Jungkat

BUAS, BERINGAS, PANAS! - Review ROG Phone 8 (YouTube Video)

  • 03/04/2024

Satu kata yang terlitas setiap mendengar kata ROG adalah NGEBUT! Begitu juga kalo denger soal ROG Phone terbaru, otomatis otak akan mikir kalo hape ini tuh pasti NGEBUT ya! Sampai seri ke 8 ini, rasanya emang image ROG Phone itu cuma ngebut doang. Mungkin gara-gara ini, Asus pelan-pelan mencoba mengubah stigma netizen soal ROG Phone ini. Kayaknya itulah kenapa, seri kedelapan ini terlihat berbeda, hehe. Sebelum kita mulai bahas soal hape ini, ini dia spesifikasi dari ROG Phone 8. Nah ini adalah poin-poin objektifnya, jadi karena ini review, saya akan fokus ke poin-poin subjektif aja. Kalau kalian nanya kenapa saya pakai kacamata hitam, karena saya ngantuk sob, matanya beler, jadi pakai kacamata hitam biar ga kelihatan lagi ngantuk hehe Saya akan mulai video ini dengan sebuah komplain. Bukan komplain sih, lebih kepada hal yang saya nggak suka, Yaitu desain dari hape ini yang gimana ya?. Saya tahu, bagaimana agresifnya ROG Phone sejak generasi pertama sampai generasi ke-7. Agresivitas itulah yang membuat dia terlihat berbeda dari hape-hape lain, Agresif dengan desain yang ikonik. Tapi saya merasa, terjadi penurunan selera di ROG Phone 8 ini. BTW, ini subjektif banget ya, maksudnya… kalau desain itu soal hati, soal perasaan, jadi bebas kalian mau ngomong apa aja. Tapi ini pendapat saya, soal desain dari ROG Phone 8, yang menurut saya, menurut saya gitu … aneh gitu. Aneh karena… Kenapa kemarin- kemarin sudah ada di jalur yang benar, yaitu jalur Smartphone Gaming gitu, sekarang malah pingin terlihat seperti Smartphone Normal? Kenapa dah!? Kurang agresifnya desain dari hape ini, bikin saya jadi ngerasa kurang tertarik dengan ROG Phone 8. Tapi ini soal desain aja loh ya, soal visual aja. Kalau soal build quality mah… nggak usah diraguin lagi. Frame metal dan body kaca, udah paling mewah semewah-mewahnya ini hape. Itu aja sih yang jadi masalah, desainnya yang… aduh, saya beneran nggak suka, terlalu kalem aja gitu. Terus, saya juga nggak suka sama frame dari kameranya yang… gimana ya, kayak nggak simetris aja gitu, antara jarak dari frame ke atas, dengan jarak dari frame ke kiri gitu. Bentuk kameranya ini, mirip sama Zenfone 11 ultra ya BTW. Tapi ini hanya pendapat saya aja ya, yang secara pribadi, saya memang nggak suka sama desain si ROG Phone 8 ini. Tapi saya yakin, banyak dari kalian yang nggak setuju sama saya, dan suka sama desain ini. Ga apa- apa lho, berbeda itu wajar kan? Jadi ga usah lah menyerang orang lain yang berbeda pendapat sama kita. Aneh kalian yang suka begitu tuh… beneran deh aneh. Tapi, walau jadi terlihat seperti hape biasa, saya tetap senang karena fitur RGB nya masih ada dan ga dihilangkan hehe, tetep ada kerasa sedikit gaming lah ROG Phone 8 adalah salah satu smartphone, dengan layar terbaik yang ada untuk saat ini. LTPO AMOLED, 1 miliar warna, 165Hz, support HDR10, dan punya brightness sampai 1600 nits, dan bisa tembus Sampai 2500 nits dalam kondisi peak. Resolusi layarnya padahal nggak tinggi- tinggi amat, karena cuman FULLHD+ aja, yang mana menurut saya, untuk sebuah hape gaming, memang nggak perlu resolusi yang terlalu tinggi. Jadi fullhd itu udah lebih dari cukup menurut saya. Layarnya juga sudah dilindungi Corning Gorilla Glass victus 2. Selama 2 minggu pakai hape ini, saya merasa layar di hape ini memang enak banget buat main game. Selain karena layarnya yang cukup tajem, warnanya juga nyaman di mata. Responsivitas layarnya di hape ini tuh di atas rata-rata menurut saya. Jujur, saya tuh selalu BIAS kalau ngomongin soal responsivitas di layar smartphone. Karena saya merasa, layar yang punya responsivitas paling bagus hanyalah iPhone. Beberapa flagship Android, gagal membuat saya berpikir, iPhone bukanlah yang terbaik. Tapi hape ini ada di kelas yang berbeda menurut saya! Layarnya akurat banget, responnya cepet banget, dan bener-bener nggak pernah salah. Layar hape ini nyaris saja menjadi layar yang sempurna buat