Fibonas, Microg , GBOX | Siapa sih Mereka ?! (YouTube Video)
Beberapa hari ini pembahasan tentang Huawei ramai lagi. Bukan soal tabletnya, bukan soal layarnya, bukan soal ekosistemnya yang canggih. Tapi soal pertanyaan yang sejak 2019, sejak mereka memutuskan berpisah dengan Amerika, pertanyaan ini sudah ada. Aplikasi Google-nya gimana? Bisa enggak? Nah, sekarang pertanyaannya lebih spesifik. Aplikasi Google-nya native enggak? Karena bisa dipakai dan bisa native itu sebenarnya dua hal yang berbeda. Kalau enggak native, aman enggak? Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan ini menurut saya wajar ya, karena konsumen harus bayar puluhan juta untuk tabletnya Huawei atau HP-nya Huawei. Mereka ya wajarlah kalau nanya aplikasinya jalan atau enggak, data saya aman atau enggak, pengalamannya sama kayak perangkat Android biasa atau beda. Wajar, enggak salah karena customer itu butuh keamanan, kepercayaan, dan juga transparansi. Pertanyaan lain juga ada, si Huawei ini pakai Android atau pakai Harmony OS sih? Nah, sebenarnya untuk ngejawab semua pertanyaan tadi, kita harus mundur dulu lumayan jauh di tahun 2019. Pada 16 Mei 2019, Huawei dan beberapa puluhan afiliasinya itu sama Kementerian Perindustrian Amerika sanalah itu dimasukin entity list oleh Amerika karena perang dagang antara Cina dan juga Amerika. Dampaknya itu bukan sekedar, wah Huawei jangan jualan di Amerika. Enggak sesimpel itu, tapi ini jadi pukulan telak banget buat Huawei. Intinya dengan entity list ini, dia enggak boleh dilayani sama perusahaan teknologi Amerika. Efeknya Google, yang Google itu adalah perusahaan Amerika, dia enggak boleh ngasih lisensi apapun ke Huawei. Dan sebenarnya bukan Google aja ya, kayak Micron, SK Hynix, terus juga Snapdragon. Pokoknya perusahaan-perusahaan US itu melarang melayani Huawei lah. Jadi Huawei enggak boleh pakai chipset Snapdragon, MediaTek, enggak boleh pakai RAM dari produsen US, intinya kayak gitu. Cuman kita fokus ke Google-nya dulu sekarang ya. Nah, karena Google adalah perusahaan Amerika, jadi mereka enggak boleh ngasih GMS atau Google Mobile Services ke Huawei. Nah, kalau Huawei enggak boleh ngasih Google Mobile Services, kenapa di AIDA atau di device cek lain dia terbacanya Android 12? Sebenarnya Google Mobile Services dengan Android sama-sama milik Google, tapi ini dua hal yang berbeda. Dan ini penting ya, perlu kalian catat. Jadi Android itu ada versi AOSP-nya atau Android Open Source Project. Open Source yang artinya bisa diakses oleh siapapun. Jadi kode dasarnya ini bisa digunakan dan dimodifikasi oleh siapapun ya, karena ini open project. Tapi layanan sehari-harinya untuk kita nyebutnya itu Android normal pada umumnya, itu enggak bisa. Android normalnya itu kayak apa sih? Ya kayak Google Play Store-nya, Firebase Cloud Messaging, buat notif-notif, terus Google login, terus pembayaran, nah itu enggak bisa. Karena itu butuh lisensi dari Google. Nah, jadi setelah sanksi Huawei ini masih boleh atau masih bisa pakai Android karena ya ini open project. Cuman kalau pertanyaannya kenapa Android 12? Wah, itu harus dijawab Huawei ya. Karena sebenarnya kalau kita mau main Android versi apapun, 13, 14, 15, 16, ada versi AOSP-nya, ada versi open project-nya. Jadi kalau Huawei mau pakai Android 16 pun yang versi open project harusnya bisa ya. Dan saya lihat sih Huawei Pura yang terbaru bocorannya mereka pakai Android 16. Nah, pertanyaannya kenapa yang versi Mi Pad Pro Max ini contohnya pakai Android 12? Nah, itu juga harus ditanyakan ke Huawei. Kan ada versi 16-nya, walaupun tetap open project. Buat analogi gampangnya, bayangin gini deh. Jadi Android AOSP atau open project itu anggap aja dia itu