Jungkat

200 RB | Headset Gaming Lokal Terbaik di Kelasnya !! (YouTube Video)

  • 20/05/2025

Headset ini bakalan cocok buat nemenin aktivitas karena kualitas suaranya yang pas, desainnya yang gemas, dan ketika dipakai gak bikin telinga kebas. Fitur-fitur yang dikasih juga berkelas dan harganya enggak bikin kita cemas. Ya udahlah ya, enggak usah lemas. Selamat menonton. Kancut bekas. [Musik] Hai Andika, guys di sini. Di video kali ini kita akan ngebahas beberapa headset yang budget friendly, cocok buat kalian tim mendang-mending yang punya baterai awet dan juga kualitas suara yang masih oke di kelas harganya. Di depan saya ini ada banyak, tapi sebenarnya cuma ada dua tipe aja ya. Kenapa ini ada banyak? Karena dia ada varian warna yang banyak juga. Jadi perkenalkan ini adalah Fant GoH dan Fant Studio WHG03. Kita bahas dari yang paling terjangkau dulu ya. Harganya ini cuma Rp199.000. Fant05. Si Fant WH05 ini punya desain yang minimalis. Tapi meskipun minimalis, lihat aja nih desainnya ini masih kekinian dan masih masuk kalau kita buat gaya. Apalagi yang warna-warna ya. Karena warnanya ini super dinamis dan kekinian. Dia ada empat varian warna. Dia ada hitam, pink, beige, dan juga biru. Enggak ada aksen yang aneh-aneh dari segi desainnya. Cuma ada tulisan go aja dan warna gold di bagian kiri kanan headsetnya. Finishing headsetnya ini juga mate, enggak terlalu glossy. Jadi buat tangan yang cepat basah kayak saya, enggak gampang ninggalin fingerprint. Bobot headsetnya cuma ada di 214 gr. Jadi kalau misalkan kita pakai headsetnya beh dipakai lama itu enggak kerasa kayak nekan dan gampang capek gitu. Dan karena dia bisa di-flip jadi lebih mudah untuk dimasukkan di dalam tas. I earcup WH05 ini pakai leather dan busa di dalamnya yang juga udah lumayan empuk untuk kelas Rp1.000. Dan walaupun dia gak ada fitur noise cancelling kayak di seri Goh05A dan WH07A, tapi karena dia tipenya over ear jadi suara luar masih kefilter lah. Fill ear cup-nya ini juga favorit saya karena biasanya tipe over ear ini ada yang pakai si busa atau pakai kulit. Dan saya suka banget tipikal yang kulit ketemu kulit seperti ini karena adep. Cuman enggak enaknya yang kulit seperti ini. Lama-kelamaan dia bakalan ngelentek sih ya. Sementara busa, busa itu enggak enaknya kalau lama-kelamaan kita berkeringat ya, baunya itu agak menyengat. Jadi harus sering-sering dikeringkan. Adjustment dari headetnya juga udah leluasa, bisa kita adjust panjang pendeknya, bisa kita rotate juga ear cup-nya, dan udah bisa ditilting juga. Jadi secara penyesuaian di kepala udah cukup leluasa. Sayangnya big quality-nya ya plastik dan plastiknya ini menurut saya masih kalian dengar aja deh suaranya deh ya. Agak kopong ya mengingat harganya Rp199.000, R bisa diwajar lah. Dan walaupun si Fant WA05 ini harganya cuma Rp199.000, tapi dia punya dual connection. Yang pertama ada Bluetooth. Bluetooth versi 5.3 yang jarak range-nya itu sampai 10 m dan low power yang bikin baterainya jelas lebih awet dan ada audio jack 3,5 mm juga. Di headsetnya ini ada port tombol-tombol dan udah bin sama mikrofon. Dari ski port dia ada port type C buat charging type C loh ya bukan pakai micro USB dan ada port audio jack 3,5 mm tadi kalau untuk tombol-tombolnya dia ada volume up volume down yang sekaligus bisa kita pakai buat next and previews music kalau kita tahan terus ada tombol multifunction yang bisa kita pakai buat play atau post dia juga bisa ngeangkat atau matiin telepon dan juga bisa buat ngaktifin fitur voice assistant dan terakhir ada tombol equalizer yang berarti kita bisa ngeganti mode equalizernya nah mode