Hape Foldable Terbaik Motorola 2026: Review Moto Razr Fold (YouTube Video)
Ini adalah smartphone lipat model F atau yang berlayar besar. Yang pertama dari Motorola. Bodinya lumayan tipis nih, tapi baterainya termasuk yang paling besar di kelas Fable. 6000 mAh. Kameranya juga serius banget ultra wide normal sampai telefotonya semuanya 50 megapel semuanya autofokus. Bahkan kameranya ini sampai dapat sertifikasi dari DX OM. Ada layar cover yang bisa terang banget dan refresh-nya tinggi sampai 165 Hz. Update OS-nya apa? 3 enggak 7 tahun yang satu nih. Softwaren-nya juga dijanjikan tetap kayak fitur produktivitas ala Motorola. Akhirnya ada angin segar ya dari persaingan untuk difoldable. Jadi isinya enggak cuman dia-ia lagi gitu ya. Tapi apakah HP flagship foldable ini cocok buat kalian? Simak dulu review kami kali ini. Ya, Razer Fold ini sebenarnya namanya yang cukup unik ya. Selama ini Razer ya RAZR itu identik dengan desain flip atau clamp shell. Tapi sekarang Motorola memperluas lininya dengan model lipat yang fold gini yang besar gini ya. Razer FT diposisikan sebagai flagship foldable paling atas dari Motorola langsung menyasar segmen foldable class premium. Fokusnya di layar besar, baterai jumbo, dan fitur produktivitas. Persaingan seperti apa yang diberikan oleh Motorola kali ini? Nah, kita lihat dari paket penjualannya dulu ya. tentunya dalam paket penjualnya ada unit smartphone-nya dan masih ada chargernya, masih ada chargernya, masih ada chargernya. Ini adalah charger 90 watt dengan kabel USB type C di sini. Lalu ada case juga ya, masih ada case-nya, ada sim tray ejector dan paket dokumen. Nah, dari segi desain, Razer VT ini tetap menggunakan bahasa desain yang mirip dengan semua lini Motorola yang ada saat ini, terutama di sisi modul kameranya. Kalau kita lihat sebelahan sama Motorola Signature. Jadi, mirip banget kan ya. Nah, ada yang bilang kayak kompor, ada yang bilang kayak kemasan obat. Ya, tapi itu masalah selera lah ya. Buat kami ini adalah konsistensi yang membuat desainnya berkarakter. Dan sebetulnya sih ya mungkin yang ngomong-ngomong kayak begitu pengin tapi enggak kesampean ya enggak. [tertawa] Nah, untuk opsi warnanya itu ada dua. Yang pertama adalah panton lily white seperti unit yang kami pakai ini. Lalu ada juga panton black and blue yang kalau dilihat sih ini sebetulnya kayak hitam ya sebetulnya ya. Nah, material back cover ini agak beda tergantung warnanya. Untuk lily white itu pakai polikarbonat. Sementara untuk black and blue itu pakai vegan leather dengan tekstur anyaman. Untuk c frame-nya ini dari metal ya. Nah, dalam kondisi tertutup tingginya 160,05, lebar 73,6 mm, dan tebalnya di 10,04 mm. Bobotnya ada di kisaran 243 gr. Saat digenggam dalam kondisi tertutup, rasanya seperti lagi pegang smartphone biasa yang nonfoldable aja. Body juga terasa premium ya berkat frame metalnya. Saat dibuka bodinya jadi tipis banget. Tinggi 160,1 mm lebar 144,5 mm dan tebalannya cuma di 4,7 mm. Rekor untuk Vable tertipis sekarang tuh sekitar 4,2 mm ya untuk yang resmi Indonesia ya. Tapi ya 4,7 mm tergolong tipis loh. Itu depannya sama-sama 4 loh. Belakangnya itu udah koma loh 0, mm. Itu kecil banget bedanya ya. Bodinya juga udah disertifikasi IP46, IP48, dan IP49 ya. Jadi ini untuk ketanan debu dan cipratan air. Bahkan bukan cipratan kalau sudah 48 dan 49 itu sudah tahan kecemplung dalam air dan tahan disemprot sama air. Tapi seperti biasa walaupun dia punya rating untuk tahan diceburin dan tahan disemprot dengan air panas pun ya tolong jangan iseng dibawa berenang apalagi di air laut dan jangan juga iseng tiba-tiba mungkin dicuci pakai steam. Jangan jangan jangan jangan iseng. Ini bukan motor kalian ya. Sekarang mari kita lihat sisinya dalam kondisi terbuka. Di kanan ada tombol power sekaligus fingerprint scanner. Lalu ada tombol volume up and down. Di atas ada mikrofon dan grill speaker stereo bagian atas. Di kiri ada AI key, sebuah tombol khusus untuk memanggil moto AI. Di bawah ada grill speaker, ada sim tray. Ini single SIM ya isinya ya. Ya, untuk SIM fisiknya cuma bisa satu. Nah, kalau butuh dua nomor gimana? SIM keduanya itu bisa pakai isim. Iya. Jadi tetap bisa dua nomor di sini. nih. Nah, di sebelah slot SIM ini ada mikrofon dan ada port USBC 3.2 sekaligus display port 1.2. Artinya kecepatan transfernya kencang dan punya kemampuan display output ke monitor atau proyektor. Dari segi audio, speakernya udah menggunakan dua speaker di atas dan di bawah. Untuk sebuah smartphone tipis, kualitas audionya cukup mengesankan menurut kami ya. Suaranya lantang, jernih, dan rapi. Walaupun untuk mendengarkan musik yang ramai sekalipun masih oke banget. Nah, sekarang kita lihat sisi layar utamanya. Ini adalah layar yang kalau dibuka itu ukurannya 8,1 inci diagonalnya ya. Untuk resolusi 2.484 * 2232 piksel. Aspek rasionya adalah 8 b,2. Jadi hampir kotak banget di sini ya. Untuk refresh set-nya up to 120 Hz. Sejak pengujian kami refresh setnya itu adaptif dari 1 sampai 120 Hz. Dia sudah pantun validated color. Dia support 10 bit color 100% DCIP3 Dolby Vision dan HDR 10 Plus. Dia diklaim mendukung brightness up to 6.200 nits. Nah, kalau kami uji di kondisi indoor, indoor ya, dia mencapai kisaran 500 nits. Untuk simulasi outdoor dia mencapai di kesaran 1500 nits. Angka klaim yang tadi itu biasanya cuma untuk pengujian khusus ya, hanya untuk titik tertentu saja dalam kondisi HDR ya. Ini bukan untuk kondisi umum dan 1500 itu udah tinggi banget sebetulnya. Nah, dari