1M JOURNEY TOUR DE ASEAN: MENINGGALKAN MOBIL DI LAOS! (YouTube Video)
Halo semua, kembali lagi di One Million Journey Tour the ASEAN. Pada episode sebelumnya, perjalanan menuju ibu kota Laos yang penuh rintangan, akhirnya sampai juga kami di Vien. Ye, selamat datang di kota Vien VN. Oke, jadi kita di hari ke berapa ini? Harusnya hari ke-20-an lah. 22 ya. Segituan lah pokoknya. I ya i ya lebih lah pokoknya. Hotelnya enak ya. Hotelnya kece Pak. Tapi kita masih ke sana nih karena sebelahnya adalah sungai Mekong. Mekong Mekong. Sungai Mekong. Sungai Mekong tuh udah sebawah ini ya. Udah dalam sekali ya. Jadi antara jarak jalan sama sungai itu lumayan jauh. Berapa meter Pak kira-kira Pak? Wah. Asbun nih kalau saya sebutin ya. Kayaknya sih kalau dari pandangan gua nih 10 m lebih sih. Apa ya jarak sininya dari sini ke bawah. Oh iya 10 m lebih. Lebih kayaknya ya. Tapi sungai ini di Cina itu ada bendungan. Ada bendungnya. Iya. Nah bendungan itu kan kalau airnya udah kepenuhan itu dibuka sama mereka kan. Karena kalau enggak mereka banjir atau bendungannya bisa enggak kuat. Kalau bendungan dibuka sini banjir. Melu apa ya? Meluap. Tapi ada hotel Crown Plaza itu bisa ke rendam. Iya, padahal sungainya udah sedalam ini. Masih bisa ada kemungkinan meluap. Iya. Artinya air itu mengerikan sebenarnya ya. Iya. Iya. Benar. Bisa jadi kawan, bisa jadi lawan. Tapi ya itulah bisa jadi banjir. Dan sebelah sana Pak Thailand. Oh, beneran. Oh, [tertawa] seberang sana Thailand, Pak. Tapi kalau dilihat lebih maju. Tian ya. Karena bukan Thailandnya bukan Bangkok sih ya. Ini kayak kota kecilnya gitu. Nah, ini sebelah sana ada wilayah Thailand. Oh, semalam gua cek-cek lah garisnya di ini digarisnya di Sungai Mekong ya. Kita sekarang mau ke dealer Cherry karena ee rencana kita mau nitipin mobil ini di dealer Cherry. Kitanya lanjut ke Vietnam. Tapi yang menariknya, Pal. He. Ketika kemarin gua ke restoran Indonesia, kita ngobrol sama orang yang di sini tinggal 15 tahun ya. Lama banget loh. Iya. Dia bilang, "Heh, gua lega sih." Kenapa? Laos itu negara yang aman. Oh, gitu. Dari jambret, pencurian, scam gitu ya. Memang tetap masih ada ya, bukan jadi nol juga gitu ya. Tapi dibanding bank eh dibanding Thailand, Kamboja, dibanding Kamboja jauh. Oh. Dan pas gua googling ternyata criminal rate di sini emang sedikit rendah. Oke. Dari 100 cuma 34 kalau enggak salah. Jadi emang aman di sini ternyata. W enak ya berarti Makanya kemarin sapi tergeletak, kambing enggak dicuri apa ke kiri kanan berkeliaran. Bekliaran tanpa ada tanda detail ini punya siapa gitu. Gua kaget Thailand lebih ada copet dan jambret. Paling katanya kalau ada copet jambret daerah wisatawan aja tapi itu juga sangat jarang sekali katanya. Tidak jadi ancaman wisatawan juga ya. Heeh. Ya udah yuk kita sekarang ke dealer Cherry. Let's go [musik] yah. Oke. Cuma 4 menit doang ternyata dekat Pak Hotelnya Mas dan gua lihat di Google Mapsinya besar. Gua kaget ada cerry loh di sini. Bentar bentar. Apa, Pak? Enggak boleh belok kiri. Entar dulu Pak. Untuk apa dulu nih? Takutnya kalau kendaraan biasa soalnya Google Map juga ngerainya ke sini tuh lihat mereka stop dong. Enggak maju pelan-pelan gitu loh. Dan emang relatif ngasih ini, Pak. Pada ngasih jalan. Ngalah gitu. Gua kebayang gua tuh la Kamboja ternyata. Enggak. [tertawa] Di sini orang-orangnya trafficnya itu manusiawi sekali. Masih ngalah masih ngalah. Setelah perjalanan panjang dari Malaysia, Thailand, Kamboja hingga Laos, kami akhirnya ke dealer Cherry untuk servis Duo Tigo dan ingin tahu bagaimana keadaan mobil yang sudah menempuh ribuan kilometer. Woh. Oh, gede banget, Pak. Jarinya gede. [tertawa] Satu gedung sendiri. Dia baru nih ya. Baru kayaknya dah. Bentar. Ini gimana caranya nih? Pikir gimana? [tertawa] Enggak, gua enggak ngerti ini. Ini pertigaan tu apa sih? Tuh nasi belakang kita tuh kita ambil kiri. Benar dong. Oh pokoknya begitu deh, Pak. Lewat mana pintu masuknya ini? Oh gede banget. Wow. Wow. Eh lewatnya mana? Ini Pak ini bisa kali, Pak. Naikin langsung Pak. Bisa nih naikin tuh. Enggak nabrak, Pak. Oke. Nih lihat ya. 38 ada yang ICAR V23. Weh. Ada tig cross juga. Bentar. parkiran EV [tertawa] kita EV kan Pak bukan ya? Hah? Tahu amat. Wih, ternyata kami langsung disambut. Sangat