Jungkat

Akhirnya Tablet Infinix Pakai XOS Full! Fitur Berlimpah, Layar 11 Inci: Review Infinix XPad 30 Pro (YouTube Video)

  • 15/09/2026

Ini adalah Infinix Expet 30 Pro, tablet Infinix yang akhirnya sudah menggunakan XOS 16 normal. Bukan cuman Android polosan yang biasa digunakan di generasi sebelumnya. Sekarang dia juga dilengkapi dengan banyak fitur-fitur AI di sini ya. Layarnya 11 inci 2,5K. Bodinya tipis dan ringan. SOC-nya Helio G200 dan baterai cukup besar 8.200 mAh. Dan dia dijual termasuk dengan keyboard case-nya. Lalu dia masih punya slot micro SD dan support 4G. Ya, kami tahu harganya mungkin dianggap udah naik ya dibandingkan pendahulunya. Tapi kalau kita menilai produk tahun ini tuh harus pakai standar tahun ini. Kalau kalian masih mendapatkan tablet Infinix tahun lalu dengan harga normal, saran kami ya segera beli aja dan habiskan aja ya. Nah, enggak cuma Infinix kok ya, semua brand juga akan menaikkan harga tahun ini. Mau enggak mau. Sementara kalau kita udah bisa melihat pakai kacamata 2026, sebetulnya ini tetap sebuah tablet yang menarik dan sangat layak untuk dilirik. Oke, biar lebih jelas kenapa, mari simak dulu review-nya kali ini. [mendengus] Infinix [mendengus] 30 Pro adalah penerus dari XP 20 Pro yang rilis 2025 kemarin. Target penggunanya adalah yang butuh besar untuk kerja, hiburan, dan juga belajar. Upgrade terbesar di sini adalah si software-nya yang sudah dibekali oleh banyak banget fitur AI ya. Mungkin ada yang meremehkan ya cuma software doang nih. Heh, jangan salah ya. bayar tim software tuh lebih mahal daripada beli hardware-nya loh. Tapi sebelum kita bahas software yang lebih dalam, kita bahas dulu paket penjualannya. Nah, dalamnya tentunya ada unit tablet dengan screen protektor yang sudah terpasang. Lalu ada kabel USB type C dan tentunya ada chargernya, ada chargernya, ada chargernya. Ini adalah adapter charger 18 watt. Kemudian ada dokumen. Nah, di luar bok tabletnya ada satu box lagi yang berisikan keyboard case-nya. Scat ya, keyboard case ini termasuk dalam paket penjualan yang RAM-nya 8 gig. Sayangnya kalau kita beli yang RAM 4 gig itu tidak dapat. Nah, tablet ini sebenarnya support stylus ya. Tapi sayangnya juga belum terdapat dalam paket penjualan. Bisa dilihat dari keyboard case-nya sendiri sudah ada slot untuk pasang stylus. Jadi kalau mau beli terpisah namanya adalah expensil 20. Harganya Rp250.000-an ada di Infinix Official Store. Oke desain yang membuatnya terlihat beda ada di modul kameranya. Walaupun isinya hanya ada kamera utama dan LED flash, tapi ukurannya sampai selebar bodinya. Ini bahasa desainnya iPhone terbaru lah ya. Nah, sedangkan untuk sisi layarnya itu desainnya standar aja. Biasanya simetris dengan tebalan sekitar 7,9 mm. Ini normal untuk tablet kelas menengah. Nah, untuk opsi warna itu ada toilet purple, enteride gray, dan titanium silver. Untuk back cover dan frame-nya ini unib body dengan material dari metal. Sedangkan untuk modul kameranya ini ter kaca. Saat dipegang tablet ini terasa cukup premium dan berkelas ya. Nah, untuk dimensi panjangnya 25,4 cm, lebar 16,55 cm, dan tebalnya di 6,6 mm. Ini termasuk tipis untuk tablet kelas menengah seperti ini. Untuk bobotnya tabletnya saja di 474 gr. Uh, di bawah 1/2 kilo tablet plus keyboard case-nya hanya 88 gr. ini masih ringan banget ya untuk dibawa-bawa bahkan lebih ringan daripada laptop yang paling ringan sekalipun yang ada di pasaran saat ini. Nah, kalau kita lihat dari posisi kamera selfie-nya, penggunaan ditunjukkan untuk orientasi horizontal. Kita lihat ya sekarang ya