Akhirnya Ketemu Laptop Yang gak Cuma Jualan RINGAN ! Acer Swift Lite 14 (YouTube Video)
Kalau kalian punya teman yang kerjanya digital nomad, suka berpindah-pindah tempat tapi laptopnya pakai laptop zaman keramat, fix kalau kalian perhatiin lebih dekat itu laptopnya udah sekarat. Mending suruh mereka tobat dan ganti laptop yang enggak ada tipu muslihat. Ya udah enggak usah tersendatsendat. Selamat menonton. Bangsat. Bang Satria ya maksudnya Satria. Satria. Bangsat. Hai Andika, guys. Di sini kenalin ini adalah Acerwi Light 14 AI. Sebenarnya saya malas banget ya kalau misalkan harus ngebahas apapun itu yang ada kata light-nya kalau di dunia teknologi. Karena ya banyak banget gitu komprominya. Yang pertama biasanya ya laptopnya itu layarnya burik, bodinya ringkih. Performa Roma irama. Kenapa? Karena tiap kita ajak dia buat kerja keras, dia bakalan teriak terlalu terlalu. Tapi light di sini bukan melulu soal versi yang dikompromi sih. Kayak kemarin kita ng-review Acer Nitro Light juga. Light-nya tuh cuman kompromi di area yang menurut saya enggak penting aja. Sama kayak laptop ini, light-nya itu kepanjangan dari laptop irit tapi elite. Maksa banget sih ya. Beda dengan Nitro Light di seri Light Asro Swift ini. H light-nya agak lumayan sih. Apa aja itu? Kita coba bahas dari sisi desain dulu ya. Mereka mengklaim kalau si Acer Swift Flight ini adalah laptop yang paling ringan di dunia. Tapi ada tanda bintang kecil atau catatan laptop paling ringan yang pakai AMD 200 series. Ya, kalau kayak gitu sih menurut keyakinan mereka dan keyakinan saya. Benar sih ya. Ini tuh sama kayak diskon di mall 90% tulisannya. Tapi pas kita masuk ternyata cuman tali sepatunya doang yang didiskon 90%. Untuk bobotnya laptopnya sih katanya di 999 gr tapi di timbangan kita enggak segitu ya. Ya, selisih dikitlah. Tapi tenang, bobotnya tetap enggak bikin pinggang ngajak bagu hantam. Ditambah lagi dengan varian warna yang enggak malu-maluin pas posting di Instagram. Material yang dipakai untuk bagian punggung menggunakan metal, sedangkan area keyboard dan back-nya menggunakan polikarbonat. Tapi overall saya suka sih ya dengan desainnya Acer Swift. Dari dulu saya suka karena dia minimalis jadi cocok [musik] buat bisnis. Plus engel-nya walaupun dia laptop enteng ya, dia bisa dibuka dengan satu tangan. Satu lagi dia bisa dibuka sampai 180° L buat fitur presentasi. Selain harga dan desainnya yang jadi nilai utama, si Acer ini enggak cuma jualan laptop murah dan tipis aja, tapi secara performa enggak bisa dianggap remeh. Otaknya dia pakai AMD Ryzen 7260. Ini yang diperkenalkan di CS 2025 ya. Jadi secara umur masih anak baru lah. Nah, si Ryzen 7 260 ini masuk ke keluarga HS series atau keluarganya Handika Setiabudi. HS itu. Jadi, Ryzen 7 260 ini secara karakter performa mirip dengan apa yang dulu kita kenal sebagai HS series. High performance tapi bisa masuk di laptop tipis [musik] kayak Aser Swift ini. Tapi karena ini seri HS dan dimasukin ke serius Swift, jadi konsern mereka bukan cuma soal kencang aja, efisien juga. Secara kapasitas baterai sih memang gak terlalu gede ya dengan kapasitasnya itu 50 watt hour. Tapi 50 watt hour-nya di Acer Swift Flight ini kalau kita tes di PC Max dia bisa dapat di 11 jam 45 menit. Kerja 8 jam masih sisa sekitar 3 jam lebih. Kalau untuk real scenarionya