Jungkat

Aneh, Laptop ini Gak Pakai Cas Malah Kenceng ! HP OmniBook 3 14-hv0036AU (YouTube Video)

  • 11/09/2026

Sekarang laptop berlabel AI itu banyak banget. Sama kayak kos-kosan, tulisannya kos-kosan mewah. Padahal cuman AC doang dan kamar mandi dalam. Nah, di depan saya ini udah ada laptop yang pakai Gimmic AI juga. Dia pakai prosesor Ryzen AI. Nah, AI kan ya. Ryzen AI 7445. Pertanyaannya, AI di laptop ini beneran kepakai atau cuman kayak kos-kosan mewah tadi yang cuman modal kamar mandi dalam, AC dalam udah disebut mewah. Laptop ini udah saya pakai kerja, rendering, gaming, tes baterai, sampai benchmark berkali-kali. Dan ada hal yang menurut saya cukup aneh di laptop ini. Dan ada beberapa hal yang setelah saya coba saya harap sih ke depannya XP bisa memperbaiki di lineup seri [musik] ini. Ya, apa aja itu? Langsung aja kita bahas. Hai Andika, Guys. Di sini kenalin ini adalah XP Omnibook 3 atau 3 dengan serinya itu 14HV0036 AU yang udah pakai prosesor Ryzen AI 400 series AMD Ryzen AI 7445. Dia punya 6 core dan 12 thread yang terdiri dari 2 core Zen 5 dan 4 core Zen5C yang boost-nya bisa sampai di 4,6 GHz. Dan kalau kita ngomongin AMD, brandingnya atau terkenalnya itu di IGP-nya atau integrated graphic [musik] prosesor. Dan yap, di seri ini dia pakai Radeon 840M dan ada NPU khusus AI dengan kemampuan 50 TUPS. Buat yang belum tahu, tops itu trili operation per second ya. Kecepatan NPU dalam per detik lah. Tops itu bukan nama Snack. Walaupun kalau dibaca tops itu kayak nama Snack. Gampangnya NPU ini pegawai khusus AI, AI spesialis. Jadi ada pekerjaan AI tertentu yang bisa dikerjain dia ya dilempar ke dia. Si CPU dan juga GPU enggak usah kerja. Jadi kinerja prosesor itu jadi lebih efisien. Apa aja fungsi NPU? Banyak sih ya. ada background processing, Windows Studio Effect, AI local yang nanti akan kita jelasin. Sekarang kita coba lihat gimana performa AMD-nya dulu nih. Nah, kayak yang udah saya bilang di awal tadi, prosesor laptop ini kan terdiri dari 2 core Zen5 dan 4 core Zen 5C. Nah, si Zen 5C ini dibuat lebih kompact dan efisien. Jadi, meskipun laptop enggak dicoklok, performasi prosesor tetap nyaman buat multitasking dan workflow sehari-hari serta dia bisa ngejaga efisiensi dayanya. Buktinya bisa kita lihat di hasil tes performa ini ya. Di sin BCH R23 multicore saat tersambung charger saya jalanin 10 kali. Run pertamanya dapat 9.364 poin. Setelah itu stabil di kisaran 8.000 poin. Single core-nya tercatat di 1722 poin. Nah, yang menarik ketika laptopnya enggak dicas performanya itu enggak ada penurunan sama sekali. Saya ulang multicore 10 kali, rata-ratanya malah dapat sekitar 9.000 poin. Jadi malah lebih gede performanya ketimbang dicolok. Dan kalau kita lihat ya, TDP-nya pas kita pakai R23 dengan kondisi dicolok tadi, dia bisa spike di 24 watt dengan suhu di kisaran 80 derajat Celcius kalau misalkan enggak dicolok. Padahal itu turun loh ya TP-nya itu enggak dicolok di kisaran 20 watt. Dan untuk suhunya turun langsung ketika enggak dicolok itu di 70 derajat celcius. Jadi lebih dingin, enggak butuh daya yang gede tapi lebih kencang. Tapi siapa sih yang beli laptop bakalan tes Cineband kayak saya? Enggak akan ada ya. Jadi kita tes langsung aja. Really use scenario editing Adobe B Pro dengan template yang memang biasanya kita pakai. Kita coba export ke 4K dan hasilnya dia selesai dalam waktu 4 menit 5 detik. Uh, kencang juga ya untuk ukuran laptop di kelasnya. Terus full HD dia selesai dalam waktu 2 menit 46 detik. Terus kalau untuk blender dengan template BMW