di sisi kanan di sini ada port USBC dan ada grill speaker. Di atas ada slot SIM tray hybrid. Kita bisa pasang satu SIM dan satu micro SD. Slot keduanya hanya untuk micro SD karena tablet ini hanya support single SIM doang. Kemudian di sini juga ada lubang mikrofon, tombol power, dan ada tombol volume. Kita berada ke sisi kiri di sini ada grill speaker. Di bawah ini kosong. Dari segi speakernya ini udah cukup lantang ya, cukup jernih dengan karakter suara yang dominan di trel dan vokal. Untuk bassnya emang masih tipis di sini. Ini masih sangat bisa dinikmati untuk main game maupun mendengarkan musik ya. Untuk sisi depan sekarang ini adalah layar 11 inci. Panelnya adalah TFT. Nah, Izo ini adalah teknologi layar yang sering dipakai oleh Sharp. Enggak disebutkan secara langsung panel ini IPS atau bukan, tapi yang jelas ini bukan panel murahan ya. Ingat ya. TFT itu beda sama TN. Kalau ada yang masih kecampur-campur berarti kalian kurang belajar. Oke, kalau kita lihat viewing angle-nya itu bagus dan warnanya cemerlang di sini. Jadi bisa dibilang ini sekelas IPS yang berkualitas lah ya. Untuk resolusinya adalah Full HD Plus 1920* 1200 pikel. Prefer-nya 90 Hz dan adaptif dari 60 sampai 90 Hz. Untuk brightness diklaim 500 Nitical dan 550 nits untuk maksimum brightness-nya. Nah, waktu kita tes itu hanya tercapai di 450 unit untuk indoor maupun simulasi outdoor. Ini masih sedikit di bawah klip infinix, tapi ya udah lumayan lah untuk penggunaan sehari-hari selama kalian makainya memang tidak di bawah terik matahari yang pol-polan gitu ya. Lanjut untuk layarnya ini support multitou sampai 10 jari. Ini mencukupi untuk kebutuhan gaming. Untuk mod warna enggak ada pilihannya. Kita tes apaadanya aja. Untuk larga mood coverage dan volume-nya ini ternyata diarahkan ke 100% sRGB. Wah, tumben nih. Biasanya kan 100% di CPT terus nih mantap nih. Untuk kebutuhan editing layarnya jadi cocok banget. Lanjut ke atas layarnya. Ini ada kamera selfie 5 megapel dan perekaman videonya bisa up to 2K 30 fps. Untuk kamera belakangnya ada kamera 8 megapel dengan perekaman up to 2K 30 fps. Nah, untuk spek internalnya SOS-nya pakai Helio G200. RAM-nya 8 GB LPD dan 4X dengan storage 128 GB UFS 2.2. Tenang ya, bukan IMMC. Lalu ada juga varian yang lebih terjangkau. RAM-nya 4 GB dengan storage 128 GB. Kami sangat menyarankan ambil yang RAM 8 GB aja ya. Nah, lalu untuk baterai ini 8200 mAh. Charger 18 watt, bypass charging tersedia. Untuk sensor esensial ada serometer, light sensor, bikometer, atau e-compas yang hardware. Nah, untuk pressimity sensor memang enggak ada, tapi ini kan bukan HP ya, jadi enggak ada masalah. Untuk giroskop ada, tapi sayangnya ini virtual jadi bukan sensor yang responsif-responsif amat. Untuk fitur kamaran yang mendasar ada lock screen standar Android dan ada juga face unlock. Lalu ada fitur kamaman tambahan di sini, yaitu tablet antit dan app lock. Tablet antitive ini membuat setiap kali kita mematikan atau restart tablet itu harus input password dulu walaupun tablet sedang dalam kondisi terbuka. Jadi amit-amit kecolongan saat lagi dipakai, setidaknya pencuri tidak bisa mematikan tablet ini sampai baterainya habis sendiri. Jadi kita bisa pakai fitur pelacak dan membunyikan tablet kita saat kita sudah dekat dengan tablet kita, ya. Sedangkan Applock sesuai dengan namanya ini mengunci aplikasi yang kita inginkan dan kita bisa pakai password yang berbeda dari lock screen. Misalnya kita tidak mau aplikasi galeri kita dibuka oleh orang lain. Misalnya lagi minjamin tablet ke anak ya mungkin ya cukup kita pasangin