segi warna layar tersedia tiga mode warna, ada natural radian dan ada vivit. Natural tuh diarahkan ke 100% sRGB. Ini cocok buat ngedit konten nih. Radian diarahkan ke 100% DC IP3. Ini cocok buat nonton film, main game. Ah, seru bangetlah, guaeng lah ya. Sedangkan kalau untuk Vivit Color itu gamot coverage-nya di 99,9% di CP3 dan volumen-ya di 134% d IP3. Secara kasat mata Vivit ini memang super gonjreng warnanya ya. Menurut kami mode ini cocoknya buat kalian yang suka warna yang sangat-sangat mencolok ya, pekat di mata gitu ya. Apa yang kita tuh bisa lebih cerah dibandingkan warna aslinya. [tertawa] lebih berwarna daripada warna aslinya gitu. Nah, di sini kalau kita lihat ya yang kami apresiasi banget dari layar utamanya ini adalah posisi kamera selfie-nya. Posisinya itu ada di pojokan ya. Ini bikin pengalaman nonton video itu jadi enggak terganggu titik hitam di tengah-tengah layar gitu ya. Nah, untuk kamera selfie-nya sendiri ini adalah kamera 32 megapel bukan F2.4 dan punya sudut pandang yang cukup lebar ya. Ekivalen di lensa 22 mm. Lensanya ini fixed focus perekaman videonya tapi up to 4K 60 fps. Gak kaleng-kaleng juga. Sekarang kita beralih ke sisi layar covernya atau layar yang luarnya. Layar yang lebih kecilnya ya. Di sini layarnya ini adalah layar 6,6 inci. Resolusinya 2520 * 1080 piksel. Aspek rasionya 21 b 9. Refresh set-nya up to 165 Hz. Sejauh pengujian kami refresh itu adaptif 1 sampai 165 Hz. Sudah pantun validated color mendukung 10 bit color 100% DC iP3 Dolby Vision dan HDR 10 plus juga. Ya, hasil tes layarnya itu cenderung mirip dengan layar utamanya tadi dari segi brightness sampai color gambutnya. Perbedaannya hanya kami temukan di mode warna vivit di mana layar covernya diarahkan ke kisaran 116% di CP3. Teoris enggak segonjreng layar utama tadi ya. Tapi kalau dari penilan subjektif kami tuh tetap sangat berwarna. [tertawa] Apapun di atas 100% di ZP3 tuh sangat-sangat berwarna. Di ZP3 aja udah berwarna banget ya. Layarnya ini bukan layar yang flat ya. Kalau dilihat dari dekat ada lengkungan sedikit di keempat sisinya. Nah, kalau kalian butuh banget screen protektor ini semoga beruntung ya, bisa dapat yang pas ya. Tapi di satu sisi lainnya ini juga buat navigasi menggunakan gester jadi lebih nyaman sebetulnya swipe dari kiri atau kanan atau swipe dari bawah atau atas layar ini rasanya smooth banget. Nah, jadi masih ngomongnya soal layar ya. Sebenarnya Motorola Razer Fultung sty ultra ya, baik untuk sisi cover maupun layar utamanya. Gua pernah nyoba waktu di CS dulu ya. Tapi sayangnya untuk Indonesia itu tidak diimpor secara resmi atau paling enggak belum diimpor secara resmi untuk sekarang. Jadi kalau butuh banget Motopen Ultra kita harus cari sendiri di luar negeri gitu ya atau berharap ada toko Indonesia yang ya jual atau bantuin Justitif mungkin. Oke kita lanjut di sisi L covernya. Ini juga ada kamera selfie 20 megap F2.4 fix fokus. Perekaman videonya up to 1080p 60 fps. Sekarang kita beralih ke sisi back covernya belakang ya. Ya, ini ada LED flash dan tiga kamera belakang atau kamera utama yang ada dalam satu modul. Kameranya terdiri dari kamera utama 50 megapel, sensornya Sony Lia 828. Ukurannya 1/1,28 inci, bukannya F1.6. Lumayan lebar nih ya. Ini autofokus pakai optical stabilizer. Perekamannya up to apa 4K enggak, 8K 30 FPS. Lalu ada kamera ultrawide 50 megap field-nya 122 derajat. Jadi lebar banget nih ultrawide-nya ya. Tulisannya 0,5 ya. Jadi lebar banget memang ya. Bukannya f2.0 ini udah autofokus juga. Berkaman video up to 4K 60 fps. Lalu ada juga kamera telefoto tiga kali optical zoom ini 50 megapel juga bukannya F2.4? Autofokus optical image stabilizer. Harus dong. Oh yes di sini ya. Berkaman video up to 4K 60 fps. Untuk fitur ekstrak kameranya ada banyak, tapi yang spesial di sini ya, di sini ada juga fitur stabilizer yang horizon lock itu ya. Kalau diperhatikan detail kameranya ini mirip banget ya dengan Motorola Signature yang pernah kami review belum lama ini ya. Enggak cuma terlihat menjanjikan dari segi hardware, tapi motornya juga menggandeng panton untuk validasi skin tone. Dan kameranya udah dapat sertifikasi DxOK gold label yang diklaim jadi salah satu kamera foldable terbaik saat ini. Oke, sekarang kita beralih ke spesifikasi internalnya. SOC atau chipset atau prosesor pakai snapdagon 8 Gen 5. Iya, ini berarti dia akan punya performa yang mirip dengan elite ya. Enggak kencang banget ini. RAM-nya 12 GB LPDDR 5X storage-nya 256 GB, UFS 4.1. sayangnya versi 512 dan 1 TB enggak hadir resmi ke Indonesia. Ya, ini mungkin karena masalah harganya juga yang mungkin akan lompat jauh banget tinggi ya. Takutnya entar kalian cuma ngomong doang tapi enggak beli. Jadi biar pasti ada yang ngambil mungkin yang bilang 256 ya. Untuk baterai 6000 mAh silikon karbon ya. Jadi tentunya itu yang menyebabkan dia masih bisa slim ya. Untuk charger 80 watt dengan kabel dan support 50 watt untuk wireless charging. Walaupun charger bawnya 90 watt, tapi smartphone-nya sendiri maksimum di 80 watt. Jebol enggak, Bang? Enggak, enggak. Tenang, tenang, tenang. Kan untuk ngechas itu harus ngobrol ya. Ee si handphone-nya akan bilang, "Eh, Bang Charger 80 aja ya. Lu bisa 90 kan? Tapi gua minta 80 aja." Gitu. Oke, lanjut untuk sensor proximity sensor ada di sini. MB Led sensor ada accelerometer ada SAR sensor dan regulator sinyal magnetometer. Gyoscope hardware juga tentunya ada di sini. Untuk security dia punya side mounted fingerprint scanner