saya, andaikan tidak ada cutout kamera di bagian atas. Iya, ROG Phone 8 ini adalah seri pertama mereka yang menggunakan desain kamera depan kayak gini. Pemilihan desain seperti ini harus dilakukan, kalau memang mau mengejar ukuran bezel yang lebih tipis, terutama bezel atas dan bawah. Kita semua tahu, ROG phone sebelumnya punya bezel atas dan bawah yang tebal, di mana bagian itu adalah tempat diletakkan-nya dua buah speaker yang menghadap ke depan, dan sebuah kamera. Di pengaturan, kita bisa pilih apakah cutout dari kamera ini akan ditampilkan, atau disembunyikan. Cara kerjanya persis dengan bagaimana Apple menyembunyikan notch mereka. Di aplikasi Armory Crate, ada pengaturan Display area, yang bisa bikin si kamera-nya tertutup saat bermain game. Kita bisa pake layar secara penuh dengan cutout kamera yang terlihat, kita juga bisa atur supaya cutout kameranya tertutup, dengan konsekwensi area layarnya jadi lebih kecil gitu, dan kita bisa juga menutup area bawahnya, supaya terlihat simetris saat bagian kameranya tertutup. Saya sih prefer sama pilihan yang ketiga ya, karena dengan kondisi layar seperti ini, menggenggam bagian pinggin hape saat bermain game jadi lebih enak gitu, ga takut mencet layar secara ga sengaja. Kalau ngomongin soal performa, saya bingung mau nyeritain apa ya. ROG Phone 8 ini Ngebut banget anjir. Antutunya tembus di angka 2,1 juta, lebih ngebut daripada Red Magic 9 Pro. Coba dah ente bayangin ya, hape se-ngebut ini bakal lemot, kalau ngejalanin apa? Saya rasa nggak ada deh. Jangan-jangan saking ngebutnya hape ini, dia bisa ngejalanin perekonomian negara kita? Siapa tau khan? hehehe Hape ini hadir tanpa kipas pendingin bawaan, dan saya agak bete sebenernya. Karena percaya atau enggak, ROG Phone 8 ini mengalami THROTTLING yang lumayan parah. Apalagi saat digunakan dalam waktu yang lama, di ruangan yang tidak ber-AC. Penurunan performanya itu sampai hampir setengahnya! Dari hasil pengujian, terlihat kalau stabilitas performanya terjun bebas. Padahal sistem pendingin di hape ini tergolong Advance banget. Bahkan mereka ngeklaim, kalau pendinginan pasif di ROG Phone 8 ini adalah yang terbaik, kata mereka. Teknologi pendingin yang mereka kasih nama GameCool 8 ini di klaim bisa mendinginkan panas hingga 22% lebih baik dari generasi sebelumnya. Mereka bahkan meletakkan konduktor pendingin cepat, diantara SoC dan logam, di dekat penutup bagian belakang. Teknologi bernama Rapid-Cooling Conductor ini dimaksudkan supaya panas yang diserap, bisa merata ke seluruh bagian lapisan thermal. Teknologi ini akan semakin optimal, saat AeroActive Cooler X-nya dipasang, yang mana Cooler yang dimaksud ini nggak ada dipaket penjualan. Jadi mau ga mau, kalian harus membelinya secara terpisah. Kalaupun kalian ga mau membeli secara terpisah, kalian bisa dapetin bonus ini kalau kalian beli hape ini di masa promo. Jadi, setelah masa promonya selesai ya kalian ga akan dapat. Tapi tenang aja, kalau kalian keberatan beli si AeroActive Cooler X ini, karena harganya memang nggak murah, Kalian bisa beli cooler punya Xiaomi ini, Seperti yang saya pakai. Karena ternyata, cooler ini bisa bekerja dengan sangat baik. Saya coba lagi pengujian THROTTLING dengan kondisi cooler terpasang, performa hape ini jadi jauh lebih stabil dan dingin sob. Artinya, kita bisa main game berjam- jam tanpa takut mengalami overheating. Sebenarnya saya bingung ya, bagaimana menjelaskan betapa cepatnya SoC yang yang dipakai di ROG Phone 8, sampai-sampai nggak ada game nggak lancar dimainin di hape ini. Tapi saya akan tetap coba beberapa game yang menurut saya paling berat ya, yang bisa kalian coba di hape kalian. Dan kalian akan lihat betapa lancarnya hape ini menjalankan game-game tersebut. Yang pertama tentu saja adalah Genshin Impact dengan settingan mentok rata kanan. FPS yang didapat stabil di kisaran 55-61 FPS. Sayangnya, game ini cuma mentok di 60 FPS aja, nggak bisa lebih dari itu. Game kedua adalah Honkai Star Rail. Game ini juga saya mainkan di settingan mentok rata