Jungkat

BYD Atto 1 dibawa sampai lowbat 😱 (YouTube Video)

  • 16/08/2025

[Musik] Sekarang kita pengin cobain DYD At One. Mobil yang di GIAs 2025 kemarin susah banget diakses gara-gara seabrek orang yang penasaran sama mobil ini. Sekarang kita bisa cobain dan kita cobain dari Semarang, Solo ke Jogja. Gimana rasanya? Ya, tadi kita udah muter-muter, kita lewatin ee Lawang Sewu terus muter-muter sebentar di simpang 5 itu muter-muter udah kayak orang mau tawaf. Ada mungkin sekitar 4 L kali tujuh kali mungkin. Dan ini kita jalan sekitar 9 atau 10 km. Dan jangan lupa si Byd atau One ini dia tuh harganya start dari kurang dari R00 jutaan atau bahkan mungkin yang tipe paling mahalnya itu R00 jutaan kecil. Nah, di harga segitu mobil kayak gini kan dulu tuh diisinya sama apa? Serutan pensil yang ngaku-ngaku mobil ya. Pintunya cuma dua, bentuknya kotak segala macam. Cuma kalau si BYD Aton ini dia tuh bentukannya kayak beneran mobil ee bentuknya lumayan gede, enggak terlalu kecil dan pintunya ada empat. Jadi kalau di mobil lain kita kan ada jok belakang sih, cuma harus milih antara bawa orang atau bawa barang. Nah, di mobil ini kita bisa bawa orang, empat orang dan barang. Enggak harus milih antara pengen bawa orang atau bawa barang di belakang. Kedua, soal penampilan yang tadi gua bilang, dia tuh beneran kayak mobil gitu. Jadi bukan kayak baik lagi surutan pensil dikasih roda dan ya kalau kalian lihat sih bagian depannya sih agak-agak Lamborghini Hurakan KW Super ya. Bagian depan mukanya, lampunya segala macam. Tapi kalau pakai warna kuning atau hijau stabilo gini sih lumayan mencolok ya di jalanan. Dan balik lagi e dengan harga segitu gua bilang sih tampilan mobil ini cukup menjanjikan ya. Dan dengan sebuah brand yang persepsinya lumayan bona fit seperti itu. Oke, sekarang kita udah keluar dari apa? Gerbang tol Jatingaleh. Kita lanjut tol ke Solo dan ini udah 12 km. Sisa jarak tempuh 280 km. Tadi kita sudah bahas bagian luarnya, sekarang bagian dalamnya. Pertama sama sih dari setir ini setir yang identik sama BYD seal ya ee yang pertama kali seal nyampai ke sini. Dan kedua, biarpun sebenarnya ini mobil terjangkau, jadi gua udah expect gitu di bagian interiornya. Tapi bagian-bagian yang kena sentuh sama mungkin sikut kita atau mungkin tangan kita ini dibikin empuk. ambil contoh di pintu sama di konsol tengah sini dia dapat bahan-bahan yang empuk-empuk. Jadi lumayan enak buat kita istirahatin tangan kita. Dan kalau misalnya kalian jeli, kita bakal lihat tombol-tombol di bagian sini yang power window terus spion segala macam itu desainnya mirip tombol-tombol MercedesBenz. Jadi kita bisa dapat nuansa Mercedes-Benz di sini dengan kocek belgedes Benz. Dan sekarang kita lagi cobain yang tipe dynamic. Jadi ada dua varian dynamic sama premium. Kita cobain yang paling murahnya. Dan di sini semuanya sebasic-basicnya apa yang kita dapat dari sebuah mobil itu kita bisa expect di sini. Dia joknya manual, tapi kalau misalnya kita tipe penginnya lebih tinggi, tipe premium, dia joknya elektrik. Dan dia tuh posisi duduknya agak tinggi ya, agak-agak kayak crossover enggak sih? Jadi bayangin kalian duduk bisa di Toyota Race, Daturokei atau mungkin Honda WRV gitu-gitu. Ini mirip sama mobil ini. Padahal ini bukan crossover, ini kayak city car atau mungkin ukuran LCGC gitu ya. Tapi posisi duduknya itu agak tinggi, agak comending, dan dia enggak bisa diturunin. Jadi ya udah tingginya segini. Dan kalau di tipe dynamic ini setirnya cuma bisa naik turun dan enggak bisa maju