Hyundai TUCSON Hybrid 2025 (YouTube Video)
Di dunia otomotif namanya timing dan momentum itu penting banget untuk sebuah produk. Dan di sebelah saya ada sebuah produk yang sebenarnya produknya bagus tapi timing dan momentum masuk Indonesianya ini kurang pas. Ini adalah Hyundai Tson. Yuk, kita bahas. Halo, Guys. Welcome back to AutoMX. Saya TRKA di sini dan di sebelah saya ada sebuah Hyande Tucon. Yes. 2025 kok bahas mobil ini? Jawabannya sama kayak BMW X1 kemarin, mobilnya baru dapat sekarang. Ya emang kita di Jakarta juga enggak ditawarin dan enggak dipinjamin sama Hyundai Indonesia, kita malah dipinjamin sama Hyande DSS di Surabaya. Ya udah enggak usah lama-lama kita mau bahas mobil ini. Tapi sebenarnya kita udah pernah bahas mobil ini waktu launching waktu itu. Waktu preview-nya kalau enggak salah ya. bahas komplit eksterior, interior, desain, feature, dan sebagainya. Kalau kalian kepengin yang lebih komprehensif, komplit banget, kalian bisa cek videonya ada di sana. Nah, kali ini kita akan fokus ke driving dan beberapa hal-hal unik yang kita akan bahas nanti di akhir. Tapi sebelum kita mulai nyetir ya, karena ee menu hari ini memang benar-benar nyetir, saya mau bahas sedikit masal desain mobil ini. Mobil ini launching tuh tahun 2020 seperti yang saya bilang tadi, timing 2020 launching masuk ke Indonesia 2024 selisih 4 tahun. Untungnya kita dapat yang model facelift. Model facelift tahun 2023 akhir kalau enggak salah. Kita enggak dapat yang model pre faelift. Enggak apa-apa, enggak masalah. Yang penting kita dapat. Tapi ya emang balik lagi udah 5 tahun barangnya. Dan wajah depannya ini dia menggunakan bahasa desain sensu sportiness dengan fasia atau kalau di rumah itu fasad ya bagian depannya ini menggunakan sentuhan parametrik dynamic. Cakep, keren pada masa itu. Bahkan saking cakepnya sampai dipakai konsep yang sama di adiknya SU2ID alias Yande Kreta yang sebelum facelift kemarin. Bahkan saking cakepnya ya si Hande Kreta itu dengan wajah depan sensor sportiness-nya itu sampai kalau enggak salah orang-orang India tuh ngiri sama kita kepengin yang wajah itu dimasukin ke India. Tapi ya sekarang kita sudah dapat kereta yang baru dengan wajah depan yang baru yang sama dengan India. Mobil ini masih dengan parametrik dnamicnya. Padahal sekarang Yande juga sudah mulai geser ya, geser ke pendekatan yang namanya parametric jeel seperti Yan Palis dan juga Santafe. Oke, ya itulah itu bas desain di dan sebagainya. Sekarang kita langsung balik ke nyetirnya. Oke, jadi kita masuk ke menu utama hari ini yaitu adalah nyetir si Hyundai Tucson ini. Dan pertama begitu kalian sudah begitu duduk di dalam mobil ini ya, yang kalian berasa pertama adalah tentunya posisi duduk. Kalau kalian duduk di mobil ini, itu termasuk enak. Enak di sini dalam hal e pengaturannya itu bisa fleksibel banget. Setir bisa til teleskopik, seat belt bisa diatur ketinggian, kursinya udah elektrik. Bagian depan driver dan juga penumpang depan udah elektrik. Yang khusus driver dia ada tambahan lumber support-nya ya. Dan juga tentunya maju mundur, recline, semua juga sudah elektronik plus ada memorinya. Jadi bisa disimpan kalau kalian pakai atau mungkin berdua sama istri gitu ya atau mungkin