Jungkat

Ga Salah Harga ? Laptop RTX 5070 kok cuma segini ?! Axioo 775 (YouTube Video)

  • 02/08/2025

Dulu kalau kita dengar kata Pongo kayak apaan sih Po. Sekarang kalau kita dengar kata Pongo langsung tuh otak kita langsung kecantol. Oh Ako. Yang harganya bikin brand lain plonga-plong karena selalu ngasih harga yang enggak wajar untuk spesifikasi yang diberikan. Contohnya kayak si Asio Pungo 775 ini. Kalau kita lihat persaingannya ya di ranah-ranah yang mirip sama pengu 775 ini contohnya ada Asus Staff A16 yang pakai RTX 5060 aja itu harganya di kisaran R4 juta. Terus kalau kita lihat MSI Katana 5070 harganya bisa Rp26 juta kembali R000. Terus Asus tff juga kalau 5070 harganya itu bisa Rp28 juta. Nah, si Pongo 775 ini dengan RTX 5070 harganya itu Rp20.500.000-an bahkan enggak 209. Gila gak selisihnya bisa sebanyak itu. Gimana ceritanya Axio ini yang jual rugi atau brand lain yang kemahalan? atau ada sesuatu yang lain yang dipangkas untuk nekan cost harganya. Yuk, kita bahas. Nilai jual utama atau paling topnya dari Axio Pungu 775 ini memang bukan prosesornya ya. Karena prosesornya dia pakai Intel Core 7 13260H generasi ke-13. Sedangkan brand-brand lain yang saya sebutin tadi kayak MSI Katana dan juga tisnya bisa 5 sampai R juta itu pakai Intel Core i7 generasi ke-14. Dan racikan mundur satu generasi inilah yang bikin harga dari Pongo ini super terjangkau dibandingkan brand lain. Bukan material sana sininya yang dipangkas, layarnya juga enggak dipangkas. Enggak kok, cuma dari sisi prosesornya aja. Nah, penurunannya berapa persen, Bang? Kalau kita bandingkan dengan Intel Core i714700 HX ya untuk di R23 single core-nya itu sekitar 16% core i7 generasi 14 itu lebih kencang. Kalau di multiore-nya sekitar 44%. Tapi itu tadi menurut website Nano review ya. Tapi untuk Po yang kita review ini tuningannya lebih cakep, skornya lebih tinggi ketimbang website comparison tadi. Contohnya di R23 ya, skor tertinggi kita bisa dapat 16.100-an lebih. Padahal kita looping sebanyak 10 kali, masih bisa stabil di skor rata-rata itu. Terus poin single core-nya itu di 1837. Bahkan skor ini kalau kita bandingkan dengan Intel Core Ultra 7 155H itu masih mirip-mirip aja. Untuk mode baterai only di R23 kita dapat rata-rata di 9.000-an poin dengan single core 1383. Jadi kurang lebih turun sekitar 40-an% lah. Wajar karena adapter dari laptop gaming itu sama kayak PSU ketika kita ngerakit PC. Jadi kalau enggak ada PU-nya ya performanya turun. Untuk CBZ 2024 juga dapat hasil yang mirip-mirip. Kalian lihat chart ini aja untuk model plugin dan baterai only-nya. Dan dari benchmark synthetic R23 dan juga R24 ini jelas tuningannya pungu ini enggak asal-asalan walaupun dia mundur satu generasi untuk hemat harga. Untuk RAM-nya dia pakai 16 GB DDR5 dengan speed 5600 meg/s. Yang untuk kedua slotnya udah keisi. Jujur kalau untuk laptop gaming kayak gini. Kalau saya pribadi ya, saya lebih suka yang 16 GB satunya kosong. Jadi saya punya budget lagi untuk upgrade jadi 32 GB. Kalau ini kan 88 ya. Jadi kalau misalkan kita mau upgrade agak ribet, kita harus tukar tambah dulu terus beli 16 GB 2 keping. Tapi ya tergantung selera sih. Kalau kalian ngerasa 16 GB kebutuhan kalian cukup, ya bagusan yang langsung dari pabrik 16 GB dual channel kayak gini. Tapi saya penasaran deh kalian ini tim mana? Tim yang 16 GB langsung du channel atau 16 GB single channel aja nanti ke depan di-upgrade sendiri. Coba tulis di kolom komentar ya. SSD-nya juga