3 Jutaan ! Asus Vivobook Harga Laptop Lokal ! emang bagus ? (YouTube Video)
Bisa jadi ini produk Asus salah satu yang paling murah produk baru ya, bukan rekondisi atau repacking. Dan prosesor yang dipakai itu lebih tinggi atau dua kali lebih kencang jika dibandingkan dengan Seleron N420. Nah, kalau N40 itu punya skor sintetis di angka sekitar 120-an CB untuk R15-nya, tapi ini bisa sampai 300-an. Dan prosesornya sendiri itu ya agak di bawah kalau dibandingkan sama Ryzen 3 3250 U, tapi dia sudah punya 4 core 4 red. Sedangkan 3250 U itu cuman 2 core 4 red. Tapi memang dia kalah di TDP-nya. Kalau di Ryzen 33250U punya TDP 15 wat, tapi kalau yang ini 6 wat. Tapi bisa jadi jaminan kalau laptop ini akan hemat baterai. Bahkan kalau kalian cari di e-commerce ada tuh versi yang sama persis atau SKU yang sama persis yaitu E410 KA yang menggunakan N4.500 tapi harganya R juta lebih bahkan menyentuh di R,5 jutaan tapi ini cuman di Rp3 jutaan aja. Pertanyaannya kenapa bisa murah? Yuk, sekarang kita bahas. Jadi, ini adalah Asus Vivobook E410KA PM464. Harusnya dari sisi naming atau penamaannya aja kalian sudah tahu kenapa laptop ini bisa murah. Kalau masih belum ngeh juga penamaan Indo dengan versi luar itu beda. Nah, contoh di ROG Street Scar 18 kalau penamaan di Indonesianya dia G835 LX i9 N59 MZT HM. Buset panjang banget. Tapi kalau untuk versi internasionalnya dengan prosesor yang sama persis Intel Core Ultra generasi yang kedua dan RTX 5090 versi internasionalnya naming-nya jauh lebih simpel. G835 LXS97. Nah, jadi udah jelas ya ini bukan produk resmi Indonesia. Pertanyaannya apakah worth it beli kita punya problem di Wii card-nya? Nah, secara otomatis apakah bisa diklaimkan garansi walaupun pada saat datang itu masih tersegle rapat. Tapi sebelum tanya-tanya ke service center, kita akan bahas laptopnya terlebih dahulu. Nah, ngomongin wifi card-nya ini kan bermasalah. Akhirnya mau enggak mau kita colongin dari Lenovo Ting Pad L13 yang kita juga pada saat itu beli second juga yang penting soketnya sama dengan size di 2242 karena ada juga WiFi yang punya ukuran lebih kecil di 2230. Nah, sekarang kita lihat spesifikasinya. Tadi udah sedikit kita spill dia pakai Intel Pentium Silver N6000 dengan 4 core 4 red TDP-nya di 6 wat dengan maksimal turubo boost-nya itu ada di 3,3 GHz. Untuk grafik card-nya juga jangan berharap dia menggunakan dedicated GPU secara harga Rp3 jutaan. Enggak mungkin dia dompleng dengan prosesornya yaitu Intel UHD grafic. Yang agak disayangkan itu ada di bagian RAM-nya. Untuk versi yang seperti ini, itu RAM-nya on board, enggak bisa di-upgrade dan size-nya cuman terbatas di 4 gig doang. Nah, karena ini produk bukan dari Indonesia, storage-nya pun beda. Storage bawaan aslinya yaitu menggunakan 64 gigMC. Dan kalau kalian tahu sendiri, IMMC itu speed-nya lambat banget. Itu cuman ada di 200-an untuk creed dan bright-nya. Tapi ini sellernya baik, Guys. Dia tahu benar market Indonesia yang rata-rata di ya dikuasain kaum mendang-mending ya pasti market Indonesia cerewet banget perihal speed SSD. Jadi dia langsung tambahkan SSD-nya 256 gig dan secara otomatis speed yang kita dapat juga langsung lompat lebih tinggi di rata-rata untuk Rit dan R-nya itu ada di 2000-an. Nah, secara otomatis juga performance untuk bootingnya, buka-buka software-nya juga langsung ke booster. Kalau ngomongin desain laptop ini bisa dibuka sampai 180 derajat walaupun layarnya TN ya. Kalau kalian buka seperti ini agak burem sih, Guys. Dan Asus mempertahankan desainnya karena kalau kita ngomong E410 itu sudah ada di 3 sampai 4 tahun belakangan. Dia launching-nya di awal-awal tahun 2021 eh sori 2022 awal kalau enggak salah atau di akhir tahun 2021 dan secara desain masih dipertahankan seperti ini. Bahkan kalau di tahun-tahun awal itu menurut saya jauh lebih cakep karena memang di bagian punggung layar seperti ini itu ada logo-logo Asus destruktif. Jadi logo yang logo Asus yang dipecah-pecah dan disebar di keseluruhan body belakangnya. Tapi yang sekarang untuk E410 series itu semuanya dibuat logo Polo seperti ini dan hanya ada logo Asus di tengah. Ini kayak stikeran doang bukan stiker si tapi kayak sablonan doang. Dan untuk keseluruhan bahannya dia menggunakan plastik