Cobain HP TERKENCANG 2025! (YouTube Video)
Buat gua, Red Magic 11 Pro ini kandidat terkuat rajanya HP gaming. Selain punya performance yang buah, cooling systemnya juga bertumpuk-tumpuk. Belum lagi fitur gaming-nya berlimpah ruah. Terus desainnya wah idaman gamers banget. Tapi dari segala kemewahan ini beneran kepakai atau cuma gimmik aja? Terus komplain gua apa aja? Yuk, kita bahas. Oke, kita mulai dari boknya dulu yang super gede. Sebagai perbandingan ini boknya V60 dan sampai berlipat-lipat ya ukurannya. Ini isinya HP atau PS5 ya. Di sekelilingnya ada logo sama nama HP dan punya gue yang varian 16+ 512. Wah, unboxing kali ini bakal mewah banget kayaknya. Dan terjawablah kenapa bisa gede gini. Ternyata ada controllernya juga yang namanya Red Magic Shadow Blade Game Pad 2. Nanti kita kepoin setelah ini. Terus ini dia box HP-nya dan gua coba korek-korek lagi. Udah enggak ada sih. Mari kita unbox HP-nya dulu. Pas dibuka kayak biasa ada kotak lagi yang isinya SIMP ejector dan hard semi transparan garis-garis. Habis itu ada HP-nya yang kita ke sampingin dulu. Kabel charger warna merah type C ke type C. Dan terakhir kepala charger 80 wat. Gil salpok banget gua sama HP ini. Pas dinyalain langsung disambut sama Red Magic OS 11 berbasis Android 16. Ya, terus kayak biasa setup-setup dulu. Dan buat kalian yang peduli sama storage dari 51 gig out of the box ini udah kemakan 32an gig. Dan next kita unbox game controllernya yang simpel aja sih. Yang di dalamnya ada box lagi warna putih. Terus di tengah sini ada kotak hitem yang isinya kertas-kertas yang kita jarang baca. Terus ini controllernya dan tiga tombol ekstra dengan tekstur yang beda-beda tuh. Gil tombolnya banyak banget dah. Nanti kita explore lebih lanjut. Impresi gua sama HP ini, definisi HP gaming yang sesungguhnya. Desainnya masih mirip kayak model sebelumnya. transparan dengan lampu joget-jogetnya yang meriah di berbagai sisi. Belum lagi ada bulutan gede di belakang sini yang muter-muter warna biru. Bukan Mark save, tapi ini liquid cooling yang mana alirannya ini bisa kita atur di settings ya. Bisa dinyala matiin ataupun seberapa cepat alirannya jalan. Keren. Dan pas gua sentuh emang ada berasa adem gitu sih. Selain itu, lampu-lampu di sini juga bisa diubah. Ada berbagai warna nih dengan beberapa pola nyala. Btanya lampunya enggak cuman logo red magic di belakang ya, tapi shoulder trigger kanan sama kiri sini sama bagian bawahnya. BT kedua ini bukan tombol ya, dia enggak bisa dipencet tapi lebih kesentuhan. Habis itu buat kipasnya enggak lupa bisa diatur juga lampunya dan lebih canggih lagi karena bisa pilih warna kombinasi gitu. Terus kita juga bisa atur kecepatan kipasnya plus sound effect pas kita nyalain kipas ini. Kalau pas remang-remang sih ini HP bakal kelihatan hidup banget. Belum lagi bentuk ngotaknya yang beneran ngotak karena di bagian belakang itu beneran rata, enggak ada kamera bum sama sekali. Bahkan di bagian kipas ini enggak ada lubangnya ya, karena dia keluar masuk udaranya itu di bagian frame HP. Cuman sebenarnya ngaruh enggak sih model kipas kayak gini? Tenang, nanti gua bakal buktiin pakai data buat suhu dan konsumsi daya saat diaktifin. Oh ya, enggak lupa. HP ini juga punya lubang kebahagiaan buat para gamer, yaitu headphone jack. Plus ada tombol merah imut ini namanya magic key. Default-nya itu buat masuk ke game space. Tapi kalau gak suka bisa diubah buat kamera, flashlight, bahkan