Jungkat

Flaghsip Killer Buat Spek & Harganya, TAPI.. ah tonton aja deh | Review Poco F7 Indonesia (YouTube Video)

  • 25/06/2025

Buat yang doyan sama kecepatan tapi masih mikir pengeluaran, si Poco F7 ini bisa jadi jawaban. Dengan chipset Snapdragon 8S Gen 4 yang bisa ngebut tanpa tekanan, IP rating udah 68, body metal kekinian, dan RAM plus storage agak legaan. Tapi bisakah dia jadi raja performance? Terus apa aja kelebihan dan kekurangan? Ya udah enggak usah ditekan-tekan. Selamat menonton. Yang di keluarga cuma jadi beban. [Musik] Hai Andika, Guys. Di sini akhirnya ya si Poco F7 ini mendarat di Indonesia, tapi ternyata dia enggak sesuai dengan apa yang dirumorkan. Dari awal banyak yang bilang dia bakalan mirip sama Redmi Turbo 4 Pro. Tapi ternyata beda total. Poco F7 ini malah racing banget. Tetap dual kamera sih, tapi ada garis pemisah di kameranya. kesannya ya jadi HP gaming apalagi yang special edition yang kita bahas ini. Desainnya ini futuristik dengan dua warna terang dan gelap. Ada aksen-aksen gaming kayak panah warna merah. Di bagian bingkai kameranya ada warna ijau. Terus ada logo Snapdragon. Ada aksen-aksen warna kuning. Ada tulisan limited edition. Ada segitiga warna merah. Ya, intinya kayak memperlihatkan dia ini racing banget. Kayak seolah-olah transparan sci-fi tapi enggak transparan. Kalau si Redmi turbo 4 Pro itu mirip banget sama iPhone 16. Nah, kalau ini desain sih beda, tapi feel-nya mirip-mirip. Frame-nya pakai metal yang solid, dipegang tuh kerasa flagship, yang muahal, antep, yang kalau misalkan enggak sengaja jatuh, kita tuh malah kepikiran lantainya, bukan HP-nya. Kalau dipegang kena frame-nya tapi ya. Tapi kalau kenanya back cover, wah agak disayangkan sih. Masih signature-nya Poco banget karena back covernya ini masih ada area yang kopong. Tuh dengar aja. Tok tok tok tok. Siapa? Oh ini mainboard yang kurang rapat. Oh ya udah masuk. Backover masih Jeug fingerprint. Walaupun tipis atau terlihat samar tapi ya nanti bakalan pakai case juga sih. 90% dari kita itu pasti pakai case lah. Termasuk saya menghindari baret. Bobot lumayan berat di 217 gram. Tebalnya di 8,2 mm. Enggak tipis-tipis banget kalau disakuin, tapi juga gak tebal kayak powerbank. Baterainya di 6.500 mamp lah. Kok bukan yang 7.500 mamp kayak di Cina. Oh, segitu aja. Mungkin Indonesia sadar ya kalau pasar kita itu terlalu price sensitif. Jadi maunya itu memang harga murah, spek mewah. Dan akhirnya mungkin mereka mikir, ya udahlah ya, baterainya dikurangin aja buat nekan cost biar kita bisa bikin caption. Oh, segitu aja. Sertifikasinya udah kelas flagship dengan IP rating 68. Jadi mau kuah bakso, kuah soto, mampir ke sini kecipatan sih aman ya. Asalkan jangan kuasa Tuhan. Hah, enggak lucu sih. Buat varian dia ada tiga warna. Jadi ada black and white yang ya simpel walaupun masih ada terlihat racing. Tapi kalau mau yang racing lebih gaming lagi ya yang limited edition ini. Micro SD dia absen sama kayak Poco F6. Dan yang kemarin tanya di komen, "Bang, dia bisa enggak?" Jawabannya ya HP R juta minta esim ya. Enggak ada. Bahkan ya kompetitornya aja juga enggak ada di kelas gitu. Buat layar bagian depannya ini terproteksi sama Corning Gorilla Glass 7ii. Untuk resolusinya di 1,5K. panelnya AMOLED 120 Hz yang adaptif yang berarti enggak