mundur. Tapi kalau di tipe yang premium, dia bisa naik turun dan bisa maju mundur. Sisanya kita bisa expect kayak misalnya instrumen yang ee kalau misalnya kalian lihat byy line ini mungkin agak kurang tapi baik lagi harganya terjangkau dan masih ada tombol fisik di seketir. Jadi bukan touch panel ini benarnya tombol. Yang kanan ini buat ngatur volume multimedia, voice command segala macam. Dan yang kiri ini buat ngatur cruise control ee mid dan lain-lainnya seperti itu ya. Mobil ini bahkan di tipe termurahnya dia udah punya cruise control. Dia bukan ADAS, bukan adaptive cruise control. Jadi enggak ada teknologi eh advance yang gimana-gimana, enggak cuma cruise control basic. Tapi ini udah cukup kalau misalnya buat mobil-mobil kayak begini. Nah, di layar tengahnya dia mungkin layarnya kecil ya buat ukuran mobil China atau mungkin buat ukuran BYD gitu ya. Dan dia enggak bisa muter kayak mungkin layarnya Dolphin atau tiga M6 atau seal dia enggak bisa muter tapi baik lagi itu cuma gimmik enggak penting juga. itu cuma buat bahan sales biar bisa jualan di dealer. Tapi semua di sini bisa dibilang cukup lengkap. Ambil contoh ada Apple CarPlay, Android Auto dan bisa wireless juga buat dua hal itu. Nah, kalau misalnya kalian apa namanya? Tahu kan mobil-mobil Tiongkong kan kadang-kadang SE-nya di kiri, wipernya di kanan. Nah, ini kalau misalnya kalian lompat dari mobil Jepang, katakanlah mungkin LCGC gitu kan ke mobil ini kalian tidak akan terlalu asing karena dia tetap SE-nya di kanan, lampu juga di kanan, wipernya di sebelah kiri. Jadi gampang buat familiar dengan mobil ini. Cuma ada cumanya kalau kita bicara jumlah kantong, mobil ini sebenarnya enggak gitu banyak kantongnya. Ya ada golf box, ya ada kantong di pintu, terus ada juga kantong di sini. Tapi di konsol tengah sini ini enggak ada kantong yang bisa dibuka atau sejenisnya. Dan di belakang juga sama enggak ada kantong yang terlalu lega. Terus jok belakangnya juga cuma one piece ya. Tapi jadi kalau misalnya kita dilipat tuh enggak bisa dilipat secara terpisah kayak di beberapa mobil lagi. Jadi ya udah antara kelipat semua atau enggak kelipat semua dan enggak ada colokan buat ngecas gadget kita di belakang. Ini mobil listrik terutama ini tahun 2025 agak sayang mobil ini enggak bisa ee ngecas buat numpang belakang. Minimal satu deh kasih. Dan buat tipe dynamic ini dia power for window drivernya dia bisa auto down tapi enggak bisa auto up. Tapi kalau di tipe premium dia bisa auto down dan auto up. Nah, kalau bicara fitur dia punya satu feature yang kalau boleh gua bilang cukup menarik dan jarang-jarang kita temui di sebuah mobil apalagi yang harganya kayak gini. Jadi dia punya feature sejenis karaoke ya. karaoke. Jadi, e kalau misalnya kita download aplikasinya ada di BYD Store atau intinya di App Store di sistem infotainment si BYD ini, kita bisa download aplikasi karaoke itu. Dan enggak cuma itu, kita bisa dikasih atau mungkin kita bisa pilih ya buat dapetin set mikrofon lengkap dengan USB dan segala macamnya. Dan ini bahkan kotaknya aja kelihatan bagus. Mikrofonnya pun dibranding di WYD. Jadi, kita bisa e milih dari sekitar 80.000 lagu. mau lagu dari bahasa China, Indonesia, mungkin Inggris juga ada. Dan lagunya tuh macam-macam. Mau yang klasik, mau yang new hit, semuanya ada. Dan itu kita bisa nyanyiin. Nah, kita cuma bisa nyanyiin misalnya di kala mobil ini lagi ngecas atau mungkin posisi berhenti. Kalau P, dia liriknya bakal tayang di layar sini. Tapi kalau kita masih di posisi nyetir gitu ya, liriknya