dinding, struktur ya, rumah lah. Tapi rumah ini masih kosong, enggak ada utility-nya. Nah, utility ini cuma bisa pakai punyanya Google kayak listrik, internet, apalagi ya utility ya? Air gitu-gitu itu butuh GMS Google. Jadi Huawei tetap bisa bikin rumah, tapi untuk bikin rumahnya ini proper atau lengkap tetap butuh lisensi GMS. Ya Huawei masih bisa sih ngebangun rumah itu dengan utility miliknya sendiri. Masalahnya jutaan aplikasi APK yang ada di Android itu mereka enggak cuma butuh rumah, mereka itu butuh internet, listrik dan juga air utility, butuh Play Protect, butuh lisensi dari Google. Karena mereka sudah terbiasa hidup dari internet, listrik dan juga air dari Google. Bayangin ya di 2019 Huawei itu brand smartphone nomor dua di dunia. Mereka baru saja jual 240 juta HP dalam satu tahun, target mereka jadi nomor satu. Dan semuanya hancur lebur karena satu kebijakan negara. Banyak yang ngeramal waktu itu ya itu adalah ending atau kiamatnya Huawei lah. Tapi ternyata setelah 7 tahun Huawei global terutama ya itu masih survive sampai sekarang. Nah, gimana caranya? Waktu itu saat Huawei Mate 30 muncul di akhir 2019, Huawei menghadapi masalah yang sangat berat karena mereka Huawei global terutama ya mereka harus jualan tanpa ekosistem Google. Dan kalau kita ngomongin Huawei, Huawei itu sebenarnya smartphone bagus yang banyak banget inovasinya kayak contohnya reverse wireless charging itu Huawei yang pertama kali nemuin di Huawei Mate 20-nya. Terus telefoto optikal di body smartphone biasa tanpa lensa yang gede itu ada di Huawei P40 Pro Plus. Pindah files pakai tangan yang gini set pindah itu juga Huawei. Tapi apa artinya inovasi ketika Huawei global ini enggak bisa native Google? Di mana semua orang global kecuali China ya itu masih bergantung sama Google. Waktu itu 2019 ramai banget tuh jasa suntik GMS, wah itu ramai banget di komunitasnya Huawei karena dulu kan dia nomor dua tiba-tiba jatuh kayak gitu jadi komunitasnya bergerak untuk bikin solusi. Banyak yang tanya WhatsApp-nya gimana, YouTube-nya gimana? Nah, awal-awal Huawei solusinya kalau kalian ingat dulu ada namanya phone clone-nya Huawei. Jadi, aplikasi ini mindahin kontak, foto, file, dan beberapa aplikasi dari HP lama ke HP Huawei baru, tapi aplikasi yang dipindahin tetap enggak sempurna ya. Karena kalau aplikasi itu butuh lisensi Play Protect, butuh lisensi Google Play Services, tetap enggak bisa dipakai atau bisa tapi beberapa error kayak notifnya enggak bisa, terus dibukanya nge-lag, terus force close gitu-gitulah. Terus dulu ada pendekatan yang menurut saya cukup menarik ya, namanya web shortcut. Jadi, kalau misalkan kalian mau buka YouTube, buka dulu browser www.youtube.com terus link ini dijadiin shortcut ditaruh di home screen biar seolah-olah terlihat aplikasi. Google Maps dulu juga ditaruh di shortcut web browser sama Huawei, tapi sekali lagi ini adalah solusi yang kalau ibarat jalan itu dia harus memutar gitu ya, enggak natif. Jadi, di fase awal-awal itu Huawei belum siap dengan ekosistemnya. Jadi, mereka itu bikin kayak istilahnya bukan mengembalikan Google-nya dulu deh, mereka tetap pakai Google walaupun dengan jalan yang muter-muter kayak gitu tadi. Tapi dari perjalanannya karena efek dari sanksi ini ya Huawei harus mandiri ya. Nah, akhirnya mereka memutuskan untuk fokus di AppGallery dan juga HMS Core-nya. Kalau dulu si AppGallery itu cuma jadi toko pelengkap kayak contohnya sama kayak Samsung Store, Xiaomi Store itu kan tetap ada walaupun Play Store tetap ada ya. Nah, sekarang dia harus bercerai dan jadi single parent. Banyak orang kira AppGallery itu kayak cuma sekadar toko aplikasi yang kumpulan APK yang bisa kita download