Jungkat

2 Jutaan? Percayalah, ini yang terbaik! - Review Tecno Spark 40 Pro+ (YouTube Video)

  • 16/10/2025

Kalau kita ingat dulu itu smartphone itu keluar setiap 1 tahun sekali. Jadi setiap 1 tahun biasanya mereka baru ngadain acara. Tapi sekarang enggak tahu kenapa semakin ke sini semakin banyak brand yang ngeluarin smartphone, terutama brand-brand dari Tiongkok. Mereka tuh ngeluarin handphone tuh enggak cuma setahun sekali, tapi kayak 8 bulan sekali atau bahkan 6 bulan sekali. Saya masih ingat 6 bulan yang lalu ada Techno Spark Pro, Spark 30 Pro dan 6 bulan kemudian ada HP ini Techno Spark 40 Pro Plus yang mana hanya membutuhkan waktu 6 bulan untuk brand techno merilis smartphone barunya. Gokil. Udah kayak kucing dia beranak. Terus di HP ini kalau kita perhatikan mereka mengusung desain ee tanpa sudut. Iya, kalian enggak akan menemukan lagi sudut-sudut tajam di HP ini karena semua bagiannya dibuat melengkung mulai dari frame, terus layar, pokoknya semua melengkung gitu. Sampai bagian frame kamera juga dibuat enggak ada garis lurus gitu. Tapi punya lengkungan-lengkungan alias cenderung membulat. Apakah desainnya bagus? Secara pribadi saya suka ya karena desainnya terlihat smooth dan kelihatan cakep gitu. Enggak kaku terutama untuk pemilihan warna yang kesannya kayak modern gitu. By the way, frame kameranya ini terbuat dari aluminium ya, dari metal. Cakep dah kayak CNC gitu. HP tipis ini kelihatan cukup durable karena dia punya sertifikasi IP64 yaitu udah tahan debu dan percikan air. Ingat ya, ini percikan air bukan tahan air. Jadi enggak bisa diajak buat berenang. Untuk layar dia pakai layar berjenis curve berpanel AMOLED. Jadi pinggirnya itu melengkung gitu. Kalau HP ini keluar 3 4 tahun yang lalu pakai layar curve sudah pasti HP ini masuk kategori mewah. Masalahnya sekarang hampir semua HP-HP midrange. Enggak semua sih banyaklah banyak banget yang pakai layar curve. Artinya punya layar curve sudah tidak spesial lagi. Maksudnya biasa aja gitu. Kalau saya pribadi jujur enggak terlalu suka dengan layar curve. Pertama, karena memang secara durability saya agak deg-degan selalu pakai layar curve. Karena kalau dia jatuh dan kena bagian melengkungnya bisa dipastikan itu pecah duluan. Yang kedua, susah banget nyari temper glassnya ya. Bahkan mungkin enggak ada. Jadi mau enggak mau untuk layar curve dia hanya bisa menggunakan anti gores biasa eh hydrogel atau apalah itu namanya gitu. Jadi saya pribadi enggak suka sama layar curve. Walaupun layar di HP ini menurut saya bagus untuk harganya. Kerasa sangat memanjakkan mata sekali. Ukuran layarnya sendiri 6,78 inch dengan resolusi yang lumayan tinggi yaitu 2720 * 1224 piksel atau sering disebut sebagai 1.5K. Refresh rate-nya tinggi 144 Hz. Layarnya menurut saya juga bagus untuk sebuah HP mid range. Beratnya juga lumayan tinggi karena tembus sampai 4.500 nits. Buset, tinggi banget ya. Layarnya juga support HDR berjenis Pro XDR. Buat nonton YouTube atau Netflix juga menurut saya nyaman. Apalagi HP ini udah support HDR ya. Jadi konten-konten HDR itu bisa kita lihat di platform-platform tersebut gitu. Responsivitas layarnya juga menurut saya lumayan oke. Saya enggak ngerasain adanya gejala lemot atau latensi yang ngeganggu gitu. Untuk durability dia udah berlapis kaca Corning Gorilla Glass 7i. Secara spek sih oke ya layarnya ya. Untuk SOC-nya dia pakai Helio G2. Buat yang belum tahu Helio G200 itu suksesor dari Helio G100 yang mana Helio G100 adalah suksesor dari Helio G 99. The Mighty and Legend dari SoC yang sudah dipakai jutaan smartphone. Anjay. Tapi kalau ngomongin soal spesifikasi sebenarnya G99 sama G100 dan G200 itu sebenarnya secara garis besar mirip. Performanya