kanan. Frameratenya staibil di kisaran 57-61 FPS. Dan game ini juga mentok di 60 fps Udah dari sononya gitu, jadi ga bisa naik lagi. Game selanjutnya adalah PUNISHING GRAY RAVEN. Dengan settingan mentok rata kanan, frameratenya stabil di kisaran 56-61 FPS. BTW ini game seru parah sih, kalian harus coba! Next, saya main Real Racing 3. Di game ini, framerate yang didapet mentok di 166 FPS! Buset dah, enak bener sumpah main real racing di hape ini! FPSnya bisa sampai 165 coy hehe. Dan terakhir, saya main cod warzone. Hape ini bisa jalan di settingan HIGH, alias mentok. Saat saya set FPS nya tanpa limit, in-game, saya bisa dapetin framerate stabil di kisaran 55-60 FPS. Untuk bisa bermain game secara maksimal, ada fitur Game Genie. Didalamnya ada beberapa fungsi yang bisa bikin experience main game kita jadi lebih maksimal. Salah satunya adalah, AirTrigger. Jadi airTrigger ini adalah tombol trigger non-fisik, yang memanfaatkan Assistive touch dengan vibrasi, seolah-olah rasanya seperti mencet tombol fisik beneran. Saat pertamakali fitur ini diperkenalkan oleh ROG dulu, AirTrigger ini keliatan keren banget. Saya yakin, banyak yang suka dan pake fitur ini. Tapi jujur, merasa ga nyaman sama fitur ini. Ga tau kenapa, saya merasa AirTrigger ini kerasa kurang presisi aja gitu, sangat berbeda dengan tombol fisik. Jadi, kurang presisi, kurang akurat dan bikin kita ga yakin buat mencetnya. Saya merasa, response layar di hape ini lebih cepat dibandingkan response si AirTrigger. Saya tahu, ini agak bias. Tapi saya nggak nyaman pakai Trigger ini, waktu main game-game yang ... cepat banget dan membutuhkan respon yang cepet gitu. Kalaupun saya harus menggunakan AirTrigger Ini, fungsinya bukan untuk AIMING ataupun SHOOTING, tapi untuk beberapa fungsi lain, seperti crouching atau jumping. Selain AirTrigger, saya juga suka sama fitur Real-time Info. Jadi kita bisa liat beban kerja CPU dan GPU, batere, temperatur, dan kita bisa lihat berapa FPS dari game yang kita mainkan, tanpa harus install aplikasi pihak ketiga. Suara yang keluar dari dua buah speaker di hape ini kenceng banget sob, nyaring banget, dan enak banget. Saya merasa, suaranya lebih enak daripada iPhone saya, atau bahkan Galaxy S24 Ultra saya. Suaranya nyaring dan tebel, frekuensi low nya beneran kerasa. Kayaknya, ini adalah salah satu smartphone dengan kualiats dual speaker terbaik yang pernah saya coba. Untuk per-audio-an, hape ini punya segalanya. Mulai dari Hi-Res Codecs yang lengkap, Snapdragon Sound, DIRAC Virtuo, dan sudah pasti masih kita temukan Jack audio. Hape ini lebih tipis dibandingkan versi sebelumnya. Konsekuensi dari body yang lebih tipis ini adalah, ukuran baterainya jadi lebih kuat kecil. Ukuran baterainya adalah 5500 mAh, berkurang 500 mah dari versi sebelumnya. Tapi daya tahan baterai di hape ini sungguh di luar Nurul. Bayangin aja, normalnya, hape lain dengan kapasitas baterai yang mirip kayak gini hanya bertahan sekitar 13 sampai 15 jam aja. Tapi hape ini bisa bertahan sampai 21 jam lebih! Seumur-umur, belum pernah saya nemu hape yang bisa bertahan selama ini. Protokol chargingnya juga lengkap, mulai dari 65 watt power delivery 3.0, hingga 15 watt wireless charging. Beruntung, dalam paket penjualan, masih bisa kita temukan kepala charger, dan kabelnya. Waktu yang dibutuhkan untuk mengisi baterai dari 5% sampai penuh, memakan waktu 49 menit aja, dan ini ngebut. ROG Phone 8 pake android 14 untuk sistem operasinya. Ada 2 pilihan tampilan yang ditawarkan, tampilan ala gaming dengan ROG UI, atau kita juga bisa pake tampilan ala google stock. Kalo saya, jelas pilih yang google stock. Karena ga suka sama tampilan ala- ala gaming gitu, norak soalnya. Terakhir, kita bahas soal kameranya. Sektor kamera di hape ini mengalami peningkatan, di mana kali ini, kita tidak akan menemukan lensa makro lagi, melainkan sudah diganti oleh sebuah lensa telefoto beresolusi 32 megapixel, yang sanggup melakukan zoom secara optical hingga tiga kali. Enggak cuma itu, bahkan, lensa telefoto