DULU KERJA KANTORAN, SEKARANG PUNYA 50 RESTORAN 😱 INI KISAH FOUNDER MAGAL GROUP INDONESIA🤩 (YouTube Video)
Pak Jeffre sekarang memiliki 50 lebih restoran. He. Padahal sebelumnya cuman hanya karyawan ya, Pak? Heeh. Karyawan dari perusahaan elektronik. Betul. Kok bisa ya, Pak? Bagaimana tuh ceritanya tuh, Pak? Kita mau dengar nih, Pak. Aduh, ceritanya gimana ini ee waktu saya kerja di perusahaan tersebut Iya. Saya memegang posisi itu meng-ghandle sales di luar Jabo Detabek. Hm. Jadi, pekerjaan saya hampir seminggu sekali pasti keluar kota. Iya. Nah, keluar kota itu saya selalu coba kuliner. Oh, jadi saya waktu kuliner saya pikir, aduh saya punya mimpi nih kalau one day saya akan punya satu restoran yang di mana menyatukan semua masakan-masakan yang dari Iya. Gitu loh. Waktu itu saya coba buka namanya rempah-rempah. Rempah-rempah. Hm. Karena ilmunya kurang ya, Pak ya. Iya. I jadi itu ada uang sekolah lah ya. Pembelajaran. Pembelajaran. Oke. Kita belajar. Wah, ternyata perlu Central Kitchen nih. Jadi enggak enggak survive. Iya. Terus kebetulan karena koneksi saya di perusahaan tersebut, saya jadi banyak kenal orang Korea karena ada brand-brand Korea yang saya pegang. Iya. I. Nah, saya minta dibridingin tuh saya tuh Korea lagi booming kan. Iya. Dibridingin lah saya dengan yang namanya Magal. Iya. Saat itu Magal memang mencari partner di Indonesia. Indonesia. Kebetulan lokasi saya yang bekas rempah-rempah itu lokasinya di Snopati. Oh, jadinya. Premium premium. Jadi mereka mau waktu itu cuma ada tiga empat restoran Korea ya diera Sopati sekarang sekarang sudah 35 Pak restan Korea di Sopati persaingannya udah enggak enggak ini lagiah enggak perlu terobosan lagi tuh Pak Iya makanya jadi ee kita buka doing well ya berjalan terus sampai sekarang Bapak bilang kan ada 50 jadi ada restoran apa lagi ya Pak? Ada masakan Indonesia, masakan Korea, masakan Chinese food, masakan Jepang, eh kafe, spot bar. Spot bar juga ada. Bu Avi sekarang memegang kendali berapa restoran ya, Bu? Kurang lebih semuanya, Pak. Sama ya? Semuanya cuma Heeh. Cuma kita punya tim lagi. Iya. Ya, timtim di bawah. Betul. Ada tim areanya juga. Iya. [Musik] Ya, welcome to RC podcast Resto Cafe and Coffee. Ngobrol bareng orang-orang populer di Jalur Kurinel. Hari ini kita bertemu dengan Pak Jeffre Pribadi, founder dan owner dari Magal Group yang mengelola e 50 restoran dan juga dengan Bu Avi yang cantik. yang kelihatannya kalem. Tapi nanti coba kita dengarin suaranya apakah dia kalem apa tegas. Karena enggak mudah ya memanage 50 restoran dengan hanya kalem ya. Apalagi bandal-bandal ya. Oke Pak Jefri kita mau teruskan ee pembicaraan kita mengenai ee Magal ya. Saya dengar kalau restoran-reson Korea yang di sana tuh kan dia ee dimiliki oleh orang Korea. Nah, sedangkan Bapak tentunya costnya terlalu tinggi kalau buka cabang terus dengan chef orang Korea kan. Nah, saya mau dengar filosofi Bapak sehingga Bapak bisa terus buka cabang begitu banyak tanpa orang kerya di dalamnya. Gimana, Pak ceritanya, Pak? Magal itu kan sebenarnya di Korea itu ee cukup banyak ya, Pak ya. Ada sekitar 400. Oh, 400 waktu sebelum COVID. Iya. Iya. Eh, di sana itu dia konsepnya memang varian barbecue versi watek gitu loh. Oke. Iya. Cuman kalau dimasukin ke dibawa ke Indonesia kita upgrade. Jadi kelasnya kita naikin size-nya kita lebih besar. Kalau di Korea itu size-nya cuma 4 60 m 80 m di lantai 2 gitu