Jungkat

Body Minimalis, Tenaga Ambis! Acer Swift Air 14 AI (YouTube Video)

  • 19/06/2026

Menurut kalian, hal apa yang paling berat sekarang? Rupiah yang anjlok atau laptop kalian yang beratnya kebangetan? Sampai kalau kalian gendong laptopnya, postur kalian itu jadi kayak manusia purba. Nunduk. Urusan rupiah biar gubernur BI aja lah yang keteteran. Tapi kalau laptop harus cari yang paling ringan. Kayak laptop Swift R14 AI yang bobotnya enggak sampai sekiloan apalagi bodinya tipis. Ya udah daripada ke Paris berduaan. Selamat menonton Mas-mas Ajudan. Aduh kacau. [musik] Hai Andika guys di sini siapa nih yang umurnya masih belia tapi punggungnya udah sakit-sakitan alias pemuda jompo. Biasanya karena kurang olahraga tapi juga terlalu membawa beban yang berat. Contohnya kayak tumblr, buku, knalpot Supra, ya. Siapa tahu kalian mau COD sama pembeli. Solusinya sih ya kalian bisa makan makanan sehat, terus juga olahraga biar punggungnya itu kayak porternya Gunung Rinjani. Tapi kalau itu enggak bisa, kalian bisa cari laptop yang bisa ngurangin beban kalian. Kayak contohnya Exer Swift R14 AI ini yang laptopnya kencang, bodinya tipis, tapi biasanya yang tipis-tipis gini banyak banget komprominya. Apa aja itu? Yuk, kita bahas. Harusnya kalau kalian sering nenteng laptop besar terus kalian ganti laptop yang ini, saya yakin punggung kalian itu bakalan berterima kasih banyak sama kalian. Karena bobot dari Exorus Swift R14 ini enggak sampai 1 kilo, apalagi ketebalannya yang cuman 1,55 cm bikin laptop ini enggak makan tempat di tas kalian. Dan walaupun bodinya kurus tapi dia udah pakai bahan material premium yaitu magnesium alloy. Jadi harusnya laptop ini gak gampang patah walaupun kurus. Dan karena bahannya itu tadi, bobot dari laptop ini bisa dipangkas jadi lebih ringan. Dan soal Excel walaupun dia laptop tipis tapi lihat aja nih dia udah bisa dibuka dengan satu tangan plus bisa dibuka sampai 180° L buat presentasi. Keyboard-nya juga udah cakep dengan backlit yang punya dua tingkat kecerahan. Untuk ukuran ts-nya kompact dengan F row yang berukuran minimalis dan berjejer dengan tombol power-nya. Permukaan tsmest-nya enggak gampang bikin sidik jari nempel. Jadi enggak perlu dikit-dikit ngelap. Untuk trapad-nya entah unit saya aja atau emang kayak gini. Karena menurut saya ini kayak bukan trackpad-nya Acer deh. Ini kayak feel-nya itu terlalu clik-nya kayak doble gitu. Jadi komplain saya di sini sih. Tapi semoga cuman unit yang kita review aja ya. Atau mungkin yang kalian punya Exerus F R14 coba komen deh. Touchpad-nya apa emang kayak gini ya? kayak feel-nya tuh doble agak aneh gitu. Cuman sayangnya nih karena dia laptop tipis walaupun dia enggak sepelit MacBook ya tapi portnya ada yang terpangkas. Kayak di sebelah kiri ada dua USB type C full function dengan satu HDMI dan juga USB type A. Terus di seberangnya ada satu lagi USB type A dengan combo jack audio dan slot micro SD. Untuk ukuran laptop tipis sih lengkap ya. Sayangnya yang absen itu input RJ45 atau lat. Lanjut ke layar. Layarnya ini juga enggak ada kompromi ya. Panelnya ini pakai panel OLED dengan dimensi 14 inch. Resolusinya juga udah full HD plus atau Wuxga dengan golden aspect rasio di 16 b. Buat para pemuda jompo yang seharian kerjain ngelihatin baris coding, ngetik dokumen panjang, atau mantau split sheet data sampai pusing, Golden Rasio 16 bing 10 ini ngebantu banget karena area vertikalnya lebih luas dibanding layar 16 bing 9 biasa. konten kelihatan jadi lebih banyak. Jadi kalian gak perlu dikit-dikit scrolling. Sayangnya untuk refresh rate-nya masih di 60 Hz. Tapi untungnya untuk gamut coverage-nya pas kita tes untuk sRGB udah di 100%. Adob RGB-nya juga gede 90,3%. P3-nya 113,4% dan brightness tipikalnya dapatnya di 296 