Acer Salah Kasih Nama Laptop Gaming Tipis ini Pakai "LITE" !! (YouTube Video)
Yang lain jual mahal tapi speknya ampas. Yang ini desain berkelas tapi tenaganya beringas. Layar luas warna tegas bikin mata langsung puas. Ya udah enggak usah cepas. Selamat menonton yang ikut kelas dan berakhir cemas. Hai Andika guys di sini. Masih ingat enggak beberapa bulan yang lalu kita eh beberapa kayaknya tahun lalu ya kita ng-review Acer Nitrolite tapi yang versi putih yang kalau misalkan saya pakai saya harus cuci tangan dulu karena saya takut kotor. Nah, hari ini Nitrolight 16 atau 16 datang lagi tapi dengan vibe yang berbeda. Yang ini tampilannya lebih anak metal, hitem, pekat, dan misterius. Tapi sama kayak sebelumnya, saya tuh masih enggak habis pikir kenapa Acer ini ngasih nama Light 16. Light di dunia teknologi itu sebenarnya kayak versi hemat yang disunat biar harganya lebih murah gitu. Ibaratnya kayak kita pesan kopi susu tapi susunya itu diganti Kriamer ya agak beda rasanya. Tapi si Acer Lite ini dia pakai Intel Core Ultra 7240H. Jadi light-nya di mana? Di dunia ini saya bingung sama tiga hal ya. Jadi ada PLN yang kita enggak pernah ngutang tapi dia selalu rugi terus. Garuda tiketnya paling mahal. Dia juga selalu rugi terus. Dan Acer Nitrolet yang light-nya di mana? Karena dia pakai prosesor kencang kayak enggak masuk aja di logika saya. Coba deh kita bedah light-nya ini ada di mana. Kita awali dari desainnya dulu ya. Ngomongin desain jujurly enggak banyak yang berubah sih dibandingin seri sebelumnya. Auranya tetap laptop gaming bilinya solid. Tapi ya, pas diraba-raba, kita sadar kalau back covernya ini masih pakai plastik. Eh, sori bukan plastik, plastik yang udah disarjanain. Jadi namanya itu polikarbonat. Jadi kalau misalnya ada orang operasi plastik, bahasa kerennya adalah operation polyarikarbonat gitu kali ya. Jadi dari terms material itu udah ketahuan lah ya light-nya ada di mana. Walaupun plastiknya memang bukan plastik yang ringkih, tapi ya masih pakai plastik. Yang paling saya suka sih warna hitamnya ini karena Acer pakai finishing dove dan dove-nya ini kayak beda. Masih bertekstur kayak ada glitter-glitnya gitu. Coba deh kalian perhatikan ya. Dan ini tangan saya tipikal orang berkeringat seperti biasa dan dia nempel fingerprint. Tapi ya namanya manusia ya, manusia itu makhluk yang enggak pernah bersyukur dan ini masalah preferensi selera juga karena saya enggak suka desainnya yang kayak tato di bagian pojoknya ini kayak terlalu lebai aja menurut saya karena kan ada pepatah less is more ya kecuali saldu kalau saldo itu more is more tapi kalau untuk desain saya itu lebih suka yang less is more. Ibaratnya kayak tato yang pas kita bikin lagi khilaf jadi pengen dihapus yah tapi udah terlanjur. Kalau misalkan lognya kecil nitro aja kayaknya lebih simpel lah ya. Untuk dimensinya sebenarnya untuk laptop gaming ya bukan laptop gaming yang kom juga tapi ini masuk kategori tipis lah ya karena tebalnya cuman 2,29 cent aja dan laptop ini 16 inch ya bukan 15,6 inch. Jadi lebih lebar secara vertikal tapi bobotnya buat laptop gaming tergolong ringan karena enggak sampai 2 kg ya. Kalau sama chargernya 100 watt 2 kg lebih dingah. [musik] Oke, sekarang kita bahas otak laptopnya. Si Intel Core Ultra 7240 H series ya, bukan U series. Kalau ada laptop gaming yang pakai U, wah itu sih kayaknya marketingnya harus dipecat ya. Jadi laptop ini masuk ke kelas Hend CPU buat laptop. Dia itu keluarganya Raptor Lake yang H series. Yang intinya dia bukan prosesor yang kalau misalkan kita buka 30 tab terus [musik] dia