Flagship Killer realme 2025, Baterai 7000 mAh, Dimensity 9400e, Bypass Charging: Review realme GT 7 (YouTube Video)
Ini adalah flagship killernya Realme. Realme GT7. Baterainya apa? 6.000 enggak. Ini 7000 mAh. Charging-nya udah langsung 120 watfug. Dia udah pakai Dem City 9400E. Jadi chipsetnya juga udah flagship banget. Kamera selfie-nya bahkan udah bisa 4K60. Dan menarik ya kabarnya harganya di R jutaan. Apakah ini benar-benar flagship killer yang jadi killer? Nah, simak video ini ya. Realme GT7 ini adalah penerus dari Realme GT6. Kalau yang GT6 udah tahu dong, udah pernah ada review-nya ya, udah nonton kan? E belum, mungkin lupa subscribe. Oke, kita lanjut lagi ya. Nah, untuk Realme GT ini adalah lini flagship-nya dari Realme. Oh ya, sekedar info, Realme Indonesia juga akan menghadirkan GT7T secara resmi. Ini pertama kalinya GT yang ada akhiran T-nya itu masuk resmi ke Indonesia. Seri T ini versi yang lebih terjangkau. Tapi dalam video kali ini kita akan fokus bahas Realme GT7-nya. Ini adalah varian yang tertinggi. Oke, kita lihat paket penjualannya dulu. Di sini tentunya ada unit smartphone dengan screen protector. Lalu ada charger 120 watt. Jadi masih ada chargernya, masih ada chargernya, masih ada chargernya. Lalu ada kabel USBC, ada case, ada SIM tray ejector, dan paket dokumen. Realme menyebut desain dari GT7 ini sebagai Ice Sense design. Ini karena Realme merancang bodinya supaya sangat efektif menyebarkan panas dan menjaganya tetap dingin. Inovasinya Realme ini ada di bagian back cover-nya ya, yang merupakan perpaduan plastik dan grafin. Nah, grafin ini merupakan material konduktor yang sangat baik. Jadi, seharusnya penyebaran suhunya akan optimal melebihi smartphone yang menggunakan back cover dari kaca. Nanti kita lihat aja l pada saat pengujian. Oke, untuk dimensinya 162,42 * 76,13 * 8,3 mm. Bobotnya ada di 206 gr. Ini tergolong impresif ya untuk baterainya yang 7000 mAh. Bobotnya ini masih belum yang bisa dibilang berat-berat amat dan dia juga enggak terlalu tebal. Untuk pilihan warnanya ada Ice Sense black dan ada Ice Sense Blue seperti unit kami yang satu ini. Nah, untuk bodinya sendiri sudah disertifikasi IP66, IP68, dan IP69. Nah, untuk IP68 ini ada karena dia sudah lolos uji ditenggelamkan ke dalam air bersih dalam 1,5 m selama 30 menit. Sementara IP69 ini artinya lolos uji semprotan air tekanan tinggi dengan suhu yang tinggi juga. Nah, lalu untuk yang IP66 ini sebetulnya juga uji ketahanan semprotan air ya, tapi beda skenario pengujiannya aja. Kalau IP66 kondisinya lebih umum, suhu air juga suhu normal. Kalau yang IP69 tadi itu ya skenarionya lebih ekstrem aja. Jadi sepertinya supaya lengkap aja pengujiannya IP ratingnya dikasih tiga ya. Bukan artinya semakin tinggi angkanya semakin tahan air. Jadi jangan salah paham ya. Emang butuh IP rating yang berbeda untuk ketahanan yang bentuknya berbeda. Oke, sekarang kita lihat sisi kanannya. Ini ada tombol power dan tombol volume. Lalu kita beralih ke atas. Ini ada lubang mikrofon, lubang output speaker bagian frame atas, dan ada juga infrared blaster. Di kiri ini kosong ya. Di bawah ada SIM tray dual SIM dan tidak ada slot micro SD. Lalu ada port USBC dan speaker bagian bawah. Speakernya ini stereo ya, dengan kualitas yang menurut kami udah sangat lantang tapi kerapian suaranya memang bukan yang terbaik. Dan saat dipakai untuk dengerin musiknya agak ramai, ada beberapa bagian terdengar agak sedikit cempreng aja di situ ya. Bukan yang luar biasa, tapi sudah sangat mencukupi untuk dengarin lagu, nonton, maupun gaming. Beralih ke sisi depan ini adalah layar AMOLED 6,78 inci. Resolusinya Full HD Plus 2780 * 1264 piksel. Refresh rate-nya sampai 120 Hz. Seja pantauan kami ini layar adaptif sampai 120 Hz untuk mayoritas skenario yang kami uji. Nah, untuk brightness saat kami uji itu maksimum bright test-nya itu 600 nitz untuk indoor. Sementara untuk simulasi outdoor brightness-nya bisa mencapai kisaran 1600 nitz. Realme itu mengklaim kalau layarnya bisa nyampai 6.000 nit, tapi itu untuk