Baterai Terawet di 4 Jutaan Saat Ini, dan Tetap Lengkap: Review moto g 86 POWER 5G (YouTube Video)
UI bersih tanpa iklan, fitur segudang. Ada kamera ultrawide autofokus SOC Dens City 7400. Dia punya IP68 dan IP69. Baterai besar di 6720 mAh. Dan yang ini beneran awet. Enggak cuma angka mAh-nya doang yang gede, ya. Nah, untuk kelas harganya smartphone ini menawarkan kemampuan baterai di atas rata-rata smartphone lainnya. Dan yang menariknya, kelengkapannya pun tetap diperhatikan membuat dia jadi salah satu smartphone yang serba bisa. Nah, apakah smartphone ini yang cocok buat kalian? Ini dia review Moto G86 Power 5G ya. Motorola G86 Power 5G. Dari segi namanya, Geries Motorola memang dirancang sebagai smartphone kelas menengah hingga entry level. G86 ini adalah versi terbaru. Sebelumnya ada G85, G84, tapi itu enggak masuk resmi ke Indonesia. Jadi untuk pasar Indonesia mulainya dari G86. Ya, kalau G45 kemarin tuh masuknya ke entry level 2 jutaan kecil kan harganya ya. Nah, video review-nya sih sudah tayang. Kalau kalian belum lihat ya berarti kalian ketinggalan. Mungkin belum subscribe tahu dong harus ngapain. Nah, untuk nama power di belakang smartphone ini artinya sederhana yaitu baterainya yang besar sesuai dengan kapasitas baterainya yang di 6.720 mAh. Masih jarang nih ada smartphone yang kapasitasnya gede gini baterainya ya. Tapi setelah kami uji ternyata kelebihannya bukan cuma di baterai doang. aspek lainnya juga ternyata menarik. Oke, kita langsung mulai dari paket penjualannya. Di sini tentu ada unit smartphone-nya ya, lalu ada case. Kemudian ada kabel USB type C, lalu ada chargernya, ada chargernya, ada chargernya. Ini adalah charger 33 watt ya. Ada sim ejector juga, ada paket dokumen. Nah, paket penjualannya cukup lengkap tapi sedikit berharap motor juga menyertakan screen protektor bawaan sih sebetulnya ya. Jadi kalau kalian butuh banget screen protektor ini, kalau di sini harus cari sendiri ya. Oke, dari sisi desain kalau dilihat dari seluruh lini yang rilis di Indonesia terlihat dalam satu periode motorl menggunakan bahasa desain yang konsisten banget. Mau yang flagship kemarin seperti Moto H60 Pro maupun Moto H60 Fusion bahkan G45 pun yang entry level itu ya itu seperti sengaja dibuat seragam semuanya. Tapi yang membuatnya beda dibandingkan versi di atasnya adalah smartphone ini bodinya flat, layarnya flat, back covernya juga flat. Nah, untuk kalian mungkin kurang cocok dengan desain body yang melengkung, mungkin ini akan jadi opsi yang lebih pas. Menurut kami desain seperti ini memang lebih nyaman ya untuk digenggam ya. Back covernya itu dari Vegan Leather dengan opsi warna yang juga berani ya. Ada empat warna di sini. Ada panton golden Cyprus, ada panton Cosmic Sky, ada panton crisantinum, dan ada panton spellbound seperti yang kami uji kali ini. Nah, di tengah persaingan smartphone yang ketat seperti sekarang memilih warna body yang mencolok seperti ini memang jadi pedang bermata dua ya. Bisa ada yang suka banget, tapi ada juga mungkin yang gak suka banget. Tapi jika tujuan Motorola ada menjadi stand out atau terlihat beda dibanding kompetitornya, menurut kami Motorola sudah berhasil. Kemudian ada yang nama Panton juga bukan sembarang nama di sini ya. Motorola memang ada kerja sama khusus dengan Panton dan opsi warnanya juga sudah divalidasi oleh panton. Oke, untuk dimensinya tinggi 161,2 mm, lebar 74,7 mm, dan tebalnya di 8,7 mm. Bobotnya sekitar 198 