cukup gede 1/2 TB alias 512 GB dan speed-nya juga kencang ya. Ini pakai PCI i Gen 5 yang rit-nya itu hampir 7.000 Mbps W-nya hampir 5.000 Mbps dan nilai jual utamanya jelas di GPU-nya. Dia pakai Nvidia RTX 507 8 GB GDDR7 yang kalau kalian beli VGA 5070 sekarang, harganya lumayan tinggi. Tapi enggak bisa dibedakan ya antara GPU yang memang buat PC sama GPU buat laptop itu pasti beda. TDP-nya aja beda. Tapi untuk AI akseleratornya masih sama dan arsitekturnya juga sama-sama pakai blackwar. Dan biar kalian gak bosan, langsung ajaalah kita bahas gimana performanya si Pongo 775 yang juga selalu muncul ketika saya review laptop. Apapun requestnya itu pasti, "Bang, AC 775 kapan?" Nah, ini langsung aja kita bahas performa. Kita tes untuk GPU sintetis 3D Max-nya dulu. Kita coba lihat coolingnya Axio Pungu 775 ini bisa enggak nanganin si RTX 5070 dan hasilnya gila bisa loh ya. dengan skornya itu lulus 99,4% yang berarti sistem coolingnya itu bagus karena dia enggak throttle ketika distress tes. Stress tes tuh loop 20 kali loh. Tapi emang pas stress tes gini kipasnya ya agak berisik ya. Karena logikanya ketika fullot ya kipasnya mencoba untuk mendinginkan GPU-nya. Tapi tenang aja walaupun agak berisik tapi enggak seberisik sound hor yang udah katanya udah keluar fatwa MUI haram ya. Iya enggak sih? Time spy kita dapat di 14.000-an poin. Firestrike di 28.000. ribuan poin dan solar B untuk uji retracing-nya di 57.000 poin. Kalau bingung dengan angka-angka ini, kita bandingin aja ya dengan RTX 4070 Mobile. Di versi sebelumnya 40 mobile itu dapatnya di kisaran 12.500, Firestrike-nya di 29.900, solar B di R4.000-an. Yang berarti upgrade-nya dari 4070 ke 5070 sekitar 5 sampai 14%. Tapi perbedaan signifikannya jelas di fitur kayak DLSS generasi keempat yang support sama multiframe generation. Gimana gaming-nya? Langsung kita bahas aja deh. Kita mulai yang ringan-ringan dulu aja. Dan semua game ini kita mainkan di full HD plus ya. Dota 2 di setting best looking. Ingat best looking ya. Jadi rata kanan. Rata-rata dia bisa dapat 103 FPS. Valoran di setting high tembus 388 FPS untuk average-nya dan nyaris 500 fps untuk picknya. Red Dead Redemption 2 dengan setting grafik ultra DLSS-nya ada di performance average dia bisa dapat 81 FPS stabil dan drop-nya paling di 61 fps paling tingginya bisa dapat 99 fps. Wooding wave game yang cukup kalian request ya entah kenapa di laptop juga banyak request ternyata ya dengan setting ultra quality kita dapat maksimal di 121 fps dan rata-rata ada di 92 fps. Dan karena dia udah pakai RTX 50 series jadi ada fitur yang namanya smooth motion di game-game yang udah support. Contohnya kayak game Gensin Impact kalau kita aktifin fitur smooth motion ini kalau di HP contohnya kayak di IQ itu ada frame interpolation. Kalau di Xiaomi Redmi kemarin namanya smart frame rate. Nah, ini smart motion. Intinya dia kayak memaksa FPS-nya naik jadi 120 fps. Dan memang kalau kita aktifin fitur ini dia naik jadi 120 fps. Dan kalau kita matiin ya jadi stabilnya Gensin di 60-an FPS. Dan untuk grafik Gensin ini kita pakai settingan highest juga ya alias rata kanan. Masuk ke game yang secara visual nguras GPU banget. Game triple A game-game yang juga udah support sama DLSS generasi keempat dengan multiframe generation-nya. Cyberpunk kalau frame gen-nya off average FPS dia di 53 tapi kalau frame gen-nya kita naikkan dua kali naik jadi 88 FPS. Tiga kali naik average FPS jadi 131 FPS. Kalau empat kali bisa tembus 