Flagship Killer Killer 2025, TERKENCANG Di Kelasnya! Review POCO F7 Resmi Indonesia (YouTube Video)
Harga R jutaan udah langsung dapat Snapdragon 8S Gen 4, RAM 12 GB dan langsung storage 512 GB. Terus Gensin impact-nya bisa 120 fps. Bener enggak nih? Ya, skor AnTutunya beneran bisa R jutaan nih ya. Bodinya ini udah IP68, baterainya tambah gede jadi 6.500 mAh. Charging 90 watt. Layar AMOLED high resolution. Desainnya juga jauh lebih keren sih menurut kami ya. Ini yang baru beli Poco F6 kemarin apa enggak sakit hati nih ya? Tapi tenang, tenang. Kami paham kalau sampai kalian nonton video ini, kalian mau tahu kan hasil pengujiannya seperti apa? Apa iya smartphone-nya saat ini sebagus itu? Langsung aja kita mulainya. Ini Poco F7. Oke, Poco F7 atau F7. Sejujurnya kami selalu khawatir sejak kehadiran Poco X6 Pro kemarin ya. Ini Poco memberikan loncatan performa yang ekstrem untuk satu generasi ya. Ke depannya upgrade-nya mau apalagi yang ditawarin jangan-jangan nanti malah downgrade yang berikut-berikutnya ya. Tapi setiap rilisan baru sampai sekarang pokoknya itu konsisten membuat kami terkejut. Selalu ada aja upgrade yang ditawarkan. Untuk kalian bingung pilih Poco X atau Poco Fat saran dari kami adalah kalian pilih dulu mau Dimensity atau mau Snapdragon. Dimensity ambil X lebih percaya Snapdragon ya udah ambil yang F. Yang mana pun yang dipilih tetap Poco yang untung. Kok Poco yang untung ya? Kita yang untung lah ya harusnya ya. Iya karena sama-sama bagusnya. Nah, Poco X7 Pro yang kemarin itu sudah ada video rif-nya dan kalau kalian belum nonton, artinya mungkin karena kalian belum subscribe. Jadi, ah tahu ya harus ngapain ya. Nah, untuk video kali ini mari kita bedah lebih dalam si Poco F7. Kita mulai dari paket penjualannya. Di sini tentunya ada unit dengan screen protator yang langsung terpasang. Lalu ada case-nya, ada kabel USBC dan ada chargernya. Ada chargernya, ada chargernya. Ini adalah charger 90 watt. Lalu ada simjector dan paket dokumen. Jadi paket penjalannya masih cukup lengkap. Nah, untuk desain kami jauh lebih suka desain yang sekarang ketimbang pendahulunya. Jauh lebih premium, jauh lebih solid, dan tidak terasa murahan sama sekali di tangan. Ya, kalau dilihat ya enggak tahu, itu preferensi pribadi. Nah, untuk back cover ini dari kaca dengan konsep dual tone. Jadi seperti ada garis pemisah antara sisi atas dan sisi bawahnya. Frame dari metal yang membuatnya seperti smartphone flagship saat digenggam. Frame metal ini juga harusnya akan membantu dari sisi pembuangan panas. Ingat ya, panas dalam itu tidak bisa diredam, harus dibuang keluar. Nah, untuk warna tersedia ada black, ada white, dan ada cyber silver edition. Yang satu ini terinspirasi dari cyborg yang melambangkan kecanggihan dan futuristik aja. Ditambah di sini ada logo Qualcom-nya juga di sisi back cover-nya. Untuk dimensi 163,1 * 77,9 * 8,2 mm dan bobotnya sekitar 216 gr. Menurut kami ini bodinya tergolong besar dan tebal dan juga belum bisa dibilang ringan yang satu ini. Tapi ini kita maklum ya karena baterai super besar di 6 mAh. Frame-nya metal dan backover dari kaca ini jelas akan menambah bobotnya juga. Lagian kalian yang minta kan baterai besar, frame dari metal, dan back cover dari kaca. Kalian yang minta loh diturutin nih sekarang ya. Nah, Body S udah punya sertifikasi IP rating IP 68. Tahan debu juga tahan air. Jadi, ini kecemplung harusnya masih aman. Tapi jangan diajak berenang apalagi di air laut. Nah, ini adalah upgrade yang signifikan kalau dibandingkan dengan Poco F6 yang dulu kan di IP64. Kalau IP64 jangan diajak masuk dalam air ya. Enggak bisa kecemplung nih. Ah, udah masalah itu ya. Hujan-hujan doang lah kalau yang satu itu. Nah, di sisi kanan ada tombol power, tombol volume up and down. Lalu di sisi atas ada mikrofon kirinya kosong. Diisi bawah ada SIM tray dual SIM tanpa slot micro SD. Lalu di sebelahnya ada mikrofon. Dan di sebelahnya lagi ada port USB 2.0 dan ada grill speaker. Nah, speaker ini stereo ya dan pasangannya ada di bagian earpiece. Suara cukup bagus dan speaker stereo cukup balance untuk kedua sisinya. Lumayan jernih detail juga udah mencukupilah untuk overall speakernya. Udah cukup baik untuk kelas harganya. Beralih ke S depan ini adalah layarnya yang 6,83 inci Crystal R. Namanya ini 1,5K Flow AMOLED display. resolusinya 2.772 * 1280 piksel. Lalu dia pakai Corning Gorilla Glass 7i ya. Jadi ya ada pelindungnya di sini untuk refresh rate up to 120 Hz dengan kemampuan