gr. ini cukup ringan ya. Padahal di dalamnya tuh ada baterai yang besar 6.720 mAh. Bodinya sendiri sudah disertifikasi IP rating di IP68 dan IP69. Jadi tahan debu dan juga tahan jika enggak sengaja kecebur dalam air ya. Bahkan kalau kena semprotan zet yang suhunya juga tinggi sekitar 80 derajat Celcius itu masih aman. Tapi walaupun demikian itu semua hanya untuk jaga-jaga ya. Jangan disengajain apalagi ditenggelamkan, diajak berenang gitu ya. Apalagi diajak snorkling di laut. Jangan jangan. ya. Nah, enggak cuma IP rating, bodinya juga sudah disertifikasi military grade di military standar 810H. Nah, perlu diingat juga ya meskipun ini sudah lolos uji ketangguhan, tapi bukan berarti jaminan dia pasti aman kalau kebanting. Jadi janganlah ya kalian ee pamer ke teman kalian nih nih udah military standar nih banting door d door jangan jangan jangan jangan. Itu cuma kalau untuk enggak sengaja aja ya. Oke, sekarang kita lihat di sisi kanan di sini ada tombol power, tombol volume up and down. Ada satu lubang mikrofon spesial untuk noise cancellation saat lagi telepon dan media playback. Di bagian atas di sini ada mikrofon. Di sisi kiri ada slot SIM tray hybrid. Bisa dipasangin dual SIM atau satu SIM card plus 1 micro SD. Nah, mana nih kalian yang suka komplain HP sekarang udah enggak ada micro SD-nya? Nih motor masih ngasih nih di sini ya. Oke, di sisi bawah di sini ada mikrofon, ada port USB 2.0, lalu ada grill speaker. Speaker ini stereo ya dan pasangannya ada di bagian earpiece. Untuk bagian suara speakernya masih dominan untuk speaker bagian bawah di telinga kami porsinya tuh sepertinya speaker bawah tuh 70% dan yang atas di bagian earpiece itu ada di sekitar 30%. Suaranya sendiri masih cukup jernih dan rapi ya. Mau dipakai nonton atau gaming itu asik-asik aja menurut kami enggak ada masalah. Paling enggak ini masih stereo ya. Ini bukan yang mono atau yang satu speaker doang. Nah, kita beralih ke sisi depannya. Ini adalah layar 6,67 inci. Panelnya P OLED. resolusinya 2712* 1220 piksel dan ini dilindungi dengan Corning Gorilla Glass 7i. Refresh rate-nya up to 120 Hz dengan kemampuan adaptif dari 60 sampai 120 Hz. Touch sampling rate-nya itu belum ada klaim ya berapa herz. Tapi kalau kita pakai tab-tap nge-swip-nge-eswip itu enggak kerasa ada delay mengganggu. Layarnya responsif di sini. Nah, saat kami uji brightness maksimum untuk indoor dalam ruangan itu di kisaran 511 nitz dan kalau kita lakukan simulasi outdoor brightness-nya itu bisa naik ke kisaran 1400 nit. ini udah sangat tinggi untuk full screen brightness dipakai outdoor siang di bawah trik matahari itu masih aman. Nah, kalau untuk warna layar ada beberapa mode warna yang disediakan di sini ada vivit natural dan radian. Untuk yang vivit gamut coversnya ada di 99,6% di CP3 dengan gambut volume di 118,3% DC IP3. Untuk natural gambut GFRASnya di 91,2% sRGB dan gambut volumenya di 92,5% sRGB. Untuk radian gambut coverageasnya ada di 97,6% dip3 dan gambut volum-nya di 100% di IP3. Radiannya seperti opsi yang di tengah-tengah gitu ya. Nah, kalau secara langsung memang paling gonjring yang Vivit ini buat nonton dan gaming asik. Tapi kalau dirasa terlalu menyala warnanya pakai opsi radian dan untuk natural itu akan cocok untuk editing content. Oke, meskipun dia pakai OLED tapi entah kenapa di sini belum ada fitur always on display ya. Sementara kalau untuk in display fingerprint scanner itu ada dan fingerprintnya sendiri cukup