2 JUTAAN, Kamera Ultra Wide, Desain Keren, Update OS 3+5, Fitur AI Segudang: Review Tecno Camon 40 (YouTube Video)
Fitur AI segudang. Kamera keren pakai sensor Sony di sini ada OIS-nya. Punya kamera ultra wide. Ada fitur flash snap untuk foto objek yang bergerak cepat. OS-nya update sampai 5 tahun. Desain elegan, tipis, dan ringan. Performa kencang. Dia pakai Helio G. Game berat juga lancar di sini. RAM 8 gig, storage up to 256 gig. Layar AMOLED 120 dengan bezel tipis dan simetris. Baterai 5.200 mAh. Harganya mulai dari 2,6 jutaan doang. Oke, langsung aja kita review tekno camon 40 ya. Techno canon 40 ya. Come on can come on ya come on atau cam on. Nah gitu ya. Techno Cemon 40 series dia diluncurkan secara global di event MWC 2025 Barcelona. Nah, dari empat varian yang diluncurkan di sana yang masuk Indonesia cuma ada dua, yaitu Techno Canon 40 dan Techno Camon 40 Pro 5G. Tapi sekarang yang 40 ya, bukan yang Pro 5G ya. Dan sayangnya versi tertingginya yang Techno Cemon 40 Premiere itu tidak hadir resmi di Indonesia. Versi Pro 5G-nya itu juga belum datang ya. Jadi sabar sabar ya. Nah, untuk video kali ini kita fokus kechno CON 40 yang merupakan varian paling terjangkaunya. Lini Camera ini merupakan lini smartphone dari Tekno yang berfokus ke kemampuan kameranya. Namanya cam on gitu kan. Nah, tapi sebelum kita bahas kameranya, kita mulai dari isi paket penjualannya dulu ya. Nah, tentunya di sini ada unit dengan screen protektor. Lalu ada charger 45 watt. Eh, ada chargernya, ada chargernya. Ada chargernya di sini ya. 45 watt nih. Kabel USBC ada di sini. Lalu ada case juga, ada sim tray ejector dan ada paket dokumen. Nah, untuk segi desainnya saat video preview kemarin udah banyak dari kalian yang suka dengan desain smartphone ini. Kelihatan simpel dan keren gitu ya dan mungkin beda gitu ya. Ee dan banyak yang bilang, kami juga setuju ya, ada yang bilang ini mengingatkan pada seri S21-nya itu ya tahun 2021 ya, Galaxy S21. Tahun 2021 ya. Nah, meskipun smartphone ini fokus di kamera, tapi modul kamera itu tidak dibuat jadi super-super besar banget. By kami, ini memberikan kesan yang lebih low profile aja. Paling enggak enggak terlalu nonjol-nonjol gitu, ya. Nah, untuk pilihan warna ada Galaxy black dan ada emerald glow green. Kalau yang kita pakai ini yang Galaxy Black. Galaxy. Baru sadar lagi. Hmm. Ya udah, Galaxy boleh. Oke, untuk dimensi 164,1 * 74,6 * 7,34 mm. sangat tipis. Padahal baterainya 5.200 mAh. Beratnya itu dikisaran 177 gr. Jadi enteng ya. Jadi enggak cuma tipis tapi ringan. Enggak banyak loh smartphone kelas gini yang bisa setipis dan seringan. Ini bodinya sudah punya sertifikasi IP6 ya. En di depan artinya dia lolos uji tahan debu. Jadi enggak masuk dalam lah debunya. Enam di belakang ini artinya tahan semprotan waterjet dari segala arah. Jadi ingat dia bisa disemprot dari segala arah bukan ditenggelamkan. Ya, semprotan pun pakai waterjet sih sebetulnya ya. Ini agak beda ya kalau dibilang yang 69. 9 itu pakai waterjet suhunya 80 derajat Celcius. Nah, kalau 66 ini waterjet biasa, air biasa dan sekali lagi diingatkan, jangan diajak berenang. Oke, di sisi kanan ada tombol power, tombol volume up and down juga di sini. Lalu di atas ada mikrofon, grill speaker stereo bagian atas, dan infrared blaster ada di sini untuk memancing para pengguna Xiaomi mungkin ya. Lalu di sebelah kiri ada tombol yang disebut tekno sebagai action button. Nah, salah ya. Itu itu yang punyanya buah-buahan. Salah namanya one tap button ya. OTB ya. One tap button ya. Jadi ee fungsi tombol ini ya dalam kondisi layar menyala. Kalau kita tekan dan tahan tombol ini kita akan memanggil AI assistant techno yang namanya ya. Nah, dalam kondisi mati klik dua kali untuk langsung masuk ke dalam kamera flash snap. Dan kalau kita masuk dalam menu kamera yang satu ini bisa jadi tombol setter juga ya. Jadi mirip juga dong Kris kayak yang di memang itu ya. Ya memang galaksi tapi tombolnya buah-buahan. Buah-buahan. Oke, sip. Galaksi buah-buahan. Oke, sip. Tapi yang penting tujuannya kan tujuannya supaya kita bisa mengabadikan momen dengan cepat di situ. Nah, apakah tombol ini bisa diatur untuk fungsi yang lain? Ya, bisa iya bisa enggak ya. Maksudnya gimana sih? Oh, oke. Oke. Jadi gini, di menu