Ekstra Besar, Ekstra Lega, Berkualitas, Bikin Puas - Review Sony BRAVIA 5 98 Inci (YouTube Video)
Ini adalah smart TV terbesar Sony saat video ini dibuat. Ini adalah Bravia 5 98 inci. Ya, walaupun namanya Bravia 5, smart TV ini tetap hadir dengan banyak fitur unggulan khas Bravia. Ada backlight mini LED dengan XR backlight master drive. ini memungkinkan tampilan cemerlang dengan brightness tinggi tapi minim gangguan blooming. Selain itu, mini LED di TV ini sudah menggunakan blue and green LED yang disebut menawarkan white color gambut sekelas quantum dot. Lalu ada fitur baru yang hanya tersedia di Bravia 5 ini. XR Clear Image dengan new AI algorithm untuk super resolution. Ini bisa membuat konten resolusi rendah tetap tampil prima di layar yang besar banget ini. Nah, Tif ini menawarkan resolusi 4K. refresh rate-nya sampai 120 Hz. terbilang relatif pas ya untuk TV dengan layar sebesar ini. Fitur audio juga khas Bravia dengan voice zoom 3 dan akustik multi audio. Menariknya untuk fitur gaming, selain auto low latency mode dan variable refresh ada juga dukungan Dolby Vision 4 gaming. Jadi buat main game harusnya mantap juga ini. Oke, langsung aja kita mulai pembahasan Smart TV super besar ini. Oke, Bravia 5 ini lini TV kelas menengah atas yang ditawarkan oleh Sony. Posisinya tentunya masih ada di bawah Bravia 9, Bravia 8, dan Bravia 7. Nah, untuk keluarga Bravia 5 terbaru dengan kode XR50, Sony menghadirkan dalam beberapa varian ukuran layar. Ada yang 55, 65 inci, 75 inci, dan yang paling besar yang ini adalah yang 98 inci. Ini ukuran layar yang besar banget. Kita akan coba lihat kualitas yang ditawarkan Bravia 5 ukuran yang paling besar ini ya. Tapi sebelum itu kita coba kenalan dulu dengan Bravia 5 yang satu ini mulai dari paket penjualannya. Nah, di dalamnya tentunya ada unit Bravia 5 98 inci. Lalu ada set stand berisi dua kaki penyangga TV dan bautnya. Lalu ada remote control lengkap dengan baterainya. Ada kabel power, ada cover untuk mounting stand, ada paket dokumen juga. Nah, Sony menggunakan konsep harmonic presence untuk Bravia 5 ini. Ini terlihat mengusung desain minimalis yang membuatnya cocok ditempatkan di mana saja. Untuk baselar ini memang bukan yang paling tipis ya dengan ketebalan sekitar 2 cm tapi kami merasa ini wajarlah untuk TV dengan layar yang besar banget ini. Selain itu, basel ini juga terlihat simetris untuk keempat sisi layar karena bezel bawah layarnya tebalnya juga sama di 2 cm. Nah, untuk stan ini tipe flat dan dipasang ke sisi belakang TV seperti ini. Hanya ada satu posisi pemasangan stan saja ya di sini ya. Ini agak berbeda dengan varian layar yang lebih kecil di lini Bravia 5 yang punya dua opsi ketinggian pemasangan stan. Stan ini mengangkat TV sekitar 7 cm dari permukaan meja. Ini membuat kita bisa menempatkan soundbar di bawah TV ini dengan mudah. Oh ya, Sony menyertakan cover untuk menutup area pemasangan stand ini membuat sisi belakang TV jadi terlihat lebih rapi. Nah, selain tempat pemasangan stand, di sisi belakang TV ini juga ada empat lubang untuk Vesa mounting ya dengan ukuran 600 * 400 mm. Tentunya ini bisa dipakai buat masang TV ini langsung di dinding ya. Nah, ada dua buah speaker jenis twitter. satu di area kiri dan satu di area kanan