ee kalian pakai sama orang tua tinggal diset aja di sini. Plus kalau kalian keluar masuk dia ada ee isi aksesnya gitu ya. Jadi kalau kalian pengin keluar buka gitu nanti kursinya akan mundur dan itu bisa diatur juga mundurnya yang normal yang extended yang lebih mundur lagi atau dimatiin aja kalau merasa enggak perlu. Nah bersamaan dengan handling kita mau bahas visibility duduk gini ya. Kalian lihat ke depan dengan kursi saya ini posisi paling rendah masih kerasa comending dan lihat ke depannya ini visibility-nya bagus banget kan begitu duduk kerasain kelihat ke depan tuh luas banget gitu ya ini walaupun saya sudah duduk di kursi yang posisinya paling rendah saya masih bisa lihat kap mesinnya dikit jadi kesannya memang comending seperti SUV SUV pada umumnya lihat spion ke belakang juga ee cukup jelas spion tengahnya udah elektrokromatik plus dia ditambah lagi dengan bantuan kamera 360 dan juga sensor di sekujur bodinya. Jadi secara umum walaupun mobil ini lumayan dimensinya 4,6 m ee buat nyetirnya enggak ada masalah ee sama sekali. Nah, berikutnya kita bahas handling nih. Handling kalau kita ngomong setir ya, sebenarnya mobil ini itu soso aja, enggak sef Honda lah pasti ataupun Mazda. Tapi enggak yang blend banget kayak katakanlah Toyota dan sebagainya. Di sini dia kesannya ada di tengah-tengah aja. Jadi, eh setirnya secara umum kita kalau udah jalan pertama kali gini ini default-nya kalian akan masuk di mode berkendara Echo. Jadi kalian kalau udah ganti ke sport, ganti ke MyDrive gitu ya, begitu mati mobilnya nyalain lagi, dia balik lagi ke Echo lagi. Dan di Eco ini setirnya enteng banget nih. Nih enteng banget. Plus dia ini akurasinya enggak yang bagus banget, enggak yang akurat banget. Kalau kalian belokin dikit gini enggak belok, baru agak dalam baru dia belok. Dan itu kita ganti ee jalur tanpa se jadi dia diperingatin ya. Kadang dikoreksi malah kalau mungkin kita agak lebih kencang ya. Nah, balik lagi ke setirnya tadi. Jadi default-nya dia setirnya hambar terus enteng isi to drive aja dan e feedback-nya enggak terlalu gimana-gimana banget. Akurasinya juga biasa aja. Tapi tapi akan sedikit berbeda kalau kalian pindah ke mode berkendara sport. Jadi kalau yang Echo sama MyDrive atau Smart lah atau Baby nanti kita akan bahasnya masalah baby itu lebih ke easy drive. Tapi sport kalian begitu pindah ini ya ke sport nah setirnya akan berasa lebih berat nih. Agak ngelawan nih setirnya nih. Jadi bobotnya lebih berasa dan ini mungkin cocok buat kalian yang lebih kepengin jalan agak kencang gitu ya biar lebih pedirnya enggak terlalu ee enteng. Kalian pindah aja ke mode sport. Nah, cuma gimana kalau kalian kepenginnya di Echo atau di MyDrive, tapi kepengin setirnya ada bobotnya? Gampang. Masuk aja ke infotainment, atur-atur di bagian vehicle-nya. Kalian bisa cek di situ untuk pengaturan setirnya bisa di set yang antara yang normal tadi yang enteng itu atau yang sport yang lebih berat. Jadi, bisa disesuain dan ini bagus ya. Berikutnya mesin ya, mobil hybrid tentunya mesin dan motor listrik lah ya. Mesinnya 1600 cc 4 silinder smartstam G turbo ya. Jadi kalau kebanyakan mobil hybrid Jepang itu pakai kalau enggak mesin turbonya yang kecil-kecil yang 12.00 