Dulu 9 Juta, Sekarang Udah 4 Jutaan! Samsung Galaxy Watch Ultra setelah Pake 6 Bulan (YouTube Video)
Halo, apa kabar semuanya? Kembali lagi sama Putra di Project Review. Oke, jadi hari ini saya pengin ngebahas satu produk yang bukan baru-baru banget tapi dia tetap asik banget untuk dibahas untuk dimiliki. Apalagi sekarang harganya itu udah turun lumayan banyak. Ya, saya lagi ngomongin tentang Samsung Galaxy Watch Ultra smartwatch flagship-nya Samsung. tertinggi mereka saat ini yang udah saya pakai sejak perilisannya di Indonesia di akhir tahun lalu. Jadi, udah kayak 5 bulan yang lalu. Nah, sekarang kalau pantauan di marketplace adalah harga dari Galaxy Watch Ultra yang sudah mengalami penurunan lumayan banget. Udah gitu, mungkin dari sebagian orang ada yang ngeh waktu awal pertama kali Samsung rilis Galaxy Watch Ultra di Indonesia. Kok Galaxy Watch Ultra di Indonesia itu lebih murah ya kelihatannya dibandingkan di luar negeri. Jadi kalau di Indonesia itu yang dijual adalah versi Bluetooth aja ya. Jadi makanya dia paling murah. Sedangkan kalau yang di luar negeri yang mungkin sering kita lihat kayak di Singapura contohnya itu adalah versi seluler. Makanya harganya lebih mahal ya. Indonesia saya bisa bilang cukup beruntung dapat versi yang Wii atau Bluetooth ya karena bisa mendapatkan harga yang lebih terjangkau. Apalagi sekarang harganya udah turun itu mantap banget. Sebenarnya jam ini kan waktu pertama kali rilis bank yang pertama kali itu adalah di Unpack bulan Juli di Paris barengan dengan Zfold 6. Jadi enggak kerasa udah hampir setahun ya ternyata. Nah, waktu pertama kali saya ngelihat Watch Ultra diumumin sama Samsung, saya tuh kayak enggak terlalu excited ya. Jadi kayak oh ada jam baru Samsung Ultra yang tujuannya udah jelas banget ini untuk nge-refile Apple Watch Ultra. Udah gitu doang saya lihatnya di awal-awal. Ternyata setelah akhirnya dibawa masuk ke Indonesia saya cobain pakai sehari-hari eh malah pelan-pelan saya jadi suka. Aneh emang Galaxy Watch Ultra ini sebenarnya emang sempat cukup bikin heboh pas pertama kali rilis. Alasannya enggak lain enggak bukan karena desain. Langsung banyakan yang bilang, "Wah, Samsung niruin Apple banget nih. Plagiat bla bla bla kayak Watch Ultra." Tapi saya yakin banyak banget yang enggak tahu kalau desainnya Galaxy Watch Ultra ini sebenarnya udah dipakai Samsung dari tahun 2017 ya, tepatnya di Samsung Gear Sport ya, udah hampir 8 tahun yang lalu. Dan emang itu perangkatnya enggak terlalu hype makanya saya enggak kaget, banyak orang yang enggak tahu. Saya masih punya kebetulan lengkap nih sama kotaknya ya, cuma sayangnya jamnya itu udah enggak nyala. Kalau disebelahin dengan Galaxy Watch Ultra kelihatan kan kalau desain jamnya itu sama mirip banget. Jadi sedikit kotak tapi di dalamnya ada lingkaran. Cuma memang kalau yang lebih baru ukurannya jauh lebih besar. Jadi untuk urusan bentuk jamnya Samsung saya bisa bilang tidak meniru siapa-siapa itu desain mereka. Tapi tetap Samsung enggak bebas dari dimirip-miripin sama Apple. Poin pertama udah pasti karena penamaan produknya pakai label ultra. Ngerti sih Samsung? kayak lebih familiar kan pakai nama Ultra ya di smartphone flagship mereka Galaxy S24 Ultra S25 Ultra cuma tetap Apple udah duluan punya jam sama-sama tir flagship juga tertinggi dengan peruntukan yang sama dan sama-sama dengan nama Ultra ya itu satu habis itu yang kedua adalah pemilihan warna yang coba di-highlight terkhusus warna strapnya. Nah untuk yang ultra strap warna gonjreng ini tuh udah kayak Apple. Nah, Samsung pas ngerilis ngejadiin varian strap orange ini sebagai highlight mereka ya kelar jadi omongan gitu. Kalau misalnya saat itu yang dihighlight mungkin yang warna hitem