ANTI REFURBISHED !! Brand Lokal yang Paling Niat Bikin LAPTOP! Polytron Luxia Pro (YouTube Video)
punya PC tapi gak bisa dibawa ke sana ke sini. Udah dapat kerja tapi mobilitas terlalu tinggi. Ya, sebenarnya tinggal beli laptop baru aja sih. Dan di video kali ini kita akan memberikan salah satu rekomendasi. Ya udah enggak usah basa-basi. Selamat menonton. Tikus-tikus berdasi. Hai adik guys di sini. Kenalin ini adalah Polytron Luxia Pro. Satu-satunya laptop brand lokal yang paling berani. Karena kalau kita lihat laptop brand lokal lain biasanya itu pakai prosesor tanda kutip Refurbis 3500 U prosesor generasi lama-lama lah ya. Walaupun benefitnya dengan prosesor refurbis ya harganya jadi terjangkau tapi Polytron tampil beda udah kayak TV1. dia cukup berani ngebawa seri Luxia Pro-nya ke prosesor yang lebih baru dengan Intel Ultra 5. Ya, sebenarnya prosesor ini di launching tahun 2023 sih, tapi kalau kita lihat kompetitor brand lokal yang lain, belum ada tuh yang berani nyentuh prosesor yang enggak refurbis. Dan yang jadi pembeda lagi dibanding merek lokal lain ini bobotnya cuma 1 kg bukan 1,3 atau 1,4 kg seperti kebanyakan laptop pada umumnya. Tapi pertanyaannya, apakah beneran performanya bisa tinggi atau cuma basa-basi kayak salah satu petinggi di salah satu instansi? Yuk, kita bahas. Sesuai dengan namanya Polytron Luxia Pro Ultra 5. Jadi, prosesornya dia pakai Intel Core Ultraf 51H. Ini bukan prosesor murah ya, ini prosesor mahal karena dia punya 14 core dan 18 threads dengan integrated graphic Intel arc lengkap sama NPU Intel AIbost dan 125H-nya ini, H-nya ini stand for handica bukan ya? H-nya ini high performance buat GPU-nya yang Intel arc tadi dia terdiri dari 7X core beda level dengan Iris Xi ya. GPU ini udah bisa diajak untuk main game yang lumayan berat. Nanti di tes performanya kita coba. Terus untuk memori RAM dia udah pakai 16 GB dengan konfigurasi dual channel LP DDDR5 yang speed-nya memang kencang karena LP di5 tapi LP itu pasti RAM-nya diolder. Jadi buat kalian yang suka upgrade sayangnya RAM-nya enggak bisa ya. Tapi untungnya udah 16 GB. Untuk penyimpanan bawaan kita dikasih 1/2 tera atau 512 GB yang kecepatannya pas kita tes lumayanlah. Bukan yang kencang-kencang banget, tapi lumayan dengan rit-nya itu hampir 5.000 Mbps Wight-nya di 3.400 Mbps. Dan biar kalian enggak bosan, langsung aja untuk performanya saya taruh di depan. Tapi seperti biasa, kita coba benchmark tipis-tipis untuk stres tesnya ya. Di SDB R23 dengan mode plugin single core dia dapat 1674. Multi core-nya rata-rata bisa stabil di kisaran 9.000 sampai 10.000 1000 poin. Dan kalau kita lihat di mode plugin ini, dia butuh power spike-nya itu bisa sampai 40 wat dan temperaturnya spike-spike di 90 derajat celcius ya sewajarnya cine bens ya. Nah, sekarang kalau misalkan mode baterai only biasanya prosesor seri H itu penurunannya bakalan uraan ya atau gila bisa 40%. Tapi untuk Polron ini karena tuningnya bagus turun sih performanya tapi sekitar 3 sampai 4% dengan single core-nya enggak ada penurunan sama sekali di sekitar 1672. Nah, multior-nya stabil di kisaran 9.000 sampai 9.500 poin. Dan memang kalau kita lihat CPU package power-nya ketika mode baterai only itu tetap spack-spaek di hampir 40 watt dan suhunya sekarang lebih turun nih. Suhunya spack-spaek-nya di 85 derajat celcius. Untuk skor stability-nya juga cakep. Nanti kita coba lihat gimana fannya ya. Tapi kita lihat dulu skor stability-nya. Dia dapat skor itu di time spice