ramah sekali deer Cherry di Laos ini. Setelah bertemu dengan orang Cherry di Laos, mobil kami langsung dibawa ke bagian servis langsung dicek. Mulai dari kaki-kaki sampai ke mesin. Jadi mobil ini dibawa naik ke atas dan setelah diangkat di atas ini baru kita lihat ya. Ini tuh benar-benar kepakai loh. Tuh penyok ya. Ya, kena lubang nih pasti nih penyok nih. Ya, yang ini lebih parah nih. Jadi gua bilang apa itu sangat kepakai ya. Tuh lihat tuh udah berapa kali nih kena nih. Tapi kuat banget loh ini. Kuat banget. Dan yang mobil ini kan ada radar di sini ya buat ada cruise control. Kalau kalian perhatiin sepanjang jalan video ada tulisan ya kan di speedometer kan ee warna kuning sensornya tuh enggak bisa ngebaca karena ketutup sama ini soalnya setelah panjang jalan lama-lama der der der der der dia naik ke atas. Tapi itu bagus. Kenapa? Karena terbukti bahwa si bumpernya ini dia melindungi mobil ini dengan baik ya. itu sangat penting. Ini kalau gak pakai ginian sih bisa kena ke oil pen segala macam bocor tengah jalan. Sedih sih karena di perjalanan panjang itu kita enggak tahu tiba-tiba ada ceger. Wah [tertawa] begitulah. Jadi karena ternyata ee servisnya membutuhkan waktu lama ya soalnya mesti buka bongkar bawahnya itu tadi masih belum berhasil kebuka karena ada deformasi. Eh seriusan kan tadi ada penyok dikit kan. itu bikin jadi susah tuh ke tekan itunya loh bautnya. Tapi fungsional, Pak. Berarti artinya benar-benar kepakai. Kepakai. Kalau enggak itu kena ke bawah mesin, bawah. Kena oil pen bocor segala macam. Ini benar-benar kepakai ya. Jadi kalau kalian overland pakailah begitu-begituan lah. Karena emang penutup bawah ini mobil sudahudah tinggi sebenarnya tapi tetap aja sering kena juga yang dalam-dalam ciluk bakya itu loh. Kalau pelan itu masih aman sih menurut gua. Yang ciluk darar. Mobilnya lebih aman karena mobil itu lead car-nya. Heeh. Kalau udah kenapa-napa, lubang, lubang, lubang 2 yang ini pelan. Jadi ini lebih aman. Lebih sering aman yang ini, Pak. Tadi kan kelihatan ya dibuka bawahnya kan. Tapi kaki-kakinya aman semua loh. Kiri kanan loh. Oh, gitu, Pak. Guek tadi. Ee, ya. Kita selama nyetir juga enggak ada aneh-aneh kan. Iya, ada emang aneh-aneh. Dan kita dipinjamin mobil ini apa tuh? Eh, EQ7. Q7. Udah masuk belum? Belum. Ini kayaknya enggak masuk deh. Setelah pengecekan untuk kaki-kaki, alhamdulillah masih aman. Kanvas rem-nya juga masih bagus. Untuk mesin juga masih aman [musik] dan sehat ya. Paling standar lah kami ganti oli dan bersihin filter udara. Karena proses servis 23 masih lama, kami dipinjemin sama Cherry Laos mobil buat explore. Kami berpamitan pergi untuk bertemu dengan KBRI Ila. Setelah itu kami akan explore yang ada di VNTN. Tapi karena sudah memasuki waktu zuhur, kami mencari masjid terdekat yang ada di VNTN. Ini kok jalannya gini ya? Satu arah enggak? Ini kayaknya. Iya. I benar. Satu arah ya? Satu arah. Gil, tiba-tiba kayak ada artefak stupa zaman dulu banget di tengah jalan. Ini kayaknya sih dari zaman kerajani ya. Iya. kayak jadi ingat bangunan tua di ini pabrik gula ceper. Tapi ini kayak candi udah tua banget loh ini. Ada beberapa yang bahasa Prancis ya. Laduk seurs itu karena dulu laus tu pernah dijajah sama Prancis. Hm. Wah tua banget loh ini. Iya benar. Cow the law. Ini ke mana kita lurus? Masih lurus lagi. Ada akhirnya Jimbo. Woh. Iya. Nyampai sini. B siapa? Afif. Nah, di sini tuh bedanya orang-orang tuh banyak berhenti. Lihat kiri kanan kosong apa enggak baru mereka jalan. Oh, 17 anniversary of Japan Laos Diplomatic Relations. Nah, nanti kosong. Di sini tuh banyak mobil Cina ya. Jadi kadang-kadang kita lihat ini mobil apaan nih? Mobil apaan nih? Dan kebanyakan mobil barunya tuh listrik, listrik, listrik. Jadi kayak mobil yang 2 tahun 3 tahun terakhir tuh listrik semua. Even ini yang kita pakai ini Cherry 38 yang ee I plus namanya, tapi sebenarnya PGV. Ini kita lihat baterainya itu masih 21 kilo. Sedangkan si bensinnya masih 276 kilo lagi. Jadi panjang. Tapi dia belum pakai teknologi yang baru ya, yang cari super hybrid ya. Enak ya. Yus. Pakai listrik ngegas itu jadinya rasanya kayak mobil ini mobil listrik. Harusnya gede banget. Tapi ini tuh masih berasa loh ee mesin bensinnya. Artinya ketika kita gas gini. Kalau si yang