cepat dan akurat nih ya scannernya ya. Lalu kita lanjut ke atas layarnya. Di sini ada earpiece untuk nelphone dan ada kamera selfie 32 megap bukanya F2.2 dan ini adalah kamera Fix Focus. Perekaman videonya up to 4K 30 fps. Sayangnya 1080p 60 fps itu belum tersedia di sini. Oke, sekarang kita beralih ke sisi belakang. Di sini ada modul kamera, satu flicker sensor dan satu LED flash. terlihat ada tiga kamera, tapi yang beneran kamera itu sebenarnya cuma dua ya. Di sini ada kamera utama 50 megapel pakai Sony Lia 600. Nah, bukannya F1.9. Ini dilengkapi dengan optical image stabilizer. Tentunya dia sudah autofokus. Rekaman videonya mencapai 4K 30 fps dan 1080p 60 fps juga ada. Slow motion-nya itu sampai 1080p fps. Kemudian ada kamera ultrawide 8 megap bukanya F2.2 2 dan ini autofokus ya dan kameranya bisa digunakan sebagai kamera makro juga. Perekaman videonya juga bisa 4K 30 fps. Sayangnya untuk 60 fps-nya belum bisa di sini. Nah, untuk fitur ekstraknya sendiri ada beberapa ya dan bisa dilihat di menu kameranya seperti ini nih ya. Nah, ya. Nah, lanjut untuk spesifikasi internalnya. SOC-nya pakai Mediatch Density 7400. RAM-nya adalah 8 GB LPDR 4X dengan fitur RAMUS yang bisa membuatnya sampai 16 GB. Untuk storage dia menggunakan 256 GB UFS tentunya ya. Untuk versi Indonesia hanya ada satu opsi aja. Untuk opsi storage yang lebih besar itu belum direncanakan akan masuk resmi ke Indonesia. Untuk baterai seperti kita bahas dari tadi 6.720 mAh. Wire charging-nya up to 33 watt. Untuk wireless charging ini belum bisa. Untuk bypass charging juga belum ada. Nah, untuk sensor-sensor itu tentunya aman ya. Semua sensor esensial tuh ada, Gyro juga ada, dan sudah hardware juga. Untuk security-nya dia pakai face unlock dan inisplay fingerprint scanner. Untuk kreativitas tentunya juga bisa 5G ya, 2G, 3G, 4G bisa semua ya. Lalu Wii-nya Wii 6e. Wii sharing juga tersedia di sini. Bluetooth-nya versi 5.4. Untuk Bluetooth kodexnya ada banyak dan bisa dilihat di menunya yang berikut ini ya. Untuk USB OTG bagaimana? Tentunya bisa. NFC juga ada, tapi kalau untuk display output itu belum bisa ke monitor eksternal maupun untuk proyektor. Tapi untuk mirroring ke laptop atau PC Windows itu bisa. Kita bisa pakai smart connect. Oke, lanjut untuk OS ya. Dia menggunakan Hello UI dengan basis Android 15. Motorola menjanjikan satu kali Android update dan 3 tahun security update. Dari segi tampilan sekilas seperti Android polos di sini ya atau banyak yang bilang ini sebagai stok Android atau dia bilang juga vanila Android ya. Tapi saat kami telusuri fiturnya ternyata ini khas Motorola sangat-sangat melimpah. Di sini kita sudah bahas beberapa kali di video-video sebelumnya secara detail. Jadi singkatnya meskipun ini kelas menengah hampir semua fitur khas moto tetap disematkan di sini. Smart Connect ada. Ini fitur yang luar biasa banget untuk membantu produktivitas. Moto secure ada juga di sini. Jadi kita bisa pakai secure folder dan app lock dari sini. Family space ada juga. Untuk moto AI memang belum ada, tapi di sini kita bisa pakai Google Gemini dan Circle to Search. Kemudian ada juga Perplexity dan Copilot yang sudah terinstal sebagai aplikasi bawaan. Nah, soal iklan gimana? Smartphone kelas menengah seperti ini biasanya kan banyak aja tuh iklannya ya. Di sini bersih tidak ada iklan. Untuk bladware atau software-software tambahan memang ada sedikit, tapi ini enggak ganggu sih sebetulnya. Notifikasi aplikasi