2 JUTAAN! Tipis, Ringan, Kencang, & Banyak Fitur! | Review Infinix Hot 60 Pro (YouTube Video)
King Phoenix bikin ulah lagi nih. Ini HP 2 jutaan kencang dengan body super tipis dan ringan. Tebalnya eh tipisnya cuma 6,6 mm saja. Bobotnya 170 gr saja. Tapi baterai enggak disunat 5.160 mAh. SOC-nya juga masih pakai Helio G200. Layarnya AMOLED 1,5KG 144 Hz. Mantap kan? Oke, ini adalah Infinix Hot 60 Pro. Ya, Infinix Hot 60 Pro ini tipis banget ya, bahkan udah lebih tipis dari Hot 50 Pro Plus yang sebenarnya udah tipis juga tuh ya. Ya, ini jadi terasa lebih premium kalau dibandingkan dengan varian tertinggi Hot 50 series yang hadir tahun 2024. Nah, untuk Hot 60 series Infinis membawa tiga varian ke Indonesia. Ada Hot 60i, ada Hot 60 Pro, dan akan ada Hot 60 Pro Plus. Ya, jadi yang kita review ini yang posisinya di tengah-tengah. Langsung aja kita mulai bahasan satu ini dari paket penjualannya. Tentunya di dalamnya ada unit smartphone lengkap dengan screen protektor yang sudah langsung terpasang dan ada chargernya, ada chargernya, ada chargernya. Di sini ada charger 45 watt. Kemudian ada kabel USB type C. Ini A2C ya modelnya ya. Lalu ada case transparan, SIM tray ejector, dan ada paket dokumen. Jadi isi paket penjualannya masih terbilang lengkap yang satu ini. Nah, untuk desain smartphone ini terlihat menggunakan gaya yang serupa dengan seri pendahulunya. Bedanya di Hot 6 series ini, Infinish menggunakan skema warna baru color puff desain dengan enam pilihan warna. Ada slick black, coral tightes, Shire blue, jungle breath, orange rose Valley, serta titanium silver seperti yang saya pegang ini ya. Nah, body belakang dan frame smartphone ini pakai polikarbonat tapi bodinya terasa cukup solid. Frame-nya flat dan body belakang juga flat, tapi impresurannya tidak terlihat kaku ya. Smartphone ini tetap menghadirkan kesan modern dan nyaman saat dipegang. Dia punya sertifikasi ketahan debu dan air di IP64. Jadi kalau kena percikan air atau keujanan tipis-tipis masih aman yang satu ini. Untuk dimensi tingginya 163,47 mm, lebar 75,87 mm, dan ketebalan di 6,6 mm. Sementara bobotnya sekitar 170 gr. Jadi super tipis dan ringan. Di sisi kanan kita lihat ada adaptive one tap button. Nanti kita lihat ya fungsinya buat apa ya. Lalu ada juga tombol power dan tombol volume up and down. Di sisi atas ada speaker, di kiri ada SIM tray non hybrid triple slot ya. Jadi bisa diisi dengan 2 nano SIM plus 1 micro SD card. Di bawah ada 3,5 mm audio combo jack, ada lubang mikrofon, ada USBC, dan ada speaker. Terlihat di sini dia sudah pakai dual speaker. Untuk kualitasnya bagi kami ini sudah tergolong memadai ya untuk kelas harganya. Nah, kita sekarang lihat sisi depannya. Ini adalah layar 6,78 inci AMOLED. Resolusinya 2.400 * 1080 piksel. Kalau Infinix nyebut ini adalah 1,5K. Entah kenapa ya. Lalu untuk refresh rate 144 Hz adaptif. Saat kami coba swipe-swap di home screen refresh rate layar itu hanya naik turun sekitar 60 Hz sampai 90 Hz. Bahkan saat kita atur ke mode refresh rate di high ya naiknya cuma sampai 90 Hz. Nah, kalau kita buka menu setting dan pakai mode refresh rate high, nah di sini refresh rate layarnya bisa mencapai 120 Hz. Loh, kan katanya 144 Hz. Sayangnya untuk penggunaan harian kami belum nemu cara menjalankan dia di 144 Hz ya. Nah, layar ini pakai perlindungan Corning Gorilla Glass 7i. Jadi udah Corning