1400 gitu ya ee atau yang sekalian 2000 cc eh kinon cycle gitu ya. Di sini dia 1600 cc turbo. Di sini aja sebenarnya sudah kelihatan bahwa teknologi hybridnya Yande itu sepertinya konsernnya beda dengan teknologi hybridnya dari mobil-mobil ee Jepang ya. Dia lebih ke arah balance aja sih. Enggak yang ditekan banget tenaganya kayak mobil-mobil Jepang fokus ke efisiensi. Enggak. Tapi dia memberikan performa yang lebih bagus dengan efisiensi yang memang tidak sebagus merek Jepang. Jadi ya pasti ada kompromi di sana sinilah ya. Kalau mau performanya lebih enak kayak mobil ini gini ya kalian ya harus ngorbanin efisiensi. Kalau kepengin efisiensi yang bagus lebih tinggi kayak di atas 120 itu gampang kayak mobil Jepang ya kalian korbanin performanya. Itu aja sih tenaganya kalau gabungan dia 235 amp dengan torsi 367 Nm. Kalau kita masuk ke mode sport kayak gini ya dan kita gas aja ini ngejabanin buat mobil-mobil diesel mah masih bisa jujur aja kita tarik-tarik itu pasti dapat. Kita sih enggak nguji langsung ya e untuk akselerasi 0100-nya tapi based on beberapa pengujian media-media internasional dan juga beberapa teman-teman kita di Indonesia itu angkanya di antara 7 sampai 8 detik. Dan untuk sebuah SUV yang 4,6 m itu termasuk kencang. Kita coba lagi sekarang gas. Wuh. [Musik] Suara mesinnya masuk ya. Ini sih buat mobil hybrid termasuk kencang loh. Termasuk enak gini. Kalau kalian cobain mobil hybrid yang sekelasnya enggak sejambak ini gitu. Ini lebih ngejambak nih untuk mobilnya. Dan transmisinya selain tadi mesin beda dengan beberapa mobil-mobil Jepang, transmisinya juga beda. Mobil Jepang biasanya pakai teknologi ECT atau CVT yang khusus buat elektrifikasi lah ya. Kalau mobil Cina biasanya pakai DHT atau dedicated hybrid transmission. Mobil ini menggunakan 6 speed automatic. Itu aja udah beda. Jadi benar-benar emang dia ini mau fokus balance antara performance dan juga untuk eh efisiensinya. Enggak rata kanan di masing-masing, enggak yang paling kencang, enggak yang paling efisien, tapi dibikin balance saja di tengah-tengah. Nah, ngomong-ngomong transmisi ya di sini dia juga menarik karena dia juga menggunakan shift by wire juga. Jadi ee knopnya ada di sebelah kanan seperti ini. Tengahnya jadinya bisa buat cimpen-cimpen barang dan sebagainya juga. Nah, dengan teknologi mesin dan transmisi serta karakter hybridnya ini, terus apa bedanya dengan hybrid Jepang secara skenario? Kan kita sudah tahu ya hybridnya Honda, hybridnya Toyota itu ada beberapa skenario. Yang mana mesin nyala, yang mana motor nyala. Nah, di mobil ini kalau kita lagi crawing atau pertama kali jalan tentu seperti hybrid pada umumnya dia dominantly EV. Dia e mulai kecepatan 0 sampai 40 km/h akan dicoba sebisa mungkin dominan untuk EV-nya atau motor listriknya. Tapi kalau memang baterainya berkurang, mesin akan membantu untuk menggerakkan mobil dan juga ngecas bersamaan. Ini agak sedikit beda dengan beberapa ee teknologi series paralelnya Jepang ya. Tapi begitu kita kepengin narik-narik kayak tadi ya, dia akan langsung mesin menggerakkan mobil penuh dibantu sama motor. Jadi kalau kita santai itu motor dibantu sama mesin, tapi kalau kita kencang itu mesin dibantu sama motor kebalik