Gampang Banget ! Anak SD juga bisa Nerbangin Drone FPV INI ! (YouTube Video)
yang kalian lihat ini bukan footage dari drone biasa. Orang yang nerbangin drone ini namanya Ari. Dia bukan pilot profesional, bukan videografer bersertifikat. Dia cuma tim saya yang kebetulan bawa drone [musik] ini ke gunung dan juga pantai. Dan hasilnya ya footage yang kalian lihat tadi. Di video kali ini saya akan jelasin kenapa drone ini enak banget buat dipakai. Kalian enggak perlu jadi pilot profesional untuk nerbangin drone ini untuk dapat footage kayak di film-film itu tadi. Dan saya juga bakal kasih satu hal yang enggak disebut sama reviewer Indonesia lain tentang DJI Avata 360 ini. Dan itu bakalan penting banget karena hal itu bisa memutuskan kalian jadinya beli atau enggak. Apa aja itu? Yuk, kita bahas. Sebelum kita bahas, saya mau introduction dulu. Jadi, si DJI Avat 360 ini bukan penerusnya Avata 2 yang kemarin, bukan penerusnya seri Mini atau bahkan Lito yang kemarin baru launching. Dia punya kategori yang berbeda. 360. Dia punya dua lensa yang menghadap ke dua arah berlawanan. Dua lensa itu gunanya buat rekam semuanya. Jadi dari atas, kiri, bawah, depan, belakang, dan sekaligus. Hasilnya kita bisa dapat footage 360 atau 360 derajat yang bisa kita arahkan sesuai dengan keinginan kita. Kita mau potong dan kita apain pun bisa sesuka hati pas editing. Bukan pas terbang ya, tapi pas editing. Jadi konsepnya terbang dulu, framing-nya belakangan. Dan kalau dibilang ini game changer, sebenarnya sesuai kebutuhan sih. Kalau biasanya kita pakai, contohnya deh, saya dulu pakai DJI Mini 3 Pro. Saya harus mikir dulu tuh sebelum terbang angle-nya mau dari mana, kamera pivot ke mana, sunsetnya itu dari kanan atau kiri. Kalau salah ya udah momennya terlewat. Tapi pas editing kalau pakai Mini 3 Pro lebih cepat karena 90% lah file mentahnya itu bisa dibilang udah jadi tinggal nambahin efek dan framing sedikit. Kalau di Avata 360 kita tinggal terbang, drone bakal rekam semuanya. Nanti di editing tinggal putusin mau dari angle [musik] mana. Tapi jadinya editingnya bakal lebih lama ya sekitar 20% lah file mentahnya itu harus kita masak lagi. Tapi kalau kalian orang awam di dunia drone kayak saya dan juga Ari, nah fitur yang ya terbang dulu ngedit belakangan ini menarik banget sih. Karena saya enggak perlu sayang drone-nya kalau jatuh. Enggak perlu manuver yang ribet, tapi udah bisa dapat footage yang keren banget. Ada dua cara untuk mainin si DJI Avatar 360 ini ya. Yang pertama bisa pakai remote. Jadi ada standar remote RC N3 atau RC2. Yang kedua pakai DJI Googles Entry dan RC Motion 3. Sistem FPV yang bisa kayak bikin kita itu terbang sama drone-nya. Karena kita bisa lihat dari Googles-nya tadi. Kalau kalian pakai Googles, ada fitur yang namanya I Acro. Jadi, ada empat manuver yang bisa kalian pilih. Pertama, ada slide. Jadi, drone-nya bisa bergerak kanan kiri, atas, bawah. Ini simpel sih ya, mirip mode normal. Kedua, ada 180° drift. Jadi, drone-nya bakal muter 180 derajat ke kanan atau ke kiri. Kita cukup pencet joysticknya kanan atau kiri dan hasilnya terlihat kayak gerakan yang cinematik yang biasanya cuma bisa dilakuin sama pilot yang berpengalaman. Yang ketiga ada flip dan ini menarik sih sebenarnya drone-nya ini gak nge-flip tapi pergerakan kameranya aja yang nge-flip karena kamera 360-nya dia bisa memanipulasi sudut pandang tanpa drone-nya itu harus bermanuver flip