pengaturan itu ada opsi untuk long press dan double press. Long press ini e belum bisa kita ganti untuk fungsi lain, hanya untuk manggil Ela doang nih ya. atau bisa dimatikan juga ya dengan pilih itu aja ya. Nah, untuk double press, nah ini kita bisa atur untuk fungsi lain seperti mute notifikasi, menyalakan senter, screen recording, bahkan bisa untuk membuka aplikasi yang kita pilih. Sedikit berharap bisa untuk screenshot juga ya, tapi untuk sekarang belum ada di sini. Beralih ke bawah ini adalah SIM tray dual SIM. Di sebelah slot SIM ada mikrofon, ada USBC, grill speaker stereo bagian bawah juga ada di sini. Nah, menurut penilaian subjektif kami, kualitas speaker steronya cukup oke untuk kelas harganya. Bukan yang spesial tapi udah cukup lantang. Detailnya udah cukup bas ada tapi tipis-tipis aja di sini. Nah, kita lanjut ke bagian depan. Ini adalah layar AMOLED 120 Hz 6,78 inci ya. Resolusinya full HD plus 2436 * 1080 piksel. Untuk brightness saat kami uji maksimum brightness-nya ada di kisan 560 nits untuk indoor. Untuk indoor untuk simulasi outdoor beritusnya bisa sampai 1000 nits. Jadi sudah sangat terang ya. Ingat ini HP R jutaan udah oke banget di sini ya. Oh ya, supaya keceraan bisa di maksimal itu jangan lupa untuk menyalakan fitur high brightest mode pada settingan layar. Nah, bicara soal layar ini ada warnanya juga si ada mode warnanya ya. Di sini ada bright colored dan ada original color. Nah, untuk hasil tes color gambutnya kurang lebih seperti ini. Seingkatnya masih sama seperti yang sebelum-sebelumnya ya, model bright colored maupun original color. Dua-duanya dioptimalkan untuk color gamot DC3. Jadi belum ada yang diarahkan ke 100% sRGB. Jadi, apapun warna yang dipilih itu warnanya akan kelihatan gonjreng di sini. Jadi, agak hati-hati aja kalau ngedit foto atau video di sini. Oke, untuk refresh layar ini up to 120 Hz dan dia adaptif 60 sampai 120 Hz. Always on display-nya di sini tidak always on karena terbatas sampai 10 detik aja. Tapi paling enggak sudah lumayanlah di sini diusahakan always on display-nya. Belum ada klaim untuk touch sampling rate-nya, tapi kalau kita tes itu enggak terasa ada delay-delay yang mengganggu. Nah, dipakai buat ngetik, swipe swipe, taptap, main game itu lancar-lancar aja. Untuk layar tentunya dia sudah support sampai 10 jari sekaligus udah seperti tablet ya. Lanjut kita bahas bezel layarnya dan ini sudah terhitung sangat tipis dan tergolong simetris untuk seluruh sisinya. Mantap. Ini katanya Kris ya. Ini menambah kesan premium karena umumnya di smartphone kelas gini bezelnya masih pada tebal-tebal. Keluarga trans biasanya memang udah seperti ini ya. Sekarang standar layarnya di tahun 2025. Nah, di layar ini juga ada in display fingerprint scanner yang akurasinya cukup baik ya selama kita uji lancar-lancar aja fingerprint scannernya. Oke, lanjut ke atas layarnya. Terdapat earpace untuk nelepon di sini dan ada kamera selfie 32 megap f2.4 fix focus. Perekaman videonya sampai 2K 30 fps. Apakah bisa 60 fps? Sebetulnya teoritis bisa ya. Tapi kali ini tekno mengganti nama mode frame rate-nya yang dulunya 60 fps sekarang jadi hfps. Maksudnya gimana? Detailnya nanti dijelasin sama Kris dalam pengujian. Nah, beralih ke sisi belakang. Ada dua modul kamera yang kameranya terdiri dari kamera utama 50 megapel. Sensornya Sony Lyt 700C. Lisia lia. Ya, itulah pokoknya ya dilengkapi dengan OIS bukannya F1.9. Pereekaman video maksimum sampai 2K 30 fps. Slow motion tersedia di 720 fps. Lalu ada kamera ultrawide di sini di jutaan ada ultrawide resolusinya 8 megapel dan autofokus. Jadi dia bisa jadi kamera makro juga. Akhirnya nemu juga yang seperti ini di kelas harga segini ya. Untuk perkaman videonya up to 1080p 30 fps. