Bikin 'Steam Machine' Sendiri: Lebih Murah, Lebih Kentjanggg! 🔥 (YouTube Video)
tanpa digoreng ya harganya ya gak digoreng crispy tapi secara performance ini pasti lebih kencang. Yo, what's up guys and welcome back to B YouTube channel sama gua Malvin dan yes, di video kali ini gua pengen share ke kalian build sebuah konsol PC yang mana gua itu terinspirasi dari Steam Machine. Nah, buat teman-teman yang udah follow basing.te lama mungkin tahu ya betapa gua tuh suka banget sama Steam Deck dari awal rilis karena Steam OS-nya ya yang gampang banget dipakai, pilihan games-nya juga banyak dan harga games-nya itu biasanya memang lebih murah dibandingin sama platform gaming lainnya. Plus yang paling penting juga buat gua enggak perlu bayar buat main secara online, enggak perlu subscription lagi. Nah, Valve ngerilis Steam Machine yang adalah versi konsol dari Steam Deck bisa dibilang ya lebih powerful walau ya tetap ada sedikit dejafunya yaitu Dejafu dalam arti availability-nya terbatas banget karena cuma yang di-invite aja yang bisa beli dan harganya juga tergolong tinggi buat specs yang dikasih ya. Terus di Indonesia juga digoreng pula kan karena enggak dijual resmi di saat-saat ya semua harga hardware lagi naik. So, gua pikir ya not kita bikin sendiri aja. Yes. Jadi ini dia Steam Machine ala Best Indotech ya, yang mana kalian bisa rakit sendiri dan kebetulan gua juga udah punya nih si Steam controllernya. Jadi ya ini udah berasa kayak punya steam machine banget gitu. Nah, untuk build kali ini sebenarnya parts-nya itu masih banyak tersedia di pasaran dengan harga yang maksud gua masih masuk akal ya. masuk akal dalam arti masih lebih murah dari konsol-konsol misalnya kayak PS5 Pro dan secara benchmark juga kalau gua cek secara online ya angka-angkanya tuh lebih tinggi dengan spec ini dibanding PS5 Pro ataupun dibandingin Steam Machine bahkan dan secara total harga ya masih murah dibandingin harga retailnya Steam Machine. Lengkapnya nanti kita bahas lengkap di akhir harganya ya karena sekarang kita bahas dulu kunci utama dari build kali ini yaitu si Steam OS-nya. Nah, Steam OS adalah OS berbasis Linux yang buat sebagian orang mungkin asing ya atau ngeri nih karena takut ribet lah. Padahal sebaliknya ini instalnya sekarang simpel banget dan dengan instal Steam OS di PC kalian itu bisa bikin PC kalian jadi rasa konsol. Tapi sebenarnya kalau pengen dipakai buat kerja ini juga masih bisa ya. Jadi PC desktop kalau kalian perlukan. Gua sendiri jujurnya pakai buat gaming aja ya si PC ini ya. Dan kalau buat kerja biasa gua pakai Mac gitu. Jadi, ya balik lagi ke kebutuhan masing-masing. Nah, ini gua coba share ke kalian dulu step by step untuk instal siam-nya. Nah, Valve itu udah buka akses buat si Steam OS beberapa bulan kemarin ya, yang mana kalian bisa download langsung di web-nya Valve. Ukurannya sekitar 3 GB lebih yang mana kemudian kita itu tinggal bikin bootable USB buat pakai aplikasi kayak misalnya Fentoy atau Rufus atau ada juga Balenacher. Kalau berbagai platform kalian bisa cek sesuai dengan kebutuhan kalian. Yang sering Inul mungkin tahu caranya. Yes. Sebelumnya kalau kalian ingat emang ada beberapa distro Linux yang pernah kita bahas di mana dia bisa nge-replicate si Steam OS ya. Ada Bezite, terus yang terakhir ada catch OS. Gua belum pernah coba sih catch ya, tapi Bezite gua udah pernah coba di beberapa device dan ya itu kita pernah kontenin beberapa fitur memang ada lebih menarik di Bezite ya, lebih advance gitu ya. Tapi kali ini kita pakai Steam OS aja karena ini yang paling simpel dan persyaratannya cuma satu sebenarnya yaitu pakai AMD GPU. [musik] Intel juga katanya baru-baru ini bisa, cuma gua gak punya GPU Intel. Sayang, Nvidia itu masih gak bisa sama sekali. Jadi, step by stepnya tinggal boot aja ke BIOS dari PC kalian, ya. Masukin USB bootable yang tadi ada Steam OS-nya. Dan kita langsung masuk nih ke interface Steam OS