adaptif dari 30 sampai 120 Hz. Sejauh pengujian kami refresh set-nya emang belum bisa turun di bawah 30 Hz. 30 Hz pun baru ditemukan di always on Display. Untuk skenario umum, refresh itu akan turun ke 60 Hz ketika buka app tertentu seperti YouTube misalnya atau ketika lagi standby di home screen, refresh rate juga bisa turun ke 60 Hz. Untuk touch sampling rate menurut Poco ini terbagi dari tiga mode ya. Mode normal itu bisa nyampai 120 Hz. Ada mode gaming sampai 480 Hz. Lalu ada instan itu bisa sampai 2.560 Hz. Jadi responsivitas layarnya itu bisa berubah-ubah tergantung lagi dipakai buat apa. Yang jelas pada praktiknya sehari-hari kita pakai buat tap-tap ngnya swipe itu enggak ada rasa delay-delay yang mengganggu. Layarnya ini tergolong cukup responsif. Untuk brightness diklaim bisa mencapai kisaran 800 nits untuk tipical dan 1800 nits untuk HBM. Nah, saat kami uji brightness maksimum untuk indoor itu ada di kesaran 620 nit. Dan saat dilakukan untuk simulasi outdoor itu berarti naik di atas 1000 nitz. Meskipun belum mencapai klaim pokcook, tapi ini udah aman banget dipakai di tengah siang bolong lah ya di bawah matahari. Terkait warna layar, ada beberapa mode warna yang disediakan. Ada original color pro, ada vivit saturated dan advance settings untuk tuning-tuning manual. Untuk original color pro, gambut coverage-nya ada di 98,9% sRGB dengan gambut volume di 103,4% sRGB. Untuk Vivit gambut coverage-nya di 98,6% dic IP3 dan gambut volume di 102,9% dp3. Untuk sat rated gambut coverage-nya ada di 100% di CP3 dengan gambut volume di 120,6% dp3. Untuk nonton film atau main game itu bisa setel di vivit atau kalau mau lebih gonjreng lagi ya setel aja di satur rated lah. Tapi kalau kalian mau ngedit konten ya, foto atau video, saran kami setel aja di original color pro. Nah, karena ini AMOLED always on display juga tersedia. tersedia dua opsi AOD, yaitu 10 detik dan smart. Smart ini berarti AOD akan selalu nyala selama wajah kita ada di depan layar. Tapi ketika wajah kita enggak di depan layar atau di kondisi-kondisi tertentu seperti lagi dalam kantong ya, AOD-nya akan otomatis mati. Fitur ini sudah ada sejak Poco F6 kemarin dan diteruskan ke sini. Tahu enggak? Ini adalah fitur dari SOC Snapdragon yang tergolong baru. Nah, di layar ini juga terdapat in display fingerprint scanner yang cukup cepat dan akurat. Lanjut ke atas layarnya terdapat earpiece untuk nelepon dan di sini ada kamera selfie yang 20 megapel. Sensornya ini OV20B ya. Bukannya F2.2 ini fixed fokus. Perekaman videonya sampai dengan 1080p 60 fps. Beralih ke sisi belakang ada modul dual kamera plus 1 LED flash. Untuk kameranya itu ada kamera utama 50 megap yang ada optical image stabilizernya. Ini sensornya adalah Sony IMX 882. Bukaannya 1.59. tentunya udah auto fokus dan perkaman videonya up to 4K 60 fps untuk slow motion up to 1080p 960 fps. Kemudian ada kamera ultrawide 8 megapel sensornya lagi-lagi Omnivision ya OV08F bukannya F2.2 ini tentunya fixed fokus bukan autofokus. Perekaman videonya up to 1080p 30 fps. Lalu kalau kita lihat di sekeliling bodinya ini pasti banyak yang nanyain infrared blasternya di mana? Nah, infrared blaster tetap ada posisinya ada di modul kamera ya. Nah, untuk smartphone Poco yang desain terbaru biasanya udah seperti ini memang untuk spesifikasi internalnya Sw-nya pakai Snapdragon 8S Gen 4 lalu RAM-nya 12 GB LPDDR 5X dan storage-nya adalah 1/2 TB UFS 4.1. Menurut Poco opsi RAM dan storage-nya memang cuma satu, enggak ada opsi yang lain lagi ya. Sejauh ini belum banyak yang bisa ngasih 1/2 TB di kelas harga segini. Vesm.1 pula luar biasa ya. Mantap ya pokoknya enggak pelit RAM, enggak pelit storage dan harganya lebih murah dibandingkan yang itu. Oke, lanjut lanjut lanjut. Baterai 6 mAh. Meningkatnya cukup drastis ya dibandingkan 5000 mAh pada pendahulunya. Untuk wire charging-nya atau pakai kabel ya, chargingnya itu ada di 90 watt turbo charge. Untuk wireless charging belum bisa. Untuk bypass charging banyak yang nanya nih. Nah, di sini ya belum bisa juga ya. Lalu untuk killing system dia pakai liquid cool technology 4.0. Untuk sensor tentunya aman ya, semua sensor esensial ada, Gyro juga tentunya udah hardware. Untuk fitur keamanan dia pakai inisplay fingerprint scanner dan face unlock juga bisa. Untuk OS dia pakai Hyper OS dengan basis Android 15. Nah, terkait Android update kali ini Poco sudah memberikan 4 kali Android update dan 6 tahun security update. Woh, ini panjang