atau warna putih mungkin enggak bakal segitunya. Tapi ya itu dia. Jadi overall menurut saya 50-50. Soal desain ya ini bawaan Samsung udah dari sana. Tapi kalau untuk warna penamaan emang mirip banget sama sebelah. Ngomong-ngomong soal warnanya Galaxy Watch Ultra punya saya ini sebenarnya adalah yang warna putih all white dari unit jamnya sampai strapnya. Kalau dalam warna begini sebenarnya saya enggak terlalu suka. Kayak kelihatan flat-flat aja gitu. Nah, tapi untuk bikin lebih sesuai selera, saya beli strap yang ekstra versi Trail Band warna dark grey yang niatnya tuh saya bikin kombinasi warna pandan hasilnya kayak gini. Kalau menurut saya sih jauh lebih cakep gitu kombinasinya. Jamnya warna putih, strip-nya warna gelap. By the way, untuk yang trail band ini bahannya pakai nilon ya. Menurut saya nyaman banget di kulit. Enak buat dipakai harian maupun saat olahraga. Keringetan sampai di bawah berenang menurut saya juga enggak masalah. cepat keringnya. Paling ya mesti rutin dicuci aja sih ya. Kayak mungkin seminggu sekali gitu dibasah-basahin, direndam supaya tetap fresh dan enggak ada bau-bau yang aneh ya dari jamnya. Untuk jamnya sendiri secara keseluruhan kalau menurut saya ternyata enak kalau dipakai sekalipun ukurannya lumayan gede 47 mm. Ukuran yang gede ini di satu sisi bikin jamnya lebih kelihatan maskulin, kelihatan sporty. Kerenlah kalau menurut saya. Cuma di sisi lain ya mungkin akan bikin orang yang lengannya lebih kecil bakal menghindari pakai produk ini. Kecuali dia enggak ngerasa masalah gitu pakai jam yang kelihatan gede. Itu beda cerita. Tapi kalau saya sih masuk ke kategori pertama yang senang-senang aja pakainya. Terus sebagai versi Ultra, sebenarnya jam ini kan lebih ditargetkan bagi mereka yang butuh sebuah perangkation dengan ketahanan ekstrem dibandingkan smartwatch standar. Kalau kita nyontek di website-nya Samsung kan ada gambar orang lagi berenang di laut, ada juga yang naik gunung dia dingin gitu. Nah, dua scanner ini emang memungkinkan dan tidak seperti Samsung Watch lainnya. Watch Ultra ini punya material yang pakai aerospace grade aluminium. Jadi emang didesain untuk bisa berurusan dengan air asin. Dia kuat dan tahan korupsi. Terus sertifikasinya juga udah military standard plus 10 ATM yang udah bisa dipakai nyelam hingga 100 m di air asin ya. Ketahanan suhu juga udah bisa dari 20 sampai 55 derajat. Jadi kayak kuat di segala kondisi. Fitur lainnya juga mendukung banget sebenarnya dia kayak punya dual GPS yang sepemakaian saya udah cukup akurat. Paling enggak buat lari-lari di sekitar komplek udah oke. Fitur keamanan di sini juga lengkap seperti misalnya ada fold detection ini akan otomatis menghubungi kontak darurat. yang udah disetel ketika dia mendeteksi kita jatuh atau ada benturan keras. Terus untuk fitur sirine SOS ini juga dibawa. Sangat cocok bagi mereka yang mungkin beraktivitas di alam lepas kayak misalnya lagi tracking, lagi naik gunung segala macam, lagi di hutan ya segala macamnya dan butuh bantuan. Ini suaranya bisa up to 89 dB dan jaraknya diklaim bisa sampai 180 m. Jadi kalau di tempat yang sepi ini harusnya bisa sangat kebantu. Aktifin-nya kita bisa mencet ini tombol yang warna oren ya. Ditahan ditahan sekian detik gitu nanti dia akan muncul notifnya. Ya, bukan notif sih, kayak ada menunya gitu nih, ada siren seperti ini. Ee sedikit ee warning buat yang pakai toos bisa dikecilkan dulu sedikit karena ini suaranya bakal cukup nyelekit di kuping kayak ini [Musik] ya. Kurang lebih seperti itu. Kurang lebih begitu suaranya. Jadi kalau misalnya tempat yang sepi dengan pitch yang tinggi juga seperti itu ya harusnya bisa kedengaran dengan lebih gampang. Nah, dengan segala macam fitur-fitur