di semua app ya, di app yang support aja kayak di home screen dan kalau misalkan app yang enggak support dia bakalan turun di 60 Hz. Always on display-nya ini enggak yang always banget karena dia cuma bisa 10 detik atau kalian bisa pilih yang smart aja. Yang smart ini kalau HP-nya ditengok AUD-nya bakal nyala sendiri. Jadi kalau pas lagi meeting tinggal lihatin aja layarnya. Dan kalau misalkan bos kita tanya kenapa lihatin layar terus lihat jam bos. Ini kalau meeting-meeting terus kapan pulangnya? Di bagian setting layar ada fitur tambahan kayak AI XDR Enhancement yang bikin konten non XDR jadi XDR. Terus ada advance texture yang bikin tekstur lebih detail. Tapi kalau kita aktifkan fitur ini, Xiaomi bilang ya bakalan cepat panas HP-nya. Dan kalau panas baterainya bakal cepat habis juga. Jadi kalau enggak butuh-butuh sih dimatiin aja. Soal akurasi warna ketika di mode original kita coba SRGB-nya itu di 96,9%. Kalau Vivit itu bisa nyentuh 99,8%. saturated nih yang gede banget 144,2% P3 yang 100% itu ada di mode saturated. Kalau untuk nich-nya ketika kita tes tipikalnya sih dapat di 590-an nit. Lanjut kita bahas spesifikasinya. Untuk spesifikasi lengkapnya kalian bisa baca di sinilah kita highlight performance-nya aja karena buku itu kan terkenal dengan performance ya. Dia pakai Snapdragon 8S Gen 4. RAM-nya yang kita bahas ini 12 GB LPDDR5X. Storage-nya 1/2 TB UFS 4.1. Jadi lebih kencang dibandingkan SSD kalian yang masih pakai SATA. Buat Anutu kita coba di tiga mode. Pertama mode balance dan mode balance ini dia dapat skornya itu di Rp1,8 juta. Kalau kita pakai mode ultimate dapatnya Rp2.24.000. Terus kalau misalkan ultimate mode dengan cooling emm enggak terlalu signifikan sih hasilnya ya. Untuk tes stability-nya sebenarnya ketika kita tes pakai CPU throttle 30 menit ya kalian lihat caknya aja ini di sini aman-aman aja sebenarnya tapi yang unik pas kita tes pakai 3D Max stability test ada notifikasi seperti biasa yaitu device heatup jadi ya tolong didinginin dulu HP-nya setelah didingin hasil stability test di 3D Max-nya kalian bisa lihat di sini aja deh dia dapatnya itu di sekitar 75% terus 80% belum menyentuh 90% tapi itu kan bens Smark sintetis ya. Gimana kalau kita gunain untuk gaming? Pertama kita coba untuk Mobile Legends dulu lah ya. Mobile Legends kita coba untuk main tiga match. Makanya kalau kalian lihat ada lembah dua itu karena kita masuk ke lobi ya. Dan sayangnya Mobile Legends ini settingannya dia cuman di super jadi belum kebuka ultra 90 fps aja. Tapi kalau kita ngomongin gameplay-nya aman-aman aja. Dan sebenarnya kalau settingannya udah kebuka saya yakin pasti bisa tembus di 120 FPS. Untuk temperatur suhu bagian dalam di 41 derajat celcius masih aman. Lanjut ke PUBG Mobile. Sayangnya dia juga belum kebuka 120 FPS-nya masih 90 fps ya. Wajar sih ya karena chipset baru. Average-nya dia bisa dapat di 88 FPS aman dan untuk temperatur di 42,5 derajat celcius dengan power yang dibutuhin itu sekitar 3,6 watt. Lanjut ke game Gensin Impact. Nah, Gensin Impact ini kita coba di mode balance dulu ya. Dan di mode balance kalau kita lihat power-nya itu di 4,42 watt. Tapi grafiknya selama kita mainin sekitar 30 menit ya, average FPS-nya dia dapat di 37. BTW ini settingan high ya dan kadang dropnya bisa sampai di 25 