HAMPIR NGGA PULANG KE JAKARTA‼️ 150km Melewati Jalan Rusak Pantura Sumba, Tambolaka - Waingapu (YouTube Video)
Ini adalah jalanan terindah di Indonesia. >> Jangan mati dulu sebelum kamu riding di sini. Let's go. [Musik] Di episode kemarin kita sudah menempuh perjalanan dari timur hingga ke barat Pulau Sumba. Teman-teman, perjalanan kita tempuh sekitar 3 sampai 4 jam menggunakan motor PCX 160 roadsink. Kita melewati perbukitan yang super duper indah, jalanan yang benar-benar mulus dan berkelok, hutan lindung yang hijau dan juga melewati waduk yang ternyata keluarnya dari gua. Wow, ini sih keren banget. Benar-benar perjalanan kemarin ini membuka mata gua bahwa Sumba itu beneran indah dan ditutup dengan sunset yang super cantik di bagian timur Pulau Sumba yaitu di kota Tambolaka. >> Hari kedua keliling Sumba. >> Betul. >> Masal emang bujaket sama tas harus sama warnanya. >> Iya dong. >> Jadi hari ini kita mau ke >> mau ke Sumba Tengah. >> Kita sekarang di Sumba. >> Sumba. >> Ke tengah. Berarti kita balik lagi >> balik lagi lewat utara. >> Oh panturannya sini. >> Panturanya sini. >> Berarti ada warung-warung. Ada Marimas. >> Jadi hari ini perjalanan kira-kira 130-an kilo 150-an kilo. >> Kita bakal jalan-jalan pakai PCX 150 roing-nya lagi. >> Yes. >> Masang ini bagasnya udah penuh emang >> udah. Jadi Mas Arif kan nitip di sini. >> Oh Arif tidur di dalam. >> Iya kita buka ya. >> Oh kita buka. 1 2 3. >> Tuh barang-barangnya Mas Arif >> lega ya sebenarnya ya bagus ya? >> Iya lega. >> Cuma karena emang kita touring jadi bawnya lebih banyak. >> Jadi >> tetap harus ada yang di luar. Tapi >> sama laptop juga Masti. Oh, i benar benar, benar. Dan ini sebenarnya kalau baju-baju doang mungkin cukup ya. >> Cukup, cukup banget buat seminggu >> bisa ya. >> Pas banget masang biasanya enggak bawa tas taruh sini baju. >> Oh, benar benar benar. Jadi bagasinya roadsing ini gede juga ya tat ya. >> Cukupan banget lah. >> Cukupan banget lah ya. Terus yang gua suka dari kamera tuh layarnya tuh berwarna guys. >> Iya. >> Terus ada satu fitur yang ternyata hari ini kita bisa pakai karena kepakai banget selain navigasi. >> Oh yang kemarin >> cuaca >> yang kemarin tuh Mas yang lu nelepon gua ada logonya muncul di kan. Terus hari ini kita tahu. >> Heeh. Motornya bisa tahu cuaca 30 derajat. >> Bercerah. >> Yap. >> Jadi memang fitursi tata kepakai ya. >> Cuaca, navigasi, >> ya kan, >> telepon, volume, musik kepakai semua ternyata. >> Jadi motor ini lengkap juga fiturnya. >> Jadi ini sekarang kita mau jalan jam >> sebentar lagi, >> bentar lagi ya. >> Oke. Jadi sekarang waktunya kita jalan teman-teman. Bismillah. >> Semoga aman-aman. >> Amin. >> Bismillah. Let's go. >> Perjalanan di hari ini kita mulai sekitar jam 800.00 pagi. Bagaimana rute yang akan kita tempuh? Bagaimana kondisi jalanannya? Apakah kita akan menemukan pemandangan yang indah? Ikutin terus videonya karena ini akan menjadi video perjalanan yang super seru. >> Bismillahirrahmanirrahim. Menuju ke Sumba Tengah 130-an kilo sampai 180 kilo lah sehari. Jadi