Jungkat

Gak di HP gak di TV, Harganya dirusak sama Xiaomi !! TV A Pro 2026 Review (YouTube Video)

  • 04/07/2025

Pelnya khilet, refresh r-nya 120 Hz. Si Xiaomi seri A Pro sekarang semakin menggoda dengan harga start from Rp3 juta buat yang dimensi 43. Desainnya bikin bangga. Nonton di sini mata bisa tetap terjaga. Basilnya tipis kayak kesabaran orang yang lagi rumah tangga malah curhat. Dari sisi harga kayak to good to be true gitu. 120-nya ini cuma gimik atau emang beneran enak buat gaming dan layar keyet-nya ini beneran bagus enggak? Kita bahas dulu dari sisi desain. Sekarang CTV Pro series Xiaomi makin lengkap ya, ada ukuran 43 sampai 75. Kalau di seri 2025 dulu cuma mentok di 65 inch. Jadi pasarnya melebar sekarang mulai dari anak kos, terus sultan dan juga bapak-bapak yang nyari alasan. ketika diajak istrinya untuk ngantar ke klinik kecantikan. Bentar, Ma, ya. Nonton bola dulu. Ini lagi final Indonesia lawan Brazil. yang kita bahas ini yang ukuran 65 inch cukuplah untuk studio saya yang 6 * 4. Cocok juga buat di ruang tamu dan juga di villa. Dan kebetulan saya juga punya villa manajemen dan kebanyakan villa saya di sana itu pakai si Xiaomi TV karena harganya terjangkau dengan fitur yang memukau. Karena di Airbnb itu kalau kalian cari kalau misalkan villa kalian ada yang dimensi 65 inch itu bisa jadi selling point loh. Jadi kayak muncul villa with 65 inch gitu. Jadi orang yang mau stayion, Netflix chill di villa itu bakal pilih villa kita. Desainnya sekarang balik kayak yang dulu. Jadi pakai kaki kiri dan kanan bukan di tengah kayak tahun 2025. Ada plus dan minusnya sih karena dia bisa dipasang soundbar di bagian tengahnya jadi suaranya lebih mengglegar. Tapi ini perlu kalian catat ya, jangan sampai kayak saya. Karena kalau kalian lihat kaki mejanya ini keluar. Karena ini saya beli meja di Shopee harga Rp300.000 R kalau enggak salah dan akhirnya kakinya itu enggak cukup. Jadi kalau kalian beli TV ini, pastikan meja TV-nya itu yang lebarnya 405 mm lebih lah biar enggak jadi aneh kayak gini. Karena ya bayangin aja TV-nya udah premium tapi mejanya kayak meja ujian anak SD. Kalau pengen lebih clean bisa pakai Vesa Monracketnya yang punya ukuran standar di 400 * 300 mili buat yang 65 inch. Kalau dimensi lain, kalian bisa cek aja spesifikasinya di website Xiaomi. Port-nya juga standar TV lengkap. Listnya kalian bisa baca di sini aja ya karena saya malas bacain satu-satu panjang soalnya kayak caption teman yang curhat gara-gara ditagih utang. Paling yang bisa kita highlight HDMI-nya ya. HDMI-nya ini udah support sama EARC. Terus ada ALM sama auto latency mode juga yang bakal kepakai buat gaming atau buat yang suka nonton film sampai nangis diam-diam di kamar. Cocok. Oh ya, untuk kakinya ini dia masih pakai plastik ya dan dia agak wobel-wobel gimana gitu sih. Ngeri karena anak saya kan masih kecil dan anak kalau kecil itu kalau nonton TV enggak bisa yang biasa gitu. Pasti nontonnya di sini terus sama di toyor-toyor gitu sama dia. Jadi pastiin aja mejanya harus sepanjang itu tadi. Jadi biar enggak jatuh kalau misalkan di toyor-Toyor. Karena TV-nya ini udah support sama XDR 10 Plus. Tapi kalau misalkan di toyor terus dia jatuh jadinya enggak FDR 10 Plus tapi HDR 404 Not phone. Bukan SDR itu error 40. Basel bawahnya dikasih list metal dengan logo Xiaomi yang cakep brush finish. Jadi kesannya premium, baselnya juga super tipis. Udah kayak TV yang harga R10 jutaan ke atas lah. Jadi kalau teman kalian tanya ini harganya berapa, Bang? Ya bilang aja R juta mereka pasti percaya asalkan logo Xiaomi-nya ditutup. Ya, sebenarnya kalau dibilang ini adalah smart TV 65 inch paling terjangkau, jujur enggak sih ya. Karena di brand lain kayak SPC, Samsung yang kelas entry level, kalau