gitu, enggak. Dan APK-APK Android yang modern itu butuh running background yang banyak banget. Contohnya kalau misalkan kalian butuh login ada Google Sign In, notifikasi itu ada Firebase Cloud Messaging, peta ada Google Maps SDK, terus buat security ada Play Integrity, buat pembayaran itu ada layanan Google Play, wah macam-macamlah banyak. Jadi, Google Mobile Services itu satu paket gitu. Nah, di 2020 Huawei itu belum siap HMS Core dan juga Gallery-nya walaupun dia sudah mengembangkan ya. Namanya itu ada Huawei Account Kit, Push Kit, Map Kit, Location Kit, In-App Purchase, Analytics, Ads, dan lain-lainlah. Jadi, tugas developer itu bukan cuma nge-upload APK ke Play Store, nge-upload aplikasi ke iOS gitu, enggak. Mereka juga butuh coding lagi. Nah, sekarang mereka sudah ada iOS, sudah ada Android, tambah lagi ada App Gallery dari Huawei yang nanti ke depan Harmony OS next itu sudah enggak pakai APK lagi. Cuman itu kan butuh waktu ya. Enggak mungkin developer bisa langsung dar masuk dalam semalam gitu, enggak mungkin. Walaupun kalau kita lihat sekarang sudah banyak sih beberapa aplikasi native di App Gallery-nya Huawei. Jadi, kalau kalian punya device Huawei, kalian bisa cek. Intinya di App Gallery itu kalau kalian cari perbankan itu saya cek semuanya sudah native sih, BCA, BNI, BRI. Pokoknya yang native itu yang bawah ya, itu enggak ada tulisan provider-nya, berarti dia native. Tapi kalau di bawahnya ada Fibonas, Gbox, APKPure, nah itu masih solusi pihak ketiga. Sebelum kita bahas tiga orang ini apa, saya tahu kalian mungkin sudah pengin tahu penjelasan tiga orang ini apa, tapi kita track back dulu. Jadi, gimana sih caranya Huawei survive terus setelah pun clone web shortcut, mereka juga ngeluarin namanya Petal Search [musik] dulu. Salah satu fungsinya ya bantu pengguna buat nyari aplikasi dari App Gallery. Jadi, kalau kita search dia bakalan nampilin APK-APK dari sumber lain dari App Gallery. Kadang APKPure, kadang APKCombo, ya pokoknya APK yang kalian cari itu di-provide gitulah sama dia walaupun itu link eksternal. Tapi kalau kita ngomongin APKPure, sebenarnya ini bukan hal baru ya. Kalian enggak pakai Huawei pun kalian bisa download di APKPure dengan versi-versi yang lebih yang bisa di-tweak gitu kayak YouTube Vanced dulu ya kalau kalian masih ingat, itu juga biasanya download di APKPure. YouTube Premium yang ya enggak harus bayar. Tapi, masalahnya ini tetap ya walaupun pakai Petal Search, aplikasinya ini mau di-download di mana aja, kalian mau by WA kirim APK juga bisa di-install kalau di Android kan. Tapi, sekali lagi Huawei ini enggak punya Google Mobile Services. Jadi, mau aplikasinya bisa di-download, bisa di-install, bisa. Tapi, enggak semua paket Google tadi dijalankan itu enggak bisa. Dulu kalau kalian ingat yang paling parah itu ya kalau misalkan streaming Netflix, Huawei kan layarnya sudah 2K, 3K gitu misalnya. Tapi kalau kalian streaming Netflix karena dia butuh DRM, jadi dia diturunin ke resolusinya atau support-nya cuma di 480p. Bayangin kalian punya HP dengan resolusi yang sudah bagus, tapi cuma bisa Netflix 480p kan aneh kan. Nah, akhirnya setelah solusi Petal Search tadi berkembanglah solusi ini menjadi tiga anak yang kalian tanya-tanyakan ini. Jadi ada Fibonas, MicroG dan GBox. MicroG ini sebenarnya bukan project-nya Huawei ya. MicroG ini sebelum sanksinya Huawei juga sudah ada kalau enggak salah dari 2012 atau 2019. Dia didirikan sama orang Jerman namanya itu Marvin Gipsfield. Dan tujuan MicroG ini dibuat sebenarnya malah untuk privacy enthusiast ya. Jadi kalau misalkan GMS itu kan kita harus langsung satu paket ya mobile service-nya ya. Nah, kalau pakai MicroG kita bisa memilih. Misalkan kita