ya. Fingerprint scanner di samping ya. Lalu ada face unlock juga. Untuk kektivitas tentunya udah 5G, 2G, 3G, 4G, 5G bisa semuanya. Dia support isim untuk SIM kedua. Dia punya Wii-nya udah Wii 7, Wii sharing udah bisa. Bluetooth-nya Bluetooth 6, Bluetooth code-nya lengkap selengkap-lengkapnya dibaca aja di sini ya. lengkap ini. USB OTG tentunya bisa. NFC ada display output via USBC juga bisa. Enggak cuma mirroring, tapi juga bisa ada berbagai macam fungsi. Nanti kita bahas di bagian OS, yaitu sekarang kita bahasnya. Oke, di sini OS-nya adalah Hello UI dengan basis Android 16. Untuk update OS dijanjikan 7uh kali Android update. Benar, 7uh kali Android update dan ada 7 tahun security update. Ini luar biasa panjang. Dari segi tampilan sekilas seperti vanila Android ya atau Android polosan. Aplikasi bawan ada tapi terlihatnya sedikit gitu ya. Sebagian ada yang bisa diunin sebagian ada yang enggak bisa juga. Setidaknya sejauh ini UI-nya bersih dari iklan ya. Tapi kalau kita bedah di dalamnya tuh ada banyak fitur. Fitur yang paling unik ada di kemampuan display out-nya. Mungkin ya saat dihubungkan ke layar eksternal kita akan masuk menu yang namanya Experience Hub. Di sini kita bisa pilih mode mobile desktop, TV, video chat atau game. Jadi layar eksternal ini bisa menampilkan konten yang berbeda dari smartphone. Ini fitur yang sama persis seperti di Motorless Signature yang kemarin. Belum lagi kalau dikombinasikan dengan fitur-fitur smart connect seperti drag and drop file ke laptop Windows misalnya, menampilkan dan mengendalikan isi layar smartphone ke laptop atau ke PC desktop kita. Nah, ini bikin smartphone jadi webcam juga bisa. fitur-fitur yang ada di sini itu bikin smartphone foldable ini jadi alat produktivitas yang sangat menarik dan fungsional banget. Nah, untuk galeri bawaan Moto menggunakan Google Photos ya. Jadi bukan enggak ada galeri bawaannya itu Google Photos tuh galeri kan ya. Jadi untuk yang cari fitur-fitur editing AI ada di sini ya. Sisi positifnya pakai serba Google adalah enggak redundant atau enggak dobble-dobble aplikasinya, enggak ngabis-ngabisin storage lah istilahnya ya. Motorl sejauh ini selalu mengadakan aplikasi Google ya untuk keperluan-keperluan yang esensial memang ibarat kata Google-nya udah ada, ngapain moto harus bikin lagi? Mendingan optimalin yang lain atau tambah fungsi yang lain. Lalu untuk browser di sini ada Google Chrome, file manager ada Google Files. Untuk galeri tadi pakai Google Photos. Nah, kalau dirasa Google Photosnya kurang cocok, kita tinggal instal galeri yang third party dari Play Store. Ada banyak kan pilihannya ya, kan GMS-nya natif ya. Google Play Store-nya beneran bukan akal-akalan. Jadi, ekosistem Google-nya berjalan dengan super lancar di sini. Lalu kalau butuh trend, kita juga bisa pakai aplikasi recorder suara bawaan. Ini udah ada fitur deteksi bahasa secara otomatis. Misalnya kita pakai bahasa Indonesia, nanti EI-nya bisa mengenali dan dari rekaman suara yang kita buat akan ada versi teksnya juga. Nah, karena ini smartphone foldable tentunya ada fitur-fitur spesifik untuk menunjang pengalaman pakai sebuah smartphone foldable. Contohnya satu, apakah ketika dibuka dengan kemiringan sekitar 45 derajat layar akan langsung pindah ke dalam atau layar covernya tetap nyala? Ternyata tetap nyala ya. Nah, jadi ini membuatnya cocok untuk diletakkan di meja sambil nonton video atau film. Bahkan di Motorola ini cukup canggih. Fungsi pindah layar ini juga tergantung dengan orientasi penggunaan kita. Kalau smartphone-nya mendeteksi kita lagi pasang di landscape, maka ketika buka smartphone layar tidak akan langsung pindah ke layar yang bagian dalam. Tapi kalau orientasinya itu lagi berdiri atau portret, tampilannya akan langsung pindah ke layar yang dalam. Nah, bisa dilihat saat kita buka layarnya dan diposikan seperti ini, fungsi pindah layar akan berbeda-beda tergantung orientasi dari smartphone-nya. Ini hal kecil, tapi menurut kami bisa membuat pemakaian sehari-hari terasa jadi lebih praktis aja. Lalu di Hello UI untuk moto Razer Fultur, ini fitur yang wajib ada ya kalau kita pakai foldable ya. Fitur ini akan otomatis muncul ketika kita pakai layar utamanya. Ini sangat memudahkan kita untuk multitasking dan pindah-pindah aplikasi. Kemudian ada juga fitur split screen untuk membuka dua aplikasi bersama untuk sisi kiri dan kanan layar. Caranya bisa dengan tahan icon aplikasi dari TasB dan pilih icon split screen. Lalu bisa juga dibuat untuk mode floating Windows ya. Apakah bisa menggunakan kamera utama untuk selfie? Tentunya bisa. Dari menu kamera kita tinggal tekan tombol yang satu ini. Nah, nanti kita bisa pindahkan preview kamera ke sisi cover screen. Nah, dari sini kita bisa selfie atau ngonten pakai setup kamera belakangnya ya. Framing-nya juga jadi lebih mudah kan kalau seperti ini ya. Nah, kemudian fitur app continuity ini juga tersedia. Jadi misalnya kita lagi buka sebuah aplikasi atau game di cover screen, kita bisa langsung pindah ke layar dalam dengan aplikasi akan tetap terbuka dengan layout yang lebih luas ya. Tinggal dibuka aja jebret pindah gitu ya. Nah, kemudian salah satu fitur unik yang kami temukan adalah desk display. Kalau kita posisikan smartphone ini seperti tenda, nanti always on display-nya bisa menampilkan kalender seperti ini. Menarik ya. Overall kami suka banget ya pengalaman software di Motorol Razer Fol yang satu ini. Banyak detail kecilan dipikirkan. Terasa banget yang bikin produk ini