Gimana 2in1 Laptop Di 2026?? - ASUS Vivobook TP3407AA (YouTube Video)
Karena kemarin Michael udah melakukan ritual tahunan ng-review two inone yang harganya sekarang udah naik ke R jutaan. Kali ini ini ada opsi two inone juga dari Asus yang harganya juga Rp2 jutaan dan pakai Core Ultra 7 300 series. [musik] Desain dari laptop ini kurang lebih sama dengan Vivobook yang lain. Bahannya terbuat dari polikarbonat dan aluminium dengan build quality yang juga lumayan bahkan sampai berstandar military grade 810H. Bagian pinggir-pinggirnya ini lebih melengkung dari yang sebelumnya dan beberapa sudut malah ngingetin gua sama Yoga series. Tapi hingch-nya nah ini nih yang gua salut dengan Asus. Mereka membuat hing sebuah twoin one laptop yang tetap gampang buat dibuka pakai satu tangan. Layarnya juga udah berpanel OLED walaupun masih dengan resolusi Wuxga GA atau ini adalah Full HD Plus dengan aspek rasio 16 bap tentunya udah touchscreen. Kalau ini tahun 2021 atau 2022 ini adalah layar default-nya Asus Vivobook yang harganya di belasan juta. Layout keyboard-nya juga standar Vivobook di sini. Backlit-nya ada tiga level, function button-nya juga standar. di mana media button masih missing dan di pad-nya digabungkan dengan home page up dan patch down. Hanya aja tidak ditulis. Buat touchpad sekarang ukurannya udah diperbesar dan ada fitur smart gesture juga di mana kita bisa ngatur brightness, volume, dan bisa scrubbing video hanya lewat touchpad aja. Buat konektivitasnya di sebelah kanan hanya ada satu USB A 5 Git. Sementara di sebelah kiri ada full HDMI port, dua USB type C di mana satunya itu 10 GB dan satu lagi Thunderbolt 4 dan di sini ada audio combo jack beserta micro SD card reader juga cukup lengkap buat sebuah twoinone laptop yang untuk produktivitas. Nah, 2inone ini juga spesifikasinya enggak sembarangan. Dia dipersenjatai Intel Core Ultra 735 yang mempunyai 4 performance core dengan 4 LP core dan tentunya punya NPU yang bisa sampai 45 tops. RAM-nya berkapasitas 16 gig LPDDR 5X, jadi pastinya tidak bisa di-upgrade. Sementara SSD-nya di sini udah keisi 512 gig PCI Gen 4X4 dengan speed yang lumayan oke. Performa dari CPU Core Ultra 7-nya di sini kita lihat cukup standar ya. sesuai dengan harapan kita aja karena ini adalah sebuah ultrabook. Tapi buat performa IGP-nya ini lumayan kencang loh. Mirip-mirip sama Zenbook Duo yang kita pernah review. Kita pun nyobain main game wibu gratisan di laptop ini dan memang graphic performance-nya itu lumayan. NTE dapat 57 fps, wering waste 73 fps, dan zenless zone zero itu 56 fps. Namun kalau ditanya soal render time di Adobe Premiere Pro memang CPU dengan 8 core dan 8 th ini lebih fokus ke efisiensi yang di mana Intel itu lebih berfokus kepada naikin performance saat tidak dicoloknya. Dan karena performanya juga gak terlalu mencolok, makanya laptop ini hanya butuh satu fan aja berikut dengan satu heat pipe. Suhu CPU-nya memang sempat mentok di 96 derajat saat full load, namun stabilnya itu di 84 sampai 88 derajat celcius. Ngambil power saat fullo-nya juga enggak gede, bisa berkisar antara 18 sampai 36 watt. Memang ini adalah sebuah CPU yang berfokus pada efisiensi ketimbang performa. Begitu pula dengan suhu surface-nya, bagian keyboard itu jarang banget kena 40 derajat celcius saat lagi full load. Tentunya Vivobook flip begini enaknya dipakai bukan buat kencang-kencengan performa, tapi saat pemakaian sehari-hari. Dari semua aspek yang laptop ini punya, yang jadi favorit gua adalah saat ngetik. Di mana keyboard-nya punya feedback yang ttile buat sebuah laptop. Lalu two inone ini juga punya banyak mode. Bisa dipakai tablet seperti ini, bisa dipakai stand mode atau stand mode yang lebih berfokus pada layar tanpa ada gangguan keyboard. Dan kalau kalian mau yang biasa juga laptop mode tetap bisa. Jadi fungsionalnya banyak enggak cuma sebagai laptop aja. Batery life-nya juga lumayan panjang karena CPU-nya juga enggak boros power. Jadi ketahanan baterainya itu bisa hampir seharian. Dan kalaupun mau bawa chargernya juga enggak berat, cuma 214 gr. Dan ini udah USBC pakai PD. Suara speakernya sih standar. Di sini ada dua down firing speaker yang kalau 100% volume akan distorsi. Namun clarity-nya bagus di sekitar 50 sampai 60%. Untung kualitas speakernya ini terbantu sama aplikasi Dolby Atmos. Tinggal nyalain aja dynamicnya dan udah bisa enjoy. Dan buat koneksinya, laptop 2 inone ini juga udah pakai Wii 7 dan Bluetooth 5.4. Buat kualitas webcam-nya dia ini udah lumayan bagus. Ada privacy shutter juga. Resolusinya udah full HD sampai 30 fps. Terus saturasi warnanya yang gua salut ini juga lumayan bagus. Cuman balik lagi dia itu masih full HD yang kalau menurut gua di harga segini harusnya udah 5 megapel lah minimal. Nah, cuman kalau karena dia ini udah menggunakan Intel Core Ultra yang mempunyai NPU, jadi ada Windows Studio Ef-nya, ada background blur yang sekarang gua udah lakukan dan kalau misalnya enggak dipakai seperti ini, terus ada automatic framing juga dan IC contact ya. Sebenarnya Windows Studio Effect gitu-gitu doang sih. Kalau secara fungsionalitas memang harus gua akuin kalau yang laptop 2 inone itu fungsionalitasnya banyak. bisa ke mode-mode yang tadi kita sudah sebut, terus juga ya fleksibel lah bisa jadi tablet kayak gini atau laptop biasa. Jadi ya tergantung penggunaan kalian. Nah, sementara yang gua sukanya juga dia itu udah diikut sertakan stylus yang sekarang dan ini Asus Pen 3.0 bukan stylus stylusan yang murahan gitu ya. Emang stylusnya bagus dia ada speaker kecilnya dan ada button-nya juga. Pressure-nya juga enak gitu makainya. Dan beruntungnya sih dia ini layarnya itu palm rejection-nya udah lumayan bagus. Jadi ya oke gitu buat makainya. Sementara buat konektivitasnya udah ada Thunderbolt juga jadi ya masih bagus. Ini laptop solid buat dipakai e harian. Apalagi Core Ultra 7 yang 300 sekarang itu lebih efisien daripada yang sebelumnya walaupun mengorbankan Intel graphics power-nya dia. Jadi graphics power-nya agak turun sedikit tapi multicore-nya itu lebih naik. [musik] Tetapi kalau kalian sendiri lebih suka laptop two inone atau laptop yang biasa aja sih?
