Jungkat

Foldable nomor 1 di DXOMARK !! review moto razr fold (YouTube Video)

  • 17/07/2026

Udah 2026 perkembangan HP lipat makin pesat. Soal kompromis harusnya udah gak terlalu bikin kepala penat kayak Motorola Reserv ini. Kameranya akurat, desainnya bikin terpikat. Ya udah daripada jadi pemuda tersesat, selamat menonton. Biji Langsat. Hai Andika, Guys. Di sini enggak ada angin, enggak ada hujan. Ya, tiba-tiba si Motorola ini membawa Motorola Razer Food ini resmi ke Indonesia. Padahal kayak beberapa bulan yang lalu saya baru aja ng-review si Razer 60. Sekarang udah muncul lagi HP lipat Motorola yang bentuknya itu beda total. Kalau Razer 60 itu mainnya di model flip. Yang ini layarnya jauh lebih lebar. Layar luarnya pakai panel LTPO piolet 6,6 inch. Dan begitu dibuka kita langsung dapat layar 2K LTPO Violet 8,1 [musik] inch. Tapi ini kan hal biasa ya di HP lipat ya. Nah, yang menarik dari Motorola ini ternyata di bagian sini nih kameranya [musik] baru pertama bikin HP FT ya. Weh, Motorola ini langsung nangkring di urutan pertama di Xomar khusus untuk smartphone full. Tapi nomor satu di Dxo Mark juga bukan berarti kameranya itu langsung kayak semuanya suka gitu ya. Karena hasil kamera itu kan ya selera. Pas saya pakai sih ada sisi di mana saya bilang, "Uh, pantes sih kalau dia nomor satu DDX." Tapi juga ada CC yang sebenarnya masih bisa di-improve lagi. Kalau untuk spesifikasi kameranya, biar editor saya yang repot ya, biar supe saja yang berbicara. Tapi untuk angka highlights-nya jadi dia ada kamera utama 50 megapel dengan sensornya Sony Lia 828 dan Oi. Terus ultrawide-nya 50 megapel yang udah autofokus dan bisa dipakai buat makro juga. Dan ada kamera periscopoto 50 megapel dengan optical zoom tiga kali dan O juga. Kalau untuk kamera depannya ada 32 megapel dan ada kamera 20 megapel ketika layarnya ini terbuka. Jadi totalnya ini ada lima kamera. Tapi gimana kelima-limanya? Mereka punya peranan sendiri-sendiri sih. Kayak pertama kamera utamanya. Secara karakter hasil fotonya itu cenderung terang, tajam, dan warnanya langsung terlihat hidup. Kontrasnya juga lebih enak dibanding karakter kamera Motorola yang biasanya yang kadang terlalu terang sampai kayak agak pucet gitu. Detail di bangunan, tekstur daun, dan benda-benda kecil masih kelihatan jelas. Buat langsung di-upload di media sosial hasilnya juga cukup oke tanpa perlu banyak edit. Cuman karakter warnanya ini bukan yang kayak kalem gitu. Mungkin untuk beberapa orang suka ya karena dia udah ready to upload di sosm dengan karakternya Motorola. Tapi beberapa orang juga suka warna yang natural karena mereka punya preferensi dan juga editan style mereka masing-masing. Jadi bukan karena warnanya jelek, tapi kayak pemrosesannya itu kadang sedikit terlalu rajin gitu. Kayak teman kantor yang baru masuk gitu, yang baru magang, belum apa-apa udah bikin tiga spreadship ya. Teman kantor baru yang masih cari muka lah. Kalau untuk bagian terang dan gelap hasilnya itu masih cukup aman. Cuman di kondisi cahaya yang agak kompleks, agak rumit, danic rin-nya ini masih bisa ditingkatkan lah. Kadang bayangan diangkat terlalu terang. Jadi foto itu kayak terlihat sedikit ada dep. Kalau untuk foto manusia, skin tone-nya secara umum terlihat natural dan enggak asal diputihkan gitu. Ini ya lumayan lah ya karena sistem kameranya udah punya yang namanya painted validated khusus untuk skin tade. Mode putridnya juga udah enak dipakai, wajah tetap tajam dan efek blur di belakang terlihat cukup natural. Enggak terlalu AI, enggak terlalu masking. Sekarang kita pindah ke kamera ultrawide. Yang biasanya di HP Fold kamera ultrawide itu kayak cuman pemain cadangan aja