tapi titiknya banyak. Iya. Iya. Benar. Nah, karena Korean barbecue itu ee termasuk makanan medium ya mungkin ya pangsa pasarnya medium ya. Kita bawa masuk ee kita lihat. Oh, ternyata pangsa pasarnya lebih banyak orang Indonesia yang makan. Karena benar yang Bapak bilang tadi, kalau orang Korea dia carinya restoran yang ada Koreanya. Dan karena Magal itu retail chance, Iya. Iya. Ee kurang diminati sebenarnya kalau untuk orang Korea mereka lebih cari authentic city-nya ya. Kalau yang utentiknyaentiknya orang Korea. Jadi karena pangsa pasarnya orang Indonesia ya kita pikir sudah saatnya kita harus berani nih pakai ini. Tapi tentunya dengan konsep desain yang memang kekorea-koreaan gitu loh. Iya. Iya. Iya. Dari situlah Bapak berkembang tanpa ada orang Koreanya gitu. Iya. Setelah COVID sih dulunya dari magalnya mengharuskan kita ada orang Korea. Tapi pas COVID pas COVID game chance lah, Pak. semuanya berubah gitu loh. Kita harus mikirkan bagaimana nih ee investasi Magal yang tadinya X menjadi X kurang 30% supaya orang mau ambil franchise kita. Franchise. Betul. Kalau dulu jual X sebelum COVID orang mau. Sekarang jual X setelah COVID orang enggak mau karena harganya udah ketinggian nih gitu. Jadi kita harus cari akal. Cari akal berarti kan kita harus cost efisien ya. Iya betul. Jadi renovasi size kita kurangin, kecilin. Nah, terus yang tadi yang strategi saya bilang, kita lihat jeli-jeli mata ada restoran mana nih yang baru bukan 6 bulan tutup. Ah, kita samperin, kita beli equipmentnya semua sehingga investasi kita jadi benar-benar affordable lah. Keberanian Bapak pertama itu kan Bapak sudah buktikan ya, Bapak dengan gaji yang besar di satu perusahaan punya saham, Bapak tinggalkan semua jadi nol. He. Ketika nol memulai, Heeh. Bisa bangkrut loh, Pak. Dan Bapak ngalamin bangkrut. Ngalamin bangkrut kan. Tapi Bapak enggak menyerah kan karena Bapak punya passion kan. Akhirnya Bapak masuklah ke Chen FnB ya yang Magal ini kan. Yang keberadaan kedua adalah kan waktu COVID kan semua orang rontok Pak. Iya semua tiarap semua loh. Bapak malah beliin Iya. kitchen-kitchen mereka kan. Iya. Nah itu kenapa tuh Bapak kenapa begitu berani tuh Pak? Kalau Magal kita survive COVID wave ya Pak. Jujur kita develop satu sistem namanya Magal Barbecue at home. Iya. Jadi orang kan enggak bisa keluar rumah tapi mau makan Korean barbecue. Iya. Dan suasananya juga seperti di restoran. Iya. Jadi kita ee develop konsep barbecue at home. Kita datangin semuanya peralatan ee plmate piring semua kita bawa. Jadi barbecue-nya kita kasih ee grill yang portable. Iya. Sehingga memang dia seperti makan di restoran, Pak. Oh, gitu. Iya. Saya sempat dipanggil sama Pak Ded Kobusier waktu itu, salah satu restoran yang survive COVID wave. Jadi, saya sebenarnya saat COVID Magal boleh dibilang tidak rugi palt sehingga ada uang ekstra lah. Nah, uang ekstra itu kita pakai untuk akisisi beberapa resto yang sakit ee interior sama equipmentnya. Keberanian yang masuk akal ya. Iya. Karena kan orang takut keluar kan kan itu enggak lama kita 1 bulan 2 bulan kita jalan semua ngikutin Pak. Oh iya. Ah, sampai kita bikin juga magal drivethrough. Jadi, jadi dia klakson dari mobilnya. Tin tin tin, nanti orang kita keluar. Heeh. Kasih pesan apa semua nanti diantar ke mobil itu juga kita jalanin. Dulu kita kalau sales 100% 90%-nya itu dari barbecue at home. Kita percaya nih kalau misalnya nanti