cuma smart TV 65 inch banyak yang lebih murah. Tapi kalau kata kuncinya ditambah, Smart TV Qlet paling murah yang megang sejauh ini masih Xiaomi A Pro Series. Kompetitornya masih di atas 7,5 bahkan sampai R juta ke atas. Sementara Xiaomi datang bawa QLED dengan harga harganya itu masih kayak ibaratnya anak magang yang baru gajian gitu. Murah. Emang bedanya QLED sama panel biasa sama OLED apa, Bang? Wah, ini harus paham juga ya karena ya cuman mirip-mirip pengucapan QLED sama OLED dah. Kalau misalkan kalian ke tempat elektronik terus dibilang ini Qulet standarnya udah kayak olet, wah itu suruh belajar lagiah antara dia mau nipu atau memang literasinya kurang. Qlet itu jadi kayak backlit LED biasanya, tapi dikasih layer lagi, dikasih lapisan lagi yang namanya quantum dot buat ningkatin kualitas warna dan cahaya. Cara kerjanya backlit LED yang putih itu tadi dilewatkan ke lapisan quantum dot yang bisa berpendar dengan warna tertentu. Panel ini tugasnya melukis gambar berdasarkan sinyal dari TV. Kalau analogi gampangnya mirip sama kayak kamera lah ya. Kamera itu kan ada lensa. Nah, kadang kalau misalkan lensa biasa itu kalau kita lagi shoot yang backl bisa over bisa over expose banget. Nah, caranya tinggal kasih filter. Jadi bayangin ND filter itu tadi adalah quantum dotnya yang gambarnya jadi enggak over expose lebih bagus, warnanya juga bisa lebih keluar. Dan dengan quantum dot silver-nya ini diklaim P3-nya bisa sampai 100%. Tapi pas kita tes enggak sampai 100 sih. Ya mendekatilah ya. Kita lihat. Kalian lihat aja lah. Ini adalah hasil tes kita ketika kita menggunakan Kalman. Hampir 100% sih ada. Dan yang saya suka lagi selain punya XDR1 Plus, dia punya fitur yang namanya film maker mood. Apa itu gampangnya? Kayak ada sutradara yang duduk di samping kita. Nah, itu tun warna yang saya pilih. Sopradara. Jadi, warnanya itu natural dan akurat. Emang dia belum OLED ataupun mini LED, tapi di harga segini untuk ya sebenarnya backl itu bakalan ditinggalin sih, bakalan pakai Qlet semua karena lebih murah dibanding OLED tapi lebih bagus. Dan untuk kelas QLED ya, Xiaomi masih jagoannya. Tapi ada satu catatan ya, ini mungkin untuk nekan cost harga dia. Jadi dia belum support sama Dolby Vision. Jadi kalau kalian nonton konten di Netflix yang support dou ya enggak bisa. Tapi kalau misalkan kalian nonton di YouTube ataupun di Prime Video yang bisa nyalain atau support sama XDR 10 Plus ya bakalan sama aja sama Dolby Vision mirip-mirip. Fitur yang paling menggoda ini nih, terutama buat gamers. Dia punya refresh rate gaming boost sampai 120 Hz dan bisa dibilang ini TV dengan 120 Hz gaming boost termurah yang ada di pasaran. Terutama buat yang dimensi 55 inch. Tapi yang perlu dicatat lagi untuk refresh ris-nya 120 ini cuma bisa di resolusi full HD, belum bisa di native 4K-nya. Tapi enggak apa-apa sih, karena biasanya di konsole PS5 yang biasanya sering diroosting sama mangkutang ya, untuk PS5 itu memang di game-game tertentu kadang resolusinya bakalan diturunin ke full HD untuk bisa menyentuh 120 Hz. Dan udah kita coba main PES terus beberapa game di PS5. Overall pengalamannya smooth, input latency-nya juga lebih rendah dan itu bakalan otomatis ya, bakalan auto aktif ketika kita sambungin dia sama konsol. Jadi enggak perlu setting ini itu enggak perlu kursus IT juga. Fitur itu tadi dikumbuh sama Xiaomi dengan fitur yang namanya MEMC, Myical Romance. MEMC itu motion estimation, motion compensation yang bikin pergerakan di layar jadi lebih smooth buat main game action, buat nonton sport juga enak. Contohnya kemarin kita juga nonton timnas sama Cina main di sini dan ekspresi kekecewaan Cina itu lebih kerasa real gitu kalau 120 Hz. Duh muncrat. OS dia udah pakai Google TV dengan