tersebut tidak aktif secara default. Jadi tidak akan ada notifikasi iklan yang mengganggu di sini. Lalu, kalau mau dihilangkan memang enggak bisa diuninstall, tapi paling enggak masih bisa di-disable. Oke, sekarang mari kita lihat performanya. Kita benchmark dulu, ya. Nah, di sini tidak ada opsi mode performa pada menu settings. Jadi, benchmark kita uji ya apa adanya aja. Untuk Antutus 10 dia dapat Rp697.000-an. Untuk Geig Bench 6 single core di 1084, multiore di 3049. Untuk JFX Bench 1080p Manhattan 3.1 dia dapat 62 fps. Untuk 3D sling shot graphic skornya ada di 5.900. Sekarang kita coba lihat stress testnya bagaimana. Kita pakai 3 trim wl stress test. Best-nya ada di 3.60 dengan lowest score di 3.630. Jadi stability-nya bagus banget di 99,2%. Tanpa kipas pun performanya udah sangat stabil. Udah gitu enggak pakai overheat di sini. Overall level performanya memang bukan yang paling kencang untuk kelas harganya, tapi ini masih tergolong sangat pantas untuk kelas harganya ya. Kita enggak bisa menilai smartphone dari prosesor doang, ya. Oke, kita lanjut untuk pengujian gaming dan di sini kita bisa mengatur mode performa saat kita masuk dalam game-nya. Tinggal buka overlay game tool kit. Lalu di sini ada opsi performanya. Pilih turbo untuk performa maksimal. Dan yang unik, motornya juga punya FPS counter bawaan. Kita bisa melihat frame rate, CPU load, RAM, dan juga suhu core CPU-nya. Oke, kita langsung mulai dari Mobile Legends, ya. Setting grafis ini terbuka sampai dengan ultra dengan frame rate di super yang artinya mentok di 90 fps. Kalau dimainkan, game bisa berjalan dengan sangat lancar di 90 fps. Dia belum bisa 120 fps, tapi bagi kami 90 fps di kelas gini udah tergolong hasil yang bagus. Lancar juga walaupun dimainkan tiga match berturut-turut tetap segitu-gitu aja. Lanjut untuk Real Racing 3. Game ini bisa jalan di 120 FPS dengan lancar. Ada sedikit tips ya, jika ada game yang ternyata gak bisa jalan di atas 60 fps, padahal harusnya bisa. Solusinya adalah atur refresh rate layar lewat overlay game tool kit yang tadi. Di sini ada opsi untuk set refresh rate layar untuk setiap game. Jadi tinggal setel aja ke 120 fps. Beres. Lanjut ke subway server. Di sini sama juga ya, game ini juga bisa jalan di 120 fps. Mulus dan lancar ya, enggak ada masalah di sini. Lanjut ke PUBG Mobile. Untuk setting maksimal yang bisa dipilih adalah grafis smooth dengan frame rate di ekstreme yang artinya mentok di 60 fps. Sayangnya nih developer dari game-nya nih belum membuka setting yang lebih tinggi ya. Padahal ini bukan karena SOC-nya enggak kuat, ini lebih ke arah kurang kerja sama antara Motorola dan developer dari si PUBG Mobile-nya. Kalau cuma segini sih keentengan. Semoga di update matang bisa lebih dari ini. Kita enggak minta 120 FPS sih, tapi paling enggak 90 fps bolehlah ya. Untuk jero sendiri aman di sini, mulus enggak ada masalah. Lanjut ke Gensin Impact. Settingnya langsung HS60. Kita coba mainkan traveling seperti biasa selama setengah jam. Frame rate rata-rata di 40 fps dengan fluktuasi kisaran 35 sampai 45 fps. Ini cukup stabil selama 30 menit pengujian. Tidak terasa ada penuruan frame rate yang signifikan. Satter kecil masih ada, tapi enggak sampai mengganggu game-nya sendiri, ya. Sekarang kita cek suhunya. Di layar terpanas di 42 derajat Celcius. Di body belakang titik terpanasnya ada di 43 derajat Celcius. Susini masih terasa anget-anget aja sih ya di tangan ya. Penyebaran