pengujian khusus ya. Kalau kami itu menguji beratnya secara layar penuh aja dan 1600 Nit dalam standar pengujian kami itu udah bagus banget. Mau digunakan di bawah triknya sinar matahari siang hari itu enggak ada masalah ya. Nah, untuk warna untuk warna layar ini ada lima mode warna. Ada vivit, Natural, Pro, Cinematic, dan Brillian. Untuk detail hasil tes kambotnya bisa dicek aja dalam tabel berikut ini ya. Nah, untuk penggunaan yang lebih umum menurut kami tinggal pilih Vivit atau natural aja. Vivit itu diarahkan ke 100% di IP3. Nah, ini cocok buat nonton film atau main game ya. Nah, kalau mau cocok untuk ngedit video atau foto bisa pilih yang natural atau cinematic. Ini lebih diarahkan untuk 100% sRGB. Always on display ada di sini dan beneran bisa diatur untuk selalu menyala. Untuk touch sampling rate-nya dijanjikan 360 Hz. Ini udah cukup responsif untuk gaming, enggak terasa ada delay-delay yang mengganggu. Nah, untuk layar sentuhnya ini juga udah support sampai 10 jari sekaligus. Nah, kalau bicara soal basel layar ini sudah terhitung sangat tipis ya, termasuk bezel bagian bawahnya juga bukan yang paling simetris, tapi sudah cukup untuk membuat Kris enggak komplain-komplain ngelihat yang satu ini. Nah, di layarnya dia pakai inisplay fingerprint scanner tentunya dan teknologinya adalah teknologi optical. Akurasi dan kecepatannya tergolong cukup baik. Lanjut ke atas layarnya. Ini ada earpiece untuk nelepon dan ada kamera selfie 32 megap Sony IMX 615 bukannya F2.4 4 dan ini adalah kamera Fix Focus perekaman videonya tapi bisa nyampai 4K 60 fps. Akhirnya ada smartphone Realme yang selfie-nya ini bisa 60 fps. Ini request kami ke Realme sejak lama nih. Akhirnya dijawab juga di Realme GT7. Oke, sekarang kita beralih ke sisi belakang. Ada modul tiga kamera yang terdiri dari kamera utama 50 megapel. Sensornya adalah Sony IMX906. Ini pakai OIS ya, bukan 1.8, autofokus dan perekaman videonya bisa nyampai 8K 30 fps. Slow motion ter sampai 4K 120 fps. Ini pertama kali nih smartphone Realme bisa 4K 120 fps. Kemudian ada kamera ultrawide resolusinya 8 megap. Sensornya Omnivusion bukannya F2.2 fixed focus. Untuk perekaman videonya ini cuma nyampai 1080p 30 fps aja. Kamera berikutnya adalah kamera telefoto. Dua kali zoom di sini ya. Vokalengnya ekuivalen dengan 47 mm, resolusinya 50 megap. Sensornya ISO JN5, bukannya f2.0, autofokus loh. Tapi sayangnya ini enggak ada OIS-nya atau optical 5 stabilizer. Nah, untuk video recording ini bisa mencapai 4K 60 fps. Fitur ekstra cukup banyak, bisa dilihat aja di menu kameranya ini. Dan yang menarik perhatian kami adalah fitur underwater. Ini menarik ya, kalau mau foto-foto dalam air, layarnya tidak akan terganggu. Untuk shutter bisa pakai tombol volumenya. Untuk foto bisa, untuk video juga bisa. Lanjut ke spesifikasi internalnya. Untuk SOC-nya dia pakai Mediatek Demens City 9400E. Kalau kita cek detailnya, ini terlihat seperti Dem City 9300 plus dengan sedikit perubahan di beberapa bagian. Contohnya untuk electtric cash. Untuk 9400E ini lebih rendah ya cas-nya. Lalu pick clock speed memory-nya juga lebih rendah. Tapi di satu sisi SOC ini malah punya kecepatan Wi-Fi yang lebih kencang dan support versi Bluetooth yang lebih baru. Memang mungkin terkesan rebrand, tapi ini tetap SOC yang monster. Cukup jauh peningkatannya dibandingkan Realme GT6 tahun lalu. Nanti kita cek deh di pengujiannya ya. Untuk RAM ini 12 GB LPDDR 5X dan untuk storage unit kami ini yang 256 GB UFS 4.0. Ya sudah dikonfirmasi oleh Realme yang masuk ini hanya satu varian aja untuk RAM dannya. Untuk varian yang 512 sayangnya tidak masuk resmi ke Indonesia. Oke. Lalu untuk baterai ini 7000 mAh. Redmi menyebutnya sebagai titan batery. Memang jarang sih ada yang pakai baterai sebesar ini di kelasnya. Bukan enggak ada ya. Bukan enggak ada ya. Saya enggak bilang enggak ada. Saya bilang jarang ya. Jarang. Jarang sekali malah mungkin ya. Lalu untuk wire charging-nya 120 watt superfug. Wireless charging-nya sayangnya belum bisa di sini ya. Nah, yang menarik di