CSH itu benar-benar listrik full gitu loh. Baru benar-benar kalau kita bejak banget tuh baru berasa e mesin bensinnya. Ini kita jejak gini ini langsung mesin bensinnya masih kerasa nyala. Kalau yang CSA itu enggak sama sekali dia. Kanan sini aja Mas. Kiri kanan kanan kanan. Ah ini dia masjidnya. Nah Masjid Azzahar. Bukan Alazhar. Azzahar Mas. Azzahar. Azzahar. Uh, bangunannya juga sama nih. Nasi kuno ya? Heeh. Bangunan lama. Mana sih pala? Belum nyampai. Belum. Dari tadi parkirnya tadi jauh. Muter dulu. Stop. Yah. Let's go. Aduh, kok ngantuk ya pengin tidur siang ya rasanya ya? Hah, akhirnya sampai juga di masjid. Ah, kenapa nih bawanya ngantuk ya? By the way, ini kita kok namanya auto glow ya kayak sponsor kita ya. Ah, ini dia pala baru nyampe. Masuk. Ini kayaknya kalau masuk Indonesia lucu sih. Bentuknya keren ya. Kayak Omoda gitu. Kayak Omoda E5. Huh. Astagfirullah. Kita lihat masjid kayak gimana yuk. Masjid Azhar di Vienn merupakan salah satu dari dua masjid yang ada di Republik Demokratik Rakyat Laos. Masjid ini lebih dikenal dengan nama Masjid Kamboja karena memang dibangun oleh muslim etnis Champa dari Kamboja yang hijrah ke laos meninggalkan kampung halaman mereka di Kamboja pada era tahun 1975 sampai 1979. [musik] untuk menyelamatkan diri dari kekejaman rezim kamer merah pimpinan Polpot. Apaan nih? Keren banget nih. Tap bangunannya kayak ada tempel di tengah gitu. Oh ini Presidensial Palace enggak sih? keren banget. Keren loh. Patuhai Pak. Oh, ini Pak Tusai. Pak Tusai ini kita kiri ya. Ini langsung kanan. Oh, berarti kitaan besar Indonesia tuh keren banget loh di Pak Tusai loh. Ini tempat ininya tempat wisatanya gitu. Ini jangan dibangun juga nih. Gede-gede, Pak. Oh, dia lagi bikin kayak semacam hotel atau mall nih. Tapi juga desainnya tuh desain keren ya. Mana nih kita kanan jalan LBB ini bukan? Bukan ini bukan. Iya LBB ini bukan. Kedutaan besar Garuda. Oh kita benar-benar ini ya keren banget ya kedutaan ya. Enggak nyampai D. sini harusnya ambassador of Indonesia ini boleh divideoin Bu oh gitu boleh e dokumentasi kita lagi main oh ng-vlog ya buat iya selamat datang silaturahmi kita mobilnya mobil Indonesia tapi ini lagi pinjam pinjam oh i selamat pagi eh siang siang ya di kabios kami disambut dengan baik dan ramah. Di sini kami bukan sekedar sowan, tapi ingin tahu WNI yang ada di sini keadaannya bagaimana. Dan kami juga ingin tahu apakah bisa mobil Duo Tigo dititip di sini atau diperpanjang permit dan ditinggal di Laos. Setelah berdiskusi panjang, kami dapat kabar Duot TIG sudah selesai diservis dan siap dipakai. Jadi, kami berpamitan untuk kembali ke dealer Cherry Laos. Kita baru dari kedutaan, sekarang kita dikabarin ini ya. Udah jadi mobilnya. Udah jadi mobilnya dan yang dapat diskon 30%. Uh, lumayan tuh. Alhamdulillah. Nih, Pak, gu mau yang ini. Oke. Gua belum pernah bawa ini soalnya kalau ini itu rasanya kayak 38 yang CSH cuma mesinnya lebih sering main. Oh, jadi kalau 38 CSH kan benar-benar jarang banget nyala tuh si mesinnya. Ini lebih sering. Yuk, Cherry. What? Eh, Cherry. Cherry apa? Dealer. Dealer. Gak ada nama Cherry. Cherry aja. Cerry. Cherry. Cherry-nya satu. Cherry Laos. Air Cherry Laos. Betul ya? 7 kilo dekat. Ya udah, benar nih. Yuk ke arah putar balai. Kiri aja tuh mau. Merah loh. Nah, enggak apa-apa dikit. sekalian aja ngomong di video ya. Jadi kita tuh masih ada satu kesulitan. Yes. Bagaimana memperpanjang limit parkir ya. Karena mobil cuma bisa 30 hari di sini. Artinya kalau kita masuk tanggal 21, tanggal 20 harus sudah keluar. Ya, betul. Nah, ada dua opsi. Kalau misalkan gini, jadi kita ke kedutaan itu kita minta tolong bagaimana? Apakah mungkin bisa bersurat agar bisa dixtend. Betul. ee nitip mobil di sininya. Tapi kemungkinan ada dua, kita keluarkan mobil ke Thailand, kita ke Bangkok nanti di Bangkok. 