test yang berarti di loop sebanyak 20 kali itu dia dapat di 99,3%. Angka yang sangat gede untuk ukuran laptop tipis dan ringan dengan prosesor seri H. Untuk TY, Firestrike, dan solar B kalian bisa langsung lihat aja di sini. Dan lanjut sekarang kita coba untuk editing dulu ya. Karena kan namanya aja udah Luxia Pro, jadi harus bisa dipakai Pro untuk editing. Seperti biasa kita coba di Adobe Premiere Pro dengan template yang memang biasanya kita pakai. Kita coba export ke 4K. Wuh, hasilnya dia selesai cuma dalam waktu 4 menit 30 detik. Kalau kita turunin resolusinya ke full HD cuma 2 menit 56 detik. Lanjut kita coba di blender dengan template BMW. Dia selesai CPU rendernya itu cuma di 4 menit 58 detik kalau pakai GPU render ya. Karena sebenarnya ini numpang di CPU ya, mirip-mirip aja 5 menit 3 detik. Nah, sekarang waktunya kita tes gaming ya. Walaupun sebenarnya dia segmentasinya bukan untuk gaming, tapi Intel ARC-nya ini di Claim Intel dia bisa untuk main game kompetitif juga. Jadi apa salahnya kita coba sekarang? Kita coba dulu di game Dota 2 dengan settingannya rata kiri average FPS dia bisa dapat 84, maksimum bisa tembus 118. Dropdopnya cuma di 63 fps saja. Valoran. Wah Valoran karena dia CPU bon ya. Jadi FC FPS bisa dapat 161. Maksimumnya bisa tembus 297 FPS. dropnya cuma di 134 fps. Wering wave average FPS dia bisa dapat 42 masih playable dan maksimumnya bisa tembus di 56 fps. Cuman kadang dropnya memang pernah di bawah 30 ya dengan 29 FPS. Nah, tapi yang saya tertarik untuk lihat itu suhunya sih. Karena kalau kita lihat Dota stabilnya suhunya itu di 80 derajat celcius dan dia cuma butuh power sekitar 30 watt. Valoran yang CPU bon banget dia juga cuma butuh sekitar 75 derajat Celcius. Powernya juga cuma butuh 30 wat. Kalau wooding wave karena sebenarnya game ini butuh grafik card ya. Jadi CPU-nya enggak kerja kayak Valoran tadi sih. Lebih ringan dengan-nya itu cuma di sekitar 28 watt kalau kita lihat di chartnya ini dan suhunya lebih adem di 70 derajat celcius. Terus yang menarik lagi itu tadi kan suhu bagian dalam ya. Untuk suhu bagian luarnya juga tergolong dingin. Memang suhu yang terpanasnya ada di bagian di atas keyboard itu biasa karena itu letak exhaust. Dia ada di 44,4 derajat celcius. Tapi bagian keyboard dan juga bagian tombol WASD itu cuma ada di 32,8 derajat Celcius. Jadi pas kita gunain untuk full load ngetik, tangan kita itu enggak ngerasa keganggu karena ada rasa-rasa anget-anget tahi ayam gitu. Enggak. Ini dingin. Pertanyaannya kenapa bisa sedingin itu? Padahal kan ini prosesor seri H ya. Karena Poltrron Luxiapro ini walaupun dia laptop tin and light tipis dan ringan, tapi dia ngebawa dual fan. Biasanya kan laptop tipis itu cuman ngasih satu fan ya. ini enggak dikasih dual fan kayak laptop gaming. Kenapa dual fan ini penting? Karena ya prosesor Intel Ultra 5 125H High Performance itu butuh pendinginan yang maksimal biar dia ya impact-nya ya baterainya bisa lebih awet, performanya enggak troting. Ngomongin soal baterai, baterainya secara kapasitas sebenarnya enggak gede ya, 55 watt hour aja. Tapi karena dituning dengan cooling yang bagus di Polytron ini dengan dual fan-nya tadi bikin prosesor ganas H series jadi lebih efisien dengan PCMA. Pas kita tes klaimnya Polytron itu 9 jam dan kalau kita tes di pemakaian reel-nya YouTube 10 menit dia berkurang 5%. Saya gunain untuk ketik-ketik sekitar 30 menit berkurangnya 5%. Gaming 10 menit berkurang 12%. Jadi kalau buat gaming sih karena