di backover juga tergolong standar-standar aja. S tertinggi itu dominan ada di area samping kamera tempat SOC-nya berada. Nah, saat kami coba lagi dengan kipas dari segi frame rate hasilnya mirip-mirip aja tidak terlihat ada peningkatan yang signifikan. Kemungkinan ini karena back cover-nya yang dari leather tadi ya. Nah, untuk ranking-rankingan, dia layak untuk dapat ranking A, baik tanpa kipas maupun dengan kipas. Bisa main dengan setting tertinggi dan lancar. Ini harusnya sudah mencukupi untuk sebagian besar pengguna. Oke, kita lanjut ke watering waves. Kita coba dengan setting balance dan frame rate kita style di 60 fps. Hasilnya frame rate bisa jalan di kisaran 30-an FPS saat battle. Kalau animasinya mulai rameai, frame rate-nya bisa turun ke 20-an FPS. Kalau untuk traveling sih lancar di 40-an FPS. Ini masih masuk dalam kategori cukup nyamanlah untuk dimainkan. Tapi semoga ke depannya developernya bisa mengoptimalkan lagi performanya terutama untuk SOC sekelas ini. Oh ya, ada sedikit catatan kami menemukan sedikit bug saat kita main game ya. Jadi entah kenapa area di sudut kiri atas layar itu jadi tidak bisa disentuh. Akibatnya ada menu yang tidak bisa kita akses. Yang jelas ini bukan isu hardware ya, karena kalau untuk penggunaan selain game, area pojok layar ini tetap berfungsi. Nah, ini kita sudah bahas dengan pihak Motorola dan seharusnya sih ada perbaikan ya nanti ya. Oke, kita lanjut ke pengujian kamera seperti biasa bareng sama Kris ya. Di tangan saya kali ini sudah ada Moto G86 Power. Sekarang kita mau lihat kemampuan kameranya seperti apa. Yang pertama-tama kita mau cek adalah kemampuan mikrofonnya. Suara yang lagi kalian dengar sekarang adalah suara langsung dari mikrofon smartphone-nya. Saya gak pakai mikrofon. Kalau misalnya untuk video sehari-hari atau vlogging hasilnya kurang lebih seperti ini. Dari kualitas suaranya menurut saya sudah tergolong bagus, suara vokal jernih, dan input levelnya sudah pas. Tapi kalau kita dengar pakai headset atau headphone, saya baru menyadari kalau background noise-nya itu seperti naik turun. Ya, kalau cuma dengar pakai speaker HP atau speaker PC biasa sih baik-baik aja. Untuk kualitas video selfie-nya, gambar sudah terbilang bagus. Detailnya pas, dan ketajaman juga pas. Warna juga gak ada masalah. Setidaknya di kondisi cahaya ideal menurut saya oke-oke aja. Kalau soal dynamic range, sekedar oke aja, belum yang luar biasa. Di kondisi cahaya yang sulit, wajah masih bisa terekspos dengan baik, tapi area terangnya terlihat masih over expose. Oke, berikutnya kita cek stabilizernya. Kita coba di 4K 30 FPS hasilnya bisa stabil dan stabilizernya ini termasuk yang sangat rapi. Smooth banget stabilizernya asli dah. Cuma satu hal aja sih yang disayangkan. Kamera selfie-nya ini belum bisa merekam video 60 fps. Mentok di 30 fps saja. Lanjut ke kamera utamanya. Videonya udah oke banget nih. Detail tergolong mantap. Ketajamannya juga pas. Untuk saturasi cenderung tinggi menurut saya dengan warna skin tone yang kalau di mata saya sih cenderung lebih kuning ketimbang aslinya. Nah, kalau kamera utamanya ini bisa merekam 1080p 60 fps ya dengan kualitas yang masih lumayan oke juga. Soal dari micrange belum tergolongnya mantap nih. Area terang dapat dicover dengan baik tapi sayangnya area gelap kurang keangkat. Menurut saya ini masih terlalu gelap. Perlu diingat ya, pengujian kami itu point and shoot. Kalau memang dirasa subjek kurang