30 hari lagi tuh Bangkok tuh. Nanti masuk lagi Laos 30 hari lagi bisaul ya kan? Jadi kalau kita ternyata ngurusin ee dan kawan-kawannya itu sekitar ee lebih dari sebulan lah. Betul ya. Kita harus bolak-balik tuh. Biayanya lumayan mahal karena kalau kita masukin mobil lagi kena lagi 600lar. 600 dolar per mobil. Hampir R juta dua mobil. Nah, terus opsi kedua adalah katanya bisa kita keluar dari sini masuk lagi tapi enggak masuk Bangkok. Jadi kita ada di tengah-tengah border. Tengah-tengah border. Iya. Carilah alasan tidak tahu ada peraturan. Akhirnya balik lagi ke ke Laos. Cuma itu agak riskan ya. Karena gini loh, pas Anda masuk keluar dari Laos ke Thailand kan ditanya Anda mau ke mana, berapa hari, udah lengkap semua. He. Di tengah jalan ti berubah. Aku enggak tahu sih gimana ya. Bisa enggak dapat permit lagi 30 hari? Yes. Karena the worst case atau kalau kita overstay kau tak bisa masuk lagi. Betul enggak? Iya. Di band. Hm. Kaulah diband selesai. Enggak jadi perjalanannya. Jadi ya nanti kita coba cek lah. Cari een yang bisa membantu kita. Iya. Moral citanya adalah apa? Oh bukan. Ini tempat cuci mobil ya? Clean auto. Law Law. Oh, lihat tuh. Tadi kita cuci mobil aja ya. Ada JS sama I car kana mau cuci mobil kan katanya. Iya ya nanti aja. Tadi kita ngobrol sama ee perwakilan dari kedutaan ya. Mereka bilang Laos itu orangnya jujur, baik, ramah. Itu yang kita rasakan selama kita di Laos. Betul. Iya. Auranya lebih oke gitu. Kita kayak merasa baik gitu, nyaman-nyaman aja kok. Sini sampai ada WNI yang lupa naruh dompet. Ini orang sini itu ngecek ngecek ngecek ngecek Indonesia. Oh, Indonesia. Bingung kan dia ke mana kan balikinnya kan. Dia akhirnya ke warung Eko namanya Indonesia. Nih kita nemu dompet ini mungkin orang Indonesia kalian tahulah. Wei, Iya, itu amazing loh. Balaku. Keren loh. Iya. Jadi juga orang-orang trafficnya juga baik ya. Mau mau ngalahan gitu. Gua ngerasa kayak betul ee Laos pengin ke sini lagi deh kalau pengin wisata ya. Nah, pertanyaan saya cuma satu. Apa? Wisata ke mana? Aku nanya tadi sama Bang Pala, kalian ke mana aja tadi pagi? Ke bengkel kan? Nah, iya. Jadi wisatanya kita kita mau angkat wisata Laos nih sekarang nih. Nah. Nah, wisata Laos nanti akan kita angkat waktu kita berangkat ke Cina karena kita akan ngelewatin kota namanya Oh, yang Bang-bang Pamam itu tempat wisatawan ke sana pokoknya lah. Dan itu banyak ee apa namanya? Banyak destinasi wisatanya. Jadi banyak orang buleya itu banyak sekali orang asli banyak sekali. Berarti kita simpan itu di ketika kita akan mengarah ke Cina ya. Mengarah ke Cina karena lumayan jauh ya. Heeh. 6 jam naik mobil sebenarnya cuma 220 kil dan katanya di sini itu yang jadi masalah adalah sering banjir sering banjir besar makanya jalan banyak rusak bukan karena odol ya bed karena kita ngelihat ngelihat truk itu tuh enggak ada yang odol sih malah gua ngelihatnya kalau di Thailand tuh Hillux odol tahu enggak H look-nya odol semua besak-besar dia punya ituh atas tuah naik tinggi. Iya, tapi gua gak tahu nih mobil pertama kali gua nyoba enak ya yang ini. Listrik toh listrik. Suara kiri kanan tuh enggak kedengaran. Enggak ada kakson. Iya, tapi suara motor lewat tuh hening. Double glass kayaknya. Wih, double glass cuk. Oh, iya diing. Coba tutup tutup tutup tutup. Wei wih, suara truknya hilang langsung. Jadi ada dua kegalauan kami sekarang. satu, bagaimana memperpanjang limit untuk stay. Oke, karena kalau tidak, maka harus tebang kembali buat bawa mobil keluar dan masuk kembali. Yang kedua adalah udah bisa pun kami galau tentang jalan banjir yang arah menuju ke boten, perbatasan Cina. Nah, itu sih enggak apa-apa. Oh, iya enggak apa-apa. Yang terjebak hari tahun lalu. Tahun lalu. Jadi, banjirnya juga gara-gara katanya di Cina itu bendungannya udah kepenuhan dibuka. Benarkah? Bu, bukan karena hujan ya. Karena hujan. Makanya bendungannya penuh. Ee ya sudahlah masalah nanti bila nanti hari ini nikmati saja dong. Iya. Pokoknya kemungkinannya per kalau dutaan kita bisa bantu perpanjang itu kita sangat bersyukur sekali karena kita menghemat banyak hal. Iya. Waktu dan uang. Karena kita berangkat paling setelah Gi Gi ada kerjaan Agustus September lah ya. Waktu pas gas tuh kita itunya berubah profile picture-nya apa ada hijau-hijau open to work ya kan. Oh saatnya kita cari uang ya untuk membeli logistik di perjalanan nantinya. Iya karena overland itu mahal. Tenang nanti akan sesi di mana kita akan spill semua budget. Iya boleh boleh boleh. Ya, itulah di podcastnya Jago nanti. Oke, yes, mobil sudah selesai diervis ya. Eh, tadi keluar dari tempat servis tuh rasanya kayak lebih w gitu ya. Mungkin karena filter-filternya semua ganti olinya