Gorilla Glass loh di harga segini. Untuk brightness claim Infinix dia bisa mencapai 700 nits untuk indoor dan 1600 nits di high brightness mode. Dan untuk peak brightness-nya ada di 4.500 nits. Nah, untuk ujian kami brightness indoor itu ada di kisaran 714 nits dan untuk simulated outdoor-nya itu ada di 1818 nitz. Jadi layarnya memang terang banget dan sebenarnya ini melampaui klaimnya Infinix. Oke, lanjut untuk color gamut. Ada dua model warna di smartphone ini. Ada original color ini menawarkan gamut coverage di 99,2% di CP3 dan gambut volume di 115,7% di CP3. Lalu ada bright colored dengan gambut coverage di 100% DC IP3 dan gambut volume di 133,9% DC IP3. Wah, ini gonjreng banget sih ya. Sayangnya memang belum ada mode yang mengarah ke 100% sRGB. Jadi agak hati-hati ya kalau kalian ngedit foto atau video yang mau di-upload. Oke, untuk layarnya ini juga tentunya support always on display tapi yang ini memang belum bisa menyala. Terus masih wajar sih untuk kelas harganya ya. Layarnya juga dilengkapi dengan inisplay fingerprint scanner yang namanya juga layar AMOLED kan tipis ya. Untuk sertifikasi dia pakai SJS low blue light hardware certification. Terkait basel layar ini memang belum yang simetris di keempat sisinya tapi meski demikian ini bezelnya udah super super tipis. Bahkan Infinis menyebutkan kalau screen to body rasio dari smartphone ini mencapai 93,6%. [Musik] Nah, di basel atas terdapat earpiece dan di bawah earpiece ada kamera selfie-nya. Ini adalah kamera 13 megap F2.2 Fix Focus. Perekaman videonya juga bisa nyampai 2K 30 fps atau 1080p 60 fps juga bisa. Kita beralih ke si belakang. Ini adalah kamera utamanya ya. 50 megapel bukannya F1.6 sudah autofokus. Untuk perekaman video mendukung 2K 30 fps atau 1080p 60 fps dan ada lagi dua kamera bonus lah ya. Kemudian ada dual LED flash. Untuk fitur-fitur banyak dibaca aja listnya nih. Ini ada banyak banget fiturnya ya. Kalau fitur kameranya Infinix semakin lama makin banyak nih kayaknya ya. Nah, untuk spesifikasi internalnya SOC pakai Helio G200. Spesifikasi ini kurang lebih mirip sih seperti Helio G100. Jadi performanya udah cukup mumpunilah untuk kelas harganya di Rp jutaan. Untuk RAM 8 GB LPDDR 4X. Untuk storage ada dua opsi nih. Unit yang tetes ini adalah yang varian 256 dan ada juga varian yang lebih terjangkau dengan storage di 128 GB. Tentunya ini udah pakai UFS 2.2 jadi kencang ya. Nah, buat yang butuh storage ekstra di sini kita bisa pasang micro SD sampai 2 TB. Untuk baterai 5160 mAh dan dukungan charging-nya di 45 watt. Dia support reverse charging sampai 10 watt. Dan bypass charging ada di sini ya. Jadi mau gaming sambil nyolok bisalah. Aman, aman aman. Untuk sensor ada astrometer, e-compas, gyroskop, hardware ya. Ada light sensor, proximity sensor, inisplay, fingerprint, vibration motor, dan infrared blaster juga ada di sini. Untuk yang satu ini posisinya ada di sekitar kamera ya. Lanjut untuk konektivitasnya tentunya untuk kalau H G200 dia bisa 4G ya, 2G, 3G, 4G. Wii-nya Wii 5. Bluetooth versi 5.4 dan NFC ada di sini. USB bisa OTG dan untuk sarana hiburan gratis ada FM radio. Untuk security-nya dia punya indisplay fingerprint serta face unlock juga bisa. Untuk OS dia pakai XOS 15 dengan basis Android 15. Nah, Infinix menjanjikan update Android tiga kali dan security update sampai 5 tahun. Mulai juga nih ya buat kelas 2 