Jungkat

Baru pertama bikin tapi bisa semantep ini...? | moto razr fold Indonesia (YouTube Video)

  • 16/07/2026

Gua enggak mau set ekspektasi tinggi buat HP ini, apalagi buat sebuah HP foldable. Dan ternyata gua bisa dapat experience yang positif. [musik] Bismillah, alhamdulillah kita ketemu lagi bareng gua Romi. Dari berbagai foldable phone, berbagai tipe, berbagai merek yang udah gua coba, pas dapat kesempatan untuk nyobain Motorola Razr Fold, jujur gua enggak terlalu excited. Tapi setelah pakai gua berani ngerekomendasiin HP ini ya, ketika mungkin kalian udah jenuh sama brand foldable yang itu-itu aja, pengen nyobain yang baru. Yang ini layak banget buat dilirik. Magnet positif yang bikin naksir, pertama itu ada di user interface-nya yang belum pernah coba, kalian boleh deh wishlist nih Moto UI. Ini user interface yang paling close dengan Android vanilla, tapi dengan penambahan banyak kustomisasi dan fitur menarik. Update OS-nya juga dapat sampai 7 tahun. Icon-icon-nya, font-nya, ini cakep. Beberapa aplikasi bawaannya dia pakai punya Google ya, kayak Google Photos, Calendar, Clock gitu ya. Bloatware-nya ada enggak? Ada, buat ngejar TKDN. Ada yang bisa langsung di-uninstall, ada yang cuma bisa di-disable aja. Walaupun Razr Fold ini HP debut foldable Motorola, ternyata enggak bikin experience-nya jelek ya. Fitur multitasking-nya malah asik banget. Bisa buka tiga apps sebelahan, atau bisa ditampilin full dan bisa pindah-pindah secara seamless. Kalau kurang banyak, masih bisa buka beberapa apps lagi secara pop up. Experience yang kayak gini ini ya, harusnya udah jadi standar HP foldable zaman now. Bikin layar dalamnya yang gede itu jadi kepakai secara optimal. Terus kalau mau pakai dibolak-balik juga bisa ya. Dia bisa mode laptop kayak gini atau mode tenda seperti ini juga bisa. Beberapa apps yang suka bermasalah sama rasio layar jumbo ala tablet, mostly aman ya, kayak Instagram atau TikTok misalnya, ini works perfecto. Dan tetap ada opsi buat tampil native, full ataupun cuma setengah. Terus kalau lagi asik buka satu apps pengen buka apps lain tapi enggak mau full, ini bisa aktifin sidebar buat narik apps lagi. Ini pokoknya cakep lah, gampang pakainya. Dan sebenarnya ada satu benefit lain dari HP Motorola ya kalau kita connect ke layar eksternal itu bisa dapat PC like experience pakai fitur smart connect. Nah, kebetulan gua lagi suka pakai kacamata AR pas gua konekin ini best banget dapat layar segede bioskop dengan navi gasinya bisa dari HP kita jadiin sebagai mouse. Nah, untuk AI di Razr Fold ini juga bisa diakses via dedicated button di sisi kanan atas bisa kita set double tap buat pay attention nanti bakal ngerangkum percakapan ngobrol ataupun meeting atau tap and hold dia bisa buat manggil fitur AI lain kayak nanyain informasi yang lagi tampil di layar HP, ngerangkum notifikasi yang masuk sampai bisa bikin gambar atau stiker. Jujur aja gua baru tahu kalau Razr Fold ini dapat gelar kamera foldable terbaik dari Dex Oma, tapi gua juga enggak yakin ya kalau user foldable phone se-aware itu soal kamera. Sensor yang dipakai memang cukup ngeri sih ya, main cam-nya Sony LYT-808 pakai OIS di 50 megapixel, tele-nya juga 50 megapixel Sony LYT-600 di 3 kali optical zoom ada OIS-nya. Dan satu lagi ini juga 50 megapixel buat ultra wide dengan macro vision. Dan untuk kamera depannya dia punya 32 megapixel. Untuk foto hasilnya cenderung tajam ya detailnya, karakter warnanya lebih ke vivid dan pakat. Post processing-nya cukup berasa bisa dilihat ketika motret wajah terus hasilnya kita zoom, nah ini kelihatan agak soft. Kayak ada efek beauty tapi masih dalam tahap yang wajar. Motret antar lensa warnanya termasuk konsisten kalau ketemu dynamic range, uniknya ini kadang lensa yang ultra wide-nya dia bisa dapat highlight dan shadow yang lebih ngangkat ketimbang main kameranya. Dan untuk lensa tele-nya ini juga cukup powerful ya di zoom hybrid 10 kali juga masih asik ya, misal kita mau motret menu makanan dari jauh ya. Dan buat galeri fotonya by default dia pakai Google Photos include dengan fitur AI kayak AI enhance, portrait light, dan juga pastinya ada magic eraser. Oke, perekaman kamera utama 4K 60 nih. Nah, gua switch ke 0,5. 