emang bukan touring yang jarak jauh banget sih sebenarnya. Tidak. Berbeda dengan rute yang kemarin teman-teman. Kalau rute kita dari timur ke baratnya Sumba. Kita kemarin ngelewatin jalan Transumba lah ya. Jadi jalan utamanya ya kan. Nah sekarang arah sebaliknya dari barat ke timur kita menggunakan rute jalan bukan jalan lintas jalan apa ya sebutannya ya. Pokoknya bukan jalan lintasan. Jadi lebih kecil ya kan. Mark jalan juga lebih terbatas. Kondisi jalan mulus cuman tentunya tidak semulus kemarin ya kan tapi memberikan ee nuansa yang berbeda ini lebih ngerasain nih oh pedalaman sumba tuh kira-kira kayak begini ya gitu. Kalau kemarin kan benar-benar jalan gede ya kan. >> Gua kira perjalanan hari ini akan berjalan dengan mulus. Setidaknya sama seperti kemarin di mana kita menemukan jalanan yang indah, mulus tidak ada kendala. Tapi ternyata hah habis aspalnya. >> Iya, >> jadi aspalnya habis ternyata. Wow, menarik banget. Jadi aspalnya beneran habis tapi harusnya ada jalan kok ke sana. Definisi nyasar gak apa. Oke, kita balik arah Dad. Kita setengah offroad, Guys. Set, set. Oke, kita lewati tapi Kita lewat mana jadinya? Seru sekali. Jadi tadi kita sepertinya dibelokkan ke jalan yang salah oleh Google Maps. Bagus banget. Jadi kita sekarang mau coba jalan yang lain. Kayaknya benar. Hopefully benar lah ya. Jalannya tadi agak jelek. Oke, yang ini lumayan bagus. Wah, ini baru adventure nih. Kita enggak tahu apa-apa lewat mana. Enggak tahu bener apa salah. Gas aja. Bermodal nekad, akhirnya kita mencoba jalan satu ini, Teman-teman. Dimulai dengan kondisi jalan yang ternyata kurang begitu mulus dan menanjak. Kita masih belum tahu apakah nanti sisa jalanannya akan tetap seperti ini. Tapi setidaknya kita disuguhi oleh pemandangan yang super indah. Mungkin karena jalanan sini jarang dilalui, jadi alamnya masih sangat-sangat perawan dan kita menemukan beberapa kali binatang wiaraan yang ada di tengah jalan dan juga memberikan kita kesempatan untuk berintasi dengan warga lokal di Sumbaini. Jadi kita istirahat dulu di antah-berantah. Di mana kita? >> Di itu Momboru. >> Momboru. >> Momboru. Karena kebetulan sudah enggak ada restoran lagi di sini. Enggak ada. Warung pun tidak ada. Eh warung ya. Warung ada buat beli mie. Terus kita kebetulan bawa chef Chef Adi dengan segala peralatan masaknya ya kan. Mas >> gini dong garamnya ginilah. Woi, >> nice. >> Jadi kita kebetulan numpang di salah satu gazebo pondok rumah dioreng. >> Tapi yang terbaik adalah >> views-nya. >> Ini views-nya sangat-sangat cakep ya. Jadi ini eh lunch with a view ya. >> Jadi ini lunch with a view. Perjalanan ke Desa Adatnya pasti 2 jam. >> Oke. >> 1 jam 40 menit. >> Iya. 2 jam. >> 1 jam 40 menit. Dari dari situ sampai w ngapu masih sejam lebih masih lama perjalanan kita ya. >> Betul. Beginilah kita terbayar sama view. >> Oh benar benar benar. Nanti bayar nanti bayar chef adinya pakai apa? >> Disembah. >> Disembah. Makasih. >> Makasih chef. >> Par ya. >> Kata-kata hari ini apa, Chef Adi? >> Laper. >> Untungnya tim Masrang membawa