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Udah autofokus, sudah hebat banget. Udah hebat banget ya. Fitur ekstra ada cukup banyak ya. Bisa dilihat aja di menu kameranya ini. Hm, banyak banget nih fitur ekstranya. Oke. Nah, meskipun modul kamera terlihat ada tiga, tapi yang berfungsi cuma dua ya. Yang satu cuma hiasan aja. Ini luar biasa. Baru kali ini kami nemu bahwa ada tiga begini sama-sama gedenya dan di bawahnya benar-benar enggak berfungsi atau sebetulnya ada fungsinya tapi kami enggak dikasih tahu. Yang jelas ya enggak kepakai aja. Mau diselotip juga ya baik-baik aja gitu ya. Lanjut untuk spesifikasi internalnya. SOC-nya Helio G100 ya. Ya, ya udah bosan, udah bosan sama Helio G100. Tapi ya udahlah ya, enggak usah protes. Di harga segini dengan performance level seperti ini G100 sudah termasuk yang mumpuni. Selama harganya benar sih kita enggak masalah ya. Untuk RAM 8 gig LPDDR 4X dan untuk storage unit kami ini pakai yang 128 GB UFS 2.2. Ya wajar ya G99, G100 pasti pakai UFS 2.2. Jangan bilang kenapa enggak pakai 3.1 karena SOC-nya G100. Itu jawabannya. ya. Nah, tapi kalau butuh yang lebih gede storage-nya itu ada ada yang opsinya di 256 GB. Baterai seperti dibahas tadi 5200 mAh dengan wire charging-nya di 45 watt. Untuk wireless charging belum bisa itu jatah saudaranya ya, bukan jatahnya dia ya. Paling tidak tetap ada beberapa fitur baterai yang berguna di sini. Ada baterai health di sini ya. Fitur baterai yang berguna tapi mungkin nakut-nakutin juga ya. Ada pengaturan charging speed dan bypass charging ada di sini. Cocok banget buat yang suka gaming sambil nge-charge ya. Nah, lalu untuk calling system gak disebutkan secara spesifik pakai vaper chamber atau bukan, tapi yang jelas ada beberapa komponen untuk penyebaran suhu seperti di gambar ini ya. Ya lumayan lah ya. Lalu untuk sensor lengkap di sini sensor esensial ada semua. Gyroskop hardware juga ada di sini. OS dia pakai High OS 15 berbasis Android 15. Kekinian banget nih untuk update, Tchno menjanjikan tiga kali Android update dan ada 5 tahun security update. Mantap ya. Ini langka di kelasnya ya. 5 tahun security update itu komitmen yang luar biasa. Apalagi buat smartphone kelas 2 jutaan gini. Nah, untuk tampilan UI-nya ada perubahan yang signifikan di sini. Misalnya panel notifikasi sekarang jadi begini nih. Dan untuk masuk ke contrtrol center tinggal geser kiri kanan seperti ini ya. Menu dalam sett juga kelihatan lebih rapi di sini ya. lumayan refreshing lah dibandingkan iOS sebelumnya. Ini terasa banget bahwa Transion Group mulai bebenah di sisi software. Ayo hati-hati yang software-nya masih benah terus ya. Udah bertahun-tahun masih benah, masih belum beres-beres ya. Entar dikejar loh sama yang satu ini. Nah, untuk iklan gimana? Sejauh ini kami belum menemukan iklan yang mengganggu ya. Paling-paling dari notifikasi-aplikasi bawaan aja. Tapi kalau notifikasi kan mudah ya matiinnya. Nah, untuk blotware juga termasuk sedikit ya. Kalau ada juga sebagian besar bisa di-uninstal dan yang paling penting enggak ada pinjol. Nah, untuk fitur AI ya ini tidak disangka-sangka tapi agak diduga-duga sebetulnya ya. Ada banyak di sini sebetulnya karena semuanya lagi mengarah ke AI ya. Jadi sebetulnya tidak disangka bahwa dikasih cuma kami sudah menduga-duga apalagi yang mau yang baru harusnya AI ya. Ya, pertama tadi sudah dibahas ya, ada Ella yang merupakan AI assistant dari Tekno. Ada call assistant yang bisa merangkam percakapan kita saat nelepon seluler ya ke dalam bentuk teks. Bahkan bisa real time translation. Jadi kalau lagi teleponnya dengan orang yang beda bahasa, cukup ucapkan kalimat versi bahasa kita. Nanti lawan bicara akan mendengar versi translate ke bahasa mereka. Lalu apakah ini bisa untuk aplikasi telepon seperti WhatsApp atau mungkin video call di Google Meet? Bisa juga ya. Nyalain dulu fitur social assistant lalu atur bahasa dan suara kita dengan lawan bicara juga ya. lalu tinggal teleponan pakai bahasa masing-masing AI-nya yang akan bantu translate. Kemudian ada juga translation assistant. Ini merupakan shortcut untuk translate teks yang ada di dalam layar. Caranya cukup tahan layar pakai dua jari seperti ini di area teks yang ingin kita translate. Pilih mau ditranslate ke bahasa apa, beres. Tentunya ada fitur AI eraser dan AI extender. AI eraser ini biasa ya buat ngapus-ngapus objek gitu ya. Bisalah ya kita bisa ngapus objek lalu bagian kosong akan digambar oleh AI. Hasilnya ya lumayan rapi juga. Lalu ada AI extender ya, misalnya kita framing-nya kurang pas nih, mau dilebarin bisa. Bisa juga di sini. Lalu ada AI node recording summary, AI wallpaper generator, AI cut out, circle to search. Ya, ini ada juga semuanya ya kalau dibahas semuanya akan panjang banget nanti. Entar kayak videonya yang Galaxy