password yang beda dari lock screen aja dan aplikasi kita bisa terkunci dan lebih aman. Lanjut untuk konektivitas dia 2G 3G 4G ya. Wii-nya Wii 5 dan di sport Wii sharing. Bluetooth-nya Bluetooth 5. Bluetooth codx-nya ada AAC, SBC, UpX, dan LDAC. NFC ya enggak ada ini tablet ya. Untuk display out sayangnya juga belum bisa. Untuk OSD pakai SOS 16 berbasis Android 16. Nah, karena ini SOS yang versi full, jadi daftar fitur yang tersedia juga beda jauh dibandingkan pendahulunya yang masih pakai Android polosan. Ya, ada sih diselipin fitur-fitur XOS, tapi cuma dikit kalau yang dulu itu ya. Nah, sekarang kita kasih lihat 10 fitur yang hanya ada di XOS versi full ini. Pertama, Vox Smart Touch. Flex ini adalah AI assistant buatan Infinix. Smart Touch di sini adalah fungsi untuk menetisi konten yang ada di layar. Caranya tekan dan tahan layar dengan dua jari. Lalu kita bisa lingkari objek yang ingin kita cari infonya. Bisa dibilang ini adalah circle to search. Tapi bedanya dengan yang punya Google, Smartas ini enggak pakai search engine, lebih untuk minta penjelasan ke Voex aja. Lalu ada AI call assistant. Nah, kalian sering enggak ditelepon dalam marketing nawarin produk, nawarin gantu kredit atau libarnya lagi ada nomor tidak dikenal nelepon tapi ngaku-ngaku dari keluarga dan minta duit? Nah, kalau pakai AI call assistant ini kita seakan punya agen AI yang menjawab telepon tadi. Si AI agen ini akan berkomunikasi dengan penelepon dan dari tampilan layar kita akan lihat teks percakapan yang sedang terjadi. Jika ternyata orang tersebut memang orang kita kenal, kita bisa pilih untuk menjawab langsung. Tapi kalau percakapan tersebut ternyata dari seorang penipu, kita bisa langsung nutup teleponnya. Kalau kurang jelas kurang lebih seperti ini nih. [musik] Alri, I'll pass on message. Have a great day. Agen EI ini bisa banyak bahasa. Bahasa Indonesia juga bisa. Tapi untuk saat ini syaratnya adalah bahasa sistemnya harus kita atur ke Indonesia dulu. Kalau kita mau pakai bahasa sistemnya itu pakai bahasa Inggris dan agen-nya pakai bahasa Indonesia saat ini belum bisa. Pertama kali kita melihat ada fitur seperti ini itu di HP flagship yang harganya puluhan juta. Tapi Infinix bisa ngasih ini di smartphone dan tablet yang harganya jauh lebih murah. Kemudian AI caption. Kalau ini bisa menampilkan subtitle dari audio atau video yang kita putar. Nah, kapan cocokan ini dipakai? Kalau lagi streaming YouTube dan Netflix kan udah ada fitur subtitle bawaan. Biasanya ini lebih pas untuk video yang offline mungkin ya, yang bahasanya enggak cocok dengan kita atau kalau kita pakai aplikasi-aplikasi yang enggak ada subtitle-nya. Kemudian keempat, recording summary. Ini adalah fitur yang ada di aplikasi audio recorder bawaan. Setelah saya merekam audio akan ada versi teks dan rangkumannya juga. Ini biasa digunakan untuk merekam presentasi atau saat meeting kerja. Jadi, bisa langsung ada rangkumannya. Lalu ada translation assistant. Kalau ini untuk membantu translate contont yang ada di layar. Caranya tinggal tekan dan tahan layar pakai dua jari, maka isi layar bisa langsung dianslate. Sayangnya fitur ini belum terasa praktis karena belum ada fitur deteksi bahasa otomatis. Jadi kalau kita tidak tahu konten di layar itu pakai bahasa apa, ya otomatis translate-nya tidak bekerja. Kemudian ada AI writing. Dengan fitur ini kita bisa mengedit teks yang kita buat dengan minta tolong bantuan AI. Bantuan yang dimaksud ini adalah seperti proof reading ya atau mengoreksi tulisan kita. Misalnya ada yang salah tulis, huruf besar kecilnya