Hape Gaming 4 Jutaan yang Bikin Lupa Sama ROG ! Infinix GT 30 Pro Review (YouTube Video)
Hah? King Phoenix, King Phoenix. Dia ini bikin HP 4 jutaan yang bikin kita lupa sama HP gaming aro atau HP gaming yang mahal. Karena di harga R jutaan, terutama fiturnya ya, dia punya fitur yang sama di Xpace-nya buat main game Gensin mirip sama ROGI di mana kita bisa auto pick up, unfreeze ketika di freeze. Terus Accelerate chatbx, ada triggernya juga yang pantes kalau dibilang HP gaming. Ada RGB L juga yang bisa dicustom dan ada coolingnya yang enggak dijual. terpisah. Udah include di dalam paket pembeliannya tinggal pakai dan ini magnetic plus bisa ngecas juga. Hah ampun King ampun. Tapi ada game yang malah nge-bug juga sih pas main game ini dan pakai cooling charge bawaannya malah performanya turun. Hmm, kenapa ya? Ya performanya sih enggak bisa ya dibandingkan sama ROG Phone yang emang pakai chipset flagship tapi fiturnya masih bisa kalau disandingin dan harganya jauh lebih murah dibandingkan ROGUN. 4 jutaan. Wah, lebay banget nih. Pasti videonya dibayar. Hah, susah nih sama net desain ya. Kalau misalkan saya ngritik barangnya saya bilang kurang katanya buer. Kalau saya bilang bagus katanya di-endorse. Jadi saya enggak pernah benar. Kita udah banyak bahas di video unboxing soal desain ya. Jadi, sekarang langsung aja kita bahas gimik menarik dari Infinix. Sebenarnya ada banyak ya di game space-nya ini mulai dari mode esport yang lebih responsif, optimasi buat touch, bypass charging yang jarang di HP lain di harga segini, dan pernyataan saya yang mirip sama fitur HP ROG ada di sini nih. Kalau di game yang support contohnya game Gensin Impact dia bisa nyempetin dialog biar kita enggak ngantuk pas main. Ada auto pick up biar enggak capek mencet satu-satu. Ada unfreze yang kadang bikin jari kram kalau manual. Ada running lock yang bisa bikin dia lari tanpa kita sentuh. Fitur ini juga pernah ada di HP ROG Phone yang pernah kita review. Jadi si Infinix ini kayak nampar si Arguj phone. Hah, kemahalan. Jangan ya, ini mahalmahal ya. Walaupun cuma itu aja sih yang mirip ya. Yang lainnya jelas beda lah. Ada harga ada rupa. Kayak game Jenny di ROG itu lebih bagus animasinya, lebih enak dilihat dan diakses. Tapi ya buat harga R jutaan bisa punya fitur kayak AP gaming R jutaan ini udah king. Performanya juga enggak kalah jauh sama ROG. ROG itu Antutunya dapat R,5 jutaan. Sementara si Infinite GT30 Pro ini dapatnya di 1,3 jutaan. Tapi itu kalau dibandingin sama Aruj Phone 7 ya yang masih pakai Snapdragon 8 G2 ya. Jangan expect yang muluk-muluk lah. Ini R jutaan skor segini aja udah kencang. Youtuber cepu juga udah bandingin sama Poco X7 Pro yang hasilnya cukup menarik ya. Soal performance memang unggul Poco, tapi kalau soal fitur kata youtuber cupu menang si Infinix GT3 Pro. Dan saya setuju sih ngomongin fitur kemarin sudah sempat kita spill ketika kita unboxing si Infinitex GT3 Pro dan kita main PUBG satu match dan saya nge-kill delapan tuh gila padahal saya jarang main bisa segitu. Itu semua berkat triggernya yang enak sih buat main. Triggernya ini heptic jadi cuma butuh disentuh aja. Ada feel getarnya yang kayak RUG persis aiming jadi lebih akurat dan semua tombolnya ini bisa dioptimalkan. Bahkan tombol volumenya ini bisa kita custom in game. Mau dihortcut ke mana, mau dimapping ke map, ke apapun senyamannya kita bisa. Bahkan til-nya bisa kita custom juga. Let's say kita main Mobile Legends mau retri