sat-nya lagi ya, jadi panjang karena bahas AI ya. Yang jelas untuk 2 jutaan ini salah satu smartphone dengan fitur AI yang terbanyak saat ini. Tekno sepertinya enggak pilih kasih ya walaupun 2 R jutaan dikasih semua fitur E-nya enggak pakai di pangkas-pangkas ya. Kalau kalian menduga kok fitur EA-nya mirip sama saudaranya ya namanya juga saudara terserah apapun caranya, strateginya yang penting kita sebagai konsumen bisa ngerasain fitur canggih dan terjangkau. Enggak usahlah pakai dikata-katain ya contekan ya kopian. Enggak usah dapat ya dapat aja. Kalau situ ngiri ya ngiri aja enggak usah pakai dihina-hina. Lanjut untuk fitur keamanan ada inisplay fingerprint ada face unlock juga tentunya di sini. Untuk kontivitas 5G tentu tidak bisa ya, 2G, 3G, 4G aja yang bisa karena dia pakai G100. Wii-nya Wii 5 dan Wii sharing juga tersedia. Bluetooth-nya versi 5.4 dan Bluetooth codec itu ada banyak. Lihat aja di menu yang satu ini ya. Lumayan lengkap. USB OTG jelas bisa. NFC ada dong di sini ya. Ya, tuh dengar tuh ya. Ada dong NFC di R jutaan ya. Nah, untuk display out tentunya belum bisa di sini kan. Itu fiturnya masih di kelas flagship aja. Oke, kita masuk ke pengujian performa. Kita mulai benchmark dulu ya. Di smartphone ini tidak ada opsi performa pada menu setting. Jadi, benchmark-nya kita uji apa adanya aja. Antutu 10-nya entah kenapa sekarang jadi light semua ya. Mungkin G100, G99 sekarang jadi light semua. Kita dapat di 430.000-an. Untuk Geig Base 6 core 729 multiore di 1981 untuk JFX BX off screen 1080p 68 fps 3max sling shot grafic di 2634. Nah, sekarang kita coba pakai stress test ya dengan 3Dk wild life stress test. Best scor-nya sangat tinggi distribut-an dengan lowest score juga distribut 300-an. Stability-nya tanpa kipas udah di 99,4% jadi udah mantap. Overall dari benchmark ini performanya khas Helio G99 atau G100 lainnya ya. Itu dua sama performance-nya ya. Mirip-mirip aja lah ya. Nah, performanya juga pas. Lagi pula belum banyak juga yang bisa lebih kencang jauh untuk kelas harganya. Oke, kita lanjut langsung untuk gaming. Nah, untuk game kita bisa mengatur mode performanya lewat menu overlay-nya ini ya. Kami uji dengan performance mode supaya performa gamingnya bisa maksimal. Kita mulai dari SA servers dulu. Sayangnya yang satu ini masih nyangkut di 60 fps ya karena refresh ter smartphone-nya nyangkut di 60 Hz juga. Mau diatur ke berapa pun ya dia akan tetap jalan di 60 Hz. Tapi ya enggak apa-apalah yang penting game-nya mulus lancar di sini ya. Lanjut untuk Mobile Legends. Grafisnya bisa sampai ultra dan frame rate di super yang artinya 90 fps. Kalau dimainkan tuh lancar-lancar aja dekat 90 fps. Kalau turun itu paling pas battle lagi ramai aja dan itu pun masih di atas 60 fps. Jadi masih enak banget untuk nge-push rank di sini ya. Lanjut real racing 3. Yang satu ini bisa jalan di refresh rate 120 Hz dan frame rate-nya kita dapat sekitar 110 sampai 120 FPS. Kalau ramai sih bisa turun ke 80-an FPS tapi tetap aja ya. Paling enggak lewat game ini kita bisa merasakan smooth yang ekstra karena di atas 60 fps. Oke, kita lanjut ke PUBG Mobile. Settingnya baru sampai smooth ultra saja. Ini klasic Helio G100 nih ya. Frame rate-nya di 40 fps. Lancar, udah nyaman dimainkan walaupun belum sampai ke level kompetitif. Gyo aing, wah lancar banget. Sangat responsif. Di sini kita enggak menemukan masalah apa-apa. Lanjut ke Genensin Impact ya. kita setting eh lowest 60 fps. Standar lah G99, G100 selalu di lowest 60 fps. Frame rate-nya ada kisaran 30 sampai 40-an FPS. Tapi sayangnya setelah main sekitar 10 menitan itu pengalamannya juga kurang mulus aja. Frame rate bisa drop ke kisaran 20-an FPS dan cukup sering terjadi sampai pengujian selesai. Biasanya benaran performa kayak gini gara-gara e menjaga suhu nih biasanya ya. Sekarang kita cek suhunya. Suhu di layar paling panas 38 derajat Celcius aja. Oh ini adem ya. Body paling belakang juga di 40 derajat Celcius. ini masih angat tipis-tipis doang, terutama yang bagian belakang. Bagian depan sih tergolong adem ya dan penyebaran suya sendiri sudah cukup merata di sini. Nah, sekarang kita coba kalau pakai kipas gimana. Hasil masih mirip-mirip aja, masih kisaran 30 sampai 40 fps tapi kestabilannya jadi lebih baik. Nah, jadi kalau