nitz. Masih ok lah ya untuk ukuran OLED. Harusnya sih kalau bisa 400 nits lebih bagus. Lanjut untuk spesifikasinya. Karena layarnya aja udah OLED, jadi untuk prosesornya ya jelas dikasih yang oke juga ya. Dia pakai prosesor Intel Core Ultra 7 115H. Prosesor generasi ultra pertama dari Intel yang memang ditujukan sebagai prosesor efisien tapi juga andal karena sudah dibekali NPU. Soal kestabilan prosesor, pas kita tes 10 kali run di sin BCH R23 di pengujian sambil dicas, laptopnya punya kestabilan yang oke dengan rata-rata di 11.000-an. Sedangkan kalau kita pakai mode skenario tanpa dicas ya, dia turun sih turunnya itu di kisaran 7.000 sampai 8.000-an di multiore. Tapi kalau untuk single core masih mirip-mirip aja. Rata-rata untuk suhu pas kita pakai mode dicas, dia juga spike spek-nya di 80 derajat celcius. Kalau enggak pakai tas, spike spek-nya cuma di 70 derajat celcius aja. Tapi kalau kita lihat TDP-nya pas dicas memang dia spek di 30 watt. Enggak dicas itu speknya di kisaran 20 watt. Laptop ini gak pakai discrete GPU ya, tapi pakai Intel arc bawaannya IGP dari Core Ultra 7-nya. Tapi yang menarik pas kita tes untuk stability-nya itu lolos di 99,1% dan skornya untuk time spy, firestrike dan juga solar B untuk grafic card yang IGP aja ini udah lumayan banget. Untuk RAM kita dapatnya langsung 16 GB dual channel gak dikasih 8 GB kayak kebanyakan laptop yang nyirit harga sekarang biar terjangkau. Nah, SSD-nya kita juga dikasih SSD NVM 1/2 TB yang speed-nya pas kita tes di 4400 Mbps W-nya di 3.000-an Mbps. Walaupun dia enggak ada discrete grafik card-nya ya dan memang bukan laptop gaming, tapi Intel Arc ini memang lumayan powerful sih. Karena pas kita tes di laptop Swift R14 ini, kita coba untuk ngedit dan juga rendering. Contohnya kayak Adobe Premiere Pro dengan template yang memang bisa kita pakai Xport 4K di 4 menit 44 detik. Kalau full HD di 3 menit 10 detik dan kalau untuk CPU rendernya cuma 3 menit 40 detik. GPU-nya mirip-mirip sama GPU-nya tadi ya, 3 menit 43 detik. Nah, kalau kita lihat suhunya di Premiier Pro 4K, dia rata-ratanya di 84 derajat celcius dengan TDP juga sekitar 30 watt. Nah, yang lumayan sih di Blender CPU rendernya itu di 85 derajat celcius ke atas, tapi TDP-nya diimbangi dengan 30 [musik] watt stabil terus. Untuk main game, kalau game-nya itu CPU bon banget yang butuh prosesor banget kayak contohnya Valoran. Dia aman-aman aja dengan resolusi full HD grafiknya low CPS bisa dapat di 216. Dota 2 F CPS dapat di 134. Cyberpunk super lesly masih playable walaupun agak maksa ya dengan FPS 31 dengan settingannya low dan juga super resolusinya di performance. Drop-dropnya itu cuma di sekitaran 27 FPS untuk Cyberpunk. Jadi kalau kalian tipikal yang mainnya itu enggak ngejar FPS banget sih masih okelah. Untuk suhunya rata-rata sama kayak di Premiier Pro tadi. Jadi suhunya itu 80-an derajat Celcius dengan TDP di kisaran 30 watt juga. Dan setelah kita estafet untuk full tadi, Cine Bandch Premiere juga game, langsung kita tes suhunya. Nah, yang ini sebenarnya tesnya itu benar-benar estafet ya. Jadi, untuk suhu tertingginya ketika kita fir itu di 43,3 derajat Celcius. WASD-nya itu di 41,3 derajat Celcius. Anget dikitlah karena standar anget kita itu di 42 derajat Celcius untuk keyboard. Tapi ini masih aman di bawahnya sedikit. Dan sayangnya yang agak saya khawatirin sih exhaus-nya itu dia ditembakin ke layar ya. Dan OLED itu kan musuhnya panas ya. Karena cepat burn in kalau musuhnya panas. Tapi untungnya Acer punya software untuk menangani si OLED-nya ini biar enggak gampang burn in. Nama software-nya itu Acer Sense. Jadi mirip sama kayak Nitro Sense, terus juga Predator Sense. Nah, ini Acer Sense karena dia masuk ke line up-nya Swift. Jadi, fitur ini bakal otomatis pixel