Brand BOHONG soal RAM? (YouTube Video)
Di bok HP baru kalian tertulis 24 GB RAM. Saya akan buktiin angka itu sebagian besar bohong. Dan hari ini saya mau jadi cepu dan nge-spill sebuah fakta tentang RAM di smartphone. Ini bukan soal satu brand ya, ini hampir dilakuin sama hampir semua brand Android di Indonesia. Saya enggak usah sebut brandnya lah ya. Kalian bisa simpulkan sendiri. Sekali lagi hampir semua. Cara kerjanya begini. Misalnya HP kalian punya RAM fisik 6 GB, tapi di boknya, di website-nya, di pamflet-pamflet-nya, di materi promonya tertulis 18 GB atau bahkan 24 GB. Sisanya itu bukan RAM, itu storage kalian yang dipinjam paksa lalu dikasih label yang terlihat keren. Virtual RAM, extended RAM, RAM Plus, memory extension atau apalah itu namanya beda-beda ya, cara kerjanya sama dan tujuan marketingnya jelas sama. Fakta pertama menyamakan sesuatu yang tidak setara. RAM fisik itu kecepatannya di atas level nanose atau nanodetik ya atau sepekan nanodetik ya gitu pokoknya secepat itu. Nah, virtual RAM dia kerja dari storage internal dari UFS atau IMMC yang nota bn-nya jauh lebih lambat dari RAM fisik. Beda banget. Kalian pernah ngerasain buka aplikasi yang harusnya instan eh malah loading. Itu bisa jadi karena sistem lagi narik data dari virtual RAM dari storage bukan dari RAM aslinya. Jadi ketika brand nulis 24 GB RAM di box, mereka secara teknis ya tidak sepenuhnya bohong, tapi mereka juga gak sepenuhnya jujur ya. Fakta kedua ngambil storage kalian tanpa disclaimer yang jelas. Beberapa brand bikin swap partition yang fix ya. Artinya kalau kalian aktifin virtual RAM 8 GB, storage kalian berkurang 8 GB permanen selama fitur itu aktif. Brand lain lebih dinamis. Efeknya ke storage ya lebih kecil tapi tetap kerasa gitu. Pertanyaannya adalah seberapa banyak konsumen yang tahu ini waktu mereka beli HP-nya? Hampir enggak ada karena di boknya cuma tertulis angka yang menggiurkan. Fakta ketiga, fitur ini adalah fitur yang paling bermanfaat untuk HP yang RAM-nya kurang. Ini yang justru jadi ironi ya, virtual RAM itu paling kerasa manfaatnya kalau RAM fisik kalian 4 GB atau 6 GB. Karena dia jadi pengaman biar aplikasi itu enggak dikill sembarangan sama sistem. Tapi justru HP dengan RAM fisik segitu yang paling agresif marketing virtual RAM-nya. Seolah-olah virtual RAM itu bisa nutupin gap itu sepenuhnya. Hmm, tidak bisa. Rodolfo. HP dengan RAM fisik 12 GB ke atas. Nah, virtual RAM itu hampir enggak kepakai buat pemakaian sehari-hari karena ya memang pada dasarnya RAM-nya udah gede dan aplikasi enggak gampang dikill di background. Jadi, kesimpulannya saya tidak bilang virtual RAM itu tidak berguna sama sekali ya. Kalau kalian sering multitasking, sering bolak-balik antar aplikasi, virtual RAM itu bisa bantu aplikasi tetap jalan di background dan itu beneran ada manfaatnya. Yang jadi masalah itu bukan fiturnya. Yang jadi masalah adalah cara brand menjualnya. Nulis 24 GB RAM tanpa disklaimer bahwa 18 GB di antaranya adalah storage yang dipinjam dan hanya ngasih tanda bintang kecil. Itu menurut saya menyesatkan. Konsumen berak tahu apa yang mereka beli dan brand punya tanggung jawab untuk ngasih tahu itu. Video ini hanya sebuah edukasi bahwa smartphone tidak akan jadi smart tanpa penggunanya yang smart. Jadi, mari kita sama-sama belajar biar kita jadi semakin smart. Irwan pamit dan adius. Yeah.