juga menggunakan produknya sendiri sehari-hari. Eh, iya. Kalau kalian nanya, kalau fitur COP-Cop yang nyalain lampu bisa enggak? Bisa. Yang diputar-putar terus buka kamera langsung bisa. tetap ada juga kok yang tadi dibahas tuh yang baru-baru yang emang spesifik adanya di sini. Kalau yang capcap dan lainnya tuh ada sama seperti Motorola yang lain. Oke, sekarang mari kita lihat hasil benchmarking-nya. Untuk menguji smartphone Holdable seperti ini terasa seperti nguji dua smartphone ya. [tertawa] Jadi kita tampilkan hasil skornya ketika pakai layar cover dan layar utamanya juga. Oke, untuk AnTutu 11 dengan layar cover itu jadi Rp3 jutaan atau Rp3.46.000-an lah kurang lebih ya. Sementara kalau kita pakai layar utamanya yang dalam jadi 2,9 jutaan. Oke, sekarang kita lanjut untuk Geekbench 6. Layar cover single core-nya ada di 2.828 lalu multior-nya ada di 9.246. Untuk layar utama single core ada di 2.641 dengan multiore di 9.196. Untuk trimx slingshot ekstrem graphic skornya kalau pakai layar cover itu ada di 33.988. Kalau pakai layar utama ada di 34.458. 458. Lucu malah naik ini di layar utama ya. Kemudian untuk 3max solar bay di layar cover 36 fps layar utama sama 36 fps juga. Untuk 3max watless stress test kita pakai layar cover-nya. Best score-nya ada di R.000-an dan lowest score-nya ada di.000-an ya. Jadi stability-nya ada di 63,3%. Sementara kalau kita tes di layar cover plus dikipasin base score-nya itu di 19.000-an ya hampir Rp20.000 dengan low score di 16.000-an. Stability-nya ada di 82,6%. Sekarang kita buka pakai layar utamanya. Enggak pakai dikipasin. Best score di 19.000-an, lowest score di 13.000-an. Stability-nya udah langsung 69,6%. Nah, dalam kisi terbuka ini kita tambahin kipas. Kita lihat bahwa best scor-nya di 19.000-an dan low score di 17.000-an stability-nya naik ke 89,7%. Jika kita lihat grafik perbandingan benchmark-nya terlihat kalau level performanya ini beneran jadi mirip dengan standar bagan 8 elite ya. level performanya tetap terhitung kelas flagship yang sangat kencang. Oke, sekarang kita lanjut ke gaming. Subway server dulu. Game ini berjalan di 165 fps mengikuti refresh set layarnya. Tapi memang ada syaratnya ya. Kita harus atur refresh set-nya ke 165 Hz lewat overlay game tools yang satu ini. Nah, saat video ini dibuat caranya memang harus seperti ini. Kalau cuma lewat menu setting dari layar itu belum bisa ya. Saat kita coba pakai layar utamanya game ini jalan di 120 fps mengikuti refresh set maksimum dari si layar utama. Lanjut untuk Mobile Legends. 120 FPS lancar tanpa penurunan performa. Mau pakai layar cover, pakai layar utama, game ini bisa jalan lancar tanpa ada masalah. Keentengan sih. Lanjut untuk PUBG Mobile. Game udah terbuka opsi setting sampai 120 fps. Dan saat dimainkan game-nya berjalan lancar di 120 fps tanpa ada frame drop. Kita sudah coba pakai layar cover maupun layar utama. Hasilnya tetap bagus dan lancar di 120 fps. Jaro juga aman, enggak ada masalah. Mulus dan lancar. Lanjut untuk Gensin Impact ya dengan setting highest 60 fps. Frame rate-nya bisa berjalan di 60 fps dengan sedikit catatan di sini ya. Walaupun angka FPS-nya terlihat tinggi, tapi pengalaman saat dimainkan tuh belum semulus yang kami harapkan. Entah kenapa kami beberapa kali mengalami ada startering di sini ya. Tercatat juga di graphic frame rate ada garis ke arah bawah di beberapa bagian dan ini konsisten terjadi baik saat pakai layar cover maupun layar utama. Apakah ini karena suhu? Tapi sepertinya enggak sih, karena saat kita cek suhunya ketika gaming di layar cover tuh suhu layar terpanas 35 derajat Celcius. Suhu Bang terpanas di 38 derajat Celcius. Segini sih belum panas. Saat gaming dengan layar utama, suhu layar terpanas di 42 derajat Celcius. Suhu body belakang terpanas di 42 derajat Celcius juga. Lagi-lagi ini masih anget-anget aja sebetulnya. Kami juga coba pakai kipas dan hasilnya masih mirip. Kadang-kadang muncul startering-nya ya. Yang anehnya ini hanya terjadi spesifik di Genensin Impact dan dengan smartphone yang satu ini saja. Kita coba di Motorola Signature yang pakai SOC yang sama dan enggak ada isu yang seperti itu. Semoga ini hanya isu software yang bisa segera difix oleh Motorola lewat update ya kan ada tujuh kali tuh update software itu ya. Nah, untuk ranking Gin Impact jadi terpaksa kita kasih Sus tetap aja S ya sebetulnya ya. Ini akan bisa berubah kalau memang performanya sudah diperbaiki. Lanjut untuk watering wave kita coba di setting high quality dengan FPS di 60. Untuk awal kita coba tanpa kipas dulu dan hasilnya agak beda ya untuk layar cover dan layar utamanya. Di layar cover frame itu sekitar 55 sampai 60 FPS untuk sekitar 8 menit pertama. Lalu dia turun ke 45 fps dan ditahan terus di 45 fps sampai pengujian selesai. Untuk layar utama atau layar dalamnya, frame rate-nya juga berkisaran 55 sampai 60 fps, tapi hanya sekitar 4 menit pertama. Setelah 4 menit, frame rate juga ditahan sampai 45 fps sampai pengujian selesai. Setelah dicek suhunya terlihat bahwa suhunya itu enggak lebih dari 42 derajat celcius. Sepertinya angka 42 ini memang jadi batas atas yang ditentukan oleh Motorola. Lebih dari ini performa harus ditahan. Teoritis solusinya adalah kipasin aja. Nah, jadi kita tes pakai kipas ya. Frame rate-nya jadi berjalan lancar di 60 fps tanpa ada penurunan performa sama sekali. Mantap banget. Yang jelas ini adalah hasil tes gaming yang impresif untuk sebuah smartphone foldable. Ditambah yang bodinya juga tipis di