polikarbonat. Dan jujur aja karena memang pada saat kita bongkar ini mainboard-nya kecil banget. Mungkin kalian sudah cukup banyak lihat di review di channel-channel lain. Kalau kalian ketuk-ketuk ini kesan kopongnya benar-benar langsung kerasa dan bobotnya pun ya karena memang mainboard-nya enggak gede juga bisa dikatakan cukup ringan juga. Nah, yang jadi signature di E410 series itu ada di bagian number pad-nya di bagian sini. Jadi kalian bisa jadi shortcut untuk ke kalkulator dan juga bisa dijadikan ya number pad kalau kalian suka pekerjaan yang berhubungan dengan hitungmenghitung entah di Excel atau di manapun. Dan E410 series ini juga jadi pioner atau yang mencetus utama teknologi seperti ini lalu diadopsi ke seri Zenbook juga. Dan jujur aja kita perlu apresiasi untuk tim RnD Asus ya. dia selalu bisa mengoprek hal-hal seperti ini itu jadi lebih cantik padahal ini cuman sekedar touchpad. Nah, di seri-seri baru bahkan ada smart gesture di Asusnya juga saat digeser ke atas itu brightness-nya kita bisa atur brightness atau di sebelah kiri kita bisa atur volume. Bahkan kita bisa next atau preview hanya dengan menggeser di bagian touchpad-nya aja. Nah, kalau ngomongin bagian keyboard-nya juga ada signature untuk E410 series yaitu ada color blocking warna kuning di bagian enternya. Dan yang agak disayangkan ini keyboard-nya tanpa backlit. Jadi kalau keyboard yang E40 series tanpa backlit itu finishingnya agak kasar. Beda banget kalau yang backlit itu finishing yang lebih bagus, lebih empuk juga. Tapi memang apa yang bisa diharapkan dari laptop-laptop di harga Rp3 jutaan? Ya, feel-nya memang seperti itu. Tapi yang perlu diapresiasi dari keyboard-nya, tombol navigasi home end, page up, page down itu dijadikan satu baris semua. Jadi kalau untuk berexel Ria ini enak banget sih ini. Nah, sekarang kita akan tes performance-nya gimana atau sekencang apa N6000 dipadukan dengan RAM yang cuman 4 gig yang enggak bisa di-upgrade itu. Pengujian pertama kita di sintetis R15 kita mendapatkan skor sesuai dugaan kita ada di 308 poin untuk multiore-nya dan single core-nya ada di 109 poin. berarti lebih dari 100% atau lebih dari dua kali lipat performance-nya kalau dibandingkan dengan N40. Bahkan untuk mode plugin pun kita dapat skor multior-nya di 290 poin dan untuk single core-nya turun 2 poin di 107 poin. Nah, untuk R23-nya kita dapat skor di 1669 untuk mode plugin dan mode bater only di 1259. Dan untuk pengujian stresnya di 3D Mark Fireestrike. Wah, buset. Kalian jangan berharap deh laptop ini bisa dipakai main game. Hanya dapat di 28,2% jauh banget dari standar e lolosnya dia yang 97%. Ya, secara otomatis kalian bisa simpulkan kalau laptop ini kalau kalian geber terus-terusan pasti bakal throtling juga. Dan pada pengujian time spy kita gak dapat hasil alias zong karena memang spy itu kan representasi untuk direct 12 tapi untuk fire strike-nya kita dapat di 691 poin dan hasilnya kecil banget. Dan kalau kalian penasaran dengan pengujian gamingnya kita coba di Dota 2 dan PB. Ini dia hasilnya. [Musik] Dan lanjut ke pengujian real use-nya. Kalau kalian pakai untuk Word, Excel, PowerPoint ini masih bisa banget, masih cukup enak. Ekspor PPT to PDF yang 150 lembar itu selesai di 21 detik. Sedangkan randomis data Excel yang besar banget itu masih ya enggak bisa digolong cepat juga, cuman masih cukup oke. Ada di 117 detik untuk suhu permukaan. Karena memang ini tanpa kipas sama sekali, hanya mengandalkan metal blocking. Suhu permukaannya cukup tinggi. Walaupun secara spesifikasi yang ditanam enggak tinggi-tinggi banget. Suhu tertinggi ada di 44 derajat Celcius. Untuk di tombol-tombol yang sering kalian pakai di bagian kiri WASD itu ada di 41,5 derajat. Ya, sekali lagi walaupun di bagian tombol yang sering disentuh dan biasanya itu tombol yang paling rendah suhunya, suhu yang kita dapat masih cukup tinggi. Nah, untuk kapasitas baterainya bisa dikatakan enggak gede-gede banget, tapi hasil yang kita dapatkan itu lumayan di 6 jam 12 menit pada pengujian PC Mark 10 dan itu merepresentasi pekerjaan-pekerjaan kantoran. Jadi kalau kalian bawa sekolah ya paling enggak kalian masih bisa pakai tanpa harus bawa cas-can lah. Untuk layar 14 inch resolusi yang beruntung banget dapat FHD