Gak Perlu Rakit PC !! ini All in One PC Lengkap di 5 Jutaan !! (YouTube Video)
Saya kira Zek berlari, ternyata dia masih berinovasi dengan ngeluarin AIO 5 jutaan yang hampir 100% sg. Prosesornya udah pakai Core i3. Dari sisi upgrade ability juga masih yoi. Storage-nya pakai NVMe. Tapi apakah dia masih layak untuk dibeli? Ya udah enggak usah basa-basi. Selamat menonton penikmat LC. LC itu maksudnya Land Cruiser, ya. Kan banyak tuh cowok-cowok yang suka LC. Land Cruiser. Ah. [Musik] Hai adik guys di sini kenalin di samping saya ini adalah all in one dari Z yang namanya itu adalah Z Orient. Wuh namanya keren banget ya. Ibarat hero Mobile Legends Orion saya udah membayangin heronya itu fighter yang meta banget. Dan setahu saya, Orion itu berasal dari mitologi Yunani yang artinya itu kuat dan berani. Sama kayak all inone-nya ini berani ngasih lebih di harga entry. Harganya R5 jutaan dan untuk panelnya udah pakai IPS bukan IPS level bukan TN yang hampir 100% sRGB. Kalau TN kan kalau misalkan kita lihat dari arah yang berbeda, dia kayak bunglon ya, berubah-ubah warnanya. Kalau ini enggak. Adem di mata. Udah gitu prosesornya udah Core i3 Gen 12 lagi ya, bukan generasi yang lama. Jarang loh brand di harga R jutaan ngasih prosesor Core IT. Biasanya itu Intel N100 Pentium yang kalau misalkan kita buka 5 tab dia langsung ngambek tuh not responding. ZX ini ngegas terus ya kemarin udah ngeluarin ZX DCH. Zarx Pro yang harganya juga super kompetitif. Ibaratnya ZX ini kayak teman yang misalkan makan bayarin dulu deh nanti gua ganti gitu. Nah itu kan tapi dia ganti beneran. Itu kan langka ya. Jarang ada teman yang beneran kayak gitu. Langka. Secara spesifikasi si ZX Orang ini udah lebih dari cukuplah di kelas harga R jutaan. Prosesornya Core i3en 12150U dengan 6 core 8 trad. RAM-nya 8 GB DDR4 yang sayangnya memang masih single channel. Jadi saran saya sih kalau ada budget lebih langsung sisain aja untuk upgrade dual channel langsung. Karena ibaratnya single channel, dual channel itu sama kayak tol ketika mudik lah. Jadi bayangin aja kalau misalkan tolnya satu jalur aja ya datanya itu antry. Tapi kalau dua jalur data yang diterima itu lebih kencang. SSD-nya 256 GB yang seharusnya cukup ya kalau digunain untuk kerja. Contohnya kayak buka Canva Zoom, terus Office 365 harusnya masih cukup. Tapi kalau misalkan enggak cukup ya bisa diganti dengan kapasitas yang lebih gede. Untuk speed NVMe-nya ini lumayan kencang di 3.000-an Mbps. Yang benaran cakep itu ada di layarnya ini yang hampir 24 inch lah. Pas kita tes pakai Kalman kita sampai ngetesnya itu tiga kali. Karena kayak kurang masuk di akal saya gitu kalau misalkan harganya R5 jutaan IPS tapi color akurasinya hampir 100% sRGB. Jadi kita tes ulang tiga kali dan hasilnya juga sama ya dapatnya untuk SRGB-nya itu di 97,2%, P3-nya 84,6%, NTSC-nya di 79,4%. Brightness sih tipikalnya all-inone dengan 271 nit. Tapi it's ok lah karena kan all-inone juga enggak mungkin dipakai di odor ya. Siapa yang mau ke cafe bawa all-inone kan kalau enggak orang iseng. Dari layarnya ini aja di harga R jutaan dia udah ngasih value lebih di kelas harganya. Jadi untuk ngedit-ngedit main di Lightroom yang butuh akurasi warna udah cakep terus di brand lain harga R5 jutaan laptop aja ya biasanya dikasih TN atau IPS level lah. Tapi color akurasinya dikurangi. Biasanya cuma 60% SRGB. Ini di bagian layar enggak ada kompromi sama sekali. Untuk desainnya minimalis udah all inone yang kekinian. modern banget. Cuman mungkin saran saya ke depan buat Sarex untuk logo bottom-nya ini mungkin Z kecil aja ke depan. Jadi untuk dagunya biar frame-nya bisa lebih tipis lagi biar kelihatan lebih clean. Dan untuk standnya dia udah pakai besi loh. Coba dengerin. Besi kan cuman memang sayangnya untuk ergonomisnya ini dia cuman bisa ditting aja. Nah, kalau untuk hay adjustment-nya bisa tapi standnya ikut ngangkat kayak gitu. Enggak bisalah intinya untuk sisi yang tebal ada di tengah punggung. Memang di sana letak keseluruhan hardware-nya ya, kayak MUBU, RAM