sih ini ya. Mantap ya. Dan ada beberapa fitur yang diunggulkan untuk HyperOS OSOS yang satu ini. Dari segi proaktivitas ada link to Windows untuk kerja sama antara perangkat Poco dengan laptop yang berbasis Windows. Jadi bisa menampilkan isi layar ke laptop dan mengendalikannya dari laptop juga. Ada juga interconnectivity. Konsepnya mirip tapi bedanya ini ditujukan untuk sesama perangkat Poco atau Xiaomi ya. Ya, sudah tahu kan Poco dan Xiaomi itu e saudaraan ya. Saudaraan. Nah, yang paling menarik menurut kami ada di fitur gamingnya. Sebetulnya sekarang ada fitur yang bisa membuat game Gensin Impact resolusi game-nya jadi 1,5K ya sesuai dengan layarnya ya. Intinya fitur ini meningkatkan kualitas visual di Gensin. Detail karakter jadi meningkat dan terasa lebih tajam di sini. Lalu yang paling luar biasa lagi adalah fitur smart frame rate. Ini membuat Gensin jadi bisa jalan di 120 fps. Padahal gameennya sendiri sebetulnya sih mentoknya di 60 fps. Apakah ini gimik? Nah, hasilnya gimana? Nanti kita lihat di pengujiannya ya. Oke, lanjut. Pertanyaannya pasti di Hyper OS ini ada iklannya enggak ya? Nah, untuk saat sebelum launching pada saat ini menguji ya dan software yang kami pakai ini e sejauh ini kita belum menemukan iklan pop up di full screen yang biasa ada di HyperOS OS itu belum belum nemu tapi itu belum ya kami sudah cek ke semua app bawaan HyperOS dan iklan popup-nya itu belum muncul lagi. Apakah ini artinya Poco sudah mulai mengurangi intensitas iklannya? Kalau memang iya ini kabar baik semoga akan seperti ini terus paling yang kami temukan itu hanya iklan dalam bentuk notifikasi dari Get Apps ya. Tapi karena notif ya, jadi bisa aja dimatiin. Kan gampang ya. Kalau ada iklannya sih sebetulnya selama iklannya enggak aneh-aneh dan tidak terlalu intrusif ya masih bisa dianggap wajarlah ya. Kan itu yang membuat harga smartphone ini jadi lebih terjangkau. Tahu kan? Tahu kan? Eh iya kan ada iklannya jadi lebih murah gitu. Tinggal kalian aja pintar-pintar ngakalin gimana caranya supaya iklannya enggak muncul gitu kan ya. Oke lanjut. Untuk aktivitas tentunya udah 5G ya. 2G, 3G, 4G, 5G bisa semua. Wii-nya Wii 7 ya, bukan 6 ya. Lalu WiFi sharing tersedia. Bluetooth-nya versi 5.4. Nah, untuk Bluetooth Codex-nya itu ada banyak ya. Bisa dilihat di menunya berikut ini. Lengkap sih, lengkap ya. Untuk USB OTG gimana? Bisa. NFC tersedia, display output ya belum bisa lah ya. Oke, sekarang kita masuk ke pengujian performa. Kita mulai dari benchmark dulu. Untuk mendapatkan skor yang maksimum, kita harus mengaktifkan ultimate mode di menu setting baterainya. Terlihat di sini skor anutunya kalau di mode balance itu memang di 1,9 jutaan ya. Jadi kalian jangan protes kalau dapat 1,9 jutaan terus dibawa ke service center. Jangan ya. Hidupin aja ultimate mode-nya. aktifkan dan skornya berubah jadi 2 jutaan. Ini udah sesuai dengan klaim Poco yang 2 jutaan juga. Nah, untuk basem berikutnya kita semua menampilkan skor menggunakan ultimate mode. Oke. Nah, untuk Geek Bench 6 kita dapat single core di 2045 dan multiore di 6.395. Untuk GFX Bench car chase off screen 1080p 108 fps. 3max sling shot Extreme Unlimited graphic scor-nya di 25.892. Trimax solar bay 29 fps. Ini yang rracing itu ya. Lalu sekarang kita lihat untuk stress testnya. 3DM Wildli Life stress test. Sayangnya kalau kita enggak pakai kipas skornya enggak keluar karena di run yang terakhir smartphone ini dinyatakan overheat. Trimax stress test ini melakukan stress test dengan e cara menjalankan benchmark 20 kali terus-menerus dan kita mendapatkan bahwa smartphone iniyatakan overheat pada putaran ke-20. Pada pengujian yang satu itu ya suhu permukaan bisa mencapai kisaran 54 derajat celcius baik untuk sisi layar maupun sisi back. Ini memang udah ekstrem sih sebetulnya ya. Nah, stress test ini bisa lolos kalau kita pakai kipas dan hasilnya itu bisa lolos dengan stability di 83%. Nah, biasanya peringatan overheit ini hanya di benchmark ya karena ya mungkin dia ngegas karena dia tahu ini benchmark nih. Nanti kita buktikan di gaming itu overheat atau enggak. Nah, overall skornya ini memang terhitung kelas flagship ya udah mirip dengan Snapdagon 8 gen3 dari tahun yang lalu dan ini sangat impresif karena biasanya skor segini baru ada di kelas-kelas R jutaan ke atas lah ya. Yang ini kan ya tahu kan harganya terjangkau. Yang satu ini cuma sedikit di atas Poco X7 Pro loh. Nah, lanjut untuk pengujian gaming setting baterai kita style ke ultimate