salah, titik komanya kurang pas. cocok untuk evaluasi hasil tulisan kita. Ini juga bisa digunakan untuk mengganti gaya penulisan teks kita ya. Mau dibuat lebih formal bisa, lebih casual bisa, atau mau dibuat lebih ringkas bisa juga. Lalu ada juga text generator. Nah, ini gunanya untuk menambah tulisan kita sesuai dengan konteks. Kemudian ada AI note. Fitur ini bisa kita temukan di aplikasi note bawaan. Meskipun namanya Note, tapi fungsi dasar AI-nya adalah mengubah sketsa gambar kita dengan generative AI ke berbagai gaya seperti sketch, comics, pixel art, digital art, dan cyberpunk. Nah, dari hasil generatif AI ini nanti kita bisa download atau masukkan ke dalam catatan ini ya. Bisa juga ya. Hm, mungkin Infinix bisa mempertimbangkan generatif AI ini menjadi aplikasi terpisah aja misalnya jadi ganti nama deh jadi AI sketch, AI drawing atau apapun yang berhubungan dengan gambar. Karena di awal kami sempat bingung ya AI untuk menggambar kenapa ada dalam aplikasi catatan. Tapi begitu sudah tahu cara pakainya ya lumayanlah fitur ini ya. Kemudian ada dokumen assistant. Fitur ini berfungsi untuk meminta FLEX merangkum dan bertanya jawab mengenai isi sebuah dokumen. Prosesnya mudah ya, kita perlu upload dokumen ke volex. Lalu kita ketik prom sesuai kebutuhan kita. Sedikit catatan semua fitur-fitur A di sini secara default butuh koneksi internet. Ada fitur seperti A caption yang bisa bekerja offline, tapi mewajibkan kita download modul AI-nya dulu dan belum semua fitur bisa seperti itu. Kemudian ada multi screen connection. Fitur ini bikin layar smartphone kita bisa ditampilkan di layar tablet. Nah, kita bisa mengendalikan isi layar smartphone dan juga membuka aplikasi yang ada. menampilkan notifikasi telepon yang ada di smartphone bisa juga. Untuk sekarang fungsinya masih agak terbatas, masih ada beberapa fitur yang kami harapkan itu belum bisa berfungsi. Nah, contohnya seperti fitur drag and drop untuk sharing file itu belum bisa. Dan kalau kita mau mengetik di layar smartphone melalui tablet, keyboard case-nya ini sayangnya belum bisa dipakai. Yang ke-10 kalau kita ke menu accessibility dan features, ya ada banyak fitur lainnya nih. Ada pengaturan screen recorder yang bisa detail, bisa ngatur resolusi, frame rate, dan lain-lain. Ada fitur double tap untuk menyalakan dan mematikan layar. Ada smart panel untuk akses aplikasi dengan cepat. Cukup swipe dari pinggir layar langsung kebuka list aplikasi yang kita butuhkan. Ya, mungkin terusan sederhana tapi kita enggak nemu fitur ini di UI Android polosan seperti yang di Exped sebelumnya. Ini belum semuanya loh ya. bahas fitur XOS-nya sendiri bisa jadi video tersendiri bahkan video panjang banget tersendiri. Intinya fitur-fitur yang ada di sini itu bukan gimik dan memang bisa mempermudah pemakaian sehari-hari. Dan sekali lagi ngurusin software kayak gini itu enggak murah. Jadi jangan suka nyepelin ah software doang. Justru ini yang jauh lebih penting dan lebih mahal daripada sekedar hardware doang. Oh ya my software. Karena tablet ini Google Mobile Services-nya resmi enggak pakai akal-akalan. Jadi kita bisa pakai ekosistem Google dengan aman. Google Drive lancar. Quickshar untuk a transfer file bisa lancar banget. Google family link untuk orang tua yang mau mengendalikan tablet anaknya bisa jalan dengan lancar. Pakai ei game ini juga bisa. Tapi kita perlu instal dulu dari Play Store ya. Entah kenapa enggak ada di aplikasi bawaan nih. Oke, sekarang kita bicara productivity. Untuk kebetulan keyboardnya ini pakai koneksi Bluetooth. Jadi perlu pairing