Jungkat

Asus TUF A16 vs Axioo Pongo 775: Lokal vs Global, Siapa Lebih Baik? (YouTube Video)

  • 26/09/2025

Duel seru antara dua laptop gaming yang punya performance bringas. Yang satu dengan label embel-embel internasional, yang satu lokal kebanggaan rakyat Indonesia. [Musik] Di depan saya sudah ada dua buah laptop yang sama-sama menggunakan RTX 5070 dengan TGB 115 wat. itu TGB yang tinggi banget untuk sebuah laptop. Nah, untuk RAM-nya juga sama-sama 16 gig dan kalian masih bisa upgrade lagi sampai 64 gig. Untuk SSD-nya juga 512 gig, NVM Gen 4 juga dan untuk speed-nya ya mirip-miriplah. Dan layarnya menggunakan 16 inch dengan panel IPS. Eh, enggak juga sih. Yang satunya IPS level. Si merek lokal itu pakai prosesor keluaran tahun 2023, yaitu i7 13620H. Sedangkan yang merek internasional atau Asus Staff A16, dia menggunakan Ryzen 7 260. Ya, sebenarnya itu versi rebranding dari Ryzen 78845HS yang keluaran di awal tahun 2025. Untuk harga jelas si merek internasional atau SKU lengkapnya Asus Staff A16 FA608 UP punya harga lebih mahal. SRP-nya sih di harga sekitar Rp24.699.000. Tapi kalau kalian cari di e-commerce, banyak juga yang pasang di bawah Rp24 juta. Nah, kalau si merek lokal atau Axio Pongo 775 itu startnya ada di sekitar Rp jutaan untuk yang versi DOS. Tapi kalau kita samakan include Windows plus include Office itu ada di sekitaran di Rp22.400 sampai Rp700.000. Tapi dengan beda kurang lebih sekitar 1 sampai 2 juta, apakah seworth itu misal kalian pengin beli Pongo 775 dan beralih ke Asus Staff A16 FA 608? Sekarang kita bahas. Nah, biar videonya enggak terlalu panjang juga, kita sudah bagi menjadi lima kategori perbandingan untuk kalian bisa nilai sendiri. Yang pertama ada desain dan build quality. Lalu yang kedua ada layar. Ketiga ada performance. Keempat ada software dan ekosistem. Dan yang kelima yang paling penting juga itu ada after sales. Kita mulai dari poin yang pertama dulu, yaitu desain dan build quality. Secara desain, Ponggo 775 lebih low profile. Punggung layar juga polos, cuman logo pongoh di tengah doang. Dan itu aja sisanya sih biasa aja bahannya dipakai di bagian pamres-nya itu bahan polikarbonat dan ini berbeda juga seperti PO 760 yang versi kedua yang juga sudah pernah kita review secara build quality agak turun dibandingkan dengan yang versi sebelumnya ya. Untuk F-nya jujur aja agak kerasa plastiki terutama di bagian back cover-nya ini. Ini kesannya tipis banget. Nah, kalau Asus Staff A16 kesannya jauh lebih gaming. Dan entah kenapa saat saya lihat logo di bagian pojok Asus STF ini simpel banget, enak banget dilihat. Bagian punggung juga menggunakan bahan metal, sedangkan bagian lain menggunakan plastik polikarbonat. Tapi untuk feel-nya beda banget seperti Pungo 775. Kalau kalian pegang seperti ini, ini jauh lebih solid. Coba bandingin ya. Ya. Tuh, kerasa enggak bedanya? Nah, bahan yang dipakai itu enggak terkesan murahan banget. Bahkan kalau di bagian back covernya itu beda banget. Ini tebal banget plastiknya. Dan untuk sebuah laptop gaming bisa dikatakan ini laptop gaming yang sangat tipis dengan performance monster dengan sisi ketebalannya cuman 1,79 cm. Jadi kalau kalian bandingkan seperti ini tuh kelihatan banget Pongo jauh lebih tebal. Untuk keyboard-nya feel-nya mirip-mirip aja enak. No complain. Entah itu mau di Pongo ataupun di Asus. Tapi di Asus jujur aja jauh lebih komplit. karena memang dia punya dedicate button untuk shortcut di volume microphone dan armory crate. Lalu juga Asus punya sertifikasi military grade 810H yang pastinya juga jauh buat lebih tenang kalau misal kalian masukkan ke tasok itu jauh lebih tahan. Sedangkan Pongo dia tidak punya sertifikasi seperti itu. Jadi jelas ya untuk masalah build quality Asus jauh lebih unggul dibandingkan dengan Pongo 775. Jadi poin untuk desain dan boot quality ASUS 1 Axi Pongo 0. Kita masuk ke poin yang kedua yaitu masalah layar. Untuk keduanya sama-sama menggunakan layar 16 inch dengan rasio 16 b. Ini rasio yang paling enak