ini menghadap ke samping. Nah, kemudian di sini ada handle untuk mengangkat TV ini yang ditempatkan di area dekat sudut kiri bawah dan kanan bawah. Lalu ada juga konektor AC input di area kiri serta deretan konektor IO di area kanan. Oke, sekarang kita coba lihat di bagian bawah dari TV ini. Di sini ada dua buah speaker. Ini speaker X Balance yang menghadap ke bawah. Ada juga modul build-in microphone dan sensor untuk voice command di area tengah. Nah, di dasar area tersebut ada juga tombol power serta switch on off untuk build-in mikrofon. Secara umum TV ini dimensinya tanpa stand, 125,5 * 8,5 cm. Sementara kalau pakai stan tinggi keselurannya jadi 132,5 cm dan tebalnya jadi sekitar 48,8 cm. Nah, kalau untuk bobot TV ini beserta stannya itu bobotnya sekitar 71,4 kg. Memang berat ya, tapi wajarlah untuk TV sebesar ini. Oke, untuk spesifikasinya layarnya 98 inci 4K UHD 3840 * 2160 pikel. Backlight-nya pakai mini LED dengan blue and green LED serta teknologi XR backlight master drive. Tentunya ini mendukung lokal diming pasti ya. Untuk refresh r-nya up to 120 Hz. Untuk HDR dia bisa HDR10, HLG, dan Dolby Vision juga bisa. Untuk video prosesor dia pakai XR prosessor. Nah, beberapa fitur unggulan khas Bravia juga tersedia di TV ini termasuk XR Contrast Booster 10, lalu ada XR clear image, XR motion clarity, dan masih banyak lagi. Untuk audio, dia punya dua twitter masing-masing 10 watt dan 2 X balance speaker masing-masing 10 watt. Jadi, total power-nya ada di 40 watt. Untuk fitur-fitur dia punya Dolby Audio, Dolby Atmos, DTS Digital Sound, DTSX, Voice Zoom 3, akustik multiudio dan lain-lain. Untuk fitur gaming tentunya ada ALLM, VRR gaming multiView dengan YouTube nih ya. Lalu ada auto HDR tone mapping, auto general picture mode, dan lain-lain. Untuk smart feature-nya untuk OS dia pakai Google TV 12 dan ini sudah mendukung voice command baik lewat remote Bluetooth maupun langsung dengan mikrofon yang terintegrasi di smart TV-nya sendiri. Dia juga sudah mendukung Google Chromecast Buildin, Apple AirPlay, serta Apple Home Kit. Jadi kalau butuh casting tampilan dari smartphone, tablet atau laptop ke layar yang lebih besar, layar TV ini yang besar banget nih ya bisa tentunya. dan ini mendukung berbagai macam perangkat. Ada juga Eco Dashboard terintegrasi. Ini fitur optimalisasi konsumsi energi. Jadi berbagai opsi optimalisasi dan efisiensi yang tersedia akan dikumpulkan dan langsung bisa diakses dari dashboard ini. Nah, nanti kita lihat ya se powerful apa kemampuan dashboard yang satu ini. Untuk kreativitas dia bisa WiFi 6 ini dual band ya 2,4 GHz dan 5 GHz. Lalu Bluetooth versi 5.3. Ethernet tentunya ada juga. Untuk TV digital tentunya tersedia. Masa Smart TV modern enggak bisa buat TV digital Indonesia? Bisa dong. Nih, kita coba pasang antena ya. Lalu scan channel kelihatan kan? Nah, kita dapat banyak sekali siaran TV digital di Indonesia. Untuk reaktor IO di sini ada dua USB, satu digital audio out, ada satu audio jack 3,5 mm untuk S center speaker in. Lalu ada dua HDMI 2.0 dengan label 1 dan 2 serta mendukung 4K 60 Hz. Ada lagi 2 HDMI 2.1 dengan label 3 dan 4 ini mendukung 4K 120 Hz. Nah, port dengan label 3 ini juga mendukung arc atau ec untuk koneksi ke soundbar. Tentunya di