setelah balik lagi barbecue at home masih diminati, Pak. Karena kan orang kadang-kadang mau bikin acara di rumah i tapi persentasenya juga sudah kebalik sekarang. Iya. I ini 90%nya 10% mungkin. Iya. Iya. Itu bagaimana cara Ibu memanage segitu banyaknya restoran? Ee yang pasti kerja sama tim ya, Pak ya. Kita ada divisinya sendiri, divisi operasional sendiri tuh ada tim ee per brandnya juga. Di brandnya juga ada tim areanya juga, Pak. Oke. Jadi kita ada di manajement levelnya tuh ada areanya, area managernya. Di store-nya tuh kita ada head store-nya juga. H gitu. Jadi daily-nya kita komunikasi by phone aja sih, by WhatsApp kayak gitu. Ada handicap apa yang Ibu hadapi? Paling sulit memang kekar karyawanan sih, Pak. Karena kan kita di bedang servis. Jadi kita harus mengelola itu SDM supaya gimana bisa kasih servis terbaik. Itu yang agak sulit sih memang. Ee bagaimana tren kuliner Korea di Indonesia beberapa tahun terakhir ini nih? Meningkat sekali. H saya kan cerita tadi di Senopati waktu kita buka restoran cuman lima kali Korea. Iya. Iya. Sekarang sudah 30 lebih, Pak. 30 lebih. Nah, kuenya bayangin tuh dibagi 30 sekarang. Iya. Iya. Saya rasa dalam waktu 6 bulan nih juga banyak yang rontok kayaknya. Iya. Iya benar. Karena enggak enggak Iya. Ya, thanks to Netflix ya, nonton Korean drama. Jadi ee lifestyle-nya kebawa juga gituah. Magal itu sering kalau misalnya ada event ee penyanyi Korea datang ke kita Oh. Ke Indonesia kita kirimin kayak mereka kan perlu ada ee lamsamnya ya, makanan gitu kan. Makanan yang siapin makanannya kita tuh misalnya 5 hari kita terus kirim ke mereka. Iya. Mereka senang ya. Iya. Jadi branding juga sih sebenarnya. Nanti kita dimasukin di dalam ininya ya IG-nya mereka itu kan medsos dia tuh ya. Betul. Dan itu langsung orang yang follow Magalm kan. Iya betul. Dari situlah mungkin orang juga tahu kita gitu. Oke. Ee Bu Evi ee mau tanya nih Bu Evi. Magal ini hanya menyajikan makanan Korea atau ada yang lain ya Bu? Kalau Magal sendiri Korea, Pak. Only Korea ya. Kita only Korea. Iya. ya. Oke. Apakah ada rencana untuk menghadirkan konsep baru di luar Korean barbecue nih, Pak Jeffre? Indaj Minang kita ada Padang. Padang. Oh, I ya. Oke. Terus terus ee sabu jin, sabu-sabu and grill. Oh, i ya. Saya pernah dengar itu ya. Terus terus Ola kita kayak coffee shop. Terus ee Nobel tha. He. Nobel thaie. Thai Food. Terus magalnya juga kita kembangkan. Ada Magal signature, Magal Bunsik. Signature berarti yang mahal ya? Yang mahal. Jadi VIPV VIP room konsepnya. Dan kita yang develop, Pak. Sebenarnya di Korea tidak ada. Jadi kita yang mengusulkan ke Korea, eh aku mau bikin ini nih, Magal Signature nih. Karena kita melihat persaingan kan. Betul. Betul. Bahwa wah sekarang yang main di kelas magal banyak banget nih kita yang menciptakan market baru gitu loh, Pak. Dengan magnature. Jadi kita naikin kelasnya gitu loh. Betul. Betul. Sebenarnya terowosan apa saja yang sudah Bapak lakukan nih, Pak? Kita benar-benar coba mengikuti market demandnya sama follow the trend aja gitu loh. Kayak semisalnya harga jual. Iya. Di kalau di Korea itu tidak ada all you can eat, tapi di Indonesia kita develop all you can eat. Oke. Jadi maksudnya ada all you can eat dan alakat ya. Ada orang kadang kan yang mau entertain tamu atau entertain temannya kan dibudgetin gitu loh. Dengan all kan udah ada harganya x rupiah sudah pasti angkanya segini. Dia bawa