cuma memilih Fire Cloud messaging-nya saja buat notifikasi, itu bisa. Karena orang-orang Eropa itu sangat mengutamakan privacy. Kalau kalian ingat MicroG ini juga bisa pakai custom ROM. Dulu OS-nya itu ada LineageOS, Kali OS, EOS, ya gitu-gitulah custom ROM yang kayak gitu. Dan dia ini 100% open source. Jadi code-nya itu kalian bisa download di GitHub karena ini komunitas. Jadi kalau misalkan ada yang aneh-aneh di GitHub itu ada yang ngedit, ya developer-developer komunitas ini bisa mengaudit dan bisa langsung nyalain. Jadi komunitasnya bakal gerak duluan kalau misalkan ada virus atau disisipi apa. Sebenarnya MicroG ini malah memang untuk privacy enthusiast karena terbuka source-nya. Dan salah satu fitur dari MicroG ini yang disukai sama privacy enthusiast itu ada yang namanya dia intinya enggak bisa tracking lah. Kalau misalkan GMS itu kan ketika kalian instal itu ada banyak yang accept-accept tuh. Nah, kata Google itu untuk keperluan iklan. Nah, di MicroG itu enggak ada. Jadi dia enggak bisa tracking. Tapi, yang perlu dicatat ya kalian harus download MicroG di GitHub resminya ya. Jangan download di MicroG yang aneh-aneh. Karena kalau enggak yang di resminya enggak bisa diaudit kalau misalkan sudah disisipin apa ya wassalam ya. Orang kemarin saja ada HP yang Google-nya resmi tapi dia ternyata ngambilin data-datanya orang. Inisialnya HP Inoi. Tapi, kenapa di Huawei ini butuh Fibonas? Karena Fibonas ini buat search di AppGallery-nya ya. MicroG itu enggak bisa kayak gitu. Cuman sayangnya saya cari siapa sih pembuat Fibonas ini enggak ada datanya. Nah, cocokologi saya ya mungkin Fibonas ini sebenarnya yang funding adalah Huawei tapi karena ada sanksi jadi mereka enggak bisa publish. Karena kalau misalkan kita login pakai MicroG dan pakai Fibonas terbaca nya device-nya itu tetap Huawei enggak yang spoofing-spoofing kayak GBox. Jadi, apakah Fibonas ini milik Huawei? Kalau dari analogi saya ya kayaknya iya deh. Analoginya gini deh biar gampang kenapa Fibonas itu dibutuhin anggap saja Fibonas itu kayak kurir buat belanja ya. Jadi, dia bisa belanja telur, bayam, sayur, dan lain-lain tapi dia enggak bisa masak. Nah, untuk masak ini butuh yang namanya MicroG. MicroG ini anggap saja koki yang dia itu tahu resep masakan ala baratlah, ala Google. Jadi, sebagian menu-menu Google kayak login Google, API-nya Google itu masih bisa. Tapi, dia cuman bisa masak sebagian menu barat ala Google ya enggak bisa semua. Ada yang lebih kompleks lagi, ada yang butuh lisensi. Ada yang namanya Play Protect, Play Integrity, terus in-app purchases. Wah, itu satu aplikasi itu sebenarnya ribet [mendengus] banget guys, kompleks. Nah, solusinya Huawei pakai yang namanya Google Box atau GBox. Kalau MicroG tadi cuman bisa masak beberapa menu ala Google, nah wah si virtual GBox ini enggak. Dia kayak kontainer yang benar-benar mensimulasikan diri dia kalau dia itu adalah Android normal. Kayak contohnya ya emulatorlah. Emulator itu kayak ada kayak Winlator dan juga emulator-emulator lainlah. Jadi, bayangin aja Huawei yang pakai Gbox itu Huawei itu rumah ya, tapi di dalam rumah itu ada kos-kosanlah. Kos-kosannya itu ada satu yang pakai Gbox. Terus ketika YouTube Google masuk ke situ, di sini ada layanan Google enggak? Oh ada, tapi enggak di Huawei ya, di masuk kosnya Gbox itu. Nah, kira-kira analoginya kayak gitulah. Makanya aplikasi Google bisa dibuka, bisa login, bahkan beberapa bisa menerima notifikasi. Tapi perlu dicatat ini tetap enggak native ya, ini enggak resmi. Karena ya aplikasinya enggak bener-bener jalan di atas sistemnya Huawei, enggak jalan di rumahnya Huawei. Dia jalan di kos-kosannya Gbox ini. Jadi ya Gbox ini kamar yang dibikin