sini ada port Ethernet dan antena input ya. Nah, seperti biasa Smart TV Bravia pada umumnya ya selain ada setup awal Google TV ada juga beberapa pengaturan khas Sony termasuk akustic auto calibration dan pengaturan untuk input. Setelah itu, Smart TV langsung bisa kita gunakan untuk nikmati konten. Nah, kalau mau langsung pakai aplikasi Google TV, berbagai aplikasi tentunya tersedia di sini. Di antaranya Netflix, YouTube, Disney Plus Hotstar, serta tentunya aplikasi andalannya Sony, Sony Pictures Core. Ya, kalau butuh aplikasi lain gampang, tinggal cari di Google Play aja. Ada banyak banget aplikasi yang tersedia. atau mau pakai TV ini dengan input dari perangkat yang lain. Nah, di sini ada 4 port HDMI. Tapi untuk input 4K 120 Hz-nya memang cuma ada dua port HDMI 2.1 ya. Dua port lainnya itu sayangnya cuma HDMI 2.0. Nah, saat kami coba HDMI 2.1 di TV ini memang langsung mendukung output 4K 120 Hz. Dan saat HDR-nya aktif ini langsung terdeteksi 10 bit yang berarti dia bisa menampilkan 1,07 miliar warna. Sementara untuk port HDMI 2.0 ya memang bisanya sampai 4K 60 Hz aja di sini. Sekarang kita coba navigasi di Smart TV ini dengan remote bawaan ya. Navigasinya ini mulus banget ya. Sesuailah dengan kelas dari TV yang satu ini ya. Nah, kalau kita bicara soal remote bawaan ya, ini hadir dengan gaya modern dengan tombol yang enggak terlalu banyak ya. Kalau dibutuhkan ada juga shortcut ke berbagai aplikasi streaming populer. Mau pakai voice command bisa. Kita coba ya kalau kita pakai micnya seperti apa ya. Open YouTube. Opening YouTube tapi kalau gak mau pakai remotenya mau pakai hands free dengan buildin mikrofon dari TV-nya sendiri bisa juga. Oke Google, Opening YouTube for Android TV. Nah, untuk USB port yang ada di TV ini mendukung penggunaan storage dan keyboard serta mouse juga. Jadi kalau mau ngetik bisa lebih mudah aja nih ya. misalnya buat cari judul film atau maukin password buat login di aplikasi. Nah, kita bisa pasang keyboard ini ya. Nah, bukan cuma bisa keyboard USB loh, dia juga bisa pakai keyboard Bluetooth juga. Oke, satu hal yang cukup terasa saat pertama kali mencoba Smart TV ini untuk nonton konten ini, TV-nya terang banget. Kami merasa buat TV ini menawarkan brightness yang tinggi sekali ya. Tapi bukan cuma sekedar terang aja, tampilan dari TV juga terasa relatif berwarna gitu ya. Jadi ini bukan cuma sekedar mengandalkan ukuran besar doang nih ya. Bukan cuma asal besar bukan. Langsung aja kita coba ukur ya. Oh ya sebagai catatan kami tidak mengaktifkan power saving untuk pengujian kali ini ya. Oke untuk priset standar gamut coverage-nya ada di kisaran 97% sRGB dengan gamut volume di 130% sRGB. Kalau untuk gamut di CP3-nya gambut coverage-nya sekitar 84% dan gambut volumen-nya sekitar 92%. Nah kita ganti ke preset vivit. Sat resi warna tawarkan di PS ini tentunya lebih tinggi daripada standar dengan gamut coverage itu ada di 99% sRGB atau 88,9% di CP3 serta gambut volume di 152% sRGB atau tepatnya 108% DCIP3. Lalu kita ganti ke Cinema. Nah, di sini kelihatan ya ini coba dioptimalkan ke 100% SRGB dengan gamut coverage di 95% sRGB dan gambut volume sekitar 105% sRGB. sayangnya memang belum bisa yang dua-duanya tuh nempel banget ke 100% SRGB. Tapi enggak masalah sih, udah