sini ada fitur bypass charging. Jadi, aman nih kalau mau main game sambil nyolok ke charger. Untuk sensor dia lengkap ya, sensor esensial ada semuanya. Giroskop hardware jelas ada. Untuk OS dia pakai Realme UI6 berbasis Android 15. Nah, untuk update-nya Realme menjanjikan tiga kali Android update dan 4 tahun security update. Ini udah cukup panjang ya untuk kelasnya ya. Nah, dari segi bloware software ini enggak banyak. Kalaupun ada sebagian udah bisa di-uninstal, iklan juga aman. Isu-isu pinjol itu juga udah aman ya, kami udah enggak nemuin lagi. Find easy pun sekarang juga udah aman dari pinjol ya. Paling sekarang jadinya ada kolaborasi dengan Lazada. Jadi setiap masuk app ini terasa seperti masuk e-commerce padahal ya harusnya jadi app untuk akses card. Dari segi fitur menurut kami yang menarik ada di fitur AI dan juga fitur gaming-nya. Di sini ada AI travel snap Camera. Ini fitur yang bisa kita temukan pada app kamera bawaan. Fitur ini ditunjukkan agar foto objek yang bergerak cepat tetap tertangkap dengan jelas dan minim dari blur. Lalu ada AI Eras 2.0, sebuah fitur dalam galeri bawaan untuk menghapus objek yang tidak diinginkan. Lalu ada AI recording summary, fitur pada aplikasi recording suara bawaan supaya kita bisa meng-convert suara menjadi teks dan kita juga bisa minta AI-nya untuk merangkum pembahasan tersebut. Kemudian ada AI smart loop. Dengan ini kita bisa drag and drop sebuah file seperti ini dan sistemnya akan menyusun list app yang relevan untuk file yang akan kita share ini. Nah, yang baru di sini ada yang namanya AI planner. Ini ditunjukan untuk membuat mengingat jadwal dengan mudah. Misalnya di layar kita lagi lihat poster konser yang sudah ada tanggalnya. Kita tinggal double tap di back cover seperti ini. Nanti sistemnya akan mengatur jadwal di kalender kita secara otomatis sesuai hari dan tanggal konser tersebut. Nah, berdasarkan info dari Realme, ini adalah salah satu fitur AI pertama dari Realme yang kolaborasi dengan Google Gemini AI. Untuk fitur gaming-nya sendiri berlimpah ya di sini ya. Saat masuk game, kita bisa membuka overlay game tool seperti ini. Kita bisa mengaktifkan berbagai fitur seperti bypass charging, screen recording, sistem status untuk memantau FPS, geek power tuning untuk mengatur clock speed CPU dan GPU secara manual. Lalu ada consecutive skills yang berfungsi seperti tombol makro. Dan yang unik ada yang namanya AI gaming coach. Realme ini berkolaborasi dengan Jess No Limit, RRQ R7 dan RRQ BB. Jadi saat kita lagi main Mobile Legends nih ya, kita bisa aktifkan fitur ini untuk memandu kita dalam game dan kita bisa pilih mau pakai suara siapa. Misalnya nih kita pilih suaranya Just No Limit. Nanti akan ada suara dari dia yang memandu gameplay kita. Nih coba dengerin. Hati-hati nyerang turtle bikin gerakan kita terbatas. Tetap waspada sama musuh. ya. Jess No Limit sendiri memang gaming ambassador Realme Indonesia ya. Makanya bisa sampai bikin fitur-fitur seperti ini ya. Jadi kalau dari kalian ada yang fans-nya Just No Limit, nah ini jadi serasa dipandu secara personal sama dia ya. Oke, kita lanjut ke fitur keamanan. Di sini ada in display fingerprint scanner, dan face unlock. Untuk konektivitas tentunya 5G jadi 2G, 3G, 4G, 5G bisa semua. Sayangnya untuk eIM ini belum ada opsinya. Lalu untuk Wii di Wii 7 dan Wii sharing tentunya tersedia. Bluetooth versi 5.4. Untuk Bluetooth codeex ada banyak ya, lihat aja di menu yang satu ini ya, banyak banget. Lalu USB OTG jelas bisa, NFC juga ada. Sementara untuk display output sayangnya belum bisa. Oke, kita masuk ke pengujian performa. Nah, kita benchmark dulu ya. Pada setting baterai kita lihat ada opsi performa yang dinamakan GT mode. Kita bisa mendapatkan skor lebih tinggi dengan GT mode kalau diaktifkan. Kita mulai dari UnT 10 ya. Kita langsung dapat skor yang tinggi di 2,1 jutaan untuk Geekbch 6 core 2.247 multiore di 7.414 GFX Bench Car 1080p off screen di 147 fps. Untuk 3dx slot extreme graficnya di 31.572. Lalu untuk Tradmarx solar Bay 31 fps. Nah, sekarang