mungkin kalian pengin belajar rendering masih bisa juga. CPU rendernya selesai dalam waktu 3 menit 47 detik. Blender GPU selesai dalam waktu 3 menit 47 detik. Cuman di AMD sekarang itu apalagi di AMD Adrenalinnya ya, itu ada settingan untuk jadi super saiyan kalau saya bilang ya karena ada VRAM default dan ada firam high juga. Tapi ternyata setelah kita tes firam high ini ya di kondisi tertentu aja. Kayak contohnya di Adobe Premiere Pro tadi kalian ingat ketika Viram Defult itu di 4 menitan, sekarang turun di 3 menit 27 detik. Kalau Full HD juga lebih cepat 2 menit 26 detik. Cuman sayangnya kalau di blender ya mirip-mirip aja sekitar 3 menitan baik CPU render atau GPU rendernya ketika pakai Viram setting high. Jadi saran saya kalau kalian pakai laptop ini jangan apapun dimentokin rata kanan ya karena memang mentok rata kanan itu bagus, performance-nya lebih kencang tapi ada trade off baterainya bakalan lebih tidak awet. Jadi kalau cuman ngetik-ngetik doang atau misalkan render di blender yang ternyata dites itu viral high-nya enggak ngaruh, enggak usah diaktifin high-nya karena ya trade off-nya baterai kalian bakal lebih cepat habis. Jangan setiap ada menu high itu dipilih semua ya. GPU bisa high, performance bisa high, tapi tekanan darah juga bisa high tuh kalau baterainya cepat habis. Untuk SSD-nya kapasitas 512 GB PCI Gen 4 yang pas kita tes bukan yang paling kencang, tapi masih okelah ya dengan RIT-nya itu di 6300 Mbps W-nya di 4300 Mbps juga. Jadi kalau mau buka aplikasi, pindah file besar, nge-load project yang gede banget, storage-nya ini bisa ngebantu ngebuka di awalnya jadi lebih kencang. Dan menurut saya ini penting ya, karena kebanyakan laptop 2026 ini saya lihat memang banyak laptop yang murah, SSD bilangnya, tapi ternyata pas kita tes pakai Crystal dismnya itu 500 Mbps yang artinya itu SSD SATA. Jadi percuma kalau misalkan prosesornya [musik] kencang tapi battle neck-nya di SSD. Kalau XP ini udah pas lah. Sekarang kita bahas gimana performa gamingnya. Walaupun sekali lagi Omnibook 3 ini bukan segmen untuk gaming ya. Gaming itu ya fictus atau Omen. Tapi enggak apa-apa. Kita coba lihat gimana performa AMD ketika dibuat untuk gaming dan kita coba di game Valoran dulu ya. Kita coba di resolusi full HD. Average FPS dia dapat 100, maksimum 156, drop-nya 58 dan game-game lain kalian bisa langsung lihat chart ini aja. Tapi yang perlu saya highlight itu di watering wave sih. Wering wave yang intinya dia butuh GPU dengan grafik ultra performance masih bisa dapat 40 fps playable dan maksimum di 61 fps. Jadi kesimpulan dari charge game tadi kalau kalian baca si Radeon 840M ini memang ini IGP yang enak buat gaming sebenarnya asalkan game-nya enggak berat-berat. Jadi buat game esport bisa game ringan, bisa game yang makin berat ya mulai harus kompromi dietting ya. Mungkin bisa di-etting mentok rata kiri lah kalau kalian butuhnya game yang nyaman tapi mau kompromi di gambar yang kurang bagus. Karena memang segmennya beda ya. Jangan beli laptop tipis tapi buat gaming. Itu ibaratnya kayak kalian beli Supra batok tapi kalian marah-marah karena enggak boleh ikut MotoG karena beda kelas. Nah, sekarang coba kita lihat Ryzen AI. AI-nya itu gimik aja, marketing aja atau enggak sih? Jadi kita coba beneran untuk AI. AI lokal ya. Jager Note kita coba di Amuse AI. Selesai dalam waktu 43,6 detik. Uh, lumayan cepat. Stable diffusion XL Turbo cuma 18,1 detik. Dan ini kita pakai prom-nya yang ini ya karena ya beda prom bisa beda durasi generate juga. Dan intinya kalau kita lihat