lah. Jarang dipakai karena kualitasnya itu B aja. Tapi beda di Razer Fold ini ultrawide-nya pemain utama juga. Warnanya itu kalau misalkan daylight ya itu masih mendekati kamera utama enggak terlalu jomplang. Walaupun di kondisi [mendengus] tertentu perpindahan dari kamera utama ke ultrawide atau telefoto lah masih bisa kayak warnanya itu berubah sedikit agak jomplang. Jadi konsistensi antar kameranya belum selalu mulus, tergantung cuaca, tergantung sinar, tergantung matahari. Ulrawide-nya ini juga udah auto fokus yang artinya dia bisa dipakai [musik] buat foto makro juga. Dan hasil makronya kalian bisa lihat sendiri bukan yang sekedar penting dekat gitu ya. Detail benda kecil kayak masih terlihat cukup jelas. Tekstur makanan atau bunga justru salah satu kamera yang menyenangkan dengan ultrawide-nya. Ini dimainkan dengan mode makronya. Nah, yang menarik malah menurut saya itu telefotonya karena dia bisa optical tiga kali ya. Walaupun bukan kayak yang ultra-ultra HP Android lain yang bisa [musik] sampai 10 kali, tapi tiga kalinya ini cukup. Detailnya tajam dan hasilnya masih terlihat natural. Kalau zoom 6 kali sampai 10 kalinya masih bisa dibilang layak dipakai lah walaupun ya jatuhnya digital zoom. Tapi kalau misalkan udah zoom di atas itu kayak 20 kali 100 kali ya jadinya semakin banyak zoom semakin pemrosesan Ei-nya banyak enggak natural dan kayak cat air gitu. Kalau untuk low light-nya ukuran HP full kayak gini ya menurut saya sih masih lumayan bagus. Kamera utamanya masih bisa jaga warna, detail, dan cahaya lampu yang cukup rapi. Cuman kalau misalkan udah gelap banget dan banyak objek bergerak, noise-nya mulai kelihatan dan fokusnya bisa sedikit kurang konsisten. Jadi untuk low light-nya di class foldable menurut saya udah di atas rata-rata. Tapi kalau dibandingin dengan HP lain Android yang memang segmentasinya kamera beda kelas sih. Kamera depannya 32 megap dan 20 megap cukup lah ya untuk video call dan selfie biasa. Vlogging juga cukup oke. Tapi jujur bukan selfie kamera yang bisa bikin langsung kayak saya terpukau gitu. Untungnya karena ini HP fold, jadi kalian bisa pakai si kamera belakangnya ini untuk jadi kamera depan. Jadi kalian bisa dapat kualitas kamera belakang tapi tetap bisa melihat framing dengan pas. Hasilnya ya jelas lebih bagus ya. Detail wajah lebih oke, warna kulit lebih rapi, dan perspektif kamera utama juga terasa lebih natural dibanding pakai kamera depannya. Kalau untuk video kamera belakangnya itu bisa record 8K 30 fps. Tapi saran saya tetap aja di 4K 60 fps karena itu lebih optimal, lebih enak dipakai lah. Untuk kualitas videonya gimana? Langsung aja kalian cek footkage sini. Nah, kalau ini kamera depannya dari si Moto Lasel Full nih. Dia kalau kamera depan cuma bisa F di 20 FPS eh bisa 60 fps. Tapi ini kualitasnya kayak gini nih. Dia kayak masih shaky ya. Cuman ya buat foldable phones enggak apa-apalah. Terus buat white balance-nya. White balance. Aduh tebang-tebang, Guys. [tertawa] Nih, dia enggak begitu nyala. Eh, enggak sih. Masih kelihatan langit yang warna biru. Tapi birunya tuh biru yang celah banget gitu. Agak agak agak puyeh gitu sih jadinya. Cuman untuk skin tone dia masih oke sekali ya gitu goyang-goyang banget ini nih. Kalau buat jalan kayak gini terus habis itu coba kita rotating. Nah, tuh ini masih bergoyang gitu. Aduh, apa nih? Ada hewan gitu, Guys. Oke. Oke. Ini adalah kamera belakang dari Moto Lasel Fold. Ini untuk ukurannya foldable phone ini cukup oke, enggak yang bulit banget dengan body yang sangat tipis. Terus sekarang ini kalau OS-nya sih oke ya. Terus kita coba lootating karena di sini ada kucing. Ada kucing yang minta dilekam nih