enggak bakal tayang di layar sini. Jadi kita bisa di sini ada QR code yang bisa kita scan buat liriknya tampilin di HP kita. Jadi, ee mungkin penumpang bisa baca liriknya tuh dari HP aja sambil nyanyi-nyanyi. Drivernya kalau tahu lagunya juga bisa ikutan nyanyi-nyanyi. Baik lagi mungkin itu ee buat hiburan doang, tapi kenapa enggak gitu kara dalam mobil gitu kan. Sama kalau misalnya kalian ngelihat ruang mesinnya terus kalian lihat ini mobil akinya mana. Jadi kalau misalnya pengin ganti aki atau amit-amit mobilnya lagi mau gua pengen jumper gimana? Akinya ada di bawah jok penumpang depan. Jadi kalau kalian geser, kalian bisa lihat itu akinya ada di situ. Efektif buat packaging, ribet buat maintenance. Nah, ketiga kalau misalnya nih amit-amit nih lagi ngecas terus katakanlah ada error entah dari aplikasi atau dari mungkin ee SPKLU-nya terus kita enggak bisa cabut ee kabelnya, itu ada emergency buat kita bisa cabut kabelnya. Jadi di ruang mesin di apa kita buka dulu ke mesinnya. Terus di situ ada handle atau loop gitu yang bisa kita tarik buat ng-rilase mekanisme pengunci di lubang colokannya. Kita tarik itu dan kabelnya bisa dicabut. Oke, itu semua tentang sekilas mobil ini termasuk mungkin beberapa yang kalian belum tahu sekarang gimana nyetir si BYD atau one ini? Jadi kita udah ngerasain mobil ini dan ini udah sejauh 28 km, baterai 84%, sisa 252 km dan ini di tol. Di dalam kota mobil ini enggak ada masalah karena dia kecil, selap-selip gampang, nyempil sana, nyempil sini gampang. Setirinnya ringan dan kalau misalnya kalian pikir ini kan mobil listrik, pasti jambakannya gila nih. Ee tergantung. Jadi kalau misalnya ya misalnya kita dari posisi diam terus kita bejek gitu ya dia tuh tarikannya masih dalam tanda kutip sopan gitu jadi enggak ngejampak banget enggak bikin kita uh gitu enggak bikin kaget tapi kalau misalnya kita ee kick down dari kecepatan pas sudah jalan ke tangan kita kick down di sekitaran 10 20 30 atau mungkin 40 km/h itu emang berasa e torsi instan khas mobil listrik tapi kalau udah di kecepatan di atas itu karena 50 ke atas kita kick down lagi kayak gini misalnya ya dia tarikannya itu enggak terlalu berasa gitu malah mungkin menjurus hampir enggak ada tapi balik lagi ini kan mobil perkotaan intinya dan bahkan mobil ini top speed-nya cuma di sekitar 130 m/ cuma segitu aja jadi kalau kalian pakai mobil ini di tol kalau misalnya pengin mentokin gasnya ya maksimal 130 juma segitu enggak bisa diapa-apain lagi gitu kan itu dia. kan e bicara soal pemakaian dalam tol gitu ya, ini mungkin emang berasa sedikit lebih mobil daripada ya mobil yang gua sebut tadi lah karena mungkin lebih gede juga dan sebenarnya dia tuh diameter peleknya lumayan ya 16 inci tapi mungkin kalau kita bicara lebar ya mungkin dia enggak terlalu lebar juga tapi ee mungkin berkat bodinya yang lebih gede dan pelegnya juga lebih gede juga bikin mobil ini kerasa di ba itu sedikit lebih mantap gitu ya daripada mobil listrik e mikro yang selama ini beredar di pasaran gitu. Tuh. Tapi biarpun gua bilang gitu, dia tuh setirnya tetap enteng gitu ya. Kalau bantingannya sendiri dari tadi kita cuma nemu jalan yang mulus gitu ya. Mobil ini berasa agak kaku sih kalau boleh jujur. Tapi kalau misalnya kita nemu jalan berlubang, entar kita coba lagi deh kayak gimana. Terus kalau respon gasnya ya tergantung kita di mode normal ya. Normalnya kayak begini. Kalau pengin gasnya lebih bagus dikit, kita bisa masukin mode sport segala macam. Dan e feature yang gua suka adalah biarpun mobil