Cuma INFINIX yang Berani Bikin Tablet Kayak Gini ! INFINIX Xpad Edge (YouTube Video)
daripada beli tablet brand sebelah yang harganya selangit, terus aksesorisnya juga harus beli lagi bikin dompet menjerit, mending lirik yang ini dijamin worth it. Ini tablet elite dengan harga khusus ekonomi sulit. Ya udah enggak usah kebanyakan biskuit. Selamat menonton yang paylight-nya telat dikit. Hai Andika, Guys. Di sini Infinix ngegas lagi nih dengan ngeluarin tablet harganya R jutaan tapi punya aksesoris yang lengkap. Ada pennya dan ada keyboard-nya. Plus keyboard-nya ini kalau kita lihat dari gambarnya itu ada touchpad-nya. Jadi kalau misalkan Infinix ini klaim pengganti laptop menurut saya lebih makes sense karena ada touchpad-nya. Karena ada beberapa tablet itu yang klaim wah alternatif laptop tapi keyboard-nya enggak ada touchpad. Nah, kan ya repot ya kalau harus bawa mouse ya. Kurang efisien. Dan karena harganya di R jutaan, tablet ini menurut saya bisa jadi alternatif buat kalian yang pengin beli laptop yang kerjaannya itu cuman ngetik-ngetik, editing ringan. Karena kalau kita ngomongin laptop sekarang, laptop sekarang itu harganya mulai naik sekitar 20%. Tablet masih belum naik ya, terutama buat Infinix ini sih. Tapi dengan harga R jutaan kita dapatnya apa aja? Langsung aja kita coba lihat ya. Karena boksnya ini coba lihat. Wuh tebal banget. Harusnya sih keyboard-nya ada di bagian dalamnya ya. Nah, di sini namanya adalah Xpad H4G yang berarti dia bukan WiFi only ya, R jutaan udah ada bisa SIM card-nya. Cuman sayangnya saran saya buat Infinix ya kayak gini-gini udahlah gimic marketing yang udah gak kemakan lah ya karena Gen dan penonton sekarang juga udah pintar-pintar karena kalau kita lihat di sini RAM-nya 16 GB padahal aslinya cuman 8+ 8 ini virtual RAM aja dan untuk storage-nya 256 dan mohon maaf kalau kuku saya hitam ini, ini bukannya enggak saya bersihin karena kemarin saya kecepit pagar, Guys. Terus dia jadi bengkak gini deh. Ah, tapi enggak apalah. Dan langsung aja kita coba lihat di dalam paket pembeliannya di harga 4,4 juta kalau enggak salah. Nanti link pembeliannya di pojok kiri atau di deskripsi kalian cek aja. Nah, kita dapat apa aja? Yang pertama jelas ada woh ini sih keyboard-nya kayaknya ya karena berat banget. Wih ini jadi kita dapat keyboard yang warnanya putih tulang ya. Cakep sih ya putihnya ya. Cuman ya susahnya kamera saya kalau warna putih gini autofokusnya agak lari-lari jadinya ya. Kita dapat keyboard, terus dapat beberapa buku panduan dan ini tabletnya. Wuh, tabletnya ini gede banget nih. 13,2 inch dengan resolusinya 2,4K. Bobotnya cuma 588 gr. Entank. PC level. Oh, ternyata di sini juga ada claim PC level juga ya. Ada free gift mungkin keyboard-nya ini. Terus nah ini udah support sama SIM card. Karena kalau kita ngomongin SIM card sebenarnya kenapa banyak tablet yang di Indo itu kebanyakan Wii only walaupun di global itu dia udah support 5G, udah support 4G. Kenapa? Karena postel di Indonesia itu mahal ya untuk Bluetooth. Terus juga dongle 2,4 GHz dan SIM card itu mahal postelnya. Nah, Infinix ternyata bisa bayar postel yang mahal itu ya. Terus di sini dapat apa nih? Coba kita lihat. Weh, ada sim ejectornya. Terus kita dapat charger is innalillah. Kenapa chargernya kecil banget ya? Chargernya ada di 18 watt. Wah, ini ngecasnya