Jungkat

Ga Sampe Sejuta, Suaranya Asik Juga! - Review EGGEL Home 2 (YouTube Video)

  • 26/10/2024

Beberapa waktu yang lalu, kita udah ngebahas sebuah speaker portable untuk rumah yang harganya nggak murah ya. Nyaris 10 juta. Tapi di video kali ini, saya akan ngebahas sebuah home speaker yang harganya mungkin hanya seper-sepuluhnya aja. Kenalin sob, ini dia, Eagle Home 2. Ada sebuah kesamaan dari 2 speaker yang harganya beda jauh ini, yaitu boxnya sama-sama nggak punya pegangan. Untungnya speaker dari Eagle ini nggak terlalu besar, jadi gampang buat diangkat dan dibawa kemana-mana. Masalahnya, speaker ini memang tidak didesain untuk bisa dibawa kemana-mana. Karena memang speaker ini nggak punya baterai, alias dia harus dicolok ke listrik untuk bisa hidup. Karena konsepnya memang home speaker, jadi speaker yang memang ditaruh di sebuah ruangan di dalam rumah. Secara desain, speaker ini sebenarnya lucu ya. Dimensinya nggak terlalu besar dengan bagian bodi dibalut dengan material kulit sintetis. Yang paling unik adalah bagian depannya, dimana kalau kita lihat, grill speaker ini nggak rata, alias bergelombang. 10 gelombang kiri, 10 gelombang kanan kalau kata kak Jill. Yang mana ini bikin dia keliatan unik. Tapi saya agak sedikit terganggu dengan penampatan logo di bagian depannya. Seandainya logonya ditaruh di tempat lain dan bagian depannya dibiarkan polos aja gitu, saya yakin desainnya akan keliatan jauh lebih ganteng. Ya 11-13 sama saya lah gitu. Dan sayangnya grill bagian depannya juga nggak bisa dilepas. Jadi nggak bisa dibersihin misalnya suatu hari nanti udah mulai kotor gitu. Di bagian atasnya ada banyak sekali tombol. Mulai dari tombol power, tombol bass exciter, tombol mode, tombol bass control, tombol treble control, tombol music, dan back control. Sementara di bagian tengahnya ada sebuah knop yang bisa diputar. Dia akan berfungsi sebagai volume control, dan saat kita tekan, dia akan berfungsi sebagai play dan pause control. Di bagian belakangnya cukup sederhana. Hanya terdapat sebuah port AUX, terus ada port USB yang bisa kita pakai untuk nge-play musik dari flash disk, terus ada power cord AC. Paket penjualan speaker ini cukup sederhana, karena dalam box ini hanya terdapat sebuah speakernya yang tertutup dengan poch kain, terus ada sebuah kartu garansi, sebuah kertas berisi manual penggunaan, dan kabel AC-nya. Saya nggak nemu ada kabel AUX di dalam box ini ya, jadi kalau mau pake AUX ya kalian harus beli lagi, atau kalau punya ya pake yang udah ada gitu. Kita juga bisa pairing speaker ini ke smartphone, dan ada sebuah aplikasi yang bisa mengontrol si speaker. Aplikasi ini bernama Eggel ya, aplikasi ini bisa kalian download di App Store atau Play Store. Tapi saya menemukan kesulitan saat ingin menghubungkan speaker ini dengan aplikasi. Saat saya coba menghubungkan speaker ini dengan aplikasi di iOS, aplikasi ini gagal menemukan si speakernya. Bahkan saat saya coba menambahkan secara manual, speaker ini tidak ada dalam katalog. Kayaknya belum diupdate katalog aplikasinya. Tonton ya, biar Eagle diupdate aplikasinya. Ketinggalan anda. Saya pikir ini sebuah bug dari aplikasi Eagle di platform iOS ya, tapi saat saya coba melakukan pairing dari aplikasi di Android, ya ceritanya sama. Si speaker tidak berhasil ditemukan dan dalam katalog tidak ada pilihan speaker ini. Mungkin karena ini speaker baru, jadi belum dimasukin aja sama si Eaglenya. Lagi sibuk dia, kita jadi nggak selupet. Jadi untuk masalah aplikasi ini, saya nggak akan bahas lebih lanjut dan akan saya skip. Selain menggunakan USB dan kabel AUX, speaker ini juga sudah dilengkapi dengan konektivitas Bluetooth menggunakan protokol Bluetooth 5.3. Eagle sendiri memang klaim kalau speaker ini bisa dioperasikan dengan lancar sampai jarak 10 meter. Untuk setup speakernya sendiri, total ada 3 buah speaker di bagian depan yang masing-masing 2 buah speaker yang memproduksi suara mid to high, sebuah speaker woofer, dan sebuah pasif radiator yang terletak di bagian bawah speaker. Sekarang saya coba langsung