ganti, oli transmisi juga kita ganti. Dan lucunya adalah kampas rem masih bagus. Masih berapa, Mat? K mat ee yang depan 70% yang depan 70% belakang 80%. Yang sebelah juga sama sama ya kaki-kaki suspensi katanya masih bagus ya. Masih bagus asik. Gua juga bingung. Gua pikir bakal disuruh ganti ya tadi tapi ternyata masih bagus. Tapi okelah gua happy banget sama ini mobil karena jujur ngomong gua pertama kali pakai cerry buat overland tuh gua agak mikir kuat enggak ya ni mobil ya melewati jalan-jalan medan-medan yang cukup berat. Terus bagaimana dengan servis dan sparepnya sepanjang kita jalan? Ternyata di Malaysia, di Thailand, Kamboja, Laos semua ada ceri ya. Jadi ya alhamdulillah lah gua happy lah karena ekspektasi kita segini ternyata dapatnya lebih. Let's go Pal, kita jalan-jalan lagi, Pal. Kita mau waterfront-nya Thailand. Eh, Thailand. VNTN. VNTN. Mumpung di Mari, Pak. Mung di Mari. Sekarang jam berapa sih? Jam 16.58, Pak. Ah. Ah, ya udah cari kopi dulu bentar ya. Cari kopi. Oke, gas yah. Aduh, pengen naik setir kiri lagi dah. Oh, iya kita kembali berubah ya. Iya. Coba tahu enggak apa yang gua senang sama ini mobil opo? Baunya tuh netral. Baunya netral sepi zona netral tadi ya? Iya. tadi itu yang mobil yang biru itu baunya kayak bau sesuatu. Bukan bau yang enggak enak ya, tapi ya begitulah. Kalau Anda bukan perikmati parfum mobil Enggak. Gua ada parfum ya. Jadi kan gua sama istri gua juga terutama istri gua ya. Istri gua kan sensitif sama bau ya. Wow. Dia ee mobil tua gitu. He enggak suka. Jadi kadang-kadang tuh kalau mobil istri lu suka mobil yang kayak gimana sih yang baunya enak. Enak tuh macam mana? Eh kayak gini nih enak nih. Enggak ada bau. Oh bau enak tak ada bau. Oke. Iya netral lah. Tapi gua pun juga sama. Jadi gua bikin parfum ya autonet care. ee gantungan. He. Tanpa bau. Ada baunya. Tapi baunya nanti lu gua kasih. Pasti lu suka deh. Karena tadinya kita enggak jual kasih bonusan-bonusan. Karena pertama gua suka pas istri gua demen ya. Terus ngasih bonusan tuh ke orang-orang yang sudah detailing di Autonet Care kan. Terus ternyata banyak yang minta lagi. Ya udah akhirnya kita jual aja. Itu Cing Abdil masukin mobil ke Autonet Care minta itu repeat order parfumnya berawal dari barang gratisan. Iya. Heeh. Ya udah kita kasih aja. Nih enak banget baunya katanya. Ya memang karena kita kurasi. Jadi kalau saya mau beli di mana sih saya beli? Nah entar gua kirim aja. Tempat yang kami kunjungi adalah Waterfront. Katanya di sana banyak orang Laos liburan. Jadi penasaran seperti apa Punya uang. Aduh duitnya di pala. Emang bisa pakai susah? Tanya deh. Mereka mau terima bat sih sama Yan. Emang bat sebanyak apa? Gua ada Yan Pisah Cit. No no. Keep only. Yan. Yan. Oke. Yan. Kau punya Yan. Yan. Nanya-nanya itu berapa? Nah, oke Iwan. Oke di sini. Nah, suah lah 100 sekian berapa? Wisah ya putong yan berapa? Berapa keep? Bukan 100 itu berapa itu? 100 yan. How many keep? How much keep? Oh. Oh die keep. 3000. Hah? 3000. 3000 kit. Hah? Kecil banget ya? Kok kecil banget? Yan tuh murah memang ya. Enggak tahu kau tanya aku. 100 yuan cuma dihargai Rp2.800. 100 berapa? Come on Mr. World Wide. Oke Google. Rp300.000. R00.000. What is this? You. Oh Yan. Kalau Indonesia Rp300.000. Oh 300000 ke maksudnya. Singapura. Iya, betul. Oh, yes. Yes. Kan aku kaya Rp1.000. We are rich.000 mau partti apa kita? Kita bisa minum ST sampai mabuk. Nah, dah simpan duluah. Kau pegang duluah. Nih, Yan. Mau beli apa? Enggak tahu. Enggak apa-apa sih. 100. Kita cari yang halal bisa enggak sih? 130. Enggak tahu. Kalau itu mah aman kayak cumi gitu-gitu. Ya udah kita punya 130 UN. Eh 40. Cukup dong, cukup dong. Cukup cukup cukup. Let's go. Kita mau cari apa? Aku tuh mau mau makan dengan view sungai. Masa ini tuh view-nya bendungan dingding enggak ada ini. Justru malah kita di bawah sungai. Mau pindah? Boleh sejat dulu ya. Yuk. Ini kita tuh lagi menghadap Sungai Mekong dan di seberang kita itu adalah Mana itu? Thailand depan kita itu. Iya enggak mungkinlah. Thailand. Coba kau buka peta hangid sa mau makan ada waktu. Untungnya kita ada 140 yen yuk cobain yuk. Yuk yuk yuk. Ah tet. Ah ini yang di dalam travel kemarin Mas. makainya sama ini sambalnya. Coba kalau tanpa sambal pasti tak enak. Sawu. Iya, mirip