dan lain-lain. Tapi untuk bagian tepinya mengecil. Jadi kesan slimnya masih dapat. Sisanya sih enggak terlalu banyak branding juga di punggung cuma ada logo Z dan depan bawah ada logo CX aja. Overall desainnya saya suka ya karena enggak neko-neko. Jadi kalau ditaruh di kantor itu enggak malu-maluin gitu. Kalau udah masuk Core i3 gen 12, bootingnya sih lumayan kencang ya, apalagi dia kan juga udah pakai SSD NVME. Terus di pengujian kita, kita juga dapat hasil yang masih sangat nyaman lah kalau digunakan untuk komputasi harian. Di R15 kita dapat skor rata-rata 588 poin dan gak ada penurunan performa yang signifikan dengan single core-nya kita dapat di 173 poin. Simulasi sintetik yang lebih berat di R23 contohnya dia juga enggak ada throtling. Dengan looping 10 kali kita dapat rata-rata di 3.629 poin dengan single core di 11187 poin. Trest tes di Spy pun juga lolos dengan skor 98,2% dengan hasil time spay-nya 900-an poin. Fireestrike di poin. Bukan hasil yang tinggi karena memang untuk EJP-nya itu numpang di prosesor Core i3-nya. Tapi yang jelas untuk suhunya cakep karena dia enggak ada throttle dan lolos test. Kalau digunain untuk kerja beneran gimana? Nah, seperti biasa kita coba untuk export slide PowerPoint sebanyak 150 slide kita export ke BTF. dan hasilnya cuma selesai dalam waktu 10 detik aja cepat. Terus kalau untuk randomiz data Excel yang large, gede banget itu di 57 detik. Jadi kalau untuk kerja harian aja amanlah, enggak ada kendala. Tapi kalau kalian gunain untuk editing, kalau ditanya bisa atau enggak, bisa cuman ya agak butuh kesabaran ekstra ya. Karena kalau kita eksport ke 4K itu selesai di 12 menit 13 detik. Tapi kalau untuk full HD dengan template yang memang biasanya kita pakai itu lebih cepat di 8 menit 45 detik. Tapi kalau ngeditnya pakai CapCard desktop sih selama kita coba aman-aman aja ya. Rendernya lebih kencang lah ketimbang Adobe Premier Pro karena memang caput itu lebih ke webase dan dia lebih ringan aja ketimbang Premiere Pro. Terus pas rendering tadi kita coba juga cek suhunya seberapa dan dia dapat hasil sekitar 84 sampai 90 derajat celcius dengan TDP di GPU dan juga GPU-nya itu mentok ya. Yang berarti artinya untuk harga R5 jutaan dia enggak ada throttle sama sekali. Sebenarnya All one ini bukan untuk gaming segmentasinya, tapi gak afdol ya kalau misalkan di DKID itu karena memang SOP-nya harus ada gaming walaupun gamingnya itu tipis-tipis aja. Contohnya kayak game Dota 2 dengan settingannya mentok kiri tapi resolusi full HD. Average FPS dia dapat di 64, maksimumnya bisa tembus 84. Drop-dropnya di 48 FPS. Jadi masih aman. Valoran pun juga aman. Settingan yang sama mentok kiri full HD. Average FPS dia dapat 81, maksimum bisa 129. drop-dropnya di 54 fps. Cuman kalau kalian udah main yang butuh GPU bond kayak Genin Impact contohnya ya, ya average-nya sih dia masih bisa dapat di 36 maksimumnya bisa tembus 57 FPS tapi kadang bisa drop sampai 17 FPS ya. Intinya kalau kalian nyaman dengan sesekali drop ke 17 FPS ya dia masih bisa dimainkan. Untuk kamera ini kira-kira hasil kameranya maaf kalau studionya berantakan ya karena memang sebenarnya berantakan. Cuman yang kalau kalian juga kan kameranya ini lumayan ya, dia punya resolusi 140 30 fps yang seharusnya itu emang harus cakep. Kenapa harus cakep? Karena kan kalau laptop kita bisa enak diambil dari kameranya untuk ngambil sumber cara tapi kalau all inone kan stay di meja. Jadi kalau mau ngubah-ngubah paling enggak lagunya lah yang kita ubah. Dan untuk hasilnya menurut saya sih lumayan walaupun masih ada rugi tapi kalau kita lihat lagi dengan harganya R jutaan ini masih cukup ya kalau buat cari buka seminar online Zoom masuk ke Kaj. Oh ya untuk tipikal webcam-nya ini tipical yang pop up ya. Kalian ingat enggak sih mainan badut zaman dulu yang kalau misalnya dipencet bikin kaget. Nah kalau ini enggak ya. ini dipencet bikin bikin duit mengalir ya karena buat bisa jualan seminar dan lain-lain. Nah, kayak gini kalau misalkan lagi enggak dipakai tinggal di pencet lagi