Core Ultra 5 Bisa Sekenceng Ini?? - Asus Vivobook S 14 S3407CA (YouTube Video)
Setelah sukses mengembangkan sebuah prosesor mobile yang berfokus pada efisiency, Intel enggak berhenti sampai situ aja. Dia juga tetap mengembangkan sebuah prosesor mobile yang berfokus pada performance, yaitu Core Ultra 200 series yang cod name-nya adalah Aerolex. Tapi kira-kira untuk yang Core Ultra 5-nya apakah akan sesuai dengan yang dijanjikan? [Musik] Laptopnya sendiri berukuran cukup ringan untuk sebuah ultra book. Tebalnya hanya di sekitar 1,6 cm dan beratnya ada di sekitar 1,4 kg. Bearond-nya sama dengan Vivobook yang kemarin kita review. Namun kalau referensi gua, gua lebih suka dengan bebon-nya Vivobook yang dulu di mana layarnya dibuat agak melengkung ke atas buat memberikan airflow. Barb yang itu juga lebih tipis dan enteng ketimbang yang ini. Walaupun begitu, Vivobook yang SKU ini tetap bisa dibuka hingch-nya hanya dengan satu tangan. Kudos buat Asus yang selalu konsisten di sini. Layarnya berukuran 14 inch dengan resolusi full HD dan juga panelnya IPS yang sayangnya di sini hanya punya sRGB di 60%-an aja membuat ekspektasi kita menjadi turun. Padahal sebelumnya Asus itu sering banget pakai OLED di harga segini. Bahkan laptop merek lain juga biasanya udah 100% asb lah di R jutaan. Malah kalian bisa dapat MacBook R2 loh di harganya ini. Okelah, kita move on ke bagian keyboard-nya dulu. Di sini layout-nya masih Asus Vivobook yang dulu-dulu. Jadi buat penyesuaian harusnya tidak terlalu lama. Pengetikannya juga enak karena spacing antara key-nya itu pas. Lalu patch up dan patch down juga tersemat di dalam aeropad. Hanya aja enggak ada legends-nya. Dan power button di sini juga enggak gampang buat kepencet. Jadi buat keyboard gua gak ada komplain sama sekali. Bagian touchpad-nya ini juga gede umumnya laptop zaman sekarang dan sudah support dengan Windows precision drivers. Walaupun anehnya touchpad di review unit kita ini suka nge-lag dan enggak terlalu responsif. Ada kemungkinan ini ada di semua unitnya atau mungkin di unit kita aja. Kelengkapan port yang ada di laptop ini terbilang standar. Di sebelah kanan hanya ada satu USB 3.2 gen 1 type A. Sementara di sebelah kiri itu ada banyak. Ada dua USB 3.2 gen 2 type C, full HDMI port, 1 USB 3.2 gen ada audio combo jack juga. Hal yang disayangkan kedua adalah bandwid dari USBC-nya itu tidak ada yang 10 GB. Padahal merek lain atau Asus juga dulu bisa provide bahkan sampai Thunderbolt 4 di harga segini. Untungnya sih keduanya udah support dengan PD dan juga DP. Di harga R jutaan, laptop ini menggunakan CPU yang cukup powerful, yaitu Core Ultra 5225 yang punya 14 core Intel 4 dan juga base power hanya di 28 wat aja. IGP-nya udah pakai Intel Arc 130V, jadi seharusnya ya graphics performance-nya juga lumayan. Prosesor ini juga punya NPU 13 tops, walaupun belum copilot plus PC. RAM-nya yang spesial di mana dia udah ada 16 gig DDR5 yang dioldert, namun masih ada slot satu lagi buat sodim buat yang mau nambah. Kalau storage dia udah sampai 1 TB dan speed-nya juga udah 6.000-an. Jadi untuk spesifikasi menurut gua udah cukup excellent lah di sini. Melihat performanya ternyata Core Ultra 225 ini performanya udah ngalahin Core Ultra 7165H yang ada di Prestige 13. Bahkan skore CPU-nya ini hampir membantai semua CPU lain yang ada di kelasannya. Namun walaupun punya skor CPU yang tinggi banget, entah kenapa skor graphics-nya ini termasuk rendah bahkan dibandingkan sama Ultra 5125H sekalipun. yang notab IGP-nya harusnya sama kemungkinan karena VRAM-nya itu menggunakan sistem shared memory yang balik lagi bergantung ama kecepatan RAM. Kebanyakan Ultrabook zaman sekarang atau yang kita sudah perlihatkan datanya tadi itu menggunakan RAM LPDDR5 atau 5X yang bandw-nya bisa cepat banget. Sementara yang ini masih SODIM 5600 ya. Enaknya sih bisa di-upgrade ya, hanya aja kompensasinya di performa graphics. Sebelum kalian pakai IGP dari Intel, biasakan untuk selalu install Intel Graphics Driver ya. Saat kita coba