ini sudah punya OIS, begitupun dengan lensa utamanya yang beresolusi 50 MP. Ketiga kamera belakang hape ini memiliki sensor yang berbeda-beda. Kamera utama beresolusi 50 mp-nya menggunakan sensor Sony IMX890, sementara lensa tele nya menggunakan sensor buatan Samsung yaitu JD1SM15. Dan lensa Ultra white-nya menggunakan OmniVision OV13B. Secara default, foto yang ditangkap oleh kamera di hape ini resolusi 12 megapixel. Kualitas foto yang ditangkap menurut saya cukup bagus, dengan detail yang cukup banyak, plus warna yang cenderung natural. Tapi saya merasa Dynamic Range di hape ini kurang begitu agresif. Akibatnya, beberapa kali foto terlihat agak gelap, terutama untuk foto-foto dengan sumber cahaya yang cukup banyak. Sekilas saya melihat, kalau foto yang ditangkap hape ini lumayan terlihat cukup oversharpening ya. Kelihatan banget ada proses yang membuat foto jadi terlihat lebih tajam, yang pada akhirnya kalau kita lihat secara seksama, fotonya jadi kelihatan ga alami gituloh. Atau bahasa kerennya tuh, too much processing. Satu hal lagi yang saya nggak suka dari hasil foto hape ini adalah, white Balance nya sering banget ngaco, terutama untuk dalam ruangan. Beberapa kali foto yang diambil terlihat terlalu cool padahal, kondisi ruangannya agak kuning gitu. jadi, ya begitulah. Normalnya, smartphone dengan resolusi yang sangat tinggi akan memberikan akses langsung untuk menggunakan resolusi penuh dengan cara yang mudah. Biasanya, mereka naruh sebuah shortcut di UI kameranya. Tapi, di hape ini terasa lebih ribet. Karena untuk memaksa si hape mengambil foto dengan resolusi 50 MP, kita harus ke setting dulu, terus pilih Camera Resolution, dan pilih 50MP. Di resolusi 50 MP ini sudah pasti kita akan bisa menangkap detail yang lebih banyak dan kita bisa dengan mudah melakukan cropping pada gambar tanpa takut kehilangan banyak detail. Lensa ultrawide beresolusi 12mp juga bisa menangkap foto yang cukup bagus cukup detail, dengan warna yang vibrant. Saya suka, karena biasanya lensa ultrawide punya kualitas yang jauh dibawah lensa utamanya, dan punya tone warna yang cenderung berbeda. Walau lensa ultrawide dan lensa utama di hape ini punya sensor yang berbeda, nyatanya tone warna dari kedua lensa ini tidak terlihat jauh berbeda, nice. sedangkan kamera depannya juga semakin besar yaitu 32 megapixel dengan sensor OmniVision OV32C. Hasil foto selfienya saya suka, lumayan bagus dan tajam, walau belum autofocus. Vocal legthnya juga ternyata cukup lebar, jadi bisa muat lebih banyak daripada kamera depan di hape pada umumnya. Foto selfienya nangkep detail yang cukup banyak, dynamic rangenya juga lumayan, dan white balancenya ga terlalu melenceng. Skin tone yang ditangkap juga bisa di maintain dengan cukup bagus. Muka saya ga lantas jadi keliatan aneh gitu, seperti kebanyakan hape- hape selfie pada umumnya. Jadi, kesimpulannya saya merasa hape ini adalah hape yang paling worth it untuk dibeli di range harga 10 jutaan lebih sedikit. Saya juga masukin hape ini kekategori smartphone dengan SoC paling ngebut dan paling murah yang bisa kalian beli. Sebenernya harganya 11-12 sama IQOO 12 ya. Tapi masalahnya fitur dari ROG 8 ini jauh lebih banyak daripada IQOO 12 yang mengaku sebagai smartphone gaming tapi ternyata fiturnya ga gaming-gaming banget gitu hehe. Saran saya segera beli hape ini di masa promonya karena denger-denger di masa promonya kalian akan dapetin air active cooler secara gratis. Jadi, setelah promo udah pasti kalian harus belinya terpisah. Karena cooler itu penting banget sob dan kayak crush yang ada di hape ini jadi seolah-olah hape ini ngga optimal buat main game kalau ngga ada cooler itu. Ya opsinya ya kalian beli cooler pihak ketiga yang mana itu sudah lebih dari cukup sih. Air active coolernya Xnya keren loh cakep ya origi banget lah hehe. Yaudah segitu aja bahasan singkat saya soal ROG Phone 8 ini Klik tombol like kalau sobat suka dengan video ini dan kita akan ketemu lagi video berikutnya, Irwan Pamit dan ADIOS.

Lihat di YouTube