tapi icon retri itu kan kekecilan ya, terutama buat jempol saya. Tinggal mapping aja tilt controlnya ke bagian retri. Jadi kalau udah mau retri tinggal diilt aja dan mapping-nya juga banyak banget. Ada enam button yang bisa kita mapping. Jadi, selain tombol-tombol gyonya juga benar-benar bisa dioptimalin semuanya. Ini sebenarnya kalau si King Phoenix mau keluar dari zona nyaman untuk si seri GT ini dipakaiin chipset flagship kayak Dem City 9400 atau Snapdragon Elite, sebenarnya saya yakin juga udah pasti laku sih karena software-nya menurut saya udah matang. Kalau performa gaming-nya PUBG Mentok 120 FPS. Lihat aja grafiknya ini. Dan ini saya main pakai mode performance ya. PUBG mentok 120 fps, MLBB juga mentok 120 fps gak ada masalah. Gensin Impact kita coba di settingan highest. Dia masih bisa dapat average di 50-an FPS. Dan kalau kita lihat charge-nya dia stabil di antara 49 FPS. Tapi kalau enggak pakai cooling, suhunya lumayan hanget. Ketika kita fleir, suhunya itu di kisaran 45 derajat celcius. Lumayan hanget ya. Walaupun performanya pas main setengah jam enggak ada drop FPS. Dan kalau kita pakai cooling bawaannya sambil ngecas, performanya sebenarnya mirip-mirip ya. Ya memang lebih stabil, tapi suhu permukaannya turun jauh jadi 40-an derajat celcius lebih nyaman dipakai main buat berjam-jam. Tapi perlu dicatat ya, yang dapat cooling sama case khusus itu cuma di varian yang special edition. Kalau kalian beli yang basic enggak dapat. Tapi saya nemuin bug di game watering wave. Kalau kita gak pakai cooling, dia awalnya naik di 2 menit pertama, tapi turun akhirnya di kisaran 35 FPS. Kalau pakai cooling enggak ngangkat juga malah kadang turun di 35 fps ke bawah. Padahal kalau dari suhu bagian dalamnya kalau kalian lihat pakai cooling itu dia bisa turun di 42 derajat celcius. Ternyata masalahnya ada di bypass charging. Kalau di-onkan langsung tuh ya emang awal-awal dia agak struggle tapi setelah coolingnya tersebar udah mendingan dapatnya di average 45an FPS. Jadi kalau mau main game berat terutama Gensin ataupun booting wave ya saran saya aktifin bypass chargingnya biar baterainya gak panas juga karena kan ya musuh utama dari HP gaming itu duit bukannya [Musik] panas. HB Gaming itu biasanya enggak meduliin soal AI tapi King Phoenix ini beda. Dia punya banyak banget fitur AI yang bisa kalian lihat di sini aja. Jadi ada AI untuk image summary, ada note ada editing video dan foto juga ada. Dan AI assist-nya ini juga unik, dia enggak pakai Gemini, dia langsung terintegrasi sama dipsek AI dari Cina yang reasoning-nya itu udah setara sama chat GPT yang kemarin itu sempat viral karena dia enggak butuh GPU gede untuk bikin reasoning. Kalau ditanya upgrade-nya apa dibandingkan GT20 Pro, wah banyak sih. Selain banyak fitur gaming dan triggernya tadi dari layar aja udah beda. GT30 Pro pakai layar 144 Hz dengan resolusi 1,5K. Mirip sama Poco X7 Pro tapi refresh-nya lebih kencang 144 Hz. Tapi kalau kita ngomongin touch sampling kata youtuber cupu, touch samplingnya itu lebih gede di Poco X7 Pro. Kalau buat color akurasinya pas kita tes ya di mode bright dia dapat SRGB-nya itu di 142%, P3-nya 100%. Original sRGB-nya 100% dengan P3 99,9%. Tapi kalau kita lihat brightness tipicalnya ini gede banget loh ya. Menyentuh 800 nit. Dan memang kalau dipakai di outdoor dibandingkan dengan Infinix GT20 Pro, wah sih si 30 Pro ini jauh lebih terlihat terang dibandingkan kakaknya. Dan artinya untuk color