gaming, Zeneless Zone Zero ini cuma dapat 40 fps di setting low. Sementara WA juga cuma dapat 41 FPS di best performance. Disarankan buat cari game yang ringan strategy aja macam Evil Genius 2 yang dapat 64 FPS di sini. Lalu di Adobe Premiier Pro pun entah kenapa ada crash beberapa kali saat kita coba export video 4K H265. Namun sekalinya bisa itu pun makan waktu 22 menitan. Lumayan banyak anomali sih pas kita tes laptop ini. Untungnya blender tidak ada masalah sama sekali. Pendinginannya menggunakan single fan dan single heat pipe aja karena laptop ini sendiri enggak terlalu panas-panas banget. Kalau dari desain pendinginannya terlihat kayak laptop affordable di bawah R10 juta ya. Untungnya pendinginannya ini efektif dalam menjaga suhu CPU-nya di bawah 78 derajat. Dan stabilnya bahkan antara 60 sampai 65 derajat aja. Karena package power-nya juga cuma mentok di 25 wat. Suhu surface-nya pun mantap, enggak ada yang menyentuh 40 derajat. Jadi kalau buat suhu gua bisa bilang kalau laptop ini lumayan adem. Lalu sebagai sebuah Ultrabook Slim and Light, Vivobook yang versi ini enggak terasa yang enteng-enteng banget karena yang sebelumnya itu lebih slim dan juga lebih enteng. Dan juga buat sebuah laptop vivobook yang biasanya oled di mana-mana. Sekarang 100% sRGB aja enggak sampai. Jadi terasa kurang premium. Apalagi ditambah Thunderbolt aja enggak ada di sini. Untungnya karena kapasitas baterai dan package power CPU-nya juga rendah, jadi laptop ini bisa dipakai seharian tanpa masalah. Suara speakernya juga termasuk bagus buat sebuah ultrabook. Clarity-nya jelas, namun bass-nya agak kurang. Buat kamera webcam, dia udah beresolusi full HD alias ini adalah 1080p 30 fps dengan keterangan warna yang bisa dibilang soso. Gua karena ngelihat ini ada di layar yang 60%-an sRGB jadi belum bisa bilang. Tapi untuk fitur-fitur dia udah cukup banyak. Ada privacy shutter juga, terus ada Windows Studio Effect. Karena ini prosesornya udah menggunakan NPU, jadi bisa bikin automatic framing seperti ini. Terus juga ada background effect juga yang bisa ngasih blur dan ICT dan lain-lain. Terus kalau misalnya untuk suara dari mikrofonnya sendiri gua bisa bilang ini cukup oke. E dan juga ada IR sensor atau biometric untuk sign in Windows Hello. Berdasarkan data tadi kita bisa simpulkan kalau ternyata Core Ultra 5225H ini performanya udah cukup monster. Bahkan dibandingin sama laptop-laptop lain yang harganya itu setara. Kalau kita lihat itu dia udah ngalahin Ryzen 7 Core Ultra 7 155H, 165H dan kalau bisa dibilang secara price to performance ya ini bagus banget karena yang ada di harga R jutaan itu kebanyakan masih Core i5 13 gen atau Core Ultra 7 atau bahkan Core Ultra 5. Nah, kalau misalnya kalian mau mencari price to performance performance CPU ya yang paling bagus di harga segitu, ini laptop memang cocok buat dibeli. Tapi apakah laptop ini emang benar-benar worth it banget karena CPU-nya doang? Ya sebenarnya enggak juga. Karena setiap kalian mau beli laptop kan enggak cuman ngelihat CPU doang kan, tapi ngelihat yang lain juga. Nah, yang kalau misalnya gua bilang tadi secara layar kalau kalian itu adalah grafic desainer, sosial media atau yang memang membutuhkan sebuah layar yang bagus di harga 12 sampai R jutaan itu ada banyak laptop lain yang udah menggunakan layar OLED. Ada ID Pad Slim 5 yang udah OLED 16 gig RAM. Tapi ya memang dia masih pakai core i5 yang tertinjen atau kalian juga bisa ambil yang Ryzen 7. Di Vivobook juga itu pakai Ryzen 7 udah OLED dan harganya kurang lebih sama lah dengan yang kita review kali ini. Jadi ya untuk e yang kali ini juga dia tidak ada Thunderbolt juga. Jadi kalau memang kalian membutuhkan Thunderbolt juga dia masih belum ada. Kalau misalnya beberapa laptop lain udah ada Thunderbolt atau bahkan udah ada USB 4 yang bisa memberikan bandwid lebih tinggi daripada USB yang 5 Gabit yang ada di sini. Jadi itu aja sih sebenarnya eh review kita kali ini. Kalau kalian sendiri sebenarnya di R jutaan butuh laptop yang seperti apa sih?