main game yang satu ini secara maksimal, ah pakailah kipas ekstra. Nah, untuk ranking tanpa kipas dia turun ke C minus. Kalau pakai kipas dia C. Tapi menurut kami sih wajar. Namanya kan cam on ya kan buat kamera ya. bukan game on. Beda beda. Lanjut untuk watering wave. Sayangnya ya ini belum pas ya dimainkan di sini ya. Semua rata kiri frame rate 60 fps cuma dapat 20 sampai 30 fps. Itu juga banyak patah-patahnya lah di sini. Untuk jalan-jalan masih bisalah tapi kalau buat battle masih kurang bisa disarankan. Semoga entar developernya bisa mengoptimalkan supaya lebih banyak lagi yang bisa main watering wave. Oke lanjut pengujian kamera seperti biasa bareng sama Kris ya. Oke, di tangan saya kali ini sudah ada Techno Canon 4. Jadi, langsung aja kita lihat kemampuan kameranya seperti apa. Yang lagi teman-teman lihat sekarang ini adalah video kamera selfie-nya. Saya rekam di resolusi 1080p 30 fps dan suara yang lagi kalian dengar sekarang juga suara langsung dari mikrofon smartphone-nya. Saya enggak pakai mikrofon eksternal. Untuk kebutuhan video sehari-hari atau vlogging hasilnya seperti ini. Nah, gimana suaranya menurut kalian? Kalau menurut saya pribadi sih kualitas suaranya udah cukup bagus untuk vlogging atau video sehari-hari mah udah cukup banget. Cuma mungkin karakter suaranya itu suara vokal jelas, tapi suara noise di sekitar juga lumayan jelas. Masuk semua noise-nya. Tapi kalau soal noise di sekitar mah masih bisa diakali lewat editing. Yang penting kalau menurut saya sih vokalnya udah jelas banget. Nice. Oke, kita lanjut bahas kamera selfie-nya. Kualitas gambarnya sudah terbilang bagus ya. Detailnya pas, ketajamannya juga pas. Kalau soal dynamic range ini standar aja sih. Di kondisi cahaya yang sulit, wajah masih bisa terekspos dengan cukup baik. Tapi area terangnya terlihat over expose. Tapi kalau di kondisi cahaya yang ideal, hasilnya sih bagus-bagus aja. Lalu untuk resolusi perekamannya itu bisa sampai 1080p 30 fps, tapi juga ada opsi 1080p H ffps di sini. HFPS di sini sepertinya dimaksudkan sebagai high FPS ya. Saat kami cek di PC terlihat kalau frame rate ada di kisaran 40 fps. Jadi bukan 60 fps mode yang ini. Ditambah lagi setelah saya cek video 1080p 30 FPS-nya, ternyata tidak berjalan dengan baik di 30 fps. Awalnya saya curiga kok videonya terasa kurang mulus ya. Saat dicek detail frame rate-nya ternyata cuma jalan di 26 FPS. Padahal fitur auto FPS-nya sudah saya matikan. Agak disayangkan sih, semoga ini bisa di-fix lewat software update. Kemudian ada juga opsi 2K 30 fps untuk yang butuh detail lebih. Tapi ini membuat fitur stabilizer tidak bisa nyala ya. Sekarang kita lanjut ke stabilisasi videonya. Di 1080p 30 fps. Hasilnya cukup stabil karena EIS-nya bisa aktif. Untuk 1080p h ffps ternyata ini juga bisa stabil. Ini menarik ya. Transion Group seperti mencari solusi dari keterbatasan Helio G100 atau G99 yang biasanya di smartpot-smap sebelumnya itu bisa tuh video 60 fps normal tapi stabilizernya mati. Di sini videonya sekitar 40-an FPS tapi stabilizernya masih bisa hidup. Kalau untuk resolusi 2K 30 fps jelas gempa ya karena stabilizernya tidak bisa aktif di resolusi yang ini. Lanjut ke kamera utamanya. Videonya sudah oke banget nih. Detailnya tergolong tinggi, warna juga enggak oversaturated. T warnanya terasa dibuat natural menurut saya. Untuk damic range ini terbilang standar ya. Kondisi pencahayaan yang sulit bagian wajah akan lebih diprioritaskan dan area terangnya terlihat over expose. Di sini ada fitur HDR video dan ketika kami nyalakan sayangnya kurang gitu terasa sih bedanya tetap over expos juga di bagian terangnya. Nah, untuk opsi resolusi kamera utamanya ini mirip ya dengan kamera selfie-nya. tersedia sampai 1080p Hfps dan 2K 30 fps. Tapi lagi-lagi masalah yang saya temukan ada di frame rate-nya. Di video ini frame rate-nya hanya berjalan di 27 FPS bukan 30 fps. Sedangkan untuk high FPS frame rate-nya berjalan di 40-an FPS. Ini menurut saya harus segera difix si lewat over update. Masalah fundamental soalnya. Untuk stabilisasi video sudah cukup baik di 1080p 30 fps. Belum bisa dibilangnya super rapi sih karena masih ada kedut-kedutnya ch sedikit. Untuk 1080 pH FPS juga masih bisa stabil. Tapi lagi-lagi diingat ini bukan 60 fps ya. Dan