coba kita lihat stress testnya ya dengan 3Dk wildlife stress test. Best scor-nya ada di 11.162 sementara lowest score ada di 11.069. Stability-nya [Musik] 99,2%. Oke, lanjut untuk gaming ya. Untuk pengalaman gaming yang maksimal kita uji dengan setting GT mode-nya diaktifkan. Kita mulai dulu dari Mobile Legends. Grafisnya bisa ultra dan frame rate kita style di ultra juga. Dengan setting rata kanan seperti ini, gameennya jalan di 120 fps. Lancar, enteng bangetlah untuk SOC sekencang ini ya. Lanjut. Real Racing 3. Game ini sayangnya masih mentok di 60 fps. Itu karena refresh rate-nya yang nyangkut di 60 Hz. Bukan karena kurang kencang. Bukan. Apapun setting refresh rate-nya tuh hasilnya sama aja. Ini bukan masalah yang besar lah. Yang penting game-nya masih mulus dan lancar. Lanjut untuk PUBG Mobile. Setting maksimumnya ada di grafis smooth dengan frame rate di ultra ekstrem, artinya 120 fps. Saat dimainkan juga lancar di 120 fps. Sudah sangat siap untuk level kompetitif. Gero aiming juga lancar, responsif banget. Kami tidak menemukan masalah sama sekali dengan yang satu ini. Oke, kita masuk ke Genin Impact dengan setting highs 60. Hasil pengujian kami sudah mentok 60 fps rata enggak pakai turun-turun performanya selama setengah jam. Tanpa kipas pun hasilnya sudah seperti ini. Sekarang mari kita cek suhunya. Suhu di sisi layar itu paling panas di 43 derajat Celcius. Ini ngepas banget di batas atas ya. Lalu suhu di body belakang itu paling panas di 44 derajat Celcius. Ya, memang ini dibatas atas. Jadi pasti ada yang akan merasa ini anget menuju panas. Nah, dari segi penyebaran suhunya ini terlihat sangat baik. Panasnya tersebar nyaris ke seluruh sisi bodinya. Ini sepertinya efek samping dari back cover-nya tadi ya. Luar biasa nih. Rata banget di sini. Nah, tapi meskipun performa gamingnya udah mantap di sini ya, kalau mau dipakai bermain berjam-jam kami akan selalu menyarankan pakai kipas aja. Akan lebih sehat untuk smartphone-nya dan untuk jari-jari kita juga. Nah, untuk ranking Gensin ini otomatis langsung S plus mentok. Tinggal tunggu aja deh Gensin upgrade visual secara signifikan atau naikin minimum frame rate-nya ke 90 FPS lah ya. Baru deh nanti ini lebih menantang untuk SOC kelas segini. Oke, kita lanjut lagi ke watering wave. Game ini berjalan dengan optimal di Realme GT7. Dengan setting rata kanan, kita bisa dapatin frame rate di 60 fps mulus, lancar. Mau dipakai traveling, battle yang intens, enggak ada masalah. Yang perlu diperhatikan cuma suhunya aja. Game ini kan tergolong berat banget ya. Kami mendapati ketika suhu sudah panas, frame rate-nya juga bisa turun ke 50 fps. Oke, sedikit tips aja kita bisa cek suhunya ini juga lewat menu overlay game tools yang ini nih. Di sini ada indikator suhunya bisa dipelajari aja polanya. Setiap kali suhu sudah mencapai 45 derajat Celcius, frame rate-nya akan mulai turun ke 50 fps, bahkan bisa turun ke 40-an FPS. Jadi, kalau mau main game lancar dan tahan lama, solusinya adalah ya, betul. Lagi-lagi kipas pendingin dan kalau bisa jangan main di ruangan yang panas. Pastikan aja suhunya di bawah 45 derajat Celcius supaya bisa frame rate-nya tinggi terus. Oh ya, bicara soal game, Realme juga sudah memberikan list game apa saja yang sudah bisa jalan di 120 FPS. Ada banyak sekali ya. Bisa lihat aja di tabel yang satu ini ya. Serius banget nih Realme ini. Oke, sekarang kita lanjut ke pengujian kamera seperti biasa bareng sama Kris ya. Oke, di tangan saya kali ini sudah ada Realme GT7. Jadi, langsung aja kita lihat kemampuan kameranya seperti apa. Yang lagi teman-teman lihat sekarang adalah video kamera selfie-nya. Saya rekam di resolusi 1080p 30 fps dulu yang menarik akhirnya bisa 4K60. Akhirnya smartphone Realme ada yang bisa 4K60 selfie-nya. Tapi pertama kita mau cek kemampuan mikrofonnya dulu. Suara yang lagi kalian dengar sekarang adalah suara langsung dari mikrofon smartphone-nya. Saya enggak pakai mikrofon. Untuk kebutuhan video sehari-hari atau vlogging, hasilnya kurang lebih seperti ini. Wah, setelah