canggih tadi, apakah saya memaksimalkan si Watch Ultra 100% pada potensinya? Jawabannya tentu tidak. Untuk memakaian kalau saya dengan Watch Ultra ini memang benar-benar saya pakai sehari-hari ya. Olahraga maupun enggak saya pakai. kerja atau lagi santai. Olahraga emang saya enggak sampai yang trail run yang triatlon yang berat-berat gitu. Enggak, enggak sampai kayak gitu. Enggak sampai lari ultra juga. Yang lari paling sesekali terus mungkin di gym atau berenang yang lebih sering. Kalaupun jarang olahraga ya enggak apa-apa juga sih. Watch Ultra ini menurut saya tetap keren kok untuk dipakai sehari-hari di macam-macam aktivitas. Fungsi utamanya sebenarnya udah pasti ya untuk tracking aktivitas sehari-hari kita seperti langkah, hard rate ya penting udah tahu kita udah cukup gerak atau enggak setiap harinya. Ada juga fitur ECG serta pengukuran tekanan darah yang kalau saya bandingkan dengan alat tensi beneran ya cukuplah untuk kita dapetin angka perkiraan. Cuma tetap untuk dapetin angka yang lebih akurat pakai alensi beneran ya. Ini buat perkiraan aja. Kemudian buat notifikasi ini juga kepakai tapi saya sekarang udah mulai meminimalkan untuk ngirim notifikasi ke jam ya. Kalau lagi di jalan, lagi olahraga oke, tapi kalau misalnya saya lagi kerja ya biasanya saya matiin tuh notifikasi ke smartphone biar lebih fokus dan enggak akan sama getaran atau bunyi di tangan. Soalnya kayak lagi ngetik terus ada getar-getar di tangan. Apalagi kalau telepon segala macam ya. Kalau misalnya saya lagi enggak pengin ngekat ya mendingan enggak usah gitu. Nah, soal notifikasi Watch Ultra sebagaimana lainnya dia udah bisa munculin semua notifikasi yang ada di smartphone. Udah bisa disetel semuanya. Chat bisa langsung dibalas ya, ada keyboard-nya. telepon juga bisa diterima dan langsung ngomong berkat kehadiran mikrofon. Paling ya dari segala skenario pemakaian si Galaxy Watch Ultra ya yang menurut saya kurang disarankan itu adalah dipakai ketika tidur ya. Ini jam agak besar dan agak berat. Bukan hanya bisa bikin sebagian orang tidak nyaman, tapi menurut saya bisa berbahaya juga buat mereka yang tidurnya udah tidak sendiri gitu. Versi saya sih kalau tidur sama istri atau sama anak ini ketiban pakai jam ini kan kita gak bisa ngontrol tiba-tiba tangan kita ke mana gitu. Ketibaan mukanya kan lumayan banget bisa memicu keributan yang tidak penting gitu harusnya. Cuma karena itu juga saya jadi perlu ada perangkat ekstra buat tracking tidur. Alternatifnya kita bisa pakai Samsung Galaxy Ring atau bisa juga dengan Galaxy Fit 3 yang jauh lebih ringan. Soalnya sayang banget kalau kita udah tracking aktivitas seharian pas geraknya olahraganya semua dapat dengan Watch ultra. Tapi karena kita malas pakai dia tidur kan jadi kek skip. Apalagi ada angka penting seperti energi score yang cuma bisa muncul di smartwatch-nya ketika kita pakai tidur. Tapi di sisi lain kalau misalnya enggak mau repot dan pasangan kita juga enggak masalah serta kita nyaman-nyaman aja, ya udah dipakai aja pas tidur. Satu hal penting juga yang perlu di-share soal Galaxy Watch Ultra ini adalah baterainya ya. Seberapa ultra sih baterainya ini? Kalau kita ngelihat apa yang ditampilkan Samsung di website mereka, sebenarnya ini cukup biasa aja. Totalnya dikatakan cuman 100 jam. Itu pun dengan mode power saving kok kayak agak kurang ya untuk Watch Ultra. Ternyata setelah saya pakai untuk sehari-hari tanpa always on display, tanpa power saving ya, penggunaan tipical saya aja itu saya bisa dapat kayak tiga atau 4 hari lah maksimal sebelum harus ngecas lagi ya. tanpa Always on display, tanpa power saving. Tapi kalau misalnya saya pakai Always on Display, saya cobain tuh juga ya dapat sekitar 2 hari. Yang