yang ekstrem. Keempat ada Jukr ini fitur favorit saya sih karena kameranya terlihat seperti nge-flip kayak ngasih efek visual yang cinematik. Nah, kalau kalian pakai remote controller yang biasa, dia juga ada empat fitur yang namanya itu quick shoot. Yang pertama ada rotate. Jadi drone-nya mundur ngejauhi objek sambil flip 180 derajat. Kalian bisa atur seberapa jauh dan seberapa cepat. Terus ada droney. Jadi drone-nya naik mundur menjauhi objek. Klasik sih ya. Ini udah biasa tapi tetap bagus sih footage-nya. Terus ada roket di mana drone-nya bakal meluncur ke atas objek dan ada orbit sesuai dengan namanya. Jadi droneya bakal mengitari objek kayak orbit. Ini juga ada di fitur DJI Mini 30 Pro dulu sih. Yang kedua ada fitur focus track. Nah, focus track ini ada beberapa fitur juga. Yang pertama ada spotlight. Jadi spotlight dia bisa menjaga subjek biar tetap di tengah frame meskipun kalian terbang ke mana aja. Terus ada point of interest. Ini bikin drone-nya mengitari titik tertentu. Yang ketiga ada active track 360. Jadi kalau misalkan kita lagi nge-shoot pakai drone, kita bergerak. Nah, drone-nya ini bakal ngikutin ke manapun arah kita. Itu buat enaknya ya. Tapi ada juga enggak enaknya. Yang pertama itu baterai. Nah, si DJI kan claim baterainya ini kalau satu pack bater atau satu baterai itu bisa 23 menit. Tapi kemarin pas Ari coba di pantai itu flight-nya sekitar 18 menit satu baterai. Memang beda ya. Di pantai itu kan anginnya lebih kencang terus mataharinya lebih terik yang bisa mempengaruhi performa baterai. Dan saya juga sempat lihat di beberapa tech creser luar kayak di tech radar dan lain-lain itu sekitar 15 menit. Tapi untungnya ada varian yang fly more combo. Jadi kita dapat tiga baterai ya. Kira-kira kita bisa dapat terbang itu total sama tiga baterai 50 menit lah. Harusnya itu udah cukup untuk satu konten. Tapi kalau dirasa kurang cukup ngecasnya itu untuk tiga baterai langsung ya. 100 menit kita bisa ngecas tiga baterai itu [musik] langsung full. Jadi sambil istirahat bisalah ya 100 menit atau hampir 2 jam. Nah, ini satu hal yang beberapa teman reviewer menurut saya lupa untuk ngasih tahu ke kalian. Jadi, di Indonesia itu ada aturan yang kalau misalkan kita nge-drone, drone-nya di atas 250 gr dan si DJ Fata ini kan 455 gr ya. Jadi kita harus izin dulu, kita harus punya license pilot untuk nerbangin drone-nya. Bukan berarti enggak boleh terbang ya, tapi ya tergantung areanya juga. Jadi, kalian harus pelajari dulu kalau drone kalian itu di atas 250 gr. Jangan asal terbang ya, karena takutnya di sinyal jam atau bahkan kalau saya tanya di Kemini ya, ada pidananya sampai 5 tahun. Nah, kalau misalkan Ari ketahuan ini mungkin pidananya Ari 5 tahun ya. Tapi harusnya kalau di pantai boleh lah ya. Terus fitur di lock M ini atau fitur lock yang biasanya kalian buat untuk grading di Da Vinci ataupun Adobe Premiere Pro itu enggak bisa aktif kalau kalian masuk ke mode ERU dan juga Quickshot yang pakai remote controller biasanya tadi. Jadi dia kayak langsung auto off gitu balik ke mode warna normal. Satu lagi mungkin saran aja buat DJI ya. Harusnya kalau misalkan ada aksesoris tambahan kayak ND filter, wah itu bakalan lebih menarik sih. Karena kan biasanya ya di area yang over expose kayak titik terang dan gelapnya itu enggak balance ya. Kalau misalkan ada ND filter bawaan atau aksesoris third terparty lah bakalan lebih menarik sih karena footage kita