equalizernya ini ada normal rock pop klasic jazz, country, dan custom. Nah, untuk mode equalizer-nya ini kita bisa tahunya dari mana? Bukan dari software ya. Jadi kalau misalkan kita tekan tombol custom equalizer, bakalan ada voice yang ngomong yaitu rock, classic, pop dan lain-lain. Jadi kayak voice assistant gitu. Di tombol equalizer ini juga ada mode game yang dia bakalan menurunin latency seharusnya ya. Cuman ketika saya coba saya enggak merasakan ada berapa turun mili delay gitu. Enggak ada sih ya. kayak yang saya rasain sih kayak sama aja. Kalau untuk kualitas suaranya karena ini headset Bluetooth, headset portable ya, drivernya enggak bisa kayak Fant yang 50 mm. Jadi ini memang drivernya pakai yang 40 mm. Dan pengalaman saya pakai, kualitas suaranya sih udah cukup balance ya dan suaranya udah cukup lantang. Bassnya masih cukup panci, vokalnya juga masih enak, dan tribelnya juga berasa. Detail-detail itu cukup kerasa enak untuk harga Rp199.000. Walaupun kalau kita dengerin EDM, suara bassnya itu bakal langsung kayak ngegelar gitu ya. Tipical-tipical driver yang harganya under Rp500.000. Dan hal yang menarik lainnya dari sisi baterai, Fantang baterainya ini bisa tahan sampai 20 jam. Dan sekitar 1 minggu ini saya pakai ya enggak saya pakai terus-menerus ya. 1 minggu itu saya ngecas cuma satu kali. Paling sehari pakainya ya sekitar 3 du sampai 3 jam lah. 1 minggu ini saya belum ngecas sama sekali. Dan yang perlu diingat harganya ini Rp199.000 R ya. Jadi buat headset portable, headset Bluetooth Rp199.000, baterainya bisa tahan sampai seminggu lebih. Lumayan gokil sih. Cuman memang ya karena harganya terjangkau yang saya agak kurang sih di bagian build quality-nya ini sih masih ada beberapa area yang kopok. Lebih lanjut kita bahas ke headset yang lebih mahal. Jadi si Fant WH03 ini ada dua varian. Ada varian reguler Fantech Studio WH03 dan ada varian Studio Pro namanya WHG03P. P itu stand buat Pro ya. Gampangnya kayak gitu. Yang non Pro harganya itu 559 dan yang Pro harganya R99. Selisihnya sekitar Rp50.000. Nah, apa bedanya? Ftech Studio ini bisa dibilang seri penerusnya Tamago ya. Tapi kalau dilihat dari desain dan juga packaging-nya, saya sih lebih suka desain dari Fanto. Bagian headband-nya ini lentur, jadi enggak usah khawatir. Dia bakal patah kalau kita tarik-tarik kayak gini. Dan dia dilapisin kain yang kalau kita pakai di kepala enggak bikin kerasa panas. Di bagian earcups-nya juga ada lapisan kain yang kainnya ini kalau kena kulit enggak kasar dan enggak bikin gatal. Ecaps-nya juga udah cukup empuk, tebal juga. Jadi, telinga tuh enggak langsung nempel banget ke cover drivernya. Ecaps-nya ini juga bisa dilipat sama kayak WH05. Jadi kalau ditaruh tas lebih mudah. Dan di dalam paket pembeliannya kita juga udah dapat poach atau tas. Jadi kalau mau dibawa ke mana-mana lebih enak, enggak gampang kotor headsetnya. Kalau untuk head adjustment-nya dia udah bisa di-adjust naik turun dan adjustment-nya juga enggak alot, enggak sulit ya. Dari segi build quality sama kayak WH05 pakai plastik. Tapi coba kalian bedakan suaranya ya. Ini WH05 dan ini yang Fant Studio. Jauh plastiknya ini lebih tebal. Yang menarik walaupun dia lebih tebal tapi bobotnya lebih ringan. Bobotnya ini uh enak banget yang ini ya. Bobotnya ini ada di 180 gr. Jadi ya kalau kita main game selama 6 atau sampai 7 jam ya enggak bakal gampang pegal di kepala. Dan ini lebih pas aja di si kuping saya ya. Kayak walaupun enggak ada noise cancelling ini baru kayak kerasa ada noise cancelling. Kayak ketutupnya itu rapat claim sell-nya pas gitu dan enggak terlalu sakit. Untuk mic-nya