desktop-nya. Nah, ini sebenarnya belum install, ya. Jadi, kita harus klik nih ya yang install Steam OS. [musik] Jadi, tungguin aja sampai beres, enggak terlalu lama. Dan setelah beres, udah deh langsung masuk ke gaming mode-nya Steam nih. Ala-ala si Steam machine-nya yang mana kita tinggal setting-setting aja Wii atau bisa pakai kabelan untuk download si Steam file-nya ya. butuh internet yang lumayan kencang lah untuk yang satu ini. Lanjut, kita tinggal login aja Steam-nya bisa pakai QR code biar cepat dan beres. Langsung masuk ke gaming mode UI-nya si Steam OS yang kalian familiar kalau kalian pakai Windows atau ya kalau di Windows ini namanya big picture mode ya lah. Terus apa bedanya dong sama big picture mode-nya Steam yang ada di Windows? Ya beda kalau itu kan aplikasi. Kalau ini the whole UI, the whole OS. Dan yang paling menarik menurut gua ya ini kalian bisa pakai slip wake cepat banget ala-ala konsol ya. enggak kayak di Windows PC gitu, kadang-kadang lama, kadang-kadang blue screen, kadang-kadang crash gitu. Dan kalau di Steos yang menarik adalah TV kita juga bisa ikutan nyala lewat fitur HDMI, CC ala-ala konsol, ala-ala PS gitu ya, pakai satu adapter yang nanti gua akan share juga di bagian aksesoris dan ya enggak ada blue screen, blue screen dan gitulah intinya di Steam OS ini ya. Masih banyak lagi sih benefitnya kayak resource-nya ringan ya. Jadi PC yang spex basic pun ini juga bisa nyobain. Terus juga minim bloodware, jadi enggak perlu inul-inulan lagi, ya. Dan ada shader catching. Jadi enggak berhatin sistem, ya karena dia udah di-render duluan shadernya dan disimpan gitu. Jadi lebih ringan bisa dibilang dan customisasinya juga simpel. Terus banyak pilihan kayak di Deckyader itu eh pakai Steam Deck pasti udah pada ngertilah. Oke, jadi dari tadi kita belum ngomongin hardware dari PC build ini. Karena sejujurnya ini gua tuh beli second ya waktu itu ya dan dapat harga yang menurut gua oke banget. Jadi sejujurnya gua itu tertarik banget sama desain memang waktu dia jual eh di gua ketemu dia di Grandit ya. Judulnya adalah Steam Machine dari Timu. Timu itu waktu itu yang kayak bikin jual-jualan barang KW gitu ya di US ya. Jadi lumayan kayak meme banget gitu kan. ini ya lucu sih secara bentuknya kayak kotak banget udah kayak ST machine dan waktu gua cek specs-nya motherboard-nya juga menarik karena ini udah gua incer lumayan lama buat build ITX dan kesampean juga plus isinya juga hampir lengkap ya tinggal tambahin GPU sama SSD aja karena dua-duanya disimpan sama pemilik sebelumnya kita mulai dari case-nya ini Silverstone Sugo SG13 Case ITX yang udah cukup jadul ya rilisnya tahun 2015 jadi udah 1 dekade lebih dan harganya juga tergolong terjangkau sekitar Rp650.000-an ribuan. Bentuknya kotak-kotak ini ala-ala steam machine gitu ya, tapi memang lebih lebar dan lebih panjang. Volumenya sekitar 11,6 L. Cuma memang ini dicustom sedikit ya oleh owner sebelumnya ya, kayak di bagian depan sama bagian belakang. Makanya agak beda yang nanti gua akan coba share ke kalian. Jadi ini dia untuk bagian internalnya yang mana kalau kita lihat di sini ya, yang paling menarik pertama menurut gua yang bisa dibilang kunci biar bikin build ini lebih murah dibandingin si Steam Machine adalah motherboard-nya. Yes, motherboard-nya ini adalah sepaket sama prosesornya. Walau prosesor yang dipakai adalah prosesor laptop alias mobile atau terminologinya tuh adalah mobile on desktop MOBO alias MODT. Ini brandnya dari Topsi C B760 ITX dengan chip i9 12900H 14 score 20 trad. Speed-nya up to 5 GHz. Tapi harganya nih kalau kalian cek ya sekitar 2,9 jutaan aja. Nah, buat perbandingan motherboard ITX dengan prosesor yang setara ya, kalau yang prosesor desktop itu kalau dibeli terpisah harganya at least bisa R jutaan belum lagi RAM ya yang mana sekarang semuanya tinggi. Dan di sini memang motherboard ini pakai DDR4 dan ini udah dapat 32 GB yang 2666 MHz. Sebenarnya