juga hampir 111. Bedanya cuman kayak berapa peningkatan kayak misalnya maksimum resolusi kalau enggak salah terus maksimum kamera yang bisa di-support oleh SOC gitu. Cuma itu. Selain itu sama aja. Jadi performa G200 itu memang identik dengan G99. Jadi untuk performa ya G99 tuh dulu bisa disebut sebagai mid range ya, tapi kayaknya sekarang masuk kelas entry level enggak sih? Tapi yang pasti performanya ya lumayan okah dengan G200. Secara pun HP ini identik dengan G99 mulai dari Antu yang bisa tembus di angka R00.000-an. Untuk Geig bench dapat ee 729 untuk single core-nya. dan 1873 untuk multicore-nya. Dan surprisingly, HP Tims ini ternyata punya sistem pendinginan yang optimal. Karena kalau kita lihat dari hasil pengujian di benchmark 3D Mark, terlihat kalau HP ini sama sekali tidak menunjukkan gejala throtlink di mana stability-nya ada di angka 99%. Buat penggunaan casual sih HP ini menurut saya lumayan lancar ya, lumayan nyaman gitu. Multitasking lancar, pindah dari satu aplikasi ke aplikasi yang lain juga smooth, responsif. Saya juga coba main Mobile Legends di HP ini. E kita bisa set rata kanan ya. Grafisnya bisa kita set ke settingan ultra, resolusinya di HD dan FPS-nya di super. Dan waktu main kerasa smooth, enggak ada kendala sama sekali ya. Pokoknya enaklah. Terus buat main Delta Force juga settingan grafis-nya bisa kita set ke HD, tapi saat diside ke settingan grafis ini FPS turun jadi low. Kita bisa set FPS ke settingan ultimate tapi grafisnya otomatis turun ke smooth dengan konsekuensi grafis jadi mentok rata kiri. Memang sih grafisnya terlihat lebih burik ya, tapi gamepl-nya terasa lebih smooth. Gamepl-nya lancar di settingan ini. Dan saya prefer main game ini di settingan ini. Sudah mulai hujan, Guys. By the way, saya mau ngomongin soal e sensor infra merah. HP ini di spesifikasi tertulis kalau dia punya sensor infra merah. Tapi saya tidak menemukan ada bagian yang mirip dengan infra merah. Karena normalnya kan lazimnya ada di bagian atas ya. Terus tiba-tiba saya teringat dengan saudaranya yaitu Infinix Hot 60 Pro Plus. yang meletakkan infrar merahnya sejajar dengan kamera. Jadi sensor infra merahnya cosplay jadi kamera ketiga. Dan handphone ini melakukan hal yang sama. Jadi sensor infra merahnya ada di sini. Saya enggak tahu ini sebuah inovasi atau enggak, tapi menurut saya terlihat berbeda, tapi secara fungsional enggak. Karena bagaimanapun juga biasanya kan kalau kita pakai infamera kan ngemot-nya begitu ya. Cuma kalau sensor infrar raya di sini kita harus begitu tuh berasa kayak moto AC misalnya kita mau ngontrol AC gitu. Jadi agak seg sedikit award sih. Tapi saya enggak tahu mungkin kalian punya pendapat lain coba tulis pendapat kalian di kolom komentar di bawah. Oke. Buat speaker emang punya setup dual speaker sih. Tapi saya ngerasa suaranya tuh kayak kurang kencang aja gitu. Kurang lantang. Anjay lantang. Terus frekuensi low-nya juga kerasa kurang gede gitu. Jadi kedengaran lumayan flat gitu, datar kayak trble doang. Untuk software H apa ini pakai Android 15 yang pakaian termuka buatan mereka sendiri high iOS 15. Untuk baterai ada baterai segede 5200 mAh di dalam body yang tipis ini ya. Di mana baterai tersebut menurut saya udah cukup gede dan udah menggunakan teknologi silikon karbon. Itulah kenapa mereka bisa masukin baterai dengan ukuran yang gede ke dalam body yang tipis. Katan baterainya sendiri menurut saya biasa aja karena dalam pengujian dia hanya bisa bertahan sampai 13 jam aja yang mana ini udah cukup standar menurut saya artinya udah bisa dipakai dalam skenario penggunaan 1 hari aja dan di dalam paket penjualan kita juga akan menemukan sebuah kepala charger berukuran 45 watt yang sekali