jujur aja yang bisa dipakai sekarang dibandingkan 16 b 9. Dan kita mulai dari Pongo 775 terlebih dahulu. Untuk layarnya dia menggunakan panel pure IPS bukan IPS level seperti Asus dengan resolusi 2.5K dengan refresh rate ini benar-benar di all in sih 180 Hz. Enggak cuman itu color gambutnya juga di all in sama dia. Pada pengujian kita di Kalman sRGB-nya dapat 99,3%. Adob RGB-nya 88,5%. P3-nya di 82,5% dan brightness maksimalnya itu sampai 418 nit. Jadi kalau mau dipakai di semi outdoor ini sudah enak banget. Nah, nilai minusnya untuk layarnya dia enggak bisa ditidurin sampai 180 ya. Ini mungkin mentok-mentok di angka sekitar 170-an derajat lah. Sekarang kita pindah ke Asus. Untuk layarnya menggunakan IPS level. Jelas sudut pandangnya itu akan beda banget seperti IPS. sudut pantainya akan jauh lebih kabur. Tapi kenapa ya Asus suka banget kasih layar di laptopnya itu menggunakan IPS level? Enggak bisa gitu ya pakai layar pure IPS kayak brand sebelah Acer mungkin seperti itu. Dan resolusinya yang dipakai itu cuman di FHD Plus alias 1920 * 1200. Refresh rate-nya pun masih di bawah axio Pomo 775 dengan 165 Hz. Dan color akurasinya saat kita tes di Kalman kita mendapatkan di 97,2% sRGB. Adob RGB-nya ada di 84%, P3-nya di 81,1% dan brightness-nya itu cuman di 300-an. Sudah cukup jelas ya, Asus Staff A16 FA608 harus sungkem sama Axio Pongo 775. Jadi untuk penilaiannya Asus 1 Axio Pongo 1. Sekarang kita akan masuk ke bagian performance, bagian yang cukup krusial untuk sebuah laptop gaming. Kita mulai dari Axio Pungo dulu dan seperti biasa kita mulai juga dari pengujian sintetisnya. Nah, kalau kalian perhatikan chart ini di sintetis Sanband R23 rata-rata ada di sekitar 16.000-an dengan single core di 1837. Nah, kalau posisi baterai only itu performance-nya turun hampir 50%. Beda banget seperti Asus Staff A16. Pada pengujian sintetis dengan metode yang sama, skor CPU-nya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan PU 775. Jelas karena ini faktor teknologi prosesornya yang lebih baru. Tapi ada hal yang enggak kalah menarik kalau kalian perhatikan di mode charging dan baterai only di Asus Staff A16 ini perbedaannya enggak terlalu signifikan. Ya, ini mungkin perbedaan jam terbang cara ngetuning antara seri lokal dengan seri internasional. Dan Asus untuk mensolusikan performance pada baterai only-nya yang cukup tinggi, dia kasih baterai 90 wat. Sehingga kesannya jadi laptop gaming ini enggak boros-boros banget di baterai. Ya, beda banget lah ya brand ODM yang memang quality control-nya atau setup-nya diset oleh pabrikannya sendiri, bukan dari brandnya. Sedangkan brand OBM seperti ini yang mulai dari RnD nge-tuning sampai mungkin dilarikan ke market itu dia kerjakan sendiri. Tapi ada hal yang menarik saat kita realuse penggunaan rendering-nya Axio Pongo unggul di semua pengujian mulai dari Premiere 4K, FHD sampai blender CPU dan GPU. Kalian coba lihat scene ini. Sekarang kita coba kalkulasi performance antara CPU dan GPU-nya menggunakan 3D Mark. Keduanya lolos uji stres dengan hasil yang sangat-sangat meyakinkan di atas 99% dan dihasil Axio Pomo hanya unggul di Spy, sedangkan A16 unggul di Firestrike dan pengujian race racing-nya di Solar Bay. Nah, bagaimana dengan pengujian real gaming-nya? Seperti yang saya omong tadi bahwa single core performance itu punya pengaruh besar pada pengujian gamingnya. Kita mulai dari PO 775 terlebih dahulu. Kita buat set by set aja biar lebih gampang untuk membandinginnya. Di sebelah kiri punggu 775 dan di sebelah kanan Asus Staff A16. Kita mulai dari game yang CPU bon banget Dota 2 dengan resolusi FHD plus. Jadi semua resolusinya kita buat FHD Plus biar sama. Dengan grafik best looking rata-rata kita dapat di 103 FPS dengan maksimal di 120 FPS dan drop-dropnya atau paling low di 95. Sedangkan untuk Asus Staff A16 rata-rata kita cuma dapat di 87 FPS dengan maksimal 114 FPS dan paling drop di 76 FPS. Pindah dengan game yang CPU bond juga di Valoran dengan resolusi FHD plus dan graphic