sih 16 GB menurut gua udah cukup, udah aman tapi ya kalau bisa dua keping ya biar dual channel. Nah 32 GB ini pasaran sekarang harganya mungkin sekitar Rp3 jutaan. Sisanya bisa pakai cooler e ini pakai thermal ride Phantom Spirit ya. Good tower dual fan. Kipasnya dia pakai Arctic P12 Pro yang mana kalau gua baca-baca performance-nya itu mirip sama Noctua. Tapi harganya terjangkau Rp80.000-an doang kipasnya. Jadi kipasnya di-upgrade semua sama owner sebelumnya. Dan terakhir PSU-nya power supply dia ganti pakai ee ini namanya Inwin eh 700 watt ya gold dan mounting-nya dia ganti nih. Sebelumnya mounting-nya kayaknya posisinya bukan ini aslinya tapi dia ganti dan dia bikin yang kabel pendek juga. Jadi setup-nya jadi lebih simpel dan ya akhirnya muat nih semua karena aslinya si case ini tuh enggak bisa pakai cooler tower kayak gini. Cuma menurut gua ini agak berlebihan juga sih. Towernya gede banget sebenarnya buat mendinginkan si chipnya ini mudah gitu. Jadi enggak terlalu berisik. Sisanya tinggal GPU aja yang mana kalau kita lihat di bagian samping, yes, ini GPU dari AMD ya, biar build ini bisa works. Dan sedihnya kemarin harga GPU lumayan naik ya, tapi untungnya gua beli pas sebelum naik ada info A1. Akhirnya dengan budget yang ada gua pilih ini Power Color 9060 XT yang mana secara spes itu lebih kencang dibandingin sama GPU steam machine bahkan dibandingin sama PS5 Pro secara teraflops-nya ya. Setel itu juga V RAM-nya gede 16 GB. Jadi aman buat game resolusi tinggi 4K ya. Since ini juga bakal dicolokin di TV yang sekarang rata-rata kan resolusi TV semua 4K dan GPU juga ini pilihannya menarik karena salah satu e yang paling kecil nih di antara 9060 XT yang lain. Mungkin nanti gua pengen coba print 3D print case ala-ala Steam machine-nya karena ada yang bikin nih ukuran pas untuk GPU yang power color ini 200 e mm ya biar bisa kotak benar bentuknya. Cuma itu mungkin ke depan nanti. So, guys, yes, itu dia build kita yang mana total-total sebenarnya kalau gua beli sih ini tuh di angka [musik] enggak nyampai Rp15 juta. Tapi kalau gua hitung harga baru itu sekitar Rp6,5 jutaan. Tapi memang tanpa SSD. Nah, gua sendiri pakai SSD yang existing yang gua punya sebelumnya karena kebetulan enggak dipakai juga. Cuma memang kalau pengin cari yang sama dengan Steam Machine 512 GB di pasaran gua lihat tuh sekitar 1 sampai R,5 juta. Yang mana kalau dihitung tadi total-total kondisinya kalau harga baru itu sekitar Rp1 juta. Sama dengan harga retailnya si Steam Machine tanpa digoreng ya harganya ya enggak digoreng crispy. Tapi secara performance ini pasti lebih kencang. Makanya next kita cek ke bagian benchmark-nya. Oke, pertama kita tes game Cyberpunk ya, 207 resolusi 2K 1440p settingan FSR performance dengan high itu FPS kita dapat di average-nya 115 dan untuk in game sendiri kita coba tes di 70-an sampai 80-an FPS lah dan cukup stabil sih overall gitu dan dengan grafis yang bagus banget menurut gua. Lanjut Forza Horizon 6 sama ya 1440p FSR performance dengan settingan ultra itu bisa dapat average di 64 FPS ya. Dan ketika main game juga ini masih di 65-an gitu. Jadi stabil gitu overall performance-nya. Lanjut di Wukong ya. 2K cinematic bisa dibilang settingan tertinggi dengan FSR3 itu bisa di 65 FPS. Nah, sebagai pembanding ini gua taruh ya hasil benchmark yang gua temuin di YouTube eh dari Steam Machine. Jadi, kalian bisa lihat perbandingan performance dari [musik] build kita versus siam machine yang mana ya pasti si 9060 XT memang GPU-nya lebih kencang dibandingin sama GPU dari Steam machine-nya Valve. Oke, jadi itu guys untuk hasil benchmark-nya ya. overall lebih kencang dari Steam Machine ya kalau kita cek referensinya. Dan overall sih gua puas banget ya sama kapabilitas dari build ini walau memang ya switch spot-nya tadi tetap resolusinya 2K untuk game-game yang triple A yang berat. Dan memang karena dicolokin ke TV dan mainnya di sofa gitu