ngambek not responding gitu. Enggak. Ini bukan prosesor yang kayak gitu. Konfigurasinya ada 10 core dengan 6 core kencang atau performance core plus ada 4 core hemat atau efficient core. Pore ini tugasnya angkat beban buat kerjaan berat kayak render atau nge-game. Sementara si efficiency core itu kerjanya untuk background tex. Biasanya kayak misalkan kita lagi buka Spotify, YouTube itu enggak terlalu membebani ke performance core-nya. Karena support hyper trading, jadi totalnya 16 trade. Jadi kalau kalian tipe yang buka Premiere sambil export, sambil Spotify, sambil Chrome, sambil buka Hub hub ya, WA web sambil riset yang ujungnya ya riset itu ujungnya bakalan nonton Scroll media terus ya. Ini memang prosesor yang dirancang untuk kerja keras lah intinya. Soal Call speed-nya menarik picornya ini bisa lari di 2,5 GHz sampai boost ke 5,2 GHz. Jadi ibaratnya kayak mobil hybrid lah ya. Jadi kalau misalkan pas macet-macetan dia efisien. Kalau misalkan dikencangin gasnya dia bisa kencang juga, fleksibel. Tapi jujur yang bikin kaget itu sebenarnya baterainya ya. Kapasitasnya sebenarnya standar, cuma ada di 53 watt hour. Tapi pas kita tes pakai modern office, dia bisa bertahan 6 jam. 6 jam kalau standar kalian laptop bisnis ya memang 6 jam itu kayak boros banget. Tapi karena ini laptop gaming 6 jam itu gede loh ya. Awet buat laptop gaming. Biasanya kalau laptop gaming itu kan kita baru login nyalain Steam eh tiba-tiba indikator baterainya teriak-teriak. Ya, laptop gaming itu 3 sampai 4 jam lah. Ini 6 jam. Terus Intel Core 7240H ini juga punya L3 Case 24 MB. Ibaratnya kalian punya meja yang gede banget lah. Jadi kalau misalkan mau diproses data di meja itu lebih cepat tanpa harus ngambil dari RAM atau dari storage dulu. Nah, ngomongin soal RAM, RAM ini ada berita bagus, ada berita ya sudahlah bagusnya dia langsung ngasih kita RAM 16 GB yang speed-nya sayangnya, nah ini berita ya sudahnya lah cuman di 4800 megfer. Padahal kalau dari prosesornya dia support di 5.600 megfer. Tapi karena dikasih langsung 16 GB jadi kayak ah ya sudahlah gitu. Apalagi di kondisi RAM yang lagi naik haji kayak gini alias mahal banget. Saran saya sih gak perlu upgrade RAM dulu ya, karena 16 GB udah cukup lah harusnya. Nanti kalau misalkan harga RAM udah mulai stabil baru kalian bisa sikat untuk upgrade RAM. SSD-nya juga gede di TB untuk speed standarnya di Gen 4 itu rit-nya di 4.000-an Mbps, w-nya 2300 Mbps. Yang sayangnya enggak ada opsi untuk tambah storage. Padahal kalau kita lihat di mainboard-nya udah ada ya, tinggal soketnya aja. Nah, ketemu lagi nih light-nya. Selain material plastik tadi, RAM-nya enggak sesuai dengan prosesornya dan SSD-nya enggak ada tambahan untuk storage. Untuk GPU-nya dia pakai RTX 4050 6 GB GDDR6, TGP-nya 55 watt. Memang kalau secara TGP kayak kelihatan kecil ya. Kalau dulu itu nama Nvidia-nya itu MaxQ, tapi sekarang udah enggak ada ya. Jadi termasuk VGA yang low power. Kenapa seperti itu? Kalau kita lihat dari ketebalan laptop gaming ini, Acer lebih milih jaga temperaturnya biar enggak over kayak produk sebelah yang matot tiba-tiba karena TGB-nya tinggi tapi airflow-nya enggak maksimal. Nah, setiap pembeliannya itu include dengan Windows 11 Home dan Microsoft Office 2024 dan include satu lagi juga Office 365 basic selama 11 bulan alias 1 tahun. Lumayan tuh ya karena kalau kita mauin Office itu udah terintegrasi sama cupilot. Nah, enggak afdol rasanya kalau kita bahas laptop gaming, tapi kita enggak bahas performanya ya. Karena biasanya spek itu di atas kertas kencang, tapi tuningannya jelek. Jadi, performanya juga ikutan enggak maksimal. Nah, di Acer ini kita coba dari sintetis dulu ya. Pertama di sini bench R23 kita looping 10 kali dan hasilnya ini stabil banget. Memang run pertamanya biasanya suka nendang karena ada boost, tapi habis itu dia ngunci di angka yang konsisten. Di mode charging rata-rata di 9.743. Di mode baterai only rata-ratanya 9.000. 