Fitur Mewah, Harga Merakyat, Smart TV Premium dgn QD-Mini LED dan AiPQ Pro - TCL Q6C (YouTube Video)
Smart TV baru ini disebut TCL sebagai definisi TV sempurna. Salah satunya karena mengusung lima teknologi layar terbaik. Ini adalah Smart TV TCL Q6C. Dia pakai QD mini LED yang disebut menarkan warna yang lebih nyata. Ada AIPQ Pro bikin tampilan TV itu jadi lebih mantap untuk dibatin konten. Refresh rate-nya nyampai 144 Hz. Cocok buat gaming juga pakai panel HVA yang katanya bikin tampilan tetap konsisten sekalipun kita melihat TV itu dari sudut yang miring banget ya. Selain itu, Smart TVD juga punya precision diming menjanjikan kedalaman warna gelap yang lebih baik. Enggak cuma itu aja, TCL juga menjanjikan ada teknologi 6 in1 i Comfort serta ada juga Ongky 2.1 HFI system di sini. Tapi apakah semua hal tersebut memang benar-benar membuat TV yang satu ini menjadi sempurna seperti kata TCL? Oke, ini Smart TV TCL Q6C QD mini LED. Lin ini hadir ke Indonesia dalam tiga ukuran layar. Yang paling kecil 55 inci, yang paling besar 75 inci, dan ada juga yang kami uji kali ini ukurannya tengah-tengah nih di 65 inci. Nah, Q6C ini sebenarnya masuk ke lini premium dari TCL, tapi harganya ternyata menarik banget. Bukan harga yang mencerminkan smart TV kelas premium gitu ya. Nah, tapi tetap aja katanya ini premium. Langsung aja lah kita mulai pembahasan Smart TV TCL ini. Mulai dari lihat isi paket penjualannya tentunya dalamnya ada unit smart TV-nya. Lalu ada dua set stand lengkap dengan baut-bautnya. Lalu ada kabel power, ada remote Bluetooth lengkap dengan baterainya juga. Ada clip cable ties untuk cable management. Lalu ada paket dokumen. Nah, TCL menyebut bahwa TV ini pakai ultra slim design. Terlihat cukup tipis memang ya. Ini menghadirkan kesan modern dan membuatnya terlihat rapi saat dipasang ke dinding. Di sisi depan terlihat basel TV ini bukan yang super tipis. Ukurannya sekitar 1 cm untuk bezel kiri, atas, dan kanan. Dan ini jadinya enggak kelihatan tebal-tebal amat ya sebetulnya ya. Nah, untuk bezel bawah layar itu sedikit lebih tebal 1,4 cm. Nah, di sini ada bagian yang sedikit menonjol di dasar area tengah bezel bawah layar. Ini tempat build inin microfon, lampu indikator, serta sensor yang diusung oleh TV ini. Di dasar bagian tersebut ada switch on off untuk build in microphone serta ada satu tombol pengendalian TV. Masih di dasar TV. Di sini ada dua speaker, satu di area kiri dan satu di area kanan. Ini merupakan bagian dari Ongkio 2.1 HFI system. Eh, 2.1 channel. Berarti ada subwover-nya juga? Ada. Subwover-nya ada di sisi belakang TV-nya. Selain subwover, di sisi belakang ini ada juga lubang mounting untuk Vesa ya dengan ukuran 300* 300 mm. Ini tentunya untuk memasang ke bracket atau masang ke dinding secara langsung. Ada konektor AC input di area kanan sisi belakang TV dan ada juga deretan konektor IO di area kiri. Nah, ada juga area untuk kabel management di sisi belakang ini dengan menggunakan klip yang sudah disartakan tadi. Klip tersebut bisa kita pasang di bagian ini nih ya. Lalu kabel bisa kita arahkan agar melewati area tersebut jadi lebih rapi. Untuk stand desainnya itu adalah V terbalik seperti ini. Stan ini ditempatkan agak ke pinggir TV dengan jarak antara stand sekitar 119 cm. Stan ini terbilang relatif kokoh ya dan mengangkat TV sekitar 6,3 cm dari permukaan meja. Ini harusnya membuat kita bisa menempatkan soundbar di celah