Jungkat

BERKAT JADI DRIVER ONLINE, GW TERHINDAR DARI KEMISKINAN! | ADA KESALAHAN FINANSIAL KECIL TAPI FATAL! (YouTube Video)

  • 21/08/2025

Yo guys, welcome to IW I wish I knew it earlier. Series di mana gua sharing pengalaman hidup gua dengan harapan bisa berbagi insight baru buat kalian yang nonton. Nah, di episode pertama ini gua pengen sharing satu kesalahan finansial yang gua perbuat dan gua sadarin itu berkat jadi driver online. Nah, kesalahan finansial ini sebenarnya adalah suatu perbuatan yang simpel tapi efeknya ternyata besar banget gitu. Massive bikin apa ya? Rekening gua tuh enggak bertumbuh karena bocor halus ya. Karena gua menganggap ini adalah suatu perbuatan simpel yang enggak perlu dipikirin banget. Tapi ternyata efeknya masif banget, besar banget. Nah, perbuatan ini atau kesalahan finansial ini adalah makan. Jadi, gue cerita dulu latar belakangnya ya. Gua sebelum terjun jadi driver online, gua itu memiliki sebuah UMKM, usaha di bidang jasa perawatan mobil gitu ya. Nah, di situ gua merintis usaha dari nol. Gua mulai ngerjain mobil sendirian. Gua mulai dari garasi rumah doang. Kemudian gua datang ke rumah orang door to door itu juga ngerjainnya sendirian sampai pada level atau tahap di mana gua itu bisa buka workshop yang proper lah. Jadi pindah dari yang rumahan pindah ke sebuah workshop yang proper. Nah, beranjak dari latar belakang perintis ini, jadi gua menganggap butuh yang namanya self reward, cuy. Dan self reward apa yang paling gampang untuk dilakukan? Ya, itu adalah makan. So, pada saat gua kerja ngerintis usaha sampai pada saat gua bisa buka workshop yang proper juga di situ kan gua masih tetap kerja juga tuh turun tangan sendiri ngerjain mobil. Bedanya gua di tempat yang proper. Jadi, gua keseringan self reward waktu itu. Capek dikit ayo makan enak. Ada goal target dikit ayo makan enak. ada ramai dikit makan enak lagi. Nah, tanpa disadari self reward itu menjadi habit. Karena kan gua udah mulai keseringan nih self reward, self reward. Dikit-dikit self reward, makan enak, makan enak. Akhirnya lama-lama gua menganggap makan enak itu sesuatu hal yang biasa dan itu enggak akan ada efek apa-apa ke keuangan. Jadi, gua menganggap sekali makan menghabiskan 100 sampai Rp200.000 itu adalah hal yang lumrah untuk seorang diri ya. Dan kalian bisa bayangin kalau sekali makan gua habisin 100, kita ambil tengah lah ya. Rp150.000. Sehari tiga kali makan. Berarti gua untuk makan aja gua udah menghabiskan Rp450.000 belum sama jajan dan lain-lain. Anggapannya mungkin sehari bisa R500.000 berarti habisnya. Nah, dari situlah dari kebanyakan self reward, tunggulah habit yang jelek ini yang mana menurut gua masih belum sesuai dengan kondisi ekonomi atau level ekonomi gua pada saat itu. Jadi, level ekonomi gua segini, tapi habit gua udah di sini nih, udah terlalu tinggi. Nah, itulah yang bikin keadaan finansial gua tuh bocor halus. Jadi, seberapa ramainya workshop, seberapa keras gua kerja, setiap kali gua review keuangan, yang gua rasa pasti pertanyaan yang nomor satu muncul di kepala gua adalah ini duit gua pada ke mana? Kok segini-segini aja? Atau bahkan kadang-kadang pada saat gua review lah kok malah minus ya di luar ekspektasi gua gitu. Tapi gua belum ketemu jawabannya pada saat itu tuh. Karena gua masih kalau makan mahal atau makan yang mewah itu adalah sesuatu yang lumrah. Jadi, gua tetap lakuin nih habit makan enak terus. Tapi di kepala gua bertanya-tanya terus, kok uang gua enggak bertumbuh, finansial gua enggak bertumbuh. Ya