Jungkat

GEDE, PANJANG, PUAS !! Samsung Viewfinity S8 S85TH (YouTube Video)

  • 31/10/2026

Kalau kalian perhatiin Instagram saya pribadi terakhir, saya itu lagi bukain usaha 3D printer istri saya. Awal ceritanya itu ya, saya sama sekali enggak mau buka usaha 3D printing. Saya itu pengin hidup tenang, main saham, cuan. Ya, ternyata ya jadinya ambles. Kasito jos kis kalau kata orang Jawa. Awalnya saya di-endorse brand cuma satu sampai akhirnya itu ada enam 3D printer sekarang. Awalnya sih ya cuman jualan ya kliker aja, santai lah ya desainnya tipis-tipis aja. Tapi makin lama banyak customer yang minta aneh-aneh. [musik] Ada yang minta desain kopdes lah, ada yang minta desain dapur MBG. Makin ribet lah intinya. Dan salah satu tim di GA ID ada yang namanya Daniel. [musik] Sebenarnya itu job desk dia adalah benchmark sama script writer. Tapi dia jurusannya itu arsitek 3D designing. Nah, saya tanya tuh Nil, mau enggak kalau misalkan kita tarik aja ke 3D, kamu lebih suka yang mana? Nah, kata Daniel lebih suka 3D. Dan saya tanya, untuk 3D kamu butuh device apa? Dan dia jawabnya, "Anu Mas, itu laptop, monitor, sama dapur MBG." Ini agak ngelama sih anak ini. Dari semua device yang dia minta, yang saya prioritasin [musik] itu jelas monitor. Karena kalau kita ngomongin desain 3D ya, GPU aja enggak cukup. Kita juga butuh monitor yang dilihatnya enak. Jadi, desainer saya itu juga ya betah gitu ngedesainnya. Karena kalau misalkan desain pakai layar TN, wah satu jam udah silinder dia. Kan kasihan. Makanya saya kepikiran untuk ngasih dia monitor ultrawide biar dia lebih nyaman desainnya dan akhirnya kepikiran pakai monitor dari Samsung. Namanya itu Samsung Viewfinity S85TH. Pertimbangannya bukan soal dia gede aja sih, tapi juga panjang. Monitornya ya. Alasan pertama kenapa saya pilih monitor ini, Daniel pasti butuh ruang kerja yang lebih lega. Jadi, di window sebelahnya dia bisa 3D modeling, di sebelahnya dia bisa open AI, mungkin dia mau tanya geometrinya, mekanismenya gimana, di bagian sininya lagi buka yang lain, buka referensi, jadi biar lebih nyaman aja gitu ngeditnya. Nah, di sinilah ukuran gede dari monitornya berasa bermanfaat ya. Samsung Viewfinity S8 ini punya layar 40 inch, gede banget, apalagi resolusinya juga udah 5K 2K dan aspek rasionya di 21 banding 9. Jadi, dia punya ruang horizontal yang lebih luas dibanding monitor 4K biasa. Karena monitor itu kadang dia secara dimensi gede 40 inch tapi resolusinya full HD, ya buat desain kasihan ya karena desain itu kadang harus sampai maju ke monitornya kayak gini kan sakit matanya kalau misalkan resolusinya kecil. Jadi, kalau resolusinya gede ketika dia splitting, window splitting, jadi di tengah itu bisa buka software modeling, sebelah kiri buat gambar referensi, sementara di kanan buat catatan ukuran atau detail pesanan, enggak harus gonta-ganti aplikasi. Terus kalau masuk ke Bambu Studio, Bambu Studio itu software bawaannya 3D printing ya dari Bambu Lab atau Orca Slicer lah area preview modelnya dan panelnya juga lebih lega. Karena biasanya software arsitektur kayak AutoCAD, SketchUp dan Revit biasanya punya banyak banget panel. Nah, dengan monitor seluas ini Daniel bisa punya area gambar yang lebih besar tanpa harus sering buka-tutup tools yang dibutuhin. Alasan yang kedua, Samsung. Samsung itu enggak di TV-nya, enggak di HP-nya, dia selalu jual kenyamanan juga. Nah, walaupun dimensinya 