terang, tinggal diap aja secara manual atau atur exposure-nya sendiri. Tapi ya akibatnya area terangnya jadi akan over expose kalau kita naikin area gelapnya. di 1080p 60 fps. Hasilnya juga mirip-mirip aja dari micrange-nya. Gak terlalu jauh beda di sini. Untuk stabilisasi video, beh mantap, cuy. Rapi banget ini stabilizernya. Kalau cuma di bawah jalan biasa kayak begini mah enggak berasa kedut-kedut di gambarnya. Ini contoh video dengan stabilizer yang bagus menurut saya. Kalau di bawah lari ya wajar sih, masih ada kedut-kedutnya. Apalagi tempat tes kita ini memang super enggak rata jalanannya. Keren nih stabilizernya. Saya suka saat kita coba di 1080p 60 fps. Stabilizernya juga mirip-mirip aja. sama-sama oke, enggak ada masalah. Lanjut ke kamera ultrawide-nya. Di kondisi terang hasilnya cukup bagus. Detailnya selama enggak di pixel pip mah oke-oke aja. Soal warna menurut saya sudah cukup mirip dengan kamera utamanya. Dari segi dynamic range di sini mirip seperti kamera utamanya. Area highlight terekspos dengan baik dengan area gelap yang cenderung underxpos. Sayangnya saat menguji kamera ultrawide-nya ini saya menemukan sedikit masalah nih di mana gambarnya terasa kedut-kedut saat digerakkan seperti ini. Entah karena stabilizernya atau karena autofokusnya. Tapi ini konsisten terjadi kalau lagi penning atau geser-geser kameranya. Kalau lagi diam aja cenderung aman. Semoga ini bisa di-fix via software update. Untuk stabilizer videonya aman ya. Videonya luar biasa stabil bahkan di 4K sekalipun. Yang unik ultrawide-nya ini autofokus ya. Jadi bisa untuk kamera makro juga. Masih jarang nih ada smartphone lain yang bisa seperti ini di kelasnya. Nah terkait pengalaman mult kameranya menurut saya Motorola masih perlu upgrade sih dari segi kemulusannya. Kita tetap bisa pindah kamera langsung saat lagi merekam video dari kamera utama ke ultrawide atau sebaliknya. Tapi masih terlihat tata patah di sini. Di sini belum ada animasi untuk zoom in dan zoom out-nya. Padahal ini harusnya bukan keterbatasan SOC-nya. Dan ada sedikit SKB juga di mana ini hanya berlaku untuk 30 fps ya. Soalnya kan 60 fps cuman ada di kamera utamanya doang. Kita lanjut untuk low light. Kamera selfie-nya masih cukup terang, tapi sudah terlihat agak soft dan greny di area-area yang gelap. Stabilizernya aman. Jaternya ada tapi masih di level yang wajar. Kalau untuk kamera utama ini terbilang oke ya. Video masih bisa terang dengan detail yang masih terjaga. Tapi untuk noise belum bisa dibilang bersih ya. Bisa kita lihat di area gelap noise-nya masih cukup terlihat dan saat lagi ngecek noise begini autofokusnya juga terasa kedut-kedut di beberapa situasi. Saat dicoba merekam di 60 fps, gambar terlihat lebih gelap dan detail sudah kurang memadai. Untuk cheater stabilizer masih bisa terlihat, tapi ini masih di level yang wajar. Saat kita coba rekam di 60 fps, stabilizernya bisa lebih rapi sedikit. Lanjut lagi ke kamera ultrawide-nya. Kamera yang ini rasanya kurang pas ya untuk low light. Sebaiknya pakai kamera utamanya aja deh. Saya juga menemukan hal yang aneh di sini. 4K ultrawide kualitasnya malah lebih rendah dibandingkan 1080p 30 fps-nya. Ini spesifik di ultrawide. Jarang-jarang nih saya ketemu hal seperti ini. Terkait autofokus, saya coba tes di kamera utamanya dulu. Fokusnya belum bisa dibilang ya super lancar ya. Saya menemukan terkadang fokus di kamera utamanya bisa nyangkut. Kalau di 60 fps autofokusnya