Jungkat

Bosen review, saya langsung ikut jadi sales HP 😎 (YouTube Video)

  • 19/09/2024

Halo guys, David di sini dan saat ini saya sedang berada di kantor Realme Indonesia buat di-training jadi sales HP mereka. Yup, sales yang itu tuh. Yang selalu nongkrong di counter-counter HP, di mall, di ruko, pokoknya dimanapun tempat ada jualan HP, di sana ada sales yang siap menghipnotis Anda. Ini kesempatan spesial banget sih, soalnya belum pernah ada brand HP yang mau nge-spill trik-trik mereka ya. Ada strategi cara mereka jualan HP, soalnya kalau brand lain tahu, bisa-bisa di counter. Ya, itu bahaya kan? Tapi Realme malah ngundang saya buat ngeliat langsung proses di belakangnya kayak gimana. Apakah sekedar dikasih satu kalimat, boleh dilihat HP-nya kakak? Apakah gitu doang? Ya, jelas enggak lah. Pasti banyak banget hal-hal yang harus diperhatiin, detail-detail yang mungkin konsumen itu nggak tahu. Mulai dari cara berpakaian, gimana cara hadapin customer yang rewel, customer awam, yang ahli, yang tukang mendang-mending. Semuanya bakal kita pelajarin di video kali ini. Jadi ini kesempatan yang mungkin cuma Realme doang yang mau kasih, yang lain nggak berani buat nge-spill, kita langsung samperin aja. Halo, Rizfa. [Rizfa]: Hai, David. Selamat datang di kantor barunya Realme Indonesia. [David]: Oke, thank you banget udah perbolehin sih. Ini agak aneh sih masih, soalnya saya sering nanya-nanya brand lain, boleh nggak, boleh nggak, pas dilempar ke Rizfa sebagai PR lead Realme Indonesia, hal-halnya boleh langsung, oh siapa takut gitu. Boleh dong. Kenapa gitu? Kenapa boleh lihat ruang strategi itu kan sensitif? [Rizfa]:Ya, karena memang di Realme kita masih open banget, dan kita fair aja lah dengan memang sudah kompetisinya, jadi memang ya sudah. It's okay. Jadi kalau emang mau belajar, biar orang-orang juga mungkin yang nonton tahu tentang Realme Indonesia, it's okay. [David]: Jadi sama produknya juga kali ya. Gitu. Mungkin yang mau jadi sales juga mungkin bisa tahu sebelum melamar, kira-kira bakal ngomongin apa aja, apakah sesuai panggilan hati, mungkin bisa juga. Oke lah, kita langsung aja. [Rizfa]:Pas banget, kita kebetulan lagi mau luncurin produk terbarunya kita juga. Nah, hari ini juga kita mau ada training nanti bareng sama trainer kita, tapi sebelumnya biar official jadi salesman, pakai dulu bajunya. [David]: :Saya harus pakai baju perguruan ya, biar diterima ya. Oke lah, ada Realme. [Rizfa]: Udah keren nih. [David]: Siap. [Rizfa]:Buat training, nanti bakal sama tim training kita nih. [David]: Tim training? [Rizfa]: Yes. [David]: Oh, ada tim khusus ya? Yes, nanti yang nge-train itu namanya Akshal. [David]: Akshal? [Akshal]: Yes. Ada David disini. *tertawa* [David]: Halo Mas. [Akshal]: Halo Mas David. [David]: Mohon bimbinganya [Akshal]: Silahkan. [Rizfa]: Boleh saya tinggal? [Akshal]: Boleh, boleh. Ini nomor satu teman-teman. [David]: Nanti dijemput ya kalau udah. [Akshal]: Nomor satu, oke. Halo Mas David. [David]: Iya. [Akshal]: Saya Akshal nih. Jadi disini ada tim-tim sales advisor kita. Nah, kenalan dulu nih Mas David. Halo teman-teman. [David]: Halo, saya akan bergabung mohon bimbingannya. Ini pasti udah master-master juga ya. [Akshal]: Lumayan. [David]: Tapi ini grandmaster-nya kali. [Akshal]: Waduh, udah mythic. [David]: Waduh, udah mythic. [Akshal]: Jadi teman-teman, sebelum Mas David masuk nanti, kita ospek dulu ya. [David]: Oh, boleh. [Akshal]: Siap-siap ya. [David]: Gimana nih, maksudnya? Ospek? [Akshal]: Nanti itu masuk, masuk... Aman kok, aman kok. Mau kan? [David]: Gimana? Udah masuk, udah nyebur. [Akshal]: Selamat datang di Realme. [David]: ospek ya? Oke, siap-siap. [Akshal]: Silahkan masuk Mas David. [David]: Wow, oke. [Akshal]: Ini adalah ruangan training kita. [David]: Training, oke. [Akshal]: Jadi untuk nanti kan kita mau ada training produk baru Realme nih. Nah, semuanya akan ada disini. [David]: Semuanya ngumpul dan ditanemin. [Akshal]: Betul. Biar kita bisa belajar nih. [David]: Oke. [Akshal]: Buat produk terbarunya Realme. Oke. Silahkan duduk Mas David. [David]: Siap, terima kasih. [Akshal]: Teman-teman, yang lain boleh masuk. Oke teman-teman, selamat pagi semuanya. [Semua]: Pagi. [Akshal]: Oke, baik. Pagi-pagi ini, sudah ada di depan kalian ada Mas David disini. Mas David boleh berdiri. [David]: Oke. Halo semuanya. [Akshal]: Say hi teman-teman. [Semua]: Halo. [Akshal]: Mas David disini akan menjadi bagian dari kita nih. Untuk pagi ini menjadi seorang sales advisor. Tapi ini sebelum saya mau mulai teman-teman, seperti biasa. Saya mau cek grooming untuk masing-masing dari wajah kalian, dari pakaiannya, dari sepatunya. Saya mau cek dulu. Jadi, teman-teman boleh berdiri dulu sebentar. [David]: Ini emang rutin kayaknya? [Akshal]: Iya, betul. Setiap kita training pasti ada