ya. Nanti kalau kita cruising di kecepatan tinggi 80 100 km/h secara stabil, motor listriknya kebalik. Motor listriknya akan off. Mesinnya akan mengambil peran di sana. Karena biasanya kalau mobil cruising kecepatan tinggi kan kalau mesin bensin lebih iritlah daripada ee motor listriknya. Motor listrik kalau kencang malah lebih boros ya. Dan lagi-lagi regenerative breaking di sana nanti ee motor akan ee bekerja sebaliknya untuk ngecas baterai seperti itu. Jadi skenarionya memang ee sekilas mirip dengan beberapa brand Jepang, tapi sebenarnya tetap ada bedanya. Berikutnya kita bahas untuk bantingan suspensinya. Bandingan suspensi mobil ini itu cenderung moderat aja sih. Kalau dibilang kaku enggak, karena setiap kali ngelewatin jalanan yang kurang rata, mobil ini tuh bisa ngeredam dengan cukup baik gitu loh. Tapi kalian harus ingat bahwa mobil ini tuh menggunakan veleg yang lumayan gede ya, 19 inci, bannya profil 55. Jadi kalau kita ngelewatin jalannya yang agak enggak rata, dia suspensinya ngeredem dengan baik. Tapi kaki-kakinya dia itu membuat kita bisa ngerasain kontur jalannya. Kecuali kalau kalian ah ngelewatin jalan jelek banget, kalian akan ngerasa enggak nyaman pakai mobil ini. Tapi so far kalau buat dipakai dalam kota aja ngelewatin speed bum kayak begini enggak ada masalah. Ini masih sangat bisa dinikmatin. Dia ngeredam dengan cukup baik. Nah, kekedapan kabinnya gimana? Kalau kita compare sama Let's see Mazda atau mungkin beberapa Chinese brand, mobil ini agak sedikit di bawahnya sih. Tapi kalau kita compare sama Honda jelas pasti lebih enak ini untuk kegedapan kabinnya. Ee patokannya sih kita bisa kalau kita ada motor yang lewat di samping itu masih bisa ngerasain atau ngengarin suara-suara motornya, suara mesinnya itu masih bisa kita dengarin dengan cukup jelas. Tapi enggak sampai dia taraf yang mengganggu. Solusinya yang dia sudah ngasih audionya. Dia pakai audio dari Bos dengan 8 speaker plus ada amplifier-nya dan ini kalau disetel enak banget suaranya. Jadi kalau emang kekedapan kabinnya enggak yang gimana-gimana banget dikasih audio yang bagus, style musik aja enggak jadi masalah. Nah, untuk pedal pedal-pedalnya ini kalau kalian masuk di mode Echo kalian akan ngerasa kalau pedalnya ini agak sedikit delay gitu. Maksudnya dia dibikin ee enggak terlalu responsif. Beda cerita kalau kalian udah masuk ke mode yang sport tadi. Begitu kalian masuk ke sport still jadi lebih berat dan dia juga untuk e responnya oh lebih-lebih kencang kayak gini ya. Dan ini kencang banget loh sebenarnya mobilnya. Pedal rem-nya dia emang agak sedikit digital. Sebenarnya masih bisa ditakar dikit-dikit, tapi kalau udah sedikit lebih dalam dia akan langsung e engage ya, dia akan langsung ngrem. Jadi kayaknya emang sedikit butuh pembiasaan aja untuk pedal remnya. pedal gas lagi. Kalau kita masuk ke e mode baby yang kalian bisa masukin di eh sistem infotainment itu akan lebih delay lagi. Jadi kalau kalian masukin ke mode yang baby itu akan bikin lebih smooth lagi. Ya, balik lagi kan yang baby mood itu emang tujuannya kalau kalian bapak-bapak yang pakai mobil ini dan punya anak kepengin mobilnya akselerasi dan deselerasinya lebih smooth, ya kalian silakan e pakai mode