bisa kedut-kedut enggak jelas gitu. Transisi fokusnya juga belum bisa dibilang yang smooth. Kalau kita cek kamera ultra white-nya fokusnya belum bisa dibilang responsif ya. Terkadang malah perlu diap manual dulu baru mau fokus. Moto masih perlu meningkatkan lagi kemampuan autofokusnya. Untuk fotograf overall fotonya termasuk yang oke aja. Karakter foto cenderung oversharpen dan saya mendapati processing foto terkadang bisa miss juga. Sedikit berharap Moto bisa kasih opsi 2X digital zoom untuk mode portraitnya. untuk sekarang baru bisa untuk modus satu kali aja. Jadi bisa dibilang fotonya bukan yang paling impresif. Mencukupi aja untuk mayoritas pengguna. Untuk fitur ekstra ada beberapa tapi saya cobain sebagian aja ya. Ada fitur slow motion. Di sini kita bisa merekam 1080p 120 fps. Hasilnya sendiri tergolong lumayan oke. Lalu ada mode pro juga di sini dan ini bisa kita gunakan untuk di kamera utama, kamera ultrawide, bahkan selfie-nya juga. Untuk detail pengaturan ISO dan shutter speed bisa dilihat aja di menu kameranya berikut ini. Sayangnya ini baru untuk fotografi aja. Manual setting begini seharusnya akan lebih kepakai untuk mode video ya. Ditunggu ya Moto, mode pro untuk video. Oke, overall kameranya terbilang standar dan Motorola masih harus beresin beberapa hal dari kameranya. Pertama, processing fotonya masih bisa miss. Lalu untuk ultrawide videonya entah kenapa bisa kedut-kedut sendiri gambarnya. Lalu autofokus juga masih harus ditingkatkan lagi. Kemudian kemampuan low light-nya masih harus ditingkatkan lagi baik foto maupun video. Lalu pengalaman navigasi kameranya semoga bisa dibuat lebih mulus lagi. Dari sisi kelebihannya semua kameranya bisa merekam 4K termasuk selfie dan ultrawide-nya ya. Lalu kamera ultrawide-nya autofokus ini masih terbilang jarang ada yang punya. Kemudian stabilizer videonya sangat rapi di sini. Jarang sekali loh ada yang stabilizer videonya bisa serapi ini di kelasnya. Lalu foto kamera selfie-nya termasuk oke meski low light sekalipun selama processing-nya beres ya. Oke, sekian pengujian kameranya Moto G86 Power 5G. Kita lanjut lagi ke pembahasan berikutnya. Oke, sekarang mari kita tes daya tahan baterainya yang 67.720 mAh ini untuk YouTube local video playback 1080p. Jadi, kita download dulu videonya ya dari YouTube ya. Lalu kita putar terus-menerus nonstop ya. Ee kita bisa lihat dia bisa dapat 29 jam 8 menit. Ini berarti baterainya awet ya. Mantap nih. Sudah hampir 30 jam ya, kurang 1 jam lagi sih memang. Untuk YouTube streaming selama setengah jam, baterai hanya turun 2%. Mainan TikTok selama 30 menit baterai hanya turun 3%. Gensin Impact 30 menit highest 60 fps, baterai turun 11% dalam setengah jam tadi ya. Nama power-nya Motorola ini memang ternyata sangat terbukti di sini. Di kelas harganya tidak banyak yang bisa memberikan kemampuan baterai sehebat ini. Oke, sekarang kita lihat kemampuan charging-nya. Nah, ini pakai charger bawaannya ya. Dari 0 sampai 50% butuh waktu 35 menit. Sementara dari 0 sampai penuh itu butuh waktu 1 jam 24 menit. Sebetulnya kita sedikit berharap Motorala bisa ngasih charging yang sedikit lebih kencang lagiah ya. 1 jam lah ya untuk baterai segede gini harusnya ya. Tapi untuk 1,5 jam dengan baterai 6720 mAh ini ya masih ok lah sebetulnya. Belum bisa dibilang yang lambat, sekedar oke aja. Oke, lanjut lagi. Untuk Netflix ini udah L1 tapi sayangnya HDR belum di-support di sini untuk YouTube dia support