Jungkat

Ganteng dan Tahan Lama 😍 COLMI V76 (YouTube Video)

  • 13/02/2026

Ini adalah Colmi V76. Hadeuh, sudah hampir tiga konten ngomongin Colmi ini tetap seharu. Entah ngomongnya Colm, callmi, atau Coolme. Kalian coba tulis di kolom komentar deh. Yang intinya smartwch ini di harga R00.000-an itu punya segudang fitur. Dia sudah punya sertifikasi IP68, bisa connect sama Strafa, punya dedicated GPS, layar AMOLED, dan masih banyak lagi. Ya udah enggak usah kebanyakan bacot. Yuk, sekarang kita bahas. [musik] Nah, salah satu dari kalian pasti akan ngomong nih, "Itu produk ODM, Bang. Di China banyak banget." Yes, benar. Kita tidak menampik itu. Kita juga sudah coba cari beberapa merek dan punya model yang sama persis. Paling cuman diganti strap atau warnanya aja. DM yang satu ini itu masih ok lah. Enggak kayak tablet yang beberapa saat lalu Mas Dika review dan itu benar-benar parah deh. Kok ada ya orang sejahat itu dalam tanda kutip bahasa jawanya itu ngakalin orang Indonesia dikasih spek seolah-olah RAM 16 gig tapi faktanya cuman 2 gig. Ya memang kita enggak bisa komplain banyak. Toh juga warga Indonesia rata-rata suka cari yang murah tapi spek tinggi. Tapi emang ada? Ada dong. Salah satunya ini nih kita coba simulasikan untuk kita ambil 1000 pie dengan SKU yang sama persis dengan warna strap yang sama persis itu jatuhnya enggak terlalu jauh kok. Harusnya sih masih worthed parah. Belum lagi ya kalau kalian ambil sendiri itu belum termasuk pajak dan ongkos forwardern-nya juga. Buat yang pengin tahu simulasinya kalian nanti bisa lihat di layar ini deh. [musik] Nah, sekarang kita bahas mengenai desain dan bodinya. Nah, jujur aja untuk sebuah smartwatch R00.000-an yang punya tema Rajet smartwatch dengan kombinasi metal di bagian atasnya dan di bagian bawahnya, sebentar ini F-nya kelihatan plastik banget tuh nanti kalian bisa lihat di biroll dan bagian samping-sampingnya itu juga plastik. Di bagian bawah juga ada magnetic charging di sebelah sini. Dan kalau kalian perhatikan ini sangat familiar seperti kebanyakan smartwatch, smartwood ODM yang lain. Jadi kalau misal charging cable-nya kalian bermasalah atau putus, kalian enggak akan kesulitan cari spare part-nya. Itu nilai plusnya. Nah, untuk strapnya sendiri dia pakai yang sistem quick release dan kita sudah ukur untuk panjangnya di 22 mm dan itu panjang yang sangat familiar. Jadi kalau kalian mau ganti-ganti strap-nya ini gampang banget, banyak banget kalau kalian cari di Shopee. Tapi untuk strap bawaannya jujur aja saya pernah pakai beberapa brand seperti Huawei atau mungkin eh Fitbit itu jauh lebih enak. Tapi saya pakai beberapa hari di tangan saya itu kelihatan kayak ruam-ruam atau gatal. Mungkin karena memang teksturnya atau enggak cocok dengan bahan strapnya ya. Tapi memang apa dikata ini harga R00.000-an. kita enggak bisa komplain semuanya perfect, tapi dapat seperti ini aja. Dengan panjang rubber yang kayak gini, kita mudah untuk gantinya itu udah lebih dari cukup. [musik] Salah satu nilai plus dari smartwch ini itu ada di layarnya yang pakai panel AMOLED. Untuk resolusinya di 466 * 466. Tapi memang kalian enggak bisa berharap saat kalian pakai scrollsroll itu smooth kayak Apple Watch atau Galaxy Watch. Kelihatan banget kalau kalian scroll-scroll menu kayak gini itu