fps. Nah, kalau kita pakai mode gaming dia nambah volt-nya jadi 5 watt. Temperaturnya juga nambah jadi 43,5 derajat celcius. Tapi performance-nya juga jadi naik ya dengan every-nya di 50-an. Dan sekali dia pernah turun di bawah 30 fps pas war-nya lagi kencang-kencangnya sama monster. Btw di game Gensin Impact ini ada fitur tambahan dari Poco F7 ya. Jadi kita bisa masuk ke bagian performance setting-nya terus pilih yang inhan visual. Di situ ada pilihan super resolution. Jadi dia akan merekonstruksi ulang resolusi natifnya biar terlihat lebih XD. Terus juga ada smart frame rate yang secara otomatis bakalan bikin gerakan itu lebih smooth. Ada enh touch control juga buat kalian yang pengin menyesuaikan gester ketika bermain game. Kalau untuk bypass charging, frame interpolation atau fitur lain enggak ada sih. Fitur gaming-nya yang menarik cuman dua itu aja. Bonus game satu lagi nih saya kasih nih watering wave. Wering wave yang aneh di sini dia malah lebih aman ketimbang genin ya dengan every-nya di 56,9. Powernya di 6,37 watt, tapi temperaturnya lumayan sih, 47,6 derajat celcius. Dan untuk suhu permukaannya ketika kita main game Gensin Impact 30 menit tadi, suhu bagian depan itu di 48,6 derajat Celcius. Bagian belakang juga 48,3 derajat Celcius. Saran saya kalau main game casing Impact ataupun wering wave berjam-jam di HP ini dengan settingan high pakai casing ya, biar tangannya aman. Buat baterai. Seperti yang saya bilang di awal tadi, Indonesia enggak kebagian 7.550 mamp yang sayangnya ya jadi enggak mecahin rekor MURI deh. Padahal bisa tuh kalau misal mau mecahin. Tapi baterainya sebenarnya tetap gede kok. Dan ketika kita tes main game Gensin Impact 30 menit, settingan high tadi dia cuma berkurang 8%. Awet sih ini. PUBG 30 menit tadi berkurang 7%. Mobile Legends 30 menit juga berkurang 7%. Wooering wave sih yang lumayan ya 30 menit dia berkurang 13%. Kalau untuk TikTok, YouTube, Netflix 30 menit cuma berkurang sekitar 2% aja. Kalau untuk charging dia dapatnya 90 watt hyperche. Memang bukan yang 120 watt, bukan yang kencang banget, tapi masih kencang sebenarnya ya. Karena 0 ke 100% dia cuma butuh waktu sekitar 43 sampai 45 menit aja. Terus dia juga ada reverse wireless charging karena kan baterainya gede ya, sayang gitu. Jadi dia berbagi diet, dia bisa reverse bar charging sampai 22,5 watt. Yang kalau kalian gunain untuk ngecas iPhone ataupun Samsung yang 20 watt support-nya ya masih fast charging. Oke, jadi adalah kamera depan dari Poco F7 ini di resolusi 1080p 60 fps. Dia belum bisa 4K 30 fps mentok. Jadi 1080p 60 fps. Tapi untuk POV aman ya. Ini kalau dibuat nge-vlog udah lumayan. Jadi enggak perlu tangan yang sangat panjang banget. Terus kalau digunain untuk jalan kira-kira seperti ini. Masih stabil, masih oke kalau di layarnya ini. Terus untuk skin tone juga masih aman. Dynamic range seperti kalian lihat juga aman ini kalau misalkan saya touch ke muka kayak gini. Nah, terus karena dia 60 fps, jadi kalau misal kita gunakan untuk muter-muter dengan cepat seperti ini masih aman juga. Jadi bagian belakangnya coba kalian lihat. Duh, saya pusing. Tapi ya motion blur-nya itu berkurang. Aduh, bentar. Terus kalau misalkan enggak terlalu delete, maksudnya di ruangan kita coba sambil jalan ke ruangan ya. Tuh bagus sih. Mulus