dia pakai model yang bisa dilipat. Jadi kalau semisal enggak dipakai bisa disembunyiin tapi dia enggak otomatis ke-mute kalau kita tutup mic-nya. Mic-nya dia udah ada fitur ANC-nya yang bisa kita setting tingkat ENC di aplikasi studio 7.1. Dan untuk kualitas mic-nya kira-kira seperti ini. Dan yang kalian dengarkan ini adalah kualitas mikrofon dari Fech Studio Pro. Kira-kira seperti ini suaranya. Tadi saya sempat dengerin dan suaranya itu clear dan jernih sih. Karena ketika saya ng-review produk ini ya tentunya saya research ya. Nah, di batch pertama memang banyak yang komplain kalau suaranya itu kresek-kresek. Nah, sekarang untuk bitch yang atau untuk unit yang kita bahas ini suaranya seperti yang kalian dengarkan normal-normal aja. Mungkin buat kalian yang batch pertama bisa coba upgrade Fare. Dan yang saya suka dari Fant sih Fanteng feedback ya. Dari dulu kalau misalkan saya serang, saya kritik Fantek itu di produk-produk selanjutnya pasti diperbaikin gitu. Begitu juga di sini banyak yang komplain kalau suaranya itu kresek-kresek. Nah, sekarang kalau kalian dengarkan aman-aman aja. contoh ya misal ada dan kita coba kalau misalkan saya berisik ketika main game atau ada suara apa gitu ya environment. Nah, coba kalian dengarkan apakah suaranya masuk. Tadi sih sudah sempat saya dengerin dan masih oke sih suaranya dan di software-nya ini kita juga bisa gonta-ganti pakai voice changernya. Jadi contoh ini kan ada banyak banget ya pilihannya ya. Misalkan kita mau ganti ke female. Nah, ini adalah suara female-nya seperti ini. Kalau misalkan suara radio seperti ini ada banyaklah. Ada deep, ada deep. Coba ya. Misalkan suara saya lebih deep itu kira-kira seperti ini. Kalau efek bass suaranya seperti ini. Dan ya lumayan oke sih ya untuk kualitas mikrofonnya di kelas harga segini. Good job sih Fant. Dan yang kalian dengarkan tadi adalah suara ketika mic-nya itu nyala ya. Nah, sekarang kondisi mati. Karena kemarin sempat saya coba INC-nya ini kayak kayak enggak ada perubahan sih. Coba ini on ya. Ini on. Nah, kalau misalkan on suaranya seperti ini. Kalau misalkan off, kalau misalkan off suaranya seperti ini. Coba kalian tulis di kolom komentar apakah ada bedanya antara ENC on dan juga off. Awalnya jujur saya agak skeptis sama mic-nya karena kalau lihat di komen beberapa orang waktu awal launch ada yang bilang kendala sama micnya. Tapi di unit yang saya review kayak bagus banget malah. Nah, di aplikasi Studio 7.1 ini selain kita bisa setting macam-macam, kita bisa nyetting tingkat volume headphone dan mic, kita bisa setting tingkat ENC-nya juga. Selain itu kita juga bisa setting equalizer. Ada beberapa preset equalizer yang disediain di sini. Jadi, ada akustik, bass, gaming, dan tiga priset lain yang bisa kita custom sesuai dengan keinginan telinga kita. Selain itu, kita juga bisa setting Virtual Suron 7.1 karena Fant Studio dan Studio Pro ini udah ada fitur Virtual Suron 7.1. one yang bisa kita on offin plus setting space size-nya di sini. Kalau menurut saya f suronnya ini udah cukup oke ya. Masih berasa suara yang datang bisa dari segala sisi. Nah, kalau yang pro dia bisa kuat connection. Bukan koneksinya kuat ya, tapi empat koneksi. Jadi dia bisa pakai Bluetooth yang sama-sama pakai versi 5.3, ada dongle 2,4 GHz, audio jack 3,5 mm, dan USBC. Jadi untuk yang pro USBC-nya ini selain buat ngecas juga bisa kita pakai langsung koneksi dengan USBC. Sementara untuk yang non Pro memang dia ada USBC-nya, tapi USBC-nya ini cuma bisa buat ngecas aja, enggak bisa dikoneksiin ke device yang lain. Kalau untuk kualitas suaranya sih saya enggak ngerasa ada bedanya