mantap kok ini ya. Jadi secara umum TV ini memang belum menawarkan warna yang super rapi banget ee atau akurat banget. Tapi tampilan TV ini tidak akan pernah terasa kekurangan warna lah. Yang jelas ya tampilan warnanya udah oke untuk berbagi kebutuhan dan sudah sangat mencukupi sesuai dengan claim white color gamut dari Sony yang disebutkan merupakan efek dari penggunaan blue and green LED. Oh ya, Sony mengadakan juga mode studio calibrated di Bravia 5 ini tersedia untuk Netflix, Prime Video, dan Sony Picture Core tentunya. Nah, tampilan di mode ini sudah dituning sesuai dengan bagaimana konten ingin ditampilkan oleh kreatornya sesuai dengan platform yang digunakan. Nah, ini bisa diaktifkan dari menu settings untuk pictures ya. Nah, bagaimana dengan brightness-nya? Nah, ini yang yang dari awal kita rasa kok ini terang banget ya. Saat kami coba ukur di preset standar dia menawarkan brightness sampai 500 nit. Ini udah cukup terang sebetulnya. Sementara untuk vivit yang saat kami coba di awal merasa terang banget brightness-nya secara standar aja ternyata bisa mendekati 1000 nits. Luar biasa. Mau nonton di ruangan dengan ambient yang terampun ya banyak jendela-jendela pun TV ini masih mumpuni. Bahkan mungkin kita harus sedikit menurunkan brightness-nya kalau kita nonton dengan preset vivit ini ya supaya enggak terasa terlalu terang terutama kalau ruangannya memang ditutup semua gitu gordennya atau memang enggak punya jendela. Nah, lalu bagaimana kedalaman warna gelapnya? Menurut kami ini sudah terbilang cukup baik ya. Walaupun memang belum sampai yang hitam pekat banget, tapi mini LED dengan local diming aktif memang tetap bisa membantu mendapatkan warna hitam yang dalam. Jadi untuk kontras secara umum ini udah bagus nih kontrasnya ya. Sayangnya saat ada tampilan terang di tengah ambience yang gelap, kami masih merasakan ada efek blooming sedikit nih ya atau munculnya bocoran bayangan putih di area yang harusnya gelap. Untungnya menurut kami ini belum sampai terasa sangat mengganggu. Ini kita aja sih sebetulnya ngintip satu-satu gitu ya. Oke, sekarang coba kita lihat untuk konten HDR-nya. Brightness di mode HDR sayangnya hanya naik sedikit saja dari mode SDR ini naik ke kisaran 1300 nit. Jadi tampilan hadir di TV ini memang belum yang luar biasa cemerlang kelas atas ya. Cemerlang kelas atas ya. Nah, kami juga merasa ada sedikit penurunan warna tampilan untuk konten-konten HDR. Saturasi warna jadi terasa belum sebaik untuk konten non HDR. Untungnya tampilan HDR di sini masih cukup terjaga dengan detail tampilan yang masih dipertahankan di area gelap maupun di area terangnya. Jadi untuk HDR ini memang masih belum yang bisa dikatakan yang luar biasa kelas premium atas banget ya. Tapi bukan berarti ini HDR-nya bukan yang berkelas bukan. ini tetap berkelas lebih ke arah kita sebetulnya berharap bahwa HDR-nya bisa lebih mantap lagi. Nah, hal yang sama juga kami rasakan untuk Dolby Vision agak kurang mantap tapi tidak sampai mengganggu kenikmatan nonton konten. Bukan sampai kelihatan ini, "Wah, ini wah kayak TV Rp10 juta." Enggak, enggak begitu. Enggak sama sekali tidak begitu ya. Cuma tentunya datang dari Sony dengan kelas Bravia 5 kita berharap bisa lebih tinggi lagi sebetulnya