kolong TV. Nah, untuk dimensi TV-nya tanpa stand4,7 * 83,2 * 5,6 cm. Kalau pakai stan dia jadi 144,7 * 89,5 * 29,6 cm. Bobotnya juga enggak terlalu berat ya, sekitar 17,2 kg untuk TV lengkap dengan standnya. Oke, untuk spesifikasinya itu untuk layar tentunya 65 inci seperti kita bahas tadi ya. Panelnya HVA. Ini adalah jenis panel yang dikembangkan sendiri oleh TCL. Resolusinya 4K 3840 * 2160 pikel. Refresh rate-nya up to 144 Hz di 4K. ini dicapai dengan menggunakan high frame rate mode ya. TCEL menyebutkan ada lima teknologi layar terbaik yang mendukung kemampuan TV ini. Nah, selain panel HVA dan refresh r 144 Hz, ada juga QD mini LED. Jadi, ini menggunakan quantum dot serta backlit mini LED dengan ribuan LED. Lalu ada precise diming dengan 242 dimming zone. Terakhir dia punya AIQ Pro. ini mendukung optimalisasi tampilan dengan AI contrast, AI color, AI clarity, AI motion, AISDR dan sebagainya. TV ini punya fitur gaming modern juga seperti auto, low latency mode, ALLM ya, dan variabel refresh rate atau yang dikenal dengan VRR. Untuk HDR dia pakai Dolby Vision, bisa HDR1, bisa HLG juga. Dia punya 6 in1 iye Comfort termasuk low blue light dan flicker free diming. Untuk audio dia pakai Onq 2.1 HFI system. Onko ini brand audio kelas dunia dari Jepang yang disebut sudah tujuh kali juara home teater terbaik di dunia. Sistem ini terdiri dari 2 speaker 10 watt dan 1 subwover 20 watt. Jadi total power-nya adalah di 40 wat sudah mendukung Dolby Atmos dan DTX Virtual X juga. Nah, untuk sistem smart-nya dia pakai OS dari Google TV, ada Google Assistant dan ini mendukung handsfree Voice Control juga. Chromecast Buildin pastinya tersedia bisa kita pakai untuk mindahin konten dari smartphone, tablet atau laptop ke layar yang lebih besar ini dengan mudah sekali tentunya. Selain itu ada juga Mirac kalau butuh screen mirroring dari smartphone, tablet atau PC. Untuk kreativitas dia pakai Wii 5 dual band, lalu ada Bluetooth versi 5.4 dan tentunya Ethernet juga ada. Untuk TV tentunya sudah di VBT2 ya, jadi sudah support untuk nonton TV digital Indonesia. Enggak perlu pakai STB tambahan, cukup pasang antena aja langsung ke TV ini. Kita langsung bisa mendapatkan banyak sekali siaran TV digital Indonesia. Oke, untuk konektor IO yang tersedia di sini adalah 1 USB 3.0, 1 USB 2.0, 1 Ethernet, 2 HDMI 2.1 ini mendukung input sampai 4K 144 Hz. Nah, port dengan label 1 ini juga mendukung HDMI, ARC atau ERC untuk koneksi ke soundbar. Kemudian ada dua HDMI 2.0 yang mendukung input sampai 4K 60 Hz. Lalu ada satu antena in dan digital audio out. Nah, saat setup awal selain ada setup standar Google TV, kita juga diminta untuk masuk ke akun TCL. Ini enggak bisa kita lewatin ya. TCL pernah menjanjikan akan ada beberapa manfaat yang bisa kita dapatkan dengan akun TCL ini. Tapi untuk sekarang sepertinya masih belum kelihatan gitu ya. Nah, kalau kita mau menikmati konten dengan TV ini secara standar sudah tersedia beberapa aplikasi seperti YouTube dan Netflix juga. Untuk aplikasi yang lain ya gampanglah ya. Ada Google Play di sini. Ada banyak banget aplikasi yang tersedia di sini dan bisa kita instal. Langsung aja. Kalau kita mau menghubungkan TV ini ke perangkat lain bisa. Ada empat port HDMI kan tadi kan. Tapi perhatikan ya, hanya ada dua port yang support refresh rate tinggi untuk resolusi 4K. Nah, saat kami coba hubungan laptop ke kedua port tersebut, kita bisa langsung dapat 4K 120 