sini ya. Untuk fitur continuity saat gaming kita sudahoba juga ya di sini ya. Jadi saat kita lagi main game di layar cover langsung buka layar utamanya. Apa yang terjadi? Sejauh game yang kami uji nih layoutnya aman enggak ada masalah. Tapi tidak semua aplikasi atau game bisa seperti ini. Ya, ini sangat tergantung dari developernya apakah bisa membuat aplikasinya responsif terhadap perubahan aspek rasio layar. Karena kalau aplikasi atau game-nya belum support, tampilannya jadi kurang optimal aja. Oke, sekarang mari kita lanjut ke pengujian kameranya. Oke, di tangan saya kali ini sudah ada Moto Razer Fult. Jadi, langsung aja kita lihat kemampuan kameranya seperti apa. Yang pertama-tama kita mau cari tahu adalah kemampuan mikrofonnya. Yang lagi kalian dengar sekarang adalah suara langsung dari mikrofon smartphone-nya. Saya belum pakai mikrofon eksternal di sini. Untuk kebutuhan video sehari-hari atau vlogging hasilnya kurang lebih seperti ini. Gimana menurut kalian? Udah cukup bagus belum? Tentunya untuk kualitas audio yang lebih serius, saya tetap nyaranin pakai mikrofon. Nah, ini adalah contoh suaranya kalau kita pakai mikrofon dan hasilnya seperti ini, suaranya bisa masuk dengan baik, ya. Untungnya. Dan menariknya di moto Razer Volt ini di tampilan UI kameranya itu ada indikator mikrofonnya. Jadi kita tahu nih kita pakai mikrofon yang mana. Ada tandanya antara mikrofon bawaan atau mikrofon yang senal. Cakep. Sekarang kita lanjut bahas kamera depannya. Kita mulai dari yang cover screen dulu. Untuk kamera selfie-nya sayangnya cuman mentok di 1080p aja ya. Kualitasnya juga standar aja, enggak spesial. Setidaknya masih bisa merekam video di 60 fps kalau memang kita butuh video yang lebih mulus. Dari segi dynamic range tergolong belum oke. Area wajah bisa terekspos dengan baik, tapi area terangnya terlihat over expose. Di 1080 p 60 fps, overall gambar lebih gelap. Area highlight sedikit lebih bisa txpose, tapi area wajah jadi ikutan gelap di sini. Dari segi stabilizer, videonya sudah cukup bagus. Di bawah jalan seperti ini, videonya tergolong stabil. Saat dicoba di 1080p 60 fps, videonya tetap bisa stabil. Enggak ada masalah. Videonya juga rapi di sini. Sekarang kita lanjut ke kamera selfie untuk layar utamanya. Nah, asyiknya kalau yang ini kita bisa merekam di 4K. Bisa dilihat kualitasnya juga jauh lebih oke dibanding selfie cover screen-nya yang tadi. Kalau untuk kamera selfie di layar utamanya ini sudah support 4K 60 fps. Kualitasnya juga konsisten bagus. Sekarang kita cek dynamic range-nya. Hasilnya tergolong udah oke ya. Area wajah bisa terekspos dengan baik dan area terang juga bisa diekspos dengan baik juga. Dengan sedikit ceretaan ketika area highlight-nya makin kuat nih, kamera akan lebih memprioritaskan exposure di wajah. Kita juga sudah coba di 4K 60 fps. Hasilnya juga mirip. Sama-sama oke dalam meng-handle situasi yang kontras seperti ini. Dari segi stabilizer, videonya juga sudah cukup bagus. Di bawah jalan seperti ini, videonya stabil. Saat kita coba di 4K 60 fps, videonya juga konsisten stabil dan tetap bekerja dengan baik. Stabilnya tuh benar-benar stabil di sini. Kita lanjut ke kamera utamanya. Dari segi detail sih luar biasa ya. Karakter gambar sih cenderung oversarpen dan over kontras. Sayangnya terkadang wajah terlihat terlalu pucat, kadang bayangan terlalu pekat di sini. Skin tone juga agak kurang asik kalau untuk video ya. Kita sudah coba di situasi lebih ideal dengan cahaya sore. Hasilnya skin tone lebih kecoklatan di sini dan karakter gambarnya juga masih mirip over sharpen dan juga over contras. Dari segi warna menurut kami ini bukan yang natural, cukup jauh dari warna aslinya ya. Soal warna itu urusan selera sih. Tapi kalau memang semua kameranya dituning seperti ini, artinya ini memang karakter warna yang sengaja dirancang oleh Motorola untuk kita. Kita juga sudah coba di 8K 30 FPS dan hasilnya mirip-mirip aja dari segi karakter gambarnya. Untuk dynamic range tergolong oke. Di sini sisi gelap terang dapat diekspos dengan baik. Di 4K 60 fps tidak banyak perubahan. Hasilnya mirip-mirip aja. Mantap nih. Sayangnya kami menemukan kalau di 8K 30 fps dynamic range-nya jadi menurun nih. Area terangnya sekarang jadi over expos. Kalau lagi di pencahayaan yang sulit seperti ini, saran kami pakai resolusi di bawah 8K aja. Sekarang kita cek stabilizernya. Kalau di 4K 30 fps sih aman ya. videonya stabil dan overall gambar sudah tergolong rapi. Kita sudah coba di 4K 60 fps dan stabilizernya masih bisa bekerja dengan baik di sini. Hebatnya lagi di 8K 30 fps stabilizernya masih bisa bekerja dengan baik. Sip lah. Untuk kamera ultrawide hasilnya seperti ini ya. Kualitasnya termasuk lumayan oke, tapi ekspektasinya tetap perlu disesuaikan. Jangan dibandingkan dengan kamera utamanya karena sensornya memang beda kelas. Ultra wide-nya juga bisa merekam di 4K 60 fps dan kualitasnya masih mirip ya. Overall udah lumayan. Oke, di sini kita uji point and shoot ya tanpa kita tap ke orangnya. Kalau menurut kami sih di situasi seperti ini cenderung agak sedikit over expos di bagian wajahnya ya. Kalau butuh digelapin lagi tinggal atur manual exposure-nya atau ya pintar-pintar atur pencahayaan aja ya. Kita juga coba di pencahayaan sore dan oke-oke aja kok hasil videonya. Saat kita tes dari Micrend seperti biasa hasilnya sudah oke untuk area terang tapi area gelapnya agak kurang keangkat di sini. Lagi-lagi kami menguji dengan point and shoot ya. tentunya kalau butuh