patah-patah banget. Tapi enaknya AMOLED itu hitemnya pekat dan warnanya itu gonjreng banget keluar banget. Nah, layarnya kalau kalian usap ke kanan itu akan muncul menu. Lalu kalau kalian usap ke kiri muncul shortcut seperti phone call, activity, dan lain-lain. Dan di sana kalian bisa atur sendiri dan kalian bisa juga lihat langsung datanya seperti apa. Contoh nih ya, kalian bisa masuk ke shortcut activity lalu kalian scroll ke bawah itu kalian bisa lihat nih step kalian hari ini berapa, kalori yang terbakal berapa, berapa kilo kalian jalan, dan berapa step melangkah kalian lakukan hari ini. Itu semuanya ada. dan UI-nya itu gampang banget buat dipelajari. Cuman yang menurut saya agak menyebalkan itu ada di bagian tombol sampingnya. Nah, di sini ada tiga buah tombol yang tulisannya nih ya ada menu di bagian atas. Di tengah itu apa nih? Enggak ada tulisan apa-apa. Di bagian bawah ada sport. Nah, kalau di bagian tengah kita pencet itu on off screen-nya aja. Lalu kalau kita pencet menu atau sport itu hasilnya sama. Jadi sebenarnya ini dua tombol dengan fungsi yang sama. Hadeh. Haduh. Mungkin kalian tanya, "Bang, kan bisa di-setting di aplikasi." Iya, bisa. Nanti deh kita coba deh waktu di UI aplikasinya. [musik] Oke, sekarang kita masuk ke fitur Colmi V76 ini. Untuk sebuah smartwatch yang R400.000-an ini fiturnya banyak banget. Untuk mode olahraganya itu ada 100 lebih. Gila, ini banyak banget dari yang beneran kepakai sampai yang mungkin kalian pakai sekali doang terus lupa dan semua aktivitas dicatat secara real time. Jadi kelihatan tuh kita olahraga beneran atau cuman sekedar sok-sokan olahraga. Nah, menariknya smartwatch ini bisa disinkronkan juga dengan Strava. Jadi kalau kalian habis lari-lari walaupun dibantu joki ya kalian bisa langsung pamer di sosial media kalian lewat aplikasi Strava. Nah, untuk urusan kesehatan smartwatch ini punya deteksi detak jantung atau HRP, bukan soksokan jadi dokter. Untuk tidur juga direkap. Jadi, kalian akan dipantau kalian itu beneran [musik] tidur nyenyak atau lagi stres mikirin kerjaan. Tapi dengan smartwatch yang segede ini, jujur aja ya, enggak enak dipakai tidur. Lebih enak Colm Ring yang waktu itu pernah kita review. Kalian tonton videonya di atas deh. He rate SPO2 sampai stres level kita juga dipantau. Jadi lumayan lengkaplah untuk sebuah smartwatch di harga Rp400.000-an. Lanjut ke bagian yang enggak disadari orang tapi [musik] penting banget di smartwatch ini, yaitu posisi dan navigasi. Colomi V76 ini punya multicellation positioning. Jadi gak usah repot-repot ngandelin satu satelit ada GPS [musik] Baidu dan Glonas juga. Jadi enak tuh kalau pakai smartwatch ini. Enggak gampang nyasar. Beda banget sama cewek-cewek yang sekalinya keluar rumah lihat Google Map eh ujung-ujungnya nyasar juga. Karena pakai sistem ini lock GPS-nya jauh lebih cepat bahkan tanpa bantuan GPS HP sekalipun. Jadi kalau HP ketinggalan atau enggak sengaja ditinggal, jamnya tetap bisa ng-record rute atau jalan yang sudah kita tempuh. Selain itu, di smartwatch ini juga ada kompas, barometer, dan juga altimeternya. [musik] Untuk kompas biar kita tahu arah barometer sama altimeter buat baca kondisi lingkungan dan ketinggian. Jadi kalau mau dipakai lari-lari di dalam kota bisa, mau dipakai untuk mendaki gunung