performanya memang benar-benar dipush itu lumayan boros sih. Desainnya saya suka karena enggak aneh-aneh. Saya tuh suka stoikisme ya atau yang minimalisme lah. Saya suka desain-desain yang minimalis kayak gini. Warnanya cuma satu varian aja. Namanya itu Rahim Sterling bukan ya. Namanya sterling silver. Bahan materialnya pakai kombinasi magnesium aluminium yang kalau misalkan dipegang itu kerasa banget kokoh dan mahalnya. N jadi walaupun kokoh mau dibawa ke mana-mana, ke kantor, ke kafe, kuliah, kayak ibaratnya kita cuma bawa satu buku tebal lah. Nah, yang bikin saya salut lagi walaupun dia sekokoh ini boboardnya lumayan enteng, cuma 1,03 kg doang kalau ditambah dengan chargernya sekitar 1,21 kg. Lanjut soal layar. Kalau dari dampak depan mirip-mirip laptop sebelah yang inisial depannya itu L karena dia ada jambulnya kayak gini. Tampak depan bezelnya tipis. Saya suka cuman bagian bawah aja. Bagian bawah pun juga gak terlalu tebal ya. Dia cuman minta logo Polytron dan itu pun dikit aja. Nah, jadinya layar yang punya dimensi 14 inch ini terlihat seperti 15,6 inch karena lega banget. Pel-nya udah pakai IPS Wuxga yang diklaim udah 100% sRGB. Permukanya juga udah pakai antiglear dan ya sih kalau misalkan kita reflek-reflekan seperti ini masih cukup terserap ya refleknya. Dan pas kita tes pakai Kalman hampir sesuai klaimnya lah dengan sRGB-nya itu ada di 96,1%, P3-nya 81,4% NTS di 76,6%. Brightness diklaimnya 400 nit tapi ketika kita tes kita dapatnya 366 nitz ya masih okelah ya hampir 400 nits juga. So webcam kita dikasih 2 megap full HD yang ada di atas layar dan bisa dimatiin juga lewat kamera switch di sebelah kanan laptop. Ini sistemnya bukan mekanik ya, tapi elektrik. Lengkap juga dia udah terintegrasi sama mikrofon juga. Kualitasnya kayak gimana? Langsung aja kita coba. Dan kira-kira seperti ini kualitas kameranya ya. Lumayan sih ya karena dia ada Windows Studio effect-nya. Jadi kalau misalkan kita pakai potret blur noise-nya tadi enggak kelihatan ini kalau misalkan saya matiin potret blur-nya tuh masih ada beberapa noise di pojok-pojok sini. Sini karena lighting-nya ini saya bikin dramatis ya. Kalau misalkan lighting-nya lumayan terang sih harusnya enggak. Tapi overall ya jangan dibandingin sama webcam eksternal sih ya. Ini udah lumayan oke. Apalagi kalau kalian mau mainan Windows Studio effect-nya karena dia ada NPU-nya dan udah ada automatic framing juga. Jadi kalau misalkan saya pindah-pindah harusnya dia bakal ngikutin sih. L dia zooming-zooming sendiri plus mikrofonnya yang dari tadi kalian dengarkan adalah kualitas mikrofon dari polipernya. Saya mau coba kalau misalkan suaranya lumayan berisik pas saya pakai keyboard mekanical. Apakah suaranya masuk? coba tulis di kolom komentar. Lanjut kita bahas keyboard-nya ya. Untuk keyboard-nya sendiri dia pakai layout US yang udah punya tombol khusus buat manggil copilot. Tombol power-nya juga udah dedicated dan jadi satu sama sensor fingerprint. Jadi kalau mau ngebut ketik ngejar deadline enggak perlu takut lagi kepencet tombol power. Terus untuk peletakan touchpad-nya. Touchpad-nya sebenarnya enak. Saya suka banget karena smooth, responsif. Cuman menurut saya kurang lebar aja sih untuk trackpad-nya ya. Dan harga segini nanti harganya saya spill di belakang ya. Harusnya menurut saya sih ditambahin lagi sama backl keyboard ya. Harusnya kalau ada backl keyboard-nya sih menurut saya bakal lebih mantap. Tapi it's ok lah karena nanti saya jelasin kenapa enggak