jutaan ya. Lalu ada juga 60 months fluency certified yang menjamin bahwa smartphone ini akan tetap lancar digunakan hingga 60 bulan. Wow, entar dulu itu 5 tahun artinya ya. Nah, untuk aplikasi third party ada beberapa sih di sini memang. Nah, kalau rasanya tidak dibutuhkan aplikasi third party ini untungnya bisa kita uninstal. Nah, kalau bicara soal iklan, kita sempat nemu ada iklan yang muncul ya, tapi ini bukan dari e Infinix sendiri, bukan dari sistem Infinix-nya, munculnya dari aplikasi third party tadi. Jadi kalau dirasa mengganggu kita bisa uninstal aja app-nya ya. Nah, untuk Infinix AI, nah ini ada banyak fitur seperti misalnya FAUx Voice ini voice assistant bawaan dari Infinix. Untuk mengaksesnya kita bisa tekan dan tahan adaptive one tap button tadi. Kurang lebih penggunaannya seperti ini ya. Nah, untuk one tap button tadi itu ya kalau misalnya kita ingin ubah fungsinya kita bisa custom melalui menu settings. Bisa untuk buka app kamera, mute dan unmute notifikasi, menyalakan dan mematikan mode DND, dan masih ada banyak lagi. Oke, lanjut ke fitur-fitur AI-nya. Di sini ada call assistant yang bisa merangkum percakapan dari telepon ke dalam bentuk teks. Ini hanya untuk telepon lewat koneksi seluler ya. Lalu di sini ada juga real time translator untuk voice call. Nah, kalau ini bisa lewat jaringan seluler maupun lewat aplikasi seperti WhatsApp dan beberapa aplikasi sosial media lainnya. Fitur ini bisa membantu menerjemahkan bahasa kita dan lawan bicara kita seperti ini nih. Yo, let's getun eat or coffee. Oh ya, kalau kita mau pakai fitur ini di aplikasi sosial media, kita perlu menyalakan fitur social assistant-nya terlebih dahulu ya. Lanjut. Untuk circle toer tentunya ini juga bisa. Mau pakai Gemini bisa juga. Gemini AI bisa diakses di sini. Untuk fitur-fitur AI lainnya bisa dicek aja langsung di menu Infinix AI dalam menu setting smartphone ini. Oke, sekarang kita lanjut untuk pengujian performanya. Kita langsung benchmark aja dengan AnTut 10. tentunya ini pakai 3D light ya, bukan tutup yang pakai 3D yang biasanya kita dapat di R62.000-an. Untuk Geekbench 6 single core 745 multiore di 2009 untuk 3x sling shot extreme open GL graphicsnya ada di 2647 lalu untuk tradmark wildlife stress test tanpa kipas by score di 1371 dengan low score di 1360. Jadi stability-nya tinggi ini 99,2%. Untuk GFX Benz T-Rex 1080p offsreen 67 fps. Nah, kita lanjut ke gaming. Di pengujian ini kita menggunakan mode performance yang dapat diakses dari menu overlay X Boost. Ya, kita mulai dari Subway server dulu. Untuk bisa merasakan 120 FPS di game ini, kita perlu mengubah setting refresh rate layar ke mode high terlebih dahulu. Lalu pilih customize app refresh rate dan atur game ini ke 120 Hz. Setelah itu, kita bisa menikmati game ini di 120 fps dengan lancar. Oke, sekarang kita lihat untuk Mobile Legends, ya. Sayangnya setting frame rate yang terbuka di game ini baru sampai high aja alias 60 fps. Kita sudah coba appeal frame rate game ini. Tapi sayangnya opsi frame rate yang lebih tinggi masih belum kebuka. Saat dimainkan dengan frame rate yang high dan setting grafis mentok kanan seperti ini, frame rate yang didapatkan ada di kisaran ya 60 fps. Keentengan lah ya. Lanjut untuk PUBG Mobile. Di sini settingnya smooth extreme ya, kebukanya smooth ekstrem. Jadi kita bisa mainin game ini di 60 fps. Saat dimainkan