kayak seolah-olah Google. Apakah dia praktis? Praktis iya, tapi kalau dibilang sempurna mmm ya enggak sesempurna native. Karena semakin banyak perantara, semakin banyak emulasi, itu banyak hal yang dikompromi. Kita aja kalau beli mobil, beli rumah ada makelarnya kan juga lebih harganya lebih tinggi ya. Ya kira-kira kayak gitulah kalau misalkan pakai Gbox. Biasanya RAM, baterai, dan performa itu bisa turun karena proses emulasinya. Sekarang pertanyaannya muncul lagi. Nah, kalau pakai Gbox kenapa kok device kayak contohnya Huawei MatePad Pro Max ini ya, munculnya itu Oppo A93? Secara teknisnya ini dinamakan dengan spoofing, tapi kalau bahasa bayinya ya dia pura-pura menjadi Android yang enggak diban sama Google. Kadang bisa Oppo, kadang bisa Samsung, kadang juga bisa Itel. Apa ada resikonya? Ya jelas ada ya. Pertama pengguna kadang bingung. Misalkan kalian enggak merasa beli HP Itel tiba-tiba ada notif login HP Itel login dari sini. Nah, ini siapa yang beli HP Itel ya? Nah, kadang kan kalian bingung karena spoofing-nya enggak dikasih tahu sama Huawei spoofing ke device apa. Terus yang jelas sih biasanya masalah kompabilitas ya. Karena kalau misalkan Android yang normal, Android yang dikasih lisensi sama Google, kalau misalkan Google update apa gitu ya sistemnya langsung terupdate di Play Store-nya kan. Tapi kalau misalkan yang Gbox ini, biasanya kalau misalkan ada update apa Google, Gbox-nya ini juga lambatlah update-nya. Jadi apa yang bisa sekarang, apa yang kompatibel sekarang, ke depan itu biasanya enggak kompatibel atau kompatibel tapi lebih telatlah dibandingkan dengan Android yang normal karena Gbox-nya juga perlu di-update. Spoofing-nya perlu di-update. Sebenarnya ya kalau kita main Huawei kayak Fibonas, MicroG dan juga Gbox itu adalah opsi yang dipakai di Asia sebenarnya kayak Malaysia, Indo itu pakai MicroG, Gbox dan juga Fibonas. Cuman kalau di China contohnya China itu kan ya mereka memang enggak pakai APK, enggak pakai Android. Cuman ketika warga negaranya itu ke luar negeri mereka kan pasti butuh aplikasi yang Google ya. Nah mereka pakainya itu di Huawei sendiri juga sudah disediain di AppGallery-nya namanya itu Easy Abroad. Terus di pasar negara lain ada Google Space, ada Aurora Store ya itu sebenarnya secara Huawei Global untuk tetap bisa jualan dengan produk Google. Sekarang pertanyaannya enggak usah muter-muter dulu Bang dari tadi historinya Huawei kenapa Huawei biar kalian dapat konteks ya. Huawei itu sebenarnya ya bukan kepenginannya dia untuk bikin Fibonas dan lain-lainnya tadi karena itu adalah sanksi makanya mereka butuh mandiri dengan ngasih solusi itu. Nah pertanyaannya aman atau enggak? Sebenarnya aman atau enggak ini menurut saya probability dan juga grey area ya. Ya kayak contohnya itu tadi HP Inoi resmi Google-nya tapi ternyata dikasih virus. Tapi itu enggak bisa dibandingin sih kalau itu kayaknya sengaja deh itu memang kurang ajar tapi. Kalau masalah aman atau enggak saya sudah melakukan deep research pakai AI Google jadi Bard Gemini dan juga ChatGPT deep research ya. Dan mereka belum menemukan kayak sejuta atau banyak device Huawei yang kena breach atau kena hack dengan mereka pakai Gbox ini belum ada berita atau laporan yang terbuka soal itu. Tapi apakah ini sudah pasti aman? Ya belum tentu juga. Apakah datanya pasti dicuri? Belum tentu juga. Makanya ini grey area. No system is safe ya karena ketika kalian mengiyakan digital kehidupan digital kalian itu entah dari mana caranya, entah phishing lah atau apa lah, cookies lah. YouTube saya aja ke-hack dua kali ya kalau kalian ingat ya. Jadi menurut saya sih no system is safe, jadi kalau ditanya aman atau enggak enggak tahu. Kalau