ya. Nah, Tif ini juga belum menggunakan permukaan dengan layar anti reflektif. Jadi bayangan dari apapun yang ada di depan TV akan sangat mudah sekali dipantulkan. Ini akan lebih terasa saat konten yang kita tonton tuh punya ambientience tampilan yang gelap. Tapi untuk konten dengan tampilan terang dan berwarna yang beratnya tinggi, TV ini bisa mengatasi pantulan bayangan yang mengganggu ya. Kecuali kalau memang ada pantulan dari sumber cahaya terang di depan TV seperti lampu misalnya. Nah, kalau bicara soal kerapian tampilan ya untungnya kita tidak menemukan adanya area gelap yang mengganggu di sudut-sudut layar. Wah, mantap nih. Sementara untuk viewing angle memang masih ada sedikit pergeseran saturasi warna dan kontras kalau kita lihat dari sudut yang miring banget. Tapi ini belum sampai yang mengganggu lah sebetulnya nih sini ya. Nah, selain itu ukuran TV ini juga cukup besar. Jadi kalau menonton ramai-ramai dengan TV ini dari depan gitu ya, itu masih terbilang mudah. Kita enggak perlu e sampai harus nonton dari samping lah harusnya nih ya karena lebar banget TV-nya. Nah, sekarang kita bahas upsceller-nya. Sony menggunakan XR Clear Image dengan new AI algorithm untuk Super resolution. Ini memang benar-benar terasa efeknya karena konten resolusi 1080p dan 720p pun masih tampil cukup baik di layar yang super besar seperti ini. Memang kita tentunya belum bisa berharap tampilan bisa diangkat jadi sekelas 4K beneran ya. Tapi detail-detail di video yang kami coba tonton itu enggak sampai hilang atau ngeblur parah gitu. Enggak. tanpa upscaler yang baik, video 720p pun itu udah kehilangan banyak detail di TV bahkan yang 65 inci. Nah, yang ini kan 98 inci dan detailnya masih bisa dipertahankan relatif bagus di sini. Jadi, upsceller di Bravia 5 ini memang kelasnya beda. Ini mumpuni banget yang satu ini. Nah, terkait fitur untuk membuat konten dengan frame rate rendah. Jadi, saya akan tampil dengan frame rate tinggi di sini ada XR Motion Clarity. Secara umum ini aktif di berbagai preset tampilan, tapi Sony sepertinya sudah memperhitungkan efek dari XR motion clarity ini. Di kondisi standar kami tidak merasa efek gerakan mulusnya tuh selalu terasa. Jadi lebih ke arah secukupnya aja. Bahkan kalau kita mencoba mode khusus Dolby Vision atau mode seperti Netflix calibrated, nah di sini XR motion carity udah diatur hanya untuk mengurangi efek patah-patah yang mungkin muncul saat nonton konten dengan frame rate di 24 fps. Nah, kalau mau tampilan gerakan mulus, licinnya itu selalu terasa bisa dengan setting manual dipentokin ke kanan atau kalau mau efeknya sama sekali tidak digunakan bisa juga dengan mudah ini bisa dinonaktifkan. Nah, untuk menu setting khas Sony Bravia ada overlay di bagian bawah seperti ini ya. Sebagian besar pengaturan dasar itu yang mungkin bisa diakses tuh udah ada di sini semuanya. Nah, kalau butuh masuk ke pengaturan picture dan sound yang lebih lengkap itu juga bisa dibuka dari sini dan akan muncul sebagai overlay di sisi kanan layar. Jadi kalau kita mengubah pengaturan tertentu untuk tampilan layar, efeknya bisa langsung kita lihat. Sementara untuk menu pengaturan lain ini masih menggunakan bawaan dari Google TV. Oke, kita beralih ke audio. Sony tentunya menyediakan