2in1 Paling Ideal? - HP Omnibook X Flip (YouTube Video)
Kalau biasanya kita kenal laptop 2 inone-nya HP itu adalah Pavilon X360, NVX360 atau Spectter X360 kali ini sudah direbrand menjadi Omnibook X Flame seperti biasa kita bahas dari segi desainnya dulu. Di sini desainnya itu membawa bahasa baru yang jauh lebih modern dan bersih dibanding lini HPNVX360 atau Spectter X360 yang lama. Hanya aja memang spekter itu jauh lebih mewah desainnya dibanding yang sekarang. Bagian sudutnya dibuat sedikit lebih curvy dan terasa mantap pas dipegang dalam mode tablet. Hinge 360 derajat-nya juga lumayan kuat buat nahan layarnya, tapi jadi sulit buat dibuka hanya dengan satu tangan. Flex pun hanya sedikit kalau kalian goyang-goyangin layarnya. Nah, panelnya sendiri dia beresolusi full HD plus oleh touch screen yang color gambutnya pasti udah 100% di sRGB bahkan sampai di CP3 dan juga disertakan dengan stylus support ya. Jadi enggak hanya mantap buat multimedia aja tapi juga buat office worker ataupun pekerja kreatif. Dan tentunya stylus udah terinclude di dalam pembelian. Yang disayangin hanya resolusinya aja sih yang masih full HD plus di harga segini. Lalu masuk ke-nya. Di sini yang gua suka Omnibook XFlip ini keyboard-nya direvisi sedikit dengan font baru yang terlihat lebih clean dan udah dibekali backlit du level. Function button juga masih lengkap dengan volume button dan ada play pause button juga. Tombol-tombol macam volume mute, microfone mute itu punya lampu LED kecilnya masing-masing. Ini adalah attention to detail yang cakep. Jadi enggak hanya caps lock aja yang ada indikatornya. Dan gua suka dengan layout keyboard yang kotak-kotak begini. Pengalaman ngetiknya itu lebih asik daripada keyboard laptop biasa. Namun memang untuk estetikanya itu bakal bergantung sama orang lagi. Nah, buat touchpad sekarang ukurannya diperbesar. Bahannya juga udah smooth banget di jari. Support dengan Windows precision driver dan ada gesture control juga yang bisa sliding volume dan brightness di sisi kiri dan kanan touchpad. Lalu buat konektivitasnya di sebelah kanan ada USB 3.2 Gen 2 type A yang masih pakai slot drop jauh biar bodinya tetap tipis. Plus ada satu USBC Thunderbolt 4. Sementara di sebelah kiri ada port USBA lagi, HDMI 2.1 full size, USBC TB41 lagi, dan audio combo jack. Kedua USBC-nya ini udah full function, bisa dipakai buat charging, transfer data yang kencang, sekaligus display output ke monitor eksternal. Jadi bisa [musik] dicharge di sisi kanan ataupun di sisi kiri. Masuk ke spesifikasi. Jadi laptop 2 ininone ini ditenagai Intel Ultra 7 355 yang memiliki 4 core dan 4 LP core. Jadi dia enggak punya core biasa sama sekali. Dipadukan dengan RAM 32 gig LPDDR5X 8448 MHz. Karena format bodinya yang super tipis dan fleksibel di 2 inin one, RAM-nya tentu ini soldered alias enggak bisa di-upgrade lagi. SSD-nya sendiri berkapasitas 1 TB PCI Gen 4 yang speed-nya lumayan kencang dan bisa kalian ganti-ganti juga apabila mau upgrade. Buat pengujian performanya karena laptop ini basisnya itu arsitektur berefisiensi tinggi, jadi kita bakal ngetes dalam dua skenario, yaitu saat dicolok charger atau saat performance mode dan juga saat pakai baterai aja di mode balance. Dan kalau kita melihat data dari Sebch R23 ataupun SBch 2024, di sini terlihat kalau performanya itu tidak kalah dengan Ryzen AI7 445 dan juga lebih kencang ketimbang Core 5210H yang lebih budget. Jadi walaupun fokusnya ke efisiensi tapi performanya itu tetap diperhatiin. Yaitulah laptop dengan kekuatan Intel Inside. Lalu kita juga nyobain beberapa game ringan dan juga triple A di laptop ini. Dan surprisingly, iGPU-nya ini mampu ngelibas game-game casual itu dengan sangat baik. Di NTE kita masih dapat 45 FPS. Withering waves juga bisa dapat 78 FPS asalkan pakai frame generation. Cyberpunk juga kalau mau nyalain frame ge fps. Dan Counter Strike 2 itu masih dapat 100 FPS di native. Terlihat kalau di sini iGPU-nya si Core Ultra 735 itu masih sangar asalkan pakai frame generation. Dan buat editing video ringan juga sebenarnya laptop ini enggak terlalu cepat-cepat juga tapi masih bisa kalau kita push di Adobe Premiere Pro sebenarnya laptop ini bisa ng-render video 10 menit H265 dengan durasi yang 10 menitan juga. Lalu untuk heat management-nya ini harus diperhatikan banget karena power limit CPU-nya itu bisa mentok di 36 watt, hanya aja stabilnya di 25 watt. Nah, hal ini membuat suhu CPU-nya itu sempat mentok di 95 derajat sebentar saat full load, tapi stabilnya di kisaran 75 sampai 80 derajat. Nah, buat laptop two inone yang tipis ini cukup hangat ya, tapi Fireestrike untungnya tetap lulus. Nah, kalau di penggunaan Office sehari-hari aja dia hanya 40 sampai 42 derajat. Jadi, sebenarnya masih aman asal enggak dibawa fullot banget. Oke, karena CPU-nya yang super efisien, batery live dari laptop