ditanya nyuri atau enggak, kita juga jawabannya enggak tahu. Masalah yang sering kayak gini-gini itu di kompatibilitas sih sebenarnya. Tadi saya bilang apa? Kompabilitas? Kompatibilitas sebenarnya. Masalah-masalah kompatibilitasnya apa? Ya WA error, itu bisa, terus apa lagi? Kalian beli diamond terus ke-ban di PUBG, itu bisa, terus apa lagi ya? Notif enggak muncul, tiba-tiba aplikasi force close, itu bisa terjadi karena yang enggak native. Terus apa lagi ya? Kayak contohnya Google Wallet dan NFC itu jelas enggak bisa karena itu kayaknya masih susah ya Huawei untuk ngasih solusinya, terus apa lagi? Android Auto, itu juga susah. Terus kalau kalian mau nyambungkan Huawei sama Wear OS kalian, kayaknya susah juga deh, tapi saya belum coba. Ada enggak yang pernah nyoba Huawei dikoneksikan sama smartwatch yang Wear OS? Coba ditulis di kolom komentar ya. Harusnya secara logika sih kayaknya enggak bisa. Nah, kenapa masalah-masalah kompatibilitas ini awalnya bisa terus tiba-tiba error gitu? Karena biasanya itu tadi, Google itu meng-update Play Protect-nya, Play Integrity-nya, in-app purchases-nya kan di-update terus ya kayak security-nya, fiturnya itu di-update terus. Nah, Android yang normal, yang di Play Store, yang dapat lisensi, itu ya langsung dapat update. Tapi untuk Android yang enggak native kayak Huawei ini, ya karena dia pakai virtual box tadi, ya ng-update-nya enggak bisa secepat si Android normal. Mereka harus tunggu waktu, harus spoofing ke device mana dulu, Gbox-nya harus di-update, ya kayak gitu. Jadi mereka memang lebih lambat update-nya dibandingkan Android yang normal karena sekali lagi enggak native. [musik] Ah, videonya panjang banget ternyata ya karena ya kita harus tahu dulu konteks kenapa sih Huawei ini bikin Fibonas, MicroG dan juga Gbox karena ya sanksi itu tadi. Pihak yang menanyakan kenapa kok harus ada tiga anak ini, tiga antek Huawei ini kenapa? Ya itu tadi jawabannya, tapi terus pertanyaannya kan berkembang. Ini aman atau enggak? Kalau dibilang aman grey area probability, kalau masalah kompatibilitas ya kompatibilitasnya karena enggak native ada aja masalahnya. Nah, tapi harapan saya dengan adanya keramaian ini ya Huawei sih harusnya berbenah jadi cepatlah mandiri, berdiri di kaki sendiri. Chipset sudah ada. Terus Harmony OS next di Cina kan sudah ada ya itu benar-benar pure enggak pakai aplikasi APK. Nah, cobalah masukin ini ke Indonesia enggak apa-apa bersaing sama iOS sama Android enggak apa-apa. Dengan keramaian ini harapan saya sih Huawei bisa cepat berbenah. Kan katanya Huawei ini kan BUMC ya badan usaha milik Cina harusnya budgetnya unlimited dong. Taruh aja R&D bikin Harmony OS next buat global terus bikin chipset yang benar-benar bisa menyaingi yang antutnya tembus 4 juta gitu. Wah, itu bakalan seru sih karena bisa bersaing tanpa Google mandiri itu menurut saya bakal jadi selling point yang sangat menarik buat Huawei nantinya. Untuk sekarang karena Huawei masih pakai solusi pihak ketiga harusnya Huawei juga menjelaskan ini kenapa di spoofing ini kenapa ada tiga solusi. Tapi kayaknya Huawei enggak bisa menjelaskan deh. Kenapa? Karena kalau mereka menjelaskan kan mereka disanksi kalau mereka menjelaskan bisa kok kita pakai Google pakai cara ini kayak melawan sanksi gitu kayaknya. Enggak mungkin [musik] menurut saya mereka enggak mungkin berani publish kayak gitu. Intinya buat user Huawei yang lama mulai 2019 sejak mereka kena sanksi harusnya sih mereka sudah paham ya bahkan mereka dulu sampai suntik GMS ada tuh jasa suntik GMS dulu ya kalau kalian ingat. Terus Huawei itu juga termasuk selain Xiaomi ya Huawei termasuk device atau gadget yang paling senang di custom room karena