tapi panelnya di TN doang. Jadi kalian enggak bisa berharap banyak kalau kalian butuh akurasi warna. Ya, apa dikatah itu cuman layar TN. Kalau kalian lihat dari samping pasti agak burem. Posisi paling enak jelas kalau kalian letakkan di depan seperti ini. Untuk color akurasinya kita nyaris enggak pernah dapat di layar TN dengan 100% sRGB. Dan ini sekali lagi terbukti benar color gambutnya cuma di 60,7% sRGB. Adob RGB-nya di 52,1%. Pit-nya lebih rendah lagi di 48%-an, NTS-nya di 51 dan brightness-nya maksimal cuma di 230 nitz. Itu bukan layar yang wah banget. Tapi sekali lagi lumayan untuk sebuat Rp3 jutaan toh kita dapat layar FHD juga. Nah, kalau kalian lihat produk-produk lokal di harga-harga yang mirip seperti Zirect DCH, lalu SPC masih dapat IPS FHD, lalu ada juga Advance itu rata-rata masih dapat layar TN dan resolusi HD. Ya, ini better lah. Untuk portnya standar aja ada USB type C, ada juga USB type E dua buah, satu buah 3.0 dan satu buah lagi 2.0. ada HDMI dan combo jack audio. Ya, memang agak sederhana tapi maklumlah ini seri entry level juga. Nah, lanjut pembicaraan dengan teman saya yang ada di service center karena memang laptop ini wifi-nya di awal bermasalah. Dan saat pertama kita tanya dan yang diminta pertama kali adalah dokumen resmi pembelian dari negara asalnya yaitu Amerika. Kalaupun dokumen yang asli dari Amerika itu ada, itu harus lewat proses yang namanya eskalasi. dan mereka harus tanyakan ke Asus regional apakah bisa diterima atau tidak. Karena Asus Service Center ternyata punya dua, Guys. Jadi statusnya local warranty atau international warranty. Kalau international warranty itu akan bisa langsung di-cover, tapi kalau local warranty itu akan melalui proses eskalasi. Dan poin-poin eskalasinya apa aja itu pun kita tidak dikasih tahu. Dia kembali lagi keputusan akhirnya ada di service center Asus. Dan pada saat kita cek SN laptop ini di website resmi Asus Indonesia, SN-nya enggak muncul. Nah, kalau muncul contohnya seperti ini dan ada tulisan international warranty. Nah, tapi kalau kalian bawa ke service center atau kalian tanyakan ke pihak Asus-nya, kalian lempar SN laptop ini, kebacanya warranty territory-nya ada di USA. Dan paling aman kalau kalian memang pembelian di USA, garansinya harus kalian kembalikan ke sana. Nah, karena ini laptop bukan versi Indo, secara otomatis chargernya pun beda. Kalian harus pakai converter yang model seperti ini. Karena memang ini internasional, modelnya yang gepeng seperti ini. Dan kalau kalian cek juga di website Amazon laptop ini dibandrol di harga 189 dengan basic storage-nya ada di IMMC 64 gig. Spek yang lainnya sama persis dan jatuh harganya kalau kita konversi kita anggap 1 dolar itu Rp16.000 R000 itu ada di 3,3 juta. Itu dengan versi IMMC. Masuk ke Indonesia 3,3 juta kalian sudah dikasih bonus SSD sama pembelinya. Kira-kira itu jadi good deal atau enggak nih? Kalian tuliskan di kolom komentar. Kesimpulannya kalau kalian lihat dari harganya sebenarnya kalau dibandingkan dengan resmi di US atau kita ambil data dari Amazon ini bisa dikatakan laptop yang cukup murah ya daripada kalian beli N40 atau N4000 yang E410 KA resmi di R,5 jutaan atau juga sama-sama lelet gitu ya. Harganya bisa jadi cukup masuk akal dan cukup menarik. Tapi emang kalian harus turunkan ekspektasi kalian. Kalau laptop seperti ini enggak akan bisa dipakai untuk e rendering berat atau bahkan kalau kalian pakai Photoshop dengan resolusi yang cukup tinggi itu akan bermasalah karena RAM-nya hanya dipatok di 4 gig doang enggak bisa ditambah apalagi dikurangin enggak jalan pasti. Dengan spesifikasi kayak gini, harusnya sih bakal good deal banget untuk anak-anak sekolah. Karena di harga Rp3 jutaan kecil, kalian pasti dapat di produk-produk lokal seperti Z ataupun Advance, tapi ini produk internasional dan itu baru grest dan masih segelo. Tapi itu pun kalau kalian bisa berdamai dengan garansinya yang abu-abu. Tapi kalau menurut kalian, kalau misal kalian punya budget di angka Rp3 jutaan, kalian lebih mending ambil limbah seperti Tingpad atau Delatitude atau beli produk lokal atau beli produk internasional yang garansinya seperti ini. Kalian coba tuliskan di kolom komentar. Oke, cukup sekian video kita kali ini. Saya Riku.