pengecekan untuk groomingnya. Oke, saya mau cek satu-satu nih. Coba disini saya mau lihat nih dengan Mas siapa? [Fauzan] Mas Fauzan. [Akshal]: Mas Fauzan. Kita lihat disini teman-teman. Dari segi rambut, sudah rapih. Enggak melebihi kuping ya. Untuk dari segi grooming wajahnya, sudah rapih nih. Dicukur. Enggak begitu panjang untuk jenggot dan kumisnya. Untuk baju, rapih. Sudah pakai polonya Realme. Di bagian bawah ini mungkin enggak kelihatan, tapi dari sepatu dan celana juga sudah rapih. Nah, disini ada teman baru kita, teman-teman. [David]: Yang belum tau apa-apa. [Akshal]: Ada Mas David. Mas David first day disini ya. Nah, ini saya boleh cek sedikit. Untuk grooming dari segi rambut, ini sedikit rapih, tapi ada sedikit... over di bagian rambutnya. Jadi harus... Ya, Mas David harusnya cukur rambut ya. [David]: Benar juga ya. Nanti lunch break harus cukur rambut. [David]: Cukur sendiri ya. [Akshal]: Dari segi jenggot, ini agak lumayan panjang. Jadi Mas David harusnya grooming untuk bagian jenggot. Dari segi pakaian, sudah rapih. Celana jeansnya lumayan lapih. Dan sepatunya sudah aman. [David]: Oke, siap. [Akshal]: Jadi untuk Mas David, kita beli nilai berapanya? C ya? Ada tiga soalnya yang masalah. Oke, Mas David saya beri nilai C. Untuk teman-teman yang masih belum lulus di bagian groomingnya, ingat ya, buat next time nggak boleh kayak gitu lagi. Kalau itu ada SP nggak? SP nggak ada dong. Tapi kita tetap aja harus mendorong biar kita terus rapih depan customer. Nah, oke. Ini teman-teman sudah panas semua ini ya. Udah nggak ada lagi yang dingin. Udah pada makan semua kan ya? Udah. Mungkin ada yang belum tapi bilangnya udah. Kita akan masuk nih. Kebetulan Realme akan ada produk terbarunya. Nanti yaitu adalah Realme 13 Pro+. 13 Pro+. Sebut tangan dulu. Sebelumnya teman-teman, saya mau jelasin dulu nih. Dari segi produk kita. Kita udah launching apa aja sih sebelumnya? [David]: Sesi training yang ini berlangsung selama 1,5 jam ya. Suasananya berasa kayak lagi kuliah. Disini Mas Akhsal selaku trainer, jelasin segala bagian dari HP baru Realme 13 Pro+. 5G. Dimulai dari bagian layar yang udah OLED 6,7 inci, dengan brightness up to 2000 nits, dan kaca Gorilla Glass 7i. Ada bahas prosesor Snapdragon 7S Gen 2 juga, dengan RAM 24GB. Disini saya tipu dan nanya nih, soal RAM-RAM-an. Jadi ngomong 24GB itu, boleh ngomong ini RAM-nya 24GB? [David]: Kita bisa bilang total RAM-nya. Total RAM-nya itu 24GB. [David]: Kalau ngomong RAM aja nggak boleh? [Akhsal]: Sebenernya nggak boleh sih. Kalau menurut saya ya. [David]: RAM-nya 24GB nih. [Akhsal]: Jadi kita memang ada, kalau misalkan di, apa namanya? Saat kita nanya user, atau ada user yang nanya, RAM-nya berapa? Nah kita total RAM-nya itu 24GB. Yang terdiri dari RAM internalnya 12GB, ditambah lagi ekspansi 12GB lagi. Jadi totalnya itu 24GB. [David]: Bedanya apa? Baru jelasin. [Akhsal]: Boleh, ya boleh. Wah itu banyak lagi tuh. [David]: Kalau dibilang total RAM-nya 24GB, habis lu deh. [Akhsal]: Kalau misalkan... [David]: ngerti nggak ngerti 24GB? [Akhsal]: Nggak semua user nanya sih. Paling kalau misalkan mereka memang, nggak perlu informasi tambahan, oke kita nggak perlu jelasin. [David]: Total RAM-nya 24GB, selesai? [Akhsal]: Kalau misalkan mereka nanya, boleh kita jelasin. [David]: Oh gitu. Dan bagian yang paling penting, dari training ini, mungkin makan durasi setengah lebih, yang bener-bener ditanemin di kepala kami, adalah soal kameranya. Realme bener-bener banggain kamera Realme 13 Pro Plus 5G, karena cuma dia yang ngasih sistem triple camera lengkap, di kelas harganya. Dari kamera utama OIS, dengan sensor Sony Lytia, kamera telephoto periscope 3x, dengan sensor Sony Litia juga, dan ada kamera ultrawide. Jadi lengkap trionya. iPhone pake apa? [Akhsal]: iPhone pake Sony juga. [David]: iPhone pake Sony juga? [Akhsal]: Pake Sony juga. Sensor kameranya. Jadi kamera Sony itu memang dipake di banyak brand HP. Nah, cuman yang bagus-bagus itu biasanya pake Sony. Kita bisa bilang kayak gitu. [David]: Bagian kamera ini lanjut terus, biar sales itu pede. Sampai mereka ada bandingin sama kamera DSLR, dan kamera HP lain yang jauh lebih mahal. Flagship loh. Disini dibongkar semua tuh, data-data yang mereka punya, biar sales mereka tuh bisa dengan yakin bilang, kalau kamera Realme 13 Pro Plus 5G adalah yang terbaik di kelas ini. Kenapa nggak dibandingin sama yang seharga? Karena nggak ada yang periscope. [Akhsal]: Karena nggak ada yang periscope, maaf ya sayang. [David]: Atau kayak utama di zoom gitu, jadi lebih berasa. Boleh nggak dibandingin kayak gitu? kalau kita sebagai user boleh. Karena kan kita mau harga segini, kita mau foto yang bagus, pilih HP apa. Nah, Realme 13 Pro Plus, kebetulan punya yang paling bagus nih, ada periscopenya. Dan di brand lain tuh nggak