udah, akhirnya berlangsung terus bertahun-tahun sampai pada titik di mana walaupun finansialnya enggak bertumbuh, untungnya puji Tuhan workshop bisa bertumbuh. Dari gua mulai ngerjain mobil sendiri, gua bisa hire team. Dari situlah mulai pelan-pelan yang tadinya gua ngerjain hard skill sama soft skill, sekarang gua mulai fokus ke soft skill. Hard skill-nya udah tim gue yang handle dari ngerjain soft skill ini. Karena soft skill kan enggak 24 jam ya harus dikerjain. Gua jadi punya banyak waktu luang. Dari situlah gua jadi mulai mencari-cari penghasilan tambahan atau side hassle. Ini ada korelasinya nanti nih kita bahas ya belakangan ya. Sekarang gua mau cerita dulu latar belakang gua menjadi driver online. Ada korelasinya. Jadi karena gua punya banyak waktu luang, gua menganggap daripada gua nganggur-ngangguran di rumah, ya mendingan gua kerja. Apa nih yang bisa gua kerjain? Gua bahkan dulu tuh pernah sampai cari-cari lowongan seperti admin online shop, terus kurir antar paket, pokoknya pekerjaan-pekerjaan entry level yang dikerjain itu pakai tenaga bukan pakai otak. Sampai gue cari gitu. Tapi enggak ada yang cocok. Akhirnya cari cari cari ketemulah pekerjaan driver online ini fleksibel dan bisa disesuaikan sama pekerjaan utama kan. Ya udah itulah latar belakang gua menjadi driver online walaupun sudah punya usaha. Dan selain yang alasan tadi salah satu alasan terkuat gua untuk daftar jadi driver online butuh side hasle juga karena gua merasa uang gua tuh enggak cukup, enggak bertambah gitu. Kok segini-segini aja? Makanya gua butuh side hassle untuk nambah penghasilan. Tuh jadinya dua alasan latar belakang gua kenapa gua terjun jadi driver online. Oke, latar belakang kalian sudah tahu ya kenapa gua jadi driver online walaupun sudah punya usaha. Sekarang gua mau bahas nih kenapa jadi driver online bisa menyadarkan gua dari kesalahan finansial yang sepele tapi efeknya masif. Karena gini, Guys. Semenjak jadi driver online, gua itu perlu narik hampir satu harian full kurang lebih 12 jam untuk dapetin omset kurang lebih 400 sampai R500.000 omset loh ya. Sedangkan habit gua di jadi seorang pengusaha itu masih terbawa di dunia driver online. Ya kan? Sekali makan Rp100.000, Rp150.000. Di sini hasilnya cuman 500 belum potong bensin dan lain-lain. Otomatis lama-lama gua ngitung, gua berpikir lah ini lama-lama mah gua dapetin omset boro-boro buat nambahin penghasilan. Yang ada malah jadi makin minus. Karena kan omset gua potong bensin dulu baru ketahuan. E sori potong bensin potong biaya perawatan mobil baru ketahuan penghasilan bersihnya berapa. Dan setelah gua hitung sama biaya gua makan lah malah minus. Jadinya enggak ada penghasilan tambahannya. Nah, dari situlah akhirnya gua menyadari, "Oh, I see, ternyata selama ini gua too much, pengeluaran gua tuh too much terlalu banyak di makan. Jadi, expense gua di makan itu ternyata harusnya belum sampai di level ini nih. Harusnya gua masih menyesuaikan di level sini, tengah-tengah. Tapi gua udah di sini, sedangkan gua masih di level ini ekonominya." Nah, dari situlah gua nyadar langsung. Oke, inilah jawabannya. Kenapa selama ini gua merasa kok uang gua enggak nambah-nambah, finansial gua enggak bertumbuh gitu. Jadi dari situ gua nyadar gua baru mulai menyesuaikan. Akhirnya yang tadinya gua selalu maunya makan enak, gua nganggap makan itu buat seorang diri ya 100, 200.000 sekali makan tuh hal yang normal, hal yang lumrah gitu. Akhirnya gua mulai adjust dan gua sekarang menganggap buat seorang