lebih terang tinggal tap ke objek utamanya aja. Di 4K 60 fps hasilnya tetap mirip jadi frame rate tidak terlalu mempengaruhi kualitas gambar di sini. Sekarang kita ke kamera telefotonya. Ternyata tuningan Motorola Signature yang kemarin itu masih dibawa ke motorer ini. Gambar sudah terlalu kasar. Ini akibat tuning video yang oversharpen dan over contontras. Efek sampingnya pori-pori wajah jadi terlihat lebih besar dan kulit wajah terlihat lebih dekil. Ini bukan karena kulitnya kotor ya. Dan perlu diingat kalau kita ngomongin tajam itu bukan soal detail ya. Tajam dan detail itu beda konteks. Kami sudah tes di lokasi yang berbeda juga dan karakter gambarnya tetap sama ya dengan matahari sore sekalipun masih over contontras dan oversharpen. Kabar baiknya dari segi dadi mic range sudah lumayan oke. Area gelap bisa txpos dengan baik. Untuk area terang masih ada beberapa bagian yang agak over expos dikit sih. Tapi overall udah bagus. Di 4K 60 fps karakternya masih sama. Jadi bisa dibilang dynamic range-nya mirip-mirip aja meskipun beda frame rate. Dari segi stabilizer wajar ya kalau masih ada jater sedikit, tapi menurut kami ini masih oke loh hitungannya. Kamera tele memang lebih sulit untuk distabilkan. Kita tidak bisa bandingkan dengan kamera utama atau ultrawide-nya. Setidaknya E-nya nyala semua di berbagai resolusi dan frame rate. 4K 60 fps juga masih aman kok. Sekarang kita bahas pengalaman multi kameranya. Dari segi transisi antar kameranya, menurut kami ini bukan yang paling mulus yang pernah kami coba sih. Harusnya Moto bisa tingkatkan lagi animasi zoom in dan zoom out-nya. Kita bisa pindah kamera langsung saat merekam di 4K 60 fps antara kamera ultrawide, kamera utama sampai telefotonya. Untuk kamera selfie sayangnya belum bisa. Kita juga tes saat pindah kamera seperti ini, apakah rekaman suara kita akan putus-putus atau lancar-lancar aja. Nah, ini kita akan coba berhitung ya untuk melihat apakah saat pindah-pindah kamera ada audio yang nge-crop. Oke, kita mulai dari 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30. Nah, kira-kira gimana? Apakah ada audio yang kepotong? Lanjut. Dari segi konsistensi warna, menurut kami ini udah lumayan oke ya. Masih ada ruang perbaikan sih karena kami pernah lihat ada yang lebih konsisten dari ini. Tentunya sangat sulit membuat warna antar kamera mirip ya, karena sensor yang dipakai juga beda-beda. Paling tidak di sini pergeseran warnanya tidak terlalu jauh. Sekarang kita lanjut ke kondisi low light. Hasilnya seperti ini ya untuk kamera selfie dari cover screen-nya. Di 30 fps sekalipun kesulitan dia ya untuk menangkap gambar. Hmm, sebaiknya jangan ya. Kita lanjut aja ke kamera selfie yang main screen-nya. Nah, kalau kamera di main screen-nya ini jauh lebih oke ya. Masih bisa dipakai lah videonya untuk low light selama kita rekamnya di 30 fps. Tentunya kita cobain juga di 60 fps dan hasilnya sudah terlalu gelap di sini. Kalau mau merekam 60 fps, kita butuh pencahayaan yang lebih oke dari ini. Dari segi stabilizer sudah lumayan oke. Jiter ada, tapi masih di level yang wajar menurut kami. Kalau mau lebih rapi bisa pakai 60 fps. Jaternya nyaris tidak terasa. Tapi overall gambar sih sudah terlalu gelap ya. Usahakan jangan segelap ini kalau butuh 60 fps. Sekarang kita lanjut ke kamera utamanya. Videonya tergolong bersih dari noise. Detail juga masih bisa dipertahankan dengan sangat baik. Menariknya, meski kita setel di 4K 60 fps, videonya masih cukup terang. Kualitas sensor sangat menentukan kalau di situasi seperti ini. Ya, namanya juga sensor kelas atas ya, Litia 828. Cuma flickernya aja nih, semoga bisa diperbaiki lewat software update. Kita juga iseng cobain di 8K30 fps dan kualitas gambarnya konsisten bagus. Soalnya kita pernah nemu HP flagship yang pas kita cobain 8K-nya, kondisi low light seperti ini kualitasnya malah menurun. 4K-nya malah lebih bagus untuk low light. Kalau di motorizer fault ini aman. Untuk stabilizer videonya bekerja dengan sangat baik. Jaternya nyaris enggak kelihatan di sini. Salut sih. Ini adalah salah satu smartphone yang stabilizernya rapi di kondisi low light. Waktu kemarin saya nge-review Motorola Signature, saya impress sih sama stabilizernya. Untungnya kualitasnya itu dibawa juga ke Razer Fault ini. Biasanya di smartphone lain juga kita butuh 60 fps untuk stabilizer video yang lebih rapi di low light. Kalau ini 30 fps-nya aja udah aman. Di 4K 60 fps juga rapi videonya. Dibawa jalan kayak gini enggak masalah. Gambar juga masih terang secara overall. Nah, kalau 8K 30 FPS-nya gimana? Hasilnya seperti ini ya. Menurut kami juga udah lumayan rapi kok di sini. Aman banget di bawah vlogging kondisi low light. Ya, inilah contoh hasil kamera yang kami harapkan dari sebuah kamera smartphone kelas flagship konsisten bagus di resolusi dan frame rate yang tersedia. Kita lanjut dulu ke kamera ultrawide. Hasilnya seperti ini ya. Dan menurut kami sih langsung terasa jomplang ya setelah lihat kamera utamanya yang luar biasa. Gambarnya memang gelap dan saat bergerak seperti ini ada artefak yang bikin gambarnya agak pecah. Tapi kalau kameranya diam itu enggak masalah. Dari sisi baiknya videonya ini tergolong bersih dari noise. Detailnya juga masih bisa terjaga dengan baik. kameranya itu enggak maksa untuk terang. Toh ini tempatnya memang gelap banget. Di 4K 60 fps kayaknya udah terlalu gelap ya. Jadi butuh tempat yang lebih terang dari ini kalau mau merekam di 60 fps atau kalau saran saya sih di 30 fps