BB. Nah, balik ke pengereman tadi selain masalah ee pedal remnya, kita juga mau bahas juga bahwa mobil ini menggunakan rem yang lebih gede dibandingkan dengan versi bensinnya. Kalau bensinnya depan belakangan itu ukuran 16 inci, tapi yang versi hybrid belakangnya 16, depannya 17. Jadi emang harusnya juga lebih gigit. Plus jangan lupa ini mobil hybrid ya. Kita masukin ke mode Ecoo. Kita bisa mainin si pedle shift-nya ini untuk jadi regenerative breaking level 1 2 3 mati dan juga ada autonya. Auto untuk nyesuaian aja. Kita masuk di mod ketiga dan kita lepas dia akan ngrem. Enggak sampai yang seperti one pedal system banget tapi dia akan berasa ngerem. Nah bedanya ngomong padle sh ini kalau kita masuk ke mode yang lain seperti mode sport atau mode e my drive gitu dia akan berubah fungsi. Ini lumayan pintar ya Yande ya. Jadi untuk dua tombol ini si padle shifter-nya ini bisa berubah fungsi berdasarkan si eh mode berkendaranya. Kalau kita di sport seperti sekarang ini, kita pakai ee pedle shifternya ini untuk gigi. Bisa turun kedua, masuk ketiga lagi masuk ke empat. Jadi kita bisa mainin. Tapi beda cerita kalau kita masuk ke Echo dia akan ngatur untuk regenerative breaking-nya. Di bagian my drive juga untuk giginya. Berikutnya tentunya kalau udah ngomong Hyande kita juga harus ngomong fitur ya karena mobil ini CBU Korea ya by the way. Jadi kalau beberapa model yang dari kelas atasnya yang dia seperti Ionic, Santafe udah rakit lokal gitu ya, mobil ini justru dia masih CBU Korea Selatan sama kayak Palisit dan karena dia CBU dia kasih fiturnya banyak. Yande SmartS ada dan lengkap. Kalau suruh sebutin semua saya juga enggak hafal, saya cantumin aja di bawah ya. Yang jelas untuk eh smart cruise control-nya ada, untuk forward collision mitigation, eh untuk warning-nya juga ada, land departure, land keepeping, semuanya ada dan itu semua sepaket dikasih sama Hyande di mobil ini. Tapi saya mau kasih satu catatan deh, mobil ini tuh forward collision mitigation-nya atau rem otomatis kalau ada yang lewat di depan itu agak sensitif ya. Saya putar balik terus ada motor udah kelihatan sih emang kita saya akan ngerem motor lewat dia tiba-tiba ngerem dan dia seper seekian detik dia akan ngerem dan nahan mobil ini enggak jalan. Mungkin kalau buat di Indonesia agak sedikit PR ya karena kita tentunya ya motor banyak yang seliweran dan sebagainya itu takutnya malah dia tiba-tiba mobil ini ngerem mendadak atau gimana ya. dan yang di belakang atau di sekitar kita enggak siap dengan kondisi itu. Berikutnya, selain smart sense biasanya kalau mobil Hyande itu dapat yang namanya IOV, Yande Blue Link. Di mobil ini tempat tombolnya ada tapi enggak dikasih karena balik lagi sepertinya dia ee karena dia mungkin CBI Korea ya, mungkin agak ada sedikit perbedaan di sana jadinya dia enggak dikasihnya di sini. Tapi at least layar panel instrumen sistem infotainment model curve 12,3 inci masing-masing. Jadi 12,3 * 2. Tampilannya bagus, informatif, user friendly. Kita kalau mau ngatur-ngatur semuanya di sini ada dan gampang. Konektivitasnya Android Auto, Apple CarPlay juga sudah wireless. Plus ada wireless chargernya juga. Ambient light juga ada. Dan yang saya suka ya kalau dari layarnya