acoustic auto calibration untuk optimalisasi suara sesuai dengan posisi TV di ruangan kita. Secara standar ini ditawarkan ya saat setup awal. Tapi kalau kita butuh menjalankannya sewaktu-waktu ini bisa juga dijalankan secara manual lewat menu yang satu ini. Siapa tahu kan kita mau mindahin TV dari satu ruangan ke ruangan lain terus semua setup ulang bisa tuh ya. Nah, untuk speaker terinteasi di TV ini suara yang tawarkan sudah terbilang relatif rapi dan lantang. Kualitas suaranya juga terbilang memadai dengan meet yang cukup menonjol, travel yang cukup terasa, serta bass yang walaupun bukan yang mendentung gede banget, tapi sudah sangat mencukupi kok di sini. Untuk berbagai kebutuhan menikmati konten ini harusnya sudah oke banget. Separasi suara terbilang mencukupi juga khususnya untuk suara yang tidak terlalu ramai. Untuk suara yang ramai banget memang ada sedikit penurunan tapi itu wajar untuk sebuah TV kelas gini. Sementara untuk efek surround kami merasa memang ini cukup luas ya walaupun memang belum sampai yang terasa mengelilingi kita banget gitu ya. Nah, kalau butuh pengaturan lebih lanjut untuk audio ada beberapa yang disediakan Sony termasuk equalizer di sini. Nah, untuk voice zoom 3 ini fitur khas Sony ya tersedia juga di sini nih. Fitur ini akan mencoba mengangkat suara vokal agar terdengar lebih jelas atau bisa juga untuk meredam suara vokal kalau dirasakan terlalu kencang. Jadi mungkin nonton film-film drama gitu ya, mau vokalnya lebih kedengaran lagi itu bisa tuh ini dioptimalkan dengan yang satu ini. Pengaturan untuk fitur ini tersedia dari overlay jadi bisa diakses secara cepat. Nah, saya juga menawarkan post processing untuk kualitas suara TV ini. Ada opsi Dolby audio dan DTS Virtual X. Ini bisa dipilih sesuai dengan selera aja. Tapi kalau ini diaktifkan, beberapa fitur seperti Voice Zoom 3 jadi enggak bisa digunakan. Secara umum ini bukan sistem audio sekedarnya aja nih ya. Walaupun memang bukan yang terasa kelas atas, tapi ini sudah menamakkan audio yang terbilang mantap mencukupi untuk banyak skenario penggunaan menikmati konten dengan TV ini. Ya, cukup sesuailah dengan kelas TV ini ya. Nah, kalau menggunakan sistem audio tambahan kita bisa pakai koneksi ec atau digital audio out. Nah, kalau yang digunakan adalah soundboard dari Sony yang mendukung S center out, kita juga bisa pakai sistem audio TV dengan memasang kabel dari soundbar ke jack 3,5 mm yang tersedia. Oke, sekarang mari kita coba TV ini untuk main game. Karena ada ALLM, TV akan otomatis beralih ke mode game saat kita masang konsol. Seperti contohnya PlayStation 5 ya. Atau kalau kita pakai PC desktop atau laptop, kalau kita mengaktifkan VRR, mode game ini akan juga otomatis aktif. Di mode game ini beberapa post processing untuk kualitas tampilan tentunya tidak akan digunakan supaya tidak menyebabkan adanya input lag yang mengganggu pengalaman kita gaming. Ini sedikit berimbas ke tampilan yang kita tawarkan di TV-nya tentunya ya. Saat kami coba cek gamut coverage untuk preset standar itu ada di 97% dengan gamut volume sedikit turun ke 103%. SRGB ini masih tetap cukup berwarna sih sebetulnya ya. Nah, di mode game ini Sony menyediakan game bar. Ada beberapa opsi pengaturan cepat terkait fitur gaming