peralatan yang lengkap. Walaupun piringnya cuman satu, jadi kita tetap harus gantian nih makan siangnya. Tidak berselang lama, akhirnya kita melanjutkan perjalanan lagi melewati jalanan Pantura Pulau Sumba. Siapa sangka ternyata kita dibawa ke sebuah jalanan yang indah banget. >> Kita beneran berada di atas punggung bukit gitu, Guys. Ini kalau kiri kanannya enggak ada tanamannya sih view-nya bagus banget. Lapang banget. Ini sebenarnya jalannya lebar nih, cuma karena jarang dilaluin, jadi semak-semaknya tumbuh. Wah, bagus sekali. jalanan yang indah tadi membawa kita ke pinggir pantai. Sayangnya jalanan di pinggir pantai sini berbeda dengan keadaan jalan sebelumnya yang mana di sini jalanannya cukup jelek, Teman-teman. Bahkan bisa dibilang tidak terawat. Jalanan yang cukup jelek ini terpantau sekitar 20 hingga 30 km ke depan, Teman-teman. naik turun semuanya jalanannya berlubang, berdebu, dan juga berpasir. Jadi kalau kalian riding di sini, gua sarankan kalian harus berhati-hati walaupun memang pemandangannya sekali lagi indah sekali. Setelah beberapa jam melewati jalanan yang jelek, akhirnya kita tiba ke salah satu tujuan kita di hari ini, Teman-teman. Sekarang kita offroad sedikit, Teman-teman. Jadi ada satu desa adat di sini yang kalau di Google tulisannya tuh earliest settlement di Zumba. Jadi kayaknya orang pertama yang sampai di Sumba desa ini gitu loh. Apakah betul? Enggak tahu. Jadi kita sudah tiba di pintu masuknya Desa Adat Wangu kalau enggak salah namanya. Motor cuma bisa sampai sini. Ini kata kita masih naik tangga. Cukup keren ya. berbeda. Tapi kita masih naik tangga nih, Teman-teman. Wunga, sori nama desanya Wunga masih ada 180 m. Anda kuat, RIP. >> Kuat. >> Oke, mari kita naik ke atas yuk. Bismillah. Ini pernah diurus nih benar soalnya ada tusan welcome-nya ya kan. Oke, mari kita cek ke atas. Kok enggak enggak kayak enggak ada tanda-tanda kehidupan gitu sih? Kosong, RIP. T masih ada rumahnya. Asalamualaikum. Kosong. Udah lama enggak kepakai nih ya. mungkin bangunan baru. Jadi katanya emang daerah sini itu dipercaya sebagai tempat pertama kalinya orang Sumba pendatang dari luar Sumba bikin settlement kependudukan tuh daerah sini. Cuma kalau ngelihat dari bangunannya sih kayaknya itu bangunan baru. Jadi semacam direinkarnasi lah ya. Nah, ini tipical-tipical masyarakat Megalitikum tuh banyak batu-batu gede kayak gini disusun nih. Cuman gua juga enggak tahu nih asli dari dulu apa enggak. Sayang banget. Padahal ini keren loh. Padahal ini keren banget. Pintu masuknya dua pohon itu keren deh. Keren banget. Oke. Waktunya kita kembali ke kota Waingalpu. Semoga jalanannya mulus terus ya. Gila landscap-nya di sini ajaib banget sih. Gua enggak tahu udah ngomong berapa kali tapi emang landscape-nya sini sangat familiar sama dengan yang ada di Mr. Oke, tadi mulus, sekarang rusak lagi. Wah, indah banget. Parah indahnya, Guys. Huh. Sudah sampai di pantai Wala kanan, >> Wala. >> Wala kiri. >> Kiri. >> Sangat indah ya. Sepi ya? Sepi. Sepi. >> Sumba tuh relatif kayak gini ini ya. >> Kayak