dulu di awal. Keyboardnya situ cukup nyaman. Kedalaman tombol juga udah oke. Touchpad-nya memang tidak ada ya. Jadi saran kami tambahin mouse aja biar lebih nyaman. Iya iya ya. Semua tablet Android itu pasti bisa dipasangin mouse. Nah, yang sedikit membuat kami kurang nyaman saat mengetik ada di koneksi Bluetooth-nya yang bisa tiba-tiba putus sendiri. Jadi, kalau tablet ini tidak digunakan dalam waktu sekitar 10 menit saat kita mau kembali mengetik ke keyboard-nya, ini enggak siap pakai. Harus tunggu terhubung dulu baru kita bisa ngetik lagi. Ciri-ciri koneksi putus itu adalah ketika kita mau ngetik yang muncul malah keyboard yang di layar. Baru berapa detik kemudian keyboard di layarnya tertutup dan keyboard fisiknya baru bisa digunakan lagi. Semoga ini hanya bug software aja atau paling kalau ada update nih tolong dong ditambahin ya. kita bisa nyetel sendiri berapa menit dia nyala terus gitu. Untuk super dibahas ya namanya expensil 20. Dia punya 4096 pressure level dan untuk charging dia pakai USBC. Sayangnya tidak ada dalam paket penjualan. Untungnya harganya terjangkau banget. Nah, untuk ngedit video bagaimana? Kita coba pakai capcut pad ya. Edit video di 1080 60 fps. Durasi videonya 2 menit ya. Untuk navigasi, playback, scroll timeline ternyata masih cukup lancar. Kita eksport ke 1080 p 60 fps juga. Dan hasilnya video itu selesai dalam waktu sekitar 1 menit 40 detik untuk proses ekspornya. Ini performa yang masih cukup untuk editing video ya. Tapi ingat ya 1080 60 fps dan videonya pendek. Kalau videonya panjang bisa beda cerita. Oke, untuk kebutuhan Office kita bisa pakai punya Google atau install yang ada di Play Store sesuai dengan kebutuhan kalian. Google Docs, Google Sheet itu masih jalan normal di sini. Kalau kalian butuh banget PC level WPS Office, saran kami kalau emang butuh banget dan itu s bergantung sama itu sekali, cari duit lebih lagi dan beli laptop pakai Windows kalian karena office-nya akan jauh lebih hebat lagi. Lanjut untuk benchmark. Kita lihat Antu 11 dapat R595.000-an. Geigbench 6 single core 772, multiore 1872. Geekbandch 7 single core 655, multiore di 2057. Untuk 3max links extreme graficnya ada di 2.51. Sementara Tarqu Life Stress Test B score 1406, low score 1400. Jadi stability-nya tinggi banget di 99,6%. Ini skor yang normal untuk SOC Helio G200. Cukup kencang dan masih like untuk tablet kelas R jutaan kalau kita pakai standar 2026. Oke, lanjut untuk gaming. Kita pakai Subway server. Ini bisa dilancar jalan di 90 fps mengikuti refresh rate layarnya. Tapi memang ada syaratnya, kita harus setel dulu setting refresh rate ke high. Kalau dietting auto switch game-nya jadi terbatas di 60 fps. Lanjut untuk PUBG Mobile. Setting grafisnya ada di smooth Extreme. FPS-nya rata-rata 59,6 FPS ya. Game-nya jalan mulus dan lancar. Untuk Gero ini masih virtual jadi terasa delay. Jadi sebaiknya e enggak usah dipakai aja lah di sini. Untuk Mobile Legends setting grafisnya rata kanan dengan frame rate di super. Game ini jalan rata-rata di 82 FPS. Kalau ramai emang bisa drop ke 30-an FPS. Menurut kami masih terasa agak lag dan kurang nyaman. Padahal dulu lancar-lancar aja dengan setting seperti ini untuk SOC ini. Sepertinya seiring dengan update game yang satu ini juga jadi tambah berat ya game-nya ya. Nah, kalau kita coba lagi dengan setting E grafis di rata kiri baru nih lancar mulus di 90 fps nonstop. Masuk ke Gensin Impact. Settingannya lowest 60 fps. Frame rate-nya rata-rata 48 fps. Performa cukup stabil dan masih nyaman dimainkan. Suhu juga aman. Di layar cuma 35 derajat