di dalam game bar ini seperti pengaturan priset tampilan dan rasio tampilan. Fitur seperti black equalizer juga tersedia ya atau kalau VRR aktif kita juga bisa melihat frame rate dari game yang dimainkan di game bar ini. Nah, saat dipasang ke PlayStation 5 lewat HDMI 2.1, dukungan resolusi 4K dengan refres 120 Hz langsung kita dapatkan. VRR dan HDR tentunya juga bisa kita gunakan ya. Nah, ini memungkinkan kita menikmati game dengan tampilan mulus, rapi, bebas gangguan dari teering atau startering. Apalagi ada fitur seperti auto HDR tone mapping, auto general picture mode. Ya, nyaman sekali nih buat main game dengan PlayStation 5 di TV ini ya. Pasangannya ini kan ya. Sementara saat dihubungan ke PC, TV ini terdeteksi GSNC compatible dan saat kita aktifkan ini berjalan dengan baik. gaming tentunya terasa imersif sekali ya dengan ukuran layar yang besar banget ini. Ditambah kualitas tampilan yang ditawarkan TV ini memang mumpuni banget. Input like jelas enggak terasa di sini. Tapi perhatikan juga ya kalau mau main game 4K 120 FPS dengan TV ini, PC yang kita gunakan atau laptop yang kita gunakan itu harus punya spesifikasi yang mumpuni untuk gaming high frame rate di resolusi tinggi. Jadi bukan karena TV-nya bisa 4K 120, game-nya pasti bisa jalan 4K 120 ya. device kalian harus bisa jalan for 120 dulu. Nah, untuk konsumsi daya mini LED dengan local diming itu membuat konsumsi daya bisa naik turun sesuai dengan konten yang tampil di layar. Saat kami coba untuk tampilan mayoritas gelap, konsumsi daynya bisa turun sampai di bawah 100 watt. Sementara untuk tampilan yang terang, baik untuk konten SDR maupun HDR, di preset Vivit, konsumsi daya cenderung lebih banyak ada di kisaran 520 sampai 540 watt. Sesekali aja dia bisa naik di atas 550 wat. Nah, untuk preset standar konsumsi dayya ada di kisaran 250 sampai 350 watt. Sesekali aja dia bisa lompat-lompat dikitlah di atas itu. Sementara untuk setting cinema, konsumsi daya ada kisaran 200 sampai 280 watt. Oh ya, itu power saving-nya masih kita matikan dari tadi ya. Kalau power saving kita atur ke low, konsumsi daya sepertinya dibatasi agar tidak lebih dari 200 watt. Sementara kalau power saving diatur ke high, konsumsi daya malah bisa ditekan di bawah 100 watt. Itu dalam keadaan tampilan terang ya. Tapi memang berantas kesusulan layar jadi terasa jauh lebih rendah saat power saving ini diaktifkan. Jadi enggak heran ya ada menu khususnya karena ya ini memang bisa dari 500-an watt turun sampai di bawah 100 watt bahkan sampai 60-an watt bisa. Oke untuk harganya Sony Bravia 5 98 inci ini dipasarkan dengan harga kisaran Rp69.999.000. Ini terbilang cukup wajar untuk smart TV dengan ukuran layar sebesar ini, brightness setinggi ini, teknologi secanggih ini. Untuk detail lebih lanjutnya bisa langsung cek aja ya di kolom deskripsi. kita langsung masuk ke dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, di sini hanya ada dua port HDMI 2.1 dan salah satunya udah dipakai untuk arc atau ERc. Jadi kalau kita pakai soundbar yang enggak punya HDMI input, HDMI 2.1 yang kita pakai bisa jadi cuma tinggal satu aja nanti ya. Lalu untuk permukaan layar ini terbilang cukup banyak memantulkan bayangan dari apa yang ada di depannya. Untuk nonton konten