shortcut lain. Terakhir ini salah satu alasan gua suka sama HP ini, yaitu layarnya bersih euy. Enggak ada tompel ataupun punch hole. Kamera selfie-nya disembunin, disembunyiin, sembunyain. Kamera selfie-nya disembunyiin di bawah layar. Jadi kalau mau nemuin agak susah sih mesti dimatiin dulu dan lihat dari sudut tertentu. Overall HP ini cukup gede dengan tebal 8,9 mili dan berat di atas rata-rata 230 gr. Tapi buat device gaming gua rasa udah pas lah ya. Apalagi dari sisi layar enggak ada gangguan tompel. Plus belakangnya yang flat bikin rasa insecure nyenggol bum kameranya enggak ada sama sekali. Kalau ngomongin spesifikasi termaksud wow. Untuk layar bisa dibilang mirip dari pendahulunya. Sama-sama 6,85 inch under display. Terus performance pakai chipset terkuat Snapdragon saat ini Snapdragon 8 Elite Gen 5 dan kedapatan chipset tambahan red core R4 yang berfokus pada gaming performance, visual lebih smooth, dan pengaturan cooling. Loh, kenapa cooling aja sampai perlu chipset sendiri, Bang? Karena performance suatu HP itu enggak cuman seberapa ngebut, tapi seberapa hebat bisa meredam suhu yang dihasilkan dari performance buasnya. Dan mereka sampai namain Red Magic Aqua Core Cooling System. Di dalamnya ada Flowing Liquid cooling, teknologi yang biasa dipakai PC, dan ini HP pertama yang diproduksi massal pakai pendekatan yang sama. Habis itu ada turbo fan yang sekarang udah waterproof ya. Dan secara kecepatan juga meningkat dari 23.000 1000 RPM di 10 Pro lalu, sekarang 24.000 RPM. Dari sisi favor nih, sekitar 13.000an mm². Plus di atasnya dilapisin lagi sama liquid metal 3.0. In real sebenarnya lebih kompleks lagi. Yang kalian bisa lihat di sini gambarnya sampai berlayer-layer gitu. Terus gimana dengan benchmark? An tuh tembus 4,2 juta, coy. Skor tertinggi yang pernah gua cobain dan selisihnya sekitar R00.000 R000 kalau dibandingin sama dua Snapdragon 8 Elite Gen 5 lainnya, Poco F8 Ultra dan IQ 15 dip,8 juta. Kalau buat Geekband lebih tinggi juga tapi enggak sejauh Antutu tadi. Bt buat yang penasaran jagoan mana antara Poco F8 Ultra dengan IQ 15, gua lagi siapin video duel kedua HP ini. Jadi biar enggak ketinggalan, kalian subscribe kalau belum, ya. Segera videonya gua masak. Nah, sekarang pertanyaannya gimana dengan 3D Maa? Di sini gua bakal tes dua kali mulai dengan tes tanpa cooling buat tahu seberapa jauh bedanya sama yang nyala. Dan hasilnya HP ini sampai mati di loop ke 18 dong karena suhunya tembus 60 derajat bahkan bagian belakangnya sampai 62. Cuman perlu diingat ini bukan salah HP-nya sih, tapi lebih nunjukin seberapa ekstrem performance yang dia kejar. Lanjut. Setelah gua diamin beberapa lama, gua tes lagi dengan cooling on. Dan hasilnya udah diduga punya base loop yang sangat tinggi di 8.100 dan stabilisasi 77,9%. Kalau dibandingin sama IQ 15 di review gua kemarin, terpaut sampai 700-an poin dengan stabilisasi beda 17%. Dan ini cukup berasa sih, cuman performance segila ini ada harganya, kawan. yaitu secara konsumsi daya cukup tinggi berkurang 19% dengan suhu maksimal mencapai 60 derajat. Sedangkan IQ 15 konsumsi baterai berkurang 12% dengan suhu maksimal di 50 derajat. Pertanyaan selanjutnya, jadi ada beda enggak, Bang, suhu pas coolingnya nyala sama mati? Jawabannya ada. Untuk performance yang dimaksimalin gini, suhunya bisa lebih teredap 4 sampai 5 derajat. Sebelumnya di 59, sekarang ada di 55. Sedangkan bagian belakangnya yang tadi