bisa, mendaki gunung kembar yang biasanya digambar anak-anak juga bisa. Jadi kalau kalian olahraga, setidaknya itu ada buktinya, ada datanya, enggak cuman kata-katanya [musik] doang. Pindah ke bagian aplikasinya yang kelihatan banget ini ODM. Nah, di aplikasi entah itu di iOS atau di Android, kalian bisa download aplikasi Colm Fit. Call me Fit ya. Call me Fit. Atau kalian bisa download yang namanya David bukan David Gadgetin ya. Jadi secara UI itu sama persis David ataupun Colm Fit. Kalau aplikasi si Colmifit itu secara UI sama cuman pemilihan warnanya lebih monoton aja sih. [musik] Jujur aja si David itu lebih cakep, lebih colorful. Di sana ada tab activity untuk pantau seberapa jauh kita udah jalan atau lari. Lalu ada tab slip juga. [musik] Ini lumayan penting untuk kita bisa pantau kualitas tidur kita. Datanya juga cukup detail. Mulai berapa lama kita tidur, berapa lama kita tidur relap sampai BPM-nya pun juga diukur. Cuman seperti yang saya omong tadi, pakai smartwatch segede ini kalau dipakai tidur itu enggak enak banget. Jadi ganjel-ganjel banget. Lalu juga ada heart rate monitor dan blood oxygen. Ini standar aja sih hampir di semua smartwatch ada. Di aplikasi juga kalian bisa pantau stres level kalian. Jadi kalian bisa pantau tuh kalian benar-benar stres atau pura-pura stres biar kalian gak ditambahin kerjaan. Lalu di aplikasi juga kalian seolah-olah punya PT atau personal trainer karena di sana disediakan video untuk workout. Mau turunin berat badan ada, cara pakai alat gym juga ada. Pengen gedein maskel atau dadah juga ada. Pokoknya lengkap bangetlah. Lalu ada course juga untuk meditasi dan semuanya gratis. Gokil enggak tuh? Di sebelah menu class workout itu ada hasil [musik] record kita saat olahraga. Ada running, walking, cycling, dan semuanya bisa disinkronkan dengan Straava. Lalu fitur-fitur lain juga enggak kalah cakep, ada [musik] fine device. Kita bisa cari smartwatch-nya via HP, cuman memang enggak bisa jaraknya terlalu jauh. Harus sesuai dengan jangkauan [musik] Bluetooth, smartwatch, dan HP kita. Sisanya sih basic aja. Jadi, smartwatch ini bisa dipakai untuk remote shutter. Cuman saya rasa agak aneh. Jadi kita enggak bisa direct langsung kita buka kamera, langsung kita bisa pakai remote shutter-nya di sini. Jadi kita harus pakai fitur kamera yang ada di aplikasi David-nya. Jadi jujur [musik] aja agak useless sih. Nah, seperti yang saya omong tadi untuk tombol menu dan sport-nya bisa kita custom. Cuman itu [musik] pilihannya cuman satu doang. Misal nih ya, kita custom tombol menu ini jadi stopwatch. Nah, saat posisi kita tekan menu ataupun sport itu hasil outputnya sama-sama juga. Jadi ya ada tiga tombol di sini agak sekali lagi tidak berguna ya. Semoga masalah firmware aja. Jadi kalau ada software update masalah ini bisa diselesaikan juga karena potensi smartwatch ini sebenarnya gede juga. Untuk watchway face-nya sayangnya itu kita gak bisa custom, cuman mereka sudah kasih beberapa alternatif. Bukan beberapa sih, [musik] ini banyak banget alternatif. Dan cara gantinya gampang banget. Kalian bisa lewat tombol utama yang ada di [musik] tengah smartwatch-nya. Tinggal kalian putar-putar aja ke atas atau ke bawah atau [musik] bisa via aplikasi. Jadi untuk baterainya sendiri punya kapasitas yang sebenarnya enggak