1664. Perbedaannya tipis bangetlah. Ini kurang dari 1%. Yang artinya kalau kalian lagi di luar kan biasanya laptop gaming itu harus dicolok dulu biar performanya optimal. Ya, ini enggak perlu karena selisihnya cuman 1%. Jadi kalau kalian di luar tanpa colokan, performanya bakal mirip-mirip aja dengan performa ketika kalian cas. Performanya itu masih berasa laptop gaming-nya gitu, enggak kayak performa yang kalau misalkan udah dicabut dia lemas. Eh, kok kata-katanya aneh ya? Pokoknya gitulah ya. Nah, untuk suhu temperaturnya dan juga TDP-nya kalau kalian lihat chart ini sebenarnya mirip-mirip aja ya, baik itu battery only atau pas dicas. Jadi ya sesuailah dengan angka sintetisnya tadi. Efek dari performance dan juga baterai only yang enggak terlalu beda tadi itu enggak di sin BCH atau disintetis aja ya. Di real scenarionya kayak editing itu juga berpengaruh. Kayak misalkan Premiere Pro 4K kita render di mode charging itu 1 menit 50 detik. Di baterai only memang lebih lama dengan 2 menit 33 detik, tapi selisihnya cuman beberapa detik aja. Jadi kalau di pas kondisi terdesak enggak ada colokan, seenggaknya performanya masih enggak terlalu jomplang lah. Di full HD juga mirip-mirip. Charging itu di 59 detik, kalau baterai only di 1 menit 30 detik. Lanjut untuk rendering 3D di Blender. Kalau CPU render kita dapatnya 4 menit 3 detik. Kalau menurut kalian itu masih lama, pakai GPU render-nya aja. Walaupun TGP-nya cuma 55 watt, ketika kita tes pakai render 3D BMW itu selesai dalam waktu 30 detik aja. Dan kalau kita lihat suhunya pas CPU render juga dijaga di 70 derajat celcius dengan CPU package power atau DDP-nya dijaga di kisaran 30 watt walaupun pertamanya nge-bost di 55 watt ya. Dan efek limitasi TGP di laptop gaming yang tipis itu penting. Karena kan memang ada laptop gaming yang tebal yang dia bisa TGP-nya itu sampai 70 atau 100 watt. Nah, enaknya di 55 watt pas kita stress tes di 3D Mark jadinya stabil. Skornya pas stress tes dia lolos dengan 98,6% untuk hasil 3D Mark lainnya. Kalian bisa lihat sendiri di layar lah ya. Sebagai perbandingan RTX 3050 itu ada di kisaran 18.000 untuk solar B-nya. Intinya skor segitu udah siaplah kalau misalkan kita pakai main untuk game kompetitif ataupun triple A. Ngomongin soal game kompetitif langsung aja deh kita tes dia sesuai dengan kodratnya. Tes gaming. Dimulai dari Valoran yang kita tahu ini CPU bon alias lebih butuh CPU performance. Pada pengujian kita dapat rata-rata di 200 fps dengan maksimal 236 FPS dan drop-dropnya cuma di 173 FPS. Ini kita pakai settingan resolusi full HD plus dan grafiknya high ya. Dan btw layarnya ini kan 180 Hz ya. dan layarnya bakal kepakai karena FPS-nya udah melebihi dari refresh rate layarnya. Kalau aim kalian pakai laptop gaming ini masih meleset lebih bukan skill ya, itu lebih ke kalian butuh doa aja. Lanjut ke Dota 2. Kita pakai dua simulasi, best looking dan juga fastest. Jelas fastest lebih tinggi ya FPS-nya, tapi kita lebih merekomendasikan base looking karena masih dapat rata-rata di 82 FPS plus dapat grafit yang ciami sorok kalau kata Om Dedy kios komputer. Game perwibuan juga aman. Wetering wave juga dengan resolusi full HD plus dengan graphic quality masih dapat rata-rata