GeForce RTX 50 Series Itu Worth It Ga Sih?? (YouTube Video)
Setelah rilis lebih dari setengah tahun, GeForce RTX 50 series udah mulai menjamur di pasaran dengan pro dan kontranya. Dan gak bisa dipungkirin juga kalau GPU itu sekarang enggak hanya untuk gaming, tapi juga di produktivitas seperti di video editing, eh 3D modeling, CG artis sampai ke konstruksi sekalipun. Nah, sekarang dengan banyaknya pro kontra ini kira-kira worth it enggak sih GeForce RTX 50 series ini di 2025? [Musik] Buat eksperimen kita kali ini, kita akan menggunakan RTX 5070 Ti dari Galaxy. Spesifikasinya masih sama dengan yang waktu itu kita pernah review. VRAM-nya sama dengan RTX 4070 Ti Super ataupun 5080 kemarin, yaitu 16 gig dan sudah GDDR7. Kuda Cors-nya ada 8960 core, bandwid-nya di 896 GB/face 256 bit. AI core atau tensor core-nya ada 280 core dengan 70 rate racing cores dan menghasilkan 1484 top secara total. Dan sekarang TGP-nya itu naik ke 300 wat di mana itu naik sekitar 20 watt dari 4070 TI super. Skenario penggunaan pertama adalah kita akan bahas tentang usage gamingnya. di penggunaan gaming. Mungkin kalian udah hafal kalau sebelumnya Nvidia itu ada fitur yang namanya DLSS atau deep learning super sampling. Dan di 40 series kita mulai diperkenalkan dengan yang namanya frame generation. Barulah saat 50 series ini launching di LSS-nya sekarang di-update ke 4.0 dan sekarang ada fitur baru lagi yang namanya multiframe generation. Di LSS 4 ini menggunakan teknik yang berbeda dengan di LSS di LSS sebelumnya di mana yang sekarang memakai transformer model. Kalau yang sebelum-sebelumnya itu memakai teknik interpolasi. Transformer model ini punya kualitas upscaling yang lebih halus, terutama pas di settingan balance ke bawah dibanding yang interpolasi dan multiframe generation itu kalau dari satu frame tadinya bisa generate menjadi 2 frame, sekarang malah bisa up to 4 frame alias kali 4. Jujur aja ya, dengan game yang sekarang makin berat dan juga beberapa user sekarang sudah mulai main di resolusi tinggi seperti 1440p dan 4K kayaknya udah enggak memungkiri kalau kita itu harus memakai DLSS dan frame gen untuk bermain di frame rate tinggi. Contohnya seperti game yang baru aja keluar yaitu Doom The Dark Ages di mana P tracing-nya itu udah lumayan berat. Kita bisa melihat kalau mau main dengan frame rate di atas 100 pasti udah harus menghidupkan di LSS dan frame gen. Lalu Indiana Jones the Great Circle juga di mana game ini dibuat berdasarkan ray tracing. Kalau kita mau main di atas 100 FPS pun sebenarnya bisa, tapi kelihatan ya di mana frame rate antara native dan DLSS dan frame gen itu bisa beda banget sampai dua kali lipat. Enggak hanya game-game baru doang, tapi game yang lumayan lama seperti Cyberpunk 2077 itu juga terlihat banget bedanya kalau kita gak pakai di LSS dan frame gen dengan yang pakai. Di penggunaan gua sendiri game yang gua suka mainin yaitu The Alters itu mulai bergantung banget dengan DLSS dan Frame gen agar game-nya itu playable. Selain dari DLSS dan frame gen, Nvidia juga punya fitur pengurang latency. Kalau kita bermain kompetitif sepersekian detik itu kan berpengaruh banget ya buat menentukan menang atau kalah. Nah, Nvidia Reflex bisa mengurangi latency di beberapa game kompetitif yang kompatibel. Contohnya di sini adalah Counter Strike 2 yang apabila kita aktifkan reflex dan boost-nya maka latency-nya akan berkurang cukup lumayan. Di mana ini bisa menjadi keuntungan saat bermain kompetitif. Selain dari gaming, GPU RTX juga pastinya berguna untuk produktivitas, apalagi yang berhubungan dengan pekerjaan kreatif. Di video editing, tentu aja GeForce RTX 50 series itu sudah capable untuk 4K video