ada. Sebenernya boleh-boleh aja. Tapi kalau kita compare, tentu mereka tenggelam ya. Kita bisa bilang tenggelam ya. Karena hasilnya tuh jauh banget. Dari segi detailnya, apalagi bokehnya tuh yang paling kerasa. Punyanya zoom itu, kalau zoomnya optikal tuh bagus banget. Clean banget gitu misalnya. [David]: Kalau dipokok nanti dibandingin sama HP yang berapa juta juga yang harganya sama, wah kok nggak ada ya? Emang nggak ada ya? Itu boleh-boleh aja? [Akhsal]: Boleh-boleh aja, kalau dari segi toko ya. Yang penting kita tetap sopan buat compare-nya. Kita nggak mojok-mojokin brand lain. Dan kita juga nggak bohong apa lagi. Nah, jadi kita tetap bikin usernya tuh nyaman. [David]: Boleh ceritain bandingin dulu nggak? Nih, lihat nih. Atau harus dia yang nanya? [Akhsal]: Sebenernya kita nggak selalu merekomendasikan sih ya, untuk memang compare duluan gitu. Tapi kalau memang user yang nanya, ya kita tetap harus jawab. [David]: Oh, dia yang nanya baru? [Akhsal]: Yes, amannya seperti itu. [David]: Sang trainer juga demoin fitur AI Ultra Clarity ya. Demonya langsung pake foto trainernya sendiri, biar lebih personal dan real ya. Fitur ini bisa bikin foto yang burem, karena udah jadul jadi tajem kayak pake kamera bagus. Dan terakhir bagian yang lumayan gurih nih, sampai slide-nya harus saya blur, biar nggak ngimbulin gonjang ganjing ya. Di slide-nya ada ilmu mendang mendingin brand lain loh. Realme 13 Pro Plus 5G dicompare satu-satu sama HP sekelas, biar salesnya tuh juga bisa counter. Kalau misalnya di debat customer, kelebihannya apa? Kalau ada yang lemah, gimana cara belokinnya? Emang info panas sih. Dan nggak baik kalau di-share duluan. Kalau ada yang bandingin sama *** gimana? *** itu *** Gimana? [Akhsal]: Ini, sorry, yang ini *** [David]: Oh, ini *** Oh, *** Setelah 1 setengah jam, kami pun dikasih waktu istirahat, dan bakal lanjut ke sesi selanjutnya, latihan praktek di lapangan. Wow, ini langsung di toko yang paling gede di testnya ya? [Akhsal]: Betul. Selamat datang di Realme Experience Store. Ini paling gede di Indonesia? [Akhsal]: Paling gede di Indonesia dan Asia Tenggara. [David]: Asia Tenggara? Jadi silahkan masuk Mas David. [David]: Mas, sebelum kita lanjut soal training produknya, saya pengen nanya-nanya dikit soal kehidupan sebagai seorang sales. [Akhsal]: Oke, oke. [David]: Biar lebih yakin gitu kan? Kalau misalnya teman-teman pengen memulai karir sebagai sales, atau promotor, atau ada sebutan lain. [Akhsal]: Ya, kalau di Realme, untuk posisinya itu sales advisor. [David]: Sales advisor. Ada jenjang karir nggak sih? Atau namanya sales advisor selamat mencari penghasilan sebanyak-banyaknya dari komisi? Atau kalau hebat banget bisa ditarik? Wah, jadi posisi ini nih. [Akhsal]: Oke. Dari segi jenjang karir sebenarnya ada? Ada. Nah, selama kita menjadi sales advisor, itu nggak akan stuck aja di sales advisor. Kalau memang dia itu kelihatan punya potensi, produk-produknya bagus, dari segi penjualan juga bagus, tentu kita bisa memberikan mereka sebuah promosi. Promosi. [David]: Ke Realme kantor utama mungkin? [Akhsal]: Untuk posisinya yang masih berkaitan di wilayah mereka. Dalam arti kalau mereka misalnya memiliki potensi, kita bisa angkat mereka menjadi posisi yang lebih tinggi. Contohnya menjadi retail manager di areanya. Jadi yang tadinya itu, yang tadinya itu SA-nya menjadi jualan aja, fokus ke sales aja. Nah, saat mereka dipromosikan, itu mereka bisa membantu teman-teman yang lain. Buat mencapai seperti yang... [David]: Bagiin ilmu. [Akhsal]: Iya, seperti yang dia lakukan juga. Biar nge-boost sales-nya, secara apa namanya, selain itu karena mereka sudah bertanggung jawab untuk satu areanya, juga mengurusi hal-hal yang lain, yang ada di belakang layar. [David]: Kalau hebat banget, nasional. [Akhsal]: Iya, bisa juga ke pusat. [David]: Oh, iya-iya. Promosi ya? Kalau misalnya di satu toko ada satu sales yang hebat, sementara dua yang lain kayak agak berat gitu. Sementara satu itu sudah jualan banyak, yang dua ini apakah bakal ngerasa tersaingi, terkubur, tenggelam di... Kalah gitu ya? [Akhsal]: Kalah gitu. Oke, oke. Paham-paham. Sistemnya gimana sih buat menjaga tim yang solid? Tentunya untuk di Realme ya, untuk tim-tim sales advisor kita tuh, kita work as a team. Jadi tentunya kan kalau kita misalnya punya angka sales yang lebih tinggi, tapi kita ngelihat teman-teman kita nih, teman-teman sejawat kita nih, yang masih belum achieve targetnya, mereka ngerasa enggak enak, kita pun ngerasa enggak enak ya. Jadi kita bisa nih, kita bagi-bagi channelnya mungkin. Oke, nanti gue bantuin, gue bakal bantuin lo, tapi nanti komisinya buat gue ya. Satu contohnya itu. Menghitung jualannya buat dia, tapi ya tolong. Karena kita saling bantu ya. Kita achieve targetnya buat mereka, tapi komisi buat kita. [David]: Tapi itu tergantung, realme bebas? [Akhsal]: Realme tuh kebanyakan kayak gitu. Tapi untuk dari segi realmenya, kalau dari realmenya, kita tetap ngedorong untuk work as a team aja. Jangan sampai ada konflik ya. [David]: Kalau di satu toko ada 2 orang, si A itu hoki terus dapetin customer yang gampang, kayak langsung mau beli. Sementara yang 2 ini sulit banget, karena gantian sistemnya kan. Itu ada cara biar yang 2 ini nggak iri gitu nggak sih? Sementara yang si A ini ngerasa, oh gue hebat nih. [Akhsal]: Dari realmenya sendiri, kita tetap sih, kita tetap encourage to work as a team aja. [David]: Maksudnya itu kalau ada yang gampang, lu deh gitu ya? [Akhsal]: Iya. Jadi biar nggak ada kayak ngerasa cemburu atau iri gitu kan, buat work as a team. [David]: Kalau misalnya ada sales rajin nih, wah aku sangat serius di dunia jualan HP, dan aku bikin video TikTok, sampai jadi reviewer, pinter jualan dan linknya HP realme semua dan banyak yang beli dari situ. [Akhsal]: Oke. [David]: Itu boleh nggak? [Akhsal]: Boleh banget. [David]: Boleh banget? [Akhsal]: Boleh banget. [David]: Nggak menimbulkan kecemburuan? [Akhsal]: Nggak ada. Justru kita encourage mereka untuk melakukan itu. Dan kita pun kalau misalnya ada pasar yang mungkin, bukan kalau misalnya ya, tapi ada ya? [David]: Ada ya? [Akhsal]: Pasti ada. [Akhsal]: Dan jumlahnya juga cukup banyak. Nah kita encourage mereka, kita kasih ide-ide untuk apa yang mereka post di media sosial. [David]: Oh malah diajak buat ngepost, yuk rame-ramein. [Akhsal]: Yes. Nggak cuma foto aja, mungkin ada beberapa materi memang dari kita, tinggal di re-share aja. Ada juga yang memang kita ada ide nih, buat teman-teman bikin video. Nah idenya kayak gini, gini, gini. Nah dia bisa ngikutin. [David]: Soalnya kadang gue pernah ngeliat di TikTok viral, yang like 200 ribuan, yang nonton jutaan. Cukup dengan ini realme baru sejutaan, kamera sudah boba, viral. [Akhsal]: Menunjukin aja kan? Nah itu juga salah satu. [David]: Kepantau. [Akhsal]: Salah satu yang kita dorong juga, buat sales advisor kita untuk bikin. [David]: Dan itu malah bagus. [Akhsal]: Malah bagus. Kita nggak membatasi mereka untuk jualan di offline aja. [David]: Selama bisa jualan, sikat. Oh sales banget ya. [Akhsal]: Kita harus ajak penontonnya untuk datang ke toko kita. Kan biar tau juga kan, oh ini dia asalnya dari mana. [Akhsal]: Jadi biasanya... [David]: Ada visionnya ya? [Akhsal]: Enggak. Biasanya kita kasih di belakangnya, di bagian belakang videonya itu, kita suruh ajak aja ke toko ini. Saya dengan saya ini di toko ini, untuk warga, misalkan warga Manado. Bisa datang ke toko ini. [David]: Ada pesannya ya? Ya kadang ada akunnya sih realme gitu. [Akhsal]: Iya betul. [Akhsal]: Biar nggak... Maksudnya kita yang bantu promosiin, tapi toko lain yang dapet kan nggak enak gitu. Pembeli tuh ada levelnya nggak? Misalnya kalau udah pengalaman nih, wah masuk nih, oke. Dia kemungkinan beli 80%. Terus ah 20%. Ah ini mah nggak bakal beli. Ada nggak? [Akhsal]: Tentunya ada ya. Apalagi kalau kita sebagai sales advisor yang udah pengalaman gitu, udah bisa banget nih ngebedain, mana user yang kelihatannya ngeliat-lihat aja. Tapi mana juga yang emang udah niat beli. Nah biasanya kalau bisa kita bagi, itu ada 3 levelnya. [David]: Yang rewel pun ada ya? [Akhsal]: Ada juga. Yes. Mungkin ada level 1, itu dia masih belum tau nih mau beli hape apa. Nggak tau harganya berapa, budgetnya berapa, masih belum tau. Yang kedua nih, udah ada tipe yang masih kayak ragu-ragu nih. Atau bahkan dia tuh malah agak-agak out of topic. Jadi agak-agak kalau kita sebagai... Iya sales advisor, wah ini agak-agak mancing deh. Harus hati-hati ngomongnya. Iya gitu. Nah yang ketiga nih, yang paling gampang dan paling enak buat kita. Jadi usernya tuh udah tau mau beli apa. Jadi kita tinggal langsung closing aja. [David]: Iya tinggal bungkus gitu ya. [Akhsal]: Nah kayak gitu. Mau coba langsung nggak? Taktikin gitu. [David]: Jadi orang rewel boleh? [Akhsal]: Boleh. Misalkan mas David mau jadi customer, silahkan. Kita bisa langsung role play. [David]: Training by practice gitu. [Akhsal]: Yes betul. [David]: Oke lah kita langsung aja lah. [David]: Kita coba latihan langsung ya. [Akhsal]: Oke. [David]: Oke udah siap nih. Padahal belum launching ya pas syuting ini ya. Tapi kayak udah ready aja. [Akhsal]: Yes. Jadi disini kita ada namanya demonstration table. [David]: Demonstration table. [Akhsal]: Yes betul. Nah disini ada semua nih, semua desain-desain yang memang kita khususkan untuk Realme 13 Pro Series. Nah disini contohnya nih, untuk 13 Pro Plus disini ada demo unitnya. Untuk kalau kita mau nunjukin langsung nih ke customer. Jadi customer nggak usah beli dong. Cuma buat ngeliat HP-nya. [David]: Nyobain. [Akhsal]: Yes bisa nyobain. [David]: Waktu