mobil ini ya, enggak semua info itu harus dimasukin ke sini. Enggak semua info, enggak semua pengaturan harus dimasukin ke sini. Itu bagus. Jadi informasi yang kita lihat di panel instrumen of speedometernya ini minimalis aja. Enak dan gampang dimengerti, gampang dibaca. Kalian kan tahu ya, ada mobil-mobil tertentu yang suka banget ngasih apa ya akronim atau singkatan yang kita harus nebak-nebak dulu gitu loh. Kayak contoh average fuel consumption diu di kalau di mobil tersebut ditulis A. F.C. apaan? AFC main bola kali. Bukan di situ tentunya kita harus nebak-nebak gitu ya. Di sini cukup gampang untuk dimengerti. Tire pressure juga ada tulisannya. Terus untuk konsumsi average dan sebagainya itu cuma disingkat AVG gitu ya. Jadi gampang untuk dimengerti. Dan ada juga brand-brand tertentu yang ee si speedometernya atau panel instrumen-nya itu infonya banyak banget gitu ya. keluar semua di situ sampai bikin kita kadang kalau mau lihat speedometernya itu pusing gitu loh bacanya sampai kecil-kecil gitu. Nah, di sini enggak, di sini simpel aja dan kalau kepengin lihat flow untuk hybrid-nya kita tinggal lihat di sistem eh infotainment-nya ya. Bahkan saya sudah bikin shortcut di sini ada lambang bintang. Kalau saya pencet di sini di bagian infotainment-nya keluar untuk eh teknologi hybrid-nya ya. Jadi flow-nya untuk motor dan mesinnya di sini kelihatan baterainya berapa, konsumsi BBM-nya berapa. Di sini semuanya kelihatan. Sayangnya saya enggak suka sih di sini AC-nya pakai touch ya. Setidaknya AC-nya enggak masuk ke sini, dia pakai touch yang terpisah di sini dan tombol-tombol di sini itu masih gampang digapai gitu loh ya. Jadi enggak sampai yang jauh banget gitu. Itu dia untuk fitur-fiturnya. Auto lampunya si apa? wiper sesuai dengan ee apa ada rain sensor dan juga bisa nyesuai dengan ee kecepatan dari air hujannya itu juga semua ada. So far sih untuk fitur di mobil ini terbilang komplit. Setidaknya untuk kebutuhan orang-orang zaman now gitu ya ee mungkin kecas gadget dan sebagainya itu semuanya sudah ada semua di mobil ini. So far so good. Berikutnya konsumsi BBM. Nah, ini karena bagi lagi ya orang beli hybrid kepenginnya by default harus irit. Tapi gini ya, tadi kan saya sudah sebutin ya, bahwa teknologi hybrid tiap brand itu beda. Contohnya mobil ini lebih ke balance aja jadi enggak rata kanan semua. Bukan yang paling efisien tapi performance-nya bagus. Ada brand yang mungkin efisien banget tapi performance-nya ya begitulah gitu dicekek banget. Jadi, ee kita harus pahamin ya masing-masing teknologi hybrid itu punya konsern tersendiri. Jadi, enggak bisa dipukul rata. Hybrid harus di atas 1 banding 20. Enggak juga sih sebenarnya. Mobil ini secara umum harian saya pakai selama beberapa hari ini saya dapat di angka 1 bing 16 sampai 1 bing 17. Kalau kalian tadi lihat footage dia turun ke 1 banding 15 itu karena kita tadi agak ngebut-ngebut buat nunjukin ee performance ya. Jadi ya wajarlah kalau lebih boros kan. Nah, tapi umumnya saya dapat 116 sampai 117-an km/l. Tapi saya pakai mobil ini masih beberapa hari ke depan lagi. Nanti saya akan cantumin di bawah berapa angka final yang saya dapat selama pakai mobil ini. Ya, segitu ya. Dan saya juga mau ngingetin