untuk 2K 30 fps, IIIS-nya tidak bisa aktif tapi masih ada bantuan dari OIS-nya. Jadi memang lebih goyang tapi enggak sampai gempa-gempa banget kok. Lanjut ke kamera ultrawide. Di kondisi terang hasilnya cukup bagus. Detailnya masih oke. Warna cenderung mirip dengan kamera utamanya. Yang jelas ini bukan ultrawide asal ada aja. Di kelas 2 jutaan malah ini deh kayaknya kamera ultrawide terbaik saat ini. Yang lain malah banyak yang enggak ngasih ultrawide loh. Dan yang paling unik, kamera ultrawide-nya ini autofokus jadi bisa dipakai untuk makro juga. Ini hal yang sangat saya apresiasi. Mantap nih Tekno. Mending kamera kayak gini ketibang kamera makro GB jelas. Untuk dynamic range di sini standar aja. Di kondisi cahaya yang sulit seperti ini, area terang akan terlihat over expose. Tapi kalau di kondisi cahaya ideal ya bagus-bagus aja. Masalah yang saya temukan masih sama, yaitu frame rate-nya enggak nyampai 30 fps. Videonya jadi kurang mulus. Masalahnya baik dalam kondisi smartphone lagi adem juga itu tetap frame drop. Jadi saya agak kurang yakin kalau ini karena suhu. Untuk stabilisasi video efektifnya di 1080p 30 fps aja. Karena kalau kita naikkan ke 2K 30 fps stabilizernya tidak bisa aktif. Nah, sekarang kita ke kondisi low light. Kamera selfie-nya gambarnya terbilang gelap. Terlihat agak greeny juga, tapi wajah masih bisa cukup terlihat. Noise-nya minim, stabilizer juga termasuk aman. Jiternya sih ada, tapi tipis aja. Enggak sampai membuat video terlihat berantakan kok. Enggak. Kalau kita pakai mode 1080p fps, terlihat kalau gambarnya memang jadi lebih gelap. Ini wajar ya, karena FPS yang lebih tinggi memang umumnya butuh cahaya yang banyak juga. Nah, sekarang kita pindah ke kamera utamanya. Kalau kamera utamanya terbilang oke nih, masih bisa diandalkan untuk video low light. Gambarnya masih cukup terang dengan noise yang minim. Detail memang sudah berkurang, tapi sepertinya ini akibat EIS aktif juga deh. Jadi videonya butuh dizoom dikit. Menariknya saat kita coba di 2K30 FPS detailnya terlihat lebih baik. Berhubung masih ada OIS, saya rasa bisa pakai mode yang ini deh untuk hasil video yang terbaik. Yang jelas kurang disarankan pakai mode HFPS di kondisi low light. Bahkan kamera utamanya juga sudah agak berantakan kok gambarnya. Jadi pakai 30 FPS aja. Untuk Ger stabilizer tentunya ada, tapi masih di level yang wajar. Sekarang kita lanjut ke kamera ultrawide-nya. Di kondisi low light, kamera ultrawide-nya sudah agak kewalahan nih. Gambarnya sudah terasa soft dan noise-nya juga tinggi. Di sini gambarnya juga gelap, terasa jomplak banget dibandingkan dengan kamera utamanya. Tapi lagi-lagi ini wajar. Ingat harga, cuy, jangan lupa. Overall di kondisi low light seperti ini, saran saya pakai kamera utamanya aja. Nah, urusan autofokus kita langsung coba aja saat malam. So far aman ya. Kamera utamanya sih lancar-lancar aja autofokusnya. Nah, untuk kamera ultra wide ini, pengguna mesti ekstra hati-hati karena autofokusnya agak kurang lancar. Bahkan dari pengalaman saya, fokusnya perlu diap manual kalau jarak dekat seperti ini. Dan hal yang aneh, saat kita pindah dari kamera utama ke ultrawide, selalu ada proses fokus ulang dulu seperti ini. Jadi, agak sabar sedikit aja saat pakai kamera ultrawide-nya. Untuk fotografi menurut saya hasilnya sudah terbilang bisa diandalkan lah untuk mengabadikan berbagai momen. Di siang hari kamera selfie, kamera utama, kamera ultrawide sama-sama sudah menghasilkan foto yang bagus. Sementara untuk low light, kamera utama dan selfie-nya masih cukup baik. Tapi untuk kamera ultra wide-nya kami rasa masih perlu ditingkatkan lagi. Nah, sekarang kita bahas fitur ekstranya. Di sini saya cobain flashnap. Pada dasarnya ini adalah fitur untuk menangkap momen cepat dengan membuat kameranya memprioritaskan shutter speed. Kita juga bisa pakai fitur ini lewat one tap button-nya. Tinggal double klik aja tombol ini, lalu pencet sekali lagi untuk shutter. Ini bisa kepakai banget kalau ada momen cepat yang pengen kita ambil. Lalu ada fitur dual video. Fitur ini bisa bikin kita merekam video dari dua kamera sekaligus antara kamera selfie dan kamera utamanya atau kamera selfie dan kamera ultrawide-nya. Menarik nih. Dan untuk resolusinya bisa sampai 1080p 30 