nyobain kita sambil ngomong? Waktu nyobain bisa ngomong. Kalau misalnya user udah megang duluan, kita bisa temenin. [David]: Temenin liatin aja? [David]: Kepoin nggak? [Akhsal]: Kepoin tentu aja. Jadi kita gali-gali juga nih kebutuhannya dia. [David]: Walaupun dia masuk diem-diem, main-main, kayak kita tetap harus samperin? [Akhsal]: Betul. Walaupun misalkan dia kayak cuma keliatannya, kayak cuma lihat-lihat aja, atau memang nggak niat beli, ya nggak apa-apa. Kita tetap dapetin aja. [David]: Ada nggak strategi cuekin customer? Karena pernah denger, wah dicuekin jadi lebih marah, lebih beli gitu. [Akhsal]: Oh kita nggak ada sih. [David]: Kayaknya pernah denger gitu. Dia itu sengaja dicuekin biar dia marah, gengsi, gue beli ini, meremehkan gue. [Akhsal]: Itu sangat-sangat mindgames ya? Mind games. Itu kita nggak berani. [David]: Psikologinya reverse. [Akhsal]: Di Realme 13 Pro Plus juga buat kita ngebantu nih, kalau kita sebagai sales advisor, disini juga ada sampel-sampel fotonya Realme 13 Pro Plus. [David]: Senjatanya ya? [Akhsal]: Iya kita bisa tunjukin langsung nih. [David]: Oh yang tadi? [Akhsal]: Iya yang tadi ada di materinya juga. Itu bisa tunjukin hasil foto-fotonya, yang memang udah oke banget lah. Apalagi buat pengguna-pengguna yang memang nyarinya HP foto. [David]: Terus ini pokoknya posisinya harus seperti ini ya? Harus dilap lagi? [Akhsal]: Betul, betul. Untuk posisinya udah ada standarnya. Dan dari segi kalau kita saat pertama kali datang, itu sebelumnya betul kata Mas David, udah dibersihin semua. Sama sales advisornya. Jadi nggak ada kayak debu. [David]: Higienis gitu. [Akhsal]: Iya nggak ada debu, kan kelihatannya juga nggak enak ya. Kalau misalnya demo table-nya kotor. [David]: Oke, oke. [Akhsal]: Nah kebetulan juga di 13 Pro Plus, karena udah ada AI, nah kita bisa coba langsung AI smartphone-nya. [David]: Oh, suruh foto. [Akhsal]: Betul atau AI eraser-nya nih. user yang mau coba, silahkan, tinggal foto aja nih. Kita udah ada sampelnya. [David]: Kalau mau coba tempat lain boleh nggak? Kayak ini kan lumayan luas tempatnya. Kita mau coba sendiri, customer-nya mau coba, buktinya kita gimana? [Akhsal]: Bisa aja sebenarnya. Tapi paling terbatas aja. Paling kita ada pengalamannya disini. Tapi kalau misalnya kita mau zoom, kan kita bisa zoom nih. Nggak perlu jauh-jauh, bisa. Contohnya ada tempat yang menarik disana, atau yang dalam toko. Contohnya disini, udah ada, disana ada banyak lumiau ya. Kita zoom aja nih. Oh, test zoom-nya seperti ini. Mungkin kalau dia punya HP sendiri, bisa dia bandingin. Oh, bagusan mana. [David]: Intinya customer mau apa, kita okein. [Akhsal]: Okein tetap. [David]: Ada yang nggak boleh nggak? [Akhsal]: Paling kalau dibawa pulang nggak boleh. [David]: Lepasin boleh nggak? [Akhsal]: Ini lepasin sebelahnya nggak boleh sih. Jadi ada disini aja. [David]: Jadi misalnya nanti aku ditempatin disini nih, kalau misalnya ada yang ngeliatin laptop, perlu disamperin juga? [Akhsal]: Tentu. Tapi kalau misalnya memang cuma ada satu, ya kita ikut samperin aja. Tapi kan biasanya di toko kan ada banyak user ya, ada banyak customer. Kita tentunya work as a team, jadi bagi-bagi aja. Ada yang ke laptop, ada yang mungkin cari-cari IOT. [David]: Bisa sekalian, oh ini bisa sekalian ke situ? [Akhsal]: Kalau misalnya itu mungkin kondisinya lagi banyak banget, usernya. Biasanya kita ganti-gantian. Kalau lagi banyak banget, misalkan tokonya lagi penuh banget, atau lagi ada event, biasanya usernya itu kita arahkan, bisa kesini ya kak, bisa kesana ya mas gitu. [David]: Saling cover ya? [Akhsal]: Saling cover. [David]: Ada leadernya nggak? [Akhsal]: Untuk di tiap toko biasanya ada, tapi bergantung kondisinya juga. Kalau misalnya ada beberapa toko yang full semuanya ada juga yang ada leadernya. [David]: Oh jadi yang posisinya sama semua, atau ada satu yang... [Akhsal]: Yang buat yes semacam itu. [David]: Oke sekarang setelah banyak banget teori yang dimasukin ke kepala ini, kita langsung praktek aja. Kita cobain mungkin beberapa jenis customer ya, cara hadapin customer yang udah tau mau beli apa, customer yang nggak tau mau beli apa, sama customer yang mungkin agak rewel, lumayan tau, mendang mending. Kita cobain tiga skenario ini, cara hadapinnya gimana. Sekarang mari kita masuk ke mode customer ya, dan saya sekarang customer yang cuma pengen liat-liat doang. Nggak ada niat beli, cuma penasaran aja realme ada HP baru, saya pengen liat. [Fauzan]: Selamat datang di Realme Experience Store. [David]: Oh iya mas. [Fauzan]: Dengan siapakah namanya? [Fauzan]: Oke dengan saya Fauzan. [David]: David. [Fauzan]: Keliatannya sendiri aja ya? [David]: Iya sih. [Fauzan]: Oh kirain berdua, [Fauzan]: soalnya tadi kayak ada kodamnya ketinggalan. [David]:Oh nggak ada... [David]: Gaul juga ya? Harus tau