148 FPS. Black Meet Wukong kalau frame gen-nya off average FPS dapatnya di 33. Tapi kalau frame gen dua kali naik ke 62 fps, tiga kali naik ke 85 fps, dan 4 kali naiknya 102 fps. Jadi naiknya bisa kisaran sampai 200% ya kalau misal dibandingkan off sama kali 4. Untuk suhu saat main game bisa dibilang aman. Rata-rata semua game tetap di bawah 90 derajat celcius. Dota 2 jalan santai di suhu 60-an derajat, Valora di kisaran 75 sampai 80 derajat. Dan dua game ini game yang CPU bonet ya. Jadi Intel Core S7 generasi ke-13-nya untuk main game Dota 2 kayak Veloran enteng aja. Bahkan untuk game seberat Black Meid Wukong suhunya bisa stabil di 85 derajat celcius. Jadi terbukti untuk sistem pendingunginnya bukan hanya di sintetiknya aja. Untuk main game pun dia juga lumayan efektif mendinginkan dan karena adem jadi enggak ada yang namanya drop FPS atau throttle performance. Dan kalau untuk game-game yang triple A tadi jago, kalau kalian tanya bisa buat editing enggak? Ad ya jelas bisa L ya. Di Adobe Premiere Pro dengan template yang memang biasanya kita pakai export 4K loh ya. Dia selesai dalam waktu 57 detik aja enggak sampai 1 menit. Dan kalau kalian cuman mainan full HD aja selesainya cuma 31 detik. Gila ini render bentar tinggal angop udah kelar nih. Blender dengan template BMW. CPU rendernya yang Core S7 generasi ke-13 ini selesai dalam waktu 2 menit 27 detik. Kalau untuk GPU 5070-nya kencang sih ya. Selesainya cuman waktu berapa? 17 detik aja. Kalau untuk kegiatan Office ya malah overkill lah ya. Contohnya kalau misalkan 150 set PowerPoint export ke PDF dia selesai cuman waktu 8 detik aja. Excel randomis data yang large. Gede banget selesai cuma dalam waktu 39 detik aja. Dan karena kita lagi bahas Nvidia GeForce RTX 50, kayaknya gak afdol ya kalau misal kita gak bahas AI-nya juga karena dia punya 798 tops trillion operation per second. Jadi sebenarnya kalau kita ngomongin laptop yang berbasis AI ya sebenarnya gampang kok. Cari aja laptop yang ada Nvidia-nya karena top-nya pasti lebih gede. Sebenarnya kalau laptop-laptop yang 40 TPS, 45 tps menurut saya sih ya kayak gimik aja sih. Ini contohnya ya. Kita tes di stable diffusion selesai di 23 detik aja. Dan jagger Note dia selesai di 2 menit 39 detik. Suhu bagian dalamnya adem, tapi gimana suhu permukaannya, Bang? Suhu permukaannya juga masih tergolong aman ya. Suhu tertinggi itu seperti biasa ada di atas keyboard di bagian exhaust ada di 45,8 derajat Celcius. Tapi area keyboard contohnya WASD setelah kita stress tes main game estafet loh ya nonstop dengan suhu ruangan sekitar 28 derajat celcius. Sunya itu cuma 31,6 derajat celcius. Jadi main game hanget aja enggak. Tapi tapi performa kencangnya tadi memang harus dibayar agak mahal dengan baterainya yang jadi lebih boros. Di PCM modern Office tanpa koneksi internet ya dengan brak 50% volume 20% dia cuma dapat sekitar 4 jam aja. Dan di real pengetesan kita YouTube ya dengan Wii Microsoft Edge 10 menit dia berkurang 12% dan untuk kegiatan tipis-tipis ngetik-ngetik aja itu berkurang 5%. Kalau untuk main game di mode performance 10 menit berkurang 20%. Jadi saran saya karena ini memang laptop gaming ya dia enggak bakal bisa jauh-jauh dari adapter ya. Untuk layar juga enggak ada yang dikompromi. Ukurannya ini 16 inch. Resolusinya ada di QXD Plus atau gampangnya 2,5K lah. Refresh rate-nya ada di 180 Hz. Jadi buat pengalaman gaming lebih imersif. Apalagi kalau misalkan kalian pakai multifame generation-nya tadi