akurasi 100sR RGB lebih ini, wah tampilan dari layarnya udah mendekati aslinya, natural, warna-warnanya juga vibrant dan karena olet pekatnya itu tajam yang cakep. XDR-nya juga kerasa realistis. Selain layar, kameranya juga beda. Memang sama-sama pakai 108 megap untuk main kameranya. Tapi di Infinix GT20 Pro ini ada lensa gimik lah, makro dan dep megapel. Ini enggak kepakai, lebih kepakai di Infinix GT30 Pro. Walaupun sekarang cuma tinggal dua aja kameranya, tapi satu kameranya yang lain itu ultra wide 8 megapel. Wah, gini dong. Kalau gini kan lebih kepakai. Dan selfie kameranya sih turun ya dari 32 megapel ke 13 megapel tapi resolusikan bukan berarti penentu hasilnya bagus atau enggak. Dan untuk hasil-hasil fotonya langsung aja kita coba. Nah, kalau kayak gini kan fair ya. Jarak pandangnya mirip-mirip aja tapi memang jatuhnya agak shaky ya kalau misalkan kita pakai 4K 30 FPS di GT30 Pro dengan fitur stabilisasinya nonaktif. Kalau untuk dynamic range mirip-mirip aja. Jadi tipis banget dynamic range-nya. Wuh. Jadi kalau kalian lihat biasanya kalau kalian lihat review-nya DK Edi di bagian video kamera depan itu kan ada tembok sama langit separasinya jelas ya. Nah, ini ya tipis aja kelihatannya jadi kayak nyatu gitu tembok saya sama langitnya. Terus kalau dibuat muter-muter karena 4K 30 fps, 2K 30 fps di GT30 Pro jadi lebih patah-patah aja. Tapi kalau soal warna, saya lebih suka warna di GT30 Pro sih ya. Kira lebih natural kalau di GT20 Pro itu kayak lebih orangen gitu kulit saya. Dan sekarang kita coba di 4K 60 fps ya. Sama-sama 4K 60 FPS dan fitur stabilisasinya sama-sama mati ya. Hasilnya sama-sama gempa ya jadinya ya. Terus kalau misalkan saya zoom in ke muka Alpad kira-kira seperti ini. Terus rotary shot coba ya. Saya mau sampai detail kira-kira bisa sedetail apa. Uh. Oh, bagus di GT30 Pro ya detailnya ya. Jadi mukanya lebih terlihat detail, keringat-keringatnya, jerawatnya kelihatan semua tuh lebih cakep di GT30 Pro. Kalau masalah stabilisasi sih mirip-mirip aja keduanya. Ini coba kita zoom out. Terus kalau soal dynamic range kita coba. Nah, dynamic R-nya juga lebih cepat di GT30 Pro ya. Itu coba lihat autofokusnya. Kalau di GT20 itu exposur-nya kayak masih proses gitu. Terus kalau dibuat untuk paing kira-kira seperti ini. Smooth. Coba kita lihat Miral dari sini kita tembak ke sini. Iya. Objeknya adalah pemean ya. Pemean itu bahasa Indonesianya cucian jemuran nih. Tuh cakep sih untuk autofokusnya. Dan kalau dibilang perbedaannya apa 20 sama 30 Pro? Saya sih lebih suka di GT 30 Pro jauh ya. Kayak proses exposure-nya itu memang masih ada kayak gelap keterangnya itu masih ada transisinya masih kelihatan tapi lebih cepat aja tuh. Terus kalau di GT30 Pro dia udah bisa ultra wide ya. Nah, ini saya lagi nge-shoyo si GT20 Pro. Dia enggak ada ultrawide. Walaupun resolusinya udah saya turunin ke 1080 30 fps, tapi ultrawide-nya di GT 30 Pro ini autofokusnya kayak kadang nyangkut gitu. Tuh, kan enggak fokus ini. Wei, fokus, wei. Tuh, jadi untuk autofokusnya semoga aja ini cuman bisa software ya. Jadi bisa dibenerin dengan cepat. Ini kan fokus nih. Tuh, kadang nyangkut jadi harus benar-benar diapin gitu. Dan untuk kualitas ultrawide-nya juga menurut saya B aja lah ya, bukan yang spesial. Di bawah jalan juga masih wah gempa banget ya. Kayak cuman sekedar asal aja, asal ada. Tapi ya setidaknya kalau buat foto-foto masih kepakai lah. Eh, ngomongin foto langsung aja kita tes fotonya. Baterai