bakalan terlihat lebih detail. Nah, karena konsep dari drone ini terbang duluan, ngeditnya belakangan, jadi dia ada software editing-nya juga. Namanya itu DJI Studio yang bisa kalian download di Mac ataupun di Windows. Kalau kalian lebih suka editing langsung di Adobe Premiere Pro, ada juga plugin namanya DJI Reframe. Tapi saat ini sayangnya masih ada buat Mac Windows, belum ada. Cara kerjanya footage 360 yang direkam sama drone itu masuk ke DJI Studio. Di sana kalian bisa milih mau lihat ke mana footage itu tanpa harus punya footage baru. Jadi misal mau lihat ke kiri ya tinggal geser, mau lihat ke atas ya tinggal geser, mau zoom in pun bisa juga. Yang menarik lagi ada fitur kamera movement. Ini kayak semacam koleksi preset gerakan kamera yang udah dirancang supaya footage-nya itu terlihat cinematik. Jadi kalian tinggal drag preset itu tadi ke footage yang udah ada di timeline. Dan drone yang terbangnya lurus-lurus aja tiba-tiba terlihat seperti pakai gerakan kayak gerakan di kamera Hollywood gitu. Beh, agak lebai sih, tapi memang sebagus itu. Kalau kalian tipe yang suka kontrol penuh, ada juga pilihan manual. Kalian bisa atur framing manual zoom, bahkan keyframe animation sendiri. Terus ada filter juga, dia bisa pakai filter bawaannya DJI Studio. Terus juga bisa import lu juga kalau kalian udah punya loot pilihan kalian sendiri. Jadi lebih fleksibel. Dan sekarang kesimpulannya pertanyaannya, jadi apakah drone ini worthed untuk dibeli? Tergantung ya. Kalau kalian adalah tipical orang yang waktu itu adalah uang. Jadi ketika kalian nge-drone itu kalian udah ng-edrone-nya enggak usah lama-lama lah lama diediting aja. Nah, ini cakep sih. Terus kalau kalian udah terbiasa juga dengan software-nya DJI Studio karena kalau belum ya harus adaptasi sedikit lah. Terus kalian tipikal orang yang ya pokoknya footage ada dulu lah, editnya belakangan itu juga cocok. Dan kalian suka drone yang ada scene woop atau propeller guard-nya kayak gini untuk melindungi propellernya. Cuman alasan untuk enggak belinya ya karena regulasi di Indonesia ya harus di bawah 250 gr. Jadi drone ini enggak bisa diterbangin secara sembarangan. Terus kalau kalian pengin merasakan sensasi beneran pilot FPV, ini bukan drone untuk itu sih. Lebih enak di GI Avat 2 karena mode FPV-nya ya manual, enggak auto kayak gini. Tapi overall untuk skor dari 10 saya kasih skor DJ GI Avata 360 ini 8,5 lah. Karena buat saya pribadi ya, saya tipikal orang yang enggak terlalu sering nge-drone, enggak paham drone. Saya juga pilot awam untuk drone. Dan ketika saya harus terbangin dulu edit belakangan itu menurut saya buat saya pribadi ya, itu adalah [musik] game changer. Nah, sekarang saya balik nih pertanya ke kalian. Kalian tipikal pilot yang terbang duluan, edit belakangan, atau kalian termasuk pilot yang mapping dulu nih areanya. Oh, saya harus terbang dari sini nih ke sini nih. Nanti kameranya pivot ke sini nih. Nah, itu kan kalau buat saya pribadi ya. Buat saya itu repot. Mending terbang duluan aja. Karena biasanya di tempat-tempat wisata apalagi ya yang harus bayar R2 juta ya. Kalau kalian mau terbangin sembunyi-sembunyi sih paling enak pakai ini ya cepat gitu. Karena kalau Rp [musik] juta itu ibaratnya sama kayak cicilan motor sebulan. Sayang banget kan ya? Tapi kalau menurut kalian gimana? Mending yang 360 atau yang biasa aja? Coba tulis di kolom komentar ya. Say and see you on the next video.