Hz dengan HDR. Nah, bagaimana caranya mau 144 Hz? Ternyata kita harus aktifkan dulu opsi high frame rate mode di pengaturan HDMI. Setelah aktif, kita bisa dapat 4K 144 Hz HDR, ya. Nah, bagaimana dengan dua port HDMI yang lainnya? Ternyata kita masih bisa dapat refresh rate sampai 120 Hz, tapi resolusinya harus di bawah 4K. Kalau mau 4K cuma nyampai 60 Hz aja. Beralih ke port USB di TV ini. Fungsinya bisa untuk pasang storage berbasis USB dan bisa juga untuk alat input apapun berbasis USB. Kalau dipakai untuk storage, kita bisa muar langsung beberapa format file audio, foto, atau video. Kalau butuh untuk PVR juga bisa dengan storage berbasis USB ya. Sementara untuk alat input ini kita bisa pakai USB-nya untuk masang keyboard misalnya untuk mempermudah saat nginput password atau mau searching judul film di kolam pencarian gitu ya. Oh ya kalau mau pakai keyboard Bluetooth tentunya bisa kan dia juga bisa pakai Bluetooth ya. Mau pasang mouse juga bisa sih harusnya di sini ya. Nah kalau soal remote bawaan ya ini terbilang ringkas dengan gaya yang modern sedikit tombolnya di sini ya. Ada beberapa tombol shortcut juga ke beberapa aplikasi streamer populer di sini. Remote ini sudah langsung mendukung voice input ke TV seperti ini. Open YouTube. Opening YouTube for Android TV. Sementara kalau kita mau pakai build in microphone itu juga bisa ya. Seperti ini nih. Oke Google, open YouTube. Oke, langsung aja kita coba TV ini untuk nonton konten ya. Nah, di sini kita merasakan bahwa saturasi warna yang ditawarkan TV ini terbilang tinggi bahkan sangat tinggi. Sayangnya kami merasa warna yang ditampilkan tuh terkesan kadang-kadang kurang natural aja. Saat kami ukur di mode standar gamut coverageasnya ada di 99,8% sRGB dengan gambut volume tinggi di dekat 128% sRGB. Nah, kalau untuk color gambut DCP3 gamut coverage-nya ada di 87% dan volumen-nya ada di 90,5%. Di mode standar ini kami merasa ada beapa warna yang tampilnya agak kurang natural. Untungnya ini enggak merusak tampilan secara keseluruhan sih, cuma berasa aja gitu ya. Nah, di mode Vivit Gamut volume naik ke 141% sRGB atau 99% DCIP3 dengan saturasi warna biru yang jauh lebih tinggi dari standar sRGB maupun DC iP3. Sementara untuk mode movie, gamut coverage dan volume-nya terlihat diarahkan mendekati 100% SRGB dengan gamut coverage sekitar 93% dan gamut volume sekitar 97%. Mode yang ini nih terbilang relatif pas kalau kita mau pakai buat nonton film. Secara umum kualitas tampilan ditawarkan TV ini harusnya akan terasa memadai bahkan mungkin saja bisa terasa mantap banget untuk sebagian besar pengguna. Tang buat kalian emang sukanya itu warna yang natural banget ya udah sensitif banget mungkin ya untuk warna-warna yang terkesan agak kurang natural mungkin bisa terganggu sedikit dengan karakter warna tampilan TV ini. Tapi rasanya itu cuma sedikit yang akan merasakan seperti itu ya. Dan yang jelas setidaknya TV ini tidak akan pernah terlihat kurang warna gitu ya. Tampilannya secara umum akan tetap terlihat berkelas. Oke, untuk kecerahan layarnya di mode standar dia bisa mendekati 600 nits untuk SDR dan 700 nits untuk HDR. Sementara di mode Vivit bisa mencapai 600 untuk SDR dan lebih dari 800 nits untuk mode HDR-nya. Ini memang belum yang super terang, tapi ini udah cukup tinggi untuk pengunan harian. Termasuk kalau TV-nya ditempatkan di ruangan yang ee agak terang ya. Misalnya ada jendelanya di situ ya di