40 inch kalau yang enggak ultra wide, enggak curve itu biasanya kita harus tolah-toleh gitu ya kayak wasit badminton karena dimensi monitornya terlalu gede, tapi karena dia punya kurvatur 1000R jadi kita tinggal ngelirik-ngelirik aja, enggak usah tolah-toleh udah bisa terlihat semua pekerjaannya. Kalau soal ergonomik, stand-nya juga bisa ditinggiin sampai 12 cm, bisa di-tilt, bisa di-swivel, bahkan bisa dipasang di monitor arm lewat VESA mount. Cuman pastiin jangan beli VESA mount atau arm bracket yang murah ya karena ini bobotnya lumayan, bobotnya dia itu ada di 14 kg. Jadi, wah kalau saya sih kuat ya dengan tangan satu aja. Berat ternyata ya harus tangan dua. Jadi, pastikan kalau mau pakai VESA mount, VESA mount yang mahal. Jangan yang murah karena ya monitornya mahal masa aksesorisnya murah. [musik] Pertimbangan ketiga, jelas soal kualitas layarnya. Kualitas warnanya gimana, HDR-nya gimana, detail-detail yang ditampilkan sama monitornya itu gimana. Nah, monitor ini udah punya kepadatan pixel sampai 140 pixel per inch. Jadi, meskipun ukurannya 40 inch, garis tipis, tulisan kecil sampai detail tekstur model 3D bisa terlihat lebih tajam. Yang agak jadi tanda tanya sebenarnya biasanya kalau monitor productivity-nya Samsung itu ya biasanya pakai OLED-lah. OLED itu memang harganya agak flagship. Nah, yang aneh di sini dia pakai panel VA bukan panel IPS. Ya, biasanya memang yang gampang dibendingkan dan murah itu pakai panel VA. Tapi, panel VA-nya Samsung di sini agak beda. Jadi, dia punya rasio kontras itu 3.000 banding 1 lebih pekat. Jadi, lebih pekat dibandingkan panel IPS yang biasa. Jadi, waktu menampilkan render bangunan dengan suasana low light atau suasana malam, warna hitamnya itu bisa terlihat lebih pekat dan bayangannya lebih dalam. Dan biasanya di 2026 hampir semua website, hampir semua software dia itu punya dark mode. Karena kalau misalkan pakai dark mode, mata kita itu enggak gampang lelah. Terus selain resolusinya yang 5K 2K tadi, refresh rate-nya juga 144 Hz. Refresh rate 144 Hz itu bukan cuma buat gaming aja ya. Jadi, ketika kalian scroll, desain itu lebih menyenangkan juga karena animasinya terasa smooth. Jadi, pekerjaan bisa cepat selesai. Nah, untuk color akurasinya awalnya saya kira ya panel VA seberapa sih. Kalau untuk klaimnya Samsung sih dia di 99% sRGB ya. Tapi, pas kita tes untuk gamut coverage-nya itu ada di 98,8% kalau volumenya di 125%. Ya, selisihnya sekitar 0,2%. 0,02% jadi oke lah ya. Pertimbangan yang keempat soal konektivitas. Ke depan saya enggak mau gonta-ganti monitor ya, jadi saya mau monitor ini ya diinvestasikan di purchasing buat Els buat jangka panjang. Jadi saya mau benar-benar ya dia sekali beli sudah gitu, biar enggak boncos-boncosin duit. Nah, untungnya soal konektivitas dia sudah punya Thunderbolt 5 yang bandwidth-nya itu sudah up to 80 gigabit per second, support power delivery up to 140 watt. Jadi kalau misalkan punya laptop atau punya HP pengen ngecas dari monitor ini bisa juga. Karena kalau kebanyakan kabel bukan soal rapi atau enggak rapi sih ya, kalau rapi enggak rapi mejanya Daniel lah terserah lah. Cuman biasanya di DKID itu yang hilang itu kabel. Jadi biar kabelnya itu enggak berserakan, enggak cepat hilang, ya bisa pakai satu kabel aja di monitor ini buat ngecas semuanya. Selain port Thunderbolt tadi, monitornya juga lengkap. Monitor ini bisa sekaligus jadi hub buat