secara hardware wah, Huawei itu [mendengus] memang kameranya, layarnya baguslah kecuali chipsetnya chipsetnya masih mencoba mandiri. Reason build quality kalian bisa dapat hardware yang the best dari Huawei pokoknya bukan yang kena sanksi itu the bestlah kalau dari Huawei. Jadi orang yang paham kayak gini malah senang karena sama mereka di otak-atiklah custom room ini itulah jadi device yang wah, ya ada sisi yang ilegalnya juga tapi ya gitulah mereka lebih senang gitu. Tapi untuk orang awam kalau mau beli device Huawei harus riset dulu ya aplikasi kalian itu sebenarnya native enggak sih di sini kalau misalkan kalian enggak tergantung dengan produknya Google tapi kalau bergantung dengan produk Google ah enggak native mending alternatifnya cari tablet yang lain aja sih tapi harapan saya besar buat Huawei semoga dengan adanya gonjang-ganjing ini Huawei bisa lebih mandiri baguslah ya Huawei harusnya wah oke kita kebut kerjaan mandiri kita kita bikin chipset lebih kencang kita Harmony OS next global harusnya respon Huawei yang saya harapkan ya seperti itu tapi menurut kalian gimana coba tulis di kolom komentar saya Nikas Tabudi and see you on the next video bye bye
Video Lainnya
Soundcore R60i NC hadir merusak standar TWS murah lewat fitur noise cancelling memukau, audio solid, dan daya tahan baterai luar biasa. [Video ulasan DKID...
Persaingan teknologi pekan ini menghadirkan gebrakan besar dari chipset Xiaomi XRing O3 yang membukukan skor fantastis, hingga performa M6 Mac Mini. Simak ulasan...
Pergeseran tren desain ponsel pintar mulai menunjukkan arah baru yang cukup radikal. Rasio layar yang kian membesar dan bentuk fisik tak biasa siap mengubah cara...
Menjelang gelaran Apple Event September 2026, rumor mengenai bocoran lini iPhone terbaru hingga inovasi aksesoris canggih kian memanas. Simak prediksi deretan...
Huawei Pura 90s Pro Max hadir membawa kamera telephoto 200 MP serta fitur AI komposisi canggih. HP 5G ini menjanjikan kualitas foto luar biasa yang bikin kompetitor...
Kamera ponsel ini siap menguji batas fotografi konser lewat lensa telefoto tajam dan fitur pencahayaan canggih. Simak ulasan performa visualnya untuk membuktikan...
Persaingan sengit lini *flagship* makin memanas usai Huawei Pura 90s Pro Max membawa terobosan fotografi yang mengejutkan. Akankah keunggulan sensor terbarunya...
Ambisi Huawei mendobrak batasan teknologi fotografi ponsel kembali terbukti lewat Huawei Pura 90s Pro Max. Sensor telefoto 200 MP hingga fitur kecerdasan buatan...
Inovasi kamera Huawei Pura 90s Pro Max 5G menghadirkan pengalaman fotografi yang melampaui ekspektasi. Temukan kejutan performa telefoto mutakhir dan fitur AI...
Mencari jam tangan pintar berkualitas di kisaran satu hingga dua juta rupiah sering kali membingungkan. Jagat Review membedah berbagai pilihan terbaik guna membantu...
Buka Harga Gadget Makin Gak Masuk Akal?? 😭 BIT Podcast COME BACK! untuk mengupas tuntas alasan harga gawai dan laptop yang melambung drastis akibat krisis chip...
Hadir sebagai tablet flagship tertipis di kelasnya, Huawei MatePad Pro Max membawa gebrakan baru dengan integrasi AI canggih dan layar Papermate yang nyaman. Simak...
Huawei MatePad Pro Max membuktikan bahwa tablet berlayar masif bisa tampil super tipis dan ringan. Perpaduan bodi futuristik dan performa tangguh ini siap...
Membawa layar masif berteknologi PaperMatte dan bodi tertipis di kelasnya, Tablet HUAWEI Tertipis, Tercanggih dan Terbaik Tahun 2026! HUAWEI Matepad Pro Max menguji...
Peta persaingan wearable terjangkau pertengahan 2026 kian sengit. Tak sekadar pamer baterai awet, integrasi Health Connect kini jadi standar mutlak. Segera klik...

