kayaknya. Kita coba loting mengh dikelilingin kucing. Halo kucing. Tuh nih kalau dizoom juga coba kita zoom ya. Dua kali, tiga kali, enam kali ya. Kalau enam sih jadi lada ngeblul ya kayak semaji gitu. Tapi ya namanya juga full devles mau gimana lagi gitu. Terus untuk zoom-nya eh zoom-nya kita coba sekarang fokus karena di sini banyak kucing. Kita coba fokusin ke kucing tuh. Oh dia untuk fokus sih masih agak patah-patah ya, kayak enggak halus kayak gitu. Terus kalau dari warna sih ini cukup hmm natural enggak yang overly vibrant atau gimana. Dan untuk aduh cahayanya dia oke sih. Dia masih bagus buat ukuran foldable phones. Terus habis itu ini ukurannya tadi resolusinya itu 8K 30 FPS. Mungkin 8K-nya entah ini kayak di besar atau gimana tapi ini di ya resolusinya 8K. Terus habis itu fitur-fiturnya sih sebenarnya macam-macam ya. Nah, ini tapi kita belum pakai fitur apa-apa masih mode default-nya. Nanti habis ini kita cobain karena dia ada horizontal lock. Nah, ini pakai fitur horizontal lock. Jadi kalau misalnya aku putar-putar ini posisinya sebenarnya aku putar-putar tapi dia enggak muter. Ya ental deh biar Mas Ali yang menunjukkan kalau aku sebenarnya tidak memuta-muta kamelanya. Cuman buat si horizontal lock ini dia cuman bisa FHD 30 FPS. Dia enggak bisa. Kalau 8K itu enggak bisa sama sekali, Guys. Itu di atas ada don. Siapa yang main down? Tapi gitu deh, Guys. Oke, jadi kameranya ini overall apakah dia sesuai dengan peringkat DXOD? Nah, kalau untuk classold saya setuju sih ya kameranya untuk class dia pantaslah kalau jadi nomor satu. kamera utamanya itu kuat, ultrawide-nya bukan jadi pelengkap, makronya juga berguna. Telefoto tiga kalinya juga bagus. Cuman kadang konsistensi warna ketika pindah lensa dan pemrosesannya itu terlalu agresif gitu. Dan zoom ekstremnya mulai terlihat seperti AI kalau misalkan udah di atas 10 kali. Kameranya saya akuin niatlah, cuman biasanya kalau HP Flot itu udah fokus di kamera ada kompromi lain gitu. Nah, komprominya apakah di baterai? HP lipat itu biasanya pelit soal baterai ya, karena kan dia harus tipis. Jadi baterainya kadang 5000 mamp. Tapi si Motorola Razer Fold ini enggak pelit. Dia langsung ngasih sekitar 6.000 mAmp. Jujur saya penasaran sih dengan engineernya Motorola ini dulu ibunya nyidam apa ya biter banget karena susah loh untuk bikin baterai 6000 mamp di body setipis ini. Bodinya itu ketika dibuka cuman 4,55 mili. Dan untuk kedataan baterainya ya, pas kita sampling kayak PUBG, kita main setengah jam dengan main screen-nya yang artinya layar 8,1 inch 30 menit dia berkurang sekitar 6%. Mobile Legends 30 menit 5%, Boing wave 30 menit 11%. TikTok ataupun YouTube cuman 1% aja ya. Karena ini kita pakai main screen sih biasanya PUBG itu 3 atau 4% lah kalau misalkan HP yang biasa ya tapi fold. Ini kita coba pakai main screen-nya segitu ya. Ibaratnya kayak dapat 2 HP ya, 3 + 3 6% ya sebenarnya standar lah. Dan bukan cuma kapasitas baterainya aja yang niat, tapi fast charging-nya juga niat ya. Motorola ngasih kita 80 watt turbo power untuk pengisiannya dan 50 watt untuk wireless charging. Wah, 50 watt wireless charging itu gede loh. Dan kalau kalian tanya apakah adapternya ada di dalam bok? Ada dong. Emangnya merekah? Soal sistem operasi Motorola ini banyak yang bilang ya ini [musik] Google Pixel versi resmi Indonesia karena UI-nya itu clean banget, Google Pixel banget. Ibaratnya kalau kita beli pentol itu cuman dikasih kecap aja bahkan bisa dibilang ini putihan polos gitu. Hampir enggak ada bumbu tambahan. Jadi Reser Food ini pakai Android 16 dengan UI MyUX yang tampilannya mendekati stok Android. gak ada bloodware iklan, apalagi aplikasi pinjol yang tiba-tiba