ada. Tapi sekarang kita lanjut ke konektivitas. Untuk konektivitasnya portnya itu dia ada HDMI di bagian kiri ada USB type E 3.0. Ada dua USB type C yang full function jadi bisa buat ngecas juga. Sementara di sebelahnya ada USB type A 2.0, type A3.0, 0 dan audio jack 3,5 mm dan privacy shutter buat webcam tadi. Untuk konektivitas non wireless-nya itu pakai WiFi 6 dipadukan dengan Bluetoth 5.2. Jadi walaupun belum WiFi 6ei atau WiFi 7 tapi masih okelah. Toh di Indonesia juga provider kita itu modemnya belum support sama wif di Malang ya. Di Jakarta saya enggak tahu. Jadi ya percuma juga sebenarnya. Oke, dan harganya harganya ini ada di 1099. Terlihat mahal untuk brand lokal kayak dua digit gitu ya. Cuman kalau kita mau lihat pasaran sebenarnya untuk laptop lain dengan Intel Ultra 5 dengan magnesium aluminium kayak gini ya ibaratnya ini laptop ultra book lah. Biasanya untuk kompetitor itu di 12 ada yang 11 bahkan ada yang di atas Rp1 juta. Nah sebenarnya untuk harga segini bisa dibilang Polytron paling terjangkau sih. Cuman memang karena dia yang paling terjangkau ada beberapa part yang agak dipangkas ya. Kayak contohnya tadi dia enggak ada backlit keyboard. sayangnya untuk Windows sih dia udah include, tapi kalau kan tanya OHS atau Office Home and Student itu belum ya. Jadi komprominya ada di situ. Tapi yang saya salut sama Polytron di harga itu tadi udah include ADP dan ADP-nya itu enggak setahun loh ya. ADP-nya itu dikasih langsung 2 tahun. Jadi kalau misalkan laptopnya rusak, kebakar, kongslate, human error, kebanting, Polytron bakal cover. Gila sih. Nah, ini after sale. After sales kayak gini nih. Brand lokal harusnya ngikutin juga biar orang yang beli brand lokal itu ngerasa aman. Dan sekarang pertanyaannya, apakah di harga segitu worth? Ya jawabannya sih worth it. Kalau kalian butuh performa yang lumayan serius buat content creation, editing, desain grafis, atau multitasking berat si prosesor Intel Core Ultra 5 dan art graphicnya, udah terbukti tadi untuk editing dan juga gaming masih lumayan lah walaupun masuknya ke kategori laptop Tin andlight. Terus penginnya laptop tipis dan enteng yang desainnya cukup premium tapi gak mau keluar duit yang belasan juta rupiah. Ini masih masuk. Terus kalian udah enggak peduli lah. Mungkin kalian enggak terlalu suka laptopan di ruangan gelap karena dia enggak ada backl-nya. Ya cocok. Tapi laptop ini mungkin enggak cocok buat kalian yang butuh FPS yang benar-benar tinggi karena dia enggak ada dedicated graphic card-nya, bukan laptop gaming. Terus kalau kalian butuhnya itu, wah nanti ke depan saya penginnya upgrade RAM, Bang, sampai 64 GB. Nah, ini bukan laptop untuk kalian. Tapi sebenarnya untuk laptop setipis ini ya, dia enggak ada dedicated grafik card, 16 GB menurut saya udah cukup. Jadi secara keseluruhan atau kalau anak JEL bilang overall, menurut saya Polon Usia Pro Ultra 5 ini merupakan langkah besar ya dari Poltrron yang mereka enggak cuma kayak asal bikin laptop gitu, tapi langsung main di kelas berat dengan spek yang bikin rivalnya ini wah ini Politon bisa jadi standar baru. Nanti brand lokal lain mungkin bakal ngikutin pakai prosesor yang enggak terlalu merefurbis. Dulu kita kenal Polytron itu dengan bassnya yang bikin genteng geter. Nah, sekarang Polytron udah mulai mau branding lagi untuk bikin hati kita yang bergeter. Karena kita dikasih laptop yang lumayan worthed di kelas harga yang cukup terjangkau. Saya di Kudi and see you on the next video. Bye bye.