aja lah. Dari segi stabilizer, sayangnya belum serapi kamera utamanya. Giter masih cukup terlihat saat di bawah jalan seperti ini. Saat kita coba di 4K 60 fps memang bisa lebih rapi videonya, tapi gambar sudah terlalu gelap. Pintar-pintar atur pencahayaan aja kalau memang mau vlogging pakai kamera ultrawide-nya. Sekarang kita ke kamera telefotonya. Untuk video kamera telen-nya tergolong standar aja untuk low light gambarnya masih cukup terang tapi overall gambar sudah tergolong soft nih. Dari segi noise untungnya sudah tergolong minim. Saat kita coba di 60 fps, gambarnya sudah terlalu gelap. Noise-nya sekarang makin kentara. Di sini butuh cahaya lebih untuk pakai tele 60 fps. Untuk autofokus, mari kita tes satu persatu ya untuk ketiga kamera belakangnya. Untuk kamera selfie-nya enggak perlu ya karena fix fokus. Kita mulai dari kamera utamanya. Autofokusnya aman, mulus, lancar, dan transisi fokusnya kami suka karena tergolong smooth. Tapi lagi-lagi hasilnya agak flicker nih kalau kena lampu. Soalnya kalau di smartphone lain aman nih meskipun kita rekam di 60 fps. Kalau enggak mau flicker, solusinya sementara pakai 30 fps aja. Kami sudah coba dan aman juga autofokusnya. Lanjut ke kamera ultrawide. Di kamera ultrawide-nya ini aman ya, lancar dan cepat juga autofokusnya enggak ada masalah. Langsung aja kita lanjut ke kamera tele. Untuk kamera tel-nya ini asyiknya itu autofokusnya punya jarak yang super dekat. Jadi ini asik juga untuk bikin konten makro. Sayangnya autofokusnya agak kurang konsisten di sini. Kadang bisa cepat, kadang bisa agak lambat, dan kadang autofokusnya juga bisa nyangkut. Kami sudah coba di 4K 30 FPS dan hasilnya sama. Ternyata kecepatan autofokusnya agak kurang konsisten ya. Semoga ini bisa diperbaiki lewat software update. Sekarang kita bahas fotografinya. Kalau urusan foto ya udah bagus semuaah. Semua kameranya sangat bisa diandalkan mau kondisi terang maupun low light. Nah, yang agak unik kalau kalian lihat watermark-nya ini terlihat warna-warni ya. Tapi ini bukan karena kami atur manual. Warna watermark-nya ini mengikuti warna objek yang lagi difoto. Bahkan di Motor Razer Fault ini ada watermark spesial juga dari FIFA nih. Soalnya Motorola merupakan sponsor untuk FIFA World Cup 2026. Dari segi hasil foto, sebetulnya kami gak ada protes. Yang perlu diperbaiki cuma mode potrait-nya aja nih. Entah kenapa di mode portrait spesifik untuk kamera belakang, kita tidak bisa mengatur aspek rasionya. Hanya bisa di mode auto atau portrait untuk selfie. Nah, ini kan aneh ya. Kenapa enggak bisa ya untuk K3 kamera belakangnya? Padahal di Motorola H60 Pro kami cek bisa kok. Kenapa di flagship-nya malah enggak bisa? Ya ya ya intinya itu aja kok yang bisa diprotes. Sisanya kami puas sama hasil fotonya. [musik] Untuk fitur ekstranya ada banyak. Kita coba beberapa yang menurut kami menarik. Slow motion ada di sini dan kita bisa merekam di 4K 120 fps. Hasilnya mantap. Tapi kalau butuh lebih lambat, kita bisa pilih opsi 1080p 240 fps. Hasilnya juga masih bagus. Untuk saat ini slow motion baru bisa untuk kamera utamanya aja. Kamera ultrawide dan telen-nya belum bisa. Di sini juga ada fitur promote untuk setting ISO dan shutter speed bisa kalian lihat di menu kameranya aja. Kita bisa pakai ketiga kamera belakang, bahkan selfie-nya juga bisa. Tapi sayangnya ini cuma untuk foto, untuk video belum bisa. Kalau butuh manual video, kita masih perlu menginstal aplikasi pihak ketiga. Lalu fitur berikutnya kita cobain horizon lock ya. Ini ternyata Motorola juga punya ya. Hasilnya sendiri sudah lumayan bagus. Cara kerjanya dia pakai kamera ultra wide yang dizoom mendekati jarak zoom satu kali. Jadi ini bukan pakai kamera utamanya. Hasilnya sendiri udah lumayan oke. Mau diputar-putar kayak gini horizontalnya juga tetap ngunci. Tapi andai moto bisa pakai kamera utamanya soalnya kan sensornya yang paling gede di sini nih. Mungkin akan lebih mantap lagi hasilnya. Fitur berikutnya kita coba itu dual capture. Ini adalah fitur di mana kita bisa merekam video dari kamera belakang dan kamera depan sekaligus. Kita juga bisa mengatur kamera belakangnya. Mau pakai ultrawide, kamera utama atau telennya itu bisa. Tapi ada syaratnya nih. Kita harus mengatur kamera mana yang mau dipakai sebelum merekam videonya. Setelah merekam, kita tidak bisa pindah ke kamera yang lain. Tapi menariknya di satu sisi kamera selfie-nya ini bisa kita pindah-pindahin langsung saat lagi merekam. Oke, tentunya enggak ada kamera smartphone yang perfect ya. Kameranya masih butuh perbaikan di beberapa bagian. Yang pertama, kamera selfie cover screen-nya punya kualitas yang ala kadarnya aja. Mungkin memang sebaiknya kalau mau selfie langsung aja pakai setup kamera belakang. Kemudian pengalaman mult kameranya belum yang smoot-soooth banget. Lalu autofokus kamera telennya agak kurang konsisten. Belum ada fitur pro video. Dan entah kenapa portrait mode belum ada aspek rasio 9 b 16 spesifik untuk kamera belakang. Lalu horizon lock belum bisa pakai kamera utama, baru bisa pakai kamera ultrawide-nya aja. Dan dynamic range video belum maksimal untuk beberapa situasi. Dari segi kelebihan, kualitas fotonya memuaskan. Di kondisi low light juga bukan masalah. Kamera utamanya mantap. Di 828 ini jarang kita temukan di foldable loh. Dan biasanya kita temukan di flagship-fagship nonfoldable yang top tier. Ini juga membuat kualitas video kamera utamanya impresif untuk low light. Lalu, stabilizernya bisa aktif sampai 8K. Semua