Android 14 buat tampilan UI dan apps dibanding OS lainnya kayak Vida atau ya OS-OS random lain lah. Jelas secara UI Google DV itu lebih nyaman dan apps pilihannya pun juga lebih banyak dibanding OS-os TV yang lainnya. Ada Chromecast juga plus support Apple AirPlay 2. Jadi kalian bisa langsung mirroring dari iPad, Mac atau iPhone dengan mudah. Terus ada satu lagi sekarang yang namanya itu Xiaomi TV Plus. Cuman karena ini bawaan dari Xiaomi ya, ya akhirnya udah masuk Indonesia sebenarnya udah lumayan lama Xiaomi TV Plus ini. Cuman karena ini adalah ini anaknya nih Xiaomi TV Plus karena ini signature-nya Xiaomi banget jadi dia itu kalau kata Mas Dedi ada iklannya, ada iklannya, ada iklannya. Tapi ini waktu pindah ke channel-channel lain aja sih. Selain itu enggak ada iklannya ya. Mirip-mirip sama kayak YouTube tapi belum dipasang Adblog. gitu aja lah. Nah, sekarang untuk spesifikasinya di kelas entry sebenarnya spesifikasinya udah cukup oke kok. Dia pakai quad core Cortex A55 terus RAM-nya 2 gig yang kalau misalkan kita operasiin lumayan kencang sih. Cuman yang bikin pegal itu kalau TV biasanya set up awal karena kan masukin WiFi, masukin email terus juga remote-nya enggak ada tombol hurufnya jadi ribet kayak main catur gitu harus pencet satu-satu. Tapi dia enggak lagi kok aman. Cuman kalau misalkan kita terlalu banyak buka apps terus juga terlalu cepat kayak gini ya kadang jeda dikit yang kayaknya dia itu nyuruh kita pelan-pelan pasopir karena kita disuruh nunggu sama dia. Konsumsi dayanya juga lebih efisien karena saya pernah nge-review yang TVA series yang sebelumnya 2025 itu di 220 watt. Tapi kalau ini cuma di 210 watt ketika dia full load atau lagi memproses konten yang 4K. Tapi kalau idle kayak gini sih enggak segede itu. Kesimpulannya si Xiaomi A Pro 2026 padahal sekarang masih 2025. Entah kenapa pakai nama 2026. Sekarang semakin dewasa ya makin ngerti kebutuhan. Upgrade panel ke QLED terus lebih bagus gambarnya lebih efisien juga. Support fitur cinematic kayak filmmaker dan gaming boost di 120 Hz. Ukuran layarnya lebih variatif sampai ke 75 inch dan sekarang udah makin terbuka buat pengguna Apple juga. Apple aja sama pengguna Android aja masih sombong loh. Tapi ini udah dibuka sama dia. Buat harga mulai dari Rp3 jutaan untuk yang 43 inch sampai R jutaan buat yang 75 inch. Dan kalau pas promo harganya bisa turun sejuta lagi. Cuman promo itu kan kadang ada, kadang enggak. Ya kalian cek ajaalah di link pembilian di deskripsi. Nanti bakalan tim kita suruh cari yang beneran promo lah. Kalau kekurangannya ya 120 Hz-nya itu cuma bisa di full HD, enggak bisa di 4K ya. Buat harganya sebenarnya wajar sih ya. Dan 4K 120 Hz pun juga bakalan butuh GPU yang powerful. Si konsul aja kalau kata mangkutang cuman di boxnya aja. 4K 120 Hz. Sebenarnya kan dia enggak natif ya. Dolby Vision juga belum ada. Speaker juga butuh soundbar. Kalau mau lebih suaranya itu menggelegar. Overall si Xiaomi TV E Pro 2026 walaupun sekarang masih 2025, cocoklah buat rumah di living room, terus buat usaha villa karena harganya terjangkau juga. Atau kalau buat usaha rental PS kayak Mas Feri Pratondo 65 inch tapi dapat QLED dengan fitur 120 Hz itu juga bakalan cakep sih. Nah, Mas Feri bisalah kalau misalkan nonton video ini bisa klik link pembelian di bawah juga. Jadi tinggal dinaikin aja tuh. Kalau enggak salah Mas Feri itu 1 jamnya Rp10.000. Nah, kalau pakai TV ini naikin jadi R10.200 lah. Jangan mahal-maaf.

Lihat di YouTube

Video Lainnya

Brand Terkait

Xiaomi

Xiaomi adalah brand elektronik inovatif dengan produk smartphone, AIoT, dan smart home berteknologi canggih. Xiaomi menghadirkan perangkat berkualitas dengan harga kompetitif, mulai dari HP, tablet, wearable, hingga perangkat rumah pintar.