saya dengar lebih lanjut mikrofonnya saya suka nih. Suara saya terdengar jernih di sini. Oke, sekarang kita lanjut bahas video kamera selfie-nya. Akhirnya ada HP Realme yang bisa rekam 4K 60 fps nih di selfie. Tidak adanya 60 fps di selfie selalu jadi hal yang saya mention. Sekarang sudah terjawab di Realme GT7. Terima kasih nih Realme. Untuk kualitas gambarnya sendiri terbilang sangat bagus untuk kelasnya. detailnya pas dan ketajamannya juga pas. Kalau soal dynamic range ini sekedar oke aja, belum terhitung yang luar biasa. Karena di kondisi cahaya yang sulit, wajah masih bisa terekspos dengan cukup baik. Tapi area terangnya terlihat masih over expos. Sedikit berharap bisa lebih baik dari ini sih, tapi kalau di lighting yang ideal mah bagus-bagus aja enggak ada masalah. Oke, berikutnya kita cek stabilizernya. Resolusi berapapun yang kita pilih, kamera selfie-nya ini bisa stabil. Termasuk 4K 60 fps-nya. Nice. Lanjut ke kamera utamanya. Videonya sudah oke banget nih. Detailnya tergolong mantap. Warna juga enggak oversaturated. Soal dynamic range, beh ini luar biasa ya. Di kondisi cahaya yang sulit, bagian terang dan gelapnya dapatpos dengan cukup baik. Di resolusi manapun yang digunakan, kamera utamanya cukup konsisten menghandle dynamic range. Untuk stabilisasi video, asyiknya bisa stabil, ya. Ini saya tes di 4K 30 fps aman, bisa stabil. Dibilang stabil level gimbal sih belum ya. Kedut-kedut dikit mah masih ada di sini. Saya juga coba di AK30 FPS dan stabilizernya tetap bisa jalan. Cakep nih. Kalau 4K 120 FPS ya belum waktunya lah. Wajar banget kalau EIS-nya belum jalan. Di mode ini stabilizernya hanya mengandalkan OIS-nya aja makanya enggak sesabil resolusi yang lain kan. Kita lanjut ke kamera ultrawide-nya. Di kondisi terang hasilnya cukup bagus. Detailnya selama enggak di pixel pip sih masih tergolong oke lah. Soal warna ini agak beda nih jika dibandingkan dengan kamera utamanya. terutama di skinone nih lumayan beda warnanya. Semoga ini bisa dibuat lebih mirip lagi. Untuk dicang di sini sudah lumayan oke nih. Belum sebaik kamera utamanya tapi lebih baik ketimbang kamera selfie-nya. Area highlight masih ada yang sedikit over expose tapi overall masih tergolong lumayan oke. Untuk stabilisasi video aman. Sayangnya enggak ada opsi 60 fps nih di ultra wide-nya. Mentok di 1080p 30 fps aja. Sekarang kita cek kamera tele dua kalinya. Di kondisi terang sih hasilnya sudah oke banget. Soal warna sudah cukup mirip dengan kamera utamanya. Pergeseran warnanya minim sekali antara kedua kamera ini. Untuk damic range di sini sudah oke selama di 30 fps. Saat saya naikkan ke 60 fps, ternyata handling dynamic range-nya agak berubah nih. Area highlight-nya jadi over expos di mode yang ini. Ini tuh detail-detail kecil yang membuat pengalaman pakai kameranya kurang konsisten. Jadi kan ini sebagai catatan aja ya. Di kelas segini saya masih maklumlah ada SKBSKB seperti ini. Dan kalau kalian mainnya di 30 fps doang harusnya enggak jadi masalah sih. Untuk stabilisasi video kalau kita rekam di 30 fps, sayangnya jaternya cukup terasa ya. Kabar baiknya kalau kita pakai 60 fps stabilizernya bisa jadi lebih rapi. Terkait pengalaman multameranya bisa saya bilang ini sudah cukup mulus. Saat merekam video kita bisa pindah langsung antar ketiga kameranya. Dipelajari aja resolusi dan frame rate setiap kameranya supaya enggak bingung kalau tahu-tahu ada kamera yang hilang saat rekam video. Kalau untuk pindah langsung ke kamera selfie, sayangnya belum bisa ya. Di sini hal yang perlu diperhatikan adalah saat pindah ke kamera tele dua kali belum tentu kameranya itu beneran pindah. Jadi kameranya ini bisa pindah-pindah sendiri. Kadang benar di tele, kadang malah jadi digital zoom dari kamera utamanya. Saat tombol auto makronya muncul, kita bisa matiin sih. Tapi kalau kita keluar app kamera lalu balik lagi, dia bakal begini lagi. Realme perlu memberikan opsi untuk mematikan auto lens switch-nya ini dan secara permanen juga. Tapi entah kapan sih fitur ini akan hadir? Semoga sih