berapa jam nih? Terus ada kabel. Kabelnya type A to type C. Selain keyboard, kita juga dapat expensil 20 ya. Fiturnya apa aja? Ada pam rejection, ada paper whiting fill. Oh, masa paper whhting feel? Nanti kita coba. Terus dia juga 10 ms low latency-nya, pressure level-nya udah oke. 5G touch awaken dan baterainya diklaim 140 jam kalau dibuat nulis. Bentar saya. Nah, pennya kayak gini. Tapi sayangnya ya ada harga ada rupa lah ya. Dia belum magnetic charge karena di sini ada USBC buat ngecharge-nya. Jadi ngecasnya harus tabletnya dicas, pensilnya dicas, kurang efisien sih. Tapi ya karena harganya segitu jadi wajar sih. Dan untuk keyboard-nya coba kita lihat keyboard-nya. Beh, keyboard-nya lihat, Guys. Ini nih ada touchpad-nya. Untuk mekanismenya coba ya kita cek dulu mekanis keyboard-nya. Dia bisa beberapa mode atau enggak? Oh, ini harusnya ada jagraknya di belakang tuh kayak gini. Oh, dia model yang kayak gini ya. Ya, kalau misalkan Infinix bisa bikin model kayak iPad yang dia bisa kayak gantung gitu sih menurut saya lebih cakep. Terus di sini karena dia enggak magnetik ya, tuh enggak bisa nempel. Jadi di bagian belakang dikasih kayak semacam penarit-nya kayak gini tuh. Pintar sih. Jadi enggak gampang hilang. Terlebih lagi kayak user kayak saya yang clamsy banget ya. Bahaya sih. Kita taruh dulu di sini pennya nanti kita coba. Dan ini adalah tablet Infinix Xad-nya. Wuh, gede banget 13,2 inch. Dia pakai metal dan desainnya ini unib ya, yang berarti back cover-nya jadi satu sama bagian frame-nya. Jadi frame-nya juga ikutan pakai aluminium. Dan untuk ketipisannya, ketipisannya ketebalannya itu di 6,19 mili. Nih tipis banget. Jadi kalau misalkan kita sama pensilnya aja ya, itu lebih tebal pensilnya ya. Ibaratnya 6,1 mili itu kayak kartu ATM tapi ditumpuk tiga lah. Itu sekitar 6 mili ya. Terus di bagian sini ada speaker dua, ada type C-nya. Di samping kanan ini ada tempatnya shift card tadi. Ada mic, volume up and down, tombol power. Sekalian aja kita nyalain sambil kita instal beberapa aplikasi untuk hands on. On. Di bagian atas ada speaker lagi. Jadi dia ada hot speaker di samping sini enggak ada apa-apa. Dan kameranya sebenarnya cuman satu ya, satunya ini flash. Kenapa flash-nya dibikin segede ini? Ya biar terlihat dua kamera karena kalau terlihat satu kan kayak kelihatan murah gitu ya. Seperti biasa tablet di DKID itu harus dites banding ya. Tapi ini 6 mili terus gede banget 13 inch. Jadi ya kayaknya agak-agak gimana gitu ya. Ah e tuh. Jadi kalau misalnya kita dia solid sih. Cuman karena saking tipisnya saya enggak berani pakai tenaga 100% nih. Nah jadi ya kalau misalkan kedudukan hati-hati karena dia tipis. Walaupun memang sebenarnya dia solid. Tapi yang saya salut sih ya dengan 13,2 inch ini bobotnya enggak sampai 600 gr. Jadi Infini Pinter bigak-nya. Jadi ini memang ditujukan buat orang yang suka mobile karena kalau misalkan tablet sebagai pengganti laptop karena laptop itu kan berat ya jadi tablet harus menggantiin dia ringan. Nah, dengan 500 grannya masih oke sih. Oke, jadi si Infinix X Pad-nya udah selesai kita instalasi beberapa aplikasi untuk hands on. Dan kalau kita lihat beasel-nya di harga R jutaan enggak yang tipis-tipis banget, tapi masih ok lah ya. Bagian kanan kirinya doang yang agak tebal. Tapi potongan bagian round cornernya ini saya suka karena