ini juga cukup lama. Walaupun baterainya itu kapasitasnya hanya sedikit, tapi dipakai warlad santai seperti browsing, ngetik, dan nonton YouTube. Baterainya bisa tahan sampai 10 jaman. Beneran bisa ditinggal chargernya kalau cuma mau nongkrong seharian di coffee shop. Sekalipun mau bawa chargernya ya, adapter bawahnya ini udah type C 65 watt galium nitri yang ringan dan kepalanya bisa diganti-ganti kalau lagi traveling. Walaupun kita belum tahu apakah HP juga jual spare part versi negara lain atau enggak. Lalu speakernya yang dituning oleh Poly Studio ini bikin kita cukup amazity suaranya dapat banget, vokalnya jernih, dan enggak cempreng meskipun di volume maksimal. Ini karena modul speakernya [musik] itu juga gede banget dan bassnya juga kerasa. Walaupun hanya sedikit-sedikit, software HP buat pengaturan laptopnya juga intuitif. Menunya cukup jelas dan banyak pilihannya. Kita bisa adjust equalizer audio, ngatur screenshe dan look to move, dan ngatur profile laptopnya. Look to move itu fitur apa sih? Itu fitur kalau misalnya di mana kita pakai dua monitor. Nah, webcam-nya akan detect mata kita fokus ke monitor mana dan kursor akan ngikutin arah mata kita tersebut. Yang disayangkan hanyalah color profile dari monitornya ini enggak bisa diatur. Jadi enggak ada sRGB mode, DCIP3 mode, dan lain-lain. Nah, benefit lain di pembelian Omnibook ini sebenarnya kita dapat subscription bonus di beberapa software. Jadi, contohnya di sini kita dapatnya itu future learn di mana ada banyak banget online course, WBL AI untuk bikin lagu kayak begini dan juga ada fotoor AI kalau kalian adalah desain graphics. Paling ada beberapa catatan kecil aja sih di laptop ini yang gua rasain. Karena bodinya ini adalah two inin one, jadi bobotnya sedikit lebih berasa dibanding laptop clamp shell biasa [musik] yang non touch screen. Dan kalau biasanya di spectter itu kita dikasih selift laptop juga, di sini gua enggak menemukan seli selift laptop sama sekali. Dan buat webcam-nya ya, di sini HP tuh enggak nanggung-nanggung ngasih speknya yaitu bisa ngerekam sampai 2K 30 fps. Walaupun si ya di spekter itu bisa sampai 8 megapel, tapi ini udah cukup banget. Apalagi kalian lihat ya warnanya skintone itu benar-benar vivit dan juga natural banget. Dan karena laptop ini mempunyai NPU juga seperti biasa ada Windows Studio effect dan bisa membuat background effect seperti ini. Ada privacy shutter juga dan ada eh face recognition. Jadi bisa login pakai Windows Hello. Tapi yang paling gua suka di sini adalah e fitur noise reduction-nya. Jadi kalau misalnya kalian lagi meeting dan di tempat yang ramai seperti cafe yang sekarang itu suaranya bisa direduksi seperti sekarang. Ini e noise reduction yang on off dan kalau dinyalain itu menjadi seperti ini ya lumayan. Jadi buat ngereduce background noise yang sedang terjadi di sekitaran kalian. Di harga yang premium sebenarnya wajar sih kalau kita bakal lebih nit picking dalam memilih sebuah laptop karena uang yang kita keluarin kan enggak sedikit ya. Apalagi laptop ini bakal dipakai buat kerja sehari-hari. Jadi ya kita recap lagi kali ya nyaman atau enggak laptop ini. Buat improvement yang gua notice itu ada di yang pertama build quality-nya. Dia itu hinge-nya benar-benar solid banget. Yang sekarang hampir tidak ada flex yang gua rasakan tuh benar-benar solid. Magnet ada di kedua sisi juga. Jadi ada di belakang dan juga ada di depan buat make sure kalau laptopnya itu benar-benar slim. Dan improvement lain itu ada di konektivitasnya di mana USBC yang kalau di spectter series itu hanya ada di sebelah kanan doang. Sekarang ada di kedua sisi dan dua-duanya itu stander Bob 4. Jadi kalau kalian mau ngecas atau nyolok monitor USBC itu bisa dari sisi kiri dan juga sisi kanan. USBA-nya juga sekarang ada dua. Terus HDMI itu tetap ada. Jadi tidak usah friendly dengan hap-hapan lah. Nah, terus juga laptop ini kalau misalnya kita lihat secara build quality depannya itu lebih solid. Walaupun kalau kita ngomongin soal kekurangan itu ada beberapa juga. Contohnya kalau misalnya dulu HP itu bisa ngasih kayak monitor OLED 2.8K dan juga 120 Hz, sekarang OLED-nya hanya di full HD plus 60 Hz aja. Speakernya juga sekarang down firing doang. Kalau dulu itu bisa ee front firing juga dan kamera webcam-nya itu tidak bisa yang 8 megap lagi. Walaupun tetap sih gua salut banget sama HP yang masih bisa memberikan ya 32 gig RAM LP DDDR5X di [musik] kondisi RAM langka seperti ini. Jadi mereka tetap bisa bilang kalau ya apabila lu mau bayar lebih, gua tetap bisa ngasih lu 32 gig RAM lah. compromise lah buat lu lah. Dan juga HP tetap ngasih accidental damage protection selama 2 tahun dan ada Microsoft Office Home and Student yang terinclude dalam pembelian. Tapi kalau buat kalian sendiri [musik] sekarang laptop two inone yang ideal di tahun 2026 ini seperti apa sih?