lagi-lagi keentengan. Jadi game-nya jalan di 60 fps aja terus dengan lancar. Untuk Free Fire, karena smartphone kerja sama dengan Free Fire, sekali aja kita tes game yang satu ini ya. Dengan setting frame rate high dan grafis max seperti ini, kita bisa mendapatkan frame rate di kisaran 60 fps dengan lancar ya. Ya, tentunya udah support Free Fire ya. Jadi lancar dong. Lanjut ke Gensin Impact dengan setting grafis di lowest 60 fps. Frameate yang didapatkan ada di kisaran 33 sampai 43 fps dan sekali frame drop di bawah 30 fps. Setelah 30 menit coba ukur suhu permukaannya. Di body belakang terlihat itu suhunya mencapai 42 derajat Celcius di area dekat modul kamera saja. Sementara di bagian layar SU juga terlihat aman di kisaran 41 derajat Celcius. Jadi meskipun body smartphone-nya tipis, tapi saat dipakai main Gin Impact selama setengah jam, suhunya ternyata adem-adem aja ya. Oke, sekarang kita lanjut lagi. Kalau kita pakai kipas bagaimana dan hasilnya frame rate bisa naik sedikit kekisaran 35 sampai 45 fps dan frame drop di bawah 30 fps jadi lebih minim sekarang ya. Jadi kalau mau main yang lancar saran kami pakai kipas. Untuk ranking-rankingan kita kasih C minus kalau tanpa kipas dan C kalau kita pakai kipas. Kita lanjut ke pengujian kameranya ya. Di tangan saya kali ini sudah ada Infinix Hot 60 Pro. Jadi, mari sama-sama kita cek kemampuan kameranya. Tapi seperti biasa yang kita cek terlebih dahulu adalah kemampuan mikrofonnya. Di sini saya tidak menggunakan mikrofon eksternal, jadi ini langsung menggunakan mic yang ada di smartphone-nya. Untuk kualitas mikrofonnya sendiri, bagi kami ini sudah memadai untuk kelas harganya. Nah, kalau yang teman-teman dengar gimana suaranya? Oh ya, sedikit catatan karena di sini smartphone-nya mengandalkan single mikrofon aja. Jadi hati-hati aja jangan sampai tangan kita menutupi mic seperti ini. Oke. Nah, sekarang langsung saja kita mulai pembahasan kameranya. Let's go. Oke, kita mulai dari kamera selfie-nya. Untuk kualitasnya bagi kami sudah tergolong oke, detailnya dapat dan ketajamannya pun juga pas. Buat yang butuh detail ekstra, di sini ada opsi perekaman 2K 30 fps atau kalau mau video yang licin-licin. Nah, di sini ada opsi 1080p 60 fps. Untuk damic range video, bagi kami ini standar. Bagian background cenderung over expos, tapi setidaknya bagian wajah dapat terlihat dengan jelas. Nah, itu tadi di kondisi yang ekstrem ya, karena kalau kita tes di area outdoor seperti ini hasilnya aman-aman aja. Sedikit catatan kami menemukan penurunan frame rate ke kisaran 26 sampai 27 FPS saat merekam di 30 fps. Ini cuma terjadi saat HP-nya mulai panas aja ya. Sementara kalau di 1080p 60 FPS kamu melihat hasil videonya aman-aman aja. Untuk stabilisasi video di 1080p 30 FPS hasil videonya sudah stabil sementara di resolusi yang lebih tinggi fitur stabilisasinya sayangnya belum optimal. Jadi kalau mau merekam di atas 1080p 30 fps sebaiknya gunakan bantuan tripod agar lebih minim getaran atau video yang kita rekam tadi kita edit dulu di Google Photo seperti ini. Nah, nanti hasilnya jadi lebih stabil kayak gini. Lanjut ke kamera utama. Di sini video yang dihasilkan juga sudah oke dengan detail dan ketajaman yang pas menurut kami. Untuk kemampuan damic range-nya ini sedikit lebih baik dari kamera selfie-nya tadi. Informasi di background dapat ditangkap dengan baik di sini dan