high kita dapat rata-rata di 388 FPS untuk pungut 775 dengan maksimal di 479 dan paling drop itu ada di 346 FPS. Sedangkan untuk Asus Staff A16 itu gap-nya jauh banget, Guys. Rata-rata kita dapat di 164 FPS dengan maksimal di 256 FPS dan paling drop di 134 FPS. Lanjut ke game buttering wave. Entah di Pongo 775 ataupun Asus Staff A16. Dan saat smootion-nya kita aktifkan itu sama-sama di 120 fps atau saat kita matikan sama-sama dapat rata-rata di 60 fps. Itu FPS maksimal untuk game ini. Jadi imbang. Lanjut ke game yang lebih berat. Black Meid Wukong kita akan pakai dua scenario dengan frame generation-nya kita off-kan dan kita aktifkan empat kali. Pungo 775 dengan frame generation saat kita buat off. DLSS-nya on rate racing juga very high dengan grafik cinematic rata-rata kita cuma dapat di 33 FPS dengan maksimal 45 FPS dan paling drop di bawah 30 FPS atau 25 FPS agak kurang. Nah, kalau di Asus A16 dengan setting yang sama itu kita rata-rata dapat di 33 fps sama tapi maksimalnya hanya di 41 FPS tapi minimalnya ini lebih tinggi di 28 FPS juga masih kurang sih sebenarnya. Nah, saat kita ubah PU 775 dan Asus Staf A16 dengan frame generation 4 kali langsung lompat ke 102 FPS untuk rata-ratanya di punggu 775 dengan maksimal 116 FPS dan paling drop di 94 FPS. Nah, untuk Asus A16 ini kalah dengan pungup dengan maksimal 109 FPS dan paling rendah di 85 FPS. Masuk ke game pengujian yang terakhir yaitu Cyberpunk 2077. Kita mulai dari Pomo 775 terlebih dahulu. Kita juga menggunakan simulasi yang mirip-mirip seperti Black Meid Wukong dengan frame generation off. TLSS kita buat performance, retracing kita buat high dengan resolusi FHD plus. Rata-rata di pungo 775 kita dapat di 53 fps dengan maksimal di 58 sedangkan paling rendah di 49. Dengan simulasi yang sama, kita pindah ke Asus STF kita rata-rata dapat 54 dengan maksimal 60 fps dan paling drop ada di 44 fps. Nah, yang paling oke settingannya flame generation-nya kita buat empat kali. Nah, pada pengungut 775 rata-rata kita langsung dapat di 148 FPS dengan maksimal di 162 FPS. Nah, saat kita pindah ke Asus Staf A16 rata-rata ada di 153 FPS dengan maksimal di 181 FPS dan paling drop di 122 FPS. Nah, surprisingly walaupun PUO 775 ini menggunakan prosesor yang jauh lebih jadul di tahun 2023, sedangkan Asus di awal tahun 2025, perbedaan single core ini membuat perbedaan FPS game-nya juga cukup terasa. Dan jujur aja pada pengujian performance dan game kalau kita lihat dari sintetis lalu kita pengujian real rendernya pengujian gaming-nya Axio Pongo 775 unggul dibandingkan Asus Staff FA608 UP. Jadi untuk skor performance kita lempar ke Axio Pongo. Jadi Axio Pongo 2 Asus 1. Lanjut ke pengujian yang empat ya. Harusnya ini kalian pasti sudah tahulah ya pemenangnya mana. Jadi perihal software dan ekosistem di AXio. Karena ini produk ODM mereka enggak bisa generate software sendiri. Memang ada control center di sana cukup lengkap. Memang bisa ganti RGB, hardware monitor sampai pengaturan performance. Tapi software-nya enggak original aja gitu. Ini software yang banyak banget dipakai di produk-produk ODM khususnya di Clevo. Salah satu contohnya yang pernah kita review itu ada di Acer Expire 7 Pro yang secara software, secara hardware, secara fisik itu sama persis seperti Axio Pongo. Beda banget sama Asus ya. Ini jadi perbedaan besar antara brand OBM dan brand ODM. Ada Armory Create, yang jelas cuma ada di laptop gaming Asus walaupun secara fitur ya mirip-mirip seperti control center yang ada di Pongo. Dan ada perbedaan software satu lagi yaitu My Asus. Di sana ada ekosistem khusus Asus seperti Screen Expert dan Glide X yang bisa kalian pakai untuk atur software secara side by side dan bisa ngebuat HP kalian atau tablet kalian jadi external screen. Lalu Asu juga punya infrared kamera untuk akses ke Windows Hello kalian. Jadi jelas perihal software dan ekosistem dah Asus pemenangnya. Jadi Asus 2 Axi Oongo 2. Sekarang kita masuk ke pengujian atau perbandingan yang terakhir yaitu After