ya tumpah-tumpah hertz yang ada di monitornya ini. Terus untuk color akurasinya juga cakep. Pas kita tes pakai Kalman. sRGB-nya hampir 100% dengan 99,3%. Adob RGB di 88,5%, P3 82%, NTS juga 82%, dan brightness-nya brightness-nya ini tumpah-tumpah sih menurut saya. Tipikalnya di 418 Nit. Biasanya 300 Nit udah okelah, tapi ini 418 nit yang artinya kalau kalian pakai indoor di ruangan yang terang banget atau kalian pakai outdoor, kalian masih bisa lihat dengan nyaman. Oh ya, untuk aspek rasionya ini di 16 bing 10 yang artinya dia lebih memanjang. Jadi kalau misalkan kita gunain untuk browsing scrolling itu scrolling-nya enggak capek gitu dibandingkan dengan 16 b 9 ya karena dia lebih memanjang jadi lebih gitu kalau buat baca coding itu lebih nyaman. Untuk bobot laptop ini lumayan berat karena ya sistem cooling di bagian dalamnya airfow-nya juga harus cukup ya. Bobotnya ada di 2,27 kg tanpa charger. Dan ada satu lagi yang dikompromi menurut saya biar harganya lebih terjangkau lagi untuk bagian punggungnya ini adem. Dia pakai metal, tapi untuk bagian amres dan juga bagian belakang itu masih pakai plastik polikarbonat. Walaupun memang plastik polikarbonatnya ini udah yang solid ya, enggak kerasa yang kopong murahan gitu enggak. Dimensinya ada di 356,9 * 259 dan ketebalannya di 2,7 cent ya. Cukup lumayan tebal sih ya standar lah ya untuk laptop gaming zaman sekarang. Kalau secara desain, kalau kalian cari laptop gaming yang desainnya enggak neko-neko ya dengan logo pungu aja di tengah yang enggak terlalu kental banget gitu unsur gamingnya sih ya kalian pasti suka. Cuman saran saya buat Au mungkin ke depan bisa lebih dikentelin lagilah gamingnya tapi yang enggak norak gitu. Jadi gaming tapi enggak norak. Nah, gimana caranya? Yait biar timnya aksu ya. Kalau yang saya bilang nanti saya yang digajian dong. Kalau sekarang kesan gamingnya itu cuma ada di logo Poo dan keyboard yang RGB aja. Keyboard-nya masih mirip-mirip sama punggu 760 kemarin. Full size keyboard terus empuk dengan RGB single soon. Tapi emang karena full size keyboard, size perynya jadi agak kecil. Walaupun untuk ukuran jari saya masih cukup nyaman sih. Touchpad-nya gede banget. Touchpad-nya presisi, cukup solid juga. Walau secara bahan yang dipakai basic ya. Karena untuk permukaannya enggak ada glas-gelas gimana gitu. Cuman ya cukup licin dan responsif lah. Enggak ada komplain [Musik] buat kamera. Nah, ini langsung aja kita cobain kameranya ya. Sebenarnya kalau secara resolusi sih udah oke ya 1080p 30 fps. Cuman masih ada beberapa noise sih di sini. Dan di sini ya. Kalau digunakan untuk sekedar jadi peserta seminar atau meeting online aja sih udah cukup. Tapi kalau misalkan kalian gunain untuk streaming game atau kalian jadi pembicaranya ketika seminar, saran saya sih pakai webcam eksternal ya karena 30 fps juga jadi masih kerasa lumayan delay-nya. Untuk mikrofonnya yang dari tadi kalian dengarkan itu adalah suara mikrofon dari Axio Pongo 775. Kira-kira seperti apa suaranya? Coba kalian tulis di kolom komentar. Portnya cukup lengkap ya, ada tiga buah USB type A 2.0, terus 3.2 Gen One dan Gen 2 masing-masing diberi satu. Terus ada jack audio masih ada. Dan di kanan ada type C 3.2 G2 yang 10 GB/ second dan full function yang artinya dia support sama display port dan juga power delivery. Jadi kalian bisa jadiin laptop ini power bank ke HP kalian juga. Kalau kalian enggak ada HDMI bisa pakai USBC-nya ke monitor juga. Di belakang ada LANP, ada