ya agak jauh gitu duduknya kan. Resolusi 2K itu enggak terlalu beda lah dibanding sama resolusi 4K. Dan karena mainnya di TV juga ada satu fitur tadi yang gua bilang ya, yaitu HDMI CC di mana kalau kita ngidupin si konsolnya pakai controllernya. Nah, di sini juga udah ada itu bisa nyala langsung TV-nya. Tapi problemnya memang itu gak bisa langsung karena di diskrit GPU ya, GPU yang kayak 9060 XD atau NVD atau segala macam fitur CE itu adanya di display port. Jadi akhirnya kita harus beli adapter gitu ya, HDMI 2DP yang mana gua sempat cobain, Guys, berbagai jenis. Gua beli dari Rp200.000, beli Rp350.000 sampai yang Rp500.000-an. Jadi, please kasih jempol [tertawa] mehong gitu ya eksperimennya ya. Dan yang gua coba ternyata bisa walaupun ada tanda kutip, ada tanda petiknya yaitu ini nih yang paling murah Hagibis yang harganya sekitar Rp200.000-an. Ada sedikit masalah memang dari si adapter ini. HDMI isin-nya works, tapi di TV gua yang Sony itu kalau kita nyalain di mode 4K 120 Hz itu sering nge-glitch. Mungkin problem bandwid, ya. Jadi akhirnya gua turunin ke 4K60 aja dan bisa dibilang lebih stabil. Masih ada glitch tapi tipis-tipis lah. Jarang banget gitu. Dan ya tadi enak kita tinggal duduk sofa, hidupin controller PC nyala, TV nyala, langsung masuk ke inputan si PC-nya gitu. Benar-benar wah cevis banget gitu. Kayak ko experience banget. Yang satu ini link di bawah. [musik] So, yes, overall gua happy banget ya sama build kali ini ya. PC ini tuh Steam OS-nya benar-benar membantu dengan fitur quick resume-nya tadi ya. Maksimalin waktu bapak-bapak yang sangat terbatas buat main game. Bentuknya juga cukup kompact bisa dibilang masih bisa ditaruh di living room kayak gitu ya. Dan kipasnya juga enggak berisik gitu kan. Enggak kayak [musik] ya PC gaming pada umumnya. Experience-nya yang console light itu juga simpel, memudahkan banget. Sampai-sampai udah sebulanan gua itu enggak pakai lagi PC gua yang Windows yang pakai RTX 4090. Ya, itu sih mungkin itu akan diutilize jadi PC buat editor aja di kantor gitu kan karena ya mungkin lebih diperlukan di sektor itu gitu. Dan ini yang gua akan coba utak-atik lagi gitu ya. Dan next seperti yang gua mention gua pengen coba custom-custom dikit. Misalnya face plate-nya ini atau depannya ini udah ada yang bikin 3D print biar mirip steam machine jadi ketutup. Terus bawahnya ada kayak USB port, ada micro SD sama ada power gitu. Bahkan kita bisa juga tadi 3D print case-nya keseluruhan gitu, biar ala-ala steam machine tapi versi yang lebih gedean dikit biar muat sama GPU-nya. Dan katanya sekarang udah ada GPU 9060 XT [musik] yang low profile bahkan lebih kecil dari Steam Machine. Ya, balik lagi sih sebenarnya keseluruhan project ini yang menurut gua menarik adalah si Steam OS-nya karena tadi udah simpel banget ya dan enggak ribet. Yang mana gua rasa kalian bisa lakuin dengan PC-PC kalian. Mungkin PC-PC yang gaming yang udah bosan dengan Windows ya. Kalian bisa bikin ala-ala konsol. Jadi enggak usah beli konsol beneran yang mana ya lagi [musik] heboh kan akhir-akhir ini gitu dengan game digitalnya dengan harga yang naik dengan online mesti bayar dan sebagai macamnya tapi ya gua balikin ke kalian juga gitu. So, ya itu dulu sih. Semoga video ini bermanfaat dan let me know kalau ada yang pengen kalian tanyain lagi bisa langsung dikomen aja. Kita ngobrol bareng di kolom komen section di bawah. Dan nanti list part-nya gua taruh juga di kolom deskripsi. Tinggal diklik aja linknya mungkin bisa langsung menuju ke TKP. Dan sejujurnya sih sebenarnya gua masih penasaran banget sama Steam Machine ya, karena bentuknya yang kecil imut-imut gitu kan. Kalau kalian menurut kalian gimana? Apakah masih pengin kita bahas detail? Kalau iya bolehlah kasih jempol di video kali ini. Jangan lupa juga subscribe ke Bas Indotch. Dan itu aja kita ketemu lagi di video selanjutnya. Thank you guys. Ciao. Bye byye. Semoga bermanfaat.