satu hal lagi terakhir penting ini. Kalau kalian beli mobil hybrid itu kan mobil hybrid itu teknologi yang baru ya. Walaupun sudah dijual di Indonesia sejak tahun 2010-an, Toyota sudah jual gitu, tapi kan itu cuma terbatas untuk orang-orang yang mampu dan mau. Tapi untuk mobil hybrid yang dijangkau banyak orang sebenarnya baru terwujud lewat Zenix, Yaris Cross, HRV Hybrid dan mungkin beberapa brand China yang mulai orang banyak pakai gitu. Jadi terbilang masih cukup baru mungkin 5 tahunan lah hybrid ini benar-benar ee jadi mes eh produk yang diterima dengan baik di Indonesia. Dan sebagai produk yang baru yang belum 10 tahun, kalian juga harus adaptasi dong. Saya punya em analogi seperti ini. Kalau kalian dulu pakai handphone masih pakai keypad fisik, terus tiba-tiba kalian harus switching ke handphone yang pakai layar sentuh. Kalau kalian enggak mau keep up, enggak mau belajar, enggak mau menyesuaikan dengan teknologi itu, ya kalian akan ketinggalan. Sekarang semua handphone layar sentuh. Hampir enggak ada handphone yang pakai keypad fisik. Nah, sama nanti elektrifikasi ke depannya akan menjadi sebuah hal yang umum yang akan kita lihat di jalanan. Dan kalian harus menyesuaikan. Pahami aja teknologi hybrid itu seperti apa. Enggak kalau kalian beli teknologi hybrid yang penting asal bejek aja mintanya irit. Kalau kepengin irit, ya tahulah bahwa ada trik-trik tertentu yang harus kalian lakukan biar mobil ini bisa maksimal sesuai dengan kepenginnya kalian. Pahamin gimana caranya biar mesin makin ee selama mungkin mati yang artinya berarti kalian mengendarai secara efisien. Gasnya enggak dadakan, rem-nya enggak dadakan, rem-nya diatur biar regenerative breaking-nya bisa ngecas baterai. Belajar-belajar seperti itu. Ya, itu namanya investasi. Mobilnya mah bukan investasi kalau beli mobil ya, tapi investasi kalian untuk belajar mengerti mobil, teknologi barunya seperti apa. Sehingga waktu kalian pakai, kalian bisa tahu, kalian bisa paham, dan kalian bisa mendapatkan value terbaik dari mobil kalian ini. Well, kita udah nyobain langsung mobil ini driving-nya, kita cobain fitur-fitur di dalamnya. Dan sekarang selanjutnya kita mau bahas harganya. Mobil ini tuh sekarang harganya Rp766,6 jutaan on road Jakarta. Kalau kalian bandingin dengan beberapa brand China yang mainnya sekarang harga 400-an 3 500-an ya kesannya mahal gitu ya udah hampir dua kali lipatnya yang harga 400-an. Tapi balik lagi kita compare dengan brand Jepang aja. Yang sama-sama hybrid dengan dimensi yang mirip itu ada Honda CRV EAGV ataupun Nissan Extil EFC. Kalau kita compare dengan dua itu aja, mobil ini tetap paling murah. Honda CRV R25 jutaan, Nissan Xtil R95 jutaan, mobil ini R60 jutaan. Jadi tetap lebih murah ya kalau dicompare dengan dua itu. Tapi kita mau bahas juga masalah jualan nih. Kita buka data deh. Datanya mobil ini dari Holsour Gaikindo tahun lalu karena tahun lalu kan dia jualannya akhir tahun ya. Itu ada di angka 83 unit. 72 unit yang hybrid, 11 unit itu yang e gaseline. Tahun ini 7 bulan dia bisa jual ke dealer sekitar 89 unit. 74 unit untuk yang versi hybrid, 15 unit untuk yang versi gaselinnya. Dikit ya, kecil ya. Ya emang segitu sih, tapi satu hal kalian harus sadari