input power, HDMI, dan mini display. Konektivitas lain kayak yang wireless WiFi-nya dia udah pakai WiFi 6e. Terus juga ada Bluetooth-nya versi 5.2. Okelah, software pendukungnya ada kok buat ganti RGB, buat monitoring, sama kayak Axi PU 760 kemarin. Jadi ada control center dan fiturnya ini lumayan komplit. Ada performance setting, hardware monitor, pengaturan RGB keyboard sampai baterai setting ada di sini. Kalian juga bisa manfaatin Nvidia broadcast untuk membuat kualitas kameranya jadi lebih baik karena punya fitur background removal, background blur, dan auto frame juga. Ada juga fitur noise removal di Nvidia broadcast. Cuman kalau standarnya udah standar-standar studio, saran saya sih tetap pakai mikrofon ya. Karena suaranya itu ya kelihatan kok kalau pakai NVIDIA Broadcast itu kayak agak mendem gitu ya. Walaupun memang suara sekitar jadi lebih enggak ada. Kesimpulannya di harga R1 jutaan ini pungu menurut saya beneran ngasih performa yang brand lain itu sulit untuk nyamain ya. Terutama buat kalian yang fokus nyarinya itu di GPU-nya RTX 5070. Buat kalian yang memang kerjaannya itu GPU bonet. Kayak contohnya ya rendering 3D itu butuh VRAM, AI itu butuh VRAM, butuh VGA. Tapi kalau kerjaan kalian kayak Valoran Dota yang butuh CPU banget ya sebenarnya ini juga udah lebih dari cukup. CPU-nya memang bukan seri terbaru tapi tuning-nya saya suka sih. Sadis dia enggak ada throttle sama sekali. Ditambah lagi RTX 5070-nya bahwa performa kencang plus fitur baru kayak di LSS generasi keempat dan frame generation-nya yang bikin game berat jadi kerasa lebih ringan. Satu-satunya yang dikompromi itu prosesornya sih. Prosesornya jadi dimundurin satu generasi biar harganya terjangkau. Jadi kalian bisa beli 5070 dengan harga cuma R jutaan aja ketika brand lain itu R25 juta sampai R5 juta ke atas. Untuk suhu adem. Semua game rata-rata di bawah 90 derajat. Enggak pernah throttle juga. Layar juga cakep. Pakai QXD Plus 180 Hz dengan sRGB 99% hampir 100% bahkan. Workpace-nya luas karena rasionya 16 bing 10 dan brightness-nya terang di 418 nit. Oh ya, selain prosesor mungkin ya material di sini ya materialnya ini polikarbonat dan baterainya karena memang dia laptop gaming yang TDP plus TGP GPU-nya itu gede. Jadi ya dia bakalan selalu minta dibawa adapternya ya karena baterainya lumayan boros. Kalau kalian bisa kompromi di baterai terus di prosesor yang mundur cuman satu generasi, menurut saya sih ini laptop benar-benar RTX 5070 yang paling serius di harga R1 jutanya. Karena walaupun prosesornya mundur, tapi sistem coolingnya dan semuanya itu benar-benar enggak asal-asalan gitu tuningannya. Walaupun kalau secara casing ya mirip-mirip aja lah ya. Garansi yang dikasih juga enggak bisa dibilang pendek ya untuk brand lokal. 3 tahun dan 1 tahun pertama itu dicover sama ADP atau accidental damage protection. Jadi kalau suatu saat dia jatuh, kongslet kebakar, human error tetap dicover sama Axiu. Dan Axio ini semenjak dia menggebung-gebu di laptop, dia termasuk brand lokal yang paling banyak service centernya sih. Ada sekitar 184 titik service center loh sekarang di seluruh Indonesia. Gimana, kalian tertarik enggak sama laptop yang satu ini? Kalau enggak tertarik juga enggak masalah sih sebenarnya ya. Link pilihannya di deskripsi. Kalau kalian enggak tertarik, coba tulis alasan di kolom komentar kenapa. Nanti saya jawabin dan siapa tahu orang Asio juga baca. Jadi mereka pun bisa berbenah buat ke depannya.

Lihat di YouTube