gini. >> Enak sih. >> Kayak seperti pantai yang kemarin, Mas. Itu juga sepi kan. >> Ini menyenangkan sekali. Pas lagi surut lagi ya. >> Iya. Jadi kita bisa main ke sana. >> Wow. >> Dari terumbu karang. >> Terumbu karang. >> H. Karangnya Karang Bolong. >> Oh. Wow. Kita ke sana aja yuk. Ke pantai aja >> pantainya. Tapi enggak boleh masuk kendaraan ya? >> Enggak boleh. >> Mungkin sebelah sana masih boleh. Gila nih kosong segini panjang. >> Yo. Ih. Parah ya. >> Wah. Kita bisa aja nurunin kendaraan, tapi kan malas banget naikin ya. >> Tapi ya mungkin sebelah sana masih bisa tuh. >> Masih bisa tuh. >> Pantai >> pasir putih bersih. Bersih loh >> lembut loh. >> Wow. Sama tangannya Mbak Nindi lembut mana? >> Ee pasir Mbak Nindi. >> Hampir salah ngomong kamu sampai enggak dapat izin touring lagi. >> Jadi ini kira-kira setengah jam dari >> Wingapu. >> Setengah jamnya sini. Setengah jam jarak ya teman-teman. 15 km. >> Iya. Betul. >> Bukan sengaja jamnya Jakarta. Jadi kayak gini agak salah dadanan gua. >> Kurang dia pakai rompi >> pakai vest. Heeh. >> Gua harusnya pakai rompi nih. Sengal pakai vest. Kita ke tengah aja kali ya. >> Boleh. Yuk. >> Masaran dulu terakhir ke sini ke sini juga? >> Ee main ke sini juga tapi waktu itu lagi ramai banget karena musim liburan kan Mas Dim. >> Tapi waktu itu seramai-ramainya sini kayak gimana? Rame >> sepi. Seramai-ramainya sini sepi. >> Ini maksud I maksud gua apakah kemudian ada sound-sound berisik atau gimana? >> Enggak ada. Enggak ada sama sekali. Ya udah begini aja nih ambience para wisatawan luar, bukan wisatawan lokal. >> Dan ini lautnya surutnya pecahnya di tengah sana loh. >> Iya. Jauh langsung jauh. >> Gila, seru banget. Dan masuk sini juga enggak ada retribusi tadi ya? >> Enggak ada. Enggak ada retribusi, Mas. Emang jadi beberapa tempat di sini itu emang minim retribusi. Andaikan ada retribusi hanya buat kebersihan. >> Benar. Benar. Jadi ini amazing sekali ya. Itu tiba-tiba ada rumah di tengah laut itu. Ngapain nih dia >> itu kayaknya nelayan enggak sih, Mas? >> Betul sebenarnya cuma nelayan ya. Kan sekarang udah gantian gua ikut Mas Rang touring. >> Oke, gantian. Habis ini Mas Rang akan ngikutin salah satu kegiatan kita yang Mas Rang belum merah. Scuba diving. >> Masang mungkin udah lebih jauh motoran daripada kita. Tapi Mas belum pernah ke bawah laut. >> Betul. Betul. >> Jadi kita akan nantangin Mas Rang untuk ikut s diving. Saya kok bisa berenang? Kan >> bisa. >> Snoking pernah. >> Pernah. Yang enggak yang enggak kuat free dive se. >> Tapi scuba diving belum pernah kan? >> Belum sama sekali. Nanti kita akan bikin vlog pertama Masrang bawah laut bareng sama kita, Guys. Yatin aja nanti akan gua ajak lihat aja. >> Itu kan salah satu hobi yang mahal ya, Mas Din. Bisa dibilang >> ya lumayanlah. >> Lumayan. Hari terakhir di Sumba. Hari ini kita mau mencoba mencari jalanan terindah yang ada di Indonesia. Jalanan yang ramai banget orang omongin. Perjalanan kita mulai sekitar subuh untuk menemukan jalanan ini, Teman-teman. Apakah memang benar jalanannya