di 60 fps maksimalnya. Untuk game triple A kita coba di Cyberpunk settingan pertama kita pakai preset high, rate racing on, dan DLSS. Itu di performance kita dapat average 43 fps. Tertinggi di 50 fps dan terencahnya di 37 fps. Masih playable tapi feel-nya lebih ke cinematic modood [musik] ya. Bagus buat jalan-jalan next city. Kalau tembak-tembak intense itu agak kerasa berat. Kalau settingannya kita ubah dengan grafik low, retracing, dan DLSS-nya masih sama, kita dapat rata-rata dua kali lebih tinggi di 87 FPS. Paling tinggi 96 FPS dan paling rendah ada di 77 fps. Jadi, tentuin dulu kalian mau main game Cyberpunk itu grafiknya atau kalian pengen nyamannya. Kalau nyamannya ya low-nya itu kalian aktifin aja, jangan pakai yang high. Intinya sih masih sangat playable lah ya untuk game triple A yang ngabisin resource GPU kayak gini. Tapi memang karena dia tipis juga ya, kalau misalkan dia full load atau kita main game yang lumayan 1 jam lebih, kriasnya bakal agak teriak minta tolong atau agak noisy lah. Kalau untuk suhu pas main game mirip-mirip kayak Xport Premiere Pro tadi ya. Suhunya itu dijaga di 70 derajat celcius walaupun awal-awal dia naik dan TDP-nya juga dijaga di kisaran 25an watt lah untuk GPU-nya. Powernya itu kadang bisa nyentuh sampai 45 watt dan GPU temperaturnya di kisaran 73 derajat Celcius. Nah, sekarang su permukaannya kayak gimana? Tapi yang perlu jadi catatan, su permukaan ini kita pakai ketika estafet ya. Jadi tes benchmark, tes game langsung jadi satu. Ruangannya sekitar 30 derajat celcius dan suhu tertingginya dia nyentuh di 45,9 derajat Celcius. Tapi tombol WAS di tombol yang biasanya kita bakalan main game, kita pakai terus itu di 40 derajat Celcius. Nah, performa game-nya oke, tapi gimana soal layar? Karena kalau performanya kencang tapi layarnya burik ya buat apa ya? Tapi yang saya salut light-nya ini enggak ada di bagian layar karena layarnya dia enggak dikasih IPS level ya. Dia dikasih IPS beneran yang laptop gaming. Kalau misalkan kita ngomongin entry level ya yang setara dengan Aceritolet ini biasanya mentok di 144 Hz. Tapi Acer enggak ada kompromi. Dia kasih 180 Hz. Dan yang lebih gokil lagi, biasanya laptop gaming yang ada gimmik light atau entry level itu sb-nya ya di 70% lah atau 60% lah. Ini enggak. SRGB pas kita tes di 96,5%, NT-nya 78,9%, P3-nya 85,10%. Tipical brightness-nya ada di 363 ni. Untuk laptop gaming termasuk tinggi dari sisi layar. Apalagi ini kelas entry level. Untuk webcam ya dia standar ya 1080p 30 fps yang kira-kira kualitasnya seperti ini. Tapi karena dia ada GPU Nvidia-nya dia bisa terbantu sebenarnya dengan Nvidia broadcast yang kalau misalkan kita meeting online dia bisa kayak ya bikin light kita atau muka kita itu lebih segar, lebih bagus lah ya. Lighting-nya lebih proper. Cuman kalau misalkan kalian pakai software bawaan kamera ya kira-kira seperti inilah kualitasnya ya. Ya, saran saya kalau misalkan kalian streaming pakai Wcam eksternal lah. Virtual background di Nvidia-nya juga ada, auto frame juga ada, virtual key seperti yang saya bilang tadi, lul light jadi enggak lul light itu ada juga. Di sisi mic atau audio juga bisa di-adjust pakai Nvidia broadcast. Untuk kita yang enggak banyak kerja dengan input angka, layout-nya menurut saya cukup menyenangkan walaupun full size keyboard tapi number pad-nya dibuat lebih kecil. Jadi, tombol di font lainnya masih gede dan key travel-nya juga enggak yang sempit banget. Jadi buat jari saya yang gede masih kerasa enak banget. Ditambah lagi F keyboard-nya juga empuk. Okelah buat kita yang kerjaan