bahas bagaimana impresi suara dari Bluetooth speaker buatan Eagle ini, yang dijual dengan harga 1 juta kurang sedikit. Untuk sekelas Eagle, harga segini tergolong tinggi ya, karena biasanya mereka bikin produk harganya murah-murah gitu. Impresi pertama saya waktu dengerin suara yang keluar dari speaker ini adalah... nggak tau kenapa ya, saya ngerasa suara midnya itu kayak tebel banget gitu lho, dan dominan banget gitu. Frekuensi low sama highnya kayak kalah dominan gitu lho. Dan salahnya, saya langsung dengerin lagu dengan frekuensi bass yang dominan. Alhasil lagu kerasa kayak ngambang gitu lho, kayak yang kuning-kuning di sungai gitu lho. Kering kayak yang di rumput, dan kurang enak lah didengernya gitu. Ada sebuah tombol bernama Bass Exciter, yang gunanya untuk naikin atau nge-boost frekuensi low atau bassnya. Dan seperti mengaktifkan si pasif radiator yang ada di bawah speaker ini. Dan pas saya aktifin, bassnya jadi terdengar lebih baik, walaupun saya tetap merasa kurang. Karena di otak saya berpikir kalau speaker ini akan sangat jedak-jeduk. Dan ternyata saya salah. Dan untuk dapetin settingan yang saya mau, saya harus mengaktifkan Bass Exciter dan mentokin pengaturan bass dan treble di speaker ini. Mentok rata kanan lah. Dengan settingan kayak gini, lagu dari Fierce Aversary berjudul Peluku Untuk Pelikmu ini, kedengeran lebih enak dan lebih hidup gitu. Lebih tebel, lebih berisi, dan nggak kering. Tapi nggak tau kenapa ya, walau settingan bass dan treblenya udah dimentokin, saya merasa ini frekuensi midnya masih terasa dominan ya. Kayak suara vokalnya itu kayak maju banget gitu lho, dan kayak ngasih space gitu antara vokal sama instrumen. Untuk beberapa musik, saya merasa suara yang keluar dari speaker ini... Nggak optimal aja, nggak maksimal gitu. Tapi untuk beberapa genre, dia kedengeran enak. Contohnya, waktu saya dengerin lagu galaunya Mbak Bernadia berjudul Satu Bulan. Buset... Berasa banget betapa galau dan gundah-gulananya Mbak Bernadia waktu nulis lagu ini. Anjay... Frekuensi high di speaker ini cukup tinggi, walau belum masuk ke level yang ideal di kuping saya. Suaranya cukup ngecring, bisa ngasih mikro detail yang bagus ya. Instrumen-instrumen dengan frekuensi high yang dominan, kedengeran jelas di sini, seperti senar gitar nomor 1 sampe 3, suara hi-hat dan cymbal, sampe kecapan vokalis cewek yang basah. Soundstage speaker ini sifatnya tentatif ya. Luas nggaknya tergantung dari dimana kita meletakkan si speaker. Jenis-jenis speaker kayak gini memang akan maksimal kalau kita taruh dekat dinding atau pojokan ruangan. Karena tembok di sekitarnya akan ngebantu memaksimalkan resonansi suara yang keluar dari speaker ini. Dan saya coba taruh speaker ini di pojokan, suaranya cukup oke dengan soundstage yang lumayan luas menurut saya. Untuk separasinya juga cukup baik. Saya masih bisa dengan mudah memisahkan dan mengidentifikasikan instrumen-instrumen dari setiap lagu. Volume dari speaker ini cukup berisik, tapi saya prefer untuk dengerin musik di volume 40-60% aja. Karena saya ngerasa sedikit capek waktu dengerin lama-lama sih speaker dalam volume di atas 60%. Rasa capek ini di dunia audio sering disebut dengan istilah fatigue. Yang ikut x-factor itu lho bang? Oh fatigue... Kayak ikan lho bang? Maksudnya capek dengerin suaranya ya? Bukan capek sama hubungan percintaan ya? Kalau capek dalam hubungan percintaan itu disebut dengan... go***** Udah tau capek, kenapa nggak pisah? Kan go***** Jadi curhat... Kesimpulannya speaker ini cantik. Cukup estetik untuk menghiasi ruang tamu, atau ruang keluarga, dan mengidentifikasikan instrumen tidur. Tapi nggak begitu cocok buat ruang sidang paripurna ya. Karena ruangan itu cocoknya buat speaker yang harganya selalu di markup lebih tinggi daripada harga di katalog tender. Nggak ada yang lewat tuh, nggak masalah. Oke, saya merasa harga yang dibanderol juga udah lumayan oke. Walau belum masuk kategori murah ya. Tapi murah itu karena subjektif ya. Tergantung siapa yang menilai. Gimana menurut kalian?

Lihat di YouTube