fps. Berikutnya saya juga coba slow motion. Opsi resolusinya hanya satu yaitu 720p 120 fps. Untuk hasilnya kurang lebih seperti ini. Gambarnya tidak sedetail mode video normal dan ini masih hal yang wajar untuk kelas harganya. Lalu, ada mode pro juga di sini dan ini bisa kita gunakan untuk foto di kamera utama dan juga kamera ultrawide-nya. Untuk detail pengaturan ISO dan shutter speed bisa dilihat di layar aja ya. Overall ini adalah kamera yang bagus untuk kelasnya. Kalau ditanya apa yang masih kurang, menurut saya ada beberapa sih. Pertama, software kameranya masih butuh perbaikan dari sisi fitur serta user experience. Contoh sederhana deh. Entah kenapa grade 3 * 3 itu tidak ada di mode video dan isu frame rate menurut saya harus segera difix. Untuk mayoritas pengguna mungkin masih tidak terlalu terasa mana 30 FPS, mana 26 FPS. Tapi ini hal fundamental sih. 30 FPS ya harusnya jalan di 30 fps. 60 fps ya 60 fps. Ini tuh bukan keterbatasan hardware kok. Jadi harusnya bisa L ya tim tekno. Kemudian saya juga kurang setuju dengan keputusan tekno atau trenstion group lah lebih tepatnya untuk mengganti istilah 60 fps jadi hfps. Namanya setting frame rate dibuat jelas aja lah. Enggak perlu pakai istilah ambigo seperti ini. Kemudian meskipun sekarang sudah ada kamera ultrawide tapi ekspektasi kalian juga perlu disesuaikan ya. Kualitasnya jangan dibandingkan dengan kamera utamanya. jelas beda. Kemudian fitur promote belum mendukung untuk perekaman video. Tapi terlepas dari komplain saya untuk kelas harganya smartphone ini masih jadi rekomendasi yang cukup mudah untuk kalian yang mencari smartphone yang kameranya oke di kelas 2 jutaan. Belum banyak soalnya pesaingnya yang bisa punya kamera sebagus ini. Sekian pengujian kameranya Technoon 40. Kita lanjut lagi ke pembahasan berikutnya. Oke, kita lanjut lagi ke pengujian baterainya. Untuk YouTube local video playback 1080p non HDR lokal ya. Dia dapat 18 jam 30 menit. Ini hasil yang e normal-normal aja sih. Kalau baterainya di 5000 mAh. Sayangnya ini 5.200. Jadi sebetulnya kita berharap sedikit lebih. Penginnya sih di atas 20 sebetulnya ya. Tapi ya sudahlah enggak apa-apa. Udah terlalu banyak juga yang diberikan di sini ya. Enggak apa-apa jugal lah segini. Untuk YouTube streaming selama 30 menit masih oke di 3% baterai turun. TikTok 30 menit juga masih oke di 4%an baterai turun. Dan untuk Gensin Impact 30 menit di lowest 60 fps pun baterai turun di 9% yang berarti masih cukup oke. Oke, sekarang kita tes charging pakai charger bawaan yang 45 watt ya. Berhubung app pencetat baterainya kurang bisa berjalan dengan baik, di sini kita baru bisa mencatat dari 0 sampai 100% aja ya. Dari 0 sampai 100% butuh waktu kisaran 50 menit. Sedikit lebih lama dibandingkan klaimnya yang 43 menit. Tapi selama masih di bawah 1 jam kami rasa ini masih tergolong kencang. Apalagi mengingat baterainya bukan 5.000 loh, 5.200. Ya, lanjut untuk eh Netflix udah WiFi L1 jadi streamnya sampai full HD. HDR ya tentunya belum ada lah di sini ni G100. Lalu untuk YouTube streamnya juga 1440p lagi-lagi belum ada dukungan HDR dan streamingnya lancar aja sih di sini enggak ada masalah juga. Untuk heptic feedback, nah sayangnya fabrican motor yang digunakan sini kurang oke ya. Agak beda dengan saudara-saudaranya yang heptiknya tuh terasa berkelas di sini. Tapi kalau kalian enggak terlalu bergantung sama efek getar harusnya sih ini bukan masalah. Oke, untuk harga SRP-nya untuk yang 8128 adalah di 2,6 jutaan. Sementara yang 8256 di 2,8 jutaan ya. Yang jelas 8256-nya lebih murah daripada saudaranya yang bisa wireless charging itu. Oke, untuk hal yang perlu diperhatikan walaupun baterai 5.200 mAh, tapi kemampuan baterai biasa aja nih. Berasa kayak pakai 5.000 gitu ya. 5.000 yang agak lama nih cenderung agak kurang menurut kami. Kemudian belum ada opsi warna layar yang mendekati 100% SR RGB. Jadi buat ng-edit warna di foto atau video itu harus agak hati-hati aja. Kemudian kamera ultrawide autofokus. Ini bisa jadi hal yang baik, tapi terkadang bisa jadi masalah kalau penggunanya enggak hati-hati karena kalau fokusnya kurang pas bisa blur fotonya ya. Jadi dilihatin yang benar itu ya. Kemudian htic feedback-nya kurang berkelas. Always on display juga cuma 10 detik. Dia udah