tren gitu ya? Kalau selalu itu harus tau tren. [Fauzan]: Harus adaptif dia. [David]: Mas sehari ngeliat TikTok sejam ada nggak? [Fauzan]: Ada. Ini saya kadang mode customer, sama mode pengen tau kenapa nanya kayak gitu. Jadi mungkin agak berubah-berubah personality-nya ke customer lagi. [Fauzan]: Karena tujuan utamanya kita ngebuat si customer itu nyaman dulu. [David]: Kalau jokes yang nggak masuk itu resiko? [Fauzan]: Kalau jokes yang nggak masuk itu resiko. Tapi nanti kita coba lagi di jokes, ataupun di percobaan berikutnya. [David]: Saya kalau nggak pinter nge jokes juga harus ada style sendiri. [Fauzan]: Iya betul. [David]:Oke. Susah ya. [Fauzan]: Mau coba liat-liat dulu, atau memang udah punya satu target nih dari tadi mas datang kesini? [David]: Oh lagi jalan-jalan aja sih. kebetulan sekomplek gitu. [Fauzan]: Kalau boleh tau nih, handphone yang saat ini mas pake? [David]: Android sih. [Fauzan]: Android ya. Itu kira-kira mohon maaf nih, kisaran berapa sih? [David]: 4 juta lah. [Fauzan]: 4 juta. Oke, kebetulan banget nih. Mas datang ke Realme Experience Store. Kita punya semua lini smartphone. Mulai dari entry level, kemudian middle range, dan juga yang flagship-nya. [David]: Oh nggak langsung tembak kesini? [Fauzan]: Belum, nggak. Jadi kita biarkan si customer yang punya pilihan. Kalau kita langsung menyudutkan, biasanya customer nggak nyaman. [David]: Walaupun udah 4 juta nggak mungkin dijual 2 juta gitu, tetep kasih tau. [Fauzan]: Karena kan tadi mas saya bilang, cari-cari dulu. Siapa tau beli buat, maaf, ART-nya, anaknya. [David]: Nanya gue belum tentu, kepoin gue siapa tau, oh cabang. [Fauzan]: Iya. [David]:Wow, oke. [Fauzan]: Lanjut lagi. [David]: Siap. [David]: Wow, oke. Baru gitu makanya praktek lebih itu ya. [Fauzan]: Iya, betul sekali. Kebetulan kita semua disini ada sih, middle range, dan juga flagship. Sehari-hari biasanya mas David, apa nih sibuknya? Kerja, kuliah? [David]: Masih kuliah. [Fauzan]: Masih kuliah, kelihatannya ya. Selain kuliah, mungkin ada hobi lain di luar kegiatan sehari-hari itu? [David]: Main game ada. Kadang main sama teman. [Fauzan]: Oh, sama dong. Kita juga suka main game. [David]: Wih, main apa?HOKA? [Fauzan]: HOKA main. [David]: MLBB main. [Fauzan]: MLBB juga main. [Fauzan]: Biasanya pakai apa? Kalau main mobile gitu. [David]: Oh, ngobrol. [Fauzan]: Iya, lebih seringnya pakai nge-tank gitu, atau apa. Nah, biasanya itu terkadang saya suka masuk-masukin aja. Misalkan mas David bilang fighter, yaudah kebetulan saya tankin deh, saya lindungin masnya. Walaupun sebetulnya saya nggak nge-tank. [David]: Tipe agresif berarti ya? [David]: Oke, jadi kita udah ngobrolin game nih, kayak 1 menit, 2 menit gitu lah. Terus yaudah, kayak udah kelar liatnya, gimana? Oh iya. Nanti aku liat-liat lagi deh. [Fauzan]: Boleh. Mungkin mas David bisa, boleh minta kontaknya. [David]: Oh, kontak ya? [Fauzan]: Jadi siapa tau gitu, kalau seandainya mas David kesini, nggak usah bingung-bingung lagi. Jadi nanti bisa janjian. [David]: Bisa dianter nggak? [Fauzan]: Boleh. Bahkan bisa saya anter ke rumah. Seperti itu. Jadi transaksinya tetap safety, baik customer maupun kita sama-sama aman. [David]: Bayarnya transfer? [Fauzan]: Bayarnya bisa transfer, bahkan kita bisa bawa mesin EDC ke rumah. [David]: Mau yang murah juga bisa? [Fauzan]: Bisa. [David]: Kalau aku tinggalnya di Tangerang gitu? [Fauzan]: Di Tangerang, mungkin di Jakarta. Nanti kita atur waktu aja. Nggak apa-apa, kalau memang mau ketemu di tengah-tengah boleh, tapi kalau memang mas Davidnya bener-bener nggak bisa kemana-mana, yaudah kita yang kesana. [David]: Tapi kalau nggak mau share, yaudah. Terima kasih. Kenapa nggak share nomor kontak? [Fauzan]: Biasanya langsung saya kasih kartu nama. Jadi kalau si customernya yang enggak memberikan nomor, kita yang kasih nomor. [David]: Begitu ya? Yang maksimal ya? Walaupun cuma lihat-lihat doang? [Fauzan]: Betul sekali. Karena tugasnya kita, siapapun yang datang, mau beli mau nggak, tugas kita adalah menyampaikan. [David]: Oke. Sebagai sales itu. Oke, itu baru level 1 ya? Yang baru yang pertama ya? [David]: Terima kasih. [Fauzan]: Siap, sama-sama. [David]: Sekarang kasus nomor 2, yaitu pelanggan yang bukan cari HP, tapi mungkin cari masalah kali ya. Kita cobain aja. Oke, kita lihat-lihat dulu. [Kevin]: Halo. [David]: Halo. [Kevin]: Perkenalkan, saya Kevin. [David]: Oh iya. Iya mas. Aku kemarin nonton di Youtube, kayak review-nya itu dia pakai Snapdragon 7s Gen 2 gitu ya? Kenapa nggak pakai yang Gen 3 aja sekalipun? [Kevin]: Oke. [David]: Ada yang sama kan? [Kevin]: Oke, sebenarnya gini. Kalau misalkan dari Realme 13 Pro Series ini, kita kan dikemas juga dengan yang namanya periscope kamera. Sehingga untuk prosesor Snapdragon 7s Gen 2 ini, itu sudah sangat mumpuni sebenarnya. [David]: Mumpuni apa sih? [Kevin]: Mumpuni untuk memproses hasil foto yang lebih baik, pastinya dibandingkan dengan produk komputer. [David]: Kalau gaming? Gaming kan chipset buat gaming. [Kevin]:Oke. Untuk gaming sendiri, sebenarnya karena segmentasi di Realme 13 Pro Series ini lebih ke arah kamera, kalau misalnya memang mas mencarinya untuk gaming nih, kita sebenarnya ada produk yang namanya GT 6 loh mas. [David]: Oh, jadi nggak di kayak belain, tapi kita belokin ke sebelah gitu? [Kevin]: Oh nggak. Jadi gini, kita di Realme ini ada banyak pilihannya gitu. Jadi kita balikin lagi tergantung dari kebutuhan masnya itu sendiri. [David]: Oh, kalau prosesor terus? Ya udah. [Kevin]: Kalau misalkan memang masnya cari yang performanya kenceng gitu kan, kita di sini ada Realme GT 6, dimana dia memakai 8s gitu. Snapdragon 8s. [David]: Oh, jadi nggak usah kayak terlalu berdebat, kita arahin aja, karena ada pilihannya. [David]: Betul, karena memang yang dicari kan dari prosesor gitu kan. [David]: Kalau nyari prosesor jangan debatin ini, karena bakal nggak habis-habis. [Kevin]: Betul, karena segmentasi dari pro series itu memang kita lebih fokus salah satunya adalah di periscope kamera itu tadi. [David]: Oke, jadi pakai lini lain gitu ya? [Kevin]: Betul, salah satunya ada GT. [David]: Kita serang dari sisi lain, GT juga IP 65. Kenapa ini IP 65 sih? Soalnya yang lain ada tuh IP 68, ada banyak kayaknya. [Kevin]: Oke, jadi gini mas. Sebenarnya balik lagi kepada konsep dasar penggunaan ponsel. Di mana kita menggunakan ponsel itu sebenarnya pada umumnya kita pakai hanya dalam keadaan aktivitas sehari-hari dong. Bukan pakai untuk memang sengaja kita mandi, pakai ponsel dan sebagainya, jadi dirasa untuk IP 65 ini sudah sangat cukup terhadap perlindungan dari ponselnya itu sendiri. [David]: Tapi kan kalau mau berenang, foto-foto anak-anak gitu pas berenang kan? [Kevin]: Oke, mungkin kalau misalkan dipakai untuk aktivitas yang ada airnya, seperti kena cipratan itu masih aman kok. Masih bisa digunakan. [David]: Kalau kecelakaan nyemplung aja gitu? [Kevin]: Oke, kalau kecelakaan nyemplung kita masih bisa di... Nyemplung gimana sih pak? [David]: Minta bantuan [Kevin]: Gak apa-apa, masih aman. Atau gimana? [David]: Oke, kita ulang. Kalau nyemplung gimana? [Kevin]: Ya jadi sebenernya gini mas, untuk kondisi-kondisi seperti tadi yang mas David sampaikan gitu kan. Itu kejadiannya memang ya dari satu, dari seribu kali mungkin ya gitu. Tapi bayangkan untuk di Realme 13 Pro seri sendiri, kita ada hal yang lebih bermanfaat setiap harinya. Salah satunya adalah sensor Sony periscope dari Realme 13 itu tadi. Dimana kita sudah dilengkapi dengan OIS dan EIS juga di dalam kameranya. [David]: Kalau soal harga, sales itu boleh kasih potongan pribadi gak sih? Atau toko gitu kasih potongan pribadi biar cepat, lebih cepat gitu dibanding yang lain? [Kevin]: Oke, sebenarnya kalau misalkan kita ngomongin harga, sekali lagi harga itu sudah ditetapkan secara nasional itu sama semuanya. [David]: Jadi sales gak boleh kasih potongan? [Kevin]: Gak boleh. [David]: Gak boleh? [Kevin]: Jadi seperti itu. [David]: Oke, walaupun kayak customernya kurang lah 100 ribu gitu. [Kevin]: Karena kebetulan kita ada yang namanya standar retail price gitu kan yang ditetapkan oleh Realme. Jadi memang kita ada kontrolnya terhadap harga. [David]: Jadi mau gimana pun sales tetap harus ikutin harga resmi? [Kevin]: Betul, harus ikutin harga resmi. [David]: Kalau misalkan di online ada toko yang kasih beda gitu, itu tokonya bukan salesnya? [Kevin]: Kemungkinan itu adalah promosi atau program yang diadakan oleh toko tersebut. [David]: Oh, tergantung toko tapi bukan sih salesnya? [Kevin]: Bukan dari salesnya. [David]: Jadi sales gak boleh kayak oke lah gitu, mungkin sedikit kurang tapi yang penting juga? [Kevin]: Disarankan jangan sih seperti itu. [David]: Sip, terima kasih. Yang rewel-rewel sedikit lah ya. Oke, ada gak yang bikin emosi? [Kevin]: Banyak. Maksudnya emosi itu dalam... Ya, mereka selalu membandingkan sih biasanya seperti itu. [David]: Disini gak boleh. Sekarang kasus ketiga adalah kasus impian setiap sales adalah customer datang. Mas, aku mau ambil ini ya. Ini Realme 13 Pro Plus kan? [Sales]: Betul. [David]: Ya, langsung bungkus aja aku udah tau. [Sales]: Mau yang ini, pasti udah liat juga ya? Apa kelebihan-kelebihannya? [David]: Harus dipastiin dulu, gak langsung diem-diem bungkusin. [Sales]: Harus pastiin aja sih buat kayak lebih meyakinkan lagi bahwasannya. Ini benar kayak gitu yang udah diiklanin. [David]: Oh, oke-oke. Gak perlu ngomong apa-apa lagi selesai? [Sales]: Iya, selesai. [David]: Apakah begitu saja? [David]: Atau ada step lain lagi? [Sales]: Harusnya sih kayak gitu aja kalo misalkan langsung nunjuk ke Realme. [Sales]: Bahkan juga kita lagi seneng