sawu. Sawo. Iya, looknya mirip sawu. Apaan sih? Asem banget. Asem banget. Asem. Asem kok asem. Ini loh dalamannya nih. Loh, coba dua bagi dua. Asem dia ini kulitnya dimakan enggak sih? Anda bersih kita makan ya. Coba ke makan. Hm. Enak. Asem. macam aneh tapi rasanya aromanya kayak ini kembang melati ya kan dagingnya kayak kecapi nih kecap iya Hmm kok dia pakai bumbu ini ya ini kayak manggis tapi masih muda. Tahu enggak ini aneh bawang putih ya? Bawang merah. Putih, bawang merah, air gula. Enak kayak ini. Kayak manggis tapi masih terlalu muda masih asem banget kulitnya. Pahit mah ini sawo banget. Sawok masih manis. Coba satu lagi. Sawo manis mana? Sawo manis? Sawok siring ini. Eh, sawo apa? Dongdong. Dongdong. Dongdong. Sawo. Ini dondong. I rasanya mirip dongdong. I dondong. Mirip manggis. Ah. Londong man. Man tengah itu biangis tuh ya. Oh kalau tengah iya kayak di kulitnya ini dondong banget. Oh ini rempah banget ini. Apaan tuh? Cobain cobain mas enggak apaa s kasih aku kulitnya enak Tambah ini enggak cocok meremelek lu bukan pedas ya. Tapi hinih ini tuh bawang merah, bawang putih, cabe sama gula aren. Ah, namanya tuh dong bong. Jadi ini tuh kayak pasar malam ya kalau kita lihat ya. Tuh lihat alun. Betul. Tapi pasar malamnya itu di bawah sungai loh. Itu sungainya sana kayak lagi dibikin bendungan lagi ya. Mari kita coba. Babat kok ada mya panas J entah. Emma ini bukan mie Jon celak laun yang digulung itu kayak be Tadi kan kayak bukan kayak gini nih. Nih stickpstick ya. Itu dia. Oh bukan beet ya. Enak woy. Mulai mulai kita sehari enggak ketemu Jon. Ya ya ya. Lu udah cabut. Dia punya kuah lucu ya. Bukan gula merah bukan sambal-sambal empek-empek juga. He daunnya tuh rasanya kayak daun yang waktu kita kuah makan halal itu loh. I kan tuh. gua iseng beli es krim. Enak John ngikut. Ye. Enak ya banget. Kelapa full. Kelapanya santan i santan bangetlah. Ini beli apaan nih? Ee ini namanya ada seblak kaflaos. Mana seblak? Rujak bukan. Mana rujak? Ini dims eh steam. Steam boat ah. Ialah steamat lah. Direbus sekarang apa? Digoreng ya goreng. Digoreng habis itu dikasih bumbu makan. Belajarlah bahasa Laos. Saba itu adalah halo todai. Berapa harganya? Oh kalau mahal lain pail. Eh pengly. Ah lupalah. Itulah pokoknya. Nah. Hari mulai [musik] sore, kami pergi menuju rempah Indonesia karena kami diundang untuk makan malam di tempatnya. Jadi, ini bukan kota yang megah sih sebenarnya, tapi lebih nyaman aja. Tuh, lihat sebelah kiri dia berhenti ngasih orang jalan. Apa ya? Loteria. Loteria aja. Loteria. Cari. Kita mau cari makan. Di sini susah cari yang halal. Jadi kita langsung aja ke loteria karena di sana ayam semua. kata orang sini ya. Loteria ayam semua aman. Enggak ada babinya. Gas. Ah nih lihat nih ada patung nih. Apa nih? Hah? Pahlawan lokal. Presiden statue bukan sih? Dia pakai topi dan pak bawa pedang. E presidennya bukan sih dulu foundernya. Oh founder founding nation ya. Siapa namanya? Oh, rupanya yang sebelah-sebelah itu jualan togel yang pada ada tap card. Ih, baru sadaran dah. Iya, aku kira aja tuh untuk jasa apa? Buah-buahan tuh rambutan. Ah, ubi leci. Cakep. Kenapa leci enggak ramedi itu ya? Kenapa kita cuma ketemu leci cuma R.000 cuma satu kali, habis itu kita enggak ketemu lagi ya? Iya. Leci Thailand termurah bukan? Tapi Thailand ada tempat. Habis itu mahal lagi semua. Nih. Ini kayak kota tuanya kali ya. La Chengdo, China. Uh, China music bar. Oh, China tahunnya kali ini yang dibilang ya. Masa tapi ini kayak enggak kerawat. Ini ada nih Dalong Yan Hotpot. Kota tua toh. Oh, ini kota tuanya. Benar nih nih nih nih. Oh, udah tuh segini doang. Yap. Emang kotanya tidak besar, penduduknya tidak banyak. Cucoklah. Enggak macet. Paling juga macet gara-gara ngantri orang lampu merah atau lagi parkir aja sih. Lampu merah. Tapi perhatiin deh di sini orang kurus-kurus Yang kayak pala gitu jarang loh. N pala tuh langka di sini. Heeh. Sehat ya berarti ya. Ini kota yang cocok buat Valhan enggak cocok buang sama pala. Ah deh. Oke kita kiri nih. Katanya macet sebelah kiri. Kita lihat merah nih ya. Nah, ini merah menyala nih. Kita lihat semacet apakah merah di Laos ini sekarang di jam jam pulang kerja jam 5. Jam 6.00 loh. Ini di kanan sungai Mekong. Artinya kalau banjir bisa sampai