udah duduk manis di home screen. Bahkan aplikasi galeri pun kalau kalian butuh kalian harus instal sendiri ya. Dia bawaannya ya bawanya Google Photus. Jadi kalian kalau beli ini jangan bingung [musik] galerinya di mana ya. Enggak ada karena dia pakai Google Photo. Tapi yang bikin saya Salfox sebenarnya bukan tampilannya ya, tapi gimana dia bisa engineering software-nya ini bikin AI-nya itu juga kepakai di HP Fold. Jadi di sini ada moto AI yang dikolaborasikan sama Google dan Gemini. Rasio layar main screen-nya itu 8 bing 7 [musik] yang hampir kotak lah ya. Jadi kalau dibuat split screen, multitasking, dan app switching itu terasa kayak lebih maksimal. Contohnya kalian bisa buka Perplexity di sisi kiri untuk nyari data. Hasilnya bisa disalin ke Google Gem ini di sisi kanan untuk dirangkum jadi laporan. Sementara WhatsApp atau email tetap dibuka di bagian bawah. Kedengarannya kayak ribet ya pas dijelasin ya, tapi pas dipakainya kayak nyaman aja multitasking. Software udah bagus, kamera udah bagus. Gimana soal build quality dan juga desainnya? Dari segi fisik, Motorola Razerv ini punya desain yang minimalis, clean tapi tetap elegan. Bentuknya [musik] itu cenderung ngotak, tapi sudutnya dibuat agak ya supaya tetap nyaman, digenggam lah dan enggak menusuk di telapak tangan. Ketika ditutup dimensinya kurang lebih kerasa kayak HP biasa lah, kayak HP nonable baik dari ketebalan maupun lebarnya. Jadi rasanya itu kayak bawa 2 HP yang ditumpuk. Begitu dibuka baru nih kerasa tipisnya 4,7 mili. Walaupun sayangnya dia enggak yang 180 derajat ya. Sama kayak Ford line lain ini sekitar 178 derajat lah ketika dibuka. Cuman karena kameranya ini benar-benar dibikin lebih proper makanya dia jadi nomor satu di DX. Jadi kamera bumnya ini lumayan tebal. Dan kalau misalkan kalian taruh di meja masih lumayan kerasa ya jongkat jangkitnya. Unit yang kita pegang ini namanya itu Panton Blacken Blue. Wuh, namanya agak susah ya. Jadi warnanya ini gelap, lebih maskulin tapi tetap elegan khasnya Motorola. Bagian backover pakai leather bertexure khasnya Motorola juga. Kalau dilihat dekat dia itu kayak rajutan gitu. Dan karena leather-nya ini jadi dia enggak gampang nempel magnet fingerprint. Terus karena ini leather jadi dia pas dipegang juga enggak licin ya. Jadi kalau misalkan kalian enggak pakai case masih aman. Tapi HP fold enggak pakai case emang ada yang berani. Varian warna lainnya ada Lily White. Warnanya itu lebih cerah dan terlihat lebih feminim lah ya, tapi tetap minimalis. Build quality-nya untuk ukuran foldable terasa cukup serius. Cuman sayangnya memang ketika dibuka itu kayak effort sedikit lah ya. Karena mungkin daya tarik engel magnetnya jadi agak effort bukanya. Tapi ini kelihatan dia di kayak exelnya itu solid banget tuh. Cuman entah gimana ya engineernya bikin axel-nya ini mungkin ke depan bisa diperbaiki karena ketika dia dibuka posisi claim shell seperti ini ya kalau kayak gini sih aman dengan 90 derajat tapi kalau misalkan udah diturunin agak 40 derajat exelnya itu enggak mau ng-lock gitu jadi dia kadang tuh nutup terus kalau misalkan dibuka agak lebar misal 110 derajat dia ikut ngangkat kayak gini tuh jadi ya harus dipasin 90 derajat. Nah, kalau di pesawat kan kadang kita buka kayak gini ya, pengin nonton dari arah kayak gini gitu. Jadi, nah ini enggak jatuh tapi, tapi kadang dia jatuh. Kalau kalian tanya kris atau lipatan di bagian tengahnya masih cukup kelihatan, tapi tipis banget dan itu pun harus dicari-cari ya. Tapi kalau misalnya kondisi layarnya mati sih kelihatan dan kalau kita pegang itu kayak ada polisi tidur kecil gitu grenjel gitu ya kalau dipegang kayak gini. Tapi kalau udah dipakai