gitu. Uh, di situ ada over expos ya. Jadi, damic ris-nya kalau misalkan backl banget kira-kira seperti ini. Dan kalau di dalam ruangan tuh transisi dari gelap keterangnya seperti itu tadi. Nah, kira-kira seperti ini nih. Sekarang kita coba 4K 60 fps-nya. Wah, kalau di larnya ini sih masih endut-endutan ya. Padahal ini udah 4K 60 fps tuh. Masih sama kayak Poco F6 terus sama siapa namanya? Iunio juga mirip-mirip. Tapi nanti kita bikin perbandingan lah kalau misalkan kalian penasaran gimana ya. Tuh seperti ini kira-kira. Kita coba zoom out. Mm masih ada agak endut-endutannya. Misalkan kita coba untuk pening dari sini. Kita pindah ke sini. Set. Autofokus sih aman ya. Tapi ya kameranya kayaknya bukan jadi selling point yang utama sih, karena 4K 60 FPS-nya masih agak end-dutan. Terus kalau kita gunain untuk kilting dynamic range sebenarnya aman juga. Tuh. Tuh. Tapi masih ada kayak endut-endutan gitu. Terus kalau untuk detail kita coba zoom daun yang ada di sini. Wah, bokya sih cakep dan detail down-nya juga cakep. Ini kalau kita gunain untuk rotary shot. Sets. Widih. Terus untuk autofokus kita coba aman aja autofokusnya. Jadi dari sini pindah ke sini. Tuh cepat juga ya. Aman. Sekarang kita coba untuk digital zoom-nya. Kalau misalkan dua kali seperti ini satu kali dan ultra wide. Wah, ultrawide-nya langsung pindah ke 1080p 30 fps. Tapi bisa pas record ya. Nah, ini kita langsung cobain aja deh. Ultraw-nya kira-kira seperti ini. Wih, kita coba jalan juga. Dynamic range saat gini. Dan sekarang kita coba buat nge-vlog pakai kamera ultrawide. Dan kalau untuk dicit range seperti ini. Software dia pakai Hyper OS 2.0 yang kalau ditanya ada buildware-nya enggak, Bang? Ada sih iklannya. Ada enggak, Bang? Ada, tapi saya enggak rasa yang mengganggu ya. Karena kalau saya lihat komennya itu kayak, "Wah, ada iklannya, ada iklannya." Tapi saya enggak ngerasa ngeganggu sama sekali. Karena buat saya pribadi ketika saya pakai HP Xiaomi, jarang banget saya pakai aplikasi bawaan Xiaomi kayak browser. Xiaomi browser itu saya juga jarang pakai. Paling saya pakai Chrome. Dan iklannya kadang muncul di aplikasi bawaan aja. Dan karena dia udah HyperOS 2.0, jadi dia ada Hyper Connect juga. Ini kayak semacam jembatan pintar lah. Contohnya nih, kalau kalian punya tablet Xiaomi, kita bisa berbagi hotspot dengan mudah. Terus mau nampilin layar ke tablet tinggal dekatin aja karena dia support NFC terus transfer file antar defice Xiaomi juga mudah. Fitur lain kayak audio kemarin ada yang komen, "Wah, percuma buka F7 audionya muno." Itu teori dari mana? Enggak ya. Audionya ini stereo dan suaranya imersif, kencang banget. Bahkan saking kencangnya kalau kita pakai volume 100% back covernya yang kaca ini yang agak kopong ini jadi dia kerasa agak geter-geter gitu kalau kita nonton film sambil posisi kayak gini ya. Kalau kita mauin AI, AI-nya ini cukup berlimpah untuk HP yang seharusnya jadi HP gaming. Contohnya kayak Cycle to Search, jelas ada. AI writings, bantu nulis, revisi, sampai bikin teks. Lebih sopan atau santai. Ada AI recorder dan EI subtitles. Bisa rekam transkrip sampai kasih subtitle otomatis. Ada AI translate atau interpreter ada juga. Cocok buat yang suka traveling. Itu tadi buat productivity, tapi kalau buat content creation banyak juga. Kayak ada AI Eest