siang hari masih oke yang satu ini. Oke, soal kedalaman warna-warna gelapnya. Precision diming dengan 242 dimming zone memang membantu TV ini menawarkan kedalaman warna yang baik. Ini membuat kontras keseluruhan juga jadi relatif tinggi. Efek blooming atau bocoran warna terang tipis di background gelap itu masih bisa sedikit terasa. Tapi untungnya cuma sedikit aja masih belum sampai terasa mengganggu. Dan ini benar-benar harus dicari ya. Kalau sambil nonton sih saya rasa kalian enggak akan bisa lihat juga ya. Sekarang kita coba nonton konten HDR. Nah, di sini HDR terbilang sudah cukup baik ya di TV ini. Warna-warna tampil prima tapi berantas HDR-nya memang tidak terlalu tinggi. Membuat kita memang belum bisa mengharapkan tampilan yang luar biasa cemerlang di TV yang satu ini. Karakter serupa juga secara umum terasa untuk konten Dolby Vision. Nah, untuk Dolby Vision kalau dibutuhkan ada juga preset Dolby Vision IQ yang bisa memanfaatkan sensor di TV ini untuk mengatur tingkat keceraan secara otomatis. Oke, sekarang pertanyaannya bagaimana dengan viewing angle-nya? Nah, memang kami merasakan ada sedikit pergeseran saturasi warna dan brightness saat melihat ke arah TV ini dari sudut yang miring banget. Pergesaran warna yang terjadi memang enggak sampai terasa mengganggu ya, enggak sampai invert juga ya. Tapi karena ada pergeseran brightness, orang yang nonton dari sudut miring ee mungkin tidak akan merasakan tampilan yang secemerlang kalau orang yang melihat dari sudut yang tegak lurus dari depan TV. Oke, terkait tampilan secara keseluruhan TV ini termasuk rapi ya, tidak terasa ada hal yang mengganggu seperti area gelap yang besar di sudut-sudut layar itu enggak ada di sini. Nah, seperti Smart TV masa kini pada umumnya, fitur MC tentunya tersedia di TV ini. Nah, kalau ini dirasa mengurangi kenikmatan saat nonton film, MEMC ini masih bisa kita nonaktifkan secara manual atau bisa juga dengan mengatur perisa tampilan ke filmmaker mode. Kalau ada yang enggak paham MEMC itu ya loh ya fitur yang bikin kita seperti merasa nonton filmnya tuh high frame rate banget gitu ya. Itu kurang pas kalau kita mau nonton film-film yang modelnya cinematik tapi ya bisa dimatiin kan tadi ya. Jadi amanlah sebetulnya. Lalu starter atau jader yang bisa muncul saat nonton konten frame rate rendah di TV ini dengan refresh rate yang tinggi ya ternyata tidak terasa di TV ini. Oh ya ini kami coba saat fitur MEMC memang tidak diaktifkan. Terkait upscaler ini juga bagus nih ya bisa mengangkat konten 720p jadi tampil relatif rapi. Enggak kerasa kayak pecah-pecah atau burem-burem parah saat ditampilkan di layar yang cukup besar ini. Oke sekarang untuk audionya. Branding Ongky membuat kami berharap bahwa sistem ini langsung terasa mumpuni kelas premium atas banget out of the box. Sayangnya kami merasa buat sore yang seilan ternyata masih di bawah harapan kami. Mid terasa terlalu didorong, Bass terasa kurang terjaga, sementara travel tuh kurang keluar aja rasanya. Nah, untuk suara yang cukup ramai, Mid dan Bass juga rasa akan berlomba untuk tampil lebih dominan. Ini agak mengganggu saat nikmati konten film yang action ya, maupun saat lagi dengerin musik misalnya. Untungnya untuk suara yang tidak terlalu ramai misalnya untuk nonton TV, serial gitu ya atau drama yang lebih ngedepanin percakapan dari karakter utamanya ini masih mantap. Nah, untuk surround karena ini hanya menggunakan 