juga di-upgrade sekarang naik 500 mAh lebih besar. Kalau fast charging-nya tetap di 45 watt. Tapi di Infinix GT30 Pro sekarang ada wireless charging-nya di 30 watt. 4 jutaan ada wireless charging 30 wat. Huh, gokil emang. Kalau untuk dayatan baterainya ketika kita main game Gensin Impact settingan highest tapi ya 30 menit dia berkurang 18%. Kalau PUBG 30 menit dengan 120 fps itu berkurang 9%. Mobile Legends 30 menit 120 FPS juga berkurangnya 6%. Dan kalau digunain untuk streaming TikTok, YouTube, dan juga Netflix 30 menit cuman berkurang 2%. Awet sih. Dan karena masih 45 watt, kalau untuk ngecasnya 0 ke 100% mirip-mirip sih di 1 jam 27 menit. Kalau soal desain ada varian basic dan special edition. Yang basic harganya itu di ketika flashil ya, itu yang paling murahnya di 3799 untuk yang 8256. Yang 12512 itu 4449. Kalau yang special edition flashil-nya itu di 4199 dan yang 12512 4749. Perbedaannya di backover-nya sih yang special edition ini lebih terlihat gaming. Yang basic tetap terlihat gaming look tapi lebih kalem. Dan yang special edition ini dia ada box gaming kit yang di video unboxing kemarin kita udah bahas. Isinya ada mic cooler dan casing khusus untuk nempelin m charge coolernya. Dan kuat banget loh ya magneticnya ini kalau dikumbuh sama casing-nya enggak gampang jatuh. dan upgrade kalau dari sisi build quality dibandingkan seri sebelumnya, sekarang IP rating-nya udah naik ke IP rating 64. Okelah, jadi itu adalah review dari Infinix GT30 Pro versi DKID. Kesimpulannya, King Phoenix di seri GT 30 Pro-nya ini enggak main-main. Upgrade dari seri sebelumnya banyak banget. Enggak hanya dari sisi hardware, tapi juga dari sisi software, terutama buat gaming. Bloodware-nya juga enggak ada dan enggak ada iklan sama sekali pas saya cobain. Ya memang karena harganya yang super terjangkau, banyak trade off yang harus direlakan sama Infinix. Contohnya kayak kamera ultrawide-nya cuma 8 megapel. Tapi dibandingkan Infinix GT20 Pro yang main makro sama dep 2 megapel, saya sih pilih ultrawide aja walaupun resolusinya cuma 8 megapel ya. Tapi kalau pas low light kualitasnya jadi biasa aja dan autofokusnya kadang nyangkut. Dan sayangnya di Infinix GT30 Pro ini dia udah ikut-ikut kelas mid range yang lain ya. Jadi enggak ada slot micr SD-nya. Hah. Jadi kalau misalkan kalian ngerasa 256 GB kurang ya kalian harus dipaksa untuk beli yang 512 GB. Dan buat yang basic, kalau nge-game agak lama suhunya cukup tinggi. Yang special edition sebenarnya sama sih kayak yang basic, cuman yang spesial kan bisa dibantu sama coolingnya yang sekalian ngecas ini. Tapi saran saya sih kalau pas ngecas bypass charging-nya diaktifin aja ya biar suhu panasnya itu enggak berlebih. Overall dengan harga start form 3,7 juta dengan fitur gaming yang biasanya ada di HP yang beneran gaming kayak ROG ini udah terlalu king sih ke depan. Kalau misalkan Infinix mau benar-benar step up ke chipset yang beneran gaming, entah itu Diamond City 9400 atau Snapdragon 8 Elite, saya rasa software-nya udah mumpuni. Udah panteslah karena fitur gaming-nya udah berlimpah. Jadi buat Infinix, ayolah keluar dari zona midrange, zona nyaman. Coba pakai chipset Diamond City 9400i misalkan bisa atau ya Snapdragon 8 Sen 4 bisa. Harganya di range R jutaan harusnya masih ok lah. Tapi menurut kalian gimana kalau misalkan Infinix langsung tancap gas pakai chipset yang beneran flexip? Kalian setuju atau enggak? Coba tulis di kolom komentar ya. Saya budye.