celcius, di belakang cuma 37 derajat celcius. Rankingnya C lah. Ini klasik untuk Helio G200. Ini adalah SOC minimum yang kita bisa pakai untuk main Genin Impact dengan nyaman. Oke, sekarang kita lanjut ke pengujian kameranya. Oke, sekarang kita lagi di studio untuk menguji kualitas kamera dari tablet Infinix X Pro. Untuk kameranya di sini kita tes kamera depan dulu ya. Untuk resolusi maksimalnya ini sampai 2K 30 fps. Dan untuk hasilnya di sini terlihat ya kalau gambarnya itu terang. Di sini kita menggunakan lampu studio jadi lumayan terang. Dan untuk hasilnya gambarnya juga terang dan juga punya detail yang cukup tinggi ya untuk resolusi 2K 30 fps-nya ini. Nah, kalau tadi kita tes menggunakan Lighting Studio, sekarang kita coba pakai lighting biasa ya. Jadi lighting studionya kita matikan. Untuk hasilnya di sini gambarnya memang sedikit lebih gelap dibanding tadi kita pakai Lighting Studio. Tapi untuk ketajaman ini masih bisa dipertahankan ya. Dan juga di sini misalnya kalau noise di bagian gelap itu sudah mulai kelihatan. Oke, sekarang kita beralih ke kamera belakangnya si Infinix XP 30 Pro. Untuk resolusi sama di sini ya, di sampai 2K 30 fps juga. Sini kita pakai letting studio jadi lumayan terang dan untuk hasilnya gambarnya juga cukup terang. Detailnya lumayan tinggi. Tapi memang ada sedikit oversarpent di sini. Oke, sekarang kita coba matematikan lampu studio dan kita pakai lampu ruangan biasa aja ya. Untuk hasilnya di sini gambar masih cukup terang tapi memang sudah muncul titik-titik noise. Oke, sekarang kita coba pakai tablet ini untuk kegiatan meeting online seperti di Google Meet ini. Kita mau coba untuk apakah dia bisa pakai virtual background ataupun filter ya. Kita coba di sini untuk kita coba yang baru-baru ini ya. Oke, berjalan dengan baik. Lalu mungkin kita coba lagi yang lain. Ini. Oke, aman juga. Lalu setelah kita pakai background, virtual background, mungkin kita mau pakai filter juga. Nah, kita coba pakai yang ini. Kopi dan kacamata. Oke, berjalan juga dengan baik ya. Videonya juga tidak menjadi yang patah-patah banget dan berti dia untuk background dan filter sekaligus masih oke ya. Lanjut lagi kita tes daya tahan baterainya ya. untuk YouTube lokal video playback 1080p baterai habis setelah 15 jam 26 menit lumayan okah untuk tablet 11 inci di harga segini untuk YouTube streaming 1080p nonstop selama 1 jam baterai berkurang 7% untuk mainan TikTok selama 1 jam baterai berkurang 8% untuk main Gin Impact selama setengah jam baterai berkurang 9% overall hasil tergolong standar dan sesuai ekspektasi kami untuk tablet 11 inci dengan baterai 8200 mAh di kelas harga segini oh ya kalau kalian butuh penggunaan Untuk live stream atau gaming kita bisa pakai fitur bypass charging-nya loh. Nah, ada di sini ya. Ah, oke. Lanjut. Untuk charging untuk mencapai 50% butuh waktu 1 jam 5 menit. Sementara dari kosok sampai penuh butuh waktu 3 jam 7 menit. Kalau dititung 30 menit pertama pengecasan itu baterai terisi sampai 24%. Ini tergolong standar aja untuk charging 18 watt ya dengan baterai 8200 mAh. Kami sedikit berharap chargingnya ini bisa lebih kencang sebetulnya. Oke, lanjut lagi. Untuk Netflix sudah L1 bisa streaming Netflix-nya full HD di sini ya. Untuk kita streaming maksimum di 1440p 60 fps tanpa dukungan HDR. Untuk heptic feedback di sini enggak ada dan wajar untuk sebuah tablet. Yang perlu jadi catatan adalah di menu setting tertulis ada pengaturan sound and vibration padahal tidak ada fitur getarnya. Ini mungkin Infinix lupa ya pas pilihan XOS dari versi smartphone ya. Kemudian