2.1 channel dengan dua speaker mengarah ke bawah tentunya kita belum bisa merasakan suara yang benar-benar melingkupi kita gitu ya, tapi efek suaranya udah bisa terasa cukup melebar ke kiri dan ke kanan. Nah, kalau ingin menggunakan sistem audio tambahan, Tif ini kan sudah support output digital seperti ER atau bisa pakai Bluetooth juga bahkan ya. Nah, oke terkait navigasi ini terbilang cukup mulus ya di Google TV ya. Untuk menu pengaturan ada overlay menu bar yang muncul di area bawah layar di sini. Ada banyak sekali opsi pengaturan cepat yang bisa dilakukan di sini. Selain itu ada juga beberapa shortcut untuk membuka menu pengaturan yang lebih lengkap. Ini sangat memudahkan pengaturan dan pengendalian TV. Oh ya, menu-menu pengaturan utama di sini muncul sebagai overlay. termasuk menu untuk pengaturan tampilan dan suara. Jadi kita bisa merasakan efek pengaturan yang kita lakukan. Ini TV yang benar kayak begini nih harusnya nih ya. Jangan kita mau nyetel terus tiba-tiba semuanya pada mati atau enggak kita enggak bisa lihat kontennya gitu. Harusnya seperti ini. Oke, sekarang kita coba TV-nya untuk main game. Kita coba dengan laptop gaming ya. Nah, di laptop yang kami gunakan ini TV terdeteksi GSC compatible dengan VRR bisa digunakan. Lumayan ya, ini bisa 49 sampai 144 Hz. Gaming akan lebih bebas dari teering dan startering di sini. Lalu, bagaimana dengan ALM? Tentunya berfungsi. Jadi, saat kita hubungkan TV ini ke perangkat yang mungkin digunakan untuk main game, game mode akan aktif. Nah, saat game mode aktif, post processing yang akan berpotensi menyebabkan input lag itu dinonaktifkan. Jadi, gaming terasa lebih lancar bebas dari input lag. Nah, TCL juga menyediakan game bar di sini yang berisi beberapa pengaturan yang terkait dengan gaming. Misalnya aiming 8 dan shadow enhancer. Ada juga indikator FPS untuk menunjukkan frame rate yang kita dapatkan di game kalau VRR-nya tadi aktif. Nah, kalau dibutuhkan ada juga opsi untuk menampilkan FPS ini sebagai floating window ya. Secara umum saat game mode aktif TV ini terbilang nyaman untuk main game. Kombinasi layar besar dengan tampilan yang oke banget membuat main game di TV ini terasa menyenangkan. Hanya saja mesti diingat ini dia bisa 4K 144 Hz. Pastikan aja kalau kalian mau main di resolusi segitu dengan refresh rate setinggi itu ya, kalian sudah punya sistem gaming ya, entah itu laptop gaming, bisnis, desktop gaming yang memang sanggup mencapai 4K 144 fps. Ya, kami tahu itu memang high end sekali gitu untuk mencapai seperti itu. Tapi pastikan aja itu ah ada biar bisa menikmati TV ini secara maksimal. Oke, sekarang kita bahas konsumsi dayanya. Nah, karena ada precision diming, konsumsi daya TV ini bisa naik turun tergantung tampilan di layar. Saat kami coba untuk mode vivit, konsumsi daya itu ada di kisaran 100 sampai 210 watt untuk SDR maupun HDR. Untuk mode standar, konsumsi daya ada di kisaran 70 sampai 180 watt untuk SDR. Sementara untuk HDR konsumsi dayanya bisa naik dan mendekati 210 watt. Nah, untuk mode lain seperti filmmaker mode dan movie karena brat ditawarkan memang tidak setinggi mode vivit dan standar konsumsi daynya tentunya sedikit lebih rendah. ini bisa turun sampai mendekati 50 watt untuk tampilan yang gelap. Nah, kalau dibutuhkan ada juga nih pengaturan di Eco Dashboard yang bisa membantu mengurangi konsumsi daya. Oke, untuk harganya TCL Q6C dengan ukuran layar 65 inci ini seperti yang kami uji ini ya, harganya ada di bukan bukan Rp20 juta, Rp1.99.000 aja. Sementara untuk varian yang lain 55 inci itu harganya adalah Rp9.99.000. 