bahwa Honda CRV tahun ini wholes-nya ke dealer cuma 60 unit lebih banyak mobil ini. Enggak tahu kenapa something happen sama Honda lah ya. Oke, eh sebelum kita ambil kesimpulan, kita mau singgung juga tiga yang hal tiga hal yang kita suka, tiga hal yang kita enggak suka dari mobil ini. Pertama aja langsung aja yang kita enggak suka dari mobil ini putar baliknya 5,9 m. Compare sama CRV yang dimensinya mirip, CRV cuma 5,2 m. Jadi, mobil 4,6 m ini putar baliknya hampir 6 m. Kenapa bisa begitu? Padahal veleg dan ban juga sama 19 inci, 235/55 juga. Tapi kalian harus ingat bahwa mobil ini dia wheel base-nya paling panjang dibanding dengan CRV dan juga X-trail. Jadi harusnya memang karena putar baliknya enggak terlalu patah, dia harusnya kalau kecepatan tinggi lurus dia lebih stabil. Kedua, kita yang enggak suka dia enggak punya blue ya. Fair aja karena itu salah satu jualannya Yande, tapi justru di mobil ini malah enggak ada. Dan ketiga yang kita enggak suka atau kelemahannya adalah tadi timing momentumnya udah kelewat jadinya jualannya ya gitu-gitu aja. Tapi ada tiga hal yang kita suka juga dari mobil ini. Pertama dia adalah allrounder. Kalau kalian butuh SUV yang hybrid, yang performance-nya masih oke, efisiensinya juga masih oke, dan masih nyaman juga, ya ini opsinya. Yang kedua, dia punya practicality dan kenyamanan yang juga bagus. Tempat penyimpanannya banyak. Bahkan depan penumpang depan itu ada tempat buat taruh-taruh dompet, handphone dan sebagainya. Baris keduanya bisa rebah yang bisa enak banget. Lroom, headroom-nya luas banget. Bantingannya juga lumayan comfort. Dan dia juga fiturnya melimpah. Terlepas enggak ada tadi blueling, ya. Tapi smart sense-nya lengkap, fitur infotainment-nya lengkap, audnya bos. Jadi itu tiga hal yang kita suka dan tiga hal yang kita enggak suka dari mobil ini. Terakhir kesimpulan. Lalu buat siapa mobil ini? Jelas buat kalian yang butuh sebuah SUV hybrid, enggak kepengin brand Jepang atau brand Cina, ya opsinya Korea gitu ya. SUV hybrid, SUV yang middle gitu ya. Enggak yang kecil banget tapi dia enggak gede banget. Yang tengah-tengah aja. Plus kalian enggak peduli eh harus seefisien apa mobilnya sampai 1 banding 35 lah 1 banding 2 30 something. Enggak. Enggak. Kalian merasa ya pokoknya lebih irit dibanding mobil pada umumnya. Tapi performance-nya juga tetap ada, fiturnya lengkap dan dia cukup nyaman. Terutama buat kalian bapak-bapak yang punya anak ada baby mood. Jadi buat slow bisa, tapi kalau baby-nya lagi di rumah kalian mau ugal juga mobilnya bisa. Kalau kalian merasa kalian yang seperti itu, ya silakan coba mobilnya. Dan mobil kali ini kita dapat pinjaman dari Hyande DSS Basukir Ramat Surabaya. Thank you buat teman-teman dari Hyss yang sudah pinjamin kita mobilnya lama nih, semingguan kita bisa pakai, kita bisa explore. Tapi tenang aja, enggak ada campur tangan apapun dari pihak Yande terhadap hasil video ini. Oke, kayaknya itu aja dari kali ini. Thank you buat teman-teman yang nonton sampai akhir. Kalau kalian suka boleh like, share teman-teman kalian. Komen juga di bawah. subscribe bu kalau yang belum dan juga mampir ke Instagram, TikTok dan juga website-nya. Itu aja sampai ketemu di video selanjutnya. Bye.