mana ya cukup oke, enggak harus tiap hari ngecas, cuma untuk sebuah jam yang namanya ultra tentu kita berharap bisa lebih dari itu. Tapi ya okelah, not bad ibaratnya. Jadi, ya kesimpulannya setelah menggunakan jam ini kurang lebih 6 bulan terakhir tetap recomended apalagi buat mereka yang sudah ada di ekosistemnya Samsung. Mencari jam terbaiknya Samsung saat ini dengan fitur yang paling lengkap, desain yang menurut saya paling keren. Plus ya seperti yang saya sudah sempat singgung di awal, harganya sudah mengalami penurunan yang lumayan sekali. Jadi untuk sebuah perangkat yang umurnya di Indonesia baru sekitar 6 bulan. Jadi kalau emang ya tertarik ini bisa menjadi opsi. Tapi ya kalau dibilang ini jam yang perfect tentu tidak ya. Ya, dari baterai dia bukan yang paling awet. Dari koneksi ya dia juga bukan yang paling fleksibel karena hanya bisa digunakan dengan smartphone Samsung aja. Jadi kalau kalian pakai iPhone, kalian pakai smartphone lain ya mohon maaf ini jam bukan untuk kalian ya. Jadi kalau misalnya cocok ya user Samsung cari jam yang paling mantap ya Galaxy Watch Ultra. So far so good. Saya masih puas sama jam ini. Tapi kalau menurut kalian gimana oke atau enggak? Ada yang udah pakai juga boleh share ceritanya di kolom komentar yang ada di bawah. Untuk sekarang kayak segitu aja dulu. Makasih banyak nonton sampai habis. Boleh di-like, boleh di-share, boleh dislike. Apapun itu makasih banyak Putit. Sampai ketemu lagi di video berikutnya. Dan seperti biasa have a nice day. Yeah.
Video Lainnya
Di tengah lonjakan harga kebutuhan sehari-hari, menemukan perangkat pendukung produktivitas yang andal tanpa menguras kantong menjadi tantangan tersendiri bagi para...
Kehadiran bocoran seputar iPhone 18 Pro di tengah riuhnya pasar smartphone tahun ini memicu perdebatan sengit mengenai urgensi melakukan upgrade. Lewat pendekatan...
Kabar mengejutkan datang dari jagat media teknologi tanah air seiring keputusan DKID Media untuk menyudahi KOTEK (Komedi Teknologi) tepat di episode kesepuluhnya....
Dunia teknologi kembali diguncang oleh sebuah inovasi radikal lewat kehadiran lini Huawei Pura X Max yang siap menggeser dominasi iPhone dan Samsung. Kehadiran...
Bayangkan jika smartphone andalan Anda tiba-tiba kehilangan sinyal akibat masalah IMEI yang diblokir di Indonesia. Situasi tak terduga inilah yang memaksa seorang...
Mencari laptop tipis dan ringan di tengah lonjakan harga RAM global belakangan ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pelajar dan mahasiswa yang bersiap...
Kabar mengejutkan datang bagi para pencinta ekosistem Apple karena raksasa teknologi ini dikabarkan siap merombak strategi harga mereka secara global. Kenaikan...
Ketika hampir semua produsen ponsel berlomba-lomba menyematkan emblem 'Ultra' pada produk andalan mereka, sebuah pertanyaan besar muncul: apakah sang pionir masih...
Kehadiran laptop berprosesor mobile sering kali dipandang sebelah mata oleh para pencinta performa, namun adu tanding terbaru antara MacBook Neo dan laptop gaming...
Persaingan di pasar ponsel pintar kembali memanas setelah sebuah perangkat baru hadir dan langsung mengguncang dominasi merek yang selama ini dikenal sebagai raja...
Kabar kurang menyenangkan datang bagi para pencinta ekosistem Apple, menyusul rumor kuat mengenai lonjakan harga perangkat masa depan mereka akibat ketergantungan...
Tecno Camon 50 Pro 5G sempat dipandang sebelah mata saat pertama kali meluncur karena label harganya yang menyentuh angka 5,5 jutaan terasa terlalu mahal. Namun,...
Samsung tampaknya mulai mengubah strategi di pasar kelas menengah dengan meluncurkan Galaxy A37 dan Galaxy A57 di pertengahan tahun 2026 ini. Langkah berani raksasa...

