aja. Dan di setiap paket pembeliannya kalian juga bakalan dapat langsung mouse dan juga keyboard yang ya kalau dibilang mouse-nya ini nothing special ya. Mouse-nya ini bukan mouse wireless, keyboard-nya juga bukan wireless. Ya, kayak keyboard dan juga mouse di kantor atau di warnet lah ya. Standar aja tapi untuk R jutaan dapat paket lengkap. sebenarnya udah lumayan. Terus untuk all-inone-nya sendiri dia juga punya kayak semacam tombol-tombol untuk kita operasikan kayak brightness, volume di sini semuanya ada. Tapi sayangnya bukan yang joystick ya. Enggak enaknya joystick kayak gini. Kalau misalkan suatu saat kita pengen adjust brightness contoh terus kepencet tombol power ya jatuhnya eh langsung s down mati. Ibaratnya kalau kita main game kita mau reload tapi kepencetnya granat ya kan mati. Ini mati juga nih. Jadi bukan yang nge-slip tapi shutting down ya. Walaupun sebenarnya bisa di-etting sih, tapi kan kalau orang yang malas ribet nyetting kan jatuhnya mau adjust brightness eh mati. Port yang dikasih juga lumayan banyak ya. Di belakang ada 4 USB type E 3.2 LAN port dan jack audio juga ada. Di bagian kiri bawah layar juga masih ada type A plus ada USBC 2.0 juga. Dan sekali lagi masukan saya buat ZX mungkin bisa dikasih kayak indikator portnya itu ada di mana gitu ya. Karena kalau orang yang enggak tahu agak bingung sih. Apalagi kalau buat orang kayak saya yang malas banget baca buku panduan. Paling enggak dikasih indikator panah atau apalah biar kita enggak ngeraba-ngeraba portnya ini ada di mana aja. Untuk speaker dia ada buildin speaker tapi ya speakernya monitor all inone ya. Kalian tahu sendirilah speakernya monitor yang paling mahal, oil inone yang paling mahal pun ya suaranya gitu-gitu aja lah. Saran saya kalau misalkan ada speaker eksternal beli aja yang Rp100.000, Rp200.000 itu lebih enaklah kalau misalkan kita gunain untuk multimedia dikombinen sama all in one ini lebih serulah ketimbang pakai speaker build India karena kualitasnya ya standarnya monitor kira-kira seperti ini suaranya kesimpulannya all inone dari Zarex ini kalau saya ibaratin sama kayak anak baru di kelas yang dia tuh enggak banyak omong enggak banyak gaya diam-diam tapi kalau diperhatiin, eh siapa nih? Cakep banget. Karena dengan harga R jutaan bisa tampil beda di tengah gemburan device murah lain yang kadang lebih murah. Tapi maaf murahnya itu emang kayak murahan gitu tapi di CX ini yang dikompromi enggak terlalu banyak. Kelebihannya jelas layarnya ini nyari 100% sRGB. Refresh range-nya uh iya tadi saya juga lupa belum ngomongin refresh range ya. Refresh rate-nya ini enggak standar 60 Hz, dia ada di 100 Hz. Jadi kalau misalkan kita buka Excel rasa scrollingnya itu udah mirip-mirip kayak main game Valoran gitu, lebih smooth. Prosesornya juga udah mumpuni di kelas harganya yang sebenarnya kalau dibilang baru juga enggak baru juga dibilang lama banget juga enggak. Kalau dibuat multitasking lancar, buka office, zoom, Canva, CapCut bisa jalan tanpa drama ngambek, not responding. Cuman menurut saya yang dikompromi ya di paket bundling pembeliannya ya, Mausama keyboard-nya ini kerasa nothing spesial. Ini enteng banget. Jadi kalau kita beli sendiri kemungkinan sih harganya mungkin satu bantling ini Rp50.000 lah. Tapi mengingat harganya yang entry level ya kita enggak bisa komplain banyak juga. Sebagai pengganti laptop atau PC rumahan yang enggak perlu dibawa ke mana-mana, all-inone ini udah cukup mumpun nih. Tinggal tambahin keyboard dan mouse yang lebih proper wireless karo saran saya plus speaker eksternal. Cari aja yang harga terjangkau R 300.000 banyak. Jadi kalau misalkan kita lagi kerja sambil dengerin Spotify rasanya itu bakal kerjanya enggak capek-capek gitu. Dan Zek juga ngasih jaminan garansi itu 2 tahun. Dan kalau kita ngomongin service center Z itu udah banyak tersebar di seluruh Indonesia. Jadi gimana tertarik enggak kalian untuk ngambil si ZX Oron ini? Coba tulis di kolom komentar. Link pembeliannya ada di bawah. Saya and see you on the next video.