editing, mau di Adobe Premiere Pro ataupun After Effect sekalipun. Yang paling asik adalah GPU ini juga sudah support AV1 encoding yang di mana video bisa mendapatkan detail yang lebih baik dengan bit rrate yang sama. Walaupun sayangnya di software Adobe itu belum support sama AV1 dan kalian mungkin harus pakai software yang memang support dengan AV1 dulu. Selain dari video editing, ada juga banyak produktivitas lain yang juga membutuhkan GPU seperti CG artis, 3D modeling, atau bahkan arsitektur dan juga teknik sipil. Ini membuktikan kalau GPU seperti Nvidia GeForce RTX itu sudah berperan banyak dalam industri kreatif, entertainment, dan juga konstruksi. Contohnya di Blender. Apabila kita memakai GeForce RTX series, kita bisa render 3D model itu dengan cukup baik. Mau itu dengan optics ataupun kuda. Dan seharusnya kuda Corse ini juga berpengaruh banyak di software-software yang membutuhkan 3D modeling seperti eabs dan juga SketchUp. Saat rendering pun software seperti Endscape atau Lumion itu terbantu banget dengan adanya rate racing untuk menghasilkan gambar yang realistis di waktu yang singkat. Selain dari industri kreatif, sebuah GPU, terutama GPU Nvidia sekarang juga berperan penting di dunia AI. Di GeForce RTX 50 series, ada beberapa software yang bisa memaksimalkan tensor core yang ada di Nvidia. Contohnya adalah Convi UI. Ini adalah video generating software yang memang khusus untuk GPU Nvidia di mana kita bisa select modelnya lalu bisa generate video hanya dengan prompt aja. Software ini berjalan secara lokal dan bergantung dengan GPU yang kita punya. untuk sekarang hanya bisa memakai GPU Nvidia aja. Selain dari image dan video generator, kita juga bisa membuat LLM sendiri. Contohnya ini menggunakan LM Studio di mana kalau memakai RTX 5070 Ti, bahkan kita bisa mendapatkan sampai 111 token per second di lama 3.18 bilion. Ini adalah angka yang lumayan tinggi terutama untuk GPU zaman sekarang. Peranan AI juga enggak cuma di video atau LLM aja, tapi juga di conference call. Dengan aplikasi Nvidia Broadcast, kita bisa mengatur banyak efek buat webcam seperti adanya auto frame, memberi Wignet, sampai mensimulasi keylight juga ada. Tapi yang paling mengesankan buat kita adalah noise removal. Dan ini adalah contoh suara apabila kita tidak memakai noise removal di Nvidia broadcast. Di sini ada vacuum cleaner di background dan itu terdengar banget. Dan ini adalah contoh suara apabila kita udah memakai noise removal-nya tanpa mematikan suara dari vacuum cleaner itu sendiri. Jadi kesimpulannya GPU itu sekarang memang udah penting banget di kehidupan kita sehari-hari karena enggak cuma buat main game aja tapi juga buat produktivitas. Ya, kalau misalnya untuk kita yang berkutatnya itu di industri kreatif apalagi ya sosial media, penggunaan GPU itu udah masuk ke workflow kita sehari-hari sih pastinya. Dan kalau misalnya buat teknologi si Nvidia GeForce itu sendiri, untungnya dengan DLSS4 yang transformer model ini, sekarang kita untuk main di settingan DLSS balance ataupun yang performance itu udah lebih halus daripada di DLSS yang sebelumnya. Dan untungnya untuk multiframe generation juga membantu kita banget untuk main game dengan frame rate yang tinggi. Terutama yang game triple A sekarang di resolusi kayak 2K atau 4K. Pastinya kalau misalnya kalian mau upsaling pakai frame generation itu kalau bisa pastiin aja bahwa gameennya itu lancar di 1080p sampai lebih dari 60 fps. Karena kalau di bawah 60 fps itu kadang-kadang masih suka agak aneh sih gambarnya. Nah, kalau misalnya kalian sendiri di kehidupan kalian sehari-hari, menurut kalian Nvidia GeForce RTX 50 series itu worth it enggak sih? H