secepatnya ya. Ini dampaknya akan lebih terasa di low light. Nanti saya jelasin. Oke, untuk kondisi low light kita mulai dari kamera selfie-nya dulu. Kamera selfie-nya masih cukup terang tapi gambarnya terlihat granny ya. Noise masih di level yang wajar. Kalau untuk detail menurut saya sih masih cukup terjaga di sini. Di mode 60 fps gambarnya jadi gelap. Ini wajar karena 60 fps butuh cahaya lebih banyak. Kalau menurut saya di low light seperti ini rekamnya di 30 fps saja. Stabilizernya juga aman. Jaternya ada tapi tipis aja kalau di 30 fps. 60 fps memang lebih rapi sih stabilizernya, tapi gambar kurang terang menurut saya. Kalau untuk kamera utamanya ini terbilang mantap ya. Video masih bisa terang dan detailnya masih cukup terjaga. Gambarnya juga bersih, noise-nya minim, bahkan di 60 fps sekalipun itu aman. Kalau untuk jater stabilizer cukup terasa ya di 30 fps. Kalau mau lebih rapi ya tinggal pakai 60 fps-nya aja. Kalau untuk autofokus di kondisi low light seperti ini aman ya, enggak ada masalah. Kamera utamanya lancar-lancar aja kok. Nah, untuk kamera ultrawide-nya gimana? Melihat kamera utamanya yang luar biasa pas pindah ke ultrawide terasa sekali ya perbedaan kualitasnya. Sepertinya ini sudah waktunya Realme upgrade ultra wide deh biar lebih oke kemampuan low light-nya. Urusan stabilizer, videonya bisa stabil dengan jiter yang tergolong normal. Kita lanjut lagi ke kamera tele-nya. Realme masih ada PR di kamera tel-nya ini. Di kondisi low light seperti ini yang bahkan masih ada banyak lampu sebetulnya ya, kamera telenya ini sulit sekali untuk aktif. Saat kita tekan tombol dua kalinya ini, ini akan jadi digital zoom dari kamera utamanya. Kamera telenya tidak akan dipakai kalau sistemnya menilai areanya kurang cahaya. Digital zoom dari kamera utama dianggap lebih baik ketimbang pakai kamera dedicated zoom-nya. Ini terjadi karena target utamanya adalah terang. Pengguna awam enggak peduli tuh kamera mana yang digunakan. Kalau pindah ke kamera tele malah bikin gambarnya gelap itu akan dianggap jelek. Kalau dari sudur pandang saya, saya tuh maunya konsisten. Kamera tele ya, kamera tele. Gelap dikit enggak masalah karena saya mau tahu kemampuan kameranya tuh sejauh apa. Sudah ada smartphone lain yang bisa memberikan opsi on offand switch. Tinggal Realme nih belum nih. Semoga secepatnya bisa dihadirkan ya. Oke, sekarang kita lanjut bahas fotografinya. Untuk fotografi, hasil fotonya sih dari semua kameranya tergolong impresif. Bahkan kamera ultrawide-nya juga masih oke saat low light. Salah satunya berkat fitur auto night mode-nya. Sejauh saya foto-foto pakai smartphone ini yang bisa diprotes cuma dua hal sih. Yang pertama kamera telen-nya tidak dilengkapi dengan optical image stabilizer. Ini bikin pengalaman foto pakai kamera telnya kurang maksimal nih. Kalau tangan goyang dikit itu bisa blur fotonya. Apalagi di portrait mode itu lebih berasa. Kemudian berikutnya adalah saat low light, kamera tele sering tidak terpakai. Lagi-lagi kalau sistem kameranya menilai areanya kurang terang, fotonya akan diambil dari digital zoom kamera utamanya. Sebetulnya ini udah level de picking banget ya, karena di luar itu kemampuan fotografinya seperti saya bilang di awal ini sudah cukup impresif. Nah, kebetulan saat video ini diedit saya sudah otw ke Paris sih untuk menghadiri acara launching-nya Realme GT7 ini. Jadi saya coba slipin juga hasil foto-foto selama di Paris ya. Nah, sekarang kita cek fitur ekstranya. Untuk fitur ekstranya sebetulnya ada banyak sih, tapi yang menurut saya menarik ada beberapa. Yang pertama itu di kemampuan slow motion-nya. Ini smartphone pertama Realme yang bisa merekam 4K 120 fps. Gokil ini sih catatannya ini berlaku untuk kamera utamanya aja ya. Kemudian ada mode pro juga di sini. Kita bisa manual fotografi untuk kamera utama. Kamera ultrawide dan kamera telinnya juga. Untuk detail pengaturan ISO dan shutter speed bisa dilihat aja di menu kamera berikut ini. Sayangnya untuk manual videografi itu hanya bisa lewat movie mode. Dan di sini