si Ryzen AI 7445 ini bukan cuma CPU dan radion grafik, tapi ia juga bawa NPU dengan 50 TUPS yang emang dirancang untuk mempercepat workload AI yang kompatibel. Dan ke depan saya harap sih dengan 50 tops ini Microsoft bisa bikin-bikin fitur yang lebih menarik lagi enggak cuman coilot terus paint itu kan ya kayak udah biasa ya semoga ke depan bisa lebih bagus lagi. Performa udah sekarang kita coba lihat gimana sih desainnya si XP Omnibook ini. Walaupun dia XP tuh mirip-mirip aja ya [musik] secara desain, tapi secara feel Omnibook ini kerasa lebih premium sih desainnya. Kalau kita lihat ya XP banget lah ya. Dia ambil jalur yang aman. Warnanya itu glasier silver minimalis, enggak ada garis-garis agresif, enggak RGB, enggak ada tulisan ultimate mega cyber power gitu, enggak ada. Laptopnya kelihatan kayak laptop kerja biasa aja. Saya pribadi malah suka sih pendekatan laptop kayak gini karena gampang dibawa ke mana-mana, enggak terlalu pamer. Jadi kalau misalkan saya ke cafe terus ada orang pajak itu, wah laptopnya laptop XP murah nih, padahal enggak. Bobot juga aman ya, sekitar 1,47 kg di kelas 14 inch masih cukup nyaman dimasukkan backpack dan dibawa kerja. Dan gimana soal input device keyboard-nya sih? Wah, saya gak ada komplain sih keyboard-nya. Ini nyaman banget. Travel distance-nya pas, terus ada backl-nya juga. Untuk laptop 14 inch dia enggak ada. Posisi tangan cukup natural karena area huruf tetap berada di tengah dan tombolnya cukup gede-gede untuk jari tangan saya yang gede juga. Touchpad-nya ini juga luas untuk 14 inch. Permukaannya nyaman, enggak terlalu licin, enggak terlalu kasar. F-nya pas dipencet itu juga feel-fel yang mahal. Kalau untuk webcam kira-kira seperti ini kualitasnya. 1080p 30 fps. [musik] Nah, ini gunanya tadi kita bisa automatic framing, background effect, dan juga eye contact. Ya, ini sih bakalan kepakai kalau misalkan ruangan kalian itu terlalu noise, terlalu enggak rapi. Intinya bisa pakai ini biar kelihatan lebih proper lah ya. Cuman kalau untuk kualitasnya sih saran saya kalau ada budget mending beli webcam eksternal ya, karena kayak kurang gimana gitu. Terus untuk konektivitas lain kayak port dia lumayan lengkap ya. Di sebelah kiri itu ada HDMI type A 2 USB type C. Di sebelah kanan ada type A dan juga audio jack. Cuman sayangnya, nah ini ada battle neck antara vendor prosesor dan juga laptopnya. Karena si AMD ini sebenarnya udah support sama USB 4 ya atau lawannya sebelahnya jadi lebih kencang. Cuman di XP Omni dia enggak ada port type C-nya dari dua ini enggak ada yang support sama USB 4 atau 4. sayangnya battle light-nya di situ. Jadi kalau secara vendor atau AMD-nya udah bisa tapi XP enggak ngasih aja. Semoga ke depan bisa dikasihah. Sekarang masuk ke bagian yang menurut saya perlu kalian perhatikan pemerintahnya. Bukan salah bagian layarnya maksud saya. Cara penggunaan panelnya ini ya IPS anti clear buat ngetik browsing YouTube atau kerja kantoran aman banget. Di pengujian kita brightness-nya itu di 311 nit siap kurang tinggi sebenarnya tapi karena udah ada fitur antigare jadi masih bisa ditoleransi. Tapi color akurasinya sayangnya ya coverage sRGB itu di 56%, adob RGB 38%, P3-nya di 39,7%. Jadi ini bukan layar yang saya rekomendasikan kalau kalian adalah critical color editing yang warna itu penting buat pekerjaan kalian. Kalau untuk kerja biasa enggak masalah, nonton masih oke. Untuk content creation ringan bisalah. Tapi kalau pekerjaan kalian itu benar-benar butuh warna, mending beli monitor eksternal sebagai pelengkapnya. Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang menurut saya paling masuk di posisinya Ryzen 400 ini. Baterai karena prosesor ini kencang tapi super efisien. Bayangin aja ya, laptop ini cuma punya kapasitas baterai yang menurut saya kecil banget 41 watt hour. Bahkan 48 aja enggak. Karena biasanya laptop interior level itu kan 48 wat hour. Ini 41. Tapi dengan prosesor ini, pas kita tes di PCA 10 modern Office dia dapatnya 13 jam 45 menit. Bayangin 41 watt hour bisa hampir 14 jam. Gokil sih prosesornya efisien banget. Dan pas kita sampling kayak YouTube 10 menit berkurang 2%. Writing ya office aja 10 menit berkurang 1%. Gaming berkurangnya 10% 10 menit. Tapi kalau kita ngomongin tes baterai sebenarnya tergantung penggunaan juga ya. Tapi pas kita tes di Office angka yang bisa saya ambil walaupun enggak fix ya hampir 14 jam lah. Terus untuk suhunya pas kita tes sintetis sampai gaming tadi yang artinya estafet enggak berhenti, enggak istirahat. Suhunya di Flir itu sekitar 45,7 derajat celcius dan di tombol keyboard-nya WASD [musik] sayangnya masih agak lumayan anget ya di 44 derajat Celcius. Jadi setelah saya pakai laptop ini, ibarat mobil Ryzen AI400 ini kayak mobil yang CC-nya kecil tapi ada turbonya kencang gitu atau mobil hybrid lah. CPU 6 core 12 rate untuk kerja sehari-hari dan multitasking. Radeon 840M yang masih bisa dipakai esport dan sejumlah game selama ekspektasi setting-nya realistis. Dan ada NPU juga sampai 50 tops untuk AI yang kompatibel. Jadi kata AI di sini emang punya hardware khusus di belakangnya buat ngerjain background processing yang sebelumnya itu dilakuin sama CPU yang bikin baterainya jadi lebih boros. Nah, sekarang dengan 41 watt hour aja bisa hampir 14 jam. Dan kalau untuk XP Omni book menurut saya cukup berhasil ya dengan kendaraan atau OM yang tepat buat nunjukin karakter itu. Bodinya cukup ringan, SSD-nya cepat, portnya lengkap, baterainya awet, dan bahkan performanya malah menarik. Enggak pakai charger malah lebih kencang. Tapi laptop ini juga bukan tanpa trade off atau kompromi ya. Yang perlu dipertimbangkan sih. Brightness-nya 311 sih emang masih oke, tapi coverage sRGB sekitar 56% dari pengujian kita itu ngebuat laptop ini enggak cocok kalau buat kalian yang critical color editing yang butuh warna banget. Terus USBC-nya emang portnya lengkap, tapi misalkan XP mau ngasih satu aja USB 4 itu bakalan lebih menarik sih, karena USB 4 itu lebih kencang bisa untuk ya eksternal GPU, bisa untuk exend monitor dengan resolusi gede. Jadi kalau ditanya siapa yang cocok pakai XP Omnibook 3 ini ya cocok buat orang yang pekerjaannya allrounder lah campur-campur. Jadi pagi buka browser, office, siang meeting, sore edit video, kadang generate AI, pulang buka Valoran. Terus kalau misalnya besoknya lupa ngecas, tapi jangan sampai lupa ngecas ya. Minimal kalau misalkan besoknya lupa ngecas, baterainya bakal masih ada karena hampir 14. Overall si XP Omnibook 31 HV0036 AU ini kodenya ya dengan AMD RID AI 7445. AI-nya ini bukan cuma stiker, performanya enggak cuma menarik waktu charger nyambung dan baterainya justru jadi salah satu hal yang menarik dengan kapasitasnya yang kecil banget. Untuk harganya pas video ini saya buat, saya belum tahu berapa. Mungkin nanti bisa kalian cek aja linknya di pojok kiri atau di deskripsi video. Tapi menurut kalian gimana? Kalau kalian butuh laptop Allrounder sih menurut saya kecuali layar ya. Ini adalah salah satu laptop yang sangat menarik untuk diperhatikan. Saya budi and see you on the next video.

Lihat di YouTube