hariannya ngetik script kayak saya. Tapi kalau mendadak butuh number pad mungkin tiba-tiba kalian disurati pajak dan kalian harus ngitung ke harta kalian. Number pad-nya masih bisa kepakai. Untuk backlit keyboard ya walaupun laptop gaming tapi dia enggak RGB. Tapi kalau saya pribadi sih enggak masalah karena RGB menurut saya udah ketinggalan zaman ya. Ya, tapi enaknya RGB itu kita bisa pilih warna statik sih. Tapi kalau ini enggak. Satu aja. Paling sisanya yang mencolok ya di tombol WASD yang pakai color blocking warna oren stabilo tanpa nyala backlit udah kelihatan mencolok banget. Turun lagi ke bagian touchpad yang menurut saya standar aja sih feel-nya ya. Ya, selayaknya touchpad pada umumnya cuman nilai plus-nya touchpad-nya lumayan gede. Tapi walaupun gede dia udah ada pump rejection-nya kok jadi aman. Selain material dan opsi upgrade-nya tadi saya juga nemuin lagi satu kata light-nya itu di mana di software ya. Biasanya kan kalau kita ngomongin SR ada Predator Sens, Natur Sense, Travel Mid Sense. Nah, ini belum ada software-nya ya atau saya yang salah ya. Tapi pas saya tes enggak ada dan saya coba instal pun enggak ada. Nah, sebagai gantinya dia kasih software AI yang banyak banget. Contohnya ada Acerine yang bisa nge-manage kapan kita butuh performa kencang saat nge-game atau render atau saat kita lagi entertainment yang cuma butuh YouTube-an atau nonton Netflix semuanya diatur sama dia. Terus ada Acer AIQB. Yang ini lucu sih, kita seperti punya asisten robot pribadi yang bisa ditanya apapun dan bisa bantu kerjaan kita. Biasanya lokasinya dia nyempil di pojokan. Ada juga AI drawing assistant, Acer AI Pro Cam dan lain-lain yang semuanya bisa kalian download di Acer-nya. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja video review dari Acer Nitro Light 16 yang light-nya ternyata ketemu ya. Walaupun light-nya itu bukan di bagian yang menurut saya penting-penting banget ya. Kesimpulannya kalau kalian cari laptop gaming yang mungkin ngejar performa, performance banget ya. Banyak sih pilihan laptop lain di marketplace. Tapi kalau kalian ngejar laptop entry level yang enggak cuma jualan performance aja tapi lebih allrounder dengan opsi yang lebih realistis, menurut sayaitor ini layak untuk dipertimbangkan. Dimulai dari performanya yang enggak bisa dianggap enteng, dipakai render video sampai 3D pun ya gas aja dipakai g kompetitif. Triple E juga bisa apalagi dier kasih layar yang beneran di luar nalar kita untuk kategori laptop entry level. Tapi ya kata light-nya itu tadi ya seperti yang saya bilang tadi materialnya pasih pakai plastik terus gak ada opsi update storage dan ya webcam-nya biasa aja plus enggak ada software kayak Nitro Sense ataupun Predator Sense. Untuk harga Acer ini pasang di 1599 atau sekitar Rp16 juta dan di e-commerce banyak juga yang pasang di bawah harga itu. Seperti biasa nanti tim editor tolong dicariin yang harga termurah di e-commerce dan tahanumi diproduksi atau di pojok kiri video ya. Dan ada lagi varian yang lebih terjangkau juga dengan Intel Core 5 210H dan Vigia RTX 365 6 gig yang harganya itu mulai R jutaan. Untuk garansinya seperti biasa, Acer 3 tahun servis, 3 tahun spare part, dan 1 tahun pertamanya ada ADP. Jadi kalau misalkan rusak kena air, human error lah intinya bakalan di-cover sama Acer. Overall kalau kalian cari laptop entry level gaming yang enggak terlalu mahal, yang allrounder, pakai gaming aman, desain aman, ngedit aman, ya laptop ini light-nya cuma di bagian yang menurut saya enggak penting-penting aja kok. Sayaikudi and see you on the next video.
