Sabtu Pak. Sabtu enggak ada orang tuh pantanya sebersih itu. Sebagus itu. Ya Allah enggak ada orang. Bersih, Pak sampah. Ya udahlah satu dua. Tapi dikit banget Pak. Dan ini kita ke apa nih? Apa nih? nih? Sabah Maju Jaya. Oh ini proyek-proyek. Oh ini ada tempat penginapan nih Pal. Iya banyak Pak. Tuh. Waduh, bahaya benar. Keren banget. Tuh, ada warung Borneotip Beach Lodge tuh. Waduh. Eh, bagus loh. Oh, tunggunya udah kelihatan ya? Bukan ya? Di atas itu. Itu yang rusak. Tapi yang sini bagus nih. Wah. Eh, polisi dulu. Sorry, akhirnya ada orang. Ada yang jalan-jalan juga. Heeh. Wah, di ujung utaranya Pulau Kalimantan nih. Ada masjid juga. Surau, surau. Surau. Oh, salat lemari. Iya. Wah, tutup tadi. Ah, ini kita arah tip of Borneo. Naik dikit dia. Wah, naik nih. Licin lagi nih. Naik dikit ya. Wih, ini apa sebelah kiri? Penginapan lagi. Lagi, Pak. Penginapannya rapi ya? Rapi, Pak. Rapi. Waduh. Ditata gitu loh. Welcome to TS. Kayaknya ke sana tuh enggak bisa naik mobil deh. Masih jalan kaki. Ya, kita lihat dulu, Bang. Sejauh mana mobil bisa capai. Ah. Nah, ini baru ini. Langsung aja langsung bocah itu mah. Hah? Anak bocah. Bocah apa? Notice waktu operasi sementara sampai jam 8.00 malam. Oh, loh. Ini kayak private property deh. Oh, banyak nih orang. Banyak Pak. Ih ada turouring motor juga masuk sini Pak. Wah, iya benar. Ah, keren keren keren keren keren. Wah, tertata ya ini kayaknya kemarin deh ada GS. Oh iya, benar benar benar benar yang papasan ya. Iya. Oh difender nih. Iya di sini banyak. Wah nyampai juga kemarin di Brunei defender berserak banyak bener de kayak Avanza. Tapi ya kita naik Cherry naik Cherry Pak yang punya Land Rover. Boleh sombong sedikitlah. Boleh sombong sedikitlah. Yuk, kita turun yuk. Oke. The tip of Borneo atau dalam bahasa Melayu adalah Tanjung simpang Mengayau. Tanjung ini terletak di titik paling utara Pulau Kalimantan yang terletak di Sabah, Malaysia. Tanjung ini merupakan pertemuan antara Laut Cina Selatan dan laut Sulu. Sejarah nama Tanjung Simpang Mengayau berasal dari bahasa Rungus dan merujuk pada pertempuran yang terjadi di sana. Keindahan Tanjung ini memang sangat menarik menjadikannya sebagai destinasi wisata yang sangat diminati. Ini sayangnya hujan gerimis ya. Ya. Tapi enggak apa-apa. Aman. Aman, Pak. Maksudnya kalau buat nge-drone aja sih yang enggak kurang sih. Ah, dikit-dikitlah. Pal. Ini Pak, sebelum kita ke sana, kita lihat sini dulu nih. Keren banget nih. Apa pantai-pantainya, yoi. Uh, jernih. Keren ya. Ini kalau enggak hujan nge-drone nih. Bagus banget ya. Bisa kali, Pak, ng-edrone hujan gini doang. Mah, jangan deh. Resiko ya. Lu ganti ya. Eh, sampai juga dia. Tipis-pipis dulu, Pak. Oke, kita nyampai di The Tip of Borneo ujungnya Pulau Kalimantan. Ini sebuah pencapaian luar biasa. Tapi ini belum ujungnya, Bal. Oh, belum ujungnya. Ya, ke sana lagi turun. Ini baru ada monumennya. Oh, ini monumennya. Dan ternyata ini enggak jauh dari Jakarta loh. Enggak jauh, Pak. Cuma 1800 kilo aja. Ih, dekat banget. Aja. Udah kita tinggal bikin konten nih. Apa tuh? tempat seindah ini cuma bisa kalian datangin enggak jauh dari Jakartaul cuma kilo aja kan lagi ngetren tuh iya Bapak bikin Pak Nah yuk kita ke bawah yuk ini baru resmi kita menginjak paling utaranya Pulau Kalimantan ada lagi di bawah ya dah di sini dia batasnya ujung terluar pulau Borneo yang boleh diambangi Betul. Yang sana udah enggak boleh katanya. Udah, udah enggak boleh. Kayaknya sih bisa sih, Pal. Enggak, enggak, enggak ada. Enggak ada. Enggak, enggak usah macam-macam. Udah jangan ini negara orang, ya. Ini sebelah kiri adalah South China Sea. Sebelah kanan adalah solusi. Kita kasih solusi. Solusi. Dan kita enggak boleh lewat ini karena bahaya. Tapi ini adalah suatu pencapaian. Alhamdulillah ya buat orang Kota Kinabalu kayaknya enggak itu ya biasa aja biasa aja mungkin ada berapa kali ke sini iya tapi buat kita orang Jakarta ini luar biasa dan kita bawa mobil ke sini betul wah ini thank you banget terutama buat para sponsor yang sudah membuat kita bisa berhasil ke sini ya betul sekali iya ini thank you brat semuanya dan buat kalian yang nonton tentu saja sponsor tidak akan datang tanpa kalian yang menonton video ini. Jadi saya terima kasih banyak dan semoga ini bisa menginspirasi ya. Hah, luar biasa. Sangat bangga sekali bisa menginjakkan kaki di tempat ini. Kenangan ini tidak akan bisa kami lupakan dan kami berharap suatu saat nanti kami bisa kembali lagi ke tempat ini untuk menikmatinya lagi. Terima kasih kepada teman-teman yang tetap setia menonton video ini sampai selesai. Jangan lupa like dan subscribe jika kalian suka dengan video ini. Sampai jumpa di episode berikutnya. Ini juga gede ya. Kalau yang ini mungkin enggak segitu panjang, tapi ini lebar banget gitu. Ini yang baru pertama kali gua lihat adalah ada mesin buat narik tainya tuh. Tuh, ini sapi yang kayak gini namanya Frision Holland. Apa sekarang? Frision FL. Me walk me walk me walk me down. Oh, you walk me down.