masalahnya kita dipaksa untuk memakai aspek rasio 21 bing 9 belum bisa pakai 16 b 9. Kita harus instal aplikasi third terparty lagi kalau memang butuh manual videografi yang proper. Lalu ada fitur underwater sama AIP juga di sini. Seperti yang sudah dijelasin Mas Dedi tadi ini menurut saya fitur yang menarik sih memang. Oke, overall kameranya tetap masuk kategori bagus nih, tapi ekspektasi kalian jangan berlebihan juga. Realme masih harus upgrade kameranya kalau mau bersaing dengan flagship-fagship kelas R juta ke atas. Apa saja sih menurut saya masih kurang di sini? Yang pertama tadi tidak adanya optical image stabilizer di tele. Lalu kamera ultrawide-nya juga sudah waktunya upgrade sensor. Lalu problem di software seperti yang saya jelaskan tadi, kamera telennya malah lebih sering tidak terpakai saat low light. Kemudian dynamic range video selfie-nya juga belum maksimal nih. Dan terakhir manual videonya belum ada aspek rasio 169. Untuk saat ini itu aja sih yang bisa saya protes. Yang jelas untuk sebagian besar pengguna ini harusnya sudah sangat mencukupi sih kameranya, tapi karena ini masuk kategori smartphone flagship, jadi saya memang harus lebih rewel sih. Terutama soal software experience. Semoga bisa ditingkatkan lagi. Nah, kalau menurut kalian sendiri gimana nih? Kalau bagi kalian keterbatasan yang saya sebutin tadi enggak penting-penting amat, harusnya kalian akan merasa puas-puas aja sih sama kameranya. Oke, jadi sekian pengujian kameranya Realme GT7. Kita lanjut lagi ke pembahasan berikutnya. Iya, sekarang kita lanjut lagi untuk pengujian daya tahan baterainya yang 7000 mAh itu ya. Oke, kita mulai dari YouTube local video playback 1080p non HDR. Baterai baru habis setelah 31 jam ya. Ini sih enggak banyak sebetulnya smartphone tahun ini yang bisa bertahan lebih dari 30 jam. Rata-rata mentok-mentok sekitar 2829 jam. Oh ya, kalau kita ngelihat data tesnya ya sebetulnya kami menghitung cuma dari 100% ke 2%. Karena di Realme UI yang sekarang ini saat baterai udah 2% maka sistem akan otomatis masuk ke power saving mode. Semua aplikasi akan ditutup termasuk video yang lagi diputar. Oke, lanjut untuk YouTube streaming. Streaming ya 30 menit baterai turun di 2%. Lalu untuk mainan TikTok selama setengah jam baterai turun 2% juga. Ini sih irit banget. Biasanya tuh 45% ya. Lalu untuk Gensin Impact 30 menit highest 60 fps, baterai turun 12%. Ya, ini adalah contoh smartphone yang baterainya itu monster ya. Untuk smartphone kelas R jutaan sepertinya ini pilihan yang terbaik kalau memang yang dicari adalah baterai yang awet. Oke, sekarang kita cek charging-nya. Nah, kita pakai charger bawaan ya yang 120 watt ya. Dari 0 sampai 50% butuh waktu 16 menit saja. Sebentar dari kosong saya penuh butuh waktu hanya 44 menit. Ini kencang banget karena ini baterainya 7.000 mAh bukan 5.000 atau 6.000. Jadi udah awet baterainya nge-charge-nya kencang banget. Oke, lanjut lagi untuk Netflix. Dia udah WF L1 tentunya jadi bisa streaming sampai full HD dengan dukungan HDR10, Dolby Vision, dan AV1. Untuk YouTube streaming bisa pakai 4K60 dan bisa playback video HDR dengan lancar. Untuk heptic feedback, mesin getaran yang dipakai di sini memang layaknya kelas flagship. Getarannya pendek, presisi, empuk, dipakai ngetik cepat pun nyaman, enggak ada masalah. Lanjut untuk harganya. Info yang kami dapatkan si harga Indonesia itu ada di Rp8 jutaan, tapi pada saat video ini dibuat belum ada harga tepatnya nih ya. Nah, nanti setelah rilis global dia akan rilis di Indonesia dan kita akan lihat harga resminya. Jadi kalau kalian nonton setelah launching harusnya udah ada link di kolom deskripsi untuk info lebih lanjut dan harga juga sudah kita taruh dalam deskripsi. Oke, sekarang kita masuk dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, storage-nya 256 GB. Pastikan aja storage segini udah cukup buat kalian, terutama untuk yang targetnya gaming. Karena game sekarang itu udah mulai gede-gede banget size-nya. Sayangnya nih emang enggak ada varian 512-nya nih ya. Kemudian kemampuan