diri aja makan sampai Rp100.000 aja itu udah mahal banget. Itu berlebihan. Akhirnya gua berisa ngejust, berhasil untuk adjust. Sekarang gua bisa nekan pengeluaran gua atau expense gua untuk makan kurang lebih di 25 sampai Rp35.000 per sekali makan. Otomatis yang tadinya Rp100.000 buat sekali makan, sekarang Rp100.000 bisa buat satu harian. Efeknya ya omset gua jadi driver online gak tergerus sama makan. Kedua penghasilan dari usaha gua juga gak ketarik ke omset atau ke dunia driver online. Nah, dari situlah penghasilan atau finansial gua mulai bertumbuh gitu, Guys. Jadi, selama ini pertanyaan yang ada di otak gua nih, kenapa kok finansial gua ng-stak? Ternyata jawabannya simpel banget, cuy. cuman karena gua expense too much di makan. Jadi gua sekarang berprinsip dari yang tadinya gua punya prinsip hidup itu ya untuk makan. Makan enak gitu. Lu cari duit buat apa kalau bukan buat makan. Sekarang gua rubah makan itu untuk hidup. Ya, kita cari duit buat makan untuk menyambung hidup. Jadi, kita bisa tetap sehat, kita tetap bisa cari duit lagi dan kita bisa tumbuhin finansial kita. Efek positif ya. finansial yang bertumbuh itu kan bisa naikin kelas ekonomi kita. Lu sama gua juga pasti pikirannya sama. Enggak mau dong kita hidup ngestak di middle class ekonomi terus. Pasti kan ada keinginan untuk naik ke upper class. Yang tadinya lu bawa LCGC pasti kan ada kepikiran gitu ya, keinginan e dari LCGC ganti nih ke SUV. Dari SUV ganti nih ke sport car kan pasti pernah dong. Nah, dari situlah gua mulai benahin kebiasaan gua di konsumsi makan gua efisiensi. Jadi, keuangan gua mulai membaik, finansial gua mulai bertumbuh dan ya seperti itulah yang bisa gua sharing ke kalian ya, insight baru. Jadi intinya hal sesimpel itu, hal sekecil itu efeknya tuh besar banget cuy. Jangan kalian anggap makan itu 100, R00.000 tuh normal lah segala macam. Ternyata itu efeknya besar banget. Lebih baik kalian alokasiin budget makan untuk sesuatu yang lebih bisa mendukung finansial, pertumbuhan finansial ya. Karena kan sayang gitu kalau makan kan kita habisin sehari Rp500.000 ujung-ujungnya jadi pup. Sedangkan kan kalau kalian alokasiin sehari budgeting makan Rp100.000 maksimal atau Rp150. E sisanya Rp350.000-nya Ibunya kalian mungkin bisa tabung, kalian bisa pelan-pelan buat modal usaha yang lain. Nanti lama-lama modal usaha itu berkembang, kalian bisa mungkin taruh di reksa dana, di saham, di ya mungkin jadi investor, deposito, dan lain-lain lah. Pokoknya intinya budgetnya bisa kalian kembangin daripada habis di makan doang, gitu ya. Jadi intinya jangan sampai terlalu banyak pengeluaran di hal-hal kecil yang kalian anggap sepele tapi kalian enggak sadari itu bikin finansial bocor halus. Setelah gua sharing insight tadi, gua juga pengen sharing tips. Sekarang tuh cara gua efisiensi makan yang nomor satu gua tuh beli lauk di luar kemudian gua masak nasi di rumah, bungkus lauk di warung nasi atau di nasi Padang gitu ya, lauknya doang gua bungkus terus gua makan di rumah. Karena nasi kan kalau dibeli di luar pasti jatuhnya jauh lebih mahal. Contohnya nasi rendang, beli nasi Padang aja bisa habis Rp25.000, Rp30.000. Kalau kalian bungkus rendangnya doang itu paling Rp15.000 plus sama masak nasi di rumah paling kasarnya jadi Rp18.000 lah kurang lebih gitu. Jadi tips dari gua yang nomor satu kayak gitu ya. Terus yang kedua cemil-cemil di luar juga. Cemilan-cemilan inilah yang kecil-kecil tapi efeknya masif banget. Contohnya adalah kopi. Gua ini paling suka yang namanya ngopi. Dulu