perfect, simetris, cakep. Cuman kalau kita ngomongin OS, OS-nya mm masih ya masih XOS banget ya. Sekarang kita coba lihat layarnya dulu. Jadi untuk layarnya ini dia punya resolusi 2,4K. Jadi kalau kalian lihat tulisan kecil-kecil itu terlihat cukup jelas. Tapi sayangnya enggak ada opsi untuk nurunin resolusi ya. Jadi ya mau enggak mau harus pakai resolusi ini. Kalian enggak bisa turunin ke Full HD plus untuk menghemat baterai. Dan refresh ris-nya 90 Hz ya. 90 Hz kalau kalian terbiasa pakai 120 Hz ya. ada perbedaan sih, tapi enggak yang mencolok banget gitu lah. Dan dia juga udah punya sertifikasi TUV Renland untuk kesehatan mata. Jadi aman. Tapi sekarang saya penasaran kalau misalkan dia punya resolusi 2,4K bisa di upskill sampai berapa ya? Kita coba ya. Malah aneh ya YouTube-nya cuman bisa diupskilling di 1080p padahal kontennya udah konten yang 4K ya. Nah, nih upcill-nya mentoknya di 1080p aja. Walaupun bisa 60 fps tapi enggak sesuai sama resolusi bawaannya ya kalau misalkan di YouTube ya. Tapi kalau masalah soal warna lumayan cakep ya. Ini coba saya fullin kalau misal difulin kayak gini tuh masih oke ya cuman tinggal dikasih screen guard atau temper anti reflectif sih karena dia lumayan reflect terutama kalau buat lighting. Dan kita juga udah tes untuk kalian akurasi warnanya pakai Kalman. Dia ada mode natural, boosted, sama adaptif ya. Di mode natural sRGB-nya itu di 96,3%, P3-nya 78,9%. Kalau di mode boosted sRGB-nya nambah tuh. Jadi 96,4%, P3 78,9% dengan tipical brightness nits di 396 nits. Nah, di mode adaptif nambah lagi jadi 94,6%. Brightness-nya juga nambah lumayan jauh ya di 400,25. 400 tablet. Kalau di luar tipikal ya, ini bukan pick brightness. Jadi masih oke sih. Atau kita langsung coba aja, Guys. Kita coba brightness-nya kita gedein. Nah, segini. Wah, langsung over expose ya. Dan kita tembak ke layar. Hasilnya kira-kira seperti ini nih. Woh, masih oke banget kan ya? Enggak kalah gitu. Kita masih bisa lihat dia dengan nyaman. Plus audionya, uh, audionya oke sih, Guys. Ya, karena dia tablet ya, punya ekar dibandingkan HP. Jadi lumayan kalau misalkan kalian nonton film tanpa TWS masih oke-oke aja. Untuk Android-nya dia pakai Android 15 ya dan udah kita update enggak ada update-an baru. Dan untuk XOS-nya kalau kalian tanya apakah ada bloodware lebih bersih sih sekarang ya. Tuh enggak ada yang aneh-aneh. Cuman carc bawaannya aja ada. Oke sekarang kita cobain aksesorisnya ya. Ada pensil sama keyboard-nya. Cara koneksinya dia via Bluetooth dan gampang banget ya. Tinggal kayak koneksiin Bluetooth kayak biasa aja. Dan kita coba dulu apakah dia support sama pam rejection sesuai klaim ya support sih ya. Jadi kalau misalkan saya mau gambar ah ini harusnya saya minta tolong Azura ya karena Azura yang di sini tuh yang paling pintar menggambar. Coba ini saya ganti warna hitam. Kita coba lihat latency-nya. Terus tombol ini bisa buat apa? Mm kalau didekatin tombol ini enggak fungsi apa-apa ya. Tapi okelah. Sekarang kita coba untuk pam rejection-nya bekerja. Jadi kalau misalkan saya mau gambar, bentar ini saya hapus dulu. Kita gambar. Saya cuman bisa gambar rumah sama sawah, Guys. Kayak misalkan entah saya enggak tahu anak TK atau anak SD sekarang itu gambarnya kayak gimana. Tapi kalau saya dulu gambarnya kayak gini, Guys. Jadi kalau TK tuh dia ada matahari