ke sini nih. Gila, meluap segila apa ya? Iya, meluap segil apa ya? Gede banget pasti. The power of water. Weh. Yuk masuk. Coba lihat nih. Merah kan nih kata tadi kan. Uh, macet parah. Oh, bukan bukan bukan ini bukan Sarah. Uh, merah menyala. Mana? Apaan? Ini mah lampu merah itu. Kok sebut merah, coy? Nih dari sini merah nih. Memang ternyata sampai sana cuma lampu merah. Berarti berarti kalau orang Laos ke Kamboja atau ke Jakarta syok dia. Wah, mungkin mereka pas lagi macet mereka gelar ticker. Wih, wisata macet. Betul, Langka kali dia bilang. Iya tuh. Kita disuruh kiri kanitu doang iniang. Udah bahagianya hidup kau. Laos laos. Btw RC itu adalah sebesar R,8 juta Kip alias sekitar Rp1,5 juta. Dan makanan sini tidak murah. Ini seporsi 40.000 Kip. Hmm. Es krim tadi 15.000 Kip. Artinya itu enggak murah-murah banget. Mungkin sewa rumah, transport murah. Betul. Tapi bensin enggak murah juga di sini. Bensin mahal juga kan? Nah, lancar umr ya. Nah, ini ada ada kuil-kuil sini banyak banget ya. Yuk, tempel. Cuma entah kenapa aku udah berminggu-minggu kita keling ASEAN lihat tempel. Aku gak pernah lihat tempel yang ramai diisi orang buat sembahyang atau berdoa loh. Apa mungkin hari-hari tertentu aja. Oh, iya. Enggak tahu ya. Tanya Farhan. Farhan. I. Enggak usah tahu ya. Beda, Kak, beda dong. Gua enggak ngerti kalau di agama lain ya. Cuma kan kalau masjid itu kan emang tiap hari kita salat lima waktu di Kristen tiap hari Minggu. Heeh. Jumat juga ramai-ramai itu wajib. Oh, Ministry Hof Health-nya di sini. Dinas Kesehatan bangunannya kayak ala-ala Eropa, tapi atapnya itu kayak ingat Melayu. Laos dijajah oleh Prancis. Bangunannya lebih baik nuansanya Prancis. Bahkan warga Laos lebih banyak yang jago bahasa Prancis dibandingkan Inggris. Sama kayak dulu Indonesia baru merdeka, banyak yang bisa bahasa Belanda. Cakep. Donecan itu ke fase Belanda. Dan lucunya di sini tuh ya kalau bis, pick up, truk gitu-gitu banyakan Hyundai Ya, Hyundai berkuasa. Sini lumayan rame gua enggak nemu kayak truk-truk Jepang. Betul. bus Jepang gitu, Isuzu Hino gitu enggak ada loh. Kalau motor Honda Suprafit banyak tapi gak tahu Supra apa tuh. Ini mall-nya K. Oh ini mall. Itu mall. Ya Tuhan ini psonnya Plaza itu ya mungkin. Oh maukan hospital. Hospital. Hospital. Rumah sakit Pak. Bukan rumah sakit. Hospital pediatrik ada tuh. Iya iya ya. Gilah rasanya laus ini. Kenapa pohonnya putih-putih ya? Itu pohon yang mengelupas kulitnya. Apa pohon apa namanya? Ah. D law namanya. Aku lupa aku tahu Indonesia namanya apa cuma kami bisa ngomong birch. Birch. Birch apa dia punya itu? Apa kulitnya bisa dibakar punya? Oh birch ya. Oh biasa buat jadi stick drum tuh. Ya cucok cucok cucok. Iya kah? enggak tahu salah-salah paling kita dibully sama netien apa dua orang nih ngebacot salah-salah. [tertawa] Saya dulu drummer pak. Heeh. Nyambung pula burst ke drum gitu kan. Nah ini nih apa nih? Apa nih? Corcome Residence. Corcome Residence itu apa? Kok semua buka baju? Loh, kok lo macam istana presiden nih. Iya, ini bagus-bagus dan mega-mega di sini ya. tapi bangunannya tua sekali kayaknya. Ini bangunan dari zaman dulu gitu. Nah, tapi terawat. Yap, ini terawat nih. Nah, tuh lagi tuh. Ini kayak komplek Eropanya gitu kali ya. Ah, berarti posisi singgah wisata macam di Kamboja. Wisata itu ke komplek rumah orang kayaknya. Ini peninggalan ini peninggalan Prancis kali ya. Wah, kami makanan khas laos. Salah satunya adalah pingpa. Pingpa merupakan ikan bakar yang dimarinasi dengan garam dan lalu dibakar. Dimakan dengan stigy rice atau ketan dan saus asam pedas yang rasanya sangat lezat. Daun-daunan itu kok ada daun pinus pakai mie semuanya di [musik] sini seluruh daun dimakan sekarang. Wah soda banget very low gaw kalau makan doang nasi kok. Kalau enggak ini ada nasi sambalnya enggak ada lagi nih. Ada nanti kalau ini one shot mana mungkin masuk [tertawa] dalam mulut Ayo J aku party dulu. Oh ini tapi orang sini memang makannya sama kayak Korea kan makannya enak kok. [tertawa] Gua makan nasi dengan eh jangan Indomie makan. Bisa bikin laut restoran. [tertawa] Cuma nyari di mana yang gede gini Indonesia. Inilah di ada enak banget. Woh enak banget ini ya. Tak terasa hari sudah malam, kami harus langsung balik ke hotel karena