75 inci itu harganya Rp17.99.000. Jadi walaupun ini TV class premium dari TCL, harganya bukan yang terasa premium di sini ya. Nah, TCL Q6C ini dilindungi oleh garansi 3 tahun untuk panel dan 1 tahun untuk spare part serta 10 tahun garansi burn in. Oke, sekarang kita masuk ke dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, untuk yang benar-benar sensitif dan menyukai warna-warna yang natural, tampilan warna di TV ini bisa jadi terasa agak kurang natural ya. Saya biasanya itu yang dicari orang ya, yang gonjreng gitu ya. ya. Tapi ya sudahlah ya kalau ada yang sensitif mungkin ini mesti diperhatikan. Kemudian kalau menggunakan refers set sampai 144 Hz, nah ini kita harus aktifkan dulu high frame rate mode-nya secara manual. Kemudian untuk suara terasa masih agak kurang rapi, agak dibawah dari yang diharapkan, terlebih karena dia mengusung brand Ongkyo. Lalu untuk beritas HDR ini masih belum bisa dibilang yang tinggi-tinggi amat ya. Kemudian dia hanya punya dua port HDMI 2.1. Jadi kalau kita pakai soundbar ERC yang enggak punya HDMI input, praktis hanya ada satu HDMI 2.1 yang bisa kita gunakan untuk device lain. Nah, dari sisi kelebihannya, layar besar pakai QD Mini LED. Ini menawarkan tampilan warna dengan saturasi yang tinggi. Mantap benar. Ada precision diming. Ini membantu TV ini menawarkan kontras tinggi dengan kedalaman warna gelap yang baik. Lalu tampilan di layarnya terbilang relatif rapi. Di sini dia pakai Google TV pula. Jadi, dukungan aplikasinya melimpah. Navigasinya juga terbilang cukup nyaman di sini. udah support HDR10, Dolb Vision, HLG juga diupport. Nah, kemudian walaupun belum semua HDMI-nya 2.1, seenggaknya ada empat port HDMI di TV ini. Lalu sudah support HDMI, ARC atau IR juga ada duka untuk VRR dan ya. Dan ada juga beberapa fitur tambahan lagi untuk pendukung gaming. Kemudian dia masih punya beberapa fitur penghematan daya padahal daya juga udah enggak tinggi-tinggi amat. Lalu resiko terjadinya burn in di layar ini kecil sekali kan. Ini bukan pakai OLED ya, terjamin pula 10 tahun. Nah, bodinya itu juga terbilang tipis membuat dia bisa tampil rapi saat dipasang ke dinding dan kalau diberdirikan begini juga kelihatan rapi kok sebetulnya ya. Jadi kelihatan modern banget gitu. Dan kemudian tentunya dia udah siap untuk TV digital di Indonesia. Oke, bagaimana menurut kalian setelah nonton bahasan kami? Apakah TCLQ6C ini bisa jadi definisi TV sempurna untuk kalian? Kalau menurut kami secara umum yang satu ini adalah smart TV yang sangat-sangat menarik. Kami merasa berapa hal yang ditawarkan TV ini memang layak dipandang sebagai daya tarik spesial untuk kelas harganya. Belum banyak TV di kelas harga ini yang menawarkan 4K 120 Hz. Susah loh nyari TV di kelas harga segini yang nawarin 4K 144 Hz. Yang ada juga 120 aja harus turun dulu ke full HD kan. Apalagi dia punya mini LED dengan local diming. Kualitas tampilannya juga jauh dari kesan ala kadarnya aja. Ini memang benar-benar terbilang relatif berkelas sebetulnya ya. Memang ada beapa hal yang menurut kami bisa lebih dioptimalkan lagi. Tapi untuk yang mencari TV layar besar dengan harga yang reltip terjangkau tapi pengin punya banyak fitur modern, TCLQ6C ini sangat layak untuk dipertimbangkan. Saya D Irfan Jaka TV. [Musik]