dan di dalam overlay game turbo, kami juga menyalakan fitur wild boost supaya performanya maksimal. Ya, kita mulai dari Mobile Legends. Setting grafisnya terbuka sampai ultra dengan frame rate di ultra juga. Artinya ini mentok di 120 fps. Jadi setting tertinggi udah kebuka di sini. Saat dimainkan game berjalan dengan lancar di 120 FPS. Keentenganlah buat SOC sekencang ini ya. Lanjut untuk Real Racing 3. Sayangnya yang ini nyangkut di 60 fps. Seperti biasa ini kayaknya akibat refresh rate layarnya yang otomatis turun ke 60 Hz saat masuk game ini. Apapun setting refresh rate yang kita gunakan itu tetap dia akan turun ke 60 Hz. Lanjut ke subway server. Sama di sini juga ya, dia nyangkut di 60 fps, tapi bukan karena enggak sanggup lebih dari itu, tapi karena layarnya yang refresh rate-nya nyangkut di 60 Hz. Bukan hal yang buruk, karena game-nya jalan mulus lancar. Lanjut untuk PUBG Mobile. Untuk setting maksimum yang bisa dipilih adalah grafis smooth dengan frame rate di extreme plus artinya 90 fps. Sayangnya ini belum kebagian setting 120 fps ya. Ya. Nah, ini juga kami temukan di smartphone lain yang pakai SOC tapi 8S Gen 4 juga sama kelakuannya ya. Dan ini adalah hal yang umum terjadi di SOC yang baru. Developernya kayak masih butuh menyesuaikan lagi lah ya atau belum percaya gitu. Nah, sharing update biasanya settingnya bisa kebuka lebih tinggi lagi. Semoga dan sekarang masih 90 fps aja dan game-nya jalan dengan sangat lancar ya. Mentok terus di situ. 1 jam dimainkan pun performanya stabil terus. Gri aman di sini mulus lancar tanpa masalah. Lanjut ke Gensin Impact setting highest 60 fps. I iya dong dipentokin aja langsung ya. Kita mainkan untuk traveling seperti biasa selama setengah jam. dan frame rate bisa ada di kisaran 55 sampai 60 fps terus-menerus. Tidak ada penuran performa yang signifikan di sini. Belum yang luar biasa mulus banget dan kami masih bisa menemukan starter saat pengujian. Ee tapi ya enggak ada masalah juga sebetulnya. Nah, sekarang kita cek suhunya. Untuk si layar terpanas di 44 derajat Celcius. Penyebaran suhunya itu ternyata cukup merata ya di layarnya ya. Lalu body belakang terpanas di 43 derajat Celcius. Penyebaran di back cover juga tergolong sangat baik. Nah, karena frame-nya metal otomatis sisi frame juga cukup tinggi ya. bisa mencapai 43 derajat Celcius juga. Walaupun masih dalam batas yang lumayan aman lah ya. Tapi kalau kelamaan sampai panasnya rata begini ya mungkin agak kurang enak juga di tangan. Nah, sebetulnya ini bisa jadi hal yang baik untuk prosesornya karena artinya suhu bisa tersebar atau dibuang dengan baik ke seluruh sisi bodinya. Tapi ya tadi itu ya tangan kita yang merasakan panasnya jadinya ya. Terutama kalau kena frame-nya apalagi frame sisi kiri. Jadi meskipun performanya sudah sangat baik tanpa kipas, supaya lebih nyaman, saran kami sih pakai kipas pendingin. Untuk ranking performa seperti ini layak dapat ranking S. Oke, sekarang kita buktikan fitur spesial dari Poco yaitu Gensin Impact 120 FPS. Cara mengaktifkannya adalah dengan cara masuk ke overlay game turbo, pilih performance setting, lalu pilih enhanced visual. Di dalamnya ada opsi smart frame rate. Nah, saat kami uji game ini ternyata beneran bisa jalan di 120 FPS. Mulusnya beda jauh dengan 60 fps nih. Dan menurut kami ini tidak terasa seperti interpolasi frame, tapi jelas beban frame rate seperti ini akan lebih berat ya. Dari pengujian kami di sekitar menit ke-14 frame rate-nya turun ke 80-an FPS tapi perlahan-lahan bisa naik lagi. Bisa naik lagi sedikit ke kisaran 90 sampai 100 FPS. Kalau udah panas dia turun lagi ke kisaran 80 fps. Yang membuat kami penasaran adalah kok bisa ini benar 120 fps frame rate asli atau akal-akalan software? Nah, jadi kita tes dengan merekam e video 120 fps juga. Lalu kami turunkan speed-nya 25% untuk menyesuaikan dengan sequens video kami. Di sini terlihat yang 120 fps itu memberikan gerakan yang lebih mulus. Sedikit catatan juga fitur smart frame rate ini belum bisa buat semua game ya, belum semuanya bisa ya. Dari berapa game yang kami coba, kami baru menemukan fitur ini jalan di Gensin Impact dan Honkai Star Rail. Nah, untuk suhu permukaan saat kita mainin Gensin Impact di 120 FPS ini jadi sedikit lebih tinggi 45 derajus untuk seluruh sisinya. Baik sisi layar, CCB cover, dan frame-nya juga. terlihat sekali bahwa Poco membatasi suhu di kisaran 44 sampai 45 derajat celcius untuk game yang satu ini. Ini masih sangat wajar untuk