seindah itu atau ini hanya gimik semata? Mari kita cari tahu bersama. Wow, wow. Ini bagus banget. Ini sebagus itu, Teman-teman. Wah, gokil. Wah, ajaib banget jalanannya. Gila, landcap-nya bisa ada yang begini ya. Wah, guys, benar sih. Kalian harus nyobain si riding di sini. Masuk musim kemarau gini makin cantik lagi sih. Dan ini bahkan belum sampai tujuannya nih. Wow. Kayak harus nyobain pas lagi sunrise. Cahayanya itu bukan kuning tapi kayak ke pink gitu loh. Magenta. ini keren banget. si Jadi sekarang kita di mana, Mas Rang? >> Ini di Bukit Hiliwuku. >> Hiliwuku. >> Yes. Mas >> Rang sudah berapa kali ke sini? >> Ini yang kedua. >> Ini sebagus ini ya? >> Ini ini belum jalanan yang terindah itu kan? Belum. Ini baru opening. >> Oh, ini baru opening nih. >> Baru opening. >> Dan ternyata enggak jauh dari Wengapu >> Enggak begitu jauh. Jalanannya juga enak kan? >> Jalanannya enak. Mungkin bisa dibilang K menurut tadi 90% mulus lah ya. >> Mulus. Tapi >> ada lubang beberapa I ya. Ada lubang beberapa tapi enggak banyak ya. >> Dan sepinya kebangetan ya. >> Oh parah. >> Kita nyetel musik di sini kedengarannya sampai kecamatan sebelah Mas Dim. >> Parah. Tadi kita ke sini nyalip mobil cuman tiga atau empat kali kayaknya ya. Seepi itu ya. >> Sap. Shap-nya cantik ya, Mas Dim. >> Parah. Dan kalian harus ke sini pagi sih biar enggak ada bayangan-bayangan gini. >> Masal ke sini terakhir sunrise apa sunset? >> Dua-duanya udah sunrise. Sunset. >> Oh iya. >> Heeh. >> Bagus mana? >> Bagus sunrise. >> Bagus sunrise kayak gini. Karena kalau sunset nanti ini jadi shadow, Mas. >> Oh ya ya ya. Berarti kalau bawa sei enggak kelihatan ya. >> Ah dia sunr juga enggak kelihatan. >> Udah anaknya enggak ikut masih diomongin lagi. Maaf ya Sam. Tapi ini ini enggak ada pintu masuk, enggak ada apa-apa ya? >> Enggak ada Mas Dim. Enggak ada retribusi. Masih benar-benar secantik dan seperawan ini. Masang sih berharap akan gini terus ya kalau bisa. >> Kalau bisa gini terus ya. >> Tapi kita sebagai pengunjung juga dijaga. >> Benar. >> Tapi pricing ya ada si apa sedikit tapi sedikit banget ya. >> Iya dikit banget. Dan satu hal jangan ada love-lovan tuh Mas Dim. >> Oh ini yang ada panggung kayu ada pelangi itu tu. Aduh kureng banget tuh jadinya. >> Parah parah. Tapi ini boleh ke sana tuh ya? >> Boleh. Boleh banget >> kita ke sana boleh enggak? >> Boleh dong. Coba kita >> Mas Dim >> ya. >> Ngeres dulu. Ngeres ngeres di pos satu. >> Wah si anak gunung banget tuh. >> Bentar lagi udah udah puncak kok. >> Ayo kita lanjut yuk. Bentar lagi udah puncak. Hah. Hah. Hah. Wah cantik di sini. Gila, kosong banget ya. >> Wow. Gila, ini kosong banget ya. Sejauh mana gua tidak melihat ada manusia. >> Betul. Gila, Guys. Seja mana enggak ada manusia sama sekali di sini. Kayaknya sekosong itu ya, Sumba, ya. >> Yes. Betul. >> Ini saking saking di sini coklat semua ya, Guys. Ada sekelompok bunga ini. >> Betul. Jadi kontras. >> Jadi kontras banget dibanding semuanya. >> Jadi kontras. >> Di sini enggak ada yang jual canki gitu? Enggak. >> Enggak