enggak punya headphone jack juga dan adapter harus nyari sendiri. Dan terakhir kalau kalian berencana untuk beli yang 128 gig pastikan cukup atau tidak untuk kalian. Personally kami akan bilang belian 256 aja nanggung bedanya. Dan untuk expansion RAM-nya dimatiin aja ya dia nikmati aja 8256 tanpa expansion RAM kalau menurut kami ya pilihannya yang itu harusnya. Ah dari segi kelebihannya nah body smartphone-nya ini super tipis dan enteng. Desain sih emang ee masalah selera ya, tapi buat kami sih ini fresh aja ya untuk smartphone R jutaan ya. 2021 ke 2025 4 tahun cukup dong, cukup lama untuk menganggap ini sebuah desain yang fresh ya. Lagian ini ada miring-miringnya lah, Kris. Enggak enggak kotak-kotak banget gitu kan ya. Lalu kemampuan kameranya ini sangat keren baik foto maupun videonya. Punya optical image stabilizer juga dan fitur kameranya banyak terutama untuk flash snap yang jadi andalan smartphone yang satu nih. Performanya kencang walaupun G100 lagi, G100 lagi tapi ya udah ya udah ok lah maksudnya untuk untuk kelas harga segini. Layar AMOLED 120 Hz, mantap. RAM-nya udah 8 gig. Storage-nya juga pakai UFS dan ada yang 256 tadi ya. Charging juga lumayan kencang. Chargernya masih ada dalam box. Ada bypass charging ya. Nah, itu baru serius tuh buat diajak main game walaupun ini bukan HP gaming. Lalu stereo speaker ada di sini, infrared blaster ada di sini. Inisplay fingerprint, NFC juga ada, IP66. Hmm, ya. Pelan-pelanlah IP6 dulu. Mungkin tahun depan IP6 atau IP68 ya. Lalu, fitur AI-nya banyak, upgrade OS-nya mantap. 3+ 5 ya. Ya. Jadi bisa dilihat ya, Techno Cemon 40 ini menawarkan kemampuan yang allrounder dengan kelebihan utamanya di sisi kamera. Cocok buat siapapun yang lagi menyari smartphone serba bisa di kelas 2 jutaan atas ya. Ini bukan 2 jutaan bawah soalnya ya. Ee dia akan cocok banget di sini. Meskipun searnya bisa memberikan kemampuan yang mirip tapi kalau diperhatikan ee secara detail techno Camon ini tetap punya keunggulan tersendiri. Desain menurut kami ini lebih menarik. Update OS ini lebih panjang. punya tombol ekstra dan harganya lebih murah. Ya, yang jelas untuk kelas 2 jutaan ini adalah smartphone yang sangat mudah untuk di rekomendasikan. Saya D Irfan JakaB TV. [Musik]
Video Lainnya
Tecno Camon 50 Pro 5G sempat dipandang sebelah mata saat pertama kali meluncur karena label harganya yang menyentuh angka 5,5 jutaan terasa terlalu mahal. Namun,...
Persaingan ponsel sejutaan semakin sengit berkat kehadiran dua saudara kembar yang menawarkan spesifikasi menggoda. Meski sekilas tampak serupa dengan layar mulus...
Pasar ponsel pintar kelas entri kembali diguncang oleh kehadiran Tecno Spark Go 3, sebuah perangkat yang tampaknya siap mendefinisikan ulang ekspektasi pengguna di...
Pasar ponsel pintar kembali diguncang oleh kehadiran gawai ramah kantong yang secara mengejutkan tampil sangat identik dengan desain perangkat flagship termewah...
Kenaikan harga smartphone di kelas entry-level sering kali membuat kita berekspektasi lebih terhadap peningkatan fitur yang dibawa. Namun, Tecno Spark Go 3 justru...
Pasar ponsel pintar kelas menengah kembali diguncang oleh kehadiran Tecno Camon 50 yang membawa kombinasi spesifikasi ekstrem, mulai dari baterai raksasa hingga...
Kondisi pasar teknologi global belakangan ini memang sedang bergejolak, memicu lonjakan harga yang cukup terasa pada berbagai perangkat elektronik modern, termasuk...
Berburu ponsel baru di rentang harga Rp3 hingga 5 jutaan menjelang momen Lebaran kini terasa jauh lebih menantang sekaligus memuaskan. Pasar mid-range tahun ini...
Pasar laptop premium super tipis kini kedatangan penantang baru yang siap mengusik dominasi nama-nama besar. TECNO Megabook S14 hadir mendobrak stigma dengan...
Pasar ponsel pintar kelas menengah kembali diguncang oleh inovasi radikal yang menantang batas desain konvensional. Melalui Tecno Pova Slim, industri disuguhkan...
Berburu ponsel baru di rentang harga Rp 1 hingga 5 jutaan kini terasa seperti menjelajahi medan perang spesifikasi yang sangat sengit. Menariknya, pergeseran tren...
Pasar ponsel pintar di penghujung tahun selalu menyajikan kompetisi sengit, di mana deretan perangkat baru saling sikut demi memikat hati konsumen yang bersiap...

