Pro buat ngilangin orang yang nyebelin di foto. Terus ada AI expansion bisa nambahin area foto yang kepotong. AI film tinggal klik langsung jadi video cinematik. Ada AI enhancements dan reflection removal bisa beringin foto dan ngilangin pantulan kaca harga. Nah, buat harga jujur ketika video ini dibuat saya belum tahu berapa ya. Tapi kalau kita lihat track record-nya dari Poco F6 dan kejumawaannya Poco ketika IQ New 10 kemarin launching, harusnya sih harganya pasti di bawah IQ New 10. Cuman ini kan yang saya review 12512 ya. Kalau misalkan yang 12512 itu bakalan 49, beh sulit sih. Secara spesifikasi jelas Poco bakalan tetap mempertahankan takhta price to performance-nya. Tapi kalau ditanya worth ita, tunggu dulu ya. Nanti kita bikin komparasinya antara Poco F7 dan juga IQ. New. Kesimpulannya ya balik lagi kalau harganya bakalan 4 tri9 untuk yang 12512 beh sulit sih sulit ditandingi, sulit dicari tandingannya dan yang paling sulit itu kitanya. Karena di harga segitu kita pasti kayak pengen check out padahal belum gajian. Di harga segini bayangin ya dia udah IP 68. Feel flagship-nya beda jauh dibanding Poco F6 yang masih pakai plastik. Metalnya si Poco S7 ini kayak kerasa ya kayak kerasa megang iPhone solid dan mahal gitu. Performanya kencang tipikalnya Snapdragon 8S Gen 4. Fitur gaming-nya juga ada dengan smart fem rate dan juga super resolusinya tadi. AI-nya berlimpah. Hyper connect-nya juga kepakai buat productivity. Baterai meskipun bukan yang paling gede tetap di atas standar dan ya dayan baterainya oke juga. Cuman memang suhunya masih relatif lumayan ya ketika kita main game Gensin Impact settingan high tadi bisa nyentuh 48 sekian derajat celcius. Tapi sebenarnya dengan gap harga segitu, kalau misalkan kalian memang pengin untuk main game berjam-jam bisa pakai aksesoris tambahan cooling paling nambah 100 atau 200.000 lah. Cooling sekarang udah murah-murah dan kalian bisa main game lebih nyaman lagi. Tapi ya agak repot dan agak berat sih ya kalau misalkan harus tambahan cooling. Terus kameranya juga bukan jualan utamanya. Videonya masih hendut-endutan tapi kalau fotonya masih ok lah. Overall yang saya suka dari Buka F7 ini blood quality-nya sih. Karena kalau misalkan kalian enggak nyentuh sendiri itu mungkin enggak bisa ngerasainnya kayak ini bukan Poco gitu. Buku yang saya tahu itu biasanya plastik terus kerasa dipegang itu ya plastik. Ini enggak. Ini benar-benar kerasa flagship, solid dan nyaman aja. Heptic feedback-nya juga udah yang nyaman, flagship ya. Walaupun masih ada beberapa PR yang harus diberesin sama Poco ke depannya. Saya dikudi and see you on the next video.

Lihat di YouTube

Video Lainnya

Brand Terkait

Xiaomi

Xiaomi adalah brand elektronik inovatif dengan produk smartphone, AIoT, dan smart home berteknologi canggih. Xiaomi menghadirkan perangkat berkualitas dengan harga kompetitif, mulai dari HP, tablet, wearable, hingga perangkat rumah pintar.

Poco F7

POCO F7 adalah smartphone yang sudah dipasarkan resmi di Indonesia dan ditempatkan sebagai model yang menonjolkan performa tinggi. Perangkat ini memakai platform Snapdragon 8s Gen 4 dengan proses manufaktur TSMC 4 nm. Konfigurasi CPU-nya octa-core dengan kecepatan hingga 3.21 GHz, dan GPU yang digunakan adalah Adreno 825. Untuk kebutuhan AI,...