pas kita sampling untuk buka YouTube 10 menit dia berkurang 3%. Untuk ya ketik-ketik browsing dengan Wii-nya nyala berkurang 2%. Untuk gaming 10 menit berkurang 7%. Yah, laptop ini kencang doang tapi gak ada dedicated GPU-nya. Mana paten, Bang? Tenang, ini adalah prosesor AMD yang sejak zaman dulu dia punya solusi di IGP atau integrated graphic memorynya. IGP-nya ini pakai AMD Radeon 780M yang terkenal kencang dan serius buat laptop tipis kayak gini. Karena enggak cuma bisa dipakai gaming ya, IGP-nya ini juga bisa nyalain sampai empat monitor sekaligus. Nah, cocok tuh buat kalian yang mungkin pengen buka jasa monitoring CCTV. Dan yang saya suka dari AMD, IGP-nya itu bisa minjam [musik] dari memori RAM-nya. Dan untuk kodex, dia juga udah lengkap. Dia punya empat kodex populer kayak IV1, HC dan AFC. Tapi kelemahannya ya karena memang dia IGP jadi dia mengandalkan speed memory RAM juga. Nah, ngomongin soal RAM, RAM di laptop ini sayangnya di solder jadi cuman maut yang bisa memisahkan dia ya. Enggak bisa kalian upgrade tapi untungnya udah 16 GB. Jadi kalau misalkan kalian tipe orang yang bosenan, kalian pengen upgrade ke 32 GB ya kalian harus upgrade sama laptopnya juga karena udah diolder. Terus untuk SSD-nya Gen 4 1/2 TB yang pas kita tes di kristal di SARX speed-nya itu read hampir 5000 Mbps wight-nya di 4.400 Mbps. Yuk, sekarang kita lanjut ke pengujian performanya karena menurut saya ini cukup anomali dan cukup menarik karena kalian bisa lihat di chart ini antara mode charging dan baterai only selisihnya itu cuma 20%. itu selisih yang ya bisa acceptable lah atau normal kalau kita lihat dari performanya yang memang dia pakai prosesor seri high performance slip gak trotil yang gimana gimana sempat turun buat ambil nafas dan stabilkan suhu tapi setelah itu naik lagi. Di sini bench 2024 juga sama jadi walaupun kita pakai laptopnya tanpa dicas performanya masih kencang plus dengan performa kencang ini tadi ingat baterainya bisa sentuh 11 jam lebih. Kalau untuk performa CPU-nya jelas ada limitasi. Wajar karena ini memang laptop tipis dan ringan yang tujuannya untuk bisnis. Kalau kita perhatikan di sin R23, TDP-nya itu spike di 30 watt terus ditahan di 25 watt agar suhunya bisa tahan di 85 derajat celcius. Sebenarnya suhu di 90-an sih masih aman ya, cuman karena laptopnya ini tipis, jadi kalau diangkat ke 90 bakalan ngaruh ke suhu permukaannya juga. Di mode baterai only, TDP-nya diturunkan jadi 15 watt dan surprisingly enggak ada penurunan performa yang kayak gimana-gimana. Jadi perlu kita acungi jempol sih ya untuk tuningan si Acer Swift Light 14Ai ini. Nah, dengan skor benchmark sintetis kayak itu tadi kalau kita coba di real scenarionya contohnya kayak editing di Adobe Premiere Pro dengan template yang memang biasanya kita pakai export ke 4K dia selesai dalam waktu cuma 3 menit 57 detik. Kalau diturunin ke full HD cuma 2 menit 47 detik. Apalagi kalau misalkan kalian cuma ngedit video vertikal karena kan sekarang zamannya video vertikal ya. capcard 1 menit. Wah, bakalan lebih enteng lagi. Tapi ada satu kekurangannya sih, nanti kita bahas ya untuk masalah editing. Kita lanjut dulu ke benchmark rendering di Blender dengan template BMW. CPU rendernya dia selesai dalam waktu 3 menit 25 detik. Kalau pakai GPU rendernya menarik nih. IGP-nya lebih kencang dengan 