terus jalan di sini kan. Nah, kita coba lihat. Oh, dia ada pressure sensitivity-nya. Jadi kalau misalkan saya gambarnya itu agak saya tekan tuh agak tebal gambarnya. Tapi kalau misalkan cuman ngarsir doang, tuh dia tipis. Nah, kayak gini. Cuman ada kayak delay ya. Jadi enggak yang apa, real time gitu. Kalau kalian perhatiin coba ya, saya tarik dari garis ini ke sini. Kalian kalau kalian lihat pasti ada delay-nya tuh. Jadi dia agak delay dikit. Cuman kalau diklaim tadi di boknya itu kayak gambar di kertas, enggak juga sih ya. Karena dia glossy karena ini permukaan layarnya jadi masih feel gambar di ubin kalau dibanding di kertas. Oke, sekarang kita cobain keyboard-nya. Ya, jadi keyboard-nya ini dia bisa via Bluetooth juga karena dia via Bluetooth. Jadi, dia ada chargernannya di sini dan ada tombol power-nya juga di sini. Nah, nah enaknya dia bisa kita jadiin kayak mode studio. Nah, ini misalkan saya ngetik tuh F keyboard-nya memang ya karakternya keyboard eksternal ya yang tipis dan suaranya cetak-cetak karena memang dia tipis enggak kayak laptop yang punya body agak tebal jadi travel distance-nya pendek dan F ttaile-nya ya sesuai kayak keyboard eksternal lah ya. Tapi yang saya suka di sini dia ada touchpad-nya tuh. Jadi jarang nih tablet itu ada touchpad-nya. Plus dia udah ada SIM card-nya juga jadi bisa 5G. Untuk keyboard-nya enggak ada backl tapi di sini ada tombol AI. Nih saya juga penasaran ini apa. Kalau misalkan kita pencet, oh dia bakalan masuk ke FAX AI ya. Nah vox AI jujur aja saya enggak pernah pakai nih. Dia vox-nya lagi bicara. Mungkin Infinix bisa kayak setting tombol ini bisa dicustom setting-nya entah itu manggil Gemini ataupun chat GPT ya. Saya hargai sih usahanya si Infinix untuk bikin AI sendiri namanya Volx. Cuman untuk sekarang paling yang pakai Volax siapa sih? Coba deh tulis di kolom komentar kalian ada yang pakai AI-nya Infinix enggak si Volx ini. Jadi f keyboard-nya kayak gitu. Nah, di sini saya ada laptop 14 in nih, Guys. Nah, kira-kira segini kalau misalkan kita bandingkan. Dia kan 13,2 ya hampir mirip aja ya kan? Jadi kalau misal dibilang ini PC level atau pengganti laptop bisa, tapi cuma sebatas touchpad sama dimensinya aja. Karena kalau misal nih kita buka, kita buka WPS Office-nya ya, karena dia ada WPS Office, tapi apakah dia WPS Office yang versi PC? Coba kita lihat. M enggak sih? Ini versi mobile ya. Ya, walaupun kalau misalkan kalian buat ngetik-ngetik aja udah cukup. Kalau saya pribadi sih saya pakainya Google Doc, Guys. Karena semua script saya itu ada di situ. Kenapa saya taruh di Google Docs? Karena ya enak aja. Jadi, editor saya bisa cek script-nya, semuanya bisa cek scriptnya via online, via internet. Cuman kalau misalkan kalian gak pakai Google Doc sih ya WPS mungkin. Cuman Google Docs itu ya terbatas juga sih. Dia enggak bisa kayak Excel-nya enggak semuanya keluar kayak di Microsoft Office. Cuman kalau saya pribadi saya enggak pakai Excel. Excel saya cuman sebagai data benchmark aja. Nah, kalau secara desain terus aksesoris sih menurut saya udah oke banget si Infinix ini. Cuman kayaknya karena budgetnya habis di aksesoris ya. Jadi kalau kita lihat chipsetnya dia pakai Snapdragon 685 yang skor AnTutunya. Coba kita lihat. Nah, ini jadi beberapa tes yang udah saya lakuin dan kita coba lihat langsung aja ya untuk