lagi kepala charger dari HP-HP Tchno itu selalu ditempelin stiker ya seperti yang saya bilang di review Tchno kemarin, charger kayak gini tuh kayak bikin kesan mewah dari HP itu hilang gitu terutama waktu kita unboxing si HP dan ngelihat kalau kepala chargernya mirip kayak kepala charger kiloan. Intinya jauh dari kesan baguslah menurut saya. Nah, untuk kamera sendiri seperti yang saya bilang tadi kalau lihat dari bagian belakang ini terlihat seperti ada tiga kamera dan ternyata kameranya cuma satu yaitu di bagian atas yaitu 50 megapel kamera utama. Kamera kedua saya enggak tahu ini kamera apa karena saya coba ubek-ubek di internet tidak ada informasi yang pasti yang menjelaskan ini kamera apa. Jadi biasalah handphone-handphone dari China itu suka ngasih gimmik-gimik yang enggak jelas. Yang ketiga bukan kamera seperti yang saya bilang tadi ini adalah sensor infra merah yang tentunya agak aneh sebenarnya pai infra merah di sini gitu. Tapi intinya belakangnya kelihatan kayak tiga tapi kameranya cuman satu. Kamera utamanya pakai sensor yang enggak lazim, yaitu HIX HE5022Q dengan aperture F1.6 dan udah punya PDAF atau P detection autofokus. Sedangkan kamera depannya beresolusi 13 megapel. Untuk kas kameranya dalam kondisi defult kamera akan nangkap foto pada solusi 12,5 megapel yang mana menurut saya fotonya udah lumayan oke, detailnya oke, kontrasnya juga kelihatan lumayan dengan dn damnic range yang surprisingly enggak bagus-bagus amat karena saya melihat beberapa kali dia gagal meng-highlight bagian-bagian yang gelap menjadi terang ya. Jadi fotonya malah kelihatan kayak foto HP R jutaan. Kemarannya kalau kita perhatiin sih sedikit warm atau kekuningan gitu. Jadi white balance-nya menurut saya enggak terlalu akurat ya. Nah, untuk kamera depannya yang berolusi 13 megapel justru bisa lebih saya apresiasi karena menurut saya foto-fotonya kelihatan lebih bagus ya. Tekstur kulitnya jelas, warnanya juga kelihatan natural, enggak pucet, enggak terlalu kemerah-merahan. Terus untuk fitur portrait-nya juga saya ngerasa bokehnya lumayan oke. Walaupun deteksi bagian pinggir atau separasi antara background dan foreground enggak bagus-bagus amat ya. Tapi jauh dari kesan jelek lah. Itulah kenapa foto potretnya masih oke kalau mau dipamerin di media sosial. But overall untuk HP dengan harga Rp2 juta lebih dikit. Menurut saya HP ini oke, bagus. Menurut saya juga sangat layak dibeli dan kalau dibeli sekarang harusnya kalau kalian lihat di e-commerce harganya bisa lebih murah dari harga pas rilis gitu. Apalagi kalau kalian pakai e-commerce-nya di versi mobile karena biasanya versi mobile harganya bisa lebih murah dan dapat diskon tambahan lain dibandingkan kalau kita beli atau kalian beli dari web-nya langsung gitu. Jadi untuk harus segini HP ini sangat layak dibeli kalau kalian ada budgetnya. Jadi kalau kalian cari silakan dibeli. Ya udah gitu aja video kita kali ini. Klik tombol like kalau kalian suka dengan video ini. Sudah mulai hujan guys. Ke depan untuk review-review yang seperti ini, saya akan coba bikin format yang berbeda. Jadi capek banget atau bosan banget kalau kita syuting di dalam studio. Terus jadi kita akan mencoba untuk mencari suasana yang baru sambil jalan-jalan kalau bisa sekaligus mencari sampel foto untuk smartphone yang kita review. Oke, diulang lagi tuh. Klik tombol like kalau kalian suka dengan video ini. Dan kita akan ketemu lagi di video berikutnya. Irwan pamit. Irwan pamit. Irwan pamit dan adios.

Lihat di YouTube

Video Lainnya

Brand Terkait

Tecno

Inovasi pintar, gaya masa depan. Jelajahi jajaran smartphone, tablet, dan laptop TECNO dengan desain futuristik, performa ekstrem, dan harga paling kompetitif.