salals. Nah, kira-kira menang siapa nih kalian? Sebelum kita bahas, kalian coba komen di kolom komentar dulu deh. Kita bahas mulai Aio Pongo 775 terlebih dahulu. Nah, Axio kasih garansi 3 tahun plus untuk 1 tahun pertama itu merupakan accidental damage protection. Jadi, kalau kalian gak sengaja ketumpahan kopi atau jatuh ke lantai, masih aman dan masih ada proteksi. Enggak cuman itu, mereka juga kasih gratis cleaning dan repasta seumur hidup. Jadi, bisa dikatakan laptop lokal yang satu ini benar-benar perhatian sama kalian. Cara paling gampangnya gini deh, repasta untuk laptop gaming. Rata-rata di tempat kalian ee harganya berapa? Ada yang mungkin Rp100.000, R000 ada mungkin Rp200.000 bahkan sampai Rp300.000. At least kalian bisa berhemat nih kalau misal setahun atau 2 tahun eh ternyata dia sudah overheat panas. Kalian bisa repasta dengan datang ke service center Axio dan itu semuanya di-cover sama mereka. Lumayan bisa menghemat budget. Belum lagi ada 183 service center yang tersebar di seluruh Indonesia dengan layanan semdice. Nah, bagaimana dengan Asus yang embel-embel laptop internasional? Memang dia punya jaringan service center yang cukup besar di Indonesia. Kalau embel-embel service centernya kita coba cari-cari di website Asus dan coba kita hitung itu cuman ada 29. Tapi kalau di tootal dengan autoriz service provider, ada Asus Royal Club dan drop zone totalnya itu ada di 170-an titik. Tapi setelah itu, nothing spesial sih jujur aja. Garansinya juga 2 tahun lalu juga ADP-nya atau Asus Premium Warranty-nya setahun pertama. Mirip-miriplah seperti Axio. Tapi memang kalau perihal e ketersediaan sparep biasanya merek-merek internasional itu menyediakan backup sparep yang cukup panjang dibandingkan dengan brand-brand lokal. Dan Asus sendiri salah satu brand dengan harga sparep yang tergolong murah. Tapi perihal after sales AI punggu 775 ini gokil sih. Jadi untuk skornya sekarang Axio punggu 775 3 Asus Kesimpulannya secara garis besar Axio Pungo 775 keluar sebagai pemenang. Tapi memang sudut pandang orang kadang-kadang berbeda. Aio itu unggul dalam hal layar, performance, dan juga after sales. Tapi Asus Staff A16 ini unggul dalam hal desain dan build quality serta software dan ekosistem. Sebenarnya enggak ada yang lebih unggul ataupun lebih lemah dari perbandingan ini karena memang tergantung preferensi masing-masing. Ada orang yang fokusnya ke performance, ke after sales atau garansi. Ada juga orang yang fokusnya ke e trustnya dia ke brand-brand internasional karena memang dia punya jam terbang tinggi, dia anti dengan produk ODM ada juga. Itu terserah kalian. Tapi kalau secara pribadi pribadi nih ya karena memang tiap orang bisa beda. Saya akan jatuhin pilihan ke Asus Staff A16 FA608UP. Alasannya satu secara performance jujur aja mau kalian bandingkan secara sintetis secara untuk rendering untuk gaming-nya itu perbandingannya enggak jauh-jauh banget tapi secara build quality sertifikasi Asus jauh lebih unggul. Lalu perbedaan brand OBM di Asus dan brand ODM di AXO itu jelas di quality control-nya. Kalau saya pribadi akan lebih percaya Asus perihal quality control karena Asus jelas punya RnD sendiri. dia akan melakukan try and error sendiri dan tuningannya kalau kita lihat tadi pada performance-nya itu cakep banget dan secara otomatis perbedaan 1 sampai 2 juta sebenarnya untuk menutupi gap RnD tersebut dan belum lagi perihal ya kalau kalian beli laptop kan enggak mungkin cuman dipakai sekitar 2 3 tahun bisa 4 sampai 5 tahun ketersediaan sparep itu jadi hal yang krusial nah kalau kalian disuruh pilih nih antara dua SKU ini Axio Pongo 775 dengan performance yang lebih kencang lebih monster atau Asus Staf A16 FA608 UP. Kalian pilih yang mana? Coba kalian tulis di kolom komentar. Oke, cukup sekian perbandingan kita kali ini. Kalau kalian ada komen-komen atau ada hal yang didiskusikan atau request mau perbandingan apa lagagi, kalian bisa tuliskan sekali lagi di kolom komentar. Saya Rico. See you.

Lihat di YouTube