misal 2 hari 3 hari udah lupa sih kalau dia ada krisnya di situ. Jadi kalau buat saya sih gak terlalu mengganggu. Nah, biasanya untuk bikin sertifikasi IP rating di HP full itu susah ya. Jadi kalau kalian lihat beberapa HP full itu gak punya debu sih, terutama ya. Jadi biasanya IPX8 gitu. X yang untuk debunya itu enggak ada. Tapi Motorola bisa walaupun bukan debu partikel yang kecil banget ya. Jadi dia punya tiga sertifikasi IP rating IP 46, 48 dan 49. Intinya kalau untuk air sih amanlah itu yang top notch-nya. Tapi kalau untuk debunya jangan debu yang partikel kecil banget karena cuma dapat empat. Yang tertinggi sekarang itu enam. Kalau untuk proteksi layar luarnya udah pakai Coring Gorilla Glass Seramic 3 yang klaimnya layar luarnya ini tahan jatuh dari ketinggian 2 m di permukaan beton. Aduh, cuman kalau saya sih sayangnya saya HP full dijatuh-jatuhin tuh janganlah ya malu. Bobotnya ada di 243 gr. Lumayan berat untuk ukuran HP tapi masih masuk akal karena ini dia bawa dua layar ya. F beratnya itu sama kayak kalian megang stik PS5 lah. Kira-kira seperti itulah. cuman lebih ringan. Jadi kalau dipakai cukup lama masih ggak cepat bikin tangan capek. Cuman kalau untuk soal distribusi berat ya karena kamera bumnya ini di atas jadi kadang kalau kayak dia tuh mau turun ke bawah gitu. Paham kan ya maksud saya tadi saya bilang untuk proteksi layarnya ini kan pakai Corning Gorilla Glass Seramic 3 ya. Nah, sebenarnya Seramik 3 ini ngelindungi apa sih? Layarnya sebagus apa? Kenapa sampai harus dilindungi seramik 3? Layar luar dan dalamnya ini sama-sama pakai panel LTPO PLED. Buat yang belum tahu, PLED itu ya pada dasarnya OLED yang pakai substrat plastik jadi lebih fleksibel dan cocok untuk HP fold kayak gini. Panelnya udah jadi standar HP full lah sekarang. Selain tampilannya enak dilihat, sifatnya ini lebih fleksibel dan bahkan diklaim punya masa yang lebih lama dibandingkan panel AMOLED. Kedua layarnya juga udah punya resolusi dan refresh rate tinggi. Jadi warnanya itu terasa hidup, detailnya tajam, scrolling responsif, dan dipakai main game juga nyaman. Jadi main screen dan juga secondary screen-nya ini gak ada yang jadi pemain cadangan gitu. Semuanya speknya itu spek-spek ya kelas flagship-nya HP fot. Tapi spek kayak gitu kan angka ya. Gimana soal color akurasi warnanya? Nah, pas kita tes pakai device kita Kalman kalian bisa langsung lihat aja hasilnya. Intinya sih hasilnya cukup oke lah ya. Walaupun pas kita tes belum nyampai 100% sRGB, tapi untuk layar luarnya volume sRGB-nya itu bisa 155% dan coverage-nya di 99,6%. Kalau kalian bingung dengan warna-warna itu tadi, ya, penjelasan sederhananya ya. Artinya kalau kalian nonton film atau main game warna merah ya tampil merah bukan merah yang mendadak punya cita-cita jadi orangen gitu. Warnanya akurat lah. Kalau untuk chipsetnya ya sayangnya dia bukan pakai Snapdragon yang paling kencang sih ya. Ya, selisih cuma satu generasi lah. Dia pakai Snapdragon 8 Gen 5 bukan 8 Elite Gen 5 dengan RAM-nya tapi langsung dapat 12 GB LPDDR 5X dan seterusnya 256 GB UFS 4.1. Ya, secara kelas spesifikasi sih ini udah kelas spesifikasinya HP mahal sih ya apalagi ini foldable kalau untuk pemakaian harian terus multitasking, split screen, editing ringan sampai game juga masih lancar kok. Untuk skor AnTutun-nya dia dapat skornya itu di 2,9 juta hampir R3 juta. Kalau untuk band single core-nya di 2600-an, multiore 8.700, GPU di 17.000. Wuh, lumayan banget. Nah, yang menarik pas kita tes throttelnya ya, karena HP lipat tuh biasanya throttle kan. Tapi Motorola ini enggak. Pas kita tes di white left extreme stress test itu dapat 99,6%. [musik] Tapi kalau untuk solar B-nya