bagian wajah juga terlihat jelas. Lalu kalau kita bawa keluar ruangan seperti ini, hasilnya juga aman-aman aja. Nah, sama seperti di kamera selfie-nya tadi, kami juga menemukan penurunan frame rate saat suhu smartphone mulai meningkat. Jadi kami sarankan untuk menghindari merekam di kondisi yang terik supaya videonya aman dari frame drop. Nah, terkait stabilisasi video ini juga sudah stabil di 1080p 30 fps. Sementara untuk resolusi 1080p 60 fps atau di 2K30 sayangnya masih belum stabil. Jadi tinggal pilih aja mau videonya langsung stabil, mau videonya yang smooth 60 fps, atau mau yang punya detail ekstra. Pilih aja sesuai dengan kebutan kita, ya. Lanjut ke kondisi malam hari. Di sini kualitas videonya sudah mulai menurun. Bagian wajah jadi lebih soft dan noise mulai terlihat. Serta di 1080p 30 fps videonya terasa jater. Lalu kalau kita merekam di 1080p 60 fps, videonya jadi agak gelap. Tapi ini wajar ya, karena merekam di 60 fps memang membutuhkan pencaan yang lebih. Setidaknya di sini videonya lebih minim noise dan jater. Menariknya kami tidak menemukan adanya frame drop sama sekali. mau itu di 1080 fps ataupun di 2K 30 fps sekalipun. Nice. Nah, kalau mau hasil video yang lebih baik, saran kami pakai kamera utamanya aja. Di sini videonya lebih minim noise dan detail juga masih terjaga. Menariknya lagi kalau kita atur ke mode 60 fps, hasil videonya terang di sini dan ini enggak mengalami frame drop sama sekali. Jadi, mau merekam video malam-malam dengan smartphone ini aman ya. Nah, sekarang kita bahas hasil foto-fotonya. Bagi kami hasil foto dari kamera smartphone ini sudah sangat oke, baik di kamera selfie maupun di kamera utamanya. Bahkan di kondisi low light pun hasil foto-fotonya juga masih sangat oke. Kalau butuh foto objek lebih dekat, pakai aja digital zoom dua kalinya. Hasilnya tetap tajam kok. Dan yang kami suka di sini adalah mode potretnya yang pintar. Fokusnya hanya pada objek utamanya saja. Dan bagian background-nya dibuat blur seperti ini. Dan hasil blurnya juga tergolong rapi di sini. Oh ya, sedikit catatan efek bok di mode portraet ini secara default-nya mati ya. Jadi pastikan fitur ini menyala terlebih dahulu sebelum kita mulai motret. Lanjut ke fitur-fitur ekstra. Di sini ada mode pro untuk foto dengan setting shutter speed dari 1/1500 sampai 30 detik dan ISO dari 100 hingga 6.400. Lalu di sini ada mode dual video dengan opsi perekaman video hingga 1080p 30 fps. Kemudian di sini ada fitur potret video dengan opsi resolusi 720p 30 fps. Lalu ada juga fitur slow motion dengan resolusi 720p 120 fps. Kemudian untuk fitur grade saat merekam video ada enggak di sini? Ada ya. Overall kemampuan kamera dari smartphone ini sudah mumpuni untuk kelas harganya. Meskipun begitu, ada beberapa hal yang bisa ditingkatkan Infinix ke depannya seperti fitur stabilizer yang baru mendukung di resolusi 1080p 30 fps. Kemudian efek di mode potret yang perlu dinyalakan secara manual. Hal-hal kecil seperti ini yang sering kami sebut dengan SKB atau syarat dan ketentuan berlaku. Semoga ke depannya Infinix bisa memperbaiki detail-detail kecil seperti ini. Sementara dari sisi positifnya, smartphone ini punya opsi perekaman video di atas 1080p 30 fps. Termasuk mode 60 fps juga ada di semua kameranya, termasuk selfie loh. Ini hal yang masih jarang kita temui di smartphone dengan harga yang sama. Lalu hasil