di 62, sekarang turun jadi 58 sampai 57 derajat. Kalau buat konsumsi daya kita belum bisa ukur ya, karena HP-nya sempat mati di tes pertama. Tapi tenang, di tes gaming nanti bakal kelihatan perbedaannya kok. Mohon bersabar. Dan sekarang kita lanjut ke baterai HP ini yang mana jumbo banget. Punya kapasitas 7.500 mAh. Naiknya lumayan sih dari Redmi 10 Pro di 7.050 1050 mAh dengan fast charging 80 watt dan sekarang ke tamambahan wireless charging 80 wat juga yang sebelumnya enggak ada tuh. Kalau dari sisi kamera bisa dibilang mirip ada 50 megapel lensa utama, 50 megapel ultrawide, dan 2 megap lensa makro atau redap. Gua kurang tahu sih infonya enggak terlalu jelas. Dengan selfie dalam layarnya itu 16 megap yang nanti teman-teman bakal lihat kualitasnya. Untuk spek lainnya ini HP 5G yang tampaknya gak support isim ya. Gua cari di sini enggak ketemu. Terus udah IP X8 dari sebelumnya IP54 tapi Red Magic nge-creme. Mereka tetap ada dust proof-nya walaupun enggak ada sertifikasinya yang X itu. Untuk fingerprint juga sekarang upgrade udah 3D ultrasonic. dari sebelumnya optical dan bisa display out juga ke monitor. Ada dua mode, mirror sama extender. Jadi dari spesifikasi udah kelihatan ya kalau Red Magic 11 Pro ini beneran serius. Enggak cuman dari performance, tapi dari sisi cooling dan baterainya enggak main-main. Tapi spek canggih gini beneran kerasa nyata enggak sih pas dimain game? Mari kita buktiin. Oh ya, sebelum kita tes sebuah sapa HP ini kalau dipakai nge-game plus konsumsi daya dengan dan tanpa cooling system, mari kepoin sekilas fitur gaming-nya yang menurut gua paling komplit yang pernah gua coba, yaitu Game Space. Jadi, dia ini dibagi jadi dua area sebelah kiri lebih ke fitur-fitur buat game-nya kali ya. kayak mentokin performance CPU dan GPU pakai diablom mode. Terus bisa juga naikin kualitas gambar sama frame rate. Dan kalau kita goyangin HP-nya juga bisa diouch ya di area tertentu yang udah kita set sebelumnya. Sedangkan buat game tembak-tembakan kita juga bisa tambahin cross hair sampai kaca pembesar di tengah layar supaya musuhnya lebih jelas kelihatan. Selebihnya kalian bisa lihat ya, masih banyak banget fiturnya di sini. Sedangkan di sebelah kanan lebih ke settingan basic mungkin kayak aktifin liquid cooling, Wi-Fi, keypass, bypass charging, dan lainnya. Oh ya, kalau buat set shoulder triggernya kita bisa pilih di kiri atas sini dan bakal keluar setup-nya. Bisa sekali tap, long press, dan macam-macam. Tinggal arahin ke tempat mana yang mau kita touch dan pencet aja deh. Nanti ada sensasi getaran pas kita sentuh. Jadi berasa kayak tekan tombol beneran. Oke, sekarang kita masuk ke bagian yang paling penting buat buktiin spesifikasi canggih tadi. Beneran kerasa enggak sih? Untuk tes pertama, Genin. Secara performance pasti mentok lah. Gua sempat tes untuk coolingnya nyala dan mati. Sama-sama punya FVS rata-rata mentok di 59-an. Selisih 0,2 aja selama 30 menit main. Cuma kalau ngomongin konsumsi daya rata-rata untuk cooling off-nya itu ada di 3,82 watt. Sedangkan kalau on di 4,45 watt atau lebih memakan daya sekitar 16,5%. Tapi yang cukup aneh kalau buat suhu enggak terlalu beda jauh loh. Keduanya ada di sekitar 41an derajat. Nah, berarti ini pasti enggak guna dong, Bang. Hmm. Asumsi gua sih mungkin lebih ke beban game-nya aja yang belum cukup berat buat maksa sistem coolingnya kerja maksimal. Makanya next gua bakal tes satu game lagi yang