ini tanda kutip terjangkau gitu ya buat ukuran mobil listrik atau terjangkau sih dia punya auto brake hold. Jadi kalau kita macet-macetan gitu kita enggak usah capek-capek injak pegal tekan auto break hold di sini dan kita bisa lepas kaki kita daripada rendar mobil tidak akan ee ngegloyor gitu ya. Dan gua juga senang masih banyak tombol fisik di sekitar sini. Meskipun beberapa kontrol AC itu dari layar satu misalnya kayak buat e ngarahin apa namanya anginnya ke mana segala macam. Untungnya masih ada tombol fisik buat volume, driving mode, hazard, break hole tadi macam-macam dan bahkan buat eh apa namanya? Devoger kaca depan itu bagus. Dan bicara soal defoger, bahkan di tipe yang varian dynamic ini yang paling terjangkau, dia punya devoger belakang. Soalnya ada beberapa mobil rentang harga 100 itu cukup pelit buat engak ngasih devogger belakang. Jadi gua cukup impress dengan spek mobil ini. Jadi semua yang basic-basic dikasih tapi ada beberapa pelengkap kayak misalnya karaoke, auto, auto break tadi dan Apple CarPlay, Android Auto, bahan-bahan empuk. Itu dia mobil ini. Jadi semuanya basic tapi dikasih plus-plnya bukan plus-pl. Oke, ini kita istirahat sebentar di KM 456 rest area. Sisa baterai 69% ee jarak tempuh sisa 209 km. Dan ini enggak ada eco driving sama sekali. AC nyala di level sekitar 34, nyalain musik segala macam dan semuanya ya kayak kita nyetir biasa aja lah. Nanti kita lanjut ya. Sekarang kita udah di Colo Madu di Solo jadi Semarang Solo dan sisa baterainya segini. Jadi udah berkurang kira-kira sekitar 30 40% 40%-an lah. Dan ini kita bakal lanjut sampai Jogja. Kira-kira sampai Jogja berapa? Nanti kita lihat aja. Ya, sekarang kita posisi dari Colomadu kita pengin ke Abayri. Posisi baterai 50% dengan sisa jarak tempuh ee 151 km dan kita udah jalan sekitar 100 kman ya. Dan tadi gua lupa bilang bahwa kalau misalnya di tol kadang-kadang kan kita suka gerakin setir kanan kiri dikit-dikit gitu buat kayak ngelurusin mobil gitu kan. Ini mobil tuh bagian belakangnya berasa agak ngelayang. Belakangnya doang ya. Jadi belakangnya tuh kerasa kayak gelg terus kayak ngambang gitu kayak enggak mantap gitu di bagian belakangnya. Dan kalau misalnya pun kita ngerem pakai mobil ini jujur kalau misalnya kalian terbiasa dengan mobil biasa ya LCGC gitu misalnya terus pindah ke sini kalian harus adaptasi lagi sama e feeling dari pedal remnya dan seperti mobil listrik lainnya dia punya rative breaking gitu ya. Jadi ee dia bisa apa namanya? kayak sejenis engine breaking gitu, tapi dia enggak bisa one pedal driving. Nah, beberapa detail lain kayak misalnya di luar gua lupa bilang kalau misalnya dia ada tulisan kayak blade battery di bagian sampingnya mungkin buat branding aja kali ya. Dan ya mobil ini pakai blade bater yang dynamic itu bisa sekitar 300 km kalau full charge dan yang premium itu 380 km karena baterainya lebih gede juga. Nah, kalau soal ngecas dia dari 30 ke 80% itu bisa sekitar 30 menitan. Tapi fast charging buat kedua tipe itu beda-beda. Yang dynamic itu 30 kW maksimal. Yang premium 40 kW. Ini sekarang kita masih di tol ngarah ke tempat kita tadi gua lupa namanya. Tapi sekarang mumpung di tol, gua juga pengen bahas soal kekedapan kabinnya gitu ya. Jadi kalau misalnya di kecepatan ini kita lagi steady di kecepatan 100 km/h, kita bisa sedikit dengar suara angin tuh dari sekitar spion sama karena ini kita lagi lewatin jalan beton gitu ya, sedikit kedengan dari bawah. Tapi buat mobil 200 jutaan, R jutaan lah ya. Ini hitungannya lumayan loh peredaman