kan? Udah pasti customer udah tau banget nih. [David]: Gak perlu keluar nafas tambahan lagi? [Sales]: Gak perlu keluar nafas tambahan lagi. Paling PRnya ya upselling. [David]: Upselling? Oh, upselling itu adalah menawarkan yang lain? [Sales]: Menawarkan yang lain. [David]: Kalau misalnya orang mau bayar cash atau kredit apakah berbeda? Apakah ada step lain lagi? [Sales]: Beda. Kalau cash itu langsung, paling kalau kredit itu langsung diarahkan ke ada leasingnya lagi. [David]: Oh, udah standby gitu? [Sales]: Udah standby. Perlakuannya sama kah cash kredit? Soalnya kalau denger-dengar di otomotif, kalau kredit itu kayak lebih gampang, kalau cash itu kayak agak stoknya kadang terbatas. [Sales]: Kalau kita sama sih. Lebih utamain untuk cash sih. [David]: Oh, lebih utamain cash? [Sales]: Kalau kredit itu agak sedikit ribet. [David]: Justru kalau orang mau kredit, salesnya harus nulis-nulisin lagi? [Sales]: Tidak lagi foto dan lain-lain. [David]: Oh, justru kayak, aduh oke, ini kita urusin. Kalau cash sudah selesai, bye-bye. Ini garansinya kalau di... [Sales]: Kita garansinya resminya 1 tahun pasti. [David]: 1 tahun pastinya. Kalau misalnya ada masalah, aku boleh bawa ke mas? [Sales]: Boleh. [David]: Boleh? Ada berkali-kali, 2-3 kali gitu? [Sales]: Bisa langsung bungkus kita. [David]: Bisa, udah ready. [David]: Oke, langsung bungkus yang warna gold. Terus gimana? [Sales]: Warna gold ya, kak. [David]: Jadi, dari 3 kasus tadi, 3 contoh itu, yang paling kuingat sih, yang pertama itu pokoknya, mau dia minat, nggak minat, sales harus beri perhatian. [David]: Yang kedua juga, bisa pinter belokin-belokin topik juga. [Akhsal]: Walaupun mungkin, oh kok jadi kurang, nggak nyambung gitu. [Akhsal]: Tapi intinya, kita harus tetap jawab pertanyaan dari usernya. Dan seperti contoh tadi, contoh yang tadi, yang pertama, kita harus tetap gali kebutuhannya. Walaupun usernya dateng, kita nggak tau mau beli apa. [David]: User yang blank aja, nggak ada kebutuhan, nggak ada apa. [Akhsal]: ya, kita harus tetap gali kebutuhannya. Nah, yang kedua, walaupun agak mungkin nggak sesuai, tapi yang kita kasih tau itu semuanya bener. [David]: Kita nggak boleh bohong. [Akhsal]:Iya, kita nggak boleh. [David]: Nggak boleh bohong. [Akhsal]: Kita nggak membolehkan sales advisor kita buat bohong. Jadi, apa yang keluar dari menu kita, itu memang sesuai nyatanya. [David]: Nah, penyampaiannya ya bergantung ke alihannya. [David]: Intinya nggak ada yang bohong. [Akhsal]: Intinya nggak [David]: Oh, itu penting sih. [Akhsal]:Penting, itu penting banget. [David]: Karena sering denger kan, masalah sales itu, kadang ngomongnya aneh-aneh banget. [Akhsal]: Yes, ada juga yang sebutannya, ya udah terkenal, Gen Jutsu. Gen Jutsu itu, kalau kita langsung ke pasaran, maksudnya ke lapangan, memang kita masih banyak menemukan. [David]: Ada lah. [Akhsal]: Yes, ada yang sayangnya, mereka ya informasinya kurang bener lah. [David]: Di dunia apa pun. [Akhsal]: Di dunia apa pun. Otak udah penuh, isinya kayak,waduh, oke jadi sales harus kayak gini-gini, kalau customernya kayak gini-gini, HP-nya kayak gini-gini, Semoga bisa kasih anda gambaran, seberapa rumitnya, seberapa banyaknya strategi yang harus dilakuin seorang sales, yang jualan HP ya. Isinya apa, kerennya kalau orang bilang, ah jualan HP. Tapi kalau bahasa kerennya itu… [Akhsal]: Yang ada di rumah itu, sales advisor. [David]: Oh, sales advisor. [David]: Apa, advisor itu, penasehat. [Akhsal]: Penasehat. Oke, itu keren banget sih, karena penasehat, ilmunya harus luas, pertimbangannya harus banyak, dan ujungnya belinya realisasi. Oh, tetapi. Oh iya. Pertimbangannya, ujungnya tetap satu. Sip, thank you Mas Akhsal, atas trainingnya yang bisa bikin kepala meledak, karena tidak biasa ya. Kita kan tukang kritik ya, sekarang harus bisa kesini, kesini, kesini. Tapi semoga saya melupakan ilmu-ilmu itu, karena kalau ngebela-bela terus, itu biarin tugas Mas Akshal aja. Yang kadang jadi counternya kita, bisa kasih alasan kenapa ini, tapi kadang kita juga bisa mendukung banget kerjanya Mas Aksal ini, karena ya, kalau HP-nya bagus, kita bagusin banget. Tapi kalau ada yang aneh ya kita jelasin juga. Gitu. Tugas masing-masing ya. Sip lah. Jadi like kalau anda suka dengan video ini, dislike kalau nggak suka, kita ketemu lagi di video selanjutnya. Yow! Closed Caption by @Subbox.id Thank you Mas, see you lagi. Ya, sukses terus. [Akhsal]: Kapan-kapan lagi ya? [David]: Waduh, di training lagi ya, di drill ya. Sampai kuning.

Lihat di YouTube

Video Lainnya

Brand Terkait

Realme

Realme adalah brand teknologi dengan lini smartphone, tablet, wearable, dan AIoT berperforma tinggi. Realme menghadirkan perangkat stylish dengan harga terjangkau, baterai besar, dan fitur modern untuk gaming, hiburan, serta produktivitas harian.