performa yang ditawarkan dan ini juga membuktikan bahwa masalah overheat tidak terjadi di pengujian game. Jadi kelihatannya kalau Poco kenal game-nya suhunya tidak dilepas seperti benchmark tadi. Oh ya, sebelum kalian salah tangkap ya, ini bukan berarti eh Poco membuat Gensin Impact jadi bisa jalan di 120 FPS dari Gensin Impactnya sendiri. Bukan. Ini memang ada penambahan frame ya. Tapi penambahan frame-nya ini rasanya pakai AI dah ya, karena benar-benar seperti frame-nya tuh seakan-akan dibuat oleh si game-ennya. Itu yang membuat pengalaman pakainya jadi nyaman sekali. Terasa banget seperti ini pakai 120 FPS beneran. Lanjut untuk watering wave seperti apa? Nah, kita coba dengan setting mentok kanan dan hasilnya frame rate itu masih berfluktuasi ya, antara 30 sampai 50 FPS. Cukup bisa dimainkan tapi belum level yang kami harapkan dari Snapdragon seri 8 terbaru. Semoga seiring adanya update performance-nya bisa jadi lebih mulus lagi ya. Nih ya. Untuk suhu tergolong lumayan tinggi. Setelah 30 menit dimainkan sisi layar itu bisa dikisaran 44 derajat celcius, back cover 44 dan frame-nya juga ada di 45 derajat celcius. Oke, performa udah. Sekarang kita pindah ke pengujian kamera seperti biasa barang sama Mak Kris ya. Oke, di tangan saya kali ini sudah ada Poco F7 nih teman-teman. Jadi langsung aja kita lihat kemampuan kameranya seperti apa. Seperti biasa, pertama tes mikrofon dulu. Yang lagi kalian dengar sekarang adalah suara langsung dari mikrofon smartphone-nya. Saya enggak pakai mikrofon. Untuk kebutuhan video sehari-hari atau vlogging hasilnya kurang lebih seperti ini. Gimana kualitasnya menurut kalian? Mikrofonnya nice. Level kualitasnya sudah saya percayakan untuk vlogging tanpa mikrofon eksternal. Bahkan voice offer yang lagi kalian dengar sekarang ini saya langsung pakai Poco F7-nya. Oke, sekarang kita lanjut bahas ke video selfie-nya. Ini adalah sampel video 1080p 30 fps. Kualitas videonya sejujurnya sih biasa aja ya. Meskipun di kondisi terang kita sudah bisa melihat noise dan ketajamannya cenderung agak berlebihan juga sih. Kalau soal dynamic range, sekedar oke aja, belum yang luar biasa. Di kondisi cahaya yang sulit, wajah masih bisa terekspos dengan cukup baik, tapi area terangnya masih terlihat over expose. Kalau di kondisi cahaya yang ideal, hasilnya sih bagus-bagus aja. Untuk 1080p 60 fps hasilnya juga mirip-mirip. Bagi kalian yang belum kebayang, contoh dynamic range video yang baik menurut saya tuh gimana sih? Contoh aja Poco X6 Pro kemarin. Dia bahkan punya HDR video yang bikin informasi sisi gelap dan sisi terangnya tuh dapat. Dengan saya kasih lihat side by side begini harusnya sudah cukup jelas lah ya. Oke, sekarang kita ke basic test berikutnya. Stabilizer. Di sini mau 1080p 30 fps, 60 fps, stabilizernya tetap bisa aktif. Nice. Stabilizernya sendiri bukan yang paling rapi menurut saya, tapi overall udah cukup oke lah. Lanjut ke kamera utamanya. Videonya sudah oke banget nih. Detailnya tergolong luar biasa. Warna juga enggak oversaturated. T warnanya terasa dibuat natural menurut saya. Untuk dari micrange-nya sendiri mantap banget ini ya. Kondisi cahaya yang sulit, bagian terang dan gelapnya sangat bisa diseimbangkan. 4K 60 fps sekalipun bisa bagus dari mid range-nya jadi cukup konsisten ya. Mau 30 atau 60 fps enggak jauh beda hasilnya. Untuk stabilizer video bisa aktif bahkan sampai 4K 60 fps sekalipun. Sayangnya stabilizernya ini belum rapi ya, masih terasa kedut-kedut gitu. Dipakai jalan pelan mungkin masih ya udahlah. Tapi ketika dibawa lari pelan aja hasilnya udah seperti ini sih. Semoga Poco bisa membuat stabilizernya lebih rapi lagi. Untuk autofokusnya aman. Transisi fokusnya juga sudah cukup smooth. Saya enggak nemu masalah fokus lah kalau di kamera utamanya ini. Lanjut ke kamera ultra wide-nya. Di kondisi terang, hasilnya cukup bagus. Detailnya juga masih oke. Warna cenderung mirip dengan kamera utamanya. Ya, kalau mau nit pick sih ada bedanya sedikit, tapi belum jadi hal yang perlu diprotes. Setidaknya di kondisi terang masih oke. Untuk dari Micrange di sini juga sudah oke. Di kondisi cahaya yang sulit seperti ini, sisi terang masih cukup terekspos dengan baik. Belum sebaik kamera utamanya sih, tapi lebih baik dari kamera selfie-nya. Untuk stabilizer video aman ya. Stabilizernya sudah cukup rapi. Di bawah lari juga masih aman. Bahkan ini lebih rapi ketimbang kamera utamanya. Nah, terkait pengalaman multi kameranya bisa saya bilang ini sudah