teman-teman all you can sudah tahu nih budgetnya kan. Betul gitu. Kita kita ya karena juga waktu itu trend all you can eat lagi lagi rising gitu loh. Jadi kita develop all you can eat. Terus ee kita ada waktu itu apa? Squid Game ya yang lagi nget Squid. Oh ya tahu yang orang itu kan. Iya. Jadi kita pakai ee beberapa karyawan kita di weekend pakai bajet pakai bajet su game foto gitu. Iya kan? Jadi kita harus follow the trend ya karena kan target-marketnya Magal tuh wanita cewek usianya antara 20 sampai 40. Jadi berarti sebenarnya Korea ini semakin berkembang. Iya, karena yang lain-lain ya. Jadi makanannya juga sama, tapi mesti selera Indonesia ya, Pak ya. Iya. Itu ada termodifikasi enggak, Pak? Karena kan orang Korea magal di Korea sama sama sih, Pak. Orang Indonesia sama ya? Sama. Makanya itu yang membuat kita tertarik buka Magal karena kita tidak ada merubah sedikit pun. Kopi paste dari Korea sudah diterima rasanya di Indonesia. Diterima ya. Oh ya, itu paling enak ya karena enggak ada modifikasi lagi ya. Betul kan? Magal tuh terkenal kita ada program tahunan Pak. Makan Magal dapat mobil. Oh ya iya. Makan mangal dapat mobil. Tahun lalu mobilnya Kia Sonet. Wow. Nah tahun ini mungkin kita mau mobil listrik nih Pak. Mobil listrik ya. Iya. Oh gitu. Iya. Programnya selama 5 bulan di semua cabang. Yaus kita juga bikin waro-woronya gitu loh. Marketing communication ke market. I kita buat gitu loh. Bu Avi tadi kan Ibu menghadapi kendala di karyawan ya. Sekarang apa yang membuat Ibu senang? Mungkin pelajaran yang saya dapat ya, Pak ya, dari Pak Jefri itu Pak Jefri itu membuka lapangan kerja untuk orang-orang banyak gitu. Jadi lebih ke arah kita mau menjadi berkat buat banyak orang sih. Mungkin yang belum kesebut sama Pak AJ sih dari tadi itu apa yang mau diperbesar gitu loh. Itu untuk membagikan berkat ke banyak orang. Pak Jefri, terakhir Pak Jefri eh mungkin Bapak bisa memberikan closing statement kepada teman-teman yang dengarkan ee podcast ini. Oke, mungkin yang saya mau sampaikan itu bagaimana bisa bertahan di suatu bisnis ya, Pak. Ya, mungkin saya selalu ajarin ke anak-anak nih, ke tim tuh bahwa kita tuh kalau namanya kerja ya pasti ada masalah. Iya. Jadi saya selalu nah kadang-kadang masalah itu anak-anak tuh kurang apa ee kurang mau namanya nih membereskan masalah itu kan pasti orang berusaha kayak aduh masalah nih gitu kan ya saya suka ajarin ke mereka tuh harus stay longer with the problem gitu loh kadang-kadang dengan stay longer with the problem itu jawabannya muncul pasti Pak kadang-kadang kan enggak sabar aja gitu betul betul terus harus namanya run the extra mile gitu jadi ee bekerja jangan puas di angka 10 kalau bisa besok jadi 11 ya 11 besok jadi 12 ya 12 terus perbaiki gitu loh iya iya ya karena puas itu tolak ukurnya sampai di mana tuh kita harus kritis gitu untuk kata-kata puas gitu loh nanti itu harus terus kita cari gitu loh i nah jadi itu itu sih pesan saya buat ya yang mau merintis bisnis ya iya bahwa magal ada hari ini dari satu store menjadi 50 store ya karena kita mau randa mile kita mau stay longer with the problem iya jadi ya kita bisa survive gitu oke Oke, terima kasih Pak Jefri sudah hadir di RCC podcast Bu. Semoga Ibu bisa semakin sukses bersama Pak Jefri. Oke, thank you. Oke, Pak Jeffre. Eh, Bu terima kasih sudah hadir di RCC podcast. Ini ada kenang-kenangan dari sponsor kita dari Onasis. Thank you, Pak.