1 kali. 2 kali. 3 kali. 6 kali. 0,5 lagi. Reka, cepat, cepat. Kalau fokus cuman pakai HP-nya buat kebutuhan sehari-hari tanpa ngerti tahu speknya, mungkin kita bakal ngira kalau HP ini dia pakai chipset yang paling tinggi, padahal enggak cuman pakai Snapdragon 8 Gen 5 yang versi biasa bukan versi elite. Pas nulis review ini, gua juga kebetulan ya lagi pakai HP lain dengan Snapdragon 8 elite Gen 5. Dan buat konsumsi harian gua yang mostly browsing buka banyak tab, ngedit video di CapCut sama main game Clash Royale, asli ya susah ngerasain bedanya ini sama-sama kencang. Dengan clock speed lebih rendah justru malah dapat performa yang lebih minim throttling dan baterai juga jadinya lebih awet. Ya, ketahanan baterainya memang sebagus itu. Pertama pastinya ngaruh dari kapasitas yang memang gede di 6.000 mAh. Terus kebantu UI-nya yang udah full optimize. Gua lepas casan 100% di jam 6 pagi, pas jam 8 malam ini baterainya mostly ya keseringannya masih sisa 50% dengan pemakaian medsosan aktif. Tapi ini cuman dengan satu SIM card ya karena slotnya kan memang cuman ada satu untuk fisik, yang satunya lagi itu e-SIM. Ngecasnya juga effortless di 80 watt kalau pakai kabel atau 50 watt wireless. Dan sama kayak chipsetnya yang pakai versi basic, kapasitas RAM dan storage-nya juga sebenarnya standar saja ya masing-masing di 12 dan 256 giga. Sejauh ini yang dijual di sini cuma ada satu opsi saja, belum ada varian 512 giga. Pas lihat ada logo Bose di box-nya, gua cukup happy. Tapi tetap enggak mau ekspektasi ketinggian, takut kecewa euy. Alhamdulillah ya pas dengar langsung, wah ini beneran Bose sih. Bulat, deep, solid, pokoknya berwibawa lah suaranya. Harusnya so far ini speaker foldable yang paling cakep sih. Untuk layarnya luar dalam sudah pakai LTPO P-OLED yang luar 6,6 inci 165 Hz pakai model curve yang sudah mulai jarang dipakai di flagship lain. Sementara yang dalam dia 8,1 inci [mendengus] 120 Hz dengan crease yang masih standar. Gua akan skip bahas kualitasnya karena ini levelnya sudah mentok kanan, dijamin puas. Nah, paling gua bahas sedikit soal engselnya saja yang mana gua ngerasa ini sudah solid dan proporsional. Dia pakai stainless steel, buka layarnya effortless enggak keras ataupun lengket. Angle buka tutupnya juga fleksibel, dia kuat nahan di beberapa titik sudut. Makanya jadi bisa dipakai di mode stand ataupun mode laptop. Sekalian ya kita lanjut ngomongin desain sedikit ya. Motorola di sini punya gayanya sendiri. Ciri khas bam kamera yang membukit juga dipakai di HP ini. Opsi warnanya itu ada dua, ada Pantone Black and Blue sama Pantone Lilac. Kalau gua lebih suka yang biru ini ya, lebih mature dan premium. Di back door ini cakep ya ada teksturnya khusus untuk yang varian Pantone Black and Blue. Buat basah-basahan juga aman karena ada sertifikasi IP46, 48, 49. Dan secara ukuran ini sebenarnya bukan yang paling tipis di kelasnya tapi masih aman lah secara di kondisi ketutup ini tebalnya masih under 1 cm dan di kondisi kebuka dia cuma 4,5 mm. Dan satu lagi nih yang gua suka Motorola ngasih free casing depan belakang yang proper banget cukup tipis dan finishing-nya ini dibikin frosted ya jadi dia enggak gampang kelihatan baret ataupun kotor. Dan FYI untuk HP-nya sendiri sebenarnya sudah bisa PO ya dari 13 Juli kemarin sampai 20 Juli kita bisa dapat harga spesial up to 25499 juta buat varian 12 256 giga plus bisa dapetin gratis buds dan watch Motorola dengan total benefit-nya sampai 10,7 juta. Oke jadi dengan kemunculan tiba-tiba sih Motorola Razr Fold ini bisa bikin pasar foldable resmi semakin hidup lagi ini bisa jadi opsi yang sangat recommend, kameranya bisa bersaing di kelas foldable, terus layar dan speaker-nya juara, baterainya bandak dan UI-nya ini bikin susah move on.

Lihat di YouTube