cukup mulus ya. Dengan catatan untuk pindah kamera langsung saat merekam video efektifnya di 1080p 30 fps saja. Dan untuk fitur pindah langsung ke kamera selfie itu belum bisa. Sekarang kita lanjut untuk low light. Di 1080p 30 fps. Videonya masih cukup terang, tapi detailnya sudah berkurang ya dengan noise yang cukup terlihat. Di mode 60 fps gambarnya sedikit lebih gelap. Ini wajar karena 60 fps butuh cahaya lebih banyak ketimbang 30 fps. Ini hasilnya mirip seperti Poco X7 Pro kemarin sih. Kayaknya sih ini sensor kamera selfie yang sama ya. Oke, untuk stabilizernya gimana? Aman sih di sini ada tapi di levelnya wajar. Kalau mau lebih rapi, stabilizernya bisa setel di 60 fps saja. Kalau untuk kamera utama ini terbilang luar biasa ya. Videonya masih bisa terang dan detail masih cukup terjaga. Gambarnya juga lebih bersih, noise minim, bahkan di 60 fps sekalipun aman ya, masih bagus gambarnya. Ini kalau enggak pakai sensor kelas atas sulit untuk mencapai video low light kayak begini. Untuk jiter stabilizernya sendiri cukup terasa ya di 30 fps. Kalau mau stabilizer yang lebih rapi, kita bisa pakai mode 60 fps-nya. Sekarang kita lanjut ke kamera ultrawide. Melihat kamera utamanya yang luar biasa, pas pindah ke ultrawide jadi jomplang banget ya. Yo wis, masih wajar kok ini. Toh Poco kan tidak terlalu fokus di kamera. Harusnya kamera utama yang luar biasa ini sudah mencukupi untuk mayoritas pengguna. Urusan stabilizer, videonya bisa stabil dengan jiter yang masih cukup terlihat juga, belum yang super rapi. Untuk konsistensi warna di low light seperti ini baru kelihatan nih ya bedanya antara kamera utama dengan ultra wide. Tapi menurut saya ini masih hal yang wajar karena memang sensornya beda kelas. Untuk urusan fotografi, saya enggak banyak komentar sih di sini. Semua kameranya bisa menghasilkan foto yang bagus dengan HDR processing yang cukup konsisten. Beda dengan video. Kalau low light ada auto night mode-nya yang bikin fotonya masih cukup detail dan bersih. Termasuk untuk kamera selfie dan ultrawide-nya. Ekspektasinya disesuaikan aja ya. Selama kalian lebih sering pakai kamera utama, harusnya sih puas-puas aja. Sekarang kita masuk ke fitur-fitur ekstranya. Yang pertama saya coba itu slow motion-nya. Tersedia 1080p 240 fps dengan kualitas video yang tergolong baik. Jelas belum selevel dengan video normal di 60 atau 30 fps ya. Tapi untuk slow modi kelas menengah seperti ini sudah tergolong yang bagus. Ada juga opsi 960 fps, tapi ini interpolasi dan lebih sulit untuk digunakan karena kita tidak bisa mengatur slowo-nya mau di bagian mana. Lalu ada mode pro juga di sini. Ini bisa kita gunakan untuk foto di kamera utama. dan juga kamera ultrawide-nya. Untuk detail pengaturan ISO dan shutter speed bisa dilihat aja di menu kameranya berikut ini. Yang sangat saya sayangkan adalah kok bisa pro videonya tuh hilang. Jadi manual video tidak ada lagi di sini. Keputusan yang sangat aneh menurut saya. Padahal ini salah satu keunggulan Poco yang jarang sekali ada di smartphone lain. Semoga diupdate ke depan akan dikembalikan lagi ya. Oke, bisa dilihat kalau kameranya Poco F7 ini termasuk yang mumpuni. Meskipun mereka tidak memasarkan kameranya sebagai keunggulan utama. Kalau ditanya apa sih menurut saya masih kurang atau perlu ditingkatkan lagi oleh Poco? Ada sih beberapa. Yang pertama, kamera selfie terlihat bukan prioritas Poco. Terlepas Poco X6 Pro bisa punya kamera selfie yang luar biasa. Mungkin ini karena permintaan usernya juga ya. Kan katanya user Poco tuh enggak butuh kamera selfie banget walaupun ya ada aja sih butuh cuman mungkin itu bukan mayoritas. Lalu soal stabilizer, bagi saya ini harus ditingkatkan lagi sih stabilizer video dari kamera utamanya. Lalu untuk kamera ultrawide ekspektasi kalian harap disesuaikan. Jangan heran saat pindah ke kamera ultrawide kok kayak beda jauh ya hasilnya. Ini masih wajar untuk kelas harga segini. Terakhir paling soal Proja sih. Kok hilang di Poco F7 ini? Soalnya di versi-versi sebelumnya ada kok. Jadi, mari kita lihat aja keputusan Poco seperti apa ke depannya. Semoga sih di update berikutnya diadain lagi ya. Terlepas dari komplain saya, smartphone ini tetap layak untuk kalian pertimbangkan kalau kalian mencari smartphone dengan prioritas pada kameranya. Tapi perlu diperhatikan ya, bagus atau tidaknya kamera tidak sesimpel itu. Sebaiknya kalian perhatikan dari pengujian ini keterbatasan yang ada itu penting atau tidak untuk kalian. Oke, sekian