Ridwan, John, Riana, dan Mas Eko besok harus pergi ke Vietnam. Saya tahu itu, Pak. Ya udah [tertawa] kamu ke sini. Hari ke berapa nih, Pal? Tanggal 24, Pak. Hampir sebulan. Panas banget ya puasanya ini terik. Terik banget. Dan kita ini nanti jam berapa pesawat gua ya? Jam .30 Jam .30 sekarang jam 10.49. Jadi kita mau makan siang bareng-bareng untuk terakhir kalinya. Wah le boy. Ya benar kan? Tapi kita terpisah. Iya mau ambilinjur nih. Kan kalian ke Vietnam. Iya ya. Iya. Jadi ee tim videografer ini pulang. Heh. Jadi Rahmat balik 40 harian ya Mat ya. Adiknya kan baru meninggal. Terus ee Faran balik mau skripsi Heeh. Terus Andi balik dicariin sama istrinya. I ya. Wah kasihan guaap itu ditelepon mulu. Balik enggak? Balik enggak? Begitu pala juga balik. Kenapa? Karena pala istrinya kemarin sekeluarga sakit ya? Iya. Pemulia lagi masa pemulihan kasihan ditinggalin lama-lama. Gua Mas Eko sama John sama Riana lanjut ke Vietnam. Wih. Karena kita akan explore Vietnam 3 hari 2 malam. Wah, seru banget. Jadi, 1 millionnya sebenarnya sudah sampai sini aja karena mobilnya kita tinggalkan, sedangkan kita naik pesawat tapi kita masih explore ASEAN. Lanjut, Pak. Ah, seru lanjut. Nanti videografer dari Jakarta juga datang di sini. Ternyata dari tempat penginapan ke bandara International Laos dekat banget ya. Jadi kita sudah sampai di bandara. Apa nama bandaranya? Wat watay. Wat? Tapi ya yang perlu disyukuri adalah memang ASEAN ini banyak sekali rintangannya. Banyak Pak dramanya. Ada aja banyak sekali dramanya. Bahkan di antara perjalanan kita yang lain nih yang paling paling menguras energi dan pikiran. Tapi alhamdulillah kita we make it. We made it. We made it. [tepuk tangan] Jadi finish nih, Pak. Finish. Alhamdulillah. Ya Allah. Titip mobil. Sip. Thank you, Pak. Malah pulangnya besok ya. Dia mau bersihin mobil sama naruh mobil dulu di tempat yang udah disediakan. Dan meskipun one million jurnnya berakhir, perjalanan asetnya lanjut. Lanjut dong. Kita akan ke Vietnam dan mungkin akan menjadi dua atau tiga video. menarik sekali. Jadi ee stay tune terus karena tiap weekend, Sabtu dan Minggu kita tetap akan upload dengan video durasi 50 menitan. Weh, next-nya ke mana, Pak? I gitu pertanyaannya pertanyaan yang selalu muncul. Mencing Samsung. Minang wang [tertawa] Cina, ke Cina. Kita akan ke Cina habis, Guys. Kita akan ke Cina, ke kampung kame. kita mengantarkan beliau pulang kampung ya. Tapi semoga kalian bisa ikut. Kenapa ya? Jadwal bisa ikut kan? Enggak tahu nih. Karena aku takut aku ditolak jadwalnya Cina tanpa toko tuh. Gak tahu dia gak. Wah, Citato tuh. Citato kawan. Udah gitu enggak bisa bahasa Cina lagi. Nah, itu problemnya [tertawa] sama K pro. Ya udahlah ya. Jangan jangan lupa juga subscribe ke channel Ajaung. Jalan-jalan Gokil dan follow Instagram kami semua. Bye bye. Hati-hati. Asalamualaikum. Dadah. KJA. Mobil di dalam. Ya enggak ada yang berantem lagi dong I ya. One million Journey edisi tour the ASEAN akhirnya selesai. [musik] Dua mobil, 8 nyawa, lima negara. Ribuan kilometer telah dilalui dengan Cherry Duotigo. Perjalanan yang dimulai dari negeri jiran Malaysia. Di sini mobil belakangnya lalu Singapura dengan kota maju dan modernnya seasean. Thailand dengan kuil-kuil bersejarahnya. Ini tempat begitu indah. Hanya bisa kami kagumi, tapi tak bisa kami mengerti. Kamboja dengan keunikan kejadian yang tidak terduga. Y. Halo. Dan tujuan terakhir dari Tourda ASEAN, Laos dengan rintangan perjalanan menuju ibu kotanya. Terus lihat ada lubang. Ini enggak tahu di mana, tapi yang pasti di depan [musik] kita ada sapi. Setiap perbatasan adalah gerbang, bukan pemirsa. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, kenangan yang tidak akan kami lupakan. Duotigo bukan sekedar memberikan pemandangan dan perjalanan, tapi memberikan pengalaman dan arti hidup yang berbeda di setiap tikungannya. Ini bukan akhir dari petualangan. Ini adalah akhir cerita untuk memulai petualangan baru kami. Karena petualangan selanjutnya adalah One Million Journey edisi Back to China. Untuk melihat perjalanan kami di Vietnam, link videonya ada di bawah. Dan minggu depan ada program terbaru dari kami, yaitu Jalan-jalan online yang akan tayang di channel Ridwan Hanif. Terima kasih sudah menonton. Sampai jumpa.