kameranya termasuk baik, tapi untuk kamera utama dan selfie-nya aja. Sedangkan untuk kamera ultrawide dan tele, pengalaman pakainya agak jomplang di sini ya. Semoga ini didengarkan oleh Realme dan bisa di-upgrade untuk produk berikutnya. Kemudian terakhir untuk kelas ini dia belum support eim. Nah, dari kelebihannya ini kemampuan baterainya luar biasa banget. Charging-nya juga kencang banget. Lalu, performanya ini kelas flagship. Game berat tuh enggak ada masalah. Kalau sampai ada game yang enggak nyaman dimainkan di SOC ini, kemungkinan besar itu yang salah developer game-nya, bukan HP-nya, bukan SOC-nya. Lalu, udah banyak game juga yang support 120 FPS. Lalu untuk kamera utama dan selfie-nya ini udah oke banget untuk foto dan untuk video. Perekaman bisa sampai 4K 120 fps, selfie bisa 4K 60 fps. Fitur ekstra kameranya juga banyak. IP rating-nya lengkap 66, 68, dan 69. Lalu layarnya AMOLED 120 Hz. Kecerahan layarnya juga tinggi. OS update-nya 3+4. Tidak ada iklan intrusif di sini. Dan dia punya beberapa fitur AI. Sorry, banyak fitur AI. Bahkan ada AI gaming coach dengan suara dari Jess No Limit misalnya. Nah, lalu konektivitasnya udah kekinian, infrared blaster udah ada, speakernya pun udah stereo. Nah, kita lanjut lagi menjawab pertanyaan yang di awal nih. Apakah ini sebetulnya beneran flagship killer? Menurut kami sih iya. Bagi kami, performa kelas flagship di combo dengan baterai dan charging yang luar biasa, fitur yang cukup lengkap, dan harga di Rp8 jutaan sangat bisa membuat orang batal beli flagship yang kelas R juta ke atas. Jadi ini flagship killer. Dari semua hal yang perlu diperhatikan, bagi kami hanya kamera aja yang mungkin berpotensi jadi pertimbangan besar. Bukan karena jelek, tapi kameranya itu masih perlu di-upgrade untuk bersaing dengan flagship yang kelasnya tuh di belasan juta ya. Kalau diadu ke yang R jutaan sih ini masih ngelawan banget. Pada akhirnya kalau ada yang nanya HP apa R jutaan yang menarik ini pasti masuk nominasi kami. Pasti masuk nominasi kami ya. Tentunya kalian harus perhatikan ya detail-detail dari review-nya kita tadi ya. Jadi perhatikan apakah memang benar-benar cocok untuk kalian atau tidak ya. Pada akhirnya saya harus bilang terima kasih banget Realme dan Realme GT-nya yang masuk terus ke Indonesia. Teruslah berinovasi seperti ini. Saya D Irfan Jaka TV.
Video Lainnya
Bursa ponsel 2026 memanas oleh inovasi brutal. Persaingan kini berpusat pada pesona lensa periskop, monster baterai ekstrem, dan cip pendingin cair. Panduan taktis...
Pasar smartphone midrange di pertengahan tahun 2026 ini sedang menghadapi badai kenaikan harga yang kian tidak masuk akal, memaksa konsumen untuk ekstra jeli dalam...
realme C100 membuktikan bahwa ponsel kelas menengah ke bawah tidak selalu harus berkompromi soal daya tahan. Di tengah persaingan pasar yang ketat, perangkat ini...
Menemukan True Wireless Stereo dengan fitur Active Noise Cancellation premium biasanya membutuhkan anggaran jutaan rupiah. Namun, kejutan datang dari Realme Buds...
Pasar True Wireless Stereo (TWS) ramah kantong kembali diguncang oleh kehadiran perangkat terbaru yang berani membawa spesifikasi kelas atas ke segmen harga...
Pasar ponsel pintar kelas menengah sering kali didominasi oleh nama-nama besar yang membuat kita abai terhadap permata tersembunyi dengan potensi luar biasa....
Pasar smartphone kelas terjangkau kembali diguncang oleh kehadiran realme C100 yang membawa spesifikasi di luar nalar, terutama lewat baterai raksasa berkapasitas...
Kapasitas daya yang masif sering kali menjadi daya tarik utama saat memilih ponsel pintar baru, tetapi benarkah angka besar pada spesifikasi menjamin daya tahan...
Di tengah gempuran ponsel pintar yang makin tipis dengan kapasitas baterai yang begitu-begitu saja, pasar teknologi dikejutkan oleh kehadiran sebuah perangkat yang...
Pecinta gadget kembali dikejutkan dengan kehadiran lini terbaru yang membawa spesifikasi di luar kebiasaan kelas entri. Kali ini, perhatian tertuju pada daya tahan...

