pengujian kameranya Poco F7. Kita lanjut lagi ke pembahasan berikutnya. Oke, lanjut lagi. Sekarang kita uji daya tahan baterainya yang 6500 mAh itu. Nah, standar kami adalah menggunakan YouTube local video playback 1080p non HDR dan baterai habis setelah 26 jam 55 menit ya, 27 jam lah, ya kurang lebih ya. Nah, untuk perjalaningan seperti video playback ini sebenarnya kami berharap lebih dari ini sih sebetulnya karena 6.500 1500 mAh. Harapan kami tuh ya dapatlah nempel-nempel sama 30 jam gitu ya. 29,5 jam mungkin atau 31 jam mungkin. Nah, itu baru mantap sih sebetulnya. Tapi okelah 27 jam sudah oke banget. Mengingat pendahulunya itu memang cuma bisa bertahan 21 jam. Jadi kalau dilihat dari Poco F6 ke Poco F7 ini adalah sebuah peningkatan yang lumayan jauh juga sebetulnya. Lanjut. Untuk YouTube streaming selama setengah jam baterai turun 3%. Untuk mainan TikTok selama setengah jam, baterai turun 4%. Main Gensin Impact selama setengah jam, highest 60 fps, baterai turun kisaran 13%. Lah kalau main Gensin Impact setengah jam di HS 60 dengan fitur 120 FPS-nya dinyalakan, baterai turun 15% dalam setengah jam. Ini hebat sih ya, frame rate-nya naik dua kali lipat, tapi konsumsi baterainya itu enggak beda terlalu jauh. Ini keren sih, ya. Lanjut untuk charging. Ini chargernya pakai yang 90 watt, ya. Dari 0 sampai 50% butuh waktu 18 menit. Dari kosong sampai penuh butuh waktu hanya 44 menit. Untuk kapasitasnya yang 6 mAh ini udah tergolong kencang. Oke, lanjut lagi. Kita lihat untuk Netflix tentunya sudah L1 ya. Lalu AV1 ada di sini, HDR10 ada, Dolby Vision juga udah didukung di sini. Untuk YouTube support playback 4K 60 fps dan HDR juga dinyalakan enggak ada masalah. Untuk hubtik feedback, Poco F7 ini sudah menggunakan Xis linear motor. F getaran saat mengetik udah terhitung empuk, presisi, dan nyaman untuk digunakan. Udah mirip ya kelas flagship lah yang satu ini ya. Nah, kalian pasti nanya ya harga tepatnya di berapa sih? Nah, saat video ini dibuat kami belum bisa menyebutkan harga pastinya ya. Jadi kalau mau tahu harga pastinya cek di deskripsi ya. Cek deskripsi jangan malas lihat di deskripsi ya. Harganya mengejutkanlah yang jelas ya. mengejutkan ya. Tidak, tidak, tidak, tidak semahal itu. Enggak mengejutkan di bawah. Murah kok ya. Oke, kita masuk ke hal yang perlu diperhatikan. Pertama, kamera selfiennya ini belum sebaik Poco X Pro. Tapi untuk kamera utamanya, Poco F7 ini jelas lebih oke. Kemudian entah kenapa eh spesifik fitur Pro, nah itu hilang di Poco F7 ini. Padahal ini selalu yang kami banggakan kalau kita menemukan handphone dari Xiaomi atau Poco selalu ada nih. Kenapa di sini hilang? enggak tahu. Lalu always on display. Ini belum yang benar-benar bisa selalu menyala. Tapi udah ada mode smart sih, jadi harusnya enggak terlalu masalah juga. Lalu dia belum punya fitur bypass charging. Dia juga belum support eim. Bodinya juga terasa tebal dan berat saat digenggam. Ya, ini efek samping dari baterai 6500-nya ya. Karena ini sepertinya belum pakai silikon karbon. Suhunya mungkin ketan di 44 sampai 45 derajat celcius ya. Sebetulnya itu enggak tinggi-tinggi amat kalau itu cuma satu titik doang. Tapi ini merata ke semua ke semua titik ke semua seluruh bodinya gitu. Jadi kalau pada saat gaming ini berasa banget ya bahwa dia jadi anget di sini. Lalu untuk game seperti PUBG dan watering waves ini masih butuh optimalisasi lagi dari developernya nih ya karena ini mungkin gara-gara dia adalah SOC yang tergolong baru. Lalu untuk benchmark. Nah ini berpotensi overheat di benchmark ya di benchmark bukan di game. Di game sih baik-baik aja ya. Kemudian back covernya ini fingerprint magnet banget ya sebetulnya ya. Jadi mesti ngelap-ngelap mulu gitu. Oke, lalu dari sisi menariknya pertama menurut kami desainnya jauh lebih keren ketimbang pendahulunya. Lalu frame metal ini memberikan kesan lebih premium dan tentunya untuk gaming ini malah bagus karena dia membantu penyebaran suhu. Terbukti kan rata banget dibuang suhunya tuh ya. Mantap ya. Lalu Snapdragon 8S Gen 4-nya ini performanya luar biasa kencang terutama buat kelas harganya. Gensin bisa jalan 120 FPS dengan lancar. Ini juga masih fitur yang langka ya untuk yang bisa jalan mulus dan lancar seperti ini. Udah punya rating e IP 68 juga di sini. Jadi kalau kecemplung enggak sengaja juga aman. Layar udah am 120 Hz. RAM dan storage-nya ini terbesar ya di kelasnya ya. Jarang ada lah yang bisa ngasih RAM 12 dengan storage 1/2 tera di