karena solar B lebih berat ya, dia dapatnya di 60% untuk stability. Nah, untuk gaming kita coba di Mobile Legends dengan settingan rata kanan dia dapatnya di average 61 fps. Itu kita pakai layar dalamnya ya. Nah, kalau untuk PUBG dia kebuka di 120 FPS dan dia bisa dapat average FPS di 119. Kalau untuk booting wave sama juga kita pakai settingan highest average-nya di 36. Walaupun kadang drop sampai di bawah 30 fps, tapi kayaknya jarang sih ya orang punya full itu untuk main game. Ada enggak sih yang punya full terus main game? Coba tulis di kolom komentar ya. Meskipun bisa dibilang ini HP pertamanya Razer di segmentasi full, tapi soal software-nya ternyata udah dipikirin matang sama Motorola. Kayak pertama ya, HP ini udah support sama Mutopad. Jadi buat content creator yang suka sketching stylus ini berguna untuk gambar storyboard sebelum produksi atau nyatat poin aja ketika meeting terus nandai dokumen, signing dokumen atau sesimpel gambar lah ya biar kelihatan produktif. Kedua, speakernya juga menarik karena walaupun bodinya ini tipis, output speakernya ini tetap powerful, bassnya nyaman, sparisinya pas, dan detailnya lumayan dapat. Dan speaker ini dia itu dituning sama bus. Wah, dan juga udah support sama Dolby Atmos. [musik] Kira-kira seperti ini suaranya. Fitur khas Motorola yang lain juga masih ada. Kayak contohnya Smart Connect itu masih ada. Jadi kalian bisa menghubungkan HP ke PC atau laptop. Terus ada moto gesture juga tetap tersedia. Dan yang paling wah ya dukungan update-nya itu diklaim sekarang 7 tahun loh ya. Gokil. Jadi security update-nya juga 7 tahun termasuk salah satu software update yang paling lama untuk HP F. Okelah. Jadi itu tadi adalah review dari HP full pertamanya Motorola si Razer Fold. Dan kesimpulannya, sejauh yang saya coba generasi pertamanya ini gak terasa kayak produk percobaan gitu ya. Kameranya serius, baterainya juga gede, layarnya bagus, software-nya clean, dan fitur multitasking-nya emang kepakai untuk HP phone. Motorola ini bisa kalian beli sekarang pas video ini tayang sampai 20 Juli nanti untuk harganya. Sebenarnya kalau dibandingkan dengan HP yang lain ya, harganya ini masih cukup terjangkau. Apalagi di kondisi 2026 semua komponen naik kayak gini dengan harga spesial hingga 25 jutaan dengan ada bonus mutu watch dan batud yang plus total benefit itu sampai 10,7 juta. Nah, kita lihat aja ya HP yang lain kan tahun ini masih Motorola ya, yang tahun 2026 ya. Kita lihat coba brand lain HP apakah bisa harga Rp25 jutaan? Kayaknya sulit deh dengan harga segini ya. Kalau kalian cari HP foldable, bisa dibilang ini bakalan jadi HP foldable yang harganya paling terjangkau sih ya. Seenggaknya dengan harga Rp25 juta ini worth to price dibanding fault lain dengan spek di bawah ini tapi lebih mahal. Tapi tetap kompromisnya tetap ada yang perlu kalian pertimbangkan tetap ada. Terutama di exel-nya yang enggak bisa kebuka nge-lock di 90 derajat. Jadi ya agak repot kalau misalkan ditaruh di meja. Kamera bam-nya juga cukup menonjol dan untuk game berat perlu di-setting lah ya. enggak usah pakai settingan mentok rata kanan dan pakai secondary screen-nya aja. Jangan pakai yang layar dalamnya karena boros, performanya juga turun, baterainya juga cepat [musik] habis. Terus kualitas low light-nya ke depan mungkin kameranya bisa dibagusin lagi sama Motorola ya. Overall Motorola Razer Food ini emang HP keluaran pertamanya Motorola ya yang belum sempurna. Tapi untuk ukuran HP pertama dia udah lumayan matang dan lengkap. Dan ya itu tadi menurut saya dia bakalan jadi HP full yang paling terjangkau keluaran 2026. Link pembeliannya di pojok kiri dan di deskripsi.

Lihat di YouTube