playback 4K 60 fps HDR dan ini tanpa masalah. Untuk heptic feedback, nah ini sayangnya kualitas heptic feedback-nya belum tergolong yang mantap nih ya. Getarannya agak kurang presisi. Masih agak naik turun gitu ya. Kadang panjang, kadang pendek ya. Kalau dipakai mengetik dengan cepat agak kurang nyaman. Di sini kita bisa dapat yang lebih baik lagi dengan mengatur intensitas getaran dari setting keyboard. Atau kalau memang kalian terbiasa tidak pakai getaran, harusnya sih bukan masalah di sini. Nah, untuk harganya smartphone 1 ini dijual di kisaran harga R jutaan. Untuk info lebih lengkap soal penjualannya cek di deskripsi di bawah. Kita langsung masuk dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, haptic feedback-nya tadi belum ada di level yang kita harapkan. Kemudian, performa smartphone ini untuk gaming berat itu udah oke ya. Tapi setting grafisnya masih harus dikondisikan dulu. belum pas untuk kalian ngareap game berat bisa rata kanan dan bisa 60 fps terus-terusan. Kalau udah tahu SOC-nya udah harusnya ekspektasinya jangan berlebihan juga sih ya. Nah, dari si kameranya kemudian ya ada berapa keterbatasan teknis seperti yang tadi sudah dibahas di pengujian. Pastikan saja hal tersebut penting atau tidak untuk kalian. Kemudian sayangnya dia belum dapat screen keterbawaan. Jadi ee kita harus cari sendiri nih. Kemudian belum ada always on display di sini. Lalu, update OS baru janjikan satu kali update Android aja. Semoga next-nya moto mau berbaik hati dikasih ekstra satu kali lagi. Jadi total dua kali update OS. Udah oke tuh sebenarnya ya. Nah, dari si kelebihannya pertama opsi warna yang ditawarkan tuh sangat anti mainstream ya. Lalu performanya udah cukup kencang untuk las harganya. UI-nya bersih dari iklan di sini dan kayak fitur produktivitas. Baterainya uh super super awet di sini. Chargernya juga masih ada dalam bok ya. Sudah punya IP rating di IP69 dan IP68. Layarnya juga udah OLED 120 Hz. Brightness layarnya tergolong tinggi. Punya kamera ultra wide autocus. Lalu semua kameranya bisa ngerekam 4K. Speakernya udah stereo. NFC ada di sini. Inisplay fingerprint juga ada. Konektivitasnya udah yang terkinilah ya. Lalu masih ada slot micro SD pula di sini. Nah, pada akhirnya smartphone ini cocoknya buat siapa sih? Ya pertama untuk kalian yang cari smartphone R jutaan dengan fokus utama di baterai yang awet. Kemampuan baterai seperti ini masih jarang bisa ditemukan di kelas harganya. Selain baterai awet, kelengkapan lainnya membuat dia jadi allrounder. Cocok buat kalian cari smartphone yang serba bisa. Kami tahu ada yang baterai lebih monster, tapi coba perhatikan kelengkapannya. Speaker stereo enggak? Kameranya sebagus ini enggak? Nah, pastikan kalian cek kelengkapannya juga. Jangan cuma dari satu aspek lalu melupakan aspek-aspek yang lain, ya. Nah, untuk kalian mencari pengalaman software Android yang bersih juga cocok nih. Tapi di sini kayak fitur, enggak cuma bersih doang. Ini adalah contoh yang bagus, implementasi yang baik sekali. Kemudian akan cocok juga kalau kalian mencari smartphone untuk penunjang produktivitas. Fitur-fitur software yang ada di sini akan sangat cocok. Jadi enggak melulus soal SOC kencang, tapi pengalaman secara keseluruhan juga perlu dipikirkan dan Motorola memilih untuk menjadikan smartphone ini allrounder. Apakah ini sesuai dengan kebutuhan kalian? Silakan sharing pendapat kalian di dalam kolom komentar. Saya D Irfan JakaTB TV. [Musik]