ya antara yang Pro dan non Pro. Kalau pakai konektivitas Bluetooth dan audio jack 3,5 mm, suaranya lebih balance, kualitas bass dan tribel-nya enak. Tapi kalau kita pakai koneksi yang dongle dan juga USB, rasanya di bagian tribelnya ini agak lumayan nyelekit gitu. Tapi untungnya ada aplikasi custom equalizer. Jadi kalau misalkan kalian ngerasa agak nyelekit, agak sakit di telinga, ya tinggal diturunin tribelennya aja atau pilih custom equalizer yang lain. Kalau saya sih sebenarnya suka yang pakai dongle ya. Ya enak aja gitu, cuma tinggal colok dongelnya langsung bisa dipakai. Kalau Bluetooth kan harus pairing-pairing dulu ya. Nah, yang menarik di dongle yang versi Pro dia bisa type A dan type C juga karena dongnya bisa kita cabut buat ngambil dongle yang kecilnya yang type C. Kalau kita mau koneksiin ke HP ya pakai yang type C. Kalau kalian mau main game di HP, kalau HP kalian support type C ya paling enak sih pakai kabelnya aja ya biar enggak ada latency, biar enggak ada delay. Kalau untuk datan baterainya si Fant WH03 ini diklaim bisa dua kali lipat dari yang WH05. Coba tebak berarti dua kali lipatnya berapa? 40 jam. Dan sama ini saya pakai sekitar satu mingguan juga gantian sama Yansa. Dan satu kali ini atau seminggu ini saya belum ngecas sama sekali. Dan perbedaan lain ada di pilihan warna sih. Di studio WH03 dia cuma ada warna hitam. Sedangkan di Studio Pro yang WHG03P dia ada putih, hitam sama pink. Jadi lebih variatif. Kalau kelebihan keduanya jelas ada di koneksinya yang udah triple connection dan quat connection. Terus desainnya juga lebih keren. Bobotnya ringan, nyaman juga meskipun dipakai lama. Kualitas speakernya juga oke, mic-nya juga lebih oke kalau dibandingin sama batch sebelumnya yang sekarang lebih jernih dan gak ada kendala sama sekali. Dan dia juga udah ada aplikasinya buat kita setting-setting custom headsetnya. Dan yang paling penting datan baterainya sih awet banget 40 jam. Kalau untuk kekurangannya yang versi studio non Pro itu Bluetooth-nya masih pakai Bluetooth versi 5, sedangkan yang Pro udah pakai Bluetooth versi 5.3. Dan yang saya rasain kekurangannya ada di fitur INC sih. Mungkin Fantelop ke depannya ada software hybrid atau gimana ya. Karena yang saya rasain ENC-nya ini kayak cuma gimik aja. Saya udah satatset untuk settingan tetap aja rasanya kayak mirip-mirip aja. Okelah, jadi itu tadi adalah review dari Fant WH05 yang harganya cuma Rp199.000 yang kelebihannya jelas dengan harga segini dia udah dual connection bisa Bluetooth, bisa pakai audio jack. Dan yang harganya lebih agak flagship ya, harganya R59 dan R99.000 untuk yang pro. Kelebihannya jelas baterainya lebih awet, dimensinya lebih kompact, dan bobotnya lebih ringan. Suaranya juga lebih nyaman, dan ada breedin aplikasinya juga. Nah, sekarang pertanyaannya buat kalian cocok yang mana? Ya, tergantung budget ya. Apapun beli itu jangan sesuai dengan keinginan. Beli itu sesuai dengan kebutuhan aja. Nah, kalau misalkan kalian gak butuh yang triple connection, ya menurut saya dual connection aja udah cukup. Apalagi harganya cukup terjangkau ya, Rp199.000. Cuman kalau beli jujur memang yang harga Rp1.000 ini claim shell-nya buat kepala saya yang agak besar, agak terlalu terlalu mengikat gitu ya. Sedangkan untuk yang varian yang studio itu kayak lebih nyaman, lebih pas aja gitu. Jadi kalau dipakai lama lebih nyaman ya, ada harga, ada rupa lah. Tapi kira-kira kalau kalian punya uang Rp500.000 R ya, kalian bakalan beli Fant WH052 atau kalian beli yang studio 1. Coba deh tulis di kolom komentar. Saya dikudi and see you on the next video.

Lihat di YouTube