2 menit 46 detik. Kalau untuk test stability-nya, nah ini yang perlu saya highlight juga karena biasanya untuk laptop tipis kayak gini, stress tes dia enggak lolos. Tapi ini lolos dengan skor 99%. [musik] salut sih untuk game kalian bisa lihat chart di layar dan juga screen play di layar. Intinya sih untuk game kompetitif kayak Dota atau Valoran aman banget karena layarnya cuma 60 Hz. Untuk wave juga masih bisa dimainkan. Dan yang menarik itu di game Cyberpunk ya yang biasanya butuh dedicated GPU tapi di sini kita cuma butuh aktifin AMD frame generation dan AMD fidelity-nya. Yang awalnya kita dapat rata-rata di 29 FPS langsung dapat di 69 fps. Gokil. Padahal dia enggak ada dedicated graphic card-nya. Kalau untuk suhu pas main game semuanya berhasil sama kayak di benchmark sintetis tadi ya, dijaga gak nyampai nyentuh di 85 derajat celcius dengan TDP juga dijaga di bawah 25 watt. Nah, kalau untuk super permukaannya seperti yang saya bilang tadi, kenapa dijaga di 85 derajat Celcius? Karena pas kita Fleir untuk suhu tertingginya itu ada di 46,3 derajat Celcius. Tombol WASD dan juga keyboard- keyboard yang bakalan sering kita pakai itu di 42,5 derajat Celcius. Enggak yang panas, anget-anget kuku. Tapi bayangin kalau misalkan enggak dilimit, wah bisa lumayan anget keyboard-nya. Kalau untuk pekerjaan ringan kayak Office, export powerpoint, jadi PDF 150 slide itu selesai cuma dalam waktu 9 detik aja. Excel randomiz data yang gede banget selesai dalam waktu 40 detik. [musik] Nah, sekarang kita masuk ke segmen layar. Nah, ini nih komprominya atau kata LED-nya itu ada di bagian layar. Yang saya bilang tadi buat ngedit capcad enak, cuman komprominya ada di sini. Rendernya memang kencang, tapi sayangnya untuk color akurasi warnanya itu cuma ada di 47,9 sRGB. Astagfirullahalazim ya. Ini rendah banget. Jadi ibaratnya kalau misalkan kalian beli seblak bumbunya itu belum dicampur gitu. Jadi warnanya harusnya merah tapi karena enggak ada bumbunya jadi enggak merah. Tapi kalau untuk panelnya sendiri aman sih ya. Acer selalu pakai panel IPS yang bukan IPS level IPS beneran. Jadi warnanya masih adem di mata. View angle-nya juga masih luas. Rasio layarnya rasio layar yang memang lagi trend atau hype 16 bolden rasio namanya. Jadi kita bisa scrolling lebih lega. Pas kita cobain keyboard-nya sih saya agak kaget ya feel keyboard-nya sama Acer travel mid agak beda. Saya agak kurang familiar gitu. Mulai dari layout-nya yang berbeda, tombol power masih jadu dengan keyboard. Tapi di samping kirinya itu ada lock yang kayak keyboard full size tapi number pad-nya itu jadi satu sama huruf. Jadi kayak keyboard keyboard laptop jadul zaman dulu. Ibaratnya sekarang kan udah zamannya Gen ya. Jadi laptop ini kayak Gen tapi dia dengerinnya lagu ad. Jadul banget. Secara fungsional sih bagus tinggal butuh penyesuaian aja dan tombol Dell itu jadi satu dengan F11. Jadi ya ya 3 hari lah ya untuk penyesuaian. Terus kalau di tangan saya rasanya size perkey-nya lebih gede-gede, enak dan agak cekung. Dan satu lagi yang kerasa kurang familiar, travelnya itu agak lebih pendek. Walaupun kalau dibandingin sama butterfly keyboard di brand sebelah ini lebih enak sih. Tapi dibandingin travel mid, saya [mendengus] lebih suka travel mid. Sisanya sih no complain, masih ada backlight juga dengan dua level