kamera belakangnya bisa merekam 4K 60 fps. Telefotonya punya jarak fokus yang super dekat semua kamera belakang autofokus, ada horizont lock dan dia punya indikator mikrofon eksternal. Nah, kesimpulannya videografi masih ada PR, autofokusnya masih ada PR sedikit, software experience juga masih ada PR, fotografinya memuaskan, fitur mikrofon yang esensial sudah ada, fitur ekstranya cukup banyak. Jujur, pengalaman kameranya mirip sekali dengan Motorola Signature yang pernah kami review kemarin. Dan untuk L foldable, kameranya ini adalah salah satu yang oke loh. Pemilihan hardware-nya sudah bagus menurut kami, tapi software experience-nya juga enggak kalah penting dong. Ini masih di DPR Motorola nih. Semoga bisa segera ditingkatkan melalui update. Sekian pengujian kameranya Motorola Razer Vult. Kita lanjut lagi ke pembahasan berikutnya. Oke, sekarang kita lanjut ke pengujian data baterainya. Ini baterai 6000 mAh ya dengan YouTube offline video playback 1080p. Kalau kita pakai layar cover atau layar yang luar, baterainya itu bertahan sekitar 29 jamanan gitu ya. Lalu kalau kita pakai layar utama atau layar yang dalam, baterai bisa bertahan. Iya betul. e nonton terus nonstop sekitar 23 jaman gitu ya di sini ya. Nah, ini termasuk cukup awet gua sebetulnya. Lanjut untuk streaming YouTube 1080p 30 non HDR di layar cover ya selama 1 jam baterai berkurang 3%. Kalau kita pakai layar utama selama 1 jam baterai berkurang sekitar 5%. Wajar ya layar lebih gede. Untuk TikTok ya TikTok kan di layar cover 1 jam itu baterai berkurang 5%. Kalau kita pakai layar yang gede 1 jam baterai berkurang 9%. Lalu untuk main Gensin Impact high 60 fps selama setengah jam. Kalau kita pakai layar cover baterai berkurang 5% per seteng jam tadi ya. Untuk layar utama baterai berkurang sekitar 9% per seteng jam. Nah untuk charging ingat ya ini charger 90 wat tapi dia nge-charge di 80 watt tentunya ya. 0 sampai 50% butuh waktu 24 menit. Sementara dari kosong sampai penuh butuh waktu 57 menit. Nah, kalau dihitung 30 menit pertamanya baterai itu bisa terisi di 60%. ini tergolong kencang dan yang tidak kalah penting chargernya sudah termasuk dalam paket penjualan ya. Oke, lanjut lagi. Sekarang untuk Netflix dia udah Wif L1 dan bisa streaming full HD, support everyone tapi untuk HDR atau Dolby Vision sayangnya belum muncul di sini. Untuk YouTube streaming bisa sampai 4K 60 fps dan ini bisa menggunakan HDR. Untuk heptic feedback ini udah standar flagship ya. Hepticknya empuk, presisi. Mau dipakai ngetik cepat-cepat juga enggak ada masalah, nyaman banget. Oke, untuk harganya Motorola Razer Volt ini bisa dibeli dengan harga spesial hingga Rp25.499.000 dan kita sudah bisa dapetin free Moto Watch dan ada moto bat loop. Ini spesial dalam launching period saja. Jadi total benefitnya itu bisa mencapai Rp10,7 juta. Masih ada free pickup dan drop service yang bisa dinikmati di area Jaboritabek kalau diperlukan. Oke, kita masuk dalam hal yang penting diperhatikan. Pertama, storage-nya hanya 256 MB versi 512-nya enggak hadir resmi ke Indonesia. Kemudian untuk screen protektor bawaannya ini enggak ada ya di sini ya yang bagian luarnya nih. Opsi yang ada di pasaran itu sangat terbatas ditambah layarnya itu ada lengkungan di sisi-sisinya ya. Ini membuat kita makin sulit untuk mencari screen protektor yang pas buat yang satu ini. Lalu slot SIM-nya untuk yang fisik cuma ada single SIM walaupun udah ada e SIIM tapi mungkin ini bisa jadi pertimbangan untuk yang memang sukanya pakai dua SIM card fisik. Lalu untuk kemampuan kameranya ini masih butuh perbaikan di beberapa aspeknya. Nah, dari segi kelebihannya kamera sebenarnya impresif ya untuk kategori foldable ya. Lalu bodinya juga tipis ya. Baterainya juga lumayan awet. Charging-nya kencang untuk baterai yang besar tadi. Desainnya unik banget. Lalu performanya ini kencang parah. UI-nya bersih. Nah, ini agak langka ya UI bersih ya, tapi fiturnya tetap kaya banget. Seperti yang kita bahas tadi, update OS-nya juga super panjang 7 plus 7 ya. Konektivitasnya udah modern semuanya. Bahkan fitur display out khas Motorola yang punya fitur produktivitas luar biasa juga ada di sini. Pada akhirnya smartphone ini cocoknya buat siapa sih? Nah, siapapun yang butuh smartphone flagship foldable dengan desain anti mainstream saat ini, terutama kalau mau dipakai buat kerja, wah ini cocok banget sih. Software-nya dirancang sedemikian rupa untuk menunjang produktivitas sampai banyak detail kecil yang udah dipikirin sama mereka. Lalu kalau nyari smartphone foldable yang kameranya oke. Nah, triple 50 megapel di belakang ini. Wah, ini cocok banget sih ya. Ultrawide dan telefotonya itu memberikan kualitas foto yang enggak kaleng-kaleng ya. Jadi kita enggak akan merasa kualitasnya terlalu jomplang saat kita pindah kamera. Kemudian yang menariknya ya sebetulnya kalau kita menggunakan standar tahun 2025 sekalipun ya sebenarnya harga terendah untuk Moto Razer Fult di tahun 2026 ini pada saat launching ya ternyata masih wajar bahkan lebih murah dari pesaingnya yang punya performa serupa. Yang ini malah punya tiga kamera utama yang semuanya 50 megapel ya enggak percaya? coba cek aja harga pesaing yang pakai sama kencangnya tahun lalu tapi ya cek harga launching-nya ya masih rendahan ini. Ingat ceknya yang punya Google Play Store beneran seperti yang satu ini ya. Nah pada akhirnya kami harus bilang good job Motorola dan terima kasih sudah mau masukkan smartphone foldable flagship kalian ke Indonesia.