lebih berat yaitu Woodiring Wave. Tapi sebelumnya mari kita cap poin bentar tetap controllernya dulu yang banyak banget tombolnya dah. Terus di bagian atas masing-masing ada dua plus di belakang pun ada L sama R. Dan yang gua suka port USB-nya ini fleksibel loh. Jadi pas dicolok enggak rawan patah. Habis itu di bagian bawahnya juga ada pengganti 3,5 mili jack sama USB type C yang ketutupan saat kita pakai gamepad ini. Cara pasangnya tinggal ditarik aja. Terus gua sempat cobain Ghet Impact yang tinggal ganti settingannya di sini. Habis itu di tiap tombolnya dikasih tahu pencet apa di controller. Misalnya kalau kita mau ganti karakter, nyerang, loncat, lari, dan lainnya. Oke, cukup buat controller. Lanjut kita ke test game withering wave yang settingannya gua mentokin dan secara FPS enggak usah diraguin lagi. Hampir mentok di 59-an dengan suhu yang terbukti tanpa cooling naik ke sekitar 45 derajat dan begitu dinyalain turun di sekitar 43an derajat. Secara konsumsi daya juga sama ya, kenaikannya sekitar belasan lebih tepatnya 14,4% dari 4,79 watt ke 5,48 watt kalau coolingnya dinyalain tuh. Jadi kesimpulannya cooling di HP ini bukan gimik sih, terutama untuk aktivitas berat lebih berasa dan bakal lebih ngebantu lagi kalau kita mainnya dalam jangka waktu yang lama. Walaupun perlu diingat ada harga yang harus dibayar dari sisi konsumsi daya. Untuk sektor kamera, jelas ini bukan fokus utama HP ini. Dan jujur aja, hasilnya ya secukupnya. Stabilisasi video cukup bergejolak, dynamic range kadang over expos dan di kondisi tertentu sempat ada frame drop. Kalau buat selfie, nah ini konsekuensi dari selfie under display. Hasilnya kelihatan berkabut dan ini bukan karena lensa kotor ya, tapi karena karakter teknologinya ya kayak begitu. Terus juga ada lampu di belakang. cahayanya bakal berbentuk bintang-bintang. Intinya buat dokumentasi ringan masih oke, tapi jelas bukan buat vlogging atau syuting yang niat. Cuma untungnya buat foto pemrosesan software-nya cukup ngebantu nih. Efek bintang tadi banyak yang dikoreksi jadi hasilnya lebih normal dibanding video. Kalau buat kamera belakang, hasil fotonya bisa dibilang aman. Saturasi warnanya sedikit lebih tinggi. Tapi masih layak dilihat lah buat sehari-hari. Overall setelah gua pakai dan tes cukup jauh, bisa gua bilang HP ini punya fokus yang jelas banget, yaitu ngejar performance dan pengalaman gaming maksimal. Ini kerasa dari cooling systemnya yang berlapis-lapis. Fitur gaming yang super lengkap, layar tanpa tompel yang bikin main jadi menyatu atau bahasa kerennya immersif, shoulder trigger, desain gaming dengan lampu joget-joget sampai kemampuan buat ngirror ke monitor. Cocok juga buat kalian yang suka streaming. Cuman kecanggihan-kecanggihan tadi ada komprominya. Di antaranya saat performance di push, konsumsi dayanya cukup tinggi, terus ukurannya termaksud gede dan berat. plus sektor kameranya yang bukan fokus utama tuh. Sama satu lagi soal harga kemungkinan bakal ada di level yang tinggi sih. Walaupun untuk pastinya kita mesti tunggu info resmi dari Nubia Indonesia ya. Kalau penasaran bisa kepoin aja IG-nya mereka. Tanggal 8 Januari HP ini bakal launching terakhir. Kayaknya udah lama enggak sih gua enggak bikin tawuran chipset kali ini sesama Snapdragon 8 Elite J 5. Gimana kalau pada tungguin? Boleh kasih tahu gua dengan like video ini ya dan kasih tahu juga siapa aja pesertanya. Sampai ketemu di video selanjutnya.