kalau pertanyaan apakah support mouse dan keyboard lain tentunya bisa ya pakai Bluetooth aja atau kalau butuh keyboard dan mouse yang pakai receiver 2,4 GHz ya tancep aja pakai dongol USBC enggak ada masalah. Mau yang kabel bisa juga kok. Oke, untuk harga yang 4128 adalah Rp3.499.000. Untuk 818 ada di Rp4.599.000. Hal yang perlu diperhatikan harganya adalah harga tablet new normal ya. Ke depannya akan begini harga tablet ya. Kemudian tidak ada varian 256 GB seperti pendahulunya. Lalu kami agak kurang menyarankan ambil yang RAM-nya 4 GB ya. Saran kami itu langsung 8 GB aja. Lalu kemudian stylus dijual terpisah walaupun murah sih Rp250.000-an ya. Lalu kemudian belum ada fingerprint scanner dan charger tergolong agak lambat untuk tablet kelas menengah. Lalu untuk fitur software-nya masih butuh perbaikan di beberapa bagian. Sebagai contoh koneksi keyboard Bluetooth-nya ini bisa tiba-tiba putus. Nah, ini bikin pengalaman ngetiknya jadi agak kurang nyaman aja. Dan si kelebihannya kualitas layarnya oke banget bahkan udah 100% sRGB. Cocok banget ya. Ukuran body juga tipis dan ringan dan nyaman dibawa ke mana-mana. Desainnya keren. Fitur XOS-nya berlimpah terutama untuk AI-nya ya. Kemudian dia juga punya fitur bypass charging, support Google Mobile Services secara resmi. Storage-nya juga udah UFS, masih ada slot micro SD kalau dibutuhkan. Performanya juga cukup kencang untuk kerja jaringan bahkan untuk gaming. Kemudian juga support stylus khusus, support 4G ya di sini ya dan sudah pakai dua speaker yang mantap juga. Kamera selfie-nya juga cukup bagus untuk video call. Dan untuk varian RAM 8 GB udah dapat sepaket dengan keyboard case-nya juga ya. Pada akhirnya tablet ini cocoknya untuk siapa? Nah, yang satunya akan cocok untuk yang mencari tablet yang allrounder. Performanya untuk kerja office yang basic masih sangat mencukupi. Dipakai gamin juga masih lumayan oke. Menggambar juga memadai ya walaupun seharusnya harus beli terpisah. Untuk entertainment layarnya cukup oke, speaker juga cukup lantang, kameranya juga oke untuk kebutuhan video call ya. Jadi ini adalah sebuah tablet yang serba bisa. Untuk anak sekolah jelas cocok ngerjain tugas yang butuh fitur office yang basic untuk video call, untuk nge-zoom bisa banget. Buat yang nyari tablet ringan dan tipis, mudah dibawa-bawa, ini juga cocok. Untuk yang nyari tablet dengan Google resmi, enggak pakai akal-akalan, jelas ini cocok banget. Ekosistem Google akan jalan dengan lancar di sini. Wahai para orang tua, kalian bisa pasang family link di sini untuk mengendalikan anak Anda dari umur dini ya. Enggak usah ngakalin pakai login orang tua, pakai login anaknya bisa kok ya. Dan untuk yang cari tablet dengan dukungan SIM card ya juga cocok. Apakah pengguna XP sebelumnya cocok untuk upgrade di sini? Menurut kami sih untuk yang terakhir-akhir sih belum ya. XP pertama tuh pakai Hell G99, Xpai Hog 100. Untuk RAM keduanya up to 8 GB dan storage up to 256 GB. Tablet kalian tuh masih cukup relevan sebetulnya. Sekitar 2 3 tahun lagi juga masih ok lah ya. Kecuali kalau kalian emang butuh banget fitur-fitur spesifik yang ada di XOS 16 ini. Sah-sah aja kalau mau pindah ke sini. Soalnya XP generasi sebelumnya kan tidak dijanjikan akan dapat update ke Xos versi yang full seperti ini. Yang ini mungkin akan lebih pas untuk pengguna XP 20 yang masih pakai SOC Hello G88. Upgrade ke sini akan terasa banget peningkatannya. Akhir kata yang jelas Infinix Xad 30 Pro ini akan layak jadi pilihan kalau yang dicari adalah sebuah tablet yang serba bisa. [musik]

Lihat di YouTube