suaranya. Padahal kalau kita lihat ke kolong di bagian belakang itu dia tuh enggak ada apa-apa kayak enggak ada peredam, enggak ada kain, enggak ada cover plastik. itu cuma kelihatan aja udah panel sasisnya, bodinya segala macam itu kelihatan catnya segala macam, tapi bahkan peredamannya lebih bagus dari beberapa LCGC ya. Cukup amazed gua ya. Baik lagi mungkin kalau dikasih peredam di bagian belakang akan lebih baik tapi buat mobil R00 jutaan peredaman suara kayak gini sih lumayan loh. Oke sekarang kita udah sampai di Jogja dan ini kita udah ganti mobil ya. Kalau kemarin kan warna kuning, sekarang warna hitam. Dan kalau total efisiensi dari Semarang, Solo ke Jogja, kita lewatin dalam kota, tol, tanjakan segala macam, kita dapat rata-rata itu sekitar 14 kWh per100 km. Jadi kalau kita kaliin sama kapasitas baterai mobil ini mungkin aktual jarak tempunya kan kalau diklaimnya 300 kilo, mungkin aktualnya sekitar 214 km. Buat yang varian dynamic ini sedikit di bawah klaim. Enggak sedikit sih jauh tapi ee ya udahlah itu kan kondisi kita nyalain AC agak kencang terus ngebut iya nanjak ia segala macam dan muatan juga penuh ya. Jadi mungkin 214 emm kalau buat dalam kota aja mungkin enggak terlalu masalah kali ya. Oke jadi gimana mobil ini? Well, kalau misalnya kalian emang butuh sebuah mobil kedua buat mungkin teman-tem sekolah, ke kantor, ke kampus, jemput anak, ini adalah mobil yang lebih proper daripada microkar yang udah sering kita lihat. Pintunya ada empat, ada bagasi juga dan beberapa feature-feature kayak misalnya brake hold, layar yang bagus, cruise control, itu adalah sebuah feature yang welcome kapan lagi ya, kita kan biasanya ngelihat mobil 100 jutaan agak kosongan. Ini bisa dikasih beberapa yang nice to have, bukan must have ya. Tapi kalau dari kekurangannya, dia jujur nyetirnya tuh enggak sebagus beberapa mobil lain. Maksudnya adalah kalau misalnya di tol dia kalau misalnya kita belok-belok agak goyang-goyang dikit gitu bagian belakangnya dan feeling pedar remnya juga enggak terlalu meyakinkan gitu ya. Beberapa mobil kayak gua sebut merek ya, Toyota Agia GR sama mungkin Honda Bri itu nyetirnya memang lebih baik. Iya, tapi harganya juga jauh lebih mahal daripada mobil ini. Ini harganya masih relatif masuk akal buat sebuah mobil kecil, apalagi dia tenaga listrik gitu kan. Jadi, penghematannya itu kalau misalnya dipakai tiap hari itu lumayan besar. Dan apakah ini bisa menggantikan mobil-mobil kecil, let's say LCGC gitu ya buat jadi mobil satu-satunya buat sebagian besar keluarga Indonesia? Kalau jawaban dari kita belum sepenuhnya. Karena gini, kalau misalnya anggaplah ada keluarga kecil gitu ya, baru berkeluarga, baru punya anak gitu, baru masih merintis karir, kalau mereka butuh satu mobil aja mereka masih akan milih LCGC karena itu mobil bisa buat apa aja. Mungkin narik taksi online, mudik kan kita enggak jarang ngelihat orang mudik pakai Agia, Aya, Brio gitu-gitu. Kalau ini bisa buat mudik, tapi ya emang butuh perencanaan hemat sebagaimana mobil listrik pada biasanya. Apalagi renang-nya juga terbatas ya 200 300 km ya. ini bakal tetap jadi mobil kedua, ketiga, keempat, dan kesekian buat orang yang udah bisa membiayai lebih dari satu mobil. Tapi kalau buat jadi mobil satu-satunya buat sebuah keluarga kecil ee masih agak long way to go. Tapi ini sebuah progres yang bagus dari BYD untuk meramaikan kancah mobil listrik di Indonesia. Oke, sekian dari kita. Thank you sudah nonton. Jangan lupa jempolnya, komentar, dan subscribe.

Lihat di YouTube