shifting lah. Jadi, kalau kalian punya layar OLED biasanya kan dia kayak ng-refresh-ngrefresh gambarnya karena musuh OLED itu adalah gambar statis. Jadi, enggak boleh ada gambar statis yang terlalu lama karena layar atau LED di dalamnya itu kan nyala terus. Nah, kalau nyala terus dia bisa resiko burn in. Enggak cuma itu aja, masih banyak fitur lain yang ada di Exer Sense ini kayak device check up buat cek kondisi hardware, terus ada power mode option juga dan masih banyak lagi. Cuman sayangnya menurut saya mungkin dari sisi software ini SER bisa berbenah ya karena di situ ada software untuk software update. Cuman pas kita klik itu bakal dibawa ke website-nya Acer. Kalau di laptop-laptop lain kan dia bakal langsung auto download gitu. Nah, kalau masuk ke website-nya kita harus pilihin satu-satu mana yang harus kita download. Agak ribet. Soal baterai, biasanya laptop tipis itu kan mengedepankan mobilitas ya. Jadi selain harus enteng, baterainya pun juga harus awet. Tapi secara kapasitas, Aser Swift 14 REI ini baterainya cuman 50 wat hour. Jadi apakah dia tahan lama? Jawabannya sih tahan ya. Pas kita tes di PC Mark 10 dia bisa bertahan di 11 jam 49 menit. Orang normal harusnya kerja cuma 8 jam. Jadi ini hampir 12 jam udah lebih dari cukuplah. Apalagi yang saya suka casannya itu udah modern ya. Dia udah pakai adapter USB type C yang kita tinggal bawa satu cas aja. Bisa untuk ngecas device yang lainnya juga. Untuk webcam-nya standar aja ya di 1080p 30 fps. Tapi karena udah ada NPU-nya jadi ada Windows Studio Effect yang background blur-nya bisa kayak gini. Kita bisa ubah-ubah standar blur atau enggak pakai blur. Bisa, tapi saran saya sih pakai blur aja. Cuman kalau untuk skin tone entah kenapa skin tone saya jadi merah orange gitu ya. Jadi kalau misalkan cuman untuk jadi peserta online sih oke, tapi kalau kalian adalah pengajar di Zoom, saransi pakai webcam eksternal aja. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja video review dari Acer Swift R14 AI yang kesimpulannya sesuai dengan namanya Swift R atau R itu air bukan ya R itu bahasa Inggrisnya udara yang artinya memang dia ringan banget ya di bawah 1 kg kombinasi sasis magnesium aluminium alloy dan juga layar olet yang manjain mata plus daya tahan baterai rel yang terbukti badak tembus hampir 12 jam ini menjadikan dia paket komplit untuk laptop tipis ringan yang enggak enggak perlu cari colokan. Seperti biasa, Acer juga ada ADP atau accidental damage protection. Tapi kalian juga harus benar-benar paham ya kalau ini bukan laptop gaming. Jadi soal performance sih kalau kalian bandingin dengan Nitro ataupun Predator ya beda L ya. Ini laptop yang mengedepankan mobilitas. Walaupun dia udah pakai Intel Core Ultra 7 tapi seperti yang kalian lihat tadi TDP-nya itu di 30 watt. Enggak bisa kayak laptop gaming yang sampai 60 watt. Jadi performanya ya enggak bisa kalian bandingin dengan laptop gaming. Kekurangannya paling trackpad-nya ya. trackpad-nya saya rasa kayak terlalu dobble gitu feel-nya jadi kurang nyaman. Plus webcam-nya, webcam-nya ini standar. Harusnya kalau misalkan Acer mau ngasih 1080p 60 fps menurut saya akan lebih baik lagi sih. Untuk harganya jujur pas video ini dibuat saya belum tahu ya kalau harga resminya dari Acer. Tapi kalau saya lihat di beberapa e-commercy antara 14 sampai 16 jutaan tergantung varian. Tapi nanti tim DKID coba deh di-update di deskripsi dan juga di pojok kiri video [musik] untuk harganya untuk seri ini ya yang pakai OLED Ultra 715H. Overall laptop ini kalau kalian cari laptop yang tipis, ringan, dan juga baterai awet sih Asrus 5 ini bisa jadi rekomendasi yang sangat menarik kecuali trackpad-nya semoga aja cuman unit saya aja ya. Sayaikudi and see you on the next video.

Lihat di YouTube