tuh gua selalu beli kopi di luar Rp20.000, Rp25.000. Gua pikir kan alah kopi cuma Rp20.000 enggak mungkin bikin miskin lah. Orang kan bilang gitu kan. Tapi ternyata itu ternyata kalau diakumulasiin sakit juga pengeluarannya. Jadi ya sekarang gua gua senduk kopi di rumah sebelum gua kerja, sebelum gua beraktivitas ya pagi-pagi bangun tidur gua seduh kopi di rumah ya udah minum di rumah. Paling satu dua kali beli kopi di luar aja. Sisanya pasti gua nyeduh di rumah. Dan itu efeknya menurut gua cukup masif di kalangan middle class ekonomi kayak gua ya. Tapi bukan berarti gua nih bikin video ini membuat kalian berpikir kalau makan mewah itu salah. Beli kopi di luar itu salah enggak ya? Bukan gitu juga. Makan di luar ya tetap boleh. Gua juga tetap akan ada makan di luar juga. Ngopi di luar pun tetap ada juga, tapi intensitasnya yang gua kurangin. Gua sesuaikan dengan rasio penghasilan gua pada saat ini. Dengan harapan ya dengan gua efisiensi pengeluaran ini ya gua bisa naikin kelas ekonomi nanti ke depannya ya gua jadi bisa makan enak lebih sering lagi gitu guys. Jadi setelah cerita panjang kali lebar kesimpulannya guys dari gua ya insight baru dari gua. Gua belajar jangan menyepelekan pengeluaran yang kecil-kecil. Jangan menyepelekan nominal kecil di hidup kita kalau kita masih di kelas mungkin middle to low class ekonomi. Ya, mungkin kalau di upper class atau kalian mungkin seorang pewaris mungkin akan beda cerita. Tapi kalau seorang perintis dan kita dari nol benar-benar dari bawah dan kita masih di kalangan middle to low class ekonomi, jangan remehkan nominal kecil. pengeluaran nominal kecil. Karena yang diajarkan di sekolah itu benar adanya. Kan kita diajarin peribahasa sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit. Dan itu benar banget terjadi. Kalau kalian ngeremehin pengeluaran kecil-kecil, lama-lama jadi bukit masif. Kesimpulan kedua, kita ini menekan pengeluaran bukan karena pelit ya. Bedain ya, Guys. Bukan karena pelit, tapi melainkan kita melakukan efisiensi pengeluaran. Kita alokasiin pengeluaran kita untuk pertumbuhan finansial. untuk sesuatu yang lebih baik lagi gitu. Jadi bedain ya pelit sama efisiensi. Karena kan kita hidup ini maunya pasti terus bertumbuh, berkembang dari low class ekonomy naik ke middle class otomatis naik ke upper class gitu kan. Dari upper class naik mungkin ke sembilan naga ya kan enggak ada yang tahu. Pasti kita terus mau bertumbuh punya gol yang bagus lagi gitu. Dan kesimpulan ketiga gua gua enggak bilang bukan berarti makan enak itu salah. Ngopi tiap hari itu salah. Enggak. Hanya aja perlu penyesuaian dengan rasio penghasilan kalian. Itu yang perlu diperhatikan. Ya, mungkin kalau rasio penghasilan kalian mendukung untuk kalian sekali makan Rp100.000 ngopi tiap hari, menurut gua it's ok. Tapi kalian harus apa ya, cerdas-cerdas atau pintar-pintar cari rasionya nih kalian di mana, terus berapa pantasnya pengeluaran hariannya gitu, Guys. Oke, jadi ya semoga sharing dari gua ini bisa membantu kalian membuka wawasan baru, ya kan menjadi insight baru. Dan kalau kalian punya sharing yang lain juga POV lain, silakan langsung tulis aja di kolom komentar. Dan kalau kalian suka sama series kayak gini, gua berbagi pengalaman atau kalian pengin gua bahas topik-topik lain, coba tulis juga di kolom komentar aja ya. Nanti gua akan coba buatin video-video kayak gini lagi. Oke, guys. Kalau gitu sampai di sini dulu episode pertama iway. Thank you for watching. See you in the next video.

Lihat di YouTube