yang banyak tampilan gelap ini berpotensi bisa mengganggu kenyamanan ya. Apalagi kalau ruangannya terang. Kemudian beratness tinggi yang ditawarkan priset Vivi terkadang jadi terasa agak mengganggu juga nih ya. Membuat mata jadi cepat lelah ya. Terutama kalau ruangannya gelap nih malah nih ya. Jadi terlalu terang ya. Setting aja, turunin aja sih sebetulnya gampang ya. Lalu untuk kualitas tampilan di mode HDR ini belum benar-benar mencapai harapan kami untuk kelas harganya. Ya, sudah mencukupi sebetulnya, tapi kami merasa bahwa harusnya bisa lebih rapi lagi. Kemudian kita masih bisalah nemu efek blooming yang terasa saat ada area terang di tengah tampilan yang mayoritas gelap. Walaupun emang si ini harus dicari-cari banget ya. Kemudian untuk konsumsi daya ini bisa cukup besar bisa mendekati 600 watt. Ini cukup wajar tapi sebetulnya untuk layar besar dengan brightness yang setinggi ini. Nah, untuk kelebihannya jelas. Pertama, layar besar dengan saturasi warna yang mantap dan brightness yang tinggi. Ini menawarkan tampilan yang terang dan berkelas. Upscaler ini luar biasa sih. Ini mumpuni banget ya. Bahkan bisa ngangkat konten 720p. Tampil dengan cukup bagus di layar yang besar banget ini. Sebetulnya untuk layar-layar 98 inci begini ya harusnya enggak ada masalah sih kalau 720p-nya gagal ya. 1080p aja lah. Ini udah gede banget soalnya. Tapi di sini 720p pun bisa di-upscale dengan bagus. Lalu mini LED dengan blue and green LED ini memang bisa membantu TV menawarkan white color gamut. Ada fitur local diming juga di sini kan ya, jadi lebih mantap lagi. Lalu ters dukungan untuk Dolby Vision dan HDR10. Ada ALLM dan VRR. Ada menu khusus untuk gaming juga ya. Lalu ada juga fitur khusus untuk optimalisasi gaming dengan PlayStation 5. Lalu ada juga gaming multiview. Ini bisa untuk main game sambil nonton walkthrough atau konten lain di YouTube misalnya. Nah, Google TV di Bravia 5 ini terbilang juga nyaman sekali digunakan ya, karena navigasinya mulus lancar. Harusnya nih semua smart TV kayak gini aja ya, kencenginlah itu e sistem smart-nya itu biar enak makainya. Lalu dia tidak pakai OLED. Jadi resiko terkena burn in itu terbilang sangat kecil sekali. Dia juga punya mode power saving yang membuat konsumsi daya TV yang besar banget. Ini bisa ditekan rendah banget. Tapi ini memang buat kualitas tampilan agak turun. Cuma ya wajarlah kalau kita mau di bawah 100 watt ya harusnya ee ada yang dikorbankan. Tapi untuk TV 98 inci bisa nyampai di bawah 100 watt itu udah aneh loh. Kemudian yang jelas dia udah siap untuk menerima siaran TV digital Indonesia ya. Nah, Sony Bravia 5 ini bukan smart TV yang cuma nawarin layar super besar aja ternyata ya. Ini Smart TV yang bisa menawarkan layar super besar dengan tampilan berkelas yang cocok untuk berbagai kebutuhan hiburan kita. Smart TV ini akan cocok untuk yang ingin membangun pusat hiburan di rumah dengan tampilan ekstra besar yang cocok untuk sekedar santai-santai sambil nikmati konten video, nonton film sampai gaming pun bisa di sini. Secara umum Bravia 5 ini memang bukan TV yang menawarkan kualitas tertinggi di keseluruhan kemampuannya tapi kombinasi berkelas yang ditawarkannya membuatnya sangat layak untuk dilirik. Saya Did Irfan Jaka TV. [Musik]