gede-gede banget, cuman di 500 [musik] mAs atau 500 mAh. Dan klaim mereka itu bisa bertahan 5 sampai 7 hari. Dan kemarin saya coba pakai rocker juga di Bali bersama tim DKID selama [musik] 6 hari. Jadi saat posisi baterainya kurang lebih sekitar 80% saat posisi kita sudah kembali ke Malang atau mungkin di hari ketujuh ya ini baru benar-benar habis. Jadi [musik] klaim mereka itu ya bisa terbukti benarlah. Lalu untuk Bluetooth versinya dia pakai yang 5.2 cukup future proof dan untuk IP rating-nya juga ini [musik] menyenangkan banget untuk sebuah smartwatch di harga R00.000-an. Jadi sesuailah kalau memang dia mau dimasukkan ke [musik] raget smartwatch. Cuman di harga Rp400.000-an kalian enggak bisa dapat packaging yang cakep banget dengan unboxing experience yang nyaman. Packaging-nya cuman begini aja dan dalamnya itu [musik] cuman ada manual book dengan berbagai bahasa dan tidak ada bahasa Indonesia sama sekali. Lalu cuman kabel charger yang secara kualitas ya [musik] biasa aja. L. Oke, kita masuk ke bagian kesimpulan. Nah, Colmi V76 ini untuk sebuah smartpch di harga 400.000-an itu jujur aja enggak bisa dianggap remeh. Walaupun secara build quality standar aja, tapi paling enggak dia punya finishing metal yang cakep. Jadi kalau kalian lihat dari depan atau dilihat orang itu masih kesan mewah atau rajitnya itu dapat bangetlah. Lalu untuk hardware-nya sendiri dia sudah menggunakan Realtech RTL87. Nah, nanti mungkin editor tampilkan di bawah. Intinya ini otak utama untuk pakai arsitektur dual mode Bluetooth. Nah, kenapa butuh dual mode Bluetooth? Karena satu Bluetooth untuk dikoneksikan dengan aplikasi David-nya untuk sinkron secara real time dan satu Bluetooth lagi untuk panggilan telepon. Karena di smartwatch ini kalau ada telepon masuk kalian bisa langsung angkat. Ada speakernya juga, WA masuk juga ada notifikasinya. Lalu ada sensor GPS Aro AG3352B. Ini GPS independen ya, jadi bukan GPS yang mengandalkan GPS smartphone. Nah, GPS ini mendukung multi GNSS, GPS, GLONAS, Galileo, Baidu, itu semuanya support. Jadi, kalau kalian lagi ada di daerah yang banyak gedung-gedung tinggi, kalian cari atau connect dengan GPS-nya pun juga cepat. Lalu ada chip kompas tiga sumbu yang memastikan akurasi kompasnya atau posisinya itu juga pas. Lalu ada chip barometer juga. Dan yang pasti selling point-nya adalah layarnya yang sudah AMOLED. Tapi tetap untuk sebuah smartb.000-an enggak bisa diomong perfect juga. Untuk build quality-nya menurut saya sih standar banget, masih plastiky banget. Lalu untuk strapnya kalau kita bandingkan dengan smartwatch, smartwatch mahal, jangankan punya siunto ya, mungkin sama Huawei atau Fitbit yang mungkin harga under sejutaan itu di sana lebih enak. Dan nilai minusnya lagi itu UI yang menurut saya pribadi terlalu simpel. Masih banyak sisi, masih banyak hal yang bisa dikembangkan dari UI-nya. Tapi terlepas dari itu semua, untuk sebuah smartwch di harga Rp400 juta, eh he untuk smartwatch yang punya harga Rp400.000-an ini jujur aja ini worthed banget terlepas dengan kata-kata kalian yang ini ODM atau apa. Dan kalau kita bandingkan atau simulasikan tadi untuk harga yang dipasang di marketplace China dan di marketplace Indonesia itu harganya tidak berpaut jauh. Saya Rico. See you on the next video.

Lihat di YouTube