foto-fotonya yang tergolong oke. Dan terakhir fitur-fitur kameranya juga banyak bahkan bok video juga ada di sini. Jadi bagi kami kamera smartphone ini bisa dibilang sudah sangat memadai untuk mengabadikan momen sehari-hari. Oke, itu dia pembahasan kamera dari saya. Kita lanjut ke pembahasan selanjutnya. Oke, sekarang kita lihat daya tahan baterainya ya untuk lokal YouTube video playback 1080p di mana video kita download dulu. Jadi ini offline ya mainnya ya. Baterai habis setelah 17 jam 26 menit. Ini hasil yang standar aja untuk smartphone dengan baterai 5.160 mAh kalau kita pakai SOC G100 atau G200 ya. Untuk streaming YouTube 1080p 30 non HDR selama setengah jam baterai berkurang 4%. Lalu scroll TikTok selama setengah jam baterai berkurang juga di 4%. Gensin Impact lowest 60 fps selama 30 menit baterai turun 11%. Nah, untuk charging-nya dari 0 sampai 50% itu butuh waktu 32 menit. Sementara untuk sampai penuh itu butuh waktu 1 jam 11 menit. Oke, lanjut untuk Netflix D2 Sport WhiteFine L1 tanpa dukungan HDR. Untuk YouTube, dia bisa muar video hingga resolusi 1440p 60 fps tanpa dukungan HDR. Untuk heptic feedback getaran udah lumayan empuk. Tapi memang belum yang super presisi rasanya ya. Tapi mengingat harganya sih masih wajar-wajar aja sih. Lalu untuk Wii sharing ini bisa dan untuk menggunakannya kita hanya perlu menyalakan mobile hotspot saat terhubung ke jaringan Wii. Oke untuk harga tadi kan ada dua varian ya dari Infinix Hot 60 Pro ini. Untuk yang 8256 itu harganya di Rp2.399.000. Sementara yang 8128 itu Rp2.199.000. Jadi R jutaannya tuh R jutaan kecil ya. Oke langsung hal yang perlu diperhatikan. pertama daya tahan baterainya. Sebetulnya untuk tahun 2025 ini daya tahan baterai seperti ini tuh ada di bawah harapan kami. Kemudian walaupun layarnya diklaim di 144 Hz, tapi kami belum nemu skenario yang membuat layarnya jalan di refresh rate tersebut. Kemudian AOD-nya ini belum bisa always on beneran, ini hanya 5 detikan. Nah, kemudian kita sedik berharap bahwa dengan baterai 5160 mAh dan charger 45 watt, chargingnya itu bisa selesai di bawah 1 jam ya 50 menit, 55 menit lah masih oke gitu. Kemudian untuk kamera masih ada beberapa syarat dan ketentuan berlaku atau SKB seperti yang kita bahas di bagian pengujian kamera. Dari segi kelebihan ya tentunya bodinya super tipis dan ini ringan ya ini tergolong langka terutama untuk kelas harga segini. Performanya tergolong kencang untuk kelas harganya. Layarnya udah pakai AMOLED 144 Hz. RAM 8 gig, storage 256 GB dan ini UFS ya. Masih bisa pakai micro SD hingga 2 TB pula nih ya. Lalu dia mendukung perekaman video hingga 2K 30 fps dan 1080p 60 fps juga ada di kamera utama dan kamera selfie-nya. Speaker udah stereo, indisplay fingerprint ada. Fitro AI-nya juga udah banyak. Lalu ada jaminan update Android tiga kali dan security patch 5 tahun ya. NFC ada IP64 dan dia bisa pakai dua SIM card plus 1 micro SD ya. Smartphone ini bisa dikatakan paket lengkap yang kombinasinya cukup sulit dilawan untuk harga R jutaan kecil. Infinix Hot 60 Pro ini hadir untuk yang mencari smartphone super tipis dengan bobot ringan dan performa kencang. Fitur-fitur canggih tapi harganya harus terjangkau. Jadi kalau tangan kalian udah lelah megang HP yang berat dan nyari HP yang ringan, tipis tapi masih kencang dan terjangkau, ya pilihannya yang satu ini. Saya D Irfan Jaga di TV.