pencahayaan. Terus turun ke bagian touchpad. Ukurannya standar, enggak gede, enggak kecil tapi masih solid. Khasnya Acer Swift kebanyakan lah. Lebih enak ini dibandingkan Acerre. Pindah ke bagian port yang sebenarnya enggak ada masalah, cuma tata letaknya aja yang agak aneh di mata kita ya. [musik] Di kanan itu cuma ada jack audio aja. Sisanya ada di kiri. Tapi untungnya mereka kasih dua port type C 5 GB/ second full function juga yang bisa untuk ngecas. Terus untuk display out juga bisa. Transfer data juga kencang. Jadi port inilah yang saya bilang tadi bisa langsung connect ke empat screen langsung karena bandwid-nya kencang. Walaupun laptop ini enggak masuk ke keluarganya. Copilot plus PC yang minimal syaratnya itu harus punya 40 TUPS ya untuk MPU-nya. Tapi beberapa fitur unggulan kayak Studio Effect masih bisa dipakai, terus live caption untuk auto translation juga ada. Terus untuk pengaturan performance, Acer juga ngasih fitur software yang namanya Acer AI Engine yang bisa atur performa sesuai dengan kondisi pakai kita. [musik] Ada juga software Acer Game Space yang ngumpulin jadi satu game-game yang udah kita instal di laptop ini. Dan ada Acer quick menu yang menurut saya pribadi enggak terlalu penting sih ya, tapi berhubung installernya jadi satu dengan Game Space, kalian bisa manfaatkan untuk FPS monitor daripada kalian instar software-software lainnya. Terus ada game highlights buat lihat momen seru gameplay. Di sini akan ng-record skill jago kalian atau sekaligus aib-aib kalian saat main game sekalian jadi bukti kalau kalian beneran jago atau [musik] cuman bacot doang. [musik] Dan seperti biasa karena ini bukan laptop ODM, laptop resmi ya, jadi mereka udah include sama Windows 11 Home dan Office 2024 plus garansinya 3 tahun. Yang 1 tahun pertamanya itu udah include sama ADP. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja video review dari Acer Flight 14 AI yang harganya itu di kisaran R [musik] jutaan. Nanti link pembeliannya saya taruh di pojok kiri atau di deskripsi. Dan kesimpulannya sebenarnya saya masih meraba-raba sih ya karena kan laptop sekarang itu harganya agak udah lumayan pricey ya. Tapi Exor Swift Flight masih ngasih harga yang menurut saya masih resonable ya dengan Rp2 juta RAM 16 gig storage 512. Prosesor juga prosesor HS kencang dengan bobot yang enggak sampai 1 kg. Kalau ditanya laptop ini cocok buat siapa? Ya, hampir semua jurusan kuliah itu bisa, kecuali [musik] teknik sipil dan arsitektur ya. Karena itu butuhnya GPU banget. Untuk yang color critikal intinya kalian itu suka atau kerjaannya itu dengan warna itu juga kurang cocok. Tapi kalau misalkan kalian pengin pakai monitor tambahan bisa. Karena dari sisi performa udah kita tes semua tadi kencang banget untuk sebuah laptop yang tebalnya gak sampai 1,6 cent [musik] dan bobotnya gak sampai 1 kilo. Nilai plusnya ini sebenarnya ya karena prosesornya ya karena si AMD Ryzen 7260 ini udah masuk ke kelas prosesor gaming atau performance tapi baterainya awet. Jadi cocoklah buat kalian yang digital nomad tapi ya pengin performa yang lebih kencang. Overall kalau kalian butuh laptop dengan tenaga gede dan kalian mobilitasnya tinggi tanpa peduli warnanya agak pucat sih laptop ini bisa jadi rekomendasi yang sangat sangat menarik. Saya Andika and see you on the next video.