kelas harga segini. Charging ini juga kencang banget ya dan chargernya masih dalam bok kan. update OS ya sudah langsung dapat 4 tahun untuk update OS dan 6 tahun untuk security update. Lalu speakernya stereo, inf blaster ada, NFC ada indisplay fingerprint ada konektivitasnya udah kekinian. Nah, pada akhirnya Poco F7 ini cocoknya buat siapa sih sebetulnya? Buat kalian para gamer smartphone dengan budget yang enggak nyampai ke flagship. Nah, ini udah cocok banget nih pakai smartphone yang satu ini nih. Perpaduan prosor yang sangat kencang ditambah dengan RAM dan storage yang besar banget itu membuat Poco F7 ini cocok untuk pemakaian jangka panjang. Sebetulnya harusnya kondisi performa sih 3 sampai 4 tahun masih aman lah yang satu ini ya. Game-game berat juga sekarang masih ada di kisaran 30 sampai 40 GB ya. Sampai cerita Genin tamat pun rasanya masih sanggup nih harusnya ya. Lalu ini juga cocok untuk yang mencari smartphone yang serba bisa. enggak bisa cocok ya karena enggak cuma performanya aja yang oke, kamera, mikrofon, layar, speakernya itu jadi untuk kebutuhan apapun bisa gitu bisa terpenuhi lah di sini enggak cuma buat gaming doang. Lalu smartphone ini juga cocok untuk para pemuja Snapdragon Poco X7 Pro kemarin pakai Dem City dan sampai detik ini masih ada yang dari kalian tuh yang e anti banget kayaknya Mediatch ya. Ya udah Poco mendengar dan ini jawabannya ya. Mau Mediatek ambil Poco X7 Pro, mau Snapdragon ambil Poco F7. Simpel ya, enggak usah ribut-ribut ya, belanja aja langsung. Poco F7 ini menurut kami memang layak menyandang gelar flagship killer killer ya. Jadi dia membunuh flagship killer gitu, bukan spesifik flagship killer ya. Karena yang diserbu oleh yang satu ini adalah para flagship killer sebetulnya karena harganya emang jauh lebih rendah. Ini good job ya untuk Pok Indonesia ya. Semoga kalian yang mau smartphone ini bisa kebagian dengan harga yang normal. Saya D Irfan JakaB TV. [Musik]
Video Lainnya
Di tengah lonjakan harga kebutuhan sehari-hari, menemukan perangkat pendukung produktivitas yang andal tanpa menguras kantong menjadi tantangan tersendiri bagi para...
Pertarungan sengit di lini kamera smartphone flagship kembali memanas lewat adu mekanik tiga raksasa ultra yang membawa inovasi pemrosesan gambar paling ambisius...
Persaingan di pasar ponsel pintar kembali memanas setelah sebuah perangkat baru hadir dan langsung mengguncang dominasi merek yang selama ini dikenal sebagai raja...
Pasar ponsel kelas 9 jutaan sedang memanas, dan Bestindotech turun tangan untuk menguji tuntas tiga kontestan yang paling banyak diperbincangkan: Xiaomi 17T, Vivo...
Membuat konten video berkualitas tinggi sering kali terbentur oleh rumitnya proses produksi dan beratnya peralatan yang harus dibawa. Lewat ulasan terbaru dari...
Menghadirkan layar raksasa 98 inci di ruang keluarga kini bukan lagi sekadar mimpi mahal kaum sultan yang menguras kantong hingga ratusan juta rupiah. Lewat...
Penasaran apakah Xiaomi 17T Pro benar-benar layak disebut sebagai perangkat flagship dengan harga belasan juta? Kreator akan mengajak penonton membongkar langsung...
Xiaomi 17T Pro hadir sebagai upaya Xiaomi untuk mempertahankan tahta "flagship killer" di tengah pasar tahun 2026 yang kian kompetitif. Kreator mengulas tuntas...
Pasar tablet murah kembali bergeliat dengan hadirnya sebuah perangkat metal yang mendefinisikan ulang standar gadget ramah kantong. Di harga dua jutaan, perangkat...
Ingin tahu apakah Xiaomi 17T masih pantas menyandang predikat "HP menang banyak" di tengah tren harga yang makin meroket sepanjang tahun 2026? Kreator mengajak kita...
DHIARCOM mengupas tuntas kehadiran Xiaomi 17T Pro yang mendobrak pasar lewat kombinasi performa kelas wahid dan baterai jumbo 7000 mAh. Penonton akan diajak melihat...
Siapakah rajanya midrange tahun ini? DKID Media mengupas tuntas Xiaomi 17T yang hadir dengan kemampuan zoom optik 5x, baterai jumbo 6.500 mAh, serta desain compact...
Pasar smartphone kelas premium midrange kembali memanas lewat kehadiran Xiaomi 17T yang membawa kejutan besar di angka Rp 7.999.000. Dengan harga seseksi itu,...
Xiaomi kembali menggebrak pasar lewat lini 17T yang membawa lompatan besar pada sektor fotografi mobile. Di tengah fluktuasi harga yang memicu perdebatan, perangkat...
Redmi Pad 2 9.7 hadir di tengah ketatnya persaingan pasar tablet terjangkau dengan membawa sejumlah perubahan desain dan spesifikasi yang cukup berani. Namun, di...

