ada, Mas. Tapi enggak. Kalau kita lurus lagi >> itu ada Jo. >> Oh, bagus bagus. J kepikiran gua gak kepikiran. Di sini alamnya beneran beda banget, Guys. sama apa yang biasanya kita lihat kalau di ibu kota ada SMP Negeri 1 Ataf Diliwuku. Apakah ini tujuan yang kita cari selama ini? Hah, bagus banget tebingnya tuh loh. Itu benar-benar di atas bukit tinggi banget. Jurang kiri kanannya tuh tinggi banget. Benar-benar topografinya di sini nih seaneh itu, sectantik itu. Oh Jadi ternyata ini yang orang banyak bilang jalanan terindah di Indonesia. >> Salah satu yang terindah. >> Salah satu yang terindah. Walaupun sebenarnya gua mesti ngakui kayaknya gua agak sedikit salah sih, Mas Rang. >> Kenapa tuh? >> Karena ternyata jalanan sesumba indah. >> I setuju. >> enggak cuma di sini ya? >> Enggak cuman di sini ternyata. Mungkin ini di sini yang paling sering terekspos kali ya. >> Karena jarak dari Wapu dekat ya kan. Jadi enggak effort >> terus relatif mulus. >> Jadi mungkin ini paling mudah diakses. Makanya kenapa paling viral lah ya. >> Iya >> ya. Tapi ternyata setelah 3 hari kita keliling Sumba mengikuti gaya Masr. >> Sumba itu memang ternyata indah semua >> Benar >> ajaib banget. Dan ini kalian bisa lihat sesepi ini. >> Enggak ada motor mungkin ada satu mau lewat tapi masih jauh di sana ya kan? >> Jadi emang benar kata Mas Rang sih sebelum mati harus riding sekali lah di sini. >> Betul. Di sini minimal sekali Mas se umur hidup >> minimal sekali lah ya. Di Sumba sini kan. Ini mumpung kita lagi di sebelah motornya. >> Heeh. Kalau menurut gua pribadi, sebenarnya gua suka sih touring di sini pakai si PX 160 roing nih. >> Soalnya enggak ngerepotin >> satu >> parkir tinggal parkir. >> Ee terus tenaganya ternyata cukup buat jalanan yang seperti ini. >> Yes. Pas >> pas ya kan tenaga cukup, pengereman cukup, bagasi gada ada, fitur juga cukup. Kalau menurut Mas Rang, >> kalau menurut Masrang karena Masang sekarang pengguna iPhone jadi roadsingnya berguna banget. >> Oh roingnya berguna banget. >> Iya roingnya berguna banget. Benar-benar salah satu kelebihannya juga di sini riding menurut gua adalah enggak butuh motor gede ya. >> Nyalip juga enggak nyalip. >> Iya kan? >> Benar. Dan dan maksudnya atitudnya juga sopan orang sini Mas. >> Semua sopan. Dari tadi enggak ada yang enggak kelakson. >> Bahkan tadi kita disamperin salah satu guru, ya. >> Iya. Guru. >> Guru di SMP di atas sana. >> Dia berhenti emang pengin ngobrol aja sama kita. Jadi emang ramah-ramah di >> seramah ini. Berarti kan paradigma orang >> sana tuh salah ya Mas Dim. >> Heeh. Teta, kalian memang harus langsung ke sini nyobain Sumba. >> Riding di sini, liburan di sini. Heeh. >> Ternyata lebih indah dari yang gua bayangkan. Terima kasih loh, Mas Rang, saya sudah diajak ke sini. >> Pesan Mas Rang satu, Mas Dim, buat penonton Mas Dimas >> apa? >> Jangan pernah percaya apa kata Masang ataupun Mas Dimas sebelum kalian buktiin sendiri ke sini. >> Anjay. Jangan lupa diike, jangan lupa subscribe. Saya Safe di jalan. I'll see you next video, guys.