device device kalian yang ada di meja. Contohnya misalkan mau mengkoneksikan dua device kayak laptop dan PC di satu monitor ini, keduanya bisa dioperasiin pakai satu mouse aja dan satu keyboard aja karena dia sudah punya fitur KVM switch. Jadi itu tadi adalah empat alasan kenapa saya pilih monitor ini buat penunjangnya Daniel sebagai 3D designer-nya Els Studio. Ya, walaupun monitor ini menurut saya juga enggak sempurna ya karena ada beberapa yang ya jadi pertimbangan tapi akhirnya saya memilih untuk mentoleransilah karena ya sesuai kebutuhan saya. Kayak contohnya yang perlu dicatat itu di bagian brightness-nya itu cuman 350 nits. Ya emang monitor itu kebanyakan buat indoor ya, enggak mungkin kita bawa ke kafe. Ya, mungkin-mungkin aja sih tapi berat itu kayak ngapain bawa monitor ke kafe WFC pakai monitor sih ngapain. Ya, walaupun dia sudah ada anti-glare-nya ya tapi se-anti-anti-glare-nya dia itu masih ada refleksinya gitu. Walaupun refleksinya sudah lumayan keserap sih. Tapi kalau 300-an nits aja menurut saya pribadi kurang. Terus meskipun monitor ini sudah support HDR 10 dan HDR 10 plus, cuman karena belum punya local dimming, performa HDR-nya menurut saya bukan sesuatu yang bisa diunggulkan gitu. Terus alasan saya kenapa saya pilih Samsung, harga sih terutama ya. Karena untuk ya sebenarnya kalau kita ngomongin kompetitornya, harganya itu 20 jutaan ke atas walaupun kompetitornya itu pakai panel IPS ya. Kayak contohnya ada di Dell Ultra Sharp dan juga LG Ultra Fine, tapi harganya itu 20 juta ke atas karena panelnya mungkin pakai IPS Jadi karena bukan saya sendiri yang pakai ya, Daniel, umur saya kan 35-an ya kalau Daniel masih 20, jadi dia masih sehat matanya. Jadi walaupun enggak IPS ya enggak pekat-pekat banget, paling enggak dia masih bisa lihatlah. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja cerita saya kenapa saya memilih monitor Samsung ini untuk penunjangnya Daniel buat 3D designer-nya L Studio atau usaha 3D printer istri saya. Nah, kalau misalkan dia ngerasa ini kurang sih enggak perlu ganti monitor, Daniel aja yang saya ganti ya. Dan dengan budget sekitar 15 juta 299 ribu, monitor ini ngasih penawaran yang cukup menarik ya. Kita sudah dapat monitor ultra wide 40 inch resolusinya 5K 2K 144 Hz, kualitas tampilan dan warna sudah cukup mumpuni buat desain-desain yang butuh color grading karena hampir 100% [musik] sRGB, termasuk desain 3D juga oke, terus konektivitas dan juga fitur pendukungnya juga bisa ngebantu. Tapi kembali lagi kalau misalkan kerjaan kalian itu cuman sekedar admin thing terus enggak berjam-jam lihat monitor karena Daniel itu kalau ngedesain bisa sampai desain 3D itu enggak mudah ya karena ya ribet, jadi bisa sampai 8 sampai 9 jam saya butuh dia untuk ya setidaknya dia betahlah ngeditnya. Cuman kalau kebutuhan kalian itu cuman ya admin thing, terus soft buat di kasir, menurut saya sih enggak butuh monitor ini terlalu overkill ya. Saya juga belum pernah lihat kasir Indomaret, Alfamart atau FamilyMart pakai monitor curve itu kayaknya terlalu overkill sih. Nah, mungkin Kopdes bisa tuh biar pembeda dari Indomaret, Alfamart bisa pakai monitor curve kayak gini di kasirnya. Ya, intinya sih dengan harga 15 jutaan kalau kalian cari monitor yang produktivity, ya monitor ini bisa jadi rekomendasi yang sangat-sangat menarik. Saya Niken Satria Budhi and see you on the next video. Bye bye.

Lihat di YouTube