skor AnTutunya itu di R00.000-an ya standarnya Snapdragon 685. Harusnya sih dia kalau AnTut 10 itu di R00.000-an lah. Tapi karena ini pakai Antutuutu versi 11 poinnya jadi naik. Terus kalau kita ngomongin stability aman aja karena tablet terus chipsetnya juga enggak yang kencang-kencang banget. Jadi throttelnya aman 30 menit enggak ada yang warna orange. Terus kalau misalkan 3D kalian bisa lihat langsung aja skornya di sini nih. Nah, dia dapatnya 97,8%. Jadi kalau masalah stability sih aman 99,1%. Mungkin buat yang belum tahu 3D Max ini kayak gimana. Jadi 3D Max itu yang stres ya. Dia bakalan ngelakuin tes selama atau sejumlah sebanyak 20 kali. Nah, di situ tuh dilihat dia apakah throtle atau enggak ketika 20 kali. Nah, skornya nih kan 640-an semua ya, yang artinya berarti dia stabil dan dia dapat skor di Lanjut. Sekarang gimana kalau untuk main gaming, Bang? Nah, main gaming kita coba di yang game ringan-ringan dulu ya. Mobile Legends. Mobile Legends dia kebukanya di 60 fps. Jadi kalau kalian lihat average FPS-nya di 57, power yang dibutuhin 3,65 wat, suhu temperatur bagian dalam di 32,4 derajat Celcius. Dan kalau kalian lihat chartnya aman-aman aja sih. Ini kita main selama 30 menit. Kalau yang ini jatuh ini di lobi ya. Karena di lobi itu FPS-nya memang enggak sebagus ketika gameplay. Kalau Mobile Legends PUBG pun aman aja. PUBG di 40 FPS kebukanya nih. Rata semua selama 30 menit ya. Seperti biasa masuk ke lobi dia turun lagi. Terus kalau misalkan Gensin Impact, Gensin Impact agak ngoyo sih ya dengan average average-nya 38 aja enggak pernah di atas 40 dan kalau kita lihat dia sering banget di bawah 30 fps dengan ya 25 fps-an. Jadi kalau kalian main game Gin ini settingan low ya. Jadi kalau misalkan kalian main game Gensin ya jangan tablet ini ya. Terus kalau wering wave? Wering wave malah kacau nih. Average-nya di 29 intinya enggak amanlah selama 30 menit. Intinya kalau kalian beli tablet ini memang ini tablet menurut saya cocok buat kalian yang sebagai pengganti laptop gitu. Karena harga laptop kan sekarang masih enggak masuk akal. Ya, sebenarnya supply and aja kalau misalkan kalian enggak ngambil laptopnya dengan harga mahal itu saya yakin harganya bakal turun-turun sendiri kok. Jadi kalau misalkan kalian memang enggak ada budgetnya kecuali memang butuh laptop ya. Kalau butuh laptop ya mau enggak mau harus beli. Tapi kalau misalkan masih bisa dengan alternatifnya tablet ini bisa jadi alternatif sih. Oke, sekarang kita bahas kameranya. Nah, kira-kira gimana kualitasnya kalau kita gunain untuk meeting online? Hmm, biasa aja, Guys, ya. Noise-nya banyak. Padahal ini setup-nya saya udah pakai lighting tuh. Terus lighting-nya itu kayak campur gado-gado, ada flare-nya, noise-nya. Ya, standar lah, ya. Memang tablet itu enggak ditujuin untuk nge-vlog. Tapi kalau misalkan buat meeting online aja, selama kalian enggak jadi pembicara, menurut saya sih masih fine-fan aja. L sekarang kita cobain kamera belakangnya. Kamera belakang kira-kira seperti ini kualitasnya. Nah, saya enggak bisa lihat. Jadi kalian bisa langsung tulis aja di kolom komentar gimana untuk kualitas videonya ya. Tapi yang saya suka kalau kita lihat dari bagian belakang ya, putihnya itu putih cakep dan apakah dia resistan sama stin? Coba di sini kan udah ada stin ya. Kelihatan enggak ya? Tapi jangan pakai kuku yang saya ini deh. Ini kejepit pagar, Guys. Sakit banget sebenarnya. Mmm kayaknya sih bukan kulit-kulit yang stain resistant ya. Ya, harga R jutaan kalian minta stain resistance. Nah, kalau kita mau main suhu karena tablet itu beda dengan HP, dia punya workflow atau airfow yang lebih bagus. Jadi, suhunya aman-aman aja sih pas main game tadi. Di bagian depan itu cuma 32,9 derajat Celcius. Bagian belakangnya cuma di 33,5 derajat Celcius. Jadi, ya aman jaya. Nah, sekarang kita ngomongin baterainya sih. Karena dia memangkas tebalnya tadi cuman 6,1 mili. Jadi, baterainya enggak bisa kayak tablet pada umumnya yang 10.000 mamp gitu. Baterainya cuma di 8.000 1000 ms dan di resolusi 2,4K itu lumayan menghabiskan baterai. Pas kita tes PUBG 30 menit dia berkurang 5%. Mobile Legends juga sama 5%. Gensin Impact 30 menit tadi berkurang 7%. Buttering RFT 30 menit tadi berkurang 8%. Sebenarnya secara kapasitas enggak yang gede-gede banget tapi ternyata masih awet. Tapi PR-nya adalah di charging-nya tadi ya. Karena untuk ngecas baterai 8000 mAs dikasih 18 watt 2 jam lebih, Guys. Jadi harus lumayan sabar di area situ ya. Ibaratnya kalau misalkan kita ngecas pas ibadah magrib kita tinggal, kira-kira penuhnya itu ya sampai saya punya cita-cita baru. Enggak sih? Itu terlalu lebay ya. Paling enggak ngecasnya pas ibadah aja. Kenapa? Karena ya ibadah itu kan bisa bikin kita sabar ya. Fitur lain dia ada gimmik volume boost sampai 300%. Cuman ya saran saya enggak usah dipakai karena ya kalau misalkan terlalu kencang dia pecah. Terus kalau kita lihat dari gimmik-gimik lain ya, fitur lain itu ada instant transfer nih. Jadi kita bisa transfer view. Coba kita lihat yang support apa aja ya. Jadi harusnya sih sesama Infinix. Nah, ini listnya kalian bisa lihat di sini dia bisa instance transfer ke sesama grupnya Transion Holding lah. Ada Techno ada Infinix. Yang enggak ada adalah Itel. Terus satu lagi dia ada phone cash. Jadi dia bisa connect sama device kita. Kayak misalkan kalian butuh secondary display, laptop, terus tablet. Tabletnya bisa buat mirroring, bisa extend mirror, terus mau connect sama HP juga bisa. Nah, nah nih. Jadi kalian bisa koneksikan sama HP sama laptop juga tinggal dian barcode-nya aja. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja video dari Infini XT kali ini. Harganya bakalan ada di Rp4.500, tapi nanti launch-nya itu di 20 Januari ada potongan Rp100.000. Lumayan lah ya buat tambah-tambah beli rumah. Kalau 1 M enggak ada Rp100.000K juga enggak sampai 1 M ya. Dan yang perlu diperhatikan ya, aksesorisnya memang lengkap, ada keyboard-nya yang plus ada touchpad-nya. Tapi untuk stylus-nya ini, ini dibeli secara terpisah ya. Tapi harganya enggak terlalu mahal kok untuk stylusnya ini. Kalau misalkan kalian enggak butuh stylus, kalian bukan tukang gambar kayak Azura sih menurut saya fine-fine aja. Kelebihannya jelas layarnya gede 13,2 inch tapi bodinya tipis dan enteng ya. Enggak sampai 600 gr. Tapi kalau kita main kekurangan